LIFELINE Part 3 – [REMAKE]

life-line-by-yolasekarini_2 (1)

Scriptwriter: yolasekarini

Genre: AU, Medical, Romance, Drama, Frendship, Family

Cast(s): Cho Kyuhyun, Lee Donghae and some Ocs.

Tiga

Pagi ini Kyuhyun datang lima belas menit lebih awal dari hari biasanya, entah mengapa pengakuan dari seorang pasien Donghae masih membuatnya merasa tidak nyaman, padahal kemarin ia sudah berusaha meyakinkan ibu itu dengan memberikan penjelasan cukup panjang bahwa siapapun dokter yang menanganinya akan sama saja dalam melakukan tugasnya. Seharusnya ia merasa lebih ringan ketika ibu itu setuju untuk tidak jadi mengganti dokternya, terutama ini menyangkut dirinya dengan sahabatnya, Lee Donghae.

Kyuhyun meraih ponselnya tapi kemudian meletakkannya kembali. Mungkin ada benarnya jika ia membicarakan masalah ini dengan lebih serius pada Donghae tanpa menyingggungnya. Sudah hampir satu menit Kyuhyun menimbang-nimbang dengan mengetuk-ketukkan jarinya ke atas permukaan meja memikirkan bagaimana ia harus memberitahu tentang ini agar Donghae dapat merubah sikapnya terhadap pasien. Ia melirik jam tangannya kemudian menyandarkan tubuhnya sambil mulai mengetik nomor ponsel yang telah diingatnya di luar kepala, namun ponselnya berdering lebih dulu.

Donghae menghubunginya tepat beberapa saat sebelum ia menghubungi Donghae. Tepat ketika ia menempelkan ponselnya ke telinga, ia mendapati suara Donghae terdengar sedikit lebih berat daripada biasanya membuatnya segera bertanya ada masalah apa meneleponnya sepagi ini. Selama bertahun-tahun mereka berteman, Donghae hampir tidak pernah menelepon Kyuhyun di pagi hari seperti saat ini.

“Sepertinya hari ini aku flu.” Kyuhyun mengerutkan keningnya saat mendengar Donghae yang bersin-bersin di sela-sela kalimatnya. Rencana awalnya akan menyemprot Donghae dengan kata-kata pedas seketika itu ia urungkan setelah mengetahui kondisi Donghae yang sedang tidak baik, bagaimana pun ia tidak pernah tega ketika sahabatnya yang satu ini sedang sakit. Mungkin pembicaraannya yang kemarin sudah cukup untuk membahas tentang sikap Donghae. Ia tidak akan membahasnya lagi kali ini atau pun seterusnya.

“Jadi kau meneleponku sepagi ini hanya untuk mengatakan itu?” Kyuhyun berdengus masih dapat mendengarkan suara parau Donghae karena hidung yang tersumbat sebelah.Sejauh ini Donghae mungkin memang terlihat acuh dan tidak peduli dengan orang lain, tetapi bagi Kyuhyun, kenyataannya Donghae memang tidak pernah memperlakukan dirinya seperti itu.

Kyuhyun masih menunggu apa maksud Donghae menelepon pada akhirnya mulai mengerti maksud arah pembicaraan itu setelah Donghae mengatakannya dengan tidak langsung. “Kau tidak ingin aku kembali meminjam mobilmu setelah keluar dari bengkel nanti, bukan?” sudah tidak salah lagi, pasti Donghae kembali memintanya untuk menemani mencari mobil kali ini dengan alasan sedang flu.

Kyuhyun tersenyum singkat ketika ingat bagaimana Donghae pernah berkata bahwa selera Kyuhyun lumayan bagus, itulah mengapa ia senang meminta Kyuhyun untuk membantu memilih mobil.

“Baiklah jika itu tidak akan membuat mobilku berpotensi masuk bengkel lagi gara-gara kau. Kita bertemu pukul lima kurang lima.”

*

Kang Jihyun keluar dari dengan agak tergesa setelah memarkirkannya di area parkir sementara khusus dokter yang tidak ada kanopinya karena yang sesungguhnya masih dalam proses renovasi. Selama hampir enam tahun bekerja di rumah sakit ini ia tidak pernah datang seterlambat ini, jika seandainya pagi tadi ia tidak berdebat dengan Yeonhee, mungkin ia akan datang sedikit lebih tepat waktu.

Adik perempuannya itu bersikeras menolak untuk diantar ke sekolahnya dengan kakaknya sendiri. Padahal Jihyun sendiri dapat menghitung dengan jari hanya berapa kali dirinya mengantar Yeonhee ke sekolah, itulah mengapa ia memaksa Yeonhee agar diantar olehnya, tapi tampaknya adiknya itu masih merajuk karena peristiwa semalam.

Padahal ia tahu betul bagaimana sifat adiknya yang sebenarnya jika sedang marah tidak akan bertahan lama, tapi setidaknya ia sekaligus ingin memperbaiki hubungannya dengan adik kandungnya sendiri yang sudah lama renggang semenjak mereka pindah ke Korea dan ia terlalu sibuk dengan urusannya di rumah sakit.

Tidak bisa berlama-lama memikirkan masalahnya dengan Yeonhee, ia harus segera mengalihkan perhatiannya dari Yeonhee pada Hyunjung. Apalagi pagi ini ia harus mengecek keadaan Hyunjung, apapun yang terjadi ia harus terlihat profesional di hadapan Park Hyunjung dan rekan setimnya, Cho Kyuhyun.

*

Sementara Donghae baru saja terbebas dari lalu lintas Seoul yang mendadak berubah padat dan macet karena hujan deras yang tidak berhenti hampir sejak satu jam lalu. Untung saja ia sudah tidak terjebak dalam kemacetan lagi sepanjang perjalanannya ke rumah sakit dari apartemennya yang berjarak lumayan jauh, sehingga ia harus menggunakan sedikit hormon adrenalinnya untuk mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata di atas jalanan aspal yang licin sebelum ia datang lebih terlambat lagi dengan keadaan hidungnya masih tersumbat.

Pagi ini Donghae telah mengurungkan niatnya untuk kembali naik subway seperti kemarin, hidung yang tersumbat akan memperburuk keadaan jika ia tetap naik kendaraan umum. Lagipula nanti sore ia akan pergi mencari mobil baru bersama Kyuhyun, setidaknya hari ini mungkin akan menjadi perpisahannya dengan mobil ini.

Donghae mengumpat pelan ketika lampu merah membuatnya mau tidak mau menghentikan mobilnya dan menyadari bahwa lagi-lagi ia lupa tidak membawa payung. Kemarin malam dirinya kehujanan sedikit saja sudah membuatnya flu seperti ini, ia tidak membayangkan bagaimana jadinya jika setelah ini ia akan turun dari mobil tanpa payung dan membuat dirinya kehujanan lagi.

Entah bakal basah kuyup ataupun tidak, itu tetaplah urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah ia harus sampai secepatnya ke rumah sakit yang telah menjadi tempatnya bekerja selama bertahun-tahun. Mesin pemindai sidik jari sialan itu satu-satunya alasan ia harus segera sampai, jika tidak, progres kerjanya selama setengah tahun ini tidak akan bertambah karena keterlambatannya yang sudah lebih dari tiga kali.

Sepuluh menit berlalu dan ketika mobilnya masuk ke dalam area rumah sakit, ia segera mencari parkir, kalau perlu yang tidak terkena hujan, tapi kelihatannya mustahil jika ia datang jam segini, apalagi area parkir basement masih dalam tahap renovasi. Tidak sengaja ia melihat satu tempat terdekat rupanya kosong, tidak ingin membuang waktu ia segera memarkirkan mobilnya, tidak peduli bahwa ia sudah pasti akan kehujanan lagi, yang jelas ia harus segera sampai ke dalam sana.

Ketika hendak mematikan mesin mobil, ia baru menyadari bahwa di sebelah mobilnya ada seseorang telihat mencondongkan tubuhnya sedang mengambil sesuatu di dalam mobil dengan sebuah payung yang terbuka di tangannya yang menjulur ke luar mobil.

Melihat itu Donghae buru-buru membuka kacanya tanpa peduli siapa seseorang tersebut ia segera mengklakson sedikit untuk mendapatkan perhatian orang tersebut karena hujan yang deras menghalangi suara bindengnya.

Seseorang tersebut menoleh ke arah Donghae yang masih berada di dalam mobil. Walaupun tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang barusan Donghae katakan padanya, tetapi ia cukup yakin pasti seseorang dalam mobil itu membutuhkan tumpangan payung. Ia segera mengambil barang yang tertinggal di dalam mobilnya, kemudian menghampiri mobil Donghae yang berada tepat di sisi sebelah kanan mobilnya.

*

Jung Sila menutup kembali payungnya ketika ia sampai di lobi rumah sakit bersama dengan Donghae yang terlihat sedang menepuk-nepuk kemeja dan jas kerjanya dari sisa air hujan. “Terima kasih banyak, Sila-ssi. Maaf merepotkanmu.”

“Tidak masalah.” ia tersenyum ke arah Donghae yang hidungnya terlihat kemerah-merahan. Dalam hati ia mencoba menebak, mungkin karena terkena flu, ia jadi membutuhkan payung. “Baru datang?” tanyanya mencoba tidak terlihat canggung.

“Ya. Terjebak macet yang mengerikan di luar sana,” Donghae mengisyaratkan bahwa ia sedang buru-buru. “Kalau begitu saya duluan.” lanjutnya lagi.

*

Park Luna mencengkram tangkai payungnya dengan kesal. Kang Jihyun benar-benar membuat harinya terasa berat. Setelah kembali dari mengecek keadaan sang putri yang manja, menurutnya begitu, Kang Jihyun tanpa basa-basi lagi menyuruhnya untuk menurunkan tas kerjanya dari dalam mobil, padahal di luar sana sedang hujan deras, ia pun harus mencari pinjaman payung kesana-kemari, karena banyak payung yang juga sedang dipakai.

Setelah berhasil mendapatkan payung, ia segera pergi ke lobi rumah sakit, Kang Jihyun tidak mengatakan dimana mobilnya diparkir, tapi ia yakin pasti dokter konsulennya itu memarkirkan mobil bagusnya di parkiran sementara untuk dokter.

Baru berjalan beberapa langkah ke arah mobil Kang Jihyun, pandangannya langsung tertuju pada seseorang yang diam-diam telah menarik perhatiannya semenjak berada di rumah sakit ini.

Alangkah hatinya seketika berdenyut nyeri ketika mengetahui bahwa Lee Donghae berjalan dengan sebuah payung bersama dengan seorang wanita. Ia tidak tahu siapa nama wanita tersebut, akan tetapi ia merasa pernah melihatnya. Pasti salah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ini juga. Selama ia menjadi dokter ko-ass di sini, ia belum pernah melihat Lee Donghae berjalan berdua dengan seorang wanita seperti ini.

*

“Dengar, Yeonhee, aku tidak mau melihat kau bersama laki-laki itu lagi, jika sampai aku melihatmu bersamanya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jangan sampai aku membuatmu berpisah dengannya dengan cara yang lain. Sekarang, putuskan dia.” Kang Jihyun memutuskan sambungan teleponnya dengan asal kemudian menyadari kehadiran Luna, salah satu dokter muda di bawah bimbingannya, sedang berdiri tidak jauh dari mejanya yang rupanya sedari tadi menunggu dirinya selesai bicara lewat telepon.

“Sedang apa berdiri di sana?” tanyanya pada Luna masih terbawa emosi terhadap Yeonhee yang mulai berani menentang seiring bertambahnya usianya. Ia sengaja menghubungi Yeonhee ketika tahu bahwa adiknya itu sedang berada pada jam istirahat.

Dengan raut wajah kesal yang disembunyikan, Luna segera mengulurkan tangan kanannya yang menggenggam tas milik dokter konsulennya yang tampaknya sedang memiliki masalah percintaan dengan kekasihnya, tebak Luna dalam hati.

Wajah Kang Jihyun terlihat lelah setelah ia menghebuskan napasnya panjang sambil memijat keningnya. Ia menegakkan kembali tubuhnya kemudian meraih tasnya dari tangan Luna. “Kenapa masih di sana? Mana tiga temanmu yang lain, cepat kau panggil, Park Luna.”

Luna mengumpat dalam hati, merutuki ketiga temannya yang sama-sama dibimbing oleh Kang Jihyun. Jika seandainya mereka bertiga datang lebih awal, ia pasti tidak akan kena omelan pedas Jihyun. Ketika Luna baru akan keluar dari ruang diskusi tersebut, ketiga temannya muncul dengan bersamaan, mereka bertiga kelihatan seperti baru saja berlarian.

“Saya menyuruh kalian untuk datang ke ruangan ini tepat pukul sepuluh. Setiap hari. Mengapa hari ini yang datang hanya satu orang?” tidak ada satu pun dari empat orang dokter muda tersebut yang berani menatap Kang Jihyun. Kesalahan-kesalahan kecil yang mereka lakukan akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup mereka selama di rumah sakit.

Tepat sebelum Kang Jihyun mulai mengomel lagi, pintu ruang diskusi itu diketuk dari luar dan dibuka oleh seseorang dari bagian resepsionis lantas membuat Kang Jihyun menoleh ke arah pintu sehingga jeda cukup panjang tersebut membuat keempat dokter muda itu tanpa sadar seketika menghebuskan napas lega.

Hanya lewat tatapan matanya seolah berkata ada apa membuat seseorang yang membuka pintu segera bergeser satu langkah ke kanan. Seorang wanita berambut sebahu yang dicat coklat keemasan melangkah maju agar Kang Jihyun dapat mengenalinya.

Ketika pandangan mereka bertemu, Kang Jihyun tidak dapat menyembunyikan matanya yang terbelalak walaupun tubuhnya masih tetap mematung di tempatnya berdiri. Ia bahkan tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat wanita itu berada di pandangannya.

Dengan detak jantungnya yang seketika itu berdebar-debar tidak karuan, ia berusaha menahan agar kertas-kertas yang berada di kedua genggaman tangannya tidak terlepas dan jatuh.

“Tidakkah saya terlihat sedang bekerja?” Kang Jihyun mengeluarkan kalimat itu begitu saja membuat keempat dokter muda yang sedari tadi berada di sana mencoba mencuri pandang ke arah wanita tersebut.

Perasaannya masih tidak karuan. Ia telah melalui banyak peristiwa pagi ini. Mulai dari Yeonhee yang merajuk dan berusaha melawan, keempat dokter muda yang tidak disiplin, dan kali ini kedatangan Goo Eunra yang begitu tiba-tiba.

Seolah rentetan peristiwa itu datang bertubi-tubi membuatnya sakit kepala, belum lagi hujan di luar yang tidak henti-hentinya turun. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa semuanya terjadi di pagi hari seperti ini.

Tepat dalam hitungan detik Kang Jihyun sudah tidak dapat menemukan sosok wanita yang tidak ia temui selama bertahun-tahun. Tubuhnya seketika lemas walaupun pikiran alam bawah sadarnya menyuruhnya untuk tidak menyesali apa yang telah ia ucapkan pada wanita tersebut. Seketika itu ia menghempaskan tubuhnya ke atas kursi sementara kertas-kertasnya ia lepaskan begitu saja ke atas permukaan meja.

“Kalian boleh pergi.” ujarnya sambil melepas kacamatanya tanpa menatap salah satu dari keempat dokter muda tersebut. Ia merasakan dokter muda bimbingannya itu segera meninggalkan ruangan tepat setelah ia menyuruhnya.

*

Goo Eunra keluar dari gedung rumah sakit dengan tergesa berusaha agar air matanya tidak jatuh dan berlinang begitu saja di hadapan Kang Jihyun. Seseorang yang ia cintai itu kini telah berubah.

Hujan masih turun walaupun tidak sederas tadi, ia berdiri di bawah lindungan kanopi tinggi yang ditopang dengan kokoh oleh pilar-pilar pelataran rumah sakit tempat dimana pasien menunggu mobil.

Hatinya benar-benar terasa sakit ketika mengingat bagaimana Kang Jihyun menatapnya dengan tajam seolah pandangannya begitu menusuk tapi ia tidak dapat menemukan sosoknya yang dulu.

Hanya ada satu nama yang kemudian terbesit di benaknya ketika ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-terusan berada di sini. Eunra mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya kemudian mencari dalam deretan nama di kontaknya.

Tanpa pikir panjang ia segera menekan tombol panggil agar dapat segera terhubung dengan seseorang itu. Tidak lama suara seorang pria itu mulai terdengar dan membuatnya sedikit lebih tenang. “Lee Seungjae?” ia memastikan bahwa seseorang yang ia hubungi benar-benar menjawabnya. Seketika itu ia merasa seolah terselamatkan dari keadaan terpuruknya setelah mendengar suara itu.

“Ya, Eunra, kau masih di situ?” Eunra segera tersadar kembali setelah ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa. “Bisa kita bertemu?” kalimat itu terucap begitu saja. Ia benar-benar butuh seseorang untuk mendengarkan curahan hatinya.

“Kau di Korea? Tentu, tapi aku sedang di kantor, sore ini aku bisa menemuimu jika tidak masalah.” Seungjae terdengar begitu menenangkan bagi Eunra yang saat ini tengah kacau.

“Aku akan ke sana sekarang.” ujarnya singkat segera memutus sambungan telepon dan memanggil sebuah taksi. Eunra hanya dapat mengingat Seungjae yang telah berteman dekat dengannya selama hampir sembilan tahun.

*

Sudah cukup lama bagi Seungjae tidak bertemu lagi dengan teman sekaligus tetangga lamanya dahulu ketika mereka sama-sama tinggal di Denver. Ia tahu bagaimana keadaan Eunra dahulu ketika orangtuanya berpisah. Dua tahun setelah itu Eunra kemudian ikut bersama pamannya ke Korea sementara dirinya masih tetap di sana.

Eunra yang empat tahun kemudian menamatkan sekolahnya di Korea memutuskan untuk melanjutkan ke universitas di Swiss dan akhirnya bertemu dengan Kang Jihyun yang sedang mengambil kuliah spesialis setahun kemudian dan berakhir ketika tamat.

Terakhir kali dirinya dan Eunra bertemu adalah ketika dirinya yang pada saat itu masih tinggal di Amerika, Eunra sedang menghabiskan liburan musim panasnya setelah lulus dari universitas sekaligus menengok ibunya yang sampai saat ini masih tinggal di Denver.

“Sudah lama sekali ya?” Eunra melepaskan pelukan hangat Seungjae ketika menyambutnya. Eunra segera menceritakan apa yang telah terjadi pagi hari ini yang menyangkut Kang Jihyun. Eunra hanya pernah menceritakan tentang Kang Jihyun sekali ketika mereka bertemu.

Seungjae sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan mantan kekasih Eunra. Hanya melalui cerita yang disampaikan oleh Eunra membuatnya berkesimpulan bahwa Eunra pasti dahulu sangat menyukai Jihyun.

“Jadi dia bekerja di rumah sakit itu?” Seungjae hanya ingat bahwa Jihyun adalah seorang dokter tapi tidak pernah tahu bahwa ternyata Jihyun sekarang tinggal di Korea dan bekerja di rumah sakit yang dekat dengan kantornya.

“Sudah hampir enam tahun dia bekerja disana.” Eunra menambahkan membuat Seungjae agak tidak menyangka. “Kualitas rumah sakit itu sangat bagus dan karena dekat, aku dan Olivia juga cukup sering ke sana jika berobat.”

“Jadi kamu kesini untuk menemuinya?” lanjutnya lagi masih agak penasaran.

Eunra bergeleng. “Aku menemuinya hanya karena kebetulan aku memang sedang berlibur di sini dan mengunjungi paman, lagipula aku pikir dia telah menganggapku sebagai seseorang yang dapat kembali berbicara satu sama lain, ternyata belum.”

*

Semenjak Hyunjung menjadi pasien eksklusif mereka di rumah sakit ini, Kyuhyun bersama dengan Jihyun setiap paginya selalu melakukan pemeriksaan rutin sebelum mereka mengecek pasien reguler. Tidak terkecuali hari ini, namun pagi tadi Jihyun menyampaikan pada Hyunjung bahwa kemoterapi akan segera dilakukan dalam waktu dekat.

Selama bekerja, ia tidak pernah menjumpai pasien seperti Hyunjung, bukan karena gadis itu sangat ramah padanya, melainkan karena Hyunjung selalu seorang diri di kamar rawatnya yang besar dan mewah. Ia merasa Hyunjung pasti memang butuh seseorang untuk berinteraksi.

Awalnya ia merasa tidak perlu terlalu jauh menanggapi Hyunjung yang butuh seorang teman, seperti Jihyun yang selalu membatasi interaksinya dengan Hyunjung agar menjaga profesionalitasnya. Tapi tampaknya kali ini ia tidak bisa seperti itu.

Kyuhyun melangkah mendekati tempat tidur Hyunjung setelah melewati beberapa pemeriksaan dengan alat pemindai. Hyunjung terlihat menonton film dari televisi berukuran cukup besar yang menghadap tempat tidurnya.

Ketika Kyuhyun berada di dekat tempat tidur, Hyunjung menoleh. “Bawa apa itu?” Hyunjung terlihat penasaran dengan sesuatu yang Kyuhyun bawa di kantong plastiknya.

“Kamu pasti butuh teman.”

*

Sooran menutup sambungan telepon dengan kesal. Kakak laki-lakinya itu begitu keras kepala. Ia ingin menemani dan menunggu ayahnya di rumah sakit, tetapi Siwon tidak pernah mengijinkan. Alasannya hanya karena ia harus tetap pergi ke kantor. Siwon memang tidak bekerja di sini, jadi hanya dirinya yang satu-satunya harus bekerja di saat ayahnya masih dirawat di rumah sakit seperti ini.

Biasanya ketika hampir waktu untuk makan siang, ia harus mengingatkan bosnya itu untuk turut ikut makan siang bersama beberapa karyawan lain, tapi sepertinya kali ini bosnya itu sedang kedatangan tamu yang sepertinya adalah seseorang yang dekat. Entah itu keluarga atau teman, yang jelas selama hampir setengah tahun dirinya bekerja di sini hampir belum pernah ia melihat Seungjae kedatangan tamu perempuan yang kelihatannya cukup spesial.

Ketika baru akan beranjak berdiri untuk pergi ke pantry—apalagi sebentar lagi waktu istirahat akan tiba, ia pasti akan langsung kabur pergi ke rumah sakit untuk menemui ayahnya, seperti yang Siwon sampaikan pada dirinya, kondisi ayah mereka sudah lumayan membaik—tiba-tiba ia mendengar suara dering ponselnya. Sontak bunyi tersebut membuatnya berdengus dan kembali ke meja.

Tanpa melihat siapa yang menelepon, ia segera mengangkatnya namun belum sempat ia berbicara sepatah kata, bosnya itu sudah lebih dulu bicara. “Jangan lupa pergi ke sekolah Olivia.” mendengar itu Sooran lantas terkejut karena lupa. Ia baru ingat bahwa Seungjae menyuruhnya menggantikan dirinya ke acara semacam pertemuan orang tua murid di sekolah Olivia, dengan perjanjian bahwa setelah itu ia bisa langsung pulang tanpa harus kembali ke kantor.

“Nanti Olivia siapa yang menjemput?” Sooran bertanya sambil berharap dengan cemas agar tidak perlu sekalian menjemput keponakan bosnya itu.

“Supir.” tanpa sadar Sooran menghembuskan napasnya lega sambil pergi ke pantry untuk mengambil segelas air dingin. Saat ia baru akan memutus sambungan telepon tiba-tiba Seungjae kembali bicara. “Oh ya,” Sooran menaikkan alisnya dengan malas menunggu bosnya bicara. “Saya lihat kamu sekarang tidak pakai mobil.”

“Ya?” Sooran menyerngit kenapa tiba-tiba Seungjae menanyakan hal yang bukan tentang pekerjaan dan urusannya. “Naik subway lebih irit.” terangnya singkat agar perbincangan canggung ini segera berakhir. Ia tidak pernah tahu kenapa ia selalu merasa aneh tiap kali harus bicara panjang pada bosnya ini.

“Kalau begitu kamu ke sana diantar supir saya.” kali ini Sooran benar-benar tidak bisa menelan minumannya.

“Tidak, tidak perlu.” Sooran berusaha tidak terdengar panik, jika ia sampai pergi dengan supir bosnya maka ia tidak akan bisa cepat melarikan diri ke rumah sakit. “Oke.” Sooran tidak dapat mendengar apapun lagi selain bunyi sambungan yang diputus.

*

“Biasanya kau datang lebih awal dariku.” Donghae beranjak berdiri dari sofa yang sudah ia diami selama kurang dari sepuluh menit. Kyuhyun mengendikkan bahunya asal. “Sekali-kali kau perlu tahu bagaimana rasanya menunggu.” sindir Kyuhyun pada Donghae yang hampir tidak pernah datang tepat waktu tiap kali mereka janjian.

“Aku lihat tadi pagi sepertinya ada yang datang terlambat.” Kyuhyun melangkah ke arah pintu keluar sementara Donghae menyusul di belakangnya. “Aku terjebak macet, kau tahu hujan pagi tadi benar-benar seperti badai.” ujarnya masih mencoba membela diri.

Tahu bahwa Kyuhyun akan tetap tidak menghiraukan, Donghae segera mengganti topik pembicaraan. “Hari ini aku bawa mobil.”

“Aku tahu.” Donghae mendadak tidak ingat jika tadi Kyuhyun sempat mengatakan bahwa ia melihat dirinya datang terlambat. “Jadi pakai mobilku saja.” Kyuhyun yang tadi hendak mengeluarkan kunci mobil segera mengurungkannya.

“Jadi mobil ini mau diapakan?” tanya Kyuhyun ketika mereka telah masuk ke dalam mobil. Donghae yang duduk di balik kemudi kemudian segera menjawab. “Jual.”

*

Olivia sudah bisa menebak pasti pamannya itu tidak bisa datang ke sekolahnya. Menurutnya Seungjae merupakan tipikal orang yang benar-benar sibuk bekerja. Walaupun tinggal dan dirawat oleh Seungjae sejak bertahun-tahun lalu, Olivia jarang sekali memiliki waktu untuk dihabiskan bersama pamannya. Akan tetapi Seungjae selalu menyempatkan diri mengambil cuti dan mengajak Olivia pergi untuk berlibur ke luar negeri saat liburan sekolah.

“Apa eonni sibuk setelah ini?” Olivia bertanya pada Sooran yang hendak pergi selesai menghadiri acara di sekolahnya. Sooran yang memang punya urusan setelah ini pun menjawab apa adanya bahwa ia harus segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk kembali ayahnya.

“Ayah eonni sakit?” Sooran menganguk menanggapi membuat Olivia yang sebelumnya hendak mengajak Sooran untuk pergi makan seketika berubah pikiran. “Boleh aku ikut menjenguk?”

Mendengar pertanyaan Olivia barusan membuat Sooran agak tidak percaya dibuatnya. Ia memang tahu bahwa Olivia memiliki kepribadian yang berbeda dari bosnya itu, selama ini pun Olivia tidak jarang mengajaknya untuk makan bersama ketika Olivia tidak tahu harus pergi dengan siapa saat pamannya sedang ada urusan pekerjaan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.

“Apa pamanmu nanti tidak keberatan?” Sooran masih agak ragu jika nanti bosnya tahu tentang Olivia pergi menjenguk ayahnya. Seungjae bahkan tidak terlihat peduli ketika dirinya memberitahu bahwa ayahnya sedang diopname.

Olivia berggeleng cepat. “Ia tidak akan marah.” jawabnya yakin. Seungjae memang tidak pernah memarahi Olivia jika perbuatan tersebut tidak salah. Olivia dapat merasakan jika Seungjae jatuh sakit, ia pun takut kehilangan.

Sooran tersenyum ringan membuat Olivia terlihat girang karena ia tidak perlu segera pulang.

*

“Jangan pernah mengatur saya. Apa susahnya melakukan apa yang telah saya beritahu sebelumnya.”

Kang Jihyun tidak dapat mengontrol emosinya ketika salah seorang dokter muda itu menyela yang menurutnya tidak sopan mengatakan tugas ini tidak masuk akal. Perkataan itu membuatnya tanpa sadar menggerbak meja di ruangannya di depan para dokter muda bimbingannya. Semua terjadi begitu saja membuat empat orang dihadapannya terdiam dan menunduk. “Masih ada lagi yang ingin menyangkal selain Park Luna.”

Tidak ada satu pun yang berani berkomentar dan suasana seketika hening.

“Kumpulkan pukul tujuh besok pagi,” Jihyun melirik dokter muda yang satu itu kemudian segera melanjutkan. “Luna, kumpulkan pada saya sebelum pukul sepuluh malam ini.”

Luna seketika itu mengangkat kepalanya sungguh tidak menyangka dengan apa yang baru saja Jihyun katakan. Belum sempat ia protes, Jihyun segera memotong. “Kalian boleh keluar.”

*

“Kau ini bodoh sekali sih. Sudah tahu dokter pembimbing ini benar-benar kejam, kau masih saja berani menentangnya.”

“Tapi tadi dia keren sekali tau.” hanya Hyeri satu-satunya yang terlihat berbinar. “Menurutku hari ini sikapnya memang berbeda, tapi itu justru membuatnya terlihat super hot.” semua dokter muda memandang Hyeri heran kecuali Luna yang sedang berjuang mengerjakan tugasnya.

“Menurutku dia sedang ada masalah.” lanjut Hyeri lagi. “Lihat kan bagaimana ekspresinya pagi tadi ketika ada seorang wanita yang datang, pasti mood dokter Jihyun hancur gara-gara wanita itu, mangkanya kita yang jadi korbannya.”

“Tapi dia tega sekali menyuruh Luna mengerjakan tugas super banyak itu sedangkan ia meringankan tugas kita dengan memberi waktu lebih untuk mengerjakan.”

“Tetap saja tugas-tugas kita lebih banyak daripada yang diberikan dokter bimbingan yang lain. Kau mau tahu kenapa, tidak?” Taehoon berbisik. “Dengar-dengar, ini semua karena ia ingin dokter muda dibawah bimbingannya harus lebih baik daripada yang lain, sehingga dia bisa membuktikan kalau dirinyalah yang terbaik.”

“Aduh kalian dari tadi hanya menggosip terus. Lebih baik kalian kerjakan tugas-tugas itu sebelum dia murka lagi.”

*

Kang Jihyun masih dengan perasaan yang campur aduk dan tidak karuan itu memutuskan hendak mengasingkan dirinya ke rooftop rumah sakit yang sepi. Ia keluar ruangan dengan tergesa sampai tidak melihat ada Kyuhyun dan Donghae yang baru saja datang sehingga tidak menegur mereka.

Sudah lama ia tidak merasa sepenat ini, ia bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya setelah melihat Eunra kembali. Rasa sakit hatinya memang sudah tidak terasa seperti dulu lagi. Mungkin seharusnya ia tidak mengabaikan Eunra yang sempat datang untuk menemuinya. Ia sampai saat ini bahkan tidak tahu apa maksud kedatangan Eunra kesini.

Udara yang dingin tidak begitu terasa pada Jihyun yang menghembuskan napas bersama kepulan asap dari sebatang rokoknya. Butuh waktu yang sangat lama bagi Jihyun untuk melupakan Eunra. Namun ketika Eunra kembali ke hadapannya, ia merusak segala kesempatannya untuk kembali pada gadis itu. Eunra pasti sekarang sudah membencinya, seperti dahulu ia membenci Eunra, yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.

*

“Paman sudah pulang?” Olivia yang baru datang terkejut melihat pamannya sudah berada di apartemen padahal hari masih belum terlalu malam.

Seungjae yang sedang mengambil minuman dari dalam kulkas kemudian menghampiri Olivia yang baru saja duduk di sofa. “Rapatnya ditunda, mangkanya paman bisa pulang lebih awal,” Seungjae menawarkan air dinginnya pada Olivia. “Paman pikir kamu tidak sampai sore.” seingatnya hari ini Olivia tidak ada jadwal ekstrakulikuler ataupun les.

“Aku habis dari rumah sakit.” jawab Olivia setelah meneguk separuh air dingin yang diberikan oleh Seungjae. “Kamu sakit, kenapa tidak beritahu paman?” wajah Seungjae berubah khawatir, takut sesuatu terjadi pada Olivia.

Olivia justru menggeleng pelan. “Tidak, aku baik-baik saja, aku ikut Sooran onni menjenguk ayahnya.” Seungjae mengerutkan keningnya dan baru ingat akan perkataan Sooran kemarin, ia pun mengangguk mengerti. Terbesit rasa bangga pada Olivia yang sangat peduli pada orang lain.

Makan malam bersama Olivia mungkin akan menjadi penutup hari yang sempurna, tidak biasanya ia mempunyai waktu untuk Olivia seperti ini.

“Sebaiknya kita makan malam dimana, Liv?”

*

Donghae baru sempat mengecek ponselnya tidak lama setelah Kyuhyun keluar dari mobilnya. Kyuhyun memang tidak pernah menyuruh dirinya untuk mengantar pulang, tapi tidak ada salahnya jika mengantar temannya itu kembali ke apartemen.

Donghae hampir lupa bahwa kakak laki-lakinya itu mengirimkan sebuah kiriman yang dikirim ke alamat kerjanya. Jika saja Donghwa tidak mendesak menyuruh Donghae untuk memfoto bukti bahwa ia sudah menerimanya, ia mungkin sudah dalam perjalanan pulang, tidak perlu repot-repot kembali ke rumah sakit, menghabiskan bensinnya saja.

*

Sudah hampir dua jam Luna mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Jika bertahan di ruangan yang sama dengan teman-temannya, mungkin ia tidak akan pernah selesai.

Ketiga teman Luna tampaknya tidak bosan dengan gosipan mereka akan Kang Jihyun. Mungkin mereka akan terus membicarakannya semalam suntuk sambil mengerjakan tugas bersama. Tidak heran mengapa mereka masih sempat bercanda dan mengobrol, tugas mereka dikumpulkan besok pagi, sedangkan dirinya sudah tidak ada waktu lagi untuk hal tidak penting semacam itu.

Sambil terus melanjutkan tidak terasa bahwa ternyata batas waktu pengumpulan tugas bagi Luna sudah hampir habis, padahal kenyataannya ia belum menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan semua tampak mustahil jika diserahkan malam ini, tapi ia tetap harus menyerahkannya, selesai atau tidak. Luna kembali melirik jam tangan, sudah tidak ada waktu lagi, pikirnya.

Luna beranjak berdiri sambil membereskan kertas dan bukunya yang berserakan di atas meja kemudian segera meninggalkan perpustakaan dengan tergesa. Lima jenis buku yang disuruh Jihyun untuk dicari pun belum sempat ia lakukan. Masalah buku, ia akan mencarinya setelah menyerahkan tugas tertulis ini pada Jihyun.

Tanpa memerhatikan sekelilingnya Luna berlari di koridor rumah sakit. Bagaimana pun ia harus segera menemukan Jihyun dan menyerahkan tugasnya ini walaupun sebenarnya belum selesai betul. Dengan tergesa-geda ia mencari ke ruangan Jihyun tapi ternyata Jihyun tidak di sana.

Tidak tahu lagi harus mencari kemana Luna yang hampir putus asa seketika merasa terselamatkan saat melihat dokter pembimbingnya muncul dari dalam lift. Tidak ingin membuang waktu, ia segera menghampiri dan menyerahkan tugasnya.

Jihyun menerima tugas dari Luna dengan hanya melihat isinya sekilas seraya berkata, “Sekarang sudah jam sepuluh.” awalnya Luna tidak mengerti apa maksud perkataan tersebut namun sesaat kemudian ia baru benar-benar tersadar dan terkejut bukan main setelah Jihyun dengan satu gerakan cepat merobek kertas tugasnya menjadi dua bagian besar.

“Juga bukan seperti ini yang saya suruh.” Jihyun menyerahkan kembali robekan kertas-kertas tersebut pada Luna dengan tanpa ekspresi. Luna tidak dapat menahan rasa kecewanya seketika memberanikan diri untuk menatap Jihyun. Ia bahkan sempat menahan napasnya ketika Jihyun memeriksa tugasnya dan sama sekali tidak terbayang olehnya bahwa kertasnya akan dirobek seperti ini.

Tanpa Luna sempat berkata-kata lagi, Jihyun berlalu meninggalkan Luna dengan kertas yang dirobek menjadi dua bagian di genggaman tangannya. Ketika ia akan pergi menjauh dari lift, ia menabrak seseorang di belakangnya, yang ternyata adalah Lee Donghae, ia bahkan tidak tahu jika ada seseorang berdiri di sana sedang menunggu lift.

Donghae hanya meliriknya sesaat kemudian menghilang dibalik pintu lift yang segera tertutup rapat.

*

Tidak berapa lama setelah menerima tugas dari salah satu dokter muda, Kang Jihyun segera bergegas pulang. Sudah hampir satu minggu terakhir ini ia tidak pernah bisa pulang cepat. Yeonhee yang merajuk pun juga belum benar-benar bisa diluluhkan.

Setelah seharian berada di rumah sakit dengan berbagai masalah yang ia temui hari ini, ia sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi selain cara agar mengembalikan sikap Yeonhee.

*

Luna tidak langsung pergi kembali ke ruangan untuk para dokter muda melainkan kembali ke perpustakaan di lantai atas. Ia harus menenangkan dirinya dulu sebelum berhadapan dengan teman-temannya yang pasti akan menanyakan banyak hal tentang Kang Jihyun jika sampai mereka tahu bahwa dokter pembimbing mereka itu tadi telah merobek tugasnya.

Sepertinya Luna tidak salah pilih tempat, ia dapat menyendiri dan memikirkan jawaban jika teman-temannya bertanya tentang tugasnya yang baru saja dirobek sekaligus mencari lima jenis buku yang pernah disuruh Kang Jihyun pada dirinya untuk dipelajari.

Tidak butuh waktu lama bagi Luna untuk menemukan tiga buah buku pertama. Ia berjalan di antara rak-rak besar menelusuri di rak mana buku-buku tersebut dapat ia temukan.

Ketika Luna baru akan menemukan buku keempat yang disuruh Kang Jihyun, seseorang yang berdiri di ujung rak sebelah mencuri perhatiaannya. Membuat udara di sekitarnya berhenti dan nafasnya tertahan. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa seseorang dengan kacamata tebal bertubuh gempal mengambil buku yang sebenarnya sudah ia temukan lebih dulu.

“Ya! Itu milikku!!” jerit Luna refleks ketika tersadar bahwa buku tersebut sudah berada di tangan laki-laki berkacamata bulat menyebalkan itu membuat orang-orang di sekitarnya menoleh ke arahnya, termasuk seseorang yang tadi telah mencuri perhatiannya.

Donghae yang sempat ikut menoleh tidak sengaja beradu pandangan dengan Luna yang masih kesal. Belum sempat Luna mengembalikan ekspresinya, Donghae sudah kembali mengalihkan pandangannya untuk mencari buku lalu beranjak pergi.

*

Kang Jihyun membuka pintu kamar Yeonhee dengan perlahan sesampainya ia di rumah. Yeonhee yang sedang duduk di kursi meja belajarnya lantas menoleh ke arah Jihyun yang berdiri di pintu dengan kemeja berantakan, dasi yang longgar, dan rambut yang sudah tidak rapi membuat Yeonhee menjadi sedikit heran.

Melihat wajah kakaknya yang kusut Yeonhee terlihat bingung, “Oppa baru pulang?” Jihyun mengangguk mengiyakan, setidaknya Yeonhee sudah tidak terlihat merajuk lagi terhadap dirinya.

Dari balik tubuhnya yang masih berada di ambang pintu, ia menyembunyikan sekantung plastik makanan yang ia beli di restoran saat masih di perjalanan pulang tadi. “Temani oppa makan malam.” ujarnya sambil menunjukkan makanan kesukaan adiknya itu.

Tanpa sadar Yeonhee terlihat sumringah, bagaimana pun ia jarang sekali makan bersama kakaknya yang sibuk itu. Jihyun ikut tersenyum, dalam hati ia berpikir mungkin mulai saat ini ia harus lebih sering meluangkan waktunya untuk Yeonhee.

Ia mengakui, sebagai kakak satu-satunya yang dimiliki Yeonhee, ia memang benar-benar kakak yang buruk bagi adiknya yang masih SMA.

Masalah saat itu Yeonhee memiliki pacar, itu juga salah dirinya. Ia tidak akan memarahi Yeonhee karena hal itu, walaupun begitu ia tetap pada prinsipnya bahwa Yeonhee masih belum boleh berpacaran, jika selama ini Yeonhee kurang mendapat perhatian, maka kali ini ia akan berusaha lebih. Selama ini ia selalu berpikir Yeonhee adalah gadis yang mandiri, akan tetapi Yeonhee pasti membutuhkan perhatian darinya.

*

Sooran setengah berlari masuk ke dalam kafetaria dengan sepatu hak tinggi di pagi hari seperti ini. Ia pikir belum ada orang yang akan pergi makan di sini, ternyata ada satu orang pria yang juga sedang berjalan menuju kasir.

“Sepertinya kamu sedang tidak begitu buru-buru.” ujar Sooran pada Kyuhyun ketika mereka sampai bersamaan di depan meja kasir. Kyuhyun hanya memerhatikan Sooran yang sudah rapi dengan baju kantor tergesa-gesa sedang memesan makanan berupa roti lapis untuk sarapan di jalan.

Ketika selesai memesan dan memegang kantung kertas berisi makanannya, Sooran berbalik dan berujar pada Kyuhyun sebelum berlalu pergi. “Bilang pada teman doktermu itu, lihat saja jika sampai aku bertemu lagi dengannya.” tanpa menunggu reaksi Kyuhyun, Sooran sudah keburu bergegas pergi ke kantor sebelum Seungjae mengomel panjang lebar karena ia datang terlambat lagi.

*

Seungjae beranjak keluar dari lift dengan santai walaupun hari ini ia datang cukup telat. Semalam ia bisa tidur lebih awal tentu membuat moodnya hari ini sedikit lebih baik daripada hari biasanya yang suntuk. Setiap pergi ke ruang kerjanya, ia pasti melawati meja kerja Sooran yang biasanya kosong, karena Sooran hampir setiap hari selalu datang setelah dirinya, pagi itu tumben sekali Sooran sudah berada di sana.

Ketika berjalan melewati Sooran, ia berhenti sejenak karena teringat sesuatu. “Oh ya,” ujar Seungjae sambil mengingat-ingat. “Kemarin Olivia ikut kamu?”

Sooran yang diam-diam sedang merapikan kemejanya seketika memasang ekspresi anggun berpura-pura kalau dia sudah datang sejak lama karena sebenarnya ia juga baru saja datang, jangan sampai Seungjae tahu bahwa dirinya pun datang telat. “Ya.” jawabnya dengan hati-hati karena bosnya memasang ekspresi wajah yang tidak dapat ia artikan.

“Ia tidak merepotkanmu atau malah mengganggu ayahmu, kan?” diam-diam Sooran menghembuskan napas lega, bosnya itu tidak menyadari Sooran yang masih belum siap.

Baru kali ini Sooran melihat Seungjae terlihat perhatian akan Olivia. Selama ini ia selalu mengira bahwa bosnya itu tidak benar-benar peduli terhadap Olivia karena kesibukannya. Sooran menggeleng menanggapi Seungjae dan berkata, “Olivia justru membuat ayah saya senang.” ia memasang wajah manis dan tersenyum simpul agar Seungjae tidak bertanya macam-macam lagi.

“Oh ya, baguslah.” Seungjae mengangguk ringan dan segera kembali berjalan ke ruangannya membuat Sooran sekali lagi menghembuskan napas dengan lega setelah Seungjae berlalu pergi. Ia pikir Seungjae akan mengomel padanya karena telah membiarkan Olivia ikut pergi ke rumah sakit hanya untuk menjenguk ayahnya.

Benar seperti apa yang telah Olivia katakan pada dirinya bahwa Seungjae tidak akan keberatan dengan hal-hal seperti itu, setidaknya Seungjae memang benar seseorang yang pengertian.

*

Pagi ini Sila berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang masih tergolong sepi dengan sebuah map berada di tangannya. Ia sengaja datang lebih awal dari hari biasanya karena ia harus menemui seseorang sebelum pasien mulai berdatangan.

Ketika sampai di depan sebuah ruangan, sebelum ia sempat mengetuk pintu, seseorang memanggilnya dari arah belakang. “Mencari saya, Sila?”

Jung Sila lantas segera menoleh dan menyadari bahwa ternyata Kang Jihyun baru saja datang sedang berjalan ke arahnya. Ia tersenyum sebentar lalu menjawab, “Ya. Saya mau menyerahkan proposal acara tahunan untuk departemen ini.” Sila menjulurkan sebelah tangannya pada Kang Jihyun.

“Oh ini acara tahunan untuk seluruh departemen itu? Sayang sekali tahun ini saya tidak mengurus itu. Tapi saya bisa serahkan itu pada dokter lain untuk menjadi perwakilan dari departemen ini.”

“Ah begitu,” Sila mengangguk tidak ingin terlihat gelagapan karena telah diam-diam memerhatikan Kang Jihyun yang kabarnya merupakan salah satu dokter yang paling tegas dan menakutkan bagi para dokter muda. “Saya akan serahkan sendiri saja, Jihyun-ssi, kalau begitu terima kasih.”

“Tidak masalah.” jawabnya seraya membuka pintu ruangannya beberapa saat sebelum Sila pamit dan beranjak pergi. Ternyata Kang Jihyun tidak seperti yang sering dibicarakan oleh para dokter muda.

*

Sila menunggu pintu lift terbuka sambil memerhatikan layar ponselnya mencari apakah ada kontak Cho Kyuhyun di sana. Ketika suara dentingan terdengar, ia segera bersiap untuk masuk ke dalam pintu lift yang mulai terbuka. Saat itu juga Sila langsung dapat mengenali sosok yang sedang ia cari sedang beranjak keluar dari dalam lift.

Hal itu lantas membuat dirinya tidak jadi masuk ke dalam lift melainkan melangkah mundur mencari ruang gerak yang lebih besar. “Kyuhyun-ssi,” panggil Sila dengan cepat. Kyuhyun segera tersadar dan berhenti. “Ya?”

“Tadi saya habis menemui Kang Jihyun untuk menyerahkan ini, tapi katanya tahun ini dia tidak menangani acara amal.” terang Sila seraya memberikan map tersebut pada Kyuhyun.

Kyuhyun yang sedang menggenggam cup kecil berisi kopi di tangan kirinya, menerima map tersebut dengan sebelah tangan lainnya yang bebas dari apapun. “Sebenarnya saya juga tidak ikut, saya dan Kang Jihyun sedang dalam satu tim dokter yang menangani Hyunjung, jadi Kang Jihyun dan saya sama-sama tidak ikut.” sebelum Sila menjawab, Kyuhyun kembali melanjutkan, “Tapi saya bisa serahkan ini pada Lee Donghae berhubung saya memang juga baru akan menemuinya.”

Kali ini Sila harus berusaha untuk tidak terlihat mengagumi sosok Cho Kyuhyun. Setelah Kang Jihyun mengatakan bahwa dirinya tidak ikut dalam acara amal karena sedang fokus pada pengobatan Hyunjung, ia sendiri bukannya tidak tahu kalau Kyuhyun juga pasti tidak ikut acara amal, bagaimana pun mereka adalah rekan kerja setim dan hampir semua orang yang bekerja di rumah sakit itu pun tahu akan hal itu.

Tapi setidaknya kali ini ia dapat kesempatan untuk berbincang sedikit dengan Cho Kyuhyun yang telah dipercayai bekerjasama dengan dokter yang lebih senior, Kang Jihyun, terlebih tidak setiap hari dia dapat bertemu Cho Kyuhyun yang bekerja di departemen yang berbeda dengannya. “Baiklah, kalau begitu terima kasih, Kyuhyun-ssi.”

Sila mulai beranjak meninggalkan Kyuhyun. Sikap Kyuhyun padanya tidak akan pernah berubah. Kyuhyun akan selalu menganggapnya bukan siapa-siapa hanya seperti orang asing. Dalam hati ia baru mulai merasakan kecewa terhadap dirinya yang tidak pernah dapat menarik perhatian Kyuhyun.

“Sila-ssi!” Sila tersentak saat seseorang memanggilnya dari belakang saat ia sudah berjalan menjauh. Ia berbalik dan menemukan Kyuhyun masih berdiri di sana. “Nanti malam ada acara?”

*

Pagi itu Kyuhyun yang baru kembali dari kafetaria tidak langsung pergi ke ruangannya melainkan pergi ke ruangan Kang Jihyun karena urusan mereka terhadap Hyunjung.

“Aku bertaruh Lee Donghae pasti belum datang.” ujar Jihyun ketika melihat Kyuhyun memasuki ruangannya. Kyuhyun mengendikkan bahunya. “Entah.”

Sementara Kyuhyun duduk di sofa, Kang Jihyun baru memakai jasnya. “Jung Sila pergi menemuimu?”

Kyuhyun hanya memerhatikan Jihyun sebelum menjawab santai. “Bagaimana kau tahu?” Jihyun hanya tersenyum samar sambil membenarkan kerah jasnya.

“Jung Sila ternyata lumayan juga ya.” entah Jihyun hanya bergumam atau memang berbicara dengan dirinya, Kyuhyun tidak yakin, ia hanya segera beranjak berdiri ketika Jihyun sudah terlihat siap untuk menemui Hyunjung.

*

“Jadi seperti itu efeknya.” tutup Kang Jihyun setelah menjelaskan efek-efek yang akan timbul setelah melakukan kemoterapi pada Hyunjung yang masih terlihat pucat dari tempat tidurnya. Sebelumnya Kang Jihyun hanya menyapa singkat sebelum akhirnya memulai pemeriksaan bersama dengan Kyuhyun.

“Semuanya akan baik-baik saja, Hyunjung-ssi.” Kang Jihyun mengakhiri kalimatnya sambil melirik sebuah boneka beruang berukuran sedang berbulu putih yang berada tepat di samping Hyunjung. “Bagus sekali bonekanya,” tanpa Jihyun sadari Hyunjung melirik Kyuhyun sambil tersenyum membuat Kyuhyun hanya bisa berdeham pelan. “Selamat beristirahat, nona Hyunjung.” ujar Jihyun sebelum beranjak pergi bersama Kyuhyun.

*

Hyeri diam-diam memerhatikan Jihyun yang sedang duduk sambil memeriksa tugas-tugas mereka yang berada di meja ruang diskusi. Menurutnya hari ini Jihyun benar-benar seperti malaikat tanpa sayap, apalagi saat baru datang, Jihyun terlihat tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah tidak seperti biasanya. Senyuman Jihyun yang jarang Hyeri lihat pun membuatnya mabuk asmara. Pandangan mata kagumnya sejak sepuluh menit lalu tidak lepas dari pria itu, sampai pada akhirnya Jihyun tiba-tiba berbicara padanya, ia terlonjak kaget sendiri tidak mendengar apa yang Jihyun katakan padanya. “A-apa dok?” tanyanya dengan terbata.

Jihyun menghela napas berusaha bersabar dan mengulangi pertanyaannya. “Kapan pertama kali kamu minum?”

“Minum?” Hyeri yang pikirannya masih tidak berada di sana, menjawab dengan kelabakan sambil memperagakan orang minum dengan ekspresi bertanya-tanya.

“Ya, alkohol, atau pergi ke klab malam, kapan kamu pertama kali melakukannya?” saat itu juga Hyeri tersadar dan segera menjawab. “18 tahun.” ujarnya agak tersipu dengan mengecilkan suaranya.

Jeongsik yang juga sedang berada di sana menyahut sebelum Hyeri benar-benar selesai bicara. “Kau bilang 16 tahun!” ujar Jeongsik sambil cekikikan bersama temannya yang lain dari bangku baris belakang. Hyeri otomatis melotot tidak terima.

“Baiklah, saya akhiri, sampai pertemuan berikutnya.” Jihyun beranjak keluar ruangan dan beberapa saat kemudian Luna segera masuk ke dalam ruangan menghampiri Hyeri yang terlihat tersenyum lebar ke arahnya. Tidak biasanya Hyeri bersikap seperti ini.

“Kau tahu tidak?” Hyeri masih dengan ekspresi wajahnya yang seperti itu membuat Luna mengerutkan dahinya heran. “Apa?”

“Kau tadi ke toilet sih, dokter Kang masa menanyaiku kapan aku pertama kali minum dan pergi ke klab malam. Jangan-jangan dia mau mengajakku pergi minum.” Hyeri tersenyum bahagia dan pipinya memerah.

Luna menahan tawanya melihat ekspresi wajah temannya yang bersemu merah itu. “Jadi kau juga ditanya begitu?” Hyeri seketika melotot tajam mendengar Luna berkata demikian. “Apa maksudmu?” ia masih tidak mengerti.

“Aku pikir dia pasti sedang melakukan survey,” Hyeri mulai memasang ekspersi kecewa. “Dia menanyaiku dan juga yang lainnya tadi pagi sebelum kau datang.” kali ini Hyeri benar-benar terlihat patah hati. “Tadi dia hanya bertanya padaku saja, Jeongsik dan yang lain tidak ditanyai.”

“Ya jelas saja Jeongsik tidak ditanyai, dia hanya bertanya pada yang perempuan.”

Hyeri yang tadi terlihat sebal kini sudah berubah sumringah lagi. “Ya sudah, tidak apa-apa, aku masih tetap ngefans padanya!” Luna sampai harus membekap mulut Hyeri agar tidak menjerit-jerit di dalam ruang diskusi hanya karena Kang Jihyun yang menurut Luna menyebalkan bukan main.

*

Sooran melirik jam tangannya. Sudah waktunya makan siang, itu berarti sudah waktunya untuk memberitahu bosnya untuk makan siang bersama beberapa karyawan lainnya. Dengan enggan Sooran beranjak dari kursinya ke ruangan Seungjae yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.

“Pak?” panggilnya saat membuka pintu ruangan yang baru ia sadari kemudian bahwa ternyata kosong setelah ia melongok masuk ke dalam. Sejak kapan Seungjae meninggalkan ruangannya pun ia tidak tahu. Padahal kapan pun Seungjae beranjak pergi dari ruangannya pasti melewati meja kerjanya. Seharusnya ia tahu bahwa Seungjae meninggalkan ruangannya.

“Kemana pak bos?” tanya Sooran pada teman kantornya yang tengah bersiap untuk pergi makan siang. Sooran sempat melihat ponsel Seungjae yang dibiarkan berada di atas meja, berarti dia tidak pergi jauh.

Tanpa butuh waktu lama, laki-laki berambut cepak itu menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah atas. Sooran segera mengerti maksud Jongsuk. “Tumben dia tidak ada di ruangannya,” belum sempat Sooran menyuruh Jongsuk untuk menyusul bos mereka ke rooftop, Jongsuk sudah melarikan diri duluan.

Mau tidak mau Sooran menyusul Seungjae yang katanya sedang berada di rooftop, entah sedang apa, ia pun tidak pernah tahu kalau Seungjae pernah pergi ke sana.

Dengan langkah kaki yang berat, Sooran keluar dari lift dan membuka pintu menuju luar, mencari sosok bosnya untuk ikut diajak makan siang bersama. Dari tempatnya berdiri, Sooran dapat melihat Seungjae sedang berdiri masih agak jauh memunggungi dirinya melihat ke gedung-gedung tinggi lainnya.

Sooran berjalan mendekat dengan tidak bersuara sambil terus memerhatikan Seungjae yang seorang diri. Dengan hati-hati ia berusaha mengintip apa yang sedang bosnya itu lakukan. Sekelebat asap putih tipis pun mulai dapat Sooran lihat dari balik tubuh Seungjae yang sedang memandangi kota.

Selama bekerja di sini, ia belum pernah pergi ke sini, apalagi melihat bosnya merokok di atas sini sendirian. “Pak, yang lain sudah menunggu untuk makan siang di restoran yang baru buka di gedung seberang.” mendengar seseorang berbicara padanya, Seungjae lantas berbalik dan mendapati Sooran sedang berdiri di belakang tidak jauh darinya, ia segera mematikan batang rokoknya.

“Oh ya, saya hampir lupa.” Seungjae hampir tidak ingat bahwa ia berjanji untuk mengajak karyawannya makan dengan rekening kantor di restoran baru itu. “Ayo kita kesana.”

*

“Baiklah sampai jumpa nanti.” Seungjae melirik jam seraya memutus sambungan telepon kemudian segera membereskan barangnya dengan cepat. Ia menyambar tas kerjanya dan bergegas menghampiri meja Sooran sebelum pegawainya itu menghilang pulang. Seungjae sudah hapal betul bagaimana Sooran sering kali langsung melarikan diri dari kantor tepat saat jam pulang kerja tiba.

“Mau ke rumah sakit?” tanya Seungjae pada Sooran yang sedang bersiap-siap. Sooran memerhatikan Seungjae yang masih sedikit kehabisan napas. Tidak biasa-biasanya Seungjae terlihat seperti ini.

Seungjae segera bicara kembali sebelum Sooran menjawab, “Saya mau jenguk ayah kamu.” Sooran lantas seketika menghentikan kegiatannya yang tengah memasukkan sebuah lipstick ke dalam tasnya. Ia pasti salah dengar. “Y-ya?” tanyanya agak terkejut.

“Tidak perlu repot-repot menjenguk ayah saya, Olivia juga sudah menyampaikan salam mewakilkan bapak.” Sooran mendadak panik sekaligus berdebar. Sejak kapan bosnya itu perhatian dengan dirinya.

“Saya sekalian mau kontrol ke dokter. Pokoknya kamu ikut saya dulu ke rumah sakit. Saya sudah buat janji,” tanpa menunggu Sooran, Seungjae sudah beranjak pergi. “Cepat sedikit, nanti saya terlambat.” ia kembali berujar sambil tetap berjalan. Sooran terpaksa menyusul dengan tergesa. Dalam hati mengomel kenapa dirinya masih harus menuruti Seungjae walaupun sudah di luar jam kerja.

Selama di mobil Sooran diam saja karena sudah terlanjur sebal. Bosnya itu pun juga tidak mengajaknya bicara. Untung saja rumah sakit yang mereka tuju dekat dari kantor, Sooran tidak perlu repot berpura-pura tidur.

Ketika sampai rumah sakit, Sooran mengekor di belakang Seungjae karena langkah kaki Seungjae benar-benar cepat. Sampai di resepsionis, sambil memegang parsel berisi buah yang Seungjae beli di jalan sebelum ke rumah sakit, Sooran menguping apa yang Seungjae katakan pada mereka.

Sooran hampir tidak pernah melihat Seungjae pergi ke rumah sakit saat ia masih terlihat baik-baik saja. Biasanya Seungjae baru akan pergi menemui dokter saat sudah membuat repot dirinya dahulu dengan sakit lambungnya yang selalu berhasil membuat panik dirinya.

Selama bekerja dengan Seungjae, yang ia tahu bahwa Seungjae hanya punya penyakit lambung, namun entah salah dengar atau tidak, ia sama sekali tidak mengerti kenapa sekarang Seungjae malah ingin berobat ke dokter bedah syaraf. Ia kira Seungjae pergi ke sini untuk menemui dokter lambung langganannya itu.

Sooran sudah tidak mau tahu apa yang sedang dibicarakan Seungjae sekarang. Saat ia masih asik dengan pikirannya sendiri, Seungjae tiba-tiba mengagetkannya. “Dimana kamarnya?”

“Hah, kamar apa?” Sooran bahkan tidak sadar bahwa Seungjae baru saja berbicara padanya.

Kini giliran Seungjae yang berdengus sebal. “Ya kamar rawat ayahmu.”

“Bapak tidak jadi berobat dulu?” padahal tadi saat masih di kantor Seungjae memaksanya untuk buru-buru pergi ke rumah sakit, sudah di sini sekarang malah tidak jadi berobat.

Seungjae seketika menjawab dengan singkat dan cepat. “Tidak ada dokternya.”

Sooran mengerukan kening melihat Seungjae dengan ekspresi biasa saja. “Kan sudah buat janji.” ujar Sooran masih penasaran.

“Dokter yang saya mau ternyata jadwalnya bukan sekarang,” Seungjae masih terus berjalan ke depan sementara Sooran juga masih berusaha mengikuti. “Jadi dimana kamar ayahmu, Sooran?”

“Di atas,” Sooran berkata pelan lalu melanjutkan. “Tapi lift-nya sudah kelewat di belakang sana.” mendengar Sooran berkata begitu Seungjae lantas segera menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapnya. “Kenapa tidak bilang dari tadi.” ujarnya segera kembali berjalan menuju lift.

Sooran hanya bisa memaki dalam hati bahwa kenyataannya daritadi Seungjae terus berjalan tanpa tahu tujuannya kemana.

*

Donghae menghampiri Kyuhyun yang terlihat begitu rapi, sedikit lebih rapi daripada biasanya. “Mau kemana kau?” ujar Donghae yang jarang melihat Kyuhyun seperti ini. Penampilannya jelas bukan untuk mengurus pasien di malam hari.

“Aku pulang cepat, ada urusan,” Kyuhyun menepuk bahu Donghae. “Oh ya, ada titipan dokumen untukmu tapi aku meninggalkannya di ruangan Jihyun. Kau ambil sendiri saja nanti.”

Donghae menyerahkan kunci mobilnya pada Kyuhyun. “Kau kan tahu aku tidak begitu akrab dengannya.” Donghae berubah kecewa. Kyuhyun hanya tersenyum kecil. Tadi siang ia sempat meminta Donghae agar meminjamkan mobil untuknya malam ini.

Sebelum sempat Donghae bertanya macam-macam lagi tentang kemana ia akan pergi, Kyuhyun sudah segera berlalu pergi. “Kalau begitu aku duluan, sampai nanti.”

*

Malam itu Kyuhyun harus akui bahwa Sila terlihat sangat cantik dengan baju terusan selutut yang membuat dirinya terlihat anggun. Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa Jung Sila benar-benar merupakan sosok idaman para pria di rumah sakit, Kyuhyun seharusnya merasa benar-benar beruntung karena bisa pergi makan malam dengannya.

Kyuhyun memasukkan potongan terakhir daging steak-nya. Selama makan malam, ia hanya mengobrol ringan dengan Sila tentang hal-hal di lingkungan kerja mereka. Tidak ada yang istimewa dari perbincangan mereka malam ini. Meskipun masih terasa canggung, malam ini masih terasa lebih baik daripada kencan buta.

Setidaknya ini adalah permulaan yang bagus untuk kencan kedua dan selanjutnya bersama Jung Sila. Itu berarti sebentar lagi hidupnya akan berubah perlahan dengan memulai hubungan dengan Sila.

*

Donghae membuka pintu ruangannya tepat saat Kyuhyun membuka pintu dan menghambur masuk ke dalam dengan begitu terburu-buru. Mereka berpapasan diantara daun pintu yang masih setengah terbuka hampir saling bertubrukan.

“Oh, hei Kyu.” sapa Donghae terlihat penasaran saat melihat Kyuhyun yang tampak sedang tergesa-gesa. Tanpa membalas sapaan Donghae, Kyuhyun segera mengeluarkan kunci mobil dari saku jasnya. “Ini, terima kasih.” Kyuhyun menyerahkan kunci dengan cepat yang segera diraih oleh Donghae.

Belum sempat Donghae melontarkan berbagai macam pertanyaan yang sudah berada di kepalanya sejak tadi malam pada Kyuhyun yang tidak biasa-biasanya meminjam mobil. Kyuhyun sudah keburu berkata seperti dapat mengetahui rasa penasaran Donghae kenapa dirinya begitu terlihat terburu-buru, “Hyunjung kemoterapi pagi ini.”

“Good luck!” sahutnya dengan agak keras tepat ketika Kyuhyun sudah beranjak pergi dengan setengah berlari ke arah tangga.

*

Seharian ini Donghae sama sekali tidak bertemu Kyuhyun setelah pagi tadi Kyuhyun mengembalikan kunci mobil padanya. Temannya itu benar-benar seperti menghilang ditelan bumi. Ia mencarinya saat jam makan siang pun tidak ada. Padahal ia ingin tanya macam-macam, pasti Kyuhyun sedang memiliki wanita.

Dengan masih sebal, Donghae masuk ke dalam perpustakaan yang buka hingga malam hari. Jika Kyuhyun tidak menghilang begini, ia tidak mungkin akan pergi ke perpustakaan seorang diri. Pasti Kyuhyun sedang sibuk dengan Jihyun mengurusi Hyunjung.

Siang tadi ia sempat mendengar celotehan para perawat yang berkata bahwa Hyunjung adalah gadis yang begitu manis dan cantik, mereka sampai iri padanya. Donghae langsung menebak pasti Kyuhyun dan Jihyun begitu beruntung bisa menjadi dokter yang menangani Hyunjung yang cantik. Pantas saja Kyuhyun dan Jihyun begitu betah berlama-lama dengannya.

Tanpa memerhatikan sekelilingnya, Donghae segera berjalan ke deretan buku yang tersusun rapi dalam rak-rak besar. Ketika baru mendapatkan sebuah buku, tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada seorang wanita yang terlihat sedang tertidur dengan buku-buku yang terbuka di sekitarnya.

Kepalanya berada di atas meja bersama beberapa buku dengan rambut yang terurai di sekitarnya. Pasti wanita itu sedang lelah sekali sampai-sampai tertidur di perpustakaan. Rasa penasaran membuatnya ingin menghampiri wanita itu dan mencari tahu siapa seseorang itu dari dekat.

Ketika berjalan mendekat, ia dapat langsung mengenali siapa wanita tersebut. Dengan perlahan Donghae mengguncang bahu wanita itu. “Sila?”

Hanya butuh beberapa detik untuk membuat Sila segera terbangun dan terkejut saat melihat Donghae berada di dekatnya, terlihat dari bagaimana ia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya duduk dengan tegak kembali.

“Pasti sangat melelahkan, ya.” ujar Donghae berbasa-basi pada Sila yang tampak sedang membereskan buku-bukunya. Sila tersenyum ke arah Donghae, “Yah begitulah.”

“Terima kasih aku sudah dibangunkan, kalau tidak, aku bisa sampai tidur disini sampai besok pagi.” ia berkata lagi sambil tertawa ringan berusaha terlihat seperti tidak ada apa-apa. Akan tetapi Donghae tetap dapat melihat wajah lelah Sila yang begitu pucat, membuat Donghae menyarankan Sila untuk segera pulang dan beristirahat.

Sila mengangguk membenarkan saran Donghae untuknya. “Kalau begitu saya duluan, sampai jumpa, Donghae-ssi.”

*

Sudah hampir satu jam Donghae tidak melakukan apa-apa selain sibuk memutar-mutar buku catatan kecil di tangannya kemudian meletakkannya kembali ke atas meja. Ia sudah melakukan kegiatan ini tanpa merasa bosan setelah melihat-lihat isinya berisi tulisan tangan rapi milik Jung Sila.

Ternyata Sila memiliki tulisan tangan yang rapi jika dibandingkan dengan dirinya dan Kyuhyun. Sampai saat ini menurut hasil pengamatan dirinya dengan Kyuhyun yang paling sulit dibaca adalah milik Jihyun. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari di luar pekerjaannya sebagai dokter, Jihyun seharusnya memiliki tulisan tangan yang sedikit lebih mudah dibaca, tapi nyatanya tidak.

Baru saja Donghae akan membaca tulisan tersebut secara berurutan, ponselnya berbunyi. Tanpa memeriksa siapa yang mengiriminya pesan, Donghae justru beranjak berdiri dari kursinya dan segera membereskan barangnya termasuk turut membawa pulang buku catatan tersebut.

Sudah terlalu larut untuknya berada di rumah sakit. Ia akan melanjutkan membacanya di rumah.

*

“Kau sedang dimana, Lee Donghae?” tanpa berbasa-basi Kyuhyun lagi langsung segera berbicara tepat ketika Donghae mengangkat panggilannya, untung saja ia tidak langsung memaki.

Donghae yang sedang berada diantara banyak orang pun harus segera menyingkir. Sebelum Kyuhyun dapat mengetahui dimana dirinya sebenarnya sedang berada. Donghae menggunakan sebelah tangannya untuk menjaga agar suaranya tetap terdengar tidak terlalu berisik. “Aku di rumah hyung-ku.”

“Donghwa?” seketika itu Kyuhyun terdengar kaget. “Demi tuhan, yang benar saja!” mendengar suara keras Kyuhyun dari seberang sambungan, Donghae buru-buru tersadar menyadari kebodohannya.

“Maksudku dia sedang di Seoul, aku harus menemuinya. Kau tahu lah.” Donghae berusaha agar terdengar masuk akal. Kakaknya itu memang tinggal di kota yang jauh dengan Seoul. Dengan begitu Kyuhyun mungkin akan memaklumi.

Dari seberang sana Kyuhyun terdengar kesal. “Aku akan menelepon Donghwa hyung agar menyuruhmu datang kesini.” ancam Kyuhyun membuat Donghae ikut sebal.

“Aku akan bicara sendiri dengannya. Awas kau sampai meneleponnya. Pokoknya nanti kalau sempat aku menyusul.” detik itu juga Donghae menutup sambungan telepon tanpa sempat mendengar umpatan serapah yang Kyuhyun lontarkan pada dirinya.

Sementara Kyuhyun sedang kesal karena merasa dibohongi oleh Donghae yang pernah berjanji akan datang ke acara konferensi, Donghae justru saat ini sedang berada di lobi sebuah hotel mewah dengan balutan setelan jasnya yang mahal.

Donghae kembali melirik jam tangannya. Tanpa harus membuka kembali buku yang ia dapatkan semalam, Donghae melangkah dengan penuh percaya diri. Ia sudah membacanya berulang-ulang semalaman sehingga ia cukup yakin bahwa tidak mungkin salah datang.

“Apakah Tuan membawa undangan?” pria yang menjaga pintu masuk terlihat memerhatikan Donghae yang segera mengeluarkan sebuah tanda pengenalnya di rumah sakit. “Saya dokter pribadi keluarga ini.” sebelum pria itu bertanya macam-macam lagi pada dirinya, Sila terlihat sedang berdiri tidak jauh dari sana segera mengenali Donghae yang berada di pintu masuk.

Saat itu juga Sila melambaikan tangannya pada Donghae yang segera terbebas dari si penjaga pintu. Donghae segera menghampiri Sila dan tanpa sadar bahwa orang-orang yang berada di sekitar Sila ikut memerhatikannya.

“Bukannya kamu ada acara di rumah sakit?” Sila harus berbicara sedikit keras karena suara musik yang sedang mengalun di seluruh ruangan menghalangi suaranya. Donghae lantas juga harus sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Sila agar suaranya terdengar oleh Sila ketika ia menjawab bahwa Kyuhyun yang ikut pun sudah cukup.

Sebelum Sila sempat bertanya bagaimana Donghae juga bisa berada di pesta pernikahan ini, tanpa mereka berdua sadari, seseorang menghambur dari belakang membuatnya terkejut. “Oh ini pasti dokter yang dirahasiakan Sila selama ini, itu kan?!”

Saat itu juga Sila terlihat terkejut bercampur panik. Bagaimana bisa sepupu-sepupunya berteriak seperti itu di depan banyak orang, termasuk Donghae. Ini pasti akan membuat Donghae menjadi salah paham. Ia tidak ingin Donghae mengetahui bahwa dirinya diam-diam menjadi pengangum rahasia dari seorang Cho Kyuhyun. Itu benar-benar tidak boleh terjadi.

Sila melirik Donghae dengan tatapan memelas agar Donghae tidak memercayai mereka begitu saja. “Tidak, onni, dia hanya temanku di rumah sakit.”

“Baiklah, siapa namamu, temannya Sila-ssi?”

Donghae mau tidak mau memperkenalkan dirinya pada saudara-saudara Sila yang tampaknya semua masih seumuran dengannya. “Saya Lee Donghae.”

Salah satu sepupu Sila lantas menyahut, “Apakah dari bedah syaraf?”

“Ya.” Donghae semakin tidak mengerti dengan mereka yang sekarang terlihat saling menyembunyikan senyuman dan meleparkan pandangan jahil pada Sila yang saat ini tidak mengeluarkan kata-kata.

Dalam hati rasanya ingin sekali Sila melarikan diri dari tempat ini. Ia merasa bersalah pada Donghae yang tidak tahu apa-apa tentang yang sepupu-sepupunya tanyakan.

Ketika Sila baru akan menarik Donghae menyingkir dari kerumunan sepupu-sepupunya yang semakin ingin tahu akan Donghae, ia mendengar suara jeritan dari arah belakangnya. “Paman Yoon pingsan!”

*

Sila mulai menyesal tidak ikut turun dengan Donghae. Awalnya ia sempat ragu-ragu apakah ia juga harus ikut turun, sehingga saat Donghae menawarinya untuk turut masuk ke dalam unit gawat darurat, dirinya menolak ikut, ia pikir Donghae akan segera kembali dan memarkirkan mobilnya ke tempat parkir yang benar bukan berhenti di lobi khusus emergensi. Saat ia baru akan menelepon Donghae, ia melihat sosok Donghae yang sedang setengah berlari ke arah mobil.

“Maaf Sila, menunggu lama ya?” tanyanya saat masuk ke dalam dan duduk di balik kemudi. Sila hanya tersenyum tipis dan menggeleng, “Tidak.”

Setelah Donghae sudah memarkirkan mobilnya ke tempat yang seharusnya, kini Donghae menawarkan jasnya untuk dipakai olehnya yang masih mengenakan gaun terbuka. Walaupun merasa agak canggung, ia tetap memakainya. Akan lebih aneh jika ia masuk ke dalam rumah sakit dengan gaun berdada rendah seperti ini.

Dalam hati ia berharap orang-orang yang bekerja di rumah sakit tidak mengenali dirinya. Ia hanya berjalan setengah menunduk sambil terus mengikuti langkah kaki Donghae.

Saat Donghae menekan tombol angka pada dinding lift, Sila yang sedari tadi tidak bertanya-tanya akan mengikuti Donghae kemana mulai tahu kemana ia akan dibawa pergi. Donghae menekan sederet pin yang kemudian membuka pintu ruangannya. Sila segera masuk setelah Donghae mempersilahkannya. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam ruangan Donghae.

“Pamanmu sedang ditangani oleh Kang Jihyun. Kau tahulah dia itu memang ahlinya.” hibur Donghae membuat cair suasana. Sila tersenyum sambil menjawab bahwa Jihyun memang tidak diragukan lagi.

Setelah berbincang-bincang ringan dengan Donghae, Sila segera teringat akan pesta tadi. “Soal saudara dan sepupu-sepupuku, aku minta maaf ya.” Sila seketika merasa bersalah lagi. Donghae terlihat hanya tersenyum. “Tidak apa-apa.” saat itu juga ponselnya berbunyi karena ada pesan yang masuk. Donghae sudah menduga siapa yang mengirimnya.

Ketika Donghae membuka pesan itu, sederet omelan berisi umpatan serapah dari Kyuhyun segera muncul. Tidak heran mengapa Kyuhyun bisa sampai kesal seperti ini pada dirinya. Ia tidak langsung membalasnya, melainkan memesankan makanan untuk dirinya dan Sila.

*

Belum lama ini Park Hyunjung sudah melakukan proses kemoterapi pertamanya. Selama hidupnya Kyuhyun hampir tidak pernah melakukan kunjungan pada pasiennya di luar jam yang seharusnya, tapi Hyunjung pengencualian. Akhir-akhir ini ia melakukan kunjungan pada Hyunjung di luar waktu visit-nya yang resmi bersama Kang Jihyun.

Entah mengapa ia merasa bahwa Hyunjung pasti sangat menderita berbaring seorang diri tanpa seseorang menemaninya. Gadis muda itu terlihat begitu kesepian. Saat tengah malam sebelum melakukan kemoterapi, Hyunjung sempat mengirimnya pesan singkat. Namun gadis itu rupanya terlalu lemah untuk merangkai kata-kata lewat tulisan yang harus diketik satu-persatu, tanpa diketahui oleh Kang Jihyun, Kyuhyun menjadi teman bicara Hyunjung sampai gadis muda itu tertidur.

3 thoughts on “LIFELINE Part 3 – [REMAKE]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s