Our Longest Separation – Epilogue: Yes, I Miss You Too

title: Our Longest Separation Epilogue: Yes, I Miss You Too

author: lightless_star

genre: fluff

cast:

  • Lee Sungyeol (INFINITE)
  • Kim Myungsoo (INFINITE)

rated: PG

length: ficlet (1293 words)

Our Longest Separation 

Epilogue: Yes, I Miss You Too

xxx

DISCLAIMERS: i only own the story, the characters belong to themselves

WARNING: Shonen-ai

xxx

I wanted to feel you, wanted to see you.
Even when I reached my hand out, your fleeting image flickered in the air.
I’ve always wanted to meet you, always.  
(Jyukai-Anata Ga Ita Mori) 
xxx


Dia selalu saja bersikap seenaknya. Selalu semaunya sendiri.

Keras kepala, kekanakan, sulit diatur, banyak maunya, sok tahu, cerewet, manja, merepotkan. Semua sifat yang selalu berhasil membuatku kesal, bahkan saat aku sudah pergi dari sisinya.

Jujur saja, aku tidak suka. Aku tidak suka kalau aku membuat dia menjadi seperti itu. Aku merasa aku yang membuat hidupnya kacau. Aku merasa kalau aku yang membuatnya menderita. Hingga membuatnya menyakiti dirinya sendiri.

Daripada melihatnya sedih dan terpuruk, aku lebih memilih untuk dilupakannya. Agar dia bisa mencari kebahagiaan di sisa hidupnya tanpa aku. Masih banyak yang lebih baik dariku diluar sana, kenapa juga ia masih memikirkan aku?

Dan dengan semua kepolosannya yang kadang bodoh itu, aku menyayanginya.

Aku tak tahu kenapa, tapi aku sendiri juga tidak bisa lepas darinya. Dia saja yang seenaknya bilang seakan aku sudah melupakannya, dan merasa cuma dia sendiri yang menderita. Dia tidak ada disini, jadi dia tidak akan tahu betapa sepinya tempat ini tanpanya.

Dia bilang kalau tempat ini tempat yang indah, karena aku bisa mendapatkan segalanya dengan mudah. Ya, memang. Tapi semuanya jadi sama tidak berartinya kalau aku selalu saja sendirian. Kalau aku bisa minta apa saja, aku minta Tuhan mendatangkan dia kesini untukku. Biar saja kalau dia menjadikan tempat yang tenang ini jadi berisik, biar saja kalau dia berlarian kesana kemari nanti, biar saja kalau dia mengoceh seharian membuat telingaku sakit, biar saja kalau dia mengerjaiku dengan semua akal jahil yang dianugerahkan Tuhan padanya itu.

Aku… Juga merindukannya. Sama seperti yang dia katakan dalam surat-suratnya.

Aku bahkan sangat sangat merindukannya. Lebih daripada yang dia kira.

Cuma… kalau dia sampai disini nanti aku tidak mau bilang, sih. Bisa-bisa dia meledekku. Cih. Dasar anak SD.

Aku ingin mencoba memeluknya. Aku ingin mengusap air matanya saat ia menangisiku. Aku ingin menggenggam tangannya lagi. Aku ingin dia tersenyum padaku. Aku ingin memeluknya saat aku tidur. Aku bahkan ingin mengomelinya lagi. Aku ingin selalu ada disampingnya, seperti dulu.

Tapi, tak peduli seberapa inginku, aku tetap tak akan pernah bisa.

Dan itu… menyiksaku. Sama sepertinya. Cuma, dia tidak tahu saja kalau aku juga tersiksa merindunya.

Ada yang terasa sesak dihatiku saat melihatnya harus merasa terpukul karena aku tak ada disampingnya. Memang, entah sudah berapa kali dia bilang padaku kalau aku adalah separuh hidupnya. Aku adalah bagian dari dirinya. Dan walaupun aku tak pernah bicara dengan kata-kata manis padanya, aku juga merasakan hal yang sama.

Dia merupakan bagian dariku, bagian terbaik, malah. Sekalipun dia bodoh dan menjengkelkan, aku tak bisa mengusirnya dari pikiranku. Bayangnya selalu saja tergambar dengan saat nyata. Aku sudah mati, aku sudah pergi, mestinya aku tak mungkin bisa merasa lagi.

Tapi tidak, perasaan itu terlalu kuat. Terlalu jelas. Hingga hampir serasa membunuhku saat aku berusaha melupakannya.

“Myungsoo-ya!” sebuah suara nyaring yang terasa familiar menyebut namaku, membuatku tersadar dari lamunanku tentangnya dan menolehkan kepala kebelakang. Sungyeol?

Sepasang kakinya yang jenjang mendekatiku dengan langkah yang panjang. Cengiran polos tak berdosa yang selalu terpampang diwajahnya tak juga lepas bahkan sampai saat ini. Mata hitamnya yang jernih memancarkan gembira. Aku menyangka bahwa aku hanya sedang berhalusinasi, tak mungkin dia bisa sampai ke tempatku secepat ini. Namun, aku juga berharap ini semua nyata. Atau memang nyata? Karena aku merasakannya terlalu jelas untuk sebuah halusinasi. Ia terasa begitu dekat.

“Sungyeol-ah?” aku menyebut namanya, mencoba untuk memastikan. Ia berhenti dalam jarak kurang dari 10 sentimeter didepanku. Ia mengangguk kecil, masih disertai cengiran yang terkembang dibibir merahnya yang manis.

Dan detik berikutnya, aku dapati diriku sudah berada dalam rengkuhan erat kedua belah lengannya yang kurus. Ia meletakkan dagunya di pucuk kepalaku sambil mengusap-usap rambutku lembut.

“Le-lepas….” bibirku berucap pelan, nyaris berbisik. Saat berada didepannya, seperti biasa entah kenapa aku selalu bersikap seperti ini. Gengsi, padahal hatiku benar-benar tak ingin lepas dari pelukan itu.

Sungguh, tak ada yang lain yang aku rindukan melebihi dia. Seperti yang tadi kubilang, dia bagian terbaik dari diriku. Coba saja kau bayangkan bagaimana rasanya kalau kau kehilangan bagian penting dari dirimu. Misalnya saja, kau kehilangan indra pendengaranmu dan tak bisa mendengar apapun lagi yang bisa kau dengar sebelumnya. Seperti apa rasanya?

Karena dia satu-satunya yang bisa membuat aku berpikir kalau sesekali aku juga perlu tersenyum karena selalu serius itu tidak sepenuhnya baik. Dia satu-satunya yang membuat aku tahu kalau menyembunyikan perasaan tanpa membaginya ke orang lain itu hanya akan menyiksa batin. Dia satu-satunya yang bisa menelusupkan cerah, menggantikan kelamnya hari-hariku sebelum itu.

Dia satu-satunya yang membuat aku sadar kalau di dunia ini, aku tak cuma sendiri.

Sekalipun aku selalu bilang dia kekanakan dan menjengkelkan, jauh disalah satu sudut hatiku aku ingin bilang padanya kalau aku sangat sangat menyayanginya. Lebih dari apapun, Lebih daripada siapapun.

“Myungsoo-ya….” ucapnya lirih, suaranya gemetar. Ada perasaan aneh dihatiku saat mendengarnya mengucap namaku dengar cara seperti itu. Sesuatu yang membuatku akan serta merta membawanya lebih erat kedalam rengkuhanku dan mengusap rambutnya lembut agar dia berhenti.

“Jangan menangis. Aku disini,” ucapku lembut. Ia mengangguk pelan. Tapi bisa aku rasakan bahu kiriku makin basah karena air matanya, bisa aku dengar kalau dia masih sesenggukan dan belum menghentikan tangisnya.

Ia melepaskan pelukannya. Memegang kedua bahuku sambil menatap wajahku intens, lama sekali. Sudah lama sekali aku tak melihat bayanganku terpantul disepasang bola mata hitam yang jernih itu. Namun, sekalipun matanya berair, ia melengkungkan senyum kecil yang khas dibibirnya. Membuat tanganku terulur untuk mengusap alir air mata yang masih ada dipipinya.

Ia menundukkan kepalanya lalu berucap pelan,”Maafkan aku.”

“Untuk apa?”

“Aku sudah membuatmu sedih, aku juga sudah merepotkanmu.”

“Karena apa?”

“Karena aku terlalu mengkhawatirkanmu.”

“Kau mau minta maaf padaku karena kau terlalu mengkhawatirkanku?”

Ia diam, tidak menjawab lagi. Menegakkan kepalanya sebentar, lalu saat mendapati aku menatapnya dengan wajah datar, ia menunduk lagi.

Aku memperkecil jarak diantara kami berdua, kemudian mencium lembut bibir merahnya sekejap. Ia membelalakkan mata, kemudian menatapku dengan alis yang dinaikkan. Membuatku tersenyum kecil.

“Sudah aku maafkan kok, Sungyeollie.”

.

.

“Myungsoo-ya?”

“Hm?”

“Apa disini kita akan bertambah tua?”

“Tidak.”

“Myungsoo-ya?”

“Hm?”

“Apa disini kita akan bertambah tinggi?”

“Tidak.”

“Baguslah.”

Aku menatapnya bingung lewat sudut mataku.

“Kenapa?”

“Soalnya aku akan selalu lebih tinggi darimu~”

Aku mendelik tajam kearahnya.

“Tinggi kita tidak beda jauh, bodoh.”

“183cm dan 178cm itu lumayan tau! Bilang saja kau iri padaku, pendek.”

“Aku tidak pendek!”

Jeda. Ia tak merespon lagi.

“Myungsoo-ya?”

“Hm?”

“Bisa tidak kalau jawabnya jangan ‘Hm’?“

“Ne ne. Ada apa?”

Benar kan? Baru sebentar dia disini dia sudah berhasil membuat asap mengepul dari kepalaku.

“Ehehe.”

“Jangan nyengir begitu. Kau jadi seperti unta.”

Ia menatapku tajam, bibirnya cemberut dan alisnya mengerut lucu. Membuatku tertawa kecil.

“Ah akhirnya aku bisa melihatmu tertawa lagi.”

Ekspresinya berubah seketika. Aku belum berhenti tertawa.

“Myungsoo-ya?”

“Ne?”

“Apa kau akan pergi meninggalkan aku lagi?”

“Jelas saja tidak.”

“Jadi kita akan terus disini sama-sama?”

“Ne.”

Dia tersenyum kecil sambil menatapku dengan matanya yang menyipit.

“Myungsoo-ya?”

“Ne?”

“Apa kau juga rindu padaku selama kau disini sendirian?”

“Ya. Aku juga merindukanmu.”

Aku berucap sambil membuang pandangan darinya, tak mau melihat tatapannya yang seakan mengejek aku yang sama sekali tak pernah mengaku kalau aku sayang padanya.

“Ehehe.”

Nah kan. Tawa itu lagi.

.

.

“Myungsoo-ya?”

“APA LAGI, LEE SUNGYEOL?!”

“Apa kau selingkuh dengan bidadari cantik selama aku tidak ada?”

“Tentu saja tidak. Aduh, cerewetmu tidak hilang juga, ya?”

“Yang benar?”

“Sungguh!”

“Lalu, apa yang kau kerjakan selama disini sendirian?”

“Menunggumu. Sambil mengawasi kebodohanmu dari atas sini.”

Seulas senyum lembut terulas diwajahnya lagi. Senyum yang sudah lama tak ditujukannya untukku.

.

.

Lee Sungyeol,

Sekarang kau tak perlu merinduku lagi.

.

.

“Myungsoo-ya?”

“Apa, Lee Sungyeol?! Apa?! Kenapa Tuhan mengirim orang sepertimu untukku, sih?”

“Bukannya kau juga minta padanya? Lagipula, Tuhan itu sayang padaku. Makanya dia membawaku kesini.”

Jeda. Aku tidak mau cari ribut lagi.

“Myungsoo-ya?”

“Sekarang apa lagi?!”

“Tidak ada. Hanya ingin menyapamu saja.”

Dan sebuah jitakan penuh kasih sayang yang sudah pasti juga ia rindukan mendarat mulus di kepalanya.

God bless the soul, divine festival
Let this cold rainstorm resurrect the soul
Eternal sun, dance with the infernal one
To the rhythm of the heart, universal drum
What you become is what you were destined to be
Your cold blue lips are confessin’ to me
Be my infinite true wife
Death is the start of a new life.

(Epik High-Spider Web)

-fin-

 author’s note:


well, maaf nih kalo bosen sama fic pendek-pendek yang sampe lima part kalo ditambah epilog padahal ceritanya sangat sederhana ini.

sebenernya, sih fic ini cuma 4 part yang kemaren itu aja ya. tapi karena ada yang nyaranin untuk dibuat epilognya, jadi saya bikin. makasih buat Summer Cho, salah satu reader yang kemaren komen di site lain buat bikin waktu Sungyeol ketemu sama Myungsoo dan buat Kihyukha yang minta penjelasan dari sudut pandang Myungsoo. Makasih sarannya~ tapi karena saya gabisa bikin 2, jadi saya coba gabungin, dan inilah jadinya -_-v

ng.. maaf kalo genrenya berbeda dari yang sebelumnya. saya ga niat bikin nangis, nih. saya pengen yang manis manis atau lucu aja. jadi saya usaha bikin fluff. maaf kalau seandainya mengecewakan. ehehe. ^^;

saya nulis ini sehari sebelum UN. mata saya ga bisa tidur cepet, paling cepet jam setengah 11. apa karna saya seneng minum kopi kali ya? btw, waktu nyari tau soal dampak buruk kafein untuk diselipkan di chapter kemarin (Sungyeol sakit jantung dan stress akut dan sel-sel otaknya terganggu kan karena kafein, ingat?), saya jadi takut sendiri deh. -_-

thanks for reading.

mind to leave comment?

wish me luck for my national exam~

13 tanggapan untuk “Our Longest Separation – Epilogue: Yes, I Miss You Too”

  1. saking gapengen lamalama tadi aku bacanya di ffindo, tapi komennya disini :B #gila #sarap
    AKHIRNYAAAA MYUNGSOO UTUKUTUK bawel banget Yeollienya==” tapi ini benerdeh lucu banget hihiw manisnya dapet loh ki, apalagi feel malu-malu maunya Myungsoo kerasa banget ;3
    Dan by the way, Sungyeol itu cerewet banget ya.. jatohnya nyebelin-_-v
    Aku paling suka yang bagian “Apa, Lee Sungyeol?! Apa?! Kenapa Tuhan mengirim orang sepertimu untukku, sih?” itu aku ketawa + senyumsenyum gajelas :3
    Akhirnya dari mesti berkesal ria sampe rasanya pengen ngejitak Sungyeol, terakhirnya bahagia juga :’3
    Great fanfiction~~

    Suka

    1. -_-a

      ahaha. makasih. aku takut ga ada manis-manisnya sama sekali soalnya aku bikin ini sebentar banget. karna gabisa tidur dan gaada kerjaan dan kepikiran hutang yang belum kelar jadi yaudah aku kerjain ahaha. #ngek

      malu-malu mau? LOL. =))

      kakakku jangan dijitak ;A; /peluk sungyeol <<< punya kakak anak SD -_-

      thanks for reading~

      Suka

      1. aku kadang baca komik~ kadang belajar kadang main game. ==;

        iyaaaa. tinggal 3 hari. UN-nya suasananya gak kayak UN gatau kenapa abisnya aku masih bisa nyante-nyante -_-a
        semangaaat~ tapi aku gamau dapet KKM =_= targetnya diatas 90 ._.

        Suka

  2. terharu banget liat couple ini,klop banget deh,yg satu diem,yg satu-nya ga bisa diem.

    good job,thor. aku tunggu karya-karyamu berikutnya ya,yg cast-nya anak-anak infinite tentu saja.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s