LIFELINE Part 2 – [REMAKE]

life-line-by-yolasekarini_2

Scriptwriter: yolasekarini

Genre: AU, Medical, Romance, Drama, Frendship, Family

Cast(s): Cho Kyuhyun, Lee Donghae and some Ocs.

DUA

“Jadi kau ingin mengundurkan diri?” Donghae memerhatikan Kyuhyun yang diam saja kemudian mengangkat sedikit bahunya setelah menghembuskan napasnya perlahan, ia sendiri tidak yakin apa yang telah membuat dirinya ingin mengundurkan diri. Kyuhyun tidak menjawab namun mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat sampai akhirnya pintu ruangan terbuka dan seorang perawat masuk ke dalam ruangan dengan sedikit panik.

“Maaf menggangu, pasien di lanyai tiga baru saja mengalami Transient Ischemic Attacks.” Donghae menoleh sedikit ke arah Kyuhyun yang sama sekali tidak merespon apa-apa. Sekitar tiga detik kemudian barulah Kyuhyun beranjak berdiri sedangkan Donghae masih tetap duduk selama beberapa menit meski tahu bahwa Kyuhyun sudah berjalan keluar ruangan menuju ke arah elevator.

Sebelum Donghae beranjak berdiri ia sempat melihat sesuatu yang tiba-tiba menarik perhatiannya, yaitu sebuah buku catatan milik Kyuhyun yang berada di atas meja, buku itu terbuka dengan sebuah tali pita tipis pembatas berwarna biru.

Asal tahu saja, Donghae memang bukanlah tipe seseorang yang suka ingin tahu masalah orang lain, tetapi jika seandainya Kyuhyun tidak ingin ada yang membaca isi bukunya, tentu Kyuhyun tidak akan membiarkan benda ini terbuka begitu saja, Donghae berteori, perlahan-lahan mulai menggeser buku tersebut agar mengarah padanya dan membaca beberapa kalimat awal dalam hati. Seumur hidupnya ia tidak pernah tahu kalau ternyata sahabatnya itu menulis di dalam buku seperti ini. Ia merutuk dalam hati dan berharap Kyuhyun memaafkannya karena telah iseng membaca buku itu tanpa sepengetahuan dirinya.

Ternyata tidak ada yang berarti dalam isi tulisan yang baru saja dibacanya. Sampai-sampai Donghae membolak-balikkan halaman tersebut dengan cukup banyak kertas. Tapi kemudian di bagian halaman lain yang kali ini ia buka, ia menemukan selembar foto lama. Donghae terbelalak melihatnya. Bagaimana bisa Kyuhyun masih menyimpannya?

Dalam hitungan detik itu juga Donghae segera menutup buku tersebut dengan cepat tapi sesaat kemudian teringat bahwa keadaan terakhir buku itu sebelum ia membacanya adalah terbuka pada halaman yang diberi pembatas pita biru tipis, ia membuka buku itu kembali, menatanya ke posisi semula kemudian segera pergi keluar. Ia beranjak ke ruangannya sendiri yang berada satu lantai di atas ruangan Kyuhyun.

**

Kyuhyun mengangkat sedikit pergelangan kirinya untuk melihat jarum yang berdetik dalam jam tangan yang melingkar di sana sambil terus berjalan ke arah ruangannya yang tadi sempat ia tinggalkan untuk mengecek pasien karena setelah mengambil tas nanti ia akan langsung bergegas pulang. Di lobi rumah sakit, ketika ia sedang melintas ke arah pintu utama, ia melepas jas putihnya dan membawanya di tangan kiri. Ia berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah di sebelah timur rumah sakit sama seperti yang ia lalui pagi tadi dan beberapa hari sebelumnya.

Donghae melihat Kyuhyun yang masih berada di lobi kemudian menyusulnya. “Kyu, mau pulang bersamaku?” Kyuhyun menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu. Kamu kan tau apartemenku jauh.” Donghae hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala tanda bahwa ia mengerti, walaupun kenyataannya, sejauh apapun apertemen Kyuhyun berada ia tidak akan pernah merasa keberatan, lagipula sebenarnya ada hal yang ingin ia bicarakan pada Kyuhyun, namun tampaknya Kyuhyun sedang tidak ingin diganggu. “Baiklah, sampai bertemu besok.” tanpa banyak basa-basi ia pun berlalu ke arah basement.

**

Suasana di dalam kereta selalu padat di saat Kyuhyun pulang kerja, tapi untungnya kali ini Kyuhyun masih mendapat satu tempat duduk kosong. Namun baru beberapa detik duduk, ada seorang wanita tua masuk ke dalam kereta. Kyuhyun melihat sekeliling, dan benar saja, tidak ada kursi lain yang kosong, ia pun segera berdiri dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk.

Ketika kereta itu berhenti di stasiun yang ditujunya, ia segera keluar, mengingat ia masih harus berjalan lagi untuk bisa sampai ke apartemennya, ia pun mempercepat langkahnya. Kyuhyun masuk ke dalam ruangan apartemennya dan melempar jas putihnya ke atas sofa panjang kemudian melonggarkan dasi yang terasa begitu mencekik. Ia berjalan ke arah kamar lalu menjatuhkan dirinya ke atas kasur.

Beginilah kehidupan seorang Cho Kyuhyun yang sebenarnya, bahkan orang-orang di rumah sakit, kecuali Donghae, tidak banyak yang tahu bahwa ia hanya tinggal seorang sendiri di sebuah ibu kota besar yang padat. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada orang yang menyambut kedatangannya setiap kali ia pulang dari rumah sakit. Kyuhyun menghembuskan nafasnya panjang lalu memejamkan matanya untuk beberapa saat.

Di dalam pikirannya, ia teringat semenjak menetap di Seoul kembali, Kyuhyun merasa hidupnya telah banyak berubah. Ia semakin tidak bersemangat, walaupun sejak kembali ke Seoul, Donghae selalu ada bersamanya, namun kehadiran Donghae tetap tidak merubah banyak hal, ia memang mengakui bahwa setidaknya sekarang ini ia selalu memiliki teman untuk sekedar pergi keluar dan meminum kopi. Pernah satu kali ia mencintai seorang perempuan, namun hal itu justru membuatnya semakin menderita. Hari ulang tahunnya tiga tahun yang lalu memang selalu menjadi yang terburuk, sejak saat itulah Kyuhyun tidak pernah lagi menyukai hari ulang tahunnya sendiri. Dan setiap ia melewati hari ulang tahun, ia merasa kacau.

Kyuhyun mengumpat pelan beberapa saat kemudian ketika ia mendengar ponselnya berbunyi pelan. Ia tidak akan pernah memaafkan Donghae jika yang meneleponnya kali ini adalah psikiater yang selalu ingin bertemu dirinya dalam sebuah sesi singkat setelah makan siang. Ia tidak gila, bagaimana bisa Donghae mengirim seorang psikiater untuk dirinya. Ia sudah memblokir nomor psikiatris itu agar tidak dapat menghubunginya lagi, namun nampaknya orang itu belum kehabisan akal. Mungkin besok pagi ia harus segera menemui Donghae agar menyuruh psikiatris itu pergi jauh dari hidupnya dan berhenti menghubunginya untuk bertemu dengan alasan apapun.

Setelah menunggu beberapa detik sampai ponselnya berhenti berbunyi, Kyuhyun pun baru mengambilnya. Ia memerhatikan layar ponselnya untuk beberapa saat sampai akhirnya ia menyadari bahwa yang baru saja menguhubunginya bukanlah psikatris itu. Panggilan masuk tadi rupanya datang dari bengkel tempat ia memperbaiki mobil. Tanpa pikir panjang lagi ia pun segera menelepon balik.

“Jadi kapan mobil saya kembali?” tanyanya tanpa basa-basi ketika seseorang mengangkat. “Kalau begitu saya tunggu secepatnya.” ia menjawab cepat tidak ingin mendengar banyak hal lain.

Padahal sebelumnya ia mengira bahwa mobilnya telah selesai diperbaiki, namun ia salah sangka. Mobilnya justru belum juga selesai, cat yang harusnya digunakan mobilnya tidak bisa datang tepat waktu seperti perkiraan mereka. “Jika Anda bersedia menunggu, maka kami akan tetap menggunakan cat yang sama, tetapi jika sekiranya Anda menginginkan mobil Anda selesai tepat waktu, maka kami bisa mengganti catnya dengan cat yang bukan untuk merek dari mobil Anda.” masih terngiang-ngiang di pikirannya bagaimana kata-kata si tukang bengkel tadi.

Kyuhyun menutup sambungan telepon dan menghempaskan ponsel ke sisi kiri tubuhnya. Kali ini ia memilih untuk tetap membiarkan dirinya naik kereta bawah tanah sampai mobilnya selesai dicat dengan cat yang seharusnya dipakai, ia tidak ingin mengambil resiko lain yang mungkin akan terjadi jika seandainya ia memilih untuk membiarkan bengkel itu mengecat mobilnya dengan cat yang tidak seharusnya diberikan.

**

“Pagi nanti aku akan menjemputmu.” ujar Siwon ketika Sooran membuka pintu mobil.

“Ya. Sampai nanti.” Sooran melambaikan tangannya ketika mobil itu mulai bergerak menjauh.

Sore itu Sooran tengah berjalan ke arah lobi rumah sakit yang ramai. Tidak biasanya lobi rumah sakit menjadi seramai ini. Bahkan dalam hitungan tidak sampai satu menit kemudian ia merasakan seseorang tiba-tiba menarik tangannya dengan paksa, yang lantas membuatnya seketika tersentak, hampir saja ia berteriak namun kemudian tersadar bahwa orang itu ternyata hanyalah seorang petugas keamanan rumah sakit yang membawa dirinya untuk masuk ke dalam barisan dimana orang-orang yang tadi sedang berada di lobi dikumpulkan dalam suatu barisan besar dan dijaga di bagian paling depan. Sooran masih tidak tahu apa yang sedang terjadi di lobi rumah sakit ini. Teroriskah ini? Atau perampokan?

“Pak, apa saat ini sedang melakukan simulasi kebarakan atau gempa bumi semacamnya?” Sooran berbisik pada pria setengah baya yang berdiri tepat di sebelahnya dengan agak kikuk.

“Ini bukan hal semacam itu, Nona. Putri dari Menteri kesehatan sebentar lagi akan sampai di rumah sakit ini. Itulah mengapa banyak sekali yang menjaga. Tidak perlu takut.” mendengar itu Sooran lantas hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Agak malu sebenarnya mengapa ia sampai tidak tahu tentang kabar itu. Mungkin ia terlalu sibuk dengan urusan di kantornya, bagaimana tidak, bosnya yang perfeksionis, Lee Seungjae, sering kali membuat dirinya terperangkap di kantor untuk lembur bahkan sering sampai larut malam. Sedikit saja ia melakukan kesalahan sudah tanpa ampun, detik itu juga ia pasti harus merevisinya.

Sooran sendiri bergidik ngeri mengingat-ingat tentang bosnya yang terlihat agak bule walaupun sebenarnya adalah orang korea asli. Ia segera mengalihkan perhatiannya ketika banyak wartawan yang sudah mulai menghidupkan perekam suara ketika sang putri menteri itu keluar dari mobil sedan hitam yang mewah berusaha untuk tetap tersenyum, walaupun begitu, wajahnya terlihat sangat pucat. Gadis anggun itu tetap menyalami beberapa dokter yang berdiri di barisan paling depan, Sooran dapat melihat bahwa gadis itu berusaha sekuat tenaga agar tetap terlihat ramah walaupun kondisinya mungkin sedang sangat buruk.

Ketika sang putri berlalu, para staff pengamanan pun akhirnya mempersilahkan orang-orang di lobi untuk kembali melanjutkan kegiatan masing-masing, termasuk Sooran yang kemudian segera bergegas naik ke kamar inap ayahnya di lantai atas.

*

Kondisi ayah Sooran semakin hari semakin membaik, namun hal itu membuat Sooran dan kakaknya, Siwon, masih belum bisa sepenuhnya lega, biaya rumah sakit selama proses pemulihan pasca operasi harus mereka bayarkan sebelum waktu yang ditentukan. Siwon telah banyak mengeluarkan uang untuk pengobatan ayah mereka selama ini, belum lagi ia harus bolak-balik Australia karena ia masih harus menyelesaikan studi master-nya. Sedangkan ayah Sooran bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor-impor.

Siwon baru saja mengiriminya pesan untuk bertemu dan bicara di lantai dasar maka ia harus segera bergegas menuju kakaknya. Pasti sesuatu yang penting telah terjadi, pikirnya dalam hati. Sooran melihat Siwon tengah duduk seorang diri kemudian segera menghampirinya. “Ada apa?”

“Biaya operasi beberapa hari lalu memang telah dibayar sebelum operasi dilakukan, namun biaya perawatan sampai minggu ini belum kita bayar, kamu keberatan tidak jika kita jual mobilmu untuk menutup itu? Kamu bisa pakai mobilku, mobilku menganggur dan aku juga tidak sering bepergian di sini.” Sooran langsung teringat mobilnya yang diberikan oleh ayahnya saat pertama kali ia masuk kerja. Mobilnya memang tidak sebagus milik Siwon, harganya pun lebih murah, jika seandainya mereka menjual mobil Siwon, jika ingin membeli jenis itu kembali akan sulit.

Setelah mempertimbangkan hal tersebut Sooran mengganguk menyetujui keputusan kakaknya dan menyerahkan kunci mobilnya pada Siwon.

*

“Kemana saja kamu selama dua hari?” Seungjae bertanya dengan datar tanpa memerhatikan raut wajah Sooran yang terlihat lesu walaupun hari masih pagi.

Sooran yang baru saja sampai kantor mau tidak mau tetap harus menjawab pertanyaan atasannya yang menurutnya menyebalkan. “Ayah saya diopname.”

Seungjae tidak menjawab lagi, bukannya menyenangkan hati Sooran, tanpa berbasa-basi lagi ia malah sudah langsung menyuruh Sooran untuk segera melanjutkan pekerjaan yang dua hari ia tinggalkan.

Ingin rasanya melempar wajah datar bosnya itu dengan map-map kantor yang tebal karena sikap Seungjae yang dingin dan cuek kecuali tentang pekerjaan. Untung saja wajahnya tampan sehingga masih dapat menahan Sooran untuk tidak mencekik lehernya dengan dasi mahal Seungjae. Setidaknya walaupun kata-katanya tidak menyenangkan tapi wajahnya enak untuk dipandangi dari meja kerjanya. Itulah yang membuatnya masih bertahan di sini, selain karena kontrak kerja yang mengikat memang belum berakhir.

*

Kyuhyun memerhatikan ekspresi wajah ayah Park Hyunjung yang masih terlihat khawatir setelah baru saja ia menyelesaikan penjelasannya tentang penyakit yang diderita putrinya tersebut. Kerutan-kerutan di dekat kedua matanya kian terlihat jelas setelah Kyuhyun menjelaskan bahwa Hyunjung mengidap leukimia dan dalam waktu dekat akan segera melakukan sejumlah rangkaian pengobatan kemoterapi.

Hal yang membuat ayah Hyunjung terlihat cemas adalah saat Kyuhyun menjelaskan dengan tenang tentang efek samping dari pengobatan tersebut. Namun telah berkali-kali Kyuhyun yakinkan bahwa Hyunjung pasti dapat melalui semua proses ini dengan baik, sampai akhirnya sang menteri itu pun mulai terlihat lebih tenang. Ia mengangguk dan kemudian menjabat tangan Kyuhyun sebelum pergi meninggalkan ruangan berkata bahwa ia telah memercayakan putrinya kepada Kyuhyun dan berharap Kyuhyun dapat membebaskan Hyunjung dari penyakitnya itu. Kyuhyun mengangguk menanggapi perkataan sang menteri sebelum ia benar-benar meninggalkan Kyuhyun seorang diri kembali.

*

Saat makan siang hari ini di kafetaria Kyuhyun tidak bersama dengan Donghae, tidak seperti hari lainnya karena biasanya ia selalu terlihat makan bersama Donghae, kali ini temannya itu sedang agak sibuk. Daripada ia harus melewatkan makan siangnya hanya karena tidak bisa menemui Donghae, maka ia memutuskan untuk makan siang seorang diri. Ia sengaja agak menunda makannya menjadi sehabis jam makan siang, agar kafetaria tidak seramai saat jam makan siang.

Menu makan siang yang menurutnya itu-itu saja dan cenderung monoton membuatnya tidak begitu berselera. Tapi terakhir ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya mungkin sudah dari kemarin, walaupun tidak menyukai makanannya, tampaknya ia pasti akan tetap menghabiskannya.

Saat Kyuhyun selesai memesan makanan, seorang wanita dengan rambut di kuncir ke belakang yang terlihat rapi masuk ke dalam kafetaria. Ia menoleh melihat meja-meja yang sudah kosong. Kecuali sebuah meja di sudut kafe yang ditempati oleh seorang pria yang tengah menunggu makanannya datang.

Sila menghampiri meja tersebut tepat setelah memesan menu makan siangnya. “Boleh bergabung?”

Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Sila terlihat kelelahan. Poninya agak basah bekas berkeringat. “Ya tentu.” mendengar jawaban Kyuhyun, Sila langsung duduk dan menghembuskan napas panjang.

“Ada yang melahirkan?” Kyuhyun berbasa-basi. Ia menebak dalam hati, pasti persalinan normal.

“Begitulah.” Sila tersenyum ramah walaupun kelihatan sekali masih kelelahan. Kyuhyun hanya mengamati dalam diam sampai akhirnya tidak lama kemudian makanan mereka datang dan baik Kyuhyun dan Sila segera menyantapnya.

Kyuhyun memakan makanannya dengan cepat, selain karena rasa lapar yang tidak biasa, ia juga ingin buru-buru mengakhiri berada satu meja dengan Sila. Ia merasa agak canggung dan memutuskan untuk segera pamit pergi tepat ketika ia menghabiskan makanan terakhir di piringnya.

*

Sore itu Kyuhyun menghabiskan waktunya untuk membaca kembali riwayat kesehatan Hyunjung dan profil singkat putri kesayangan menteri terkenal tersebut. Sayang sekali Hyunjung harus menghabiskan hari-harinya dengan tetap berada di rumah sakit di saat ia seharusnya menikmati masa mudanya di luar. Gadis itu adalah seorang yang periang sebelum kondisinya lemah seperti saat ini. Ia juga seorang mahasiswi yang aktif, sampai saat ini namanya pun masih tercatat sebagai mahasiswi sebuah universitas terkenal di luar negeri.

Sesaat setelah Kyuhyun selesai membaca, pintu ruangannya diketuk dan seorang perawat masuk ke dalam memberitahu dengan sopan bahwa seseorang yang baru saja ia baca riwayatnya itu tengah memanggilnya untuk datang ke ruang rawat inapnya.

*

Kyuhyun berjalan ke arah ruangan Hyunjung setelah melalui sebuah pemeriksaan yang cukup ketat dengan sebuah alat pemindai tiap kali dirinya akan mengunjungi Hyunjung. Satu-satunya akses untuk masuk ke ruangan Hyunjung dijaga ketat oleh dua orang dari pihak pengamanan dengan sebuah mesin pemindai yang canggih.

Setelah membuka pintu ruangan tersebut, Kyuhyun berjalan menghampiri ranjang dan mendapati gadis itu sedang terbaring lemah di atas kasurnya. Hyunjung menoleh ketika Kyuhyun sampai di sisi tempat tidur dan mencoba untuk tersenyum ke arah Kyuhyun. Kyuhyun membalas senyuman tulus Hyunjung dan kemudian angkat bicara dengan sangat sopan. “Apa yang kamu rasakan sekarang, Hyunjung?”

Kyuhyun dapat melihat bibir pucat gadis itu mencoba untuk menjawab pertanyaannya barusan. “Tidak begitu baik, dokter Cho, aku merasa nyeri pada hampir seluruh tulangku,” ia terdiam sebentar kemudian kembali melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan agak serak. “Perutku agak bengkak, I’m scared.” kali ini suaranya terdengar lebih pelan. Kyuhyun kemudian segera merespon dan bertanya terlebih dahulu, “Boleh saya lihat dan periksa?”

Hyunjung mengangguk pelan seraya mulai membuka sedikit ujung bawah bajunya dan berkata, “Apakah ini normal?”

Kyuhyun tersenyum lembut dan menjawab setelah ia kembali merapikan baju tidur Hyunjung, “Ini normal, nona Hyunjung, saat ini memang pasti masa yang menyulitkan bagimu, tapi saya ingin kamu bertahan dan bersabar untuk sekarang. Saya dan dokter yang lainnya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat ini segera berlalu. Dan yang terpenting adalah kamu tidak perlu terlalu cemas, setuju?” Mendengar itu Hyunjung mengangguk mengerti dan tersenyum lagi.

“Oh ya, kalau aku boleh tahu, usia Anda berapa, dokter Cho? Aku yakin dokter Cho pasti belum setua yang kami kira, bukan?” Hyunjung bertanya pada Kyuhyun tanpa berdosa. Kyuhyun tersenyum lalu menjawab, “Ah, kamu penasaran dengan umur saya rupanya,”

Hyunjung mengangkat bahunya dan tertawa pelan, “Setidaknya aku tidak akan canggung lagi dengan dokter Cho, jika terus-menerus seperti ini, rasanya terlalu formal.” ujar Hyunjung berterusterang. Kyuhyun tertawa samar kemudian menganggapi bahwa mereka memang belum berkenalan dengan resmi. Kyuhyun pernah menyangka bahwa Hyunjung adalah anak seorang menteri yang sikapnya pasti tidak bersahabat, namun ternyata dugaannya salah. Hyunjung adalah gadis yang masih dapat bersikap ceria walaupun kondisinya sedang lemah dan sakit.

“Ya dokter Cho benar, kita belum berkenalan, saya Park Hyunjung.” gadis itu mengulurkan tangan kanannya yang terbebas dari selang infus. Tak berapa lama Kyuhyun segera menjabat tangan tersebut dan membalas perkenalan mereka. Ia dapat merasakan tangan gadis itu terasa dingin.

“Jadi berapa usia Anda, dokter Cho?” tanya Hyunjung kembali terlihat penasaran.

“Bisa kamu menebaknya?” Kyuhyun berujar sedikit menantang membuat Hyunjung menyipitkan matanya dan memiringkan kepalanya, mengira-ngira berapa umur dokternya itu.

“27?”

“Salah.” jawabnya cepat. “Beberapa hari lalu saya genap tiga puluh dua.” Hyunjung tampak terkejut mengetahui bahwa ternyata Kyuhyun lebih tua tiga tahun dari perkiraannya. Wajahnya tidak menunjukkan kalau ia telah menginjak tigapuluhan.

Hyunjung tertawa sesaat kemudian berkata, “Tebakan saya salah ternyata.” Kyuhyun mengangguk pelan. “Bagaimana denganmu?” Kyuhyun bertanya seakan ia tidak mengetahuinya.

“Saya? 24 tahun.” jawab Hyunjung mulai terlihat murung, “Mengenaskan sekali, bukan?”

Kyuhyun dapat merasakan perubahan emosi dalam diri Hyunjung, wajar sekali jika gadis itu merasakan goncangan perasaan yang pahit untuk pernyakitnya saat ini. “Hyunjung-ssi, saya memang belum pernah mengalami hal ini, namun saya mengerti perasaanmu saat ini, kamu masih muda dan perjalananmu masih panjang, jangan putus asa, ini hanya sesaat dan akan segera berlalu jika kamu kuat menghadapinya. Berdoalah pada Tuhan, agar kamu diberikan kesembuhan dan bisa cepat kembali pada kehidupan normalmu.”

Hyunjung masih terlihat sedih, matanya tampak berkaca-kaca membuat Kyuhyun kembali berkata, “Baiklah, sekarang sudah malam, sebaiknya kamu istirahat, besok saya akan kembali untuk memeriksa lagi. Sampai jumpa besok.” Kyuhyun mengacak lembut rambut coklat bergelombang indah Hyunjung yang tidak lama lagi akan terkena efek dari kemoterapi. Kyuhyun beranjak menjauhi ranjang gadis itu di mana Hyunjung menatap bagian belakang jas putih Kyuhyun sampai akhirnya tak terlihat lagi.

*

Area rooftop rumah sakit telah menjadi tempat favorit bagi para staf dan karyawan yang bekerja di sana mungkin sejak rumah sakit itu berdiri. Tempat dimana mereka dapat merokok dan menghirup udara bebas, sekaligus dapat menghilangkan rasa penat di sela-sela pekerjaan yang padat. Tapi Kyuhyun justru tidak terlalu sering pergi ke sana, hanya sesekali ia merokok, itu pun jika sudah benar-benar penat, berada di sana tidak terlalu spesial karena hanya bisa melihat bagunan-bangunan tinggi di sekitar situ, baginya tidak terlalu menarik.

Setelah keluar dari ruangan Hyunjung, Kyuhyun memutuskan untuk berjalan ke arah taman rumah sakit, tidak ada tempat lain yang lebih menyenangkan untuk didatangi, pikirnya dalam hati. Namun nampaknya ia tidak sendirian di taman ini. Tapi kali ini ia melihat seorang gadis tengah duduk di kursi kayu, tempat duduk yang selalu menjadi favoritnya. Taman ini biasanya sepi dan tidak banyak orang yang datang, tapi sekarang ada seorang wanita, ia tidak jadi bisa menyendiri.

Walaupun nampaknya ia tidak jadi bisa menyendiri di tempat ini, tapi setidaknya ia masih bisa mendapatkan ketenangan yang sulit untuk didapati di tempat lain selain di sini. Perempuan muda itu juga tidak akan menganggu karena ia tidak terlihat dalam mood yang baik. Mungkin wanita itu juga sedang mencari tempat yang sepi dan tenang. Tidak ada salahnya jika ia dan wanita itu sama-sama berada di sini.

Ketika ia berjalan mendekati wanita itu, ia kemudian menyadari bahwa sosok tersebut sebelumnya pernah ia temui kemarin. Mungkin ia juga pernah berbicara padanya. Sambil mengingat-ingat dalam hati, ia duduk di kursi panjang yang sama. Saat dia duduk, wanita itu tampaknya tidak peduli dengan keberadaannya. Pikirannya mungkin sedang tidak di sini.

Setelah beberapa saat, Kyuhyun memberanikan diri untuk angkat bicara, aneh rasanya jika tidak menyapa seseorang yang ia rasa ia mengenalnya. “Kamu yang kemarin menunggu ayahmu itu, bukan?”

Mendengar seseorang berbicara, Sooran lantas segera tersadar, ia menoleh dan mendapati Kyuhyun sedang mengerutkan kening ke arahnya. “Oh, ya, benar.” sesaat kemudian Sooran kembali terlihat murung. Kyuhyun menyadari itu dan kembali bertanya dengan hati-hati. “Apa karena ayahmu?”

Sooran masih diam saja, “Saya rasa ayahmu pasti akan sembuh kembali, ia telah menjalani operasi kurang dari enam jam setelah mengalami penyempitan,” kali ini Sooran menoleh dan mata mereka pun bertemu membuat Sooran buru-buru mengalihkan pandangannya. “Jadi tidak perlu terlalu khawatir.” lanjut Kyuhyun lagi. “Siapa namamu?”

“Choi Sooran.” jawab Sooran pelan. Kyuhyun kemudian mengatakan namanya. Setidaknya ia tidak akan dikira sebagai dokter yang sombong atau semacamnya jika ia memperlakukan pasien dengan tidak baik. “Jadi setelah operasi, apalagi yang harus dijalani oleh ayahku?” jauh di dalam hatinya ia masih khawatir pengeluaran apa lagi yang harus ditempuh. Ia harus memastikan untuk menghitung kisarannya.

“Tidak banyak, hanya memerlukan beberapa tindakan pemulihan lagi untuk mengembalikan keadaannya.” diam-diam Sooran menghembuskan napas lega. Pembicaraannya dengan Siwon telah membuat perasaannya terasa campur aduk. Ia telah menyerahkan benda kesayangannya itu berarti baru saja ia kehilangan mobilnya.

Selama beberapa saat kemudian mereka sama-sama larut pada pikiran masing-masing. Tidak ada yang mengeluarkan suara sampai akhirnya terdengar suara dering ponsel. Sooran yang pertama kali mendengar terlihat buru-buru mengecek ponsel yang berada di dalam saku celana jeansnya. Namun ternyata suara tersebut bukan berasal dari ponsel miliknya.

Sooran melirik Kyuhyun yang terlihat enggan mengangkat telepon. Kyuhyun menarik napas panjang dulu sebelum ia menerima panggilan. Dalam hitungan detik, Kyuhyun segera beranjak berdiri dengan masih berbicara pada seseorang di sambungan telepon dan segera masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan buru-buru dan langkah setengah berlari tanpa mengucapkan sepatah kata pada Sooran yang berada di dekatnya.

*

Kyuhyun melepaskan sarung tangan elastisnya ketika ia selesai menangani seorang pasien yang baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Akhir-akhir ini kejadian serupa semakin sering terjadi. “Tabrak lari lagi?” Kang Jihyun yang baru saja masuk ke ruangan itu bertanya dengan ekspresi datar seolah sama sekali tidak tertarik. Kyuhyun hanya mengendikkan bahu, menjawab dengan asal.

Jung Sila masuk ke dalam ruangan dengan tergesa seraya membenarkan kuncir kudanya beberapa saat setelah Kang Jihyun masuk ke ruang gawat darurat itu. Ia menghampiri Kyuhyun yang baru selesai mencuci tangan dan bersiap untuk pergi dari sana. “Tadi ada yang membutuhkan dokter kandungan?” Kyuhyun mengangguk mengiyakan. “Ya yang di sebelah sana.” jawabnya singkat pada Sila dan buru-buru mencari dokter ko-ass.

“Jangan lupa periksa lagi setiap empat jam.” ia menepuk bahu dokter muda tersebut dan keluar ruangan itu menuju ruangannya sendiri. Ia benar-benar tidak terlalu suka keramaian. Suasana di ruang gawat darurat itu benar-benar ramai.

Sesampainya ia di ruangannya, ia segera merebahkan diri ke sofa panjang yang ada di sana tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu. Ia lebih suka suasana tenang seperti ini dimana hanya ada dirinya tanpa hingar bingar manusia lain yang membuatnya sakit kepala. Bekerja di unit dawat darurat memang menguras tenaga.

Ketika ia baru saja mengistirahatkan dirinya sekitar lima belas menit, seseorang menyalakan lampu ruangannya, membuat tidurnya terusik ketika mengetahui bahwa kali ini Donghae baru saja masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi. “Sedang apa kau disini?” tanya Donghae membuat Kyuhyun malas menjawabnya. Dari dulu ia sudah ingin mengganti passcode ruangannya agar Donghae tidak bisa keluar masuk seenaknya tapi selalu tidak pernah jadi.

“Kau tidak bisa lihat aku sedang beristirahat?”

Donghae tertawa kemudian menghampirinya. “Kenapa tidak sekalian pulang saja? Aku juga sebentar lagi pulang, pulang denganku saja.”

“Nanti aku akan pulang sendiri.”

*

“Belum pulang, Kyuhyun-ssi?” Kyuhyun menoleh pada Sila yang tampak sedang berjalan ke arahnya. Kyuhyun belum beranjak dari tempatnya sekarang berdiri, menunggu Sila yang sedang datang menghampiri. “Aku dengar mobilmu masuk bengkel?”

Kyuhyun hanya mengangguk samar mengiyakan. “Sepertinya kita searah, mau bareng?” ia tidak langsung menjawab, sejam lalu ia baru saja menolak tawaran Donghae mengantarnya pulang, jika ia menolak tawaran baik Jung Sila, maka ia akan menolak kebaikan orang dua kali berturut-turut. “Malam-malam begini sebaiknya kamu langsung pulang saja, saya bisa pulang sendiri.”

Raut wajah Sila terlihat agak kecewa namun ia malah tersenyum manis. “Well, baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok.” ia melambaikan tangan ke arah Kyuhyun sebelum akhirnya menghilang ke arah parkiran.

Sementara Kyuhyun pulang ke apartemennya dengan kereta terakhir. Padahal saat ia bertemu Sila tadi yang menawarkannya tumpangan, seharusnya ia menerimanya saja, sedikit menyesal sebenarnya karena ia tahu banyak orang yang bekerja di rumah sakit yang mengagumi Sila, dokter kandungan yang terkenal cantik dan masih muda, jarang sekali yang punya kesempatan untuk bisa pulang bersama dengannya.

Ia juga mulai menyadari bagaimana Sila akhir-akhir ini berusaha untuk berinteraksi dengannya. Bahkan nampaknya sudah mulai ada yang membicarakannya sebagai bahan obrolan antara kalangan para perawat. Walaupun hatinya masih enggan dan ia merasa belum ingin untuk mulai mencoba berkencan dengan Sila, tapi sepertinya Sila bukanlah pilihan yang buruk untuk dikencani, dan mungkin ia memang harus mencobanya dengan Sila.

*

Ketika Kyuhyun baru saja memasuki area lobi rumah sakit, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dengan asal. Ia menghentikan langkahnya kemudian menegok belakang. Seketika itu ia dapat menemukan Donghae yang terlihat ngos-ngosan dan deru nafasnya tidak teratur membuat dadanya naik-turun. “Aku memanggilmu dari luar tadi tapi kau tidak dengar.”

“Ada apa memangnya?” Kyuhyun masih sibuk menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu, ia hanya tidak habis pikir bagaimana bisa Donghae terlihat seperti habis lari marathon di pagi hari yang lumayan dingin seperti ini.

“Aku tadi naik subway,” pasti ada yang tidak beres dengan Donghae, pikir Kyuhyun dalam hati. Tidak biasa-biasanya Donghae mau naik subway, apalagi Donghae bukanlah tipikal orang yang senang berpergian dengan menggunakan kendaraan umum. “Mobilku benar-benar harus diganti sepertinya.” lanjutnya lagi sambil membenarkan letak dasinya dan mengatur nafasnya.

“Ya ganti tinggal ganti saja.” Kyuhyun kembali melanjutnya berjalan diikuti dengan Donghae di sebelahnya. “Kapan kau punya waktu luang?” tanya Donghae pada Kyuhyun ketika mereka menunggu lift.

“Kau benar-benar akan ganti mobil?” Kyuhyun bicara dengan nada pura-pura terkejut. “Aku pikir kau bercanda.” Tidak heran dan memang sudah waktunya jika Donghae menginginkan sebuah mobil baru. Apalagi ia telah menghasilkan banyak uang selama beberapa tahun terakhir.

“Kau memangnya tidak tahu kalau mobilku akhir-akhir ini begitu menyusahkan, itulah sebabnya aku jadi sering meminjam mobilmu.” jika Donghae barusan tidak mengatakannya, mungkin sampai mobilnya keluar bengkel nanti ia tetap tidak tahu itu. Ia jarang sekali pergi dengan mobil Donghae. Ia pikir selama ini mobil sahabatnya itu baik-baik saja. Mobil Donghae juga masih bagus, setahunya begitu. Tapi ia memang tidak menyangkal bahwa Donghae memang kadang suka meminjam mobilnya ketika ia akan pergi kencan buta.

Pintu lift terbuka dan mereka berdua segera masuk. Saat baru bergerak naik satu lantai, pintu lift kembali terbuka dan detik itu juga Kang Jihyun masuk ke dalam. Hanya butuh kurang dari dua detik bagi Kang Jihyun untuk menyadari bahwa Cho Kyuhyun dan Lee Donghae berada di dalam lift yang sama dengannya. Ia buru-buru memberitahu bahwa tadi ia sempat mencari-cari Kyuhyun.

“Bisa gantikan saya untuk memberikan review dan penjelasan singkat mengenai pasien-pasien hari ini untuk empat orang dokter muda bimbingan saya?” belum sempat Kyuhyun menjawab, ia sudah kembali bicara. “Sore nanti saya ada urusan mendadak, tidak perlu lama-lama, asal mereka jangan dimanjakan, maksud saya kamu harus bersikap keras pada mereka, agar mereka tidak melunjak, setidaknya seperti saya dan Lee Donghae memperlakukan para dokter muda.” tepat setelah ia selesai bicara, lift berdenting dan pintu terbuka. Kang Jihyun berlalu begitu saja meninggalkan Donghae dan Kyuhyun yang tidak sempat berkata apa-apa. Kang Jihyun juga sepertinya tidak peduli apakah Kyuhyun akan menolak atau tidak.

*

Siang itu Kyuhyun melakukan kunjungan rutin harian pada pasien-pasiennya. Kyuhyun masuk bersama dengan dua orang perawat ke sebuah bangsal yang berisi tiga tempat tidur, hanya satu dari tiga yang merupakan pasiennya.

Kyuhyun memeriksa perkembangan kondisi kesehatan pasiennya dengan ramah dan mengajaknya berbincang dengan santai. Bahkan ketika Kyuhyun menyuruh pasiennya itu agar menghabiskan jatah makan siang, wanita paruh baya yang semula masih terlihat lesu kini malah mengangguk semangat sambil tersenyum lebar. Selesai memeriksa seorang pasien itu dan hendak pergi meninggalkan bangsal, tiba-tiba seorang pasien dari tempat tidur sebelah memanggilnya, membuat dirinya dan kedua perawatnya berhenti dan menghampiri.

“Ada apa, pak?” tanya Kyuhyun sambil berjalan mendekati ranjang.

Bapak itu terlihat sedang menyusun kata-kata. “Jadi begini.,” agak lama bapak itu belum melanjutkan.

“Ya?” Kyuhyun masih menunggu bapak itu kembali bicara tanpa memprotes, tidak seperti yang ia lakukan pada Donghae.

“Bisakah kalau dokter saja yang setiap hari datang mengecek saya?” mendengar itu Kyuhyun mengerutkan keningnya, agak terkejut sekaligus heran sebenarnya dengan permintaan bapak ini tapi ia menyembunyikannya.

Kyuhyun menarik napasnya berusaha terlihat tenang. “Kalau boleh tahu, siapa dokter yang menangani bapak?”

“Dokter Lee.” bapak itu berujar pelan seperti tidak ingin didengar oleh pasien lainnya. Kyuhyun langsung dapat tahu bahwa dokter yang dimaksud oleh bapak ini adalah sahabatnya, Lee Donghae, yang kerap dipanggil dokter Lee di bagian bedah saraf. Hanya ada dua orang dokter bermarga Lee di bagian bedah saraf, namun satunya sedang mengambil jatah cuti, tidak mungkin menangani pasien, berarti satu-satunya dokter bermarga Lee di bedah saraf hanya tinggal Donghae.

*

Kyuhyun mencoba menemukan sosok Donghae di dalam kafetaria yang ramai pada saat jam makan siang. Namun setelah beberapa saat mencari, ia tidak dapat menemukan Donghae dalam keramaian tersebut hingga ia akhirnya memutuskan untuk kembali.

Kemana perginya Donghae, dalam hati ia masih penasaran. Apalagi ia perlu bicara dengan sahabatnya itu mengenai pasien tadi. Ia masih ingat bahwa dulu ia pernah sempat memberitahu Donghae untuk tidak bersikap terlalu acuh kepada pasien-pasiennya, tetapi ternyata hal itu terulang lagi.

Donghae mungkin memiliki caranya tersendiri dalam menangani pasien, mungkin berbeda dengan Kyuhyun yang mungkin terlihat sedikit lebih menyenangkan. Tetapi Kyuhyun setidaknya ingin Donghae tahu tentang pengakuan sebagian kecil pasiennya yang merasa Donghae terlalu tidak peduli terhadap mereka. Walaupun ia tahu bahwa Donghae pasti menyangkal dengan alasan pasien-pasien itu terlalu sensitif terhadap hal sepele.

Dari arah berlawanan Kyuhyun mulai mengenali Donghae yang tengah berjalan agak tergesa dengan membawa beberapa lembar koran yang dilipat rapi di dalam genggamannya. Tidak ingin membuang waktu, Kyuhyun segera memanggilnya berharap Donghae menghentikan langkahnya.

“Ya ampun, Kyuhyun, dari tadi aku mencarimu.” belum sempat Kyuhyun berkata, Donghae sudah lebih dulu berkata demikian.

“Kau mencariku juga?” Kyuhyun agak heran karena ia bahkan tidah tahu untuk urusan apa Donghae tiba-tiba ingin mencarinya. Donghae tidak menjawab pertanyaannya barusan melainkan menyuruh Kyuhyun untuk mengikuti ke dalam ruangannya.

Dengan sedikit bertanya-tanya, Kyuhyun duduk di salah satu bangku. Menunggu Donghae memulai bicara dan mengatakan apa tujuannya menyuruh dirinya untuk berada di sini dan sebelum ia akan memberitahu Donghae tentang masalah tadi.

“Untuk apa koran-koran itu? Tidak biasanya kau membaca koran.” Kyuhyun melihat Donghae yang tengah sibuk membolak-balikkan lembaran kertas koran tanpa kunjung memberitahunya ada apa. Kyuhyun paham betul bagaimana Donghae tidak suka membaca koran dan belum pernah terlihat membeli koran sepanjang hidupnya.

“Tunggu sebentar dulu,” suruh Donghae lagi pada Kyuhyun untuk tetap menunggunya di situ. “Tadi pagi aku lihat mobil bagus di salah satu iklan baris tapi lupa tidak aku tandai.” terang Donghae pada akhirnya yang membuat Kyuhyun mengerti kenapa Donghae menyuruhnya kesini. Rupanya perkara mobil. Padahal mobil baru mudah didapatkan di dealer dan showroom.

“Tapi aku heran saja, tidak biasa-biasanya caramu kuno sekali,” ungkap Kyuhyun masih memerhatikan Donghae yang masih serius mencari di dalam halaman koran yang penuh berisi iklan-iklan baris bagian otomotif. “Padahal ada banyak sekali web iklan yang bisa kau gunakan untuk mencari mobil baru atau bekas. Tidak harus repot begini.” ia melanjutkan.

Tepat ketika Kyuhyun berdiri dari tempat duduknya karena bosan menunggu, Donghae tiba-tiba berteriak dengan girang. “Ketemu!” tanpa memberikan alasan atau penjelasan apapun dan mengabaikan ocehan Kyuhyun dalam hitungan detik kemudian ia kembali berkata lagi dengan antusias. “Ayo kita temui orang ini.”

*

“Jadi di sini tempatnya?” Kyuhyun keluar dari mobil dan segera berjalan mengikuti Donghae dari belakang. Mereka baru saja tiba di sebuah restoran yang sebelumnya telah dipilih oleh Donghae untuk tempat bertemu. Sekalian makan siang, begitu katanya.

Ketika akan membuka pintu dan masuk ke dalam restoran, Kyuhyun menyadari bahwa dompetnya tertinggal di dalam mobil. “Aku akan kembali ke mobil sebentar, nanti menyusul.” ujarnya seraya menepuk bahu Donghae agar masuk duluan.

Benar saja, ketika ia kembali ke mobil, dompetnya masih tertinggal di dalam sana. Dengan cepat Kyuhyun mengambilnya dan mengunci pintu lalu segera berjalan kembali ke dalam bangunan restoran menyusul Donghae.

Di dalam sana, Kyuhyun butuh beberapa saat untuk dapat menemukan Donghae yang tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita yang menghadap dinding.

*

Donghae hanya bisa diam saja selama Kyuhyun mengomel sepanjang perjalanan mereka kembali ke rumah sakit. Kyuhyun merasa Donghae telah membuang-buang waktunya hanya untuk bertemu dengan si penjual mobil yang ternyata adalah seseorang yang bernama Choi Sooran. Apalagi selama bertemu dengan Sooran tadi Donghae tidak menunjukkan ekspresi ketertarikan sama sekali, malah ia mengomentari setiap inci mobil tersebut dengan tidak menyenangkan, membuat Sooran terlihat sama kesalnya dengan Kyuhyun sekarang. Jika seandainya ia tahu bahwa seseorang yang akan Donghae temui adalah Sooran, ia tidak akan mungkin ikut, walaupun sebenarnya Donghae memang tidak mengenal Sooran.

Kali ini Kyuhyun sibuk mengoceh tentang Donghae yang tadi telah bersikap sedikit kelewatan pada wanita, hanya karena si penjual sebenarnya tidak jadi bisa datang karena ada keperluan mendadak, lantas Donghae tidak seharusnya bersikap seenaknya.

Setelah Kyuhyun sudah tidak mengomel, Donghae baru membuka suara, mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa ia tidak janjian bertemu di sana untuk menemui Sooran, melainkan Siwon, yang ternyata adalah kakak laki-laki dari Sooran.

Kyuhyun tetap tidak mau tahu apakah itu Siwon atau Sooran yang seharusnya mereka temui, tapi Donghae setidaknya harus bersikap sedikit lebih bersahabat. “Kau tahu, bahkan pasienmu sendiri saja juga mengatakan begitu.” Kyuhyun dapat mendengar Donghae yang bergumam tidak jelas.

“Pantas saja kau tidak pernah pacaran dalam jangka waktu lama.” Kyuhyun sendiri sudah kehabisan cara bagaimana membuat Donghae menyadari sikapnya yang kelewat tidak peduli terhadap orang lain dan sering kali membuat orang kesal.

Seolah tidak terima dengan perkataan Kyuhyun, Donghae mulai beragumen. “Lihat saja nanti aku akan menjalani hubungan yang serius.” dalam hati Kyuhyun bisa sedikit bersorak mendengar respon Donghae yang tidak seperti biasanya. Dengan begitu ia akan berhasil membuat Donghae menjadi sedikit lebih perhatian dan tidak lagi memainkan wanita.

*

Kang Jihyun memarkirkan mobilnya ke halaman khusus parkir di sekolah Yeonhee yang besar. Ia turun dari mobilnya dengan menyapukan pandangannya mencari sosok adiknya yang tengah beranjak dewasa.

Masih terngiang betul bagaimana ia mengetahui bahwa ternyata Yeonhee diam-diam memiliki seorang kekasih. Setelah melihat apa yang dilakukan seorang laki-laki remaja yang mengenakan seragam yang sama seperti Yeonhee kemarin malam ketika ia baru masuk ke lobi apartemen. Yeonhee dikecup pipi kirinya oleh laki-laki remaja yang menurut Kang Jihyun hanyalah seorang remaja ingusan.

Rencananya akan menanyakan kejelasan tentang siapa laki-laki itu pada Yeonhee malam itu juga tidak jadi ia lakukan karena Yeonhee terlihat begitu lelah, begitupun dengan dirinya yang sama lelahnya. Seolah sudah tidak memiliki tenaga untuk terjaga apalagi untuk memarahi Yeonhee.

*

Yeonhee masuk ke dalam mobil dengan wajah ceria seperti biasanya, namun tidak dengan kakak laki-lakinya yang dari tadi terlihat diam saja. “Tumben sekali oppa menjemputku ke sekolah?”

Tepat setelah Yeonhee selesai bicara, Jihyun berkata dingin. “Mengapa laki-laki itu menciummu?” Yeonhee sontak terkejut mendengar kakaknya itu bertanya demikian. Belum sempat Yeonhee menjawab, Jihyun kembali bicara. “Kapan oppa pernah mengijinkanmu untuk mempunyai teman pria seperti itu?”

“Dengar, Yeonhee, aku tidak pernah mengijinkan siapapun untuk menyentuhmu, sebelum kamu benar-benar dewasa.” Yeonhee yang tadi hendak protes bahwa banyak temannya yang telah memiliki pacar di sekolah dan ingin membela diri langsung mengurungkan niatnya, takut kakaknya akan lebih marah jika ia melawan.

Jihyun memang menyadari kecantikan seorang Kang Yeonhee yang pasti mampu memikat banyak teman laki-laki di sekolahnya, tidak heran jika seandainya banyak yang menyukai adiknya itu, tapi menurutnya ini belum saatnya untuk Yeonhee memiliki kekasih, walaupun kenyataannya ia tahu bahwa tidak sedikit dari teman Yeonhee yang telah memiliki pacar, tapi ia tetap tidak menginginkan Yeonhee untuk berpacaran.

“Oppa akan ijinkan kamu memiliki pacar ketika sudah di universitas, mengerti?”

*

7 thoughts on “LIFELINE Part 2 – [REMAKE]”

    1. Hai Nad!!
      Woohoo~ akhirnya kamu baca ff ini juga ^,^
      Hahaha, anyway life life udah sampe chapter 5 dan sekitar 2 sampe 3 chaper lagi udah End!
      Thank you for reading!
      Love love love. xoxo

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s