Tittle : Too Late
Author : keiriangel_
Main Cast : Park Jiyeon, Lee Jieun(IU), Yoo Seungho
Length : Ficlet
Genre : Sad Romance, Friendship
Rating : PG-13
Summary : Is it really too late? Can’t I love you know?
Disclaimer : This FF is belong to ME, Casts is not mine but Plot is surely mine. Do not Plagiat this fict or else you will die! *smirk Leave Comment after read this Fict!
Credit goes to : Choco Evrisca@http://ifasheitte.wordpress.com/
***
Jiyeon sedang berdiri bersandar pada dinding sekolah SMPnya dulu. SMP Kirin. Ia menunggu seseorang didepan pintu gerbang sekolah itu. Ia tetap menunggu di luar dan tidak masuk ke sekolah, menunggu di dalam sekolah yang hangat meskipun ia tahu udara di luar begitu dingin. Tapi dingin ini tidak seberapa dengan dingin hatinya sekarang. Dingin ini mulai dirasakannya mulai tadi siang, Saat Jieun, sahabat barunya di Kuliah itu memperkenalkan pacarnya yang ternyata adalah orang yang sangat dikenalnya. Orang yang akhir-akhir ini menghindarinya dan orang yang dulu menjadi tempatnya bersandar.
Bunyi bising motor datang dari arah kanan Jiyeon dan motor itu berhenti tepat dihadapannya. Si pemilik motor memarkirkan motornya di pinggir jalan itu dan melepas helmnya. Si pemilik motor itu berjalan menuju Jiyeon.
“Seungho-ya… Kamu datang.” Gumam Jiyeon lirih sambil menatap Seungho sedih.
“Ada apa kamu memanggilku Jiyeonie?” Seungho menatap perempuan didepannya ini tanpa ekspresi dan dingin.
Jiyeonie? Kamu masih memanggilku Jiyeonie, Seungho-ya? Apakah itu pertanda bahwa kamu sudah memaafkanku dan menerimaku kembali?
“Aku hanya ingin berbicara denganmu dan memperjelas semuanya” jawabnya lirih. Ia menundukkan kepalanya pertanda ia sedih.
“Baiklah. Masuklah kedalam sekolah. Disini dingin dan kamu nanti akan masuk angin” Seungho menghela nafas dan berjalan masuk ke sekolah mereka dulu. Jiyeon menatap punggungnya sedih dari belakang dan berjalan mengikutinya.
Mereka berdua telah masuk ke sekolah dan telah tiba di kelas mereka dulu. Kelas 3-4. Begitu banyak kenangan mereka disini. Saat-saat Jiyeon di jahili teman sekelasnya karena ia penakut dan ia yang seperti itu ditolong oleh Seungho. Saat-saat dimana Seungho menyatakan cintanya dulu dan kejadian itu pernah menjadi ‘Harta Berharga’ bagi Jiyeon. Sekarangpun seperti itu.
“Kamu mau menjelaskan apalagi sekarang Jiyeonie?” Seungho memecahkan keheningan mereka dengan dingin.
“Seungho-ya… Benarkah sekarang kamu berpacaran dengan Jieun?” tanyanya lirih
“Iya” Jiyeon memandangi sedih punggung Seungho yang sekarang menatap hujan salju dari jendela kelas.
“Benarkah kamu serius mencintainya?”
“…” Sesaat Seungho terdiam membisu.
“Seungho?” Jiyeon memandangi Seungho dalam tatapan sedih bercampur harap. Ia berharap bahwa Seungho tidak mencintai Jieun seperti Seungho pernah mencintainya dulu. Walaupun Ia tahu pemikiran seperti itu termasuk pemikiran jahat.
“Benar. Aku serius mencintainya. Walaupun cinta ini tidak sebesar cintaku padamu dulu, tapi aku sedang belajar untuk lebih mencintainya lagi, Jiyeonie” Seungho mengatakan itu sambil membalikkan badannya dan menatap lurus mata Jiyeon.
“… , Tidak adakah lagi perasaan cintamu padaku, Seungho?” Jiyeon merubah ekspresi mukanya menjadi ekspresi datar. Ia mengeraskan rahangnya dan berusaha keras menahan airmatanya.
Seungho terdiam lama sebelum menjawab, “Jujur, perasaan itu masih ada. Waktu 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar Jiyeonie. Kamu tahu itu. Perasaan cintaku padamu selama 4 tahun itu tidak bisa begitu saja hilang. Tapi aku mulai merasa bahwa cinta yang selama ini kupercayai akan bertahan seumur hidupku ini ternyata bisa terkikis juga oleh perasaan sayangku pada Jieun. Ialah yang telah menghibur dan menyemangatiku yang dicampakkan begitu saja oleh kekasihnya demi laki-laki lain ini.” Seungho menjawabnya dengan nada sedih bercampur kemarahan dan sindiran yang selama ini tidak pernah bisa ia ungkapkan.
“Bukan seperti itu, Seungho-ya. Kamu salah paham.” Jiyeon berusaha mengelak dari tuduhan Seungho padanya.
“Salah pahamkah ketika aku melihatmu bercanda ria dan memeluknya mesra dengan laki-laki itu di Taman Bermain?”
“Salah pahamkah aku ketika melihatmu dicium olehnya didepan rumahmu? Salah pahamkah ketika aku menanyakan itu semua padamu dulu dan akhirnya kau memilih laki-laki sialan itu?!” Seungho menjawab elakan Jiyeon dengan kebengisan yang sarat akan kemarahan dan keputus-asaan.
“Bukan Seperti itu. Aku hanya khilaf…” Jawab jiyeon sedih. Ia mulai menangis pelan akibat kemarahan Seungho yang selama ini ia pendam.
“Khilaf!” Seungho menyebut kata itu disela dengusannya. “Itu alasan klise Jiyeonie. Kamu tahu itu. Aku juga tahu bahwa kamu benar-benar sadar ketika memilih dirinya. Akulah yang bodoh karena selama ini akan terus mempercayai cintamu padaku.”
“Tidak! Itu benar-benar kekhilafanku Seungho. Ia… Ia merayuku dan aku… aku..” Kata-kata Jiyeon yang lemah itu di sambar langsung oleh Seungho.
“Sudahlah. Tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kamu sudah memilihnya dan aku juga sudah bersama Jieun. Aku tahu Jieun mencintaiku tulus, dan aku juga akan belajar mencintainya dengan tulus” Seungho kembali membuang mukanya dari hadapan Jiyeon.
“Aku juga mencintaimu dengan tulus Seungho! Tak dapatkah kamu melihat itu? Aku tahu aku khilaf saat itu dan aku minta maaf padamu! Tidak bisakah kamu memaafkanku dan kembali padaku?” Jiyeon berusaha keras mempertahankan pria yang sangat ia cintai itu. Ia rela melakukan apapun bahkan jika ia mengkhianati sahabat barunya itu, Jieun.
“Terlambat Jiyeonie… Semua sudah terlambat” ucap Seungho sedih. Ia menatap mata Jiyeon dalam. Berusaha menyampaikan perasaannya dalam diam.
“Tidak! Semuanya belum terlambat. Kita bisa memperbaiki kembali hubungan kita. Kamu tahu itu kan Seungho?” Jiyeon masih terus mendesak Seungho. Ia benar-benar takut sekarang. Apakah Seungho akan benar-benar terlepas dari genggamannya?
“Tidak Jiyeonnie… Tidak bisa. Aku takkan pernah membiarkan Jieun terluka apalagi jika aku yang melukainya. Aku tidak akan pernah membiarkannya merasakan perasaan yang dulu pernah kurasakan Jiyeonie…” Jawab Seungho lirih. Matanya menatap sedih Jiyeon yang sedari tadi menangis dalam diam.
“Tidak! Kamu mencintaiku kan Seungho? Sangat mencintaiku kan? Dulu kamu pernah mengatakan padaku bahwa kamu akan selalu mencintaiku dan berada disisiku selamanya. Kamu tidak akan meninggalkanku kan?” Ia menangis. Menangis karena takut kehilangan tempat yang selama ini selalu menjadi tumpuan hidupnya dan menangis karena Seungho tidak menghiraukannya karena perempuan lain.
“Itu dulu Jiyeonie… Dulu sebelum kamu mengecewakanku dan menyakitiku sampai aku tidak sanggup lagi berdiri bahkan untuk hidup pun aku tidak sanggup. Saat itulah Jieun datang dan merubah hidupku. Ia penyelamatku dan sekarang aku yang akan menjadi penyelamatnya. Maafkan aku Jiyeonie…”
“Seungho…” Seungho membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu kelas, bermaksud untuk meninggalkan Jiyeon disitu karena Ia tak sanggup melihat Jiyeon menangis lebih dari ini. Ia tahu rasa istimewanya pada Jiyeon masih ada dan memberontak menyuruhnya menghibur Jiyeon. Tapi, rasa istimewanya satu lagi menyuruhnya untuk membiarkannya agar ia tidak menyakiti Jieun.
Ketika batin Seungho tengah berkecamuk memikirkan kedua wanita istimewanya, Jiyeon berlari dan memeluk Seungho dari belakang.
“Seungho… Jangan tinggalkan aku… Aku mohon kamu kembali padaku Seungho” Jiyeon menangis lirih mencoba mempertahankan Seungho tetap disisinya.
“Mianhae…” Seungho melepaskan tangan Jiyeon dari tubuhnya dan mengusap airmata yang mengalir dikedua pipi gadis itu. “Jiyeonnie… Kamu tahu. Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku kenal dan aku juga tahu kamu wanita terbaik yang pernah aku kenal. Kamu akan dengan mudah mendapatkan penggantiku. Maka dari itu, Jangan menangis…”
Seungho tahu jika ia berlama-lama disitu, seluruh perasaan dia pada Jiyeon akan tumpah dan dia tidak mengharapkan itu terjadi karena seketika itu juga ia teringat wajah Jieun.
“Baik-baiklah dan saat kita bertemu nanti, Kita akan bersikap layaknya teman biasa. Karena aku tidak mau Jieun akan salah paham. Aku pergi dulu” Seungho melepaskan dirinya dari Jiyeon dan berjalan keluar sekolah itu. Deru mesin motor terdengar tak lama kemudian dan Ia pergi. Ia benar-benar pergi meninggalkan Jiyeon sendiri disini.
“Seungho… Seungho…” hanya kata itu yang sedari tadi diucapkan bibir jiyeon yang sudah pucat membeku.
***
Ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai dirumah. Tetapi ketika besoknya ia terbangun. Ia telah berada dalam kamar apartemennya dan mukanya sembab karena menangis semalaman. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi dan mencuci mukanya agar segar.
Ia tidak tahan berlama-lama di kamar apartemennya yang terlalu sempit dan sunyi itu. Ia butuh udara segar dan dingin untuk menjernihkan pikirannya yang rumit ini. Ia memakai jaket panjang dan tebal dan menimpa baju yang ia pakai kemarin dan pergi dari apartemen itu.
Ternyata hari sudah siang dan orang-orang sudah banyak berlalu lalang dihadapannya. Ia berusaha menghirup udara dingin yang berhasil membuat mukanya kedinginan dan hidungnya memerah. Ia melihat ternyata telah turun hujan salju yang tidak begitu lebat tapi membuat suasana hatinya tenang dan damai. Ia merasa tenang dalam kebekuan yang dirasakannya ini.
Ia berjalan-jalan tanpa tujuan dengan raut muka kosong mengingat-ngingat kejadian kemarin. Memngingat wajah Seungho kemarin saja sudah membuatnya ingin menangis dan saat itulah ia melihat mereka. Ia melihat Seungho dan Jieun berada di Café dan Seungho menyeka buih Cappucino yang ada disudut bibir Jieun, dan Jieun yang menerima perlakuan itu tersipu malu. Mereka keluar dari Café dan berjalan di seberangnya. Ia kembali melihat sikap Seungho yang ‘manis’ itu lagi. Seungho mengusap wajah Jieun yang memerah karena diterpa angin dingin dan mencubit pipi serta hidungnya jahil. Semua sikap ‘manis’ nya itu sama seperti yang ia lakukan dulu pada Jiyeon. Tapi itu DULU…
Saat itulah air matanya mengalir dan kebekuan dihatinya berubah menjadi badai salju yang menyakitkan. Badai Salju yang serasa menimpanya dan tidak membiarkannya bernafas. Ia melihat mereka saling bergandengan tangan dan merasakan kehangatan satu sama lain, Sedangkan Ia disini sendiri membeku akibat kebodohannya dan cintanya yang datang terlambat.
Benarkah apa yang kamu katakan pada malam bersalju itu disekolah Seungho? Benarkah ini semua sudah terlambat? Tidak bisakah aku mencintaimu sekarang? Tidak bisakah kamu menerima cintaku lagi? Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?
THE END
A.N : MIANHAE.. T_T udah lama gak ngepost fic di sini.. T_T faktor keyboard lgi rusak jadi gak bisa ngetik FF.. TT_TT Ini karyaku yang pertama tentang Jiyeon. Maaf kalau misalnya pemilihan katanya Gaje + aneh + Alurnya gak jelas.. -__- Makanya, JEONGMAL MIANHAE~ x( jika ada yang gaje dari fic ini.. mungkin ini fic totally Failure Sad Romance.. -__- soalnya mungkin sedihnya gak dapat.. T_T
Mianhae ya readers~ yang jelas sih SELAMAT MENIKMATI karangan kei ini dan TINGGALKAN JEJAK setelah kalian membacanya ya~ xD
Satu kata darimu berarti banyak buatku
With Love, Keiriangel_

jiyeon jahat deh, masa udah selingkuh minta balikan?
but overall bagus ffnya :D
Gomawo~ ^-^
Padahal gak bermaksud ngebuat jiyeon nya jadi jahat lho.. O_O
pas baca pengen mukul kepala ke tembok deh kei… kok aku hampir nangis bacanya ya T.T
after all, NICE FF!!!
Jinjayo?! O.O
padahal ini FF amat sangat tidak sedih gitu.. -____-
Gomawoyo~ ^-^
aduh aku baca ini fic jadi pengen remes2 hape yg lagi aku pegang nih.. geregetan ma nih fic.. geregetan gara2 sedih loh ya,, bagus bgt bener.. tersentuh hatiku #apabangetdeh
pokonya bagus deh
be..benarkah?? :”> #terharu
Gomawo~~ /peluk/ #dibuang
bagus bangeet… tapi IU nya ga diceritain lebih lanjut… Padahal kalo IUnya diceritain juga keren deeh :)