LIFELINE – Part 1 [Remake]

life-line-by-yolasekarini_2

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae | Length : Chaptered / Series Fic |Genre : AU, Romance, Medical |Rating : G,PG-15/T

SATU

Angin yang bertiup pada minggu pertama bulan Februari masih terasa menusuk, dinginnya berhasil membuat semua orang yang berada di luar rumah harus merapatkan mantel mereka masing-masing jika tidak ingin menggigil kedinginan. Sama halnya dengan Kyuhyun pagi hari ini, ia kembali merapatkan jas hitamnya sambil terus berjalan menuju stasiun subway bawah tanah. Ia berjalan menuruni tangga dan menyusuri setiap sudut stasiun kemudian berbelok di koridor mengikuti orang-orang yang juga hendak mengantri masuk melewati mesin scanner seraya menempelkan kartu mereka masing-masing di atas sebuah alat pemindai. Pintu gerbong kereta saat itu masih terbuka lebar ketika Kyuhyun sampai di dekat kereta yang berhenti, ia pun segera masuk ke dalamnya sambil mencari tempat duduk yang kosong. Pagi ini ia sudah berangkat jauh lebih pagi daripada kemarin, karena kemarin, ia tidak berhasil mendapatkan tempat duduk kosong dan terpaksa berdiri sepanjang perjalanan ke stasiun yang ia tuju. Tak lama setelah ia berhasil masuk ke dalam kereta, matanya kemudian tertuju pada satu tempat duduk kosong berada di antara dua orang yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ingin membuang waktu, Kyuhyun pun segera duduk di sana.

Kyuhyun menarik nafas sesaat kemudian menyadari bahwa kereta itu semakin padat, jam segini orang-orang memang hendak pergi ke kantor, sama seperti dirinya, ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa jika melihat pemandangan orang-orang yang duduk berhimpitan dengan bokong dan bahu menempel satu sama lain, tetapi pagi ini saja ia sudah mengumpat lebih dari tiga kali pada Donghae, ia ingin sekali mengumpat pada temannya yang telah membuat mobilnya masuk bengkel.

Sekitar lima hari lalu Donghae menghubunginya, malam itu Donghae mengatakan akan menjemput sepupunya di bandara, namun entah apakah Donghae benar-benar menjemput sepupunya atau tidak, Kyuhyun tidak peduli, yang jelas mobil itu pulang dengan keadaan yang menyedihkan. Aku menabrak tiang listrik ketika aku hendak bergerak mundur, itu yang Donghae katakan padanya, namun sepertinya Donghae tidak hanya menabrak tiang listrik, terlihat dari goresan-goresan yang terdapat di beberapa sisi mobil yang penyok. Kyuhyun menganggap mungkin malam itu Donghae mengantuk, Donghae juga tidak mungkin kan sengaja melakukan hal semacam itu pada sahabatnya sendiri.

Sejak mobilnya masuk bengkel, Donghae sudah berpuluh-puluh kali meminta maaf, ia juga sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Donghae. Ditambah lagi Donghae juga mengatakan bahwa ia bersedia mengganti semua biaya perbaikan mobil dan bersedia mengantar-jemput Kyuhyun selama mobilnya berada di bengkel, namun Kyuhyun menolak itu semua, karena mengingat apartemen Donghae yang berada sangat jauh dari apartemennya, itu sama saja merepotkan Donghae, dan ia juga mempunyai cukup uang untuk memperbaiki mobilnya menggunakan uangnya sendiri.

Semalam Donghae muncul di apartemennya dengan tiba-tiba, mengetuk pintu berkali-kali pada jam delapan malam ketika Kyuhyun baru saja akan tertidur, Kyuhyun terpaksa bangun dan beranjak dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu utama apartemennya. “Selamat ulang tahun,” Kyuhyun tertawa pelan mengingat bagaimana Donghae mengucapkan kalimat itu dengan canggung ketika ia membukakan pintu. Tadi malam ia juga lupa bahwa ia tengah berulangtahun, tidak ada hal spesial yang terjadi kemarin, itulah yang membuatnya melupakan hari ulang tahunnya sendiri. Kyuhyun tidak pernah menganggap hari ulang tahun adalah hari yang spesial, ia selalu menganggapnya sama seperti hari-hari lainnya karena menurutnya setiap hari usianya juga bertambah, jadi apa bedanya? Jika ulang tahun mengurangi waktunya berada di dunia, lantas mengapa senang?

Setelah mengingat kejadian semalam di mana Donghae berhasil membuatnya menghabiskan sekitar tiga ratus ribu won dalam beberapa jam selama berada di restoran, Kyuhyun mengeluarkan psp-nya dari salah satu saku jasnya. Kyuhyun tersenyum tipis melihat benda hitam itu, bagaimana bisa Donghae menghadiahinya sebuah psp di ulang tahunnya yang ke tiga puluh dua tahun? Memangnya dia anak laki-laki yang baru berulangtahun ke lima belas?

Kyuhyun mulai menyalakan tombol penghidup dan layar psp pun menyala, namun dalam hitungan detik, psp yang tadi berada di genggaman tangannya itu terhempas jatuh ke lantai permukaan kereta. Kyuhyun seketika itu juga mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menjatuhkan psp yang bahkan belum sempat ia mainkan. Ia menemukan seorang wanita berdiri tidak jauh dari dirinya, saat ini tengah membenarkan letak roknya dengan nafas masih terengah-engah. Kyuhyun seketika itu juga membuang wajahnya ketika perempuan itu menyadari kalau dirinya baru saja memerhatikan perempuan itu.

Walaupun tadi Kyuhyun memerhatikan perempuan itu dengan pandangan kesal, namun anehnya perempuan itu terlihat biasa saja, tanpa ada tanda-tanda akan meminta maaf atau semacamnya. Sebelum menjatuhkan psp Kyuhyun, wanita itu berlari dari stasiun ke arah pintu gerbong kereta yang baru akan menutup, wanita itu mengeyampingkan tubuh rampingnya untuk bisa masuk ke dalam kereta. Wanita itu juga sempat menabrak beberapa orang yang berdiri di dekat pintu kereta sehingga orang-orang yang berdiri di dekat pintu kereta tadi terdorong hampir jatuh. Wanita itu lantas menghindar namun sayangnya tanpa sadar ia menyenggol dan mengenai tangan Kyuhyun yang memegang psp.

Kyuhyun berusaha beranjak dari tempat duduknya yang diapit oleh dua orang bertubuh lumayan besar, ia hendak mengambil psp-nya yang jatuh tergeletak di permukaan lantai kereta. “Oh, astaga, milik Anda, Pak?” wanita itu akhirnya menyadari bahwa ia menjatuhkan benda hitam itu kemudian mengambilnya sebelum Kyuhyun berhasil beranjak dari tempat duduknya. Kyuhyun mengangguk mengiyakan. “Maaf, sepertinya saya telah menjatuhkannya, ah, saya akan ganti jika rusak,” wanita itu mulai panik sendiri ketika menyerahkan benda itu pada Kyuhyun. “Tidak perlu.” jawab Kyuhyun singkat kemudian segera memasukkan psp-nya ke dalam tas kerja yang dibawanya tanpa melihat keadaan psp itu terlebih dahulu.

Jujur saja, Kyuhyun malas harus berurusan dengan wanita itu apalagi harus marah-marah. Ia tidak ingin menambah buruk harinya dengan menambah satu masalah baru. Ulang tahunnya sudah cukup buruk kemarin. Sepanjang hidupnya, ulang tahun ini adalah yang terburuk setelah ulang tahunnya yang tiga tahun lalu. Setidaknya ulang tahunnya tiga tahun lalu masih menjadi ulang tahun yang terburuk, dan sejak itu juga ia tidak pernah menyukai hari ulang tahunnya sendiri.

Kyuhyun juga malas harus duduk di dekat wanita itu, ia malas melihat wanita yang tadi menjatuhkan psp-nya, ia pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya yang sempit itu kemudian pergi mencari tempat lain dan memilih untuk menjauh dari wanita tadi, walaupun ia harus berdiri di gerbong lain sekalipun, itu lebih baik daripada tetap berada di sana.

***

Seorang pria bertubuh semampai berjalan memasuki rumah sakit sambil mengenakan jas putih yang tadi hanya ia bawa di tangan kirinya. Ia adalah dokter termuda di rumah sakit itu yang namanya sudah termasuk ke dalam deretan para dokter ahli, walaupun pada kenyataannya ia baru tiga tahun bekerja di rumah sakit itu.

Ia adalah seorang dokter yang merupakan lulusan terbaik di univeristas terbaik di Berlin, setelah tiga tahun lalu ia pindah ke Seoul, ia langsung mendapat pekerjaan di rumah sakit terbaik di Seoul. Dengan kemampuannya yang selalu sempurna dalam menghadapi berbagai operasi yang ditangani olehnya selama delapan tahun, dan selama delapan tahun tersebut ia sudah menangani banyak sekali pasien dan belum ada pasien yang tidak terselamatkan, walaupun seluruh pasiennya berhasil ia selamatkan, namun ia tidak dapat menyelamatkan kehidupan asmaranya dengan seseorang kala itu.

***

“Dok, saya ingin mengingatkan, pukul satu nanti ada operasi.” Ujar seorang perawat dengan tataan rambut rapi yang masuk ke dalam ruangan praktik Kyuhyun yang berada di lantai dasar.

“Ya, saya tahu. Terima kasih.” Perawat itu pun keluar dari ruangan setelah Kyuhyun menjawabnya singkat. Kyuhyun masih sibuk membaca file riwayat pasien yang siang nanti akan dioperasi olehnya. Pasien itu rupanya tergolong penderita berat, pembuluh darahnya tersumbat oleh karena dinding yang menyempit atau disebut juga aterosklerosis yang menyebabkan pembuluh darah otak mengalami kerusakan sementara atau permanen pada bagian saraf otak yang dialirinya sehingga dapat menimbulkan kecacatan atau kelumpuhan pada salah satu atau bahkan beberapa anggota badan. Hal itu membutuhkan dilakukannya tindakan operasi, terutama pada perdarahan yang terjadi dalam otak.

Sepuluh menit lagi poli bedah saraf akan buka sementara di luar ruangan poli sudah cukup banyak pasien. Kyuhyun menutup file berisi riwayat pasien kemudian mulai melihat dan memeriksa daftar pasien yang sudah ada di meja. Ia mempelajari masing-masing penyakit mereka dan setelah itu ia mengecek ponsel miliknya sendiri. Ada sebuah e-mail, yang memberitahukan bahwa ia dipanggil oleh kepala rumah sakit setelah operasi siang ini selesai. Kyuhyun tidak membalas e-mail itu karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, waktunya pasien pertama masuk. Ia membenarkan letak dasinya dan pintu pun terbuka, seorang pasien bernomor urut pertama dengan didampingi seorang wanita yang sepertinya adalah istrinya masuk ke dalam ruangan.

***

Kyuhyun melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Padahal jam di ruangannya baru menunjukkan kalau siang ini masih pukul setengah dua belas tapi ia sudah merasa sakit kepala, mungkin karena banyaknya jumlah pasien poli pagi tadi, yang jelas ia juga sudah merasa bersyukur karena hari ini ada pembatasan waktu untuk berobat dengannya. Jadi pasien-pasien yang menumpuk siang ini akan dialihkan pada dokter-dokter lain. Pembatasan itu pun dikarenakan pukul satu nanti Kyuhyun akan ada jadwal operasi.

Walaupun hari ulang tahunnya yang buruk itu telah berlalu kemarin, tapi entah mengapa, mood-nya hari ini masih tidak bagus.

Kyuhyun pergi dari ruang poli dan kembali ke dalam ruangannya di lantai atas untuk melihat psp yang dijatuhkan orang tidak dikenal saat di kereta pagi tadi. Terdapat beberapa goresan di layar dengan sebuah garis retakan yang membelah layar psp. Walaupun psp itu masih dapat dimainkan, namun untuk melihat permainan tidak dapat jelas dikarenakan oleh layar yang retak tadi. Kyuhyun lantas mematikan kembali psp itu dan beranjak keluar ruangan setelah ia meletakkan kembali psp-nya di laci meja kerja.

Pergi ke kafetaria menjadi pilihan terakhir bagi Kyuhyun, walaupun makan siang pada jam segini bisa dibilang masih terlalu awal, tapi setidaknya ia mungkin harus mengisi perut sebelum melakukan operasi yang bisa memakan waktu tiga sampai empat jam.

Kyuhyun menelan dua buah aspirinnya untuk menghilangkan sakit kepalanya sebelum akhirnya ia memakan makan siangnya dengan cukup cepat setelah ia melihat satu dokter perempuan yang masuk ke dalam kafetaria, selama ini dokter perempuan itu selalu berusaha mencari perhatiannya, jadi siang ini Kyuhyun tidak ingin dirinya berbasa-basi dengan dokter perempuan itu, ia pun segera meninggalkan kafetaria setelah ia membayar makanannya.

Kyuhyun beranjak melewati kaca besar yang menghadap aman belakang rumah sakit yang selama tiga tahun ia bekerja di rumah sakit ini, ia belum pernah sekalipun ia pergi ke sana, namun sama seperti hari-hari sebelumnya, ia hanya sebatas melintas di balik kaca transparan itu sebelum ia berbelok ke tangga dan melangkah ke lantai atas.

Seorang wanita setengah baya membukakan pintunya dan senyumnya pun merekah ketika mengetahui bahwa seseorang yang mengetukan pintu kamar rawat suaminya adalah dokter tampan yang menangani suaminya dan yang akan mengoperasi suaminya beberapa jam lagi. Kyuhyun membalas senyuman wanita itu kemudian melangkah masuk kamar rawat setelah wanita itu menyuruhnya masuk.

Laki-laki yang berbaring di ranjang kamar itu pun tersenyum menyambut kedatangan Kyuhyun. Kondisi pria itu memang terlihat lemah dan yang Kyuhyun dapat lakukan kali ini hanyalah memberi pengertian. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Sekarang yang dapat kita lakukan adalah berdoa agar operasi nanti berjalan lancar.”

“Ya, kami yakin kalau dokter akan melakukan yang terbaik untuk kami.” Jawab istri bapak itu. Kyuhyun mengangguk kecil lalu segera pamit untuk mempersiapkan operasi.

***

Pasien mengalami Cerebral thrombosis, keadaan itu membuat darah menggumpal berubah menjadi gumpalan-gumpalan darah di arteri yang memasok darah ke otak, menggumpalnya darah, otomatis hal itu akan menghambat darah mengalir ke otak serta membuat sel-sel otak kekurangan oksigen, hal ini berpotensi merusak dan mematikan sel-sel saraf di otak, dan jenis operasi yang dilakukan untuk keadaan seperti ini adalah operasi Craniotomy, dimana operasi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penyempitan pembuluh darah otak yang nantinya akan mengakibatkan pasien terkena serangan stroke.

Masa kristis pasien yang terjadi di saat operasi berlangsung sudah dilewati dan operasi pun berhasil dilakukan.

Kyuhyun keluar dari ruang operasi untuk memberitahu pada keluarga yang menunggu di luar ruangan operasi bahwa operasi telah berakhir dan berjalan cukup lancar, namun setelah melihat sekeliling tempat duduk yang tersedia di luar ruang operasi, Kyuhyun tidak dapat melihat satu orang pun selain seorang gadis muda yang duduk di salah satu bangku seorang diri dan punggungnya membelakangi Kyuhyun.

Sebelum Kyuhyun menghampirinya, Kyuhyun berpikir mungkin saja ia adalah keluarga dari pasien yang baru saja ia operasi, gadis muda itu kini mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Kyuhyun yang berada di belakang. Kyuhyun membuka maskernya ketika mata mereka berdua bertemu. Gadis muda itu masih menatapnya seraya mengerutkan kening.

Kyuhyun tersadar dan segera mengalihkan pandangannya.

“Ada apa kau di sini?” Tanya gadis muda itu dengan tatapan tidak percaya pada Kyuhyun yang mengenakan pakaian operasi berwarna hijau yang masih lengkap dengan penutup kepala, sarung tangan elastis, dan masker.

“Seharusnya saya yang bertanya, sedang apa kamu di sini? Tidak lihatkah saya memakai pakaian seperti ini?” Kyuhyun hanya menaikkan bahunya lalu kembali masuk ke dalam ruangan operasi tanpa menunggu gadis muda itu berkata-kata. Walaupun kenyataannya gadis muda itu berusaha memanggil Kyuhyun dari belakang, tetapi Kyuhyun terus berjalan ke dalam ruang operasi tanpa menghiraukan gadis muda itu dan sesaat kemudian pintu ruang operasi pun tertutup kembali.

***

Entah mengapa Sooran merasakan pikirannya kacau hari ini, mungkin karena ayahnya yang siang ini akan menjalani operasi. Pagi tadi ia tidak bisa membolos kerja karena rapat yang sangat penting itu ditambah dengan kejadian di kereta yang terjadi pagi tadi. Rapat yang menurut orang-orang di kantornya itu penting baru saja berakhir lima belas menit lalu walaupun ia sebenarnya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada isi rapat tadi.

Sooran juga baru saja meminta izin pada atasannya bahwa ia benar-benar harus pergi dikarenakan ayahnya yang sakit, atasannya itu pun akhirnya memberikannya ijin untuk tidak bekerja sampai lusa. Sooran segera pergi keluar gedung kantornya kemudian menyetop taksi di depan kantor dan langsung bertolak menuju ke rumah sakit. Bagaimana tidak cemas, siang ini ayahnya akan menjalani operasi di bagian otak, hal itu tentu saja membuatnya tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan keadaan ayahnya.

Setelah sampai di rumah sakit dan turun dari taksi, dengan setengah berlari ia memasuki lobi dan segera menuju ke ruang operasi, sementara di depan ruang operasi ia melihat bahwa ibu dan kakak laki-lakinya telah menunggu operasi yang masih berlangsung. Sooran pun kemudian menyuruh agar kakak laki-lakinya itu mengantar ibunya makan siang dan berganti baju di rumah karena ibunya sama sekali belum pulang, Sooran lah yang jarang menjaga ayahnya selama berada di rumah sakit karena pekerjaannya yang tidak bisa ditunda. Siwon bahkan memutuskan untuk mengambil cuti selama satu minggu, namun Sooran sudah mengajukan cuti itu juga pada bosnya, Lee Seungjae, namun Lee Seungjae menolak memberikan cuti satu minggu pada Sooran dengan alasan bahwa Sooran belum genap satu tahun bekerja di perusahaan itu.

Sooran menunggu ayahnya yang masih berada di dalam ruang operasi, ia menunggu operasi itu selesai seorang diri dan berdoa agar keadaan ayahnya baik-baik saja. Sampai akhirnya ia merasakan ada seseorang yang sedang melihat ke arahnya dan ia lantas segera menoleh,

ternyata benar ada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. Sayangnya ia tidak bisa melihat wajah dokter yang baru keluar dari ruang operasi itu karena ia masih memakai maskernya. Setelah membuka dokter itu membuka maskernya, detik itu juga Sooran menyadari bahwa dokter itu adalah orang yang sama dengan yang ia temui di dalam kereta pagi hari tadi, seseorang yang psp-nya telah ia jatuhkan di dalam kereta.

Mungkinkah seseorang yang ia temui di dalam kereta itu benar-benar dokter yang mengoperasi ayahnya? Sooran memang jarang pergi ke rumah sakit, ia juga belum pernah bertemu langsung dengan dokter yang menangani ayahnya selama ini. Tetapi dilihat dari pakaian yang dikenakan pria itu sekarang, ia masih mengenakan pakaian hijau lengkap dengan masker dan penutup rambut seperti dokter-dokter yang sedang melakukan operasi.

Sooran hanya memandangnya tidak percaya seperti orang bodoh dan ia memang masih tidak percaya kalau pria yang ditemuinya di dalam kereta adalah seorang dokter, penampilannya sangat berbeda dengan yang ia temui tadi pagi. Saat di kereta pria itu hanyalah seseorang menyebalkan dengan psp-nya yang tak kalah menyebalkan. Tapi sekarang, Sooran lemas dibuatnya.

Yang membuat Sooran lemas mengapa pria yang ia jatuhkan psp-nya itu adalah dokter yang menangani ayahnya. Bagaimana jika dia masih dendam padanya karena ia menjatuhkan psp-nya? Sooran buru-buru menepis segala pikiran aneh yang memenuhi seluruh ruang otaknya.

Namun Sooran berhasil mempertahankan ekspresi wajahnya, ia hanya memasang wajah seperti ia belum pernah bertemu Kyuhyun sebelumnya, walaupun jauh di dalam hatinya, ia masih sangat kaget bahwa orang yang ia temui di kereta adalah seorang dokter.

Dalam beberapa hitungan, pria itu masuk kembali ke dalam ruang operasi. Kenapa dia malah pergi? Lalu bagaimana dengan operasinya? Apakah sukses? Atau malah sebaliknya?

***

Salah satu suster keluar dari ruang operasi dan memberitahu bahwa operasi berjalan dengan lancar dan ayahnya hanya boleh dijenguk oleh satu orang. Rupanya Kyuhyun menyuruh orang lain untuk memberitahukan keadaan pasien.

Karena ibu dan kakaknya belum datang, jadi Sooran lah yang masuk keruang rawat inap ayah. Ia melihat ayahnya yang masih di bawah pengaruh obat bius sehingga ia belum sadar, itulah yang dikatakan suster pada Sooran sebelum ia pergi meninggalkan Sooran berdua ayahnya. Sooran meraih tangan ayahnya kemudian menggenggamnya, ia ingin ayahnya dapat segera pulang ke rumah.

Suara pendeteksi detak jantung itu sangat memekakkan telinga Sooran, namun apa boleh buat, ia mencoba untuk mengabaikan suara itu sampai akhirnya pintu kamar ayahnya terbuka, ia mengira ibu atau kakak laki-lakinya yang datang, namun setelah ia menoleh dan melihat sendiri siapa yang datang, ternyata seorang dokter yang kini telah berganti mengenakan kemeja dan jas putih rapi.

Dokter yang tadi meninggalkannya masuk ke dalam ruang operasi kembali sebelum memberitahu bagaimana keadaan ayahnya dan bagaimana operasi itu berjalan. Ia melihat dokter itu berbicara dengan suster dan sesaat kemudian suster itu pergi meninggalkan ruangan ayahnya.

Kyuhyun memeriksa ayah Sooran dalam diam walaupun sebelumnya ia sempat melihat ke arah Sooran.

“Bisa kita bicara di luar?”

Sooran mengangguk pelan sambil kemudian mengikuti langkah Kyuhyun dan membawanya ke satu ruangan yang Sooran yakini bahwa ruangan itu adalah ruangan milik Kyuhyun di rumah sakit itu. Sooran duduk di kursi. Ia mulai tidak tenang, kakinya terasa gemetar dan ia dapat merasakakn kedua tangannya dingin. Ia berharap Kyuhyun tidak mendengar detak jantungnya yang berdetak sangat kencang, Ia tidak siap mendengar apapun tentang ayahnya.

“Jadi kondisi ayahmu saat ini sudah terus membaik, walaupun di tengah berlangsungnya operasi keadaannya sempat menurun dan kritis namun sekarang perkembangannya cukup drastis ke arah membaik.”

Sooran terus mendengarkan Kyuhyun dengan serius mendengarkan penjelasan Kyuhyun tentang ayahnya, kapan ayahnya kemungkinan boleh kembali ke rumah, apa dampak operasi, apa yang akan dilakukan selanjutnya, semua Kyuhyun jelaskan pada Sooran walaupun tidak semua ucapan Kyuhyun dapat dimengerti oleh Sooran.

Ketika Kyuhyun mempersilahkan Sooran meninggalkan ruangannya, Sooran beranjak berdiri namun sesaat kemudian ia duduk kembali. “Saya minta maaf tentang kejadiaan di kereta pagi tadi, saya akan mengganti psp milik dokter yang telah saya jatuhkan, apakah sekarang rusak?”

Kyuhyun tidak menyangka Sooran akan minta maaf karena dari tadi Sooran bersikap seperti ia belum pernah bertemu Kyuhyun sebelumnya. “Tidak perlu, psp itu hanya hadiah, saya tidak pernah membelinya, jadi tidak perlu diganti.” Jawab Kyuhyun singkat dan Sooran pun kemudian segera pamit pergi.

***

Kyuhyun melangkah masuk ke dalam ruang kepala rumah sakit, beberapa saat lalu ia dipanggil untuk datang ke sana, ia sendiri tidak tahu apa maksud tujuan mereka memanggil dirinya.

Di dalam ruangan besar itu, Kyuhyun dapat melihat Kang Jihyun yang sedang menatap ke arahnya sebelum akhirnya memalingkan wajah dengan acuh ketika ia melangkah mendekat. Kyuhyun memberi salam singkat pada kepala rumah sakit yang duduk tidak jauh dari Kang Jihyun. Setelah dipersilahkan untuk duduk, Kyuhyun pun mengambil tempat yang tidak dekat Kang Jihyun.

Sampai hari ini Kang Jihyun memang tidak pernah terlihat ramah. Ia juga tidak pernah dekat dengan orang-orang di rumah sakit, termasuk pasien-pasiennya. Entah apa yang membuat Kang Jihyun seperti itu, faktanya ia selalu acuh pada semua orang. Kyuhyun juga tidak tahu sejak kapan perang dingin itu terjadi antara dirinya dengan Kang Jihyun. Mungkin Kang Jihyun menganggap dirinya sebagai saingan. Bagaimana tidak, usia dirinya dengan Kang Jihyun dan Donghae relatif sama. Mereka bertiga juga merupakan dokter ahli di rumah sakit itu dengan usia yang muda dan hampir seumuran. Walaupun dalam kenyataannya, Kyuhyun lah yang termuda di antara Donghae maupun Kang Jihyun.

“Bagaimana operasimu pagi ini, Cho Kyuhyun?” tanya kepala rumah sakit pada Kyuhyun, walaupun ia tahu pertanyaan itu hanyalah basa-basi belaka. Kyuhyun hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. “Operasi pagi ini berjalan baik.” Seketika itu juga Kang Jihyun melirik Kyuhyun seraya tersenyum sinis.

Detik berikutnya tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara sampai akhirnya pria berambut putih itu mencairkan suasana. “Nah,” ujarnya setelah ia mengatur posisi duduknya. “Tujuan saya memanggil Kang Jihyun dan Cho Kyuhyun adalah untuk menyampaikan bahwa kalian berdua mendapat tugas untuk menangani Park Hyunjung yang mengidap penyakit leukimia. Perlu kalian ketahui sebelumnya bahwa Park Hyunjung adalah putri dari menteri kesehatan negara ini. Saya harap kerja kalian bagus, karena ini menyangkut nama baik rumah sakit ini. Satu hal penting lainnya adalah kalian tetap bisa menangani pasien kalian yang lain, tetapi saya tetap berharap bahwa priotas kalian adalah pada Park Hyunjung.” Kepala rumah sakit berkata panjang menjelaskan tugas yang diberikannya pada dua dokter andalan rumah sakit itu. “Apa semua sudah jelas? Jika sudah kalian bisa kembali bekerja.”

“Saya keberatan jika Cho Kyuhyun menjadi tim dokter yang menangani Park Hyunjung bersama saya. Dia belum terlalu berpengalaman untuk menjadi yang menangani Park Hyunjung. Dia baru tiga tahun bekerja di rumah sakit ini, bagaimana mungkin Bapak mengikut-sertakan dirinya.” Kang Jihyun berkata tanpa melihat ke arah Kyuhyun yang duduk tidak jauh darinya. Sedangkan Kepala rumah sakit masih dengan ekspresi tenangnya.

“Lantas jika Cho Kyuhyun memang baru bergabung ke rumah sakit ini sekitar tiga tahun yang lalu membuatnya tidak memiliki pengalaman, sebelum ia bekerja di sini, ia bekerja di salah satu rumah sakit terbesar Hamburg selama enam tahun.

“Keputusan saya sudah bulat, bahwa Cho Kyuhyun dan Kang Jihyun lah yang akan menjadi tim dokter yang akan menangani Park Hyunjung. Sore ini gadis itu akan sampai di rumah sakit ini. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik untuk kedepannya.”

***

Sooran menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Matanya mengikuti ke arah seseorang yang melangkah mendekat.

“Bisa bicara di ruangan saya?” Seseorang yang mendekat tadi kemudian berhenti beberapa langkah di belakangnya. Sooran mengangguk pelan kemudian beranjak mengikuti orang tersebut yang tanpa mengucapkan apa-apa pergi keluar dari ruangan itu begitu saja.

“Saya mendapat kabar dari salah seorang suster bahwa Anda memanggil saya, mengenai ayah kamu, saya rasa kamu tidak perlu terlalu cemas, karena kemampuan fungsional ayah kamu berangsur-angsur sudah mulai membaik, saya juga sedang berusaha untuk meminimalkan rusaknya jaringan otak dan mencengah terjadinya komplikasi neurologis. Jadi singkatnya, gangguan komunikasi bukanlah sesuatu yang serius.”

Saat Kyuhyun tadi baru saja keluar dari ruangan kepala rumah sakit, ia mendapat kabar dari seorang suster yang memberitahu bahwa ada yang mencarinya, suster itu juga menjelaskan tentang apa yang terjadi pada ayah Sooran. Suster itu bercerita pada Kyuhyun bahwa perempuan yang mencarinya terlihat begitu panik ketika mengetahui ayahnya menjadi sulit diajak untuk komunikasi.

“Jika ada sesuatu lain yang ingin kamu tanyakan pada saya, kamu bisa langsung menghubungi saya.” Kyuhyun mengulurkan satu tangannya, memberikan sebuah kartu namanya pada Sooran.

“Ah, terima kasih.” Sooran beranjak berdiri dari kursinya. Kyuhyun hanya mengangguk sambil memandangi Sooran yang masih terlihat bahwa gadis itu masih panik. Kyuhyun tahu bahwa Sooran berusaha menyembunyikan rasa cemasnya. Melihat itu Kyuhyun hanya tersenyum tipis.

“Tapi ayah saya akan baik-baik saja, kan?” Sooran tiba-tiba berbalik padahal tadi ia sudah berada di dekat pintu. Gadis itu menghampiri Kyuhyun yang berada di kursi di balik mejanya. Kyuhyun lantas agak terkejut dan buru-buru melenyapkan senyumnya.

“Ayahmu akan baik-baik saja.” jawab Kyuhyun dengan datar.

Sooran tampaknya masih belum terlalu puas dengan jawaban Kyuhyun sehingga ia kembali bertanya untuk memastikan. “Tapi bagaimana jika ayahku masih sulit untuk diajak bicara?”

Kyuhyun mendengus pelan. “Setidaknya kita tunggu sampai tiga hari ke depan. Jika tidak ada perubahan maka harus dilakukan tindakan. Tapi sejauh ini semuanya berjalan baik-baik saja.”

***

Kang Jihyun merasa ada seseorang yang berjalan di dekatnya. Ia menoleh sedikit ke belakang dan menemukan Kyuhyun tengah berjalan beberapa meter di belakangnya. Kang Jihyun tersenyum dan tertawa pada dirinya sendiri. “Cho Kyuhyun, saya harap kita dapat bekerja sama dengan baik nanti.” Ujarnya pada Kyuhyun walaupun ia tetap melangkah ke depan begitu juga pandangannya.

Kyuhyun berhenti untuk sesaat dan memandang punggung Kang Jihyun yang dibalut dengan jas putih seperti dirinya yang terus berjalan ke depan. Kyuhyun kemudian segera berbelok dan Kang Jihyun pun berlalu dari pandangannya. Kyuhyun meneruskan langkahnya ke arah ruang perawat, ia ingin mengambil beberapa berkas pasien yang harus ia kunjungi sore hari ini. Ketika sampai di sana, ia menemukan Donghae yang juga sedang mengambil beberapa berkas. Donghae melirik Kyuhyun yang baru datang setelah ia mengambil map terakhirnya. Ia pun menghampiri Kyuhyun dan menepuk lengan Kyuhyun pelan tanpa berkata-kata. Kyuhyun sudah terbiasa dengan Donghae yang tidak pernah menyapa.

Donghae berlalu dan Kyuhyun pun menyempatkan diri untuk membaca berkas-berkas itu secara singkat sebelum akhirnya seorang suster mengampirinya dan mengajak ia untuk segera mulai melakukan kunjungan. Kyuhyun mengangguk mengiyakan dan berjalan diikuti oleh dua orang suster di belakangnya yang membawakan berkas-berkas yang tadi sudah sempat dibacanya.

Setelah baru mengunjungi sekitar ke lima ruangan, Kyuhyun mendapat panggilan bahwa Park Hyunjung baru saja tiba di rumah sakit, setelah sebelumnya berada di rumah sakit lain di luar Korea Selatan, sebagaimana gadis itu tinggal.

Mendapat kabar itu mau tidak mau Kyuhyun harus meninggalkan pasiennya, karena seperti yang dipesankan oleh kepala rumah sakit, prioritas utamanya saat ini adalah putri menteri itu. Sebelum Kyuhyun turun ke lantai dasar untuk menyambut kedatangan orang-orang penting di rumah sakit itu, Kyuhyun sempat menghubungi Donghae untuk mengantikan dirinya agar melakukan kunjungan pada pasien-pasien Kyuhyun yang belum sempat ia datangi satu-persatu.

Ketika sampai di lantai dasar rumah sakit, Kyuhyun dapat melihat banyak sekali orang dan wartawan yang ingin menyaksikan kedatangan dari menteri kesehatan itu. Kepala rumah sakit, para petinggi rumah sakit, dan beberapa dokter ahli juga terlihat berada di sana untuk menyambut kedatangan putri menteri itu.

Park Hyunjung turun dari mobil hitam mewah dengan senyumannya yang seketika itu jugalangsung memukau seluruh orang yang berada di sana. Tidak ada yang menyangka bahwa putri dari sang menteri akan semenawan ini, termasuk Kyuhyun yang saat itu berdiri tepat di hadapan gadis itu saat ini juga ikut terkagum-kagum, walaupun ia tidak menunjukkannya secara langsung.

Kulitnya yang pucat dan tubuhnya yang kurus lantas tidak memudarkan pesona dirinya. Para wartawan semakin berlomba-lomba untuk mendapatkan jepretan gambar dirinya.

Kang Jihyun menjadi orang pertama yang menyalami gadis cantik itu karena ia berdiri tepat di deretan paling pertama. Namun sayang, gadis cantik itu tidak dapat menyalami seluruh orang perwakilan rumah sakit yang menyambutnya, gadis itu terlihat lemah dan sakit. Senyum di bibirnya kian memudar sebelum akhirnya seorang perawat segera menuntunnya duduk di kursi roda dan membawanya masuk ke dalam gedung rumah sakit. Kyuhyun tidak menjabat tangan gadis itu seperti bagaimana Kang Jihyun dan beberapa orang beruntung lainnya yang tadi dapat menyalami gadis itu secara langsung.

***

Kang Jihyun dan Kyuhyun berjalan di lorong rumah sakit yang sunyi. Mereka berdua akan pergi ke ruangan di mana Park Hyunjung dirawat secara intensif. Penjagaan yang sangat ketat di sepanjang perjalanan menuju ruangan Hyunjung yang adalah kelas teratas yang dimiliki rumah sakit. Penjagaan khusus sengaja dilakukan demi menjaga sang putri menteri dari hingar-bingar wartawan yang ingin meliput, jangankan orang lain yang ingin masuk, dokter yang bukan merupakan tim dokter yang menangani gadis itu saja tentu tidak bisa masuk ke dalam ruangan di mana gadis itu dirawat.

“Lebih baik sekarang Anda beristirahat dulu. Kalau ada apa-apa, segera beritahu pada perawat. Kami akan mengecek Anda setiap tiga jam.” Kyuhyun mengakhiri kalimatnya seraya menutup pulpennya dan menyerahkannya pada perawat yang berdiri di sebelahnya.

“Anda terdengar terlalu formal, panggil saya Hyunjung atau kamu, tidak perlu terlalu formal selama tidak ada ayah di sini.”

Kyuhyun maupun Kang Jihyun sama-sama menoleh. Kang Jihyun mengangguk pelan mengiyakan sedangkan Kyuhyun tidak memasang ekspresi apa-apa. Kang Jihyun yang saat itu masih mengecek alat pendeteksi detak jantung itu kemudian selesai dalam dua menit sebelum akhirnya mereka pamit keluar.

Jujur saja, selama berada di dalam ruangan Park Hyunjung, Kyuhyun merasa gadis itu selalu memandang ke arahnya, bukannya tidak senang, ia merasa sedikit terganggu dengan Hyunjung yang terus mencuri pandang ke arahnya.

***

“Pasien harus segera menjalani kemoterapi beberapa hari lagi, tolong siapkan segala sesuatunya untuk itu.” Donghae berkata dengan nada datar seraya menyerahkan map kepada suster yang berada di sampingnya kemudian keluar dari ruangan begitu saja, tanpa pamit atau berbasa-basi ringan dengan pasiennya lebih dulu, ia berlalu begitu saja. Begitupun dengan pasien-pasien yang lain, Donghae memang bukanlah tipe seseorang yang biasa menyapa atau berbasa-basi pada orang lain, kecuali pada Kyuhyun, ia akan bersikap terbuka pada sahabatnya yang satu itu.

Donghae masuk ke dalam ruangan Kyuhyun setelah ia memasukkan kombinasi angka pada sebuah alat yang menempel di sebelah kanan pintu sebelum ia akhirnya dapat membuka pintu ruangan Kyuhyun itu. Ketika ia melangkah masuk, dilihatnya dahi sahabatnya itu berkerut dan tangannya memegang kening sambil membaca beberapa dokumen. Ia menghampiri sahabatnya dan duduk di seberangnya.

“Sedang mempelajari riwayat kesehatan Hyun Jung?”

“Tidak, hanya saja kali ini aku sedikit dilema.” Donghae ikut mengerutkan keningnya bingung dengan maksud perkataan Kyuhyun barusan.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu, aku sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.”

TBC

Now the author is speaking!

Hi! I decided to just remake because i really am realised that this fanfic was just too alay. I wont remake all the parts, only 1-4. Nah, gimana gimana? masih alay kah..? Your voices are all waited.

See you!

Yola Sekarini.

Iklan

7 thoughts on “LIFELINE – Part 1 [Remake]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s