LifeLine (Part 4)

 

life-line-by-yolasekarini_2 (1)

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae | Length : Chaptered / Series Fic |Genre : AU, Romance, Medical |Rating : G,PG-15/T

EMPAT

Sore ini mungkin akan menjadi sore terakhir bagi Kyuhyun untuk pergi ke rumah sakit dengan menggunakan transportasi publik seperti ini lagi karena mulai besok pagi ia sudah akan mendapatkan kembali mobilnya yang sudah hampir satu bulan mendekam di bengkel. Walaupun sebentar lagi ia sudah tidak akan menaiki kereta bawah tanah ini, tapi ia sudah mulai terbiasa dengan suasana di pagi dan sore hari bersama orang-orang yang akan berangkat dan pulang kerja dengan kereta bawah tanah, tidak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.

Rasanya jarang sekali ia masuk kereta dan menemukan tempat duduk kosong, tapi di hari terakhirnya menggunakan kereta tampaknya ia sedikit beruntung walaupun dalam beberapa saat kereta sudah dipadatkan dengan banyaknya orang yang masuk. Tapi setidaknya ia masih bisa duduk dengan nyaman tanpa harus berdiri seperti hari biasanya. Detik selanjutnya ia sudah tidak memerhatikan keadaan sekelilingnya karena mendapatkan sebuah pesan singkat.

“Cho Kyuhyun?” tepat saat selesai mengetik sesuatu melalui ponselnya Kyuhyun mendengar seseorang memanggil namanya kemudian segera mencari suara yang memanggilnya. Saat mengalihkan pandangan dari ponselnya ia agak terkejut saat menemukan Jihyun ternyata duduk tidak jauh dari tempat dimana ia sedang duduk.

“Oh, Jihyun, aku pikir kau pulang dengan mobil, tumben sekali.” kali ini bukan sekedar basa-basi semata, ia memang agak kaget melihat Jihyun berada disini, di tengah banyak orang dalam sebuah transportasi publik yang tidak ekslusif sama sekali.

Jihyun tersenyum sambil mengangkat sedikit minuman kalengnya setelah meminumnya sedikit. “Tidak ada alasan khusus, kau sendiri kenapa disini?”

Sudah jelas Jihyun tidak tahu kenapa dirinya berada disini, Jihyun tampaknya tidak pernah memperdulikan Kyuhyun. “Mobilku masuk bengkel.” terangnya singkat sebelum kereta berhenti di sebuah stasiun dan Jihyun segera pamit turun. Untungnya Jihyun cepat turun, pasti akan sangat canggung jika harus berbasa-basi pada Jihyun lebih lama lagi. Mereka tidak pernah sedekat itu.

*

Yeonhee tampaknya sudah mulai bisa berdamai dengan kakak laki-lakinya itu, seperti sore ini ia meminta kakaknya itu untuk menjemput dirinya di sekolah. Menjemput Yeonhee di sekolah adalah satu hal yang paling jarang dilakukan oleh Jihyun sepanjang hidupnya semenjak Yeonhee bisa pulang sekolah sendiri. Jihyun hampir tidak pernah menjemput Yeonhee pulang sejak bertahun-tahun lalu. Ia bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali itu terjadi.

Entah mengapa saat jam makan siang, Yeonhee mengirimkan sebuah pesan singkat pada kakaknya bahwa ia meminta Jihyun untuk datang menjemputnya sepulang sekolah nanti. Belum sempat Jihyun menolak, Yeonhee sudah mengirimkan sebuah pesan singkat baru yang mengatakan bahwa dirinya sedang tidak enak badan. Padahal sepanjang ingatannya pagi tadi sebelum dirinya berangkat kerja ia melihat Yeonhee masih baik-baik saja.

Walaupun sebenarnya ingin mengatakan tidak, tapi kemudian setelah ia pikirkan kembali, sudah lama sekali ia tidak melakukan sesuatu untuk Yeonhee. Mungkin Yeonhee memang benar-benar sakit dan tidak ada salahnya jika ia pergi menjemput sepulang sekolah seperti permintaan Yeonhee barusan.

“Oppa!” panggil Yeonhee dengan antusias saat melihat Jihyun yang masih berjalan dari kejauhan. Ia tidak menyangka bahwa Jihyun akan benar-benar datang. “Kenapa oppa datang lama sekali?” walaupun nyatanya lama, Yeonhee merasa seperti mimpi melihat kakaknya datang ke sekolah untuk menjemputnya.

“Hanya telat beberapa menit, seperti yang kau lihat sekarang oppa menjemputmu tanpa mengendarai mobil, seperti yang kau minta, sekarang apa lagi maumu?”

Tanpa menghiraukan kalimat dingin kakaknya barusan, Yeonhee melihat jam tangannya dan segera memerhatikan sekeliling sebelum akhirnya mulai berkata kembali. “Oppa terlambat hampir satu jam, tapi tidak apa-apa, aku memaafkan oppa, karena aku pikir oppa tidak akan pernah datang.” Yeonhee tersenyum ke arah Jihyun walaupun hanya tinggal ia dan segelintir siswa lain yang tersisa di halaman sekolah ini.

Seakan tidak terpengaruh dengan ucapan Yeonhee, Jihyun segera berbalik dan sudah mulai berjalan. Melihat kakaknya akan pergi Yeonhee seketika berseru. “Ya! Oppa mau pergi kemana?” ia tidak percaya kakaknya akan pergi secepat itu tanpa bertanya kenapa sudah memintanya untuk kemari.

Sebelum Yeonhee sempat melontarkan pertanyaannya, Jihyun sudah berkata lebih dulu. Sekelebat rasa kecewa mulai muncul ke permukaan hatinya. “Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main, Kang Yeonhee, kapan-kapan saja saat aku sedang tidak sibuk.” Jihyun berkata seraya pergi meninggalkan Yeonhee yang masih berdiri di belakang sedang berusaha tidak menangis. Yeonhee berdiri mematung mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh kakak yang ia rindukan, walaupun mereka hidup bersama, tapi Yeonhee tidak merasakan kehadirannya.

Disisi lain Jihyun sama sekali tidak menemukan tanda apapun bahwa Yeonhee sedang benar-benar sakit atau semacamnya sehingga pikirannya menyakinkan bahwa Yeonhee pasti hanya berbohong supaya dirinya benar-benar datang. Apapun itu alasan Yeonhee, Jihyun tidak bisa membuang-buang waktunya untuk hal seperti ini. Ia tahu Yeonhee masih remaja dan belum dewasa, tapi setidaknya Yeonhee seharusnya harus dapat mengerti bahwa kakaknya adalah seorang dewasa yang memiliki kesibukan yang padat.

“Tapi oppa tidak pernah tidak sibuk,” Yeonhee tiba-tiba berkata dengan suaranya yang mulai serak. Hal yang selama ini ia pendam jauh di dalam hatinya baru saja berani ia ucapkan. “Oppa selalu berkata seperti itu sejak terakhir kali aku mengajak oppa untuk bersamaku. Oppa tidak pernah meluangkan waktu oppa untukku. Oppa adalah satu-satunya orang yang aku miliki. Apa oppa tidak ingat? Oppa selalu pergi ke rumah sakit pagi sekali dan pulang tengah malam bahkan bisa sampai keesokan paginya. Aku merasa seperti tidak memiliki oppa.” suara Yeonhee masih bergetar. Matanya mulai merah dan pipinya sudah basah oleh air mata yang tanpa disadarinya jatuh berderai.

“Tapi Yeonhee, tadi kau mengatakan pada oppa dalam pesan singkatmu bahwa kau ingin oppa menjemputmu ke sini karena kau bilang sedang tidak enak badan. Tapi nyatanya kau tidak apa-apa kan, mengertilah Yeonhee, kau sama saja seperti sedang mempermainkan oppa.”

Jihyun kembali berpaling lagi dan mulai berjalan menjauhi Yeonhee seolah tidak menyadari air mata Yeonhee yang kembali berjatuhan. Ucapan Jihyun mungkin terlalu menyakitkan untuk seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA. Yeonhee tidak pernah menyangka kalau kakaknya akan semarah ini padanya. Ia hanya ingin Jihyun meluangkan sedikit waktu untuknya. Setidaknya untuk hari ini saja.

“Oppa.. maafkan aku.” langkah kaki Jihyun terhenti dan ia membalikkan tubuhnya dan baru dapat menyadari bahwa wajah adiknya itu sudah basah karena air mata yang berderai. Jihyun segera berjalan mendekat dan memeluk tubuh Yeonhee yang bergetar dalam dekapannya.

“Oppa mungkin melihat aku tidak apa-apa, tapi sebenarnya aku jauh dari kata tidak apa-apa, selama ini aku merasa kesepian dan ingin oppa meluangkan waktu untuk pergi keluar bersama. Tapi ternyata oppa terlalu sibuk, aku mengira oppa masih mempunyai waktu untuk pergi jalan-jalan denganku. Dan sekali lagi ternyata aku salah, aku tidak tahu, maafkan aku, oppa. Aku janji tidak akan mengganggu oppa lagi.” Yeonhee berkata dalam tiap isakannya.

Jihyun melepaskan pelukannya lalu merapikan rambut yang bercampur air mata di wajah kemudian mencium kening Yeonhee yang tertutup poni. Jihyun sama sekali tidak mengira Yeonhee akan sampai seemosional ini. Selama ini ia menganggap Yeonhee baik-baik saja karena Yeonhee tidak pernah mengeluh ataupun protes atas pekerjaannya. Selama ini Jihyun mengira Yeonhee mengerti akan kesibukannya karena Yeonhee tidak pernah menunjukkan sikap yang menuntut kehadiran dirinya dalam kehidupan pribadi Yeonhee. Sejauh ini, bagi Jihyun, Yeonhee terlihat seperti seorang gadis remaja yang bahagia.

Tanpa pernah memberitahu Yeonhee, dirinya selalu memerhatikan dengan baik akan terjaminnya kehidupan Yeonhee, Jihyun tidak pernah melewatkan sedikitpun apa yang diperlukan oleh seorang gadis remaja seumuran Yeonhee. Jihyun selalu memberikan fasilitas untuk menunjang segala sisi kehidupan Yeonhee sekaligus menempatkan Yeonhee pada lingkungan sosial yang tidak sembarangan. Jihyun tidak ingin Yeonhee merasakan kekurangan karena tidak tinggal bersama kedua orangtua layaknya teman seumuran Yeonhee yang masih dapat bercengkrama dengan ibu ataupun ayah sehingga Jihyun merasa telah mati-matian berusaha agar Yeonhee tidak merasa demikian. Ia merasa sudah hampir memberikan segalanya untuk Yeonhee, tapi tidak pernah memberikan waktunya.

Benar, selama ini kesalahan terbesar dihidupnya yang baru saja ia ketahui adalah fakta bahwa dirinya melupakan Yeonhee yang membutuhkan sosok kakak laki-lakinya. Saat itu pula dirinya baru menyadari bahwa selama ini ia benar-benar seorang kakak laki-laki yang buruk bagi adik perempuannya yang usianya terpaut jauh darinya, ia membesarkan seorang anak perempuan tanpa menyadari telah melukai hatinya karena kesibukannya. Ia baru menyadari hampir tidak pernah mengajak Yeonhee pergi bersama, padahal mereka telah tinggal bersama untuk waktu yang lama.

Selama ini ia hanya bekerja dengan begitu keras untuk bisa menyenangkan Yeonhee dengan mencukupi segala kebutuhannya dan memberikan apapun yang Yeonhee inginkan, ia telah menghasilkan banyak uang dan memberikan Yeonhee uang untuk keperluannya sendiri diatas rata-rata anak seumurannya, tapi ia tidak pernah ada untuk Yeonhee.

Jihyun ingat bagaimana ia selalu memberikan barang-barang dari brand terkenal untuk Yeonhee tanpa Yeonhee memintanya. Ia pikir dengan merawat adik perempuannya itu dari ujung rambutnya sampai ujung jemari Yeonhee dengan kemewahan sudah lebih dari cukup, tapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa yang Yeonhee butuhkan tidak hanya segala materi yang ia berikan, karena pada kenyataannya Yeonhee merasa sebaliknya.

Jika selama ini ia memikirkan Yeonhee hanya dari sisi penunjang kehidupan, ia benar telah melakukan kesalahan, Yeonhee membutuh dirinya. Jihyun baru menyadari bahwa Yeonhee jauh lebih membutuhkan keberadaannya dibandingkan dengan segala benda yang ia berikan untuk Yeonhee. Dalam hati Jihyun berjanji pada dirinya untuk mulai mengisi kekosongan yang ia lakukan terhadap Yeonhee.

“Kau pasti lapar, kan? Ayo kita makan siang yang enak, sudah lama sekali kan?”

*

Lee Seungjae keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam gedung sekolah untuk mencari sosok keponakan perempuannya dan segera berhenti berlari tepat ketia ia dapat menemukan Olivia sedang berada di salah satu sofa yang terdapat di lobi sekolah.

Gadis itu sedang memainkan ponselnya dan masih tidak menyadari kalau pamannya sudah tiba. Sekolahnya tampak sudah sepi hanya tinggal beberapa murid yang tersisa termasuk Olivia.

“Ayo kita pulang.” Seungjae berkata sambil mengatur napasnya membuat gadis itu mengangkat wajahnya dan baru menyadari pamannya. “Paman dari mana saja? Berkeringat begitu.” Olivia bertanya heran, ia jarang sekali melihat pamannya itu berkeringat dan dadanya naik turun begitu hanya jika sedang olahraga saja.

“Tidak penting, ayo kita pulang.” katanya sambil mengulurkan sebelah tangannya. Gadis itu hanya menatapnya tanpa menghiraukan ucapannya. “Paman memang dari mana?” Seungjae tanpa sadar berdecak sebal. “Paman menemui seseorang.” ia masih mencoba bersabar walaupun sebenarnya bisa saja dia sudah marah terhadap Olivia yang tidak segera menurut tapi malah banyak bertanya.

“Pacar paman?” tanya Olivia lagi terlihat curiga. Kali ini Seungjae sudah tidak sabar dan segera menarik tangan keponakannya lalu membawanya masuk ke dalam mobil. “Pakai seat-belt-mu.”

“Apa dia teman paman yang dari luar negeri itu?” tanya Olivia dengan nada kesal. “Aku tidak suka dengannya. Dia terlihat seperti menyukai paman.” lanjutnya dengan polos mengatakan apa yang sesungguhnya ia rasakan sendiri.

“Dengar Olivia, kamu bahkan belum pernah bertemu dengannya, jangan menilai orang sesukamu, jangan bertanya lagi dan jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Paman sedang buru-buru.”

Sebelum Olivia sempat protes dan mengomel lagi, Seungjae sudah berkata lebih dulu. “Hari ini pak Taehyun tidak bisa menjemputmu karena sakit, mangkanya paman kesini.” penjelasan singkat tersebut sudah menerangkan mengapa di tengah jadwalnya yang padat terpaksa ia sempatkan untuk menjemput Olivia karena supir yang biasa menjemputnya tidak datang.

“Lalu setelah ini paman akan pergi lagi?”

“Ya. Masih banyak urusan.” Seungjae menjawab singkat membuat Olivia seketika terlihat kecewa. Padahal ia pikir pamannya itu akan meluangkan waktu untuknya. Dari kursi di sebelah kemudi, Olivia diam-diam memerhatikan pamannya. Ia jarang sekali menghabiskan waktu dengan pamannya itu walaupun mereka sudah tinggal bersama sejak dulu. Walaupun menurutnya selama ini Seungjae kadang bersikap dingin dan galak tapi setidaknya pamannya itulah yang sudah membesarkan dirinya layaknya seorang ayah.

“Besok jika pak Taehyun tidak bisa menjemputku, aku akan naik subway saja. Paman tidak perlu repot menjemputku.” Olivia menyadari bahwa pamannya itu adalah orang yang sibuk, selama ini pamannya lah yang membiayainya, menyekolahkannya, ia mencari uang atas keringatnya sendiri, pamannya sungguh pekerja keras sampai bisa seperti ini. Apalagi usia pamannya tergolong muda untuk seseorang yang telah menanggung kehidupan seorang anak remaja perempuan, walaupun tidak lagi semuda seperti laki-laki yang menari di televisi yang diidolakan banyak gadis remaja.

Seungjae yang tadi sedang fokus menyetir menoleh ke arah Olivia yang menghadap jendela memerhatikan jalanan di luar kaca. “Tidak apa-apa. Kamu anak perempuan paman, paman akan tetap menjemputmu kemana pun itu.”

“Tapi paman pasti seharusnya sedang berada di kantor, dan aku juga sudah besar. Aku bisa belajar pulang sendiri.” Olivia mulai memerhatikan pamannya lagi. “Aku tidak ingin membuat paman jadi berkeringat dan terburu-buru seperti tadi. Paman sudah banyak berjuang untukku. Aku pasti beban bagi paman.”

Seungjae tidak pernah menyangka Olivia tiba-tiba berkata seperti ini. Entah habis bermimpi apa tapi tidak bisa ia pungkiri bahwa ia terkejut mendengar Olivia berkata begitu. Selama ini hubungan dirinya dan Olivia tidak pernah benar-benar membahas tentang peran masing-masing. Mereka berdua malah lebih sering bertengkar karena saling tidak mau mengalah. Olivia suka semaunya dan Seungjae suka menegur dan memarahi. Sejauh ini mereka tidak pernah seperti ini.

“Kamu bukan beban bagi paman, bagi paman kamu adalah anak perempuan paman, malah paman yang belum bisa menjadi sosok yang dapat menggantikan seorang ayah dan ibu bagimu. Paman belum bisa berada di sampingmu setiap saat, paman sering meninggalkanmu seorang diri untuk bekerja, itu sebabnya paman tetap berusaha memberikan hal yang bisa paman berikan padamu, karena Olivia adalah tanggungjawab paman. Paman akan berusaha keras untukmu. Termasuk urusan sekolahmu, itu menjadi tanggung jawab paman. Paman justru akan sedih jika melepaskanmu sendirian.” sebelah tangannya meraih kepala Olivia dan mengacak pelan rambut keponakannya itu.

Lampu hijau berganti merah, Seungjae meraih tubuh Olivia dan merangkulnya dari tempat duduknya. Mereka tidak berbicara lagi. Hanya menikmati pemandangan dari balik kaca mobil yang menghadap jalan di depan mereka. Langit siang masih cerah walaupun sudah hampir sore. Tanpa perlu terucap dalam kata-kata Seungjae menyayangi Olivia begitupun sebaliknya.

*

Kyuhyun masuk ke dalam ruangan Donghae tanpa basa-basi. Ia tidak pernah tahu bahwa Donghae suka membaca buku catatan kecil tapi akhir-akhir ini Kyuhyun selalu menemukan Donghae sedang membaca buku kecil tersebut. Entah itu hobi baru Donghae atau bukan, Kyuhyun tidak mencari tahu.

Setelah hampir beberapa detik memerhatikan Donghae yang masih tidak bergerak sedikit pun sama sekali tidak menyadari kehadirannya di sana, Kyuhyun berdeham. Donghae pun terlonjak kaget lalu membenarkan posisi kacamata bacanya. “Serius sekali kau membacanya.” Kyuhyun yakin itu bukan buku tentang medis. Bukan juga sebuah novel apalagi sebuah kitab. “Sedang buat puisi kau?” Kyuhyun tertawa ringan memerhatikan Donghae yang salah tingkah segera menutup buku dan langsung menyimpannya ke sebuah tempat di sekitar mejanya.

Donghae mendongak dan mulai berbicara. “Sejak kapan kau berdiri disana?” ia berujar mengerutkan kening sambil melepas kacamata. Ia benar-benar tidak tahu kalau Kyuhyun berada di sana karena ia terlalu sibuk dengan bukunya.

Tanpa menghiraukan Donghae yang sedang membereskan meja kerjanya, Kyuhyun mengendikkan bahu. “Belum lama. Mau ke kafetaria?”

Mendengar itu Donghae memutar bola matanya. “Aku sudah muak dengan makanan disana,” kali ini ia menegakkan tubuhnya dan mulai memijat tengkuknya. “Aku mau makan di luar saja.” lanjutnya beranjak berdiri. Tidak biasa-biasanya Donghae berkata seperti itu membuat Kyuhyun segera melemparkannya dengan sebuah kertas yang diremas namun belum sempat terkena Donghae sudah keburu menangkisnya.

“Memangnya ada yang mau pergi makan bersamamu?” Kyuhyun berkata sinis yang dibalas dengan wajah meledek dari Donghae. “Jangan remehkan aku.” ujar Donghae tidak terima.

Kyuhyun sudah tidak memerhatikan jawaban terakhir Donghae yang lebih dulu berpaling pergi sambil melambaikan tangannya dengan acuh. Entah kerasukan setan apa Donghae tiba-tiba seperti itu. Kyuhyun tidak mengerti lagi.

*

“Kau lihat buku milikku?” Jung Sila menghampirinya yang sedang makan seorang diri di sebuah meja di sudut kafetaria. Kyuhyun memastikan bahwa Sila benar-benar berbicara padanya setelah melirik sebelahnya tidak ada orang lain selain dirinya.

“Buku seperti apa?” diam-diam Kyuhyun memerhatikan Sila yang sedang terlihat panik. Poninya terlihat sedikit berantakan tapi rambutnya yang dibiarkan terurai masih tetap rapi.

Sebelum fantasinya semakin tidak terkendali Kyuhyun kembali tersadar ketika Sila mulai berbicara kembali. “Buku catatan, tidak besar, sampulnya polos dan berwarna abu-abu muda. Apa kau pernah melihatnya, Kyuhyun-ssi?” Kyuhyun berdeham menghilangkan pikiran alam bawah sadarnya. Ia mulai mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat. “Buku?” Kyuhyun mulai teringat akan Donghae yang berkutat dengan sebuah buku kecil sampai tidak menyadari dirinya.

“Seperti pernah lihat.” kali ini Kyuhyun menatap Sila dengan cukup yakin. “Nanti akan aku kabari lagi.” Sila seketika tersenyum lebar. Ia segera mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi.

Setelah malam dimana Kyuhyun mengajak Sila makan malam, ia belum pernah bertemu Sila kembali. Sejak malam itu ia agak sibuk. Seharusnya tadi ia bisa berbincang lebih lama dengan Sila bukannya malah membiarkannya pergi.

Kyuhyun segera meninggalkan makanannya yang masih tinggal separuh dan beranjak pergi dari sana. Ia ingin kembali menemui Donghae. Kali ini ia harus tahu buku itu milik siapa. Walaupun awalnya ia sama sekali tidak peduli tentang buku itu, namun kali ini ia ingin tahu.

*

Setelah mengingat-ingat bahwa hari ini Olivia baru akan pulang setelah mengikuti kelas di akademi bimbingan belajar, Seungjae memutuskan untuk menelepon Eunra, jam pulang kantor sudah tiba, ia masih mempunyai waktu untuk pergi, setidaknya sebelum Olivia pulang. Entah mengapa ia merasa harus mengetahui keberadaan wanita itu.

Jangan sampai Eunra berbuat tindakan bodoh demi seorang laki-laki bernama Kang Jihyun. “Sedang dimana?” tanyanya langsung tanpa berbasa-basi saat Eunra mengangkat teleponnya.

“Tidak kemana-mana.” Seungjae mulai dapat merasakan suara Eunra yang serak seperti baru saja menangis tapi berpura-pura tidak mengetahuinya dan berusaha terdengar biasa. “Ada restoran bagus di dekat kantorku, kau harus mencobanya.”

*

Seungjae diam-diam memerhatikan setiap suapan Eunra. Saat mengajaknya makan di luar, Eunra sempat menolak namun Seungjae tetap berhasil membawa gadis itu pergi keluar dari apartemennya. Dari cara makannya, terlihat sekali pasti ia belum makan entah sejak kapan, Seungjae tidak yakin. Pria itu pasti benar-benar sudah merasuki pikiran Eunra sampai-sampai membuat gadis itu tersiksa. Entah bagaimana sebenarnya pria itu, Seungjae tidak habis pikir. Pria seperti apa yang sudah membuat Eunra sampai begitu jatuh hati.

“Kamu pasti masih memikirkan dia kan?” tanya Seungjae dengan nada biasa seolah pertanyaan itu bukan apa-apa saat Eunra sudah menghabiskan makan malamnya. Eunra tidak segera menjawab dan terlihat meneguk minumannya dengan tenang. Entah dia berusaha menyembunyikan yang sebenarnya dari Seungjae atau bagaimana, Seungjae tidak bisa tahu.

“Tidak peduli kamu masih memikirkannya atau malah masih mencintainya, aku tidak tahu, itu hakmu, tapi yang jelas, dari segi pandangku, dia bukan lelaki yang baik.”

“Kamu tidak perlu menanggapi semua perkataanku, tapi cukup pikirkan saja. Aku tidak bermaksud menyakitkanmu, hanya mencegah kamu terluka lebih parah.”

Seungjae menatap Eunra tepat dimatanya. “Kalian sudah lama berpisah, hubungan kalian sudah lama selesai dan berakhir. Tidak ada gunanya kamu berusaha untuk kembali kepadanya hanya untuk meminta cintanya lagi. Dia mungkin sudah lama melupakanmu dari kehidupannya, atau mungkin sudah memiliki cinta yang baru,” Seungjae sudah memikirkan hal ini matang-matang sebelum mengatakannya pada Eunra, “Aku tahu ini pasti sulit bagimu, tapi kamu pantas untuk terlepas darinya dan memikirkan dirimu sendiri untuk bahagia tanpa dirinya.”

*

“Kyuhyun!” Donghae memanggil Kyuhyun yang sedang berjalan ke ruangannya. Donghae terlihat sedang menutup pintu ruangannya entah akan pergi kemana. “Aku tadi baru akan mencarimu.” belum Kyuhyun bertanya Donghae sudah memberitahu.

“Yang beberapa hari lalu, saat kau pinjam mobilku, kau kemana sebenarnya?” Donghae berbicara dengan cepat, bahkan Kyuhyun belum berkata sepatah kata dari tadi. “Oh itu, kenapa memangnya?”

“Kau mengisi bensinku sampai full ya?”

Kyuhyun berusaha mengingat-ingat. “Mungkin iya.”

Kali ini Donghae terlihat sumringah. “Aku jadi tidak enak, waktu itu sudah hampir habis. Lain kali tidak perlu sampai penuh, seperlumu saja. Tapi terima kasih.” Donghae terkekek pelan kemudian melanjutkan membereskan mejanya kembali.

Tanpa sadar Kyuhyun menghela napas lega. Ia kira Donghae akan bertanya macam-macam seperti biasanya, pergi bersama siapa dan kemana. Ia tidak tahu harus menjawab apa jika seandainya Donghae benar-benar bertanya seperti itu.

“Kau jadi makan diluar?” Kyuhyun bertanya pada Donghae yang sekarang terlihat sudah siap pergi. Donghae bergeleng cepat. “Aku mau langsung pulang, kepalaku sakit.”

Mendengarnya Kyuhyun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Ya sudah pulang saja.” Donghae menepuk bahu Kyuhyun singkat dan segera pergi meninggalkannya. Kyuhyun yang tadinya baru akan bertanya tentang buku milik Sila tiba-tiba mengurungkan niatnya ketika tahu bahwa Donghae sedang sakit.

*

Setelah Donghae pergi pulang Kyuhyun memutuskan untuk pergi mengecek keadaan Hyunjung walaupun bukan waktunya untuk berkunjung. Entah mengapa akhir-akhir ini ia selalu saja pergi menemui Hyunjung padahal bukan mengenai masalah penyakitnya. Hanya menemani gadis itu berbincang ringan dan menemaninya sampai tertidur. Kyuhyun menanggap itu perlu untuk Hyunjung agar gadis itu merasa memiliki seorang teman. Selama ini gadis itu hanya seorang diri walaupun memiliki beberapa orang penjaga di luar pintu kamarnya tapi di dalam sana gadis itu merasa kesepian. Hyunjung jelas butuh seorang teman.

Malam baru saja tiba dan Kyuhyun baru saja membuka pintu kamar Hyunjung. Tepat saat itu Hyunjung segera tersenyum ke arahnya. “Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

“Masih seperti pagi tadi.” Kyuhyun tidak segera menjawab hanya mengacak lembut rambut Hyunjung. Senyuman Hyunjung yang hangat membuat Kyuhyun semakin tidak tega meninggalkan gadis itu seorang diri.

Tanpa Kyuhyun dapat menolak, Hyunjung meraih tangan Kyuhyun yang tengah duduk di tepi tempat tidur. “Aku ingin sekali memiliki kekasih yang seperti dokter Cho.” ujarnya lemah membuat Kyuhyun hanya membiarkan Hyunjung masih menggenggam tangannya.

“Seseorang sepertiku tidak pantas diinginkan oleh seorang gadis sepertimu.” Kyuhyun merasa ia adalah seorang yang buruk untuk seseorang seperti Hyunjung. “Kau satu-satunya orang yang saat ini masih perhatian padaku, kau bahkan lebih perhatian dari ayahku sendiri.”

“Ini pekerjaanku, Hyunjung, tidak ada alasan lain selain aku bekerja untuk pasienku.” Hyunjung bergeleng. “Apa buktinya? Dokter lain pun tidak disini. Ini bukan jam kunjungan dokter.”

Kyuhyun tidak ingin memperpanjang hal itu dan berusaha mengalihkannya, “Sulit dipercaya jika gadis sepertimu tidak memiliki seorang kekasih. Kau gadis yang cantik, pasti banyak yang menginginkanmu.” Hyunjung menggelengkan kepalanya lagi kali ini. “Sebelum ini aku memang memiliki seorang kekasih, tapi kemudian ia tidak pernah datang lagi, yang lainnya pun begitu, ia menganggapku tidak berguna dan hanyalah seorang gadis penyakitan.” tanpa disadari air mata Hyunjung mulai berlinang membuat Kyuhyun refleks menghapusnya.

“Boleh aku meminta sesuatu?” Hyunjung berkata dengan suaranya yang serak. “Tentu.”

“Jangan katakan apapun dan jangan lakukan apapun,” Hyunjung masih menatap Kyuhyun yang sedang mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan permintaan Hyunjung pada dirinya. “Hanya sampai lima menit ke depan.” sambung Hyunjung terdengar memohon berusaha menyakinkan.

Sebelum sempat Kyuhyun menjawab kalimat terakhir Hyunjung, tanpa dapat Kyuhyun duga gadis itu segera mendekatkan dirinya pada Kyuhyun dan detik berikutnya mulai menyapukan bibirnya yang pucat dan kering karena terlalu sering mengonsumsi obat pada bibir Kyuhyun yang sehat.

Seperti permintaan Hyunjung tadi, semula ia ingin seketika menjauhkan bahu gadis itu ketika menciumnya, tapi tidak jadi ia lakukan. Ia sudah terlanjur mengiyakan permintaan Hyunjung untuk tidak berbicara ataupun tidak melakukan apapun. Setidaknya untuk kali ini ia menikmati apa yang Hyunjung dahului dan mulai memejamkan matanya.

*

“Tidak jadi ke dokter, pak?” Sooran mulai angkat bicara setelah memerhatikan Seungjae yang tampak gelisah di meja kerjanya. Sekitar lima menit lalu Seungjae menyuruhnya kemari tanpa berkata apa-apa lagi dan sampai saat ini masih belum mengatakan apapun hanya sibuk mengetukkan jarinya sambil bolak-balik memerhatikan komputer dan ponsel bergantian.

“Kalau seseorang pergi menemui mantan pacarnya kembali setelah lama putus, apa artinya?” ekspresi wajahnya tetap tidak berubah seperti biasa.

“Hah?” justru Sooran yang terlihat konyol merasa salah dengar dengan pertanyaan Seungjae barusan yang mendadak menanyakan hal yang tidak biasanya ia tanyakan di kantor. “Mantan pacar?” ulangnya meyakinkan.

“Iya, menurutmu apa artinya?” Seungjae masih berusaha bersabar walaupun terlihat gusar. Sungguh bukan seperti sosok Seungjae pada biasanya. Ia terkenal sangat profesional diantara semua karyawan, tapi tidak lagi kali ini.

“Mungkin masih cinta? Ingin balikan?” Sooran refleks menjawab tanpa berpikir panjang karena ia pun tidak mengerti arah pembicaraan Seungjae. Ia tidak pernah menyangka Seungjae akan bertanya hal semacam itu di jam bekerja. Hal itu membuat Sooran dalam hati berpikir mungkin tamu wanita yang datang beberapa hari lalu pasti adalah mantan pacar bosnya ini.

Seungjae menarik napas panjang sebelum akhirnya menyuruh Sooran kembali ke meja kerjanya. Sooran hanya segera beranjak pergi tanpa bertanya apapun lagi.

*

Belum lama setelah mendapat kabar dari bengkel tempat mobilnnya diperbaiki, Kyuhyun segera bersiap-siap. Mobilnya sudah selesai dan siap untuk diantarkan kepadanya, Kyuhyun sudah menunggu saat ini tiba sejak lama, terakhir kali memakai mobilnya sendiri adalah tepat sebelum meminjamkannya pada Donghae dan akhirnya tidak sengaja ditabrakkan oleh sahabatnya itu. Tapi yang terpenting mulai besok ia sudah bisa memakainya kembali dan pembayaran perbaikan mobilnya juga sudah lama ia lunaskan, tidak ada yang perlu dipikirkan selain ciuman Hyunjung kemarin malam.

Sejak kemarin ia belum menemui Hyunjung lagi, pagi tadi Jihyun yang mengeceknya, walaupun Jihyun sempat menawarinya untuk pergi bersama ke sana, tapi Kyuhyun menolak, masih ada urusan ujarnya pada Jihyun pagi tadi. Jihyun tidak bertanya macam-macam dan akhirnya pergi seorang diri mengecek keadaan Hyunjung.

Seperti Hyunjung, Kyuhyun tidak menemui Donghae sejak kemarin. Entah dimana keberadaan Donghae, Kyuhyun sama sekali belum menemukannya. Padahal biasanya Donghae selalu mudah ia temukan di rumah sakit, entah tidak sengaja bertemu di lift atau di lobi, yang jelas ia biasanya selalu bertemu Donghae.

Sebelum pergi ke lobi rumah sakit untuk menunggu mobilnya, Kyuhyun melewati ruangan Donghae yang ternyata tidak ada orang. Donghae tidak sedang berada di sana. Mungkin sedang menemui pasien, atau bisa jadi sedang bersama wanita. Kebiasaan buruk Donghae mungkin belum sepenuhnya hilang.

*

“Aku tahu sebenarnya buku yang biasa kau pegang-pegang itu bukan milikmu, punya Jung Sila, kan?”

Donghae yang tadi sedang sibuk meneliti mobil Kyuhyun dengan serius kini segera melirik Kyuhyun tidak percaya. “Darimana kau tahu?” tatapannya kini terlihat menyelidik dengan curiga.

“Jangan-jangan kau suka dia ya.” timpal Kyuhyun tanpa menghiraukan ekspresi terkejut Donghae saat ia menanyakan buku itu. Mendengarnya membuat segera Donghae menghembuskan napasnya panjang.

“Begini, sebenarnya, baiklah aku akui sekarang, aku tertarik padanya, entah sejak kapan, aku memang belum pernah memberitahumu tentang itu.” Kyuhyun yang tadi mencoba bersikap acuh tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Ia benar-benar tidak pernah menyangka Donghae menyukai Sila yang sempat ia ajak pergi berkencan sekali malam itu.

*

Suara berdering dari telepon yang memekakkan telinga membuat Sooran terkejut saat sedang mengerjakan tugas kantornya. Sooran mengangkat gagang telepon dan dengan mudah langsung dapat mengetahui siapa yang meneleponnya.

Tanpa berbasa-basi Seungjae segera bertanya apakah lusa nanti dirinya mempunyai jadwal untuk rapat atau tidak. Sooran yang juga tidak hapal harus membuka agenda yang dibuat olehnya terlebih dahulu. “Hanya ada satu di pagi hari. Setelah itu tidak ada lagi.” ujar Sooran memastikan.

Tidak lama Seungjae segera memutus sambungan telepon membuat Sooran kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang ia tulis dalam buku agendanya. Rasa penasarannya membuat ia segera membuka agenda itu lagi dan mulai memeriksanya dengan teliti.

Sooran menemukan tulisan tangannya di salah satu kolom tanggal bahwa besok keponakan bosnya itu akan berulangtahun. Pantas saja ia merasa ada sesuatu yang terlewatkan di tanggal itu.

Sejak bosnya itu memperkenalkannya pada Olivia, ia merasa sangat cocok dengan keponakan bosnya itu. Entah itu karena Olivia memang merupakan gadis yang menyenangkan bagi Sooran, yang jelas Olivia sudah seperti adik bagi Sooran yang tidak memiliki adik perempuan dan Olivia pun menganggap Sooran sebaliknya karena ia juga kadang merasa kesepian sering ditinggal pamannya bepergian.

*

“Pak, ada yang kurang untuk besok,” Sooran memanggil Seungjae yang baru saja berjalan melewati mejanya terlihat seperti sedang berusaha menghubungi seseorang dari telepon genggam miliknya. Seungjae masih berdiri disana sambil menunggu Sooran melanjutkan kalimatnya. “Meeting lagi?” lewat ekspresi wajahnya yang tengah gusar, terlihat jelas ia sedang tidak dalam suasana hati yang baik.

Sooran bergeleng. “Ulang tahun Olivia.” ujarnya mengingatkan. Saat itu juga Seungjae baru teringat dengan Olivia yang akan berulangtahun dalam waktu dekat.

Wajahnya yang tadi terlihat sedang kusut kini justru berubah panik. “Setelah pulang kerja ini kamu mau kemana, Sooran?” tanya Seungjae dengan tiba-tiba pada Sooran yang terlihat sudah bersiap pergi pulang. Sooran menjawab apa adanya bahwa ia mungkin hanya akan mampir sebentar ke kedai makan untuk beli makan malam sebelum ke rumah.

Dengan cepat Seungjae mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan segera menyerahkannya pada Sooran. “Kalau begitu, tolong sekalian belikan kado untuk Olivia. Saya sudah terlanjur ada janji malam ini, mungkin tidak akan sempat membelikan Olivia sesuatu.”

Entah mengapa saat itu juga ada rasa kecewa yang muncul. “Lalu saya harus belikan apa?” tanyanya dengan setengah hati.

“Terserah, kamu pilihkan untuk Olivia, kalian kan sama-sama perempuan. Sudah ya, saya buru-buru.” Seungjae melihat jam tangannya dan segera pergi berlalu meninggalkan Sooran.

Tepat setelah Seungjae pergi, Sooran menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. Ia menghela napasnya panjang tanpa bisa menyembunyikan raut wajah cemberutnya. Ia kira Seungjae akan mengajaknya pergi mencari kado bersama dan mereka akan makan malam bersama. Namun yang terjadi justru sebaliknya, itu hanya akan terjadi dalam alam fantasinya saja.

Sooran masih memandangi kartu yang diberikan Seungjae padanya mencoba untuk tidak memaki Seungjae dalam hati. Sudah hampir lima menit ia masih belum juga beranjak dari tempat duduknya sampai akhirnya ponsel dari dalam tasnya bergetar.

“Halo?” Sooran menjawab dengan malas tanpa tahu siapa yang meneleponnya.

“Kalau nanti kamu mau makan malam, pakai kartu itu saja, tidak perlu pakai pin.” Seungjae yang meneleponnya terdengar santai dari sana. Sooran menyahut seadanya sebelum akhirnya ia segera mengakhiri sambungan dan mematikan ponselnya. Ia sedang tidak ingin diganggu lagi walaupun Seungjae mungkin masih perlu bicara. “Nanti kabari saya.” Sooran tidak menyahut.

Dengan langkah kaki yang dipaksakan akhirnya ia berhasil beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan kantor seperti karyawan lainnya. Saat sedang berdiri menunggu lift, tanpa ada apa-apa ia tiba-tiba merasa penasaran dengan siapa bosnya itu pergi, seberapa penting kah seseorang itu sampai tidak bisa membeli kado sendiri dan malah menyuruh dirinya, jangan-jangan pergi dengan pacarnya.

Entah mengapa rasa tidak rela sesaat memenuhi hatinya, tapi sebelum terasa semakin menyiksa segera ia sangkal, tidak mungkin ia cemburu pada seseorang yang tidak ia kenal. Apalagi dirinya tidak berhak merasa begitu, Seungjae seorang pimpinan perusahaan sedangkan ia hanyalah seorang yang bekerja di sana. Tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang berusaha untuk membela diri, bagaimanapun Seungae setidaknya harus berusaha menjaga perasaannya.

Meski berat hati Sooran akhirnya keluar dari gedung kantor dan memutuskan untuk membeli kado di pusat perbelanjaan tidak jauh dari sana karena dengan begitu dirinya bisa cepat segera pulang.

*

Eunra melirik dengan malas ponselnya yang berbunyi, alih-alih mengangkatnya, seketika ia mematikan ponsel ketika melihat layar ponselnya menampilkan sebuah panggilan masuk dari seseorang yang tampaknya mencoba menghubunginya entah sudah berapa kali sejak terakhir kali mereka bertemu. Seungjae tampaknya masih belum menyerah untuk berbicara dengannya, Eunra tersenyum masam, berusaha mengabaikan.

Ia tidak peduli sudah berapa kali Seungjae mencoba menghubunginya, ia tidak akan mengangkat, tetap tidak, sampai ia berhasil berbicara pada Jihyun. Seungjae jelas sama sekali tidak mengetahui hatinya, tidak sama sekali paham bagaimana ia sangat merindukan Jihyun, Seungjae benar-benar tidak tahu seberapa besar ia ingin kembali ke dalam pelukan Jihyun yang dahulu memeluknya erat.

Kini ia kembali fokus mengemudikan mobilnya setelah benda tipis itu sudah tidak menganggunya lagi. Seungjae yang tidak berhenti menghubungi selama beberapa hari terakhir ini sementara ia terus menghindar dari semua panggilan Seungjae, ia menganggap Seungjae pantas untuk itu, setelah kata-katanya yang melukai hatinya terhadap kekasih hatinya, karena bagi Eunra, Jihyun masih dihatinya.

Eunra menambah laju mobilnya, berharap yang ia nantikan akan berbalas. Jihyun tidak bersalah, dirinya lah yang menyia-nyiakan cinta Jihyun yang dahulu hanya untuk dirinya, walaupun sudah begitu terlambat, ia akan berusaha memperbaiki semuanya.

*

Seketika itu Jihyun mengumpat keras dalam hati ketika mobil di depannya mendadak berhenti. Yang benar saja, ia hampir saja menabrak mobil sedan audi keluaran terbaru tahun ini, jika tadi ia tidak sempat buru-buru menginjak rem dalam-dalam. Dengan masih kesulitan bernapas, ia menghela napas keras. Ia hampir saja membuang uang gajinya bulan ini hanya untuk mengganti mobil itu, jika tadi ia menabraknya dengan mobil manualnya ini.

Sambil menunggu mobil yang tadi hampir ia tabrak itu bergerak, ia mulai mencuri pandang pada seseorang yang berada di balik kemudi mobil tersebut. Ia menengadah memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang menghalangi mobil itu untuk bergerak, lantas mengapa tidak segera pergi.

Satu kali klakson pelan, mobil di depan masih kunjung tidak bergerak. Demi tuhan, ia tidak bisa pergi kemana-mana jika mobil mahal itu tidak pergi, Jihyun mulai tidak mengerti. Ia menengok ke belakang, tidak ada mobil lain yang menunggu, hanya ia sendiri. Jelas ini bukan waktu banyak orang berlalu-lalang.

Dengan penasaran bercampur kesal, Jihyun mulai melepaskan seatbelt-nya kemudian memutuskan untuk turun dari mobil dan mulai menghampiri kendaraan yang berhenti sembarangan yang dengan seenaknya menghalangi jalan keluar mobilnya. Ini sudah tengah malam dan ia butuh segera pulang dari rumah sakit karena ia yakin Yeonhee pasti sudah menunggunya.

“Ada masalah dengan mobil ini?” Jihyun mengetuk kaca jendela pengemudi berusaha untuk tetap terlihat sopan, bagaimana pun ia bekerja disini. Dilihatnya dari balik kaca, mobil mahal ini dikendarai oleh seorang perempuan.

Kaca jendela yang tampak gelap perlahan mulai diturunkan, perlahan pula Jihyun dapat langsung mengenali siapa yang berada didalamnya. Tanpa ada kata-kata dapat terucap, dadanya berdegup kencang.

“Ya, ada.” jawab wanita itu cepat seraya menoleh ke arah Jihyun yang masih disana. “Tapi kamu tetap tidak akan membantu, bukan?” Eunra tersenyum frustasi, tidak peduli bahwa Jihyun dapat melihat air matanya yang berlinang bercampur dengan warna kehitaman dari sisa warna eyeliner yang pudar terusap. Dari balik jendela mobilnya yang terbuka, tangan Eunra berusaha menggapai Jihyun ingin sekali menyentuh wajahnya yang sedang berada tepat di sisi luar kaca mobilnya, namun belum sempat ia meraih Jihyun, kepalanya terasa berat dan menjatuhkan kepalanya tanpa ia sadari ke kemudi mobil.

Jihyun melihat keadaan Eunra yang kacau di balik kemudi mobil. Botol wine yang tinggal separuh kosong tergeletak di jok samping. Sudah sangat jelas Eunra mengemudi dalam keadaan mabuk berat. Jihyun sontak menjadi panik tanpa tahu alasan mengapa Eunra bisa berada disini dalam keadaan yang sungguh tidak biasa.

Tanpa bisa berpikir jernih, Jihyun yang menyadari dengan jelas bahwa Eunra yang sedang dalam pengaruh alkohol segera membantu Eunra yang masih berada di balik kemudi agar pindah ke jok sebelah dan kemudian mengambil alih kemudi untuk menepikan mobil sebelum akhirnya ia meninggalkan Eunra sesaat untuk memarkirkan mobilnya sendiri ke parkiran kosong terdekat dan segera kembali ke mobil Eunra.

Dengan mesin mobil masih terus menyala, Jihyun memerhatikan Eunra yang duduk bersandar ke kaca jendela dan dengan hati-hati membenarkan posisi kepala Eunra agar bersandar pada sandaran kepala di jok mobil. Tanpa tahu siapa yang harus dihubungi sedangkan malam semakin larut, sementara Yeonhee berada di rumah, ia tidak mungkin membawa Eunra ke tempatnya. Jihyun membuat keputusan dengan cepat dan segera membawa mobil keluar dari rumah sakit itu.

Sungguh tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Eunra akan pergi ke tempatnya bekerja dalam keadaan seperti ini. Entah apa yang berada dipikiran Eunra, Jihyun tidak dapat menebak.

Sementara Jihyun masih terus mengemudikan mobil tersebut, Eunra masih tetap bergeming. Jihyun sama sekali tidak tahu dimana Eunra tinggal, dimana ia bekerja sekarang, dengan siapa ia tinggal, sungguh dirinya tidak pernah tahu semenjak mereka berpisah, ia hanya sibuk untuk melupakan semua tentang Eunra dari kehidupannya.

*

“Oppa darimana saja?” Yeonhee menutup pintu kulkas sambil memerhatikan kakaknya yang baru saja datang lewat tengah malam sedang melepaskan sepatunya.

Jihyun secepat yang ia bisa segera berusaha menyembunyikan wajah lelahnya ketika mengetahui Yeonhee berada disana dan segera menghampiri Yeonhee yang masih memegang gelas. “Belum tidur?” sapanya terdengar ramah.

Hanya gelengan singkat tanpa berkata apapun, pusat perhatian Yeonhee segera teralihkan oleh wajah kelelahan kakaknya langsung melupakan mengapa kakaknya itu baru datang. “Oppa mau?” pertanyaan itu keluar begitu saja, menawarkan susu dinginnya kepada Jihyun seolah tidak ingin menghujani Jihyun dengan pertanyaan-pertanyaan mengintrogasi, ia tahu kakak laki-lakinya itu bukanlah anak kecil, kakaknya adalah laki-laki dewasa yang pasti mempunyai kehidupan pribadi sendiri.

Bagi Jihyun malam ini bukanlah kali pertamanya pulang lewat tengah malam seperti ini, bedanya Yeonhee tidak pernah memergoki secara langsung kedatangannya, entah sudah tidur atau mungkin masih belajar di dalam kamarnya sendiri, itulah yang biasanya terjadi selama ini.

Jihyun menarik ujung bibirnya dan menggapai gelas berisi susu dingin tawaran dari Yeonhee. Walaupun hampir tidak pernah terjadi sebelumnya, kali ini Jihyun mencoba bersikap menjadi seorang kakak laki-laki yang sebagaimana mestinya yang mungkin sudah diharapkan oleh adiknya sejak lama.

“Bagaimana sekolah? Tugasnya pasti semakin menyulitkan ya?” tanyanya setelah meneguk habis sisa susu dalam gelas dan meletakkannya ke dalam tempat pencuci piring. Tebakan Jihyun mungkin ada benarnya terlihat dari bagaimana Yeonhee menghela napasnya sambil tersenyum masam. “Yaa.. Begitulah.”

“Perlu oppa bantu? Oppa ini dahulu juara kelas.” Yeonhee menggerakkan kedua tangannya di udara menginsyaratkan agar kakaknya tidak perlu melakukan itu. Walaupun memang benar bahwa kakaknya itu memang seorang yang sangat pintar sejak saat masih sekolah. Tidak heran ia dapat menjadi seperti sekarang, bekerja di rumah sakit paling terkenal di kota ini dengan reputasinya yang bagus dikalangan pasiennya.

Pulang larut malam dan jarang berada dirumah ataupun sebagian besar waktunya dihabiskan dengan berada di rumah sakit menjadi konsekuensi yang tidak dapat dihindari oleh kakaknya, Yeonhee harus merelakan semua waktu yang tidak pernah ia gunakan bersama Jihyun. Ia tidak bisa menuntut Jihyun untuk tetap meluangkan waktu untuknya sepulang Jihyun dari rumah sakit yang sudah larut malam dengan kondisi Jihyun yang pasti sudah lelah setelah seharian bekerja.

“Oppa sebaiknya istirahat saja, aku akan menyelesaikan tugasku sendiri.” Yeonhee berkata setelah Jihyun selesai mencuci gelasnya. “Jangan tidur telalu larut, Yeonhee.” hanya ucapan selamat malam kemudian dapat terucap oleh Jihyun setelah kejadian yang terjadi di rumah sakit tadi membuat pikiran dan hatinya tidak karuan.

*

Dengan kepalanya masih berdenyut sakit Jihyun melepaskan jam tangannya, tidak ada waktu untuk melepaskan seluruh pakaiannya maupun untuk mengecek ponselnya sebelum akhirnya ia benar-benar dapat pergi tidur.

Eunra yang samar-samar masih berada dalam pikirannya tidak dapat begitu saja ia hilangkan dan lupakan dalam sekejap mata. Pikirannya masih terganggu oleh bagaimana Eunra yang masih dalam keadaan mabuk mencoba menggapainya ketika ia hendak pergi meninggalkan kamar hotel.

Tidak satupun dari mereka yang tahu apa yang akan terjadi esok pagi, jika dirinya memutuskan untuk tinggal. Jihyun mengakui bahwa Eunra yang mungkin juga merindukan dirinya memang begitu menggoda dan dirinya yang hanya dengan naluri seorang laki-laki biasa pasti akan luluh dengan mudahnya. Sebelum semua pikiran liarnya sebagai seorang pria dan seorang yang dahulu saling mencintai menguasai dirinya, ia memutuskan pergi. Terlebih tidak ada yang menyadari bahwa sehelai dasinya terlepas ketika Eunra menariknya dan tertinggal begitu saja ketika mereka bercumbu.

*

Sooran yang sedang bersiap pergi ke kantor masih tidak dapat meluruskan pikirannya sejak semalam ia tidak bisa tidur. Sebelum akhirnya benar-benar mengutuk Seungjae, yang kemungkinan besar semalam pergi bersama kekasihya sedangkan dirinya disuruh untuk membelikan kado untuk keponakannya yang hari ini berulangtahun, tanpa sadar ponselnya berdenting, panggilan masuk dari Seungjae. Tidak sampai banyak detik terbuang, Sooran mengangkat dengan berdebar. “Halo?”

“Nanti letakkan yang kamu beli di jok belakang mobil, minta kuncinya ke satpam. Saya tidak di kantor sampai siang hari, bisa kamu jemput Olivia?” Sooran merasa udara disekitarnya menghilang. Khayalannya dijemput oleh Seungjae dan pergi ke kantor bersama saat itu juga hancur berkeping-keping. Ia kira Seungjae akan menawarinya tumpangan pergi ke kantor.

Sambungan telepon segera terputus beberapa saat setelah ia berkata dua patah kata mengiyakan. Sooran menurunkan ponsel dengan helaan napasnya seperti tidak bernyawa, Seungjae bahkan tidak penasaran tentang apa yang telah ia belikan untuk keponakannya yang sedang berulangtahun.

*

Eunra terbangun dengan kepala yang terasa luar biasa berat. Rasa nyeri berdenyut yang begitu bertubi seakan tanpa ampun menghujani kepalanya. Tanpa dapat mengenali tempat dimana ia terbangun, Eunra mengerjapkan kedua matanya dengan sulit masih tidak dapat mengetahui dimanakah dirinya sedang berada. Tidak ada satupun barang yang ia kenali selain hanya dapat menemukan pantulan dirinya dalam kaca besar yang terdapat di seberang tempat tidur.

Perasaan yang janggal tiba-tiba menghampiri dirinya. Ia mulai dapat tersadar, jelas ini bukan kamar tidurnya. Rasanya begitu asing bagi dirinya yang masih tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi terhadap dirinya, mungkin semalam ia pergi ke diskotik mungkin juga hanya ke bar dan minum terlalu banyak, entah yang mana yang benar, pikirannya berkata demikian.

Eunra masih meraba-raba sekeliling kasur, berusaha menemukan ponselnya dan berharap segera dapat petunjuk tentang apa yang terjadi semalam. Ia hampir tidak pernah merasa sekacau ini sebelumnya. Semabuk apakah dirinya semalam sampai masih tidak dapat merasakan nyawanya. Tidak ada yang dapat ia pikirkan saat ini selain hanya menginginkan kembali ke rumah. Ia merasa seperti tidak berada di dunia.

Tepat di dekat tubuhnya, ketika hendak beranjak secepatnya dari kasur besar tersebut, Eunra menemukan selembar dasi yang terurai bebas. Entah milik siapa, Eunra hanya segera membawa serta dasi tersebut ke dalam tas jinjingnya yang berada di meja kecil di samping ranjang besar yang tampaknya ia sedang berada di sebuah kamar hotel berbintang.

Dengan langkah masih terhuyung, Eunra menyambar tas jinjingnya dan segera beranjak keluar dari kamar menuju lantai dasar dimana ia harus mengembalikan kartu dan bertanya apakah masih ada yang perlu dibayar, memastikan berapa uang yang telah ia bayarkan untuk seharga kamar mewah yang ditidurinya. Ia tidak ingat semahal apa kamar hotel itu karena membayarnya pun ia tidak ingat.

“Maaf, tidak ada tagihan untuk kamar nyonya.” sang resepsionis berujar ramah. Eunra yang sambil melihat nota tagihan yang bernilai mahal semalam telah terbayarkan lunas membuatnya hanya bisa menyipitkan mata dengan menahan rasa mual yang mulai menyerang. Jika benar ia membayar harga tersebut pasti telah sekarang isi dompetnya telah terkuras.

“Semua telah dibayarkan sesuai yang tertera atas nama tuan Kang Jihyun.” seketika itu juga ia terhuyung ke belakang. Nama itu membuat sekitarnya seakan berputar tidak karuan. Membuatnya segera menerka-nerka apa yang sebenarnya telah ia lakukan semalam. Mengapa ada nama Jihyun, bukankah semalam ia hanya pergi ke sebuah kelab malam dan minum terlalu banyak sampai berakhir di sebuah kamar hotel yang tidak ia kenal.

Ia beranjak meninggalkan meja resepsionis dengan setengah berlari. Dalam langkahnya yang seperti mengambang ia berdiri di luar hotel dan sebuah taksi segera menghampirinya. Ia tidak mungkin dapat mengemudikan mobilnya yang masih tidak tahu ia parkirkan dimana, kunci mobilnya masih di dalam tas, pasti ada di basement.

Seiring mobil bergerak menjauhi hotel, Eunra menekan sisi kepalanya yang berdenyut sakit. Dari seluruh rasa pusing dan mual yang menguasai dirinya yang belum sepenuhnya sadar, nama Kang Jihyun masih tidak dapat diterima oleh akal sehat pikirannya. Mengapa kamar hotelnya beratasnamakan Jihun. Bagaimana mungkin nama itu muncul di saat dirinya terbangun di pagi hari dalam sebuah kamar hotel mewah yang asing.

Detik itu pula Eunra segera teringat akan sehelai dasi yang terdapat di kamar hotelnya terurai begitu saja di dekat tubuhnya. Ia mengaduk kembali isi tasnya, dengan cepat tangannya langsung dapat menemukan dasi itu kembali. Ia pikir dasi tersebut hanyalah bagian dari mimpi buruknya belaka, perasaan bergetar seakan menghampirinya. Milik siapakah dasi yang tertinggal ini, dirinya tidak dapat menjawab, tidak akan sanggup berkata jika ternyata adalah milik Jihyun. Apakah semalam Jihyun bersama dengannya?

Dengan masih memegangi kepalanya, Eunra memeriksa kembali ponselnya. Tidak ada satupun hasil percakapan ataupun panggilan dengan Jihyun. Hanya tumpukan panggilan tidak terjawab dari Seungjae yang sedari kemarin memenuhi ponselnya. Mungkin saja nama Kang Jihyun yang tertera dalam bill hotelnya semalam adalah pasangan one night stand-nya yang adalah Kang Jihyun yang berbeda dari yang ia kenal, sisi lain dirinya berusaha menghibur diri sementara akal sehatnya tidak dapat menerimanya, karena sampai saat ini hanya ada satu Kang Jihyun dalam hidupnya.

*

Sooran memarkirkan mobil Seungjae di halaman parkir sekolah Olivia yang besar. Sejak dari kantor, Sooran masih belum menerima kabar apapun dari bosnya itu, padahal pagi tadi Seungjae sempat bilang akan mengabari lagi apa yang harus dilakukannya setelah menjemput Olivia.

Sambil menunggu Olivia, Sooran berusaha menghubungi Seungjae lewat pesan singkat, kemungkinan Seungjae sedang menghadiri rapat. Selama bekerja Sooran sudah mulai paham kalau bosnya itu kadang melupakan hal yang sebenarnya penting seperti sekarang ini. Setidaknya jika Seungjae memang benar lupa tentang ulang tahun Olivia, ia sudah berusaha memberitahunya.

Pergi menjemput Olivia sudah beberapa kali ia lakukan sejak dirinya kadang pergi menemani Olivia sepulang kantor sehingga ia tahu bagaimana hubungan Olivia dan Seungjae, ia tidak ingin kesibukan Seungjae akan melukai Olivia kali ini.

Dalam pesan singkatnya ia menuliskan bahwa hari ini adalah ulangtahun Olivia sehingga ia harap Seungjae menyisihkan sedikit waktunya. Tidak berapa lama kemudian Sooran dapat menghela napas lega ketika mendapatkan pesan jawaban.

Saya masih terjebak dalam meeting. Apa yang bisa dilakukan?

Sooran mengetuk-ketukan jarinya ke kemudi mobil sambil memutar otak. Entah Seungjae sebenarnya lupa atau tidak, atau benar-benar bertanya atau hanya sekedar memberi pernyataan, yang jelas tidak banyak waktu yang dapat digunakan. Namun sebelum sempat Sooran memikirkan apa yang harus dilakukan, ponselnya kembali berdenting pelan.

Bawa dia berkeliling dulu. Saya akan mengusahakannya dalam satu jam, jangan sampai ke apartemen sebelum saya beritahu.

Tepat saat itu Olivia terlihat muncul dari segerombolan siswa berjalan dari arah dalam gedung. Sooran segera menyimpan ponselnya dan melambaikan tangannya pada Olivia yang baru saja berpisah dengan teman-teman sekolahnya.

“Aku pikir onni datang dengan paman.” Olivia masuk ke dalam mobil mengedarkan pandangannya sambil melepaskan tas sekolah. “Hari ini kan hari ulangtahunku, tapi pasti paman sibuk, mangkanya menyuruh onni yang datang.” seperti sudah mengetahui cerita lama Seungjae, Olivia terdengar merajuk.

Mendengar keluhan dalam nada sebal Olivia, Sooran harus meyakinkan bahwa Seungjae kali ini tidak akan melakukan kesalahan tahun-tahun sebelumnya. “Paman Seungjae kali ini benar-benar tidak akan melupakan hari ulangtahunmu. Tidak perlu khawatir. Onni janji.” Sooran tidak tahu bagaimana harus meyakinkan Olivia dengan kata-kata yang mungkin bagi Olivia terdengar sampah.

Olivia tersenyum masam, “Jika benar begitu, seharusnya paman yang datang menjemput, bukan onni.” gadis yang dulu itu kini sudah beranjak dewasa. Sekedar janji tidak dapat membuat Olivia senang. Sooran harus menemukan cara agar memperbaiki hubungan antara paman yang sibuk dengan keponakan yang kesepian ini.

Memperhatikan mobil yang dikendarai oleh Sooran merupakan mobil yang dimiliki oleh pamannya untuk bekerja setiap hari, Olivia segera bertanya, “Ini mobil paman, kenapa onni yang menggunakannya?”

Sooran yang masih terus menyetir menjawab dengan santai seolah itu benar apa yang sedang terjadi, “Tadi paman memang disini, tapi kamu tahu, penyakitnya kambuh, stomach things, dia turun ke klinik terdekat yang kami lewati.” dengan sedikit berbohong Sooran merasa terpaksa melakukannya agar setidaknya Olivia percaya bahwa Seungjae sebenarnya tidak lupa tentang hari ini.

Rasanya sulit bagi Olivia untuk dapat segera mempercayai perkataan sekretaris pamannya itu, bisa saja mereka bersekongkol, walaupun kenyataan bahwa pamannya memang memiliki masalah lambung sejak beberapa tahun lalu tidak dapat begitu saja Olivia abaikan, bagaimana jika seandainya apa yang dikatakan Sooran barusan itu benar. Setidaknya ia berusaha untuk memercayai Sooran walaupun tidak berharap begitu banyak. “Aku tidak tahu kalau paman mau pergi ke klinik.” Olivia terdengar sarkastik.

Tanpa berkata panjang yang dapat membuat Olivia semakin curiga, Sooran hanya berkata singkat, “Ya. Pamanmu sangat kesakitan dengan masalah lambungnya.”

“Biasanya dia rela pingsan hanya karena menunda berobat ke rumah sakit dengan dokter Heo, langganannya di Gangnam.” Olivia masih menatap lurus jalanan dari balik jendela kaca yang telah dipasang pelindung sinar matahari. “Atau setidaknya ia menunggu sekarat baru mau pergi mengunjungi dokter Heo yang mungkin sudah panik.”

Sooran sama sekali tidak tahu soal dokter langganan Seungjae atau hal semacamnya, memang masuk akal untuk seorang pribadi seperti bosnya, tapi entah itu hanya gertakan sambal dari Olivia agar dirinya menyerah dan berhenti membohongi seorang remaja yang hari ini baru saja menginjak empat belas tahun.

Tidak ada yang dapat ia lakukan selain hanya merutuki Seungjae dalam hati. Ini semua jelas salah bosnya itu membuatnya jadi harus terlibat dalam sandiwara tidak jelas hanya untuk menutupi kenyataan bahwa Seungjae memang lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun keponakan kesayangannya itu.

Untung saja Seungjae masih memiliki karyawan semacam dirinya yang dengan berbaik hati mau menolong menyukseskan kejutan untuk Olivia. Setidaknya sebagai sesama perempuan, ia berusaha agar Olivia tidak merasa kecewa karena pamannya yang gila kerja dan terlalu sibuk dengan urusannya dengan perempuan lain, well, Sooran mungkin agak menghakimi, tapi menurutnya Seungjae pantas dikatakan begitu.

*

“Sudahlah onni, kita pulang saja. Paling paman juga nanti balik ke kantor, jika sudah sembuh.” Olivia yang sedari tadi masih duduk manis disampingnya sekarang tampak sudah melipat kedua tangannya dengan cemberut. Setelah ia bawa menelusuri hampir ke seluruh kota dengan alasan tidak ingat dimana terakhir kali pamannya turun untuk berobat sedangkan Seungjae tidak juga kunjung memberi kabar, jika sudah selesai menyiapkan kejutan untuk Olivia. Sooran harus tetap melanjutkan sandiwara ini setidaknya sampai Seungjae mengabari, karena setidaknya Olivia harus tetap tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Mungkin paman tidak benar-benar pergi ke klinik murahan itu, bisa saja ia sedang pergi makan siang di hotel dengan pacar barunya, atau siapalah itu. Dia punya kekasih, kan,” tanpa ada yang berbicara sebelumnya, Olivia tiba-tiba memecahkan keheningan dengan sesuatu yang tidak Sooran duga. “Semua wanita menyukai paman, mereka bahkan rela melepaskan pakaiannya di depan paman demi mendapatkan perhatian.” ocehannya terdengar acuh yang datar seperti tidak tertarik. Wajahnya masih tetap menghadap jendela di sampingnya sibuk memerhatikan jalanan kota yang padat.

Sebelum Olivia berkata hal yang lebih menjadi-jadi tentang pamannya, Sooran harus segera menghentikan. “Sepertinya benar paman memang mungkin sudah pulang sendiri sebaiknya kita tunggu paman Seungjae di rumah saja,” Sooran mengatakan dengan santai tanpa berusaha melirik Olivia yang hari ini untuk pertama kalinya berubah tidak cemberut. “Mau mampir beli makanan dulu?” tawarnya berharap Olivia akan mau menerima ajakannya sehingga ia masih dapat mengulur waktu tanpa ketahuan.

“Tidak. Aku mau makan di rumah.” detik itu Sooran segera terselamatkan oleh bunyi getaran ponselnya. Pesan yang ia nantikan itu akhirnya tiba. Seungjae mengatakan bahwa semuanya sudah selesai sehingga ia bisa segera datang. Setelah membaca pesan Seungjae tanpa membalasnya, Sooran segera menambah kecepatan laju mobil, ia hanya berharap semua ini cepat berlalu.

Hanya butuh beberapa menit untuknya memarkirkan mobil dan segera beranjak keluar sambil menggandeng tangan Olivia menuju flat apartemen mereka di lantai atas. Ia sendiri pun penasaran dengan apa yang kira-kira sudah Seungjae siapkan untuk Olivia, walaupun kenyataannya kadonya masih ia bawa di dalam tas bahunya.

Olivia yang buru-buru memasukkan enam kombinasi angka membuat pintu otomatis tidak terkunci lagi. Dengan membukanya sedikit sambil menjulurkan kepalanya ke dalam yang mana ruangan masih gelap gulita padahal sudah mengira pamannya telah pulang duluan, mungkin ia salah.

Berharap pamannya sudah pulang mungkin kesalahan besar dalam hidupnya, Olivia membuka pintu dengan mendorongnya lebar-lebar. Kali ini, seperi biasanya, ia pasti akan menghabiskan hari ulang tahunnya sendirian lagi. “Onni bisa pergi,” ujarnya acuh tanpa memandangi Sooran yang berjalan mengikutinya di belakang. “Paman pasti belum datang.”

*

Pandangan Olivia kini terlihat tajam bagai menghakimi. Matanya yang terus mengawasi paman Seungjae yang duduk di sofa seberang. Kakinya yang jenjang masih diketuk-ketukan ke lantai sambil terus melipat kedua tangannya. “Jadi paman yang menyiapkan ini semua?” Olivia mulai angkat bicara dengan nada dingin tanpa melepaskan pandangannya pada Seungjae.

Seungjae mengangkat kepalanya. “Ya.” ujarnya tidak kalah datar dengan pandangan lurus ke depan, tampak santai dan tidak bersalah, seperti bukan apa-apa.

“Lalu mengapa paman tidak berada disini saat aku datang dengan semua hiasan konyol ini dan kenapa paman baru saja datang, paman pergi kemana sebenarnya?” Olivia bertanya menyelidik dengan penuh rasa kesal masih memenuhi hatinya. “Jangan-jangan dengan teman wanita paman itu.” kali ini Olivia mengalihkan pandangannya tidak ingin melihat pamannya yang kini balas menatapnya.

“Tadi paman sudah menunggu di sini, tapi sebelum kalian berdua datang, paman dapat telepon dari atasan paman, dia minta paman menemuinya yang sedang berada di sekitar sini sebelum nanti pergi ke bandara.” Seungjae berusaha menjelaskan bahkan Sooran pun tidak tahu mengapa saat dirinya datang bersama Olivia disana tidak ada Seungjae. Hanya dekorasi seperti pita dan balon yang telah terpasang dengan sebuah kue tart bertuliskan happy birthday to my dearest Olivia tanpa ada satu orang pun disana.

“Lalu paman membiarkan aku merasakan pesta buatan paman ini hanya dengan sekretaris paman? Jika seperti ini, oh aku sama sekali tidak menyangka.” Olivia terdengar semakin merajuk tanpa melirik sedikitpun pada Sooran yang masih berada di dekatnya. “Terima kasih sudah membohongiku, aku tidak ingin kau menjemputku lagi.”

“He was my big boss, kind of that, Liv.” tanpa memperdulikan kalimat pamannya yang berusaha menjelaskan, Olivia tidak terlihat mau tahu membuat Seungjae beranjak berdiri mengampiri Olivia yang duduk di sofa, hendak memeluknya, sebelum akhirnya Olivia kabur ke dalam kamarnya sebelum Seungjae bahkan berhasil menggapainya.

Melihat keponakannya itu melarikan diri dari dirinya, Seungjae hanya bisa mengendikkan bahunya menghadap Sooran yang berdiri kikuk di dekat tempat Olivia tadi duduk. “Mana kadonya?” ia bertanya dengan suara sepelan mungkin pada Sooran yang masih belum berpindah tempat.

“Kau belikan apa Olivia semalam?” Seungjae kini bergerak mendekat. Sooran yang tersentak sadar pun mulai kelabakan. Ia mencari-cari sesuatu dalam tasnya dan segera menyerahkannya kepada Seungjae yang menunggu.

“Gelang.” ujarnya singkat. Seungjae menerima kotak tersebut sambil meneliti isinya. Belum satu menit Sooran memberikan kotak tersebut, Seungjae sudah langsung terlihat seperti ada sesuatu yang aneh. Terlihat dari bagaimana ia memegangi dahinya dengan sebelah tangannya masih memegang kotak hadiah berisi gelang berkilau.

“Tahun lalu saya berikan dia gelang mirip seperti ini. Tidak sama persis, tapi sejenis.” ujarnya terlihat putus asa. “Ini salah saya, lupa memberitahu.” Seungjae menutup kotak tersebut kemudian mengangkat kepalanya menatap Sooran.

Dalam pikirannya seolah berkata bahwa ini adalah kesempatan emasnya untuk menghibur Seungjae, setidaknya ia bisa menjadi teman bicara disaat sang pujaan sedang dalam kesulitan. “Kamu bisa pulang, biar saya yang urus Olivia. Terima kasih sudah membantu semuanya.” Sooran dapat melihat Seungjae menarik ujung bibirnya dengan berat. Semua angannya seketika runtuh ketika mendengar Seungjae angkat bicara seperti meremukkan seluruh raganya.

Tanpa sadar ia hampir saja tersedak sendiri. Ia kembali mencoba mencerna apa yang barusan Seungjae katakan padanya. Sibuk memastikan apakah ia hanya sedang salah dengar. Tapi tidak ada bukti bahwa ia telah salah dengar berarti Seungjae benar-benar menyuruhnya untuk pergi. Sooran tersenyum masam. Benar-benar keterlaluan. Dengan rasa seperti ingin memaki bercampur rasanya sedang naik darah, sebelum harga dirinya semakin hancur tercabik-cabik ia segera melangkahkan kaki keluar dari sana meninggalkan seorang paman yang sedang tidak tahu harus berbuat apa dan keponakan yang sedang mengambek di dalam kamar.

Pria tidak tahu terima kasih itu memang pantas dimusuhi oleh keponakannya sendiri dengan segala kesalahan-kesalahannya sebagai paman yang buruk. Ia tidak akan pernah mau membantu apapun lagi kali ini dan seterusnya. Lihat saja nanti Seungjae pasti benar-benar tidak akan bisa menjadi paman yang baik bagi Olivia, Sooran terus memaki dalam hati sambil berlalu pergi menuju lobi apartemen.

*

Seungjae membuka pintu kamar Olivia yang tidak terkunci dan langsung dengan mudah dapat menemukan keponakannya itu tengah duduk di tepi ranjang dengan kedua telapak tangannya menutupi hampir seluruh wajah. Melihat Olivia yang mungkin sedang menangis membuat sang paman segera berjalan menghampiri dan duduk bersamanya di tepi ranjang.

Olivia yang mengetahui keberadaan Seungjae segera menoleh dan menatapnya dingin karena perasaan kesalnya masih belum hilang. “Kamu tidak mengunci kamar,” Seungjae berujar sebelum Olivia protes. “Sekarang kamu boleh marah padaku. Ini semua salah paman.” Olivia kembali menoleh dan kali ini memandangi Seungjae untuk beberapa saat sebelum akhirnya angkat bicara.

“Aku tidak marah pada paman. Oh ya, terima kasih untuk pestanya.” Seungjae menghapus sisa air mata Olivia dan mengulurkan sebelah tangannya. “Kita bahkan belum jadi merayakannya. Ayo kita rayakan bersama.” Seungjae merangkul Olivia dan membawanya beranjak keluar kamar. Seketika melupakan apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu bahwa mereka sempat bertengkar.

Belum ada satu pun lilin yang sudah dinyalakan, kue pun belum sempat dipotong, bahkan lagu belum dinyanyikan. Hanya hiasan dan pita yang sudah terpajang tanpa sempat disusun dengan benar. Pesta kecil tersebut belum sempat jadi dirayakan, Seungjae hampir tidak pernah berhasil membuat pesta perayaan untuk Olivia walaupun hanya sekedar untuk mereka berdua.
Olivia melihat ke sekeliling dan mulai menyadari bagaimana pamannya itu sudah menyempatkan waktu untuk memasang pita dan hiasan bertuliskan namanya di permukaan dinding ruang tengah. Masih memerhatikan sekitar apartemen yang biasa mereka tinggali berdua, Olivia kini mulai menyadari satu hal yang kurang. “Paman menyuruhnya pulang?” tanpa sadar Olivia menaikkan sebelah alisnya.

“Siapa?” Seungjae balik bertanya setelah meneguk habis minumannya.

Olivia menyipitkan sebelah matanya, sudah mencium gelagat bahwa pamannya sengaja untuk melupakan hal tersebut begitu saja. “Ah, wanita itu? Bukannya kamu tidak mau merayakan pesta dengannya?” Seungjae hanya menjawab sekenanya tanpa benar-benar menaruh perhatian membuat Olivia segera mendelik kesal ke arahnya. “Ah, baiklah, kau menginginkannya kembali? Mungkin dia masih di sekitar lobi.”

*

“Choi Sooran!” teriak Seungjae berusaha memanggil seorang perempuan yang baru akan masuk ke dalam sebuah taksi. Gadis tersebut segera menengadahkan kepalanya mencari sumber suara yang menyerukan namanya dengan cukup keras di depan lobi apartemen. Pria yang berdiri di seberang rupanya yang telah memanggil-manggilkan namanya.

Sooran masih berusaha memfokuskan pengelihatannya benar-benar. “Kemari!” seru pria itu lagi dan membuatnya harus sampai mengerutkan keningnya masih tidak yakin. “Cepat kemari!” kali ini tidak bisa dibiarkan. Sooran yakin itu adalah bosnya yang beberapa menit lalu telah mengusirnya dengan halus namun sekarang justru meneriaki namanya sebanyak tiga kali berturut-turut dihadapan banyak orang.

Sebelum ia berubah pikiran, dengan berat hati ia meminta maaf pada sang supir taksi dan setelah menutup pintu taksi Sooran hampir tidak bisa bernapas ketika menyadari bahwa bosnya itu sudah berada berdiri di dekatnya. “Sepertinya kami tidak bisa merayakan pesta itu hanya berdua. Kali ini ia sungguh-sungguh menginginkanmu untuk ikut berada di sana. Ayo.” semua terasa seolah berhenti bergerak. Sama seperti dirinya yang tidak dapat melakukan apa-apa selain hanya mengikuti langkah Seungjae ketika pria itu menarik tangannya.

*

Siang itu terasa lebih panjang dari hari biasanya bagi Jihyun yang hari ini tampak begitu sibuk. Selepas mengunjungi Hyunjung di pagi hari, dirinya sama sekali belum dapat mengistirahatkan pikirannya yang telah terasa begitu penat setelah menangani pasien yang tidak ia duga bahwa lebih banyak dari hari biasanya. Belum lagi jadwal operasi malam nanti akan membuat serentatan kesibukannya hari ini terasa lengkap.

Disamping itu semua, kenyataan bahwa tidak ada yang berbeda dari hari ini, dirinya yang kembali bekerja seperti biasa, bertingkah seolah tadi malam tidak terjadi apa-apa. Walaupun kenyataannya semalam ia sempat bersama Eunra, seseorang yang dahulu begitu berarti di hidupnya.

Jihyun yang begitu sibuk hari ini tetap saja sesekali merasa pikirannya masih terganggu oleh Eunra yang semalam begitu menggoda dirinya yang sama sekali tidak mabuk. Dia sedang tidak dalam pengaruh alkohol berat, tetapi tetap tidak mampu menahan dirinya untuk tidak membalas semua yang dilakukan Eunra kepada dirinya yang membuatnya menyerah dalam pendiriannya dan mulai berbalas dari apa yang sudah lebih dulu Eunra lakukan.

Masih terngiang jelas dalam ingatannya hal yang semalam Eunra ucapkan kepada dirinya semalam pada saat dirinya masih sama sekali tidak merespon apapun yang Eunra lakukan kepada dirinya. Jihyun yang selama ini tidak pernah menyadari itu, merasa terkejut mendengar kalimat yang mengatakan bahwa gadis itu masih begitu menginginkan dirinya kembali disela-sela ciuman Eunra kepada Jihyun dengan kalimat racauannya yang tidak terangkai dengan benar yang memeluk dirinya dengan begitu erat yang membuat dirinya terluluhkan.

Hal yang sudah lama sekali tidak ia lakukan bersama Eunra, dirinya pun seakan begitu menginginkannya. Terlihat dari bagaimana ia membiarkan Eunra menggapai dirinya dan menyentuhnya. Tanpa dapat Jihyun cegah, mungkin cukup malam itu saja ia kembali menyentuh Eunra.

*

Sooran memandangi layar komputer namun pikirannya melayang jauh pada Seungjae yang dahulu ia pikir sungguh mengerikan sejak awal Sooran bekerja selalu saja harus berhadapan dengan pembawaan Seungjae yang dingin dan sama sekali tidak ramah membuatnya terlihat seperti bos kejam dan sadis yang menyebalkan. Toleransinya yang sangat tipis, membuat hampir seluruh pekerjaan terasa seperti sedang kejar tayang. Jika ditanya pada karyawan lain sekiranya apa hobi dari bos mereka itu, mungkin jika jawabannya bekerja semua akan sependapat, setidaknya sekarang ini Seungjae sudah lebih manusiawi daripada tahun-tahun sebelumnya yang hobi lembur dan menyuruh lembur.

Bahkan Seungjae jarang sekali terlihat keluar kantor untuk mencuri waktu, jangankan keluar dari kantor, dari ruangannya saja sangat jarang. Kulitnya bahkan terlihat pucat, efek tidak pernah terkena sinar matahari, berangkat ke kantor udara masih sejuk dingin dan pulang sudah larut. Tapi walaupun begitu, tubuh tinggi dan badannya yang atletis terlihat begitu menyegarkan dari segala kesuntukan pekerjaan kantor.

Dentingan email yang masuk membuat Sooran segera tersadar dari lamunannya akan Seungjae yang selalu saja memenuhi pikirannya belakangan ini. Ia hampir melupakan undangan penting yang harusnya segera disampaikan pada Seungjae yang entah beberapa hari ini terlihat jarang sekali bicara.

“Pak, ada undangan di Hong Kong.” Sooran yang baru saja masuk ke dalam ruangan Seungjae menemukan bosnya itu sedang sibuk dengan komputernya. Sesekali mengeluarkan bunyi ketikan cepat dari jari-jarinya yang bersentuhan dengan keyboard.

“Saya tidak akan kesana.” tanpa hampir ada jeda yang lama Seungjae segera menyahut terlihat acuh tanpa melihat kearahnya sama sekali.

“Tapi ini acara besar, dari perusahaan terkenal sekali di Hong Kong,” walaupun sudah berkata demikian, Seungjae sama sekali tidak terlihat tertarik masih tetap berkutat pada layar komputernya. “Perusahan Hong Kong itu benar-benar menginginkan bapak datang.” kali ini Seungjae menumpukan kedua sikunya ke atas meja.

“Beri tahu mereka saya tidak akan datang. Kenapa masih harus bertanya?”

Sooran dengan harus bersabar masih mencoba menjelaskan, “Mereka ingin setidaknya ada yang datang dari pihak kita.”

“Suruh Junho kesana.” Seungjae hanya berkata cepat tanpa ekspresi membuat Sooran hanya bisa mengangguk pelan melihat Seungjae yang kini sudah kembali berpaling pada komputer tanpa menghiraukan dirinya yang masih berada di sana.

Merasa sudah tidak memiliki kepentingan lagi, Sooran melangkah ke arah pintu hendak kembali ke meja kerjanya di luar ruangan Seungjae. Sebelum sempat meraih gagang pintu, Sooran mendengar Seungjae tiba-tiba berkata kepada dirinya. “Kamu belum pernah kan pergi ke acara itu? Kamu saja yang kesana.”

*

Kyuhyun masih tidak dapat berpikir jernih terhadap apa yang telah ia lakukan dengan Hyunjung. Mungkin Hyunjung memang benar menyukai dirinya. Setidaknya ia harus menyembunyikan hal itu dari semua orang, jangan sampai ada yang tahu tentang hubungannya dengan pasien penting di rumah sakit ini. Hal yang paling sulit adalah menjaga hal tersebut dari Jihyun, rekan kerjanya untuk Hyunjung. Jihyun tidak boleh mengetahui apapun tentang dirinya yang diam-diam pergi ke ruang rawat Hyunjung.

Mungkin semuanya akan terasa menjadi lebih mudah ketika nanti Hyunjung sudah keluar dari rumah sakit, jika seandainya mereka berdua benar akan melanjutkan hubungan itu seterusnya. Bagi Kyuhyun, dirinya pun tidak masalah jika harus menjalin sebuah hubungan dengan Hyunjung kedepannya karena dirinya yang juga tidak sedang memiliki kekasih.

Sepertinya ia tidak akan melanjutkan apapun dengan Eunra yang ternyata sudah ditaksir lebih dahulu oleh Donghae, ia tidak akan memperebutkan wanita dengan Donghae. Tidak lagi kali ini, hal seperti itu hanya pernah terjadi ketika mereka masih di universitas, tidak untuk sekarang, dimana mereka sudah sama-sama dewasa.

Sudah hampir dua tahun semenjak terakhir kali dirinya menjalin hubungan dengan seorang wanita, mungkin sudah saatnya kali ini ia kembali memikirkan tentang memulainya kembali dari pada membiarkan dirinya terjebak dalam kenangan buruk masa lalu akan kisah cintanya yang telah hancur.

Seolah membuyarkan pikirannya yang sudah terbang entah kemana, sentuhan jemari Hyunjung pada permukaan kulit telapak tangannya membuatnya kembali tersadar, hari ini sudah larut, mungkin rekan kerjanya yang lain sudah bergegas pulang, namun mengunjungi Hyunjung yang tengah menghabiskan malam seorang diri membuatnya merasa harus berada disisi gadis itu.

Hanya percakapan ringan antara dirinya dan Hyunjung yang biasa mereka berdua lakukan hampir setiap malam tanpa sepengetahuan Jihyun. Membayangkan apa saja yang dapat mereka berdua lakukan di luar sana, jika seandainya Hyunjung pulih dari sakitnya. Hyunjung tidak sabar melakukan banyak hal seperti sepasang kekasih pada umumnya, membuatnya segera ingin keluar dari rumah sakit yang terasa mengurung dirinya dari dunianya yang jauh dari kata membosankan. Ia merindukan bagaimana menghabiskan malam dengan berdansa dan bernyanyi bersama sahabatnya, pergi ke klab malam, atau pun hanya pergi menonton film dan teater.

“Ini semua akan segera berlalu,” Kyuhyun berujar seraya mengecup kening Hyunjung sebelum akhirnya ia beranjak pergi, namun Hyunjung tiba-tiba saja menahan tangannya. “Bisakah aku ikut denganmu malam ini saja?”

*

Jam di dinding kantor sudah menunjukkan hampir siang hari dan tidak biasanya Seungjae belum kunjung kelihatan muncul ke kantor. Sooran sudah beberapa kali mencoba menghubungi Seungjae yang siang nanti memiliki jadwal untuk bertemu dengan seseorang. Tidak biasanya Seungjae menghilang tanpa kabar seperti ini.

Sampai saat ini tidak hanya dirinya yang tidak tahu keberadaan Seungjae, banyak karyawan kantor yang telah menanyakan kemana perginya Seungjae yang tidak kunjung datang. Tepat saat dirinya mencoba menelepon untuk yang kesekian kalinya, akhirnya ia mendapatkan jawaban berupa pesan singkat yang bertuliskan bahwa bosnya itu sedang berada di rumah sakit dekat kantor dan menyuruh agar Sooran menyusul kesana jika ada sesuatu yang penting.

Sooran segera menyimpan ponselnya dan segera beranjak dari kursinya sambil menyambar tas dan map kertas yang perlu ia serahkan kepada bosnya itu. Hanya ada satu rumah sakit terdekat dengan kantor mereka yang mana adalah rumah sakit yang sama dimana ayahnya dulu dirawat. Seungjae pun beberapa hari lalu pernah mengajaknya pergi kesana walaupun saat itu tidak terlihat sakit.

Dalam perjalanannya ke rumah sakit, ia tetap menebak-nebak sedang apa bosnya itu pergi ke rumah sakit, meskipun terakhir kali kesana bosnya itu tidak untuk berobat. Apakah kali ini Seungjae benar sedang sakit, karena sepengetahuannya Seungjae memang memiliki riwayat penyakit semacam lambung akut.

Tanpa tahu dimana persisnya Seungjae tengah berada, Sooran hanya bisa mencari keberadaan bosnya itu dengan mengitari lobi rumah sakit yang besar sambil terus mencoba menghubungi Seungjae yang kali ini kembali susah untuk dihubungi.

Dengan teliti memerhatikan sekeliling, ia merasa seseorang tengah berjalan kearahnya yang sempat ia kira adalah Seungjae. “Sedang disini?” sapa laki-laki tersebut membuat Sooran berusaha mengingat-ingat siapa.

“Ah, dokter Cho.” ia mulai ingat bahwa laki-laki itu adalah dokter yang pada waktu itu menangani ayahnya. Kyuhyun terlihat mengangguk mengiyakan. Sebelum sempat Sooran berbasa-basi, ia mendengar seseorang dari belakang menyerukan namanya. “Choi Sooran!” sontak membuat baik dirinya dan dokter yang sedang bersamanya itu menoleh hampir bersamaan mencari sosok yang memanggil Sooran barusan.

Seungjae terlihat berjalan menghampiri Eunra sambil terus memegangi perut sebelah kirinya kemudian menyipitkan mata ketika menyadari bahwa sekretarisnya itu tidak sedang sendirian melainkan bersama dengan seseorang yang tidak ia kenal.

Melihat Seungjae yang terlihat pucat Sooran segera menghampiri bosnya itu yang tidak bisa berjalan dengan tegak karena terlihat menahan sakit dari perutnya. “Baik-baik saja, pak?” sedangkan Kyuhyun yang masih berada tidak jauh dari mereka segera memanggil seorang perawat untuk mengambilkan kursi roda walaupun tidak tahu siapakah pria sakit tersebut.

“Ini, pakai saja.” Kyuhyun menyerahkan kursi roda sekaligus pamit pergi kepada Seungjae yang segera menolak tawaran tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya masih baik-baik saja membuat Sooran harus tetap menyejajarkan langkah Seungjae dengan harus memegangi lengan pria yang bersikeras tetap memaksa berjalan dengan langkah yang lambat menuju ruang poliklinik spesialis penyakit dalam seperti yang pernah diceritakan oleh Olivia beberapa waktu lalu.

*

Memang sifat keras kepala bosnya itu sudah harga mati rupanya, Sooran telah menyarankan agar Seungjae pergi pulang setelah melakukan pertemuan dengan seorang klien penting selepas dari rumah sakit, namun nyatanya Seungjae tetap memaksakan diri untuk tetap berada di kantor, masih banyak urusan, katanya. Entah apa yang ada dipikirkan Seungjae, sebagai sekretaris pribadinya Sooran benar-benar tidak dapat mengerti, karena ulah Seungjae yang memutuskan tetap di kantor, membuat dirinya harus lari-lari tidak karuan menuju lobi gedung kantor setelah menemukan Seungjae yang hampir pingsan di ruang kerjanya sendiri.

Sesaat lalu ketika dirinya hendak memberikan salinan kontrak kepada Seungjae yang berada di ruangan, Sooran segera dapat menemukan sang direktur dengan kepala telungkup di atas kedua tangannya yang dilipat di atas meja kantor. Dengan paniknya ia langsung menggucang bahu Seungjae, memastikan bahwa atasannya itu masih belum kehilangan kesadaran.

Sooran baru bisa menarik napas lega setelah Seungjae mengangkat kepala dan menyenderkan tubuhnya ke kursi. Rambutnya yang berantakan sedangkan wajahnya terlihat lebih pucat dari pada biasanya hanya dapat mengangguk lemah ketika Sooran bertanya apakah dirinya baik-baik saja.

“Bapak pasti melewatkan makan siang.” Sooran berujar khawatir sebelum mendapat balasan ia sudah kembali bicara, “Saya akan segera bawakan makan siang.”

Tanpa menunggu lama, detik itu juga Sooran bergegas meninggalkan ruangan dan kembali dengan membawakan satu kotak makanan yang ia beli dari salah satu restoran yang terdapat di lobi gedung kantor.

Begitu sesampainya ia di ruangan bosnya itu, dengan tanpa berpikir panjang, ia segera membuka kotak makanan dan dengan hati-hati memberikan sesuap kepada Seungjae yang masih belum melepaskan tangannya dari salah satu sisi perutnya.

Kenyataan bahwa baru saja selesai berobat, tetap saja Seungjae melupakan makan siang yang memperburuk penyakitnya. Setidaknya jika seandainya ia meluangkan sedikit waktunya untuk makan siang setelah melakukan pertemuan beberapa saat lalu tidak akan membuat Sooran kelimpungan seperti tadi.

“Pak, lain kali jangan sampai telat makan lagi,” Sooran berujar pelan sambil membereskan kotak makan. “Apalagi sampai melewatkan makan siang,” kali ini ia bersiap pergi meninggakan Seungjae setelah memastikan bosnya itu telah benar-benar menelan obat-obatannya.

Jika seandainya dibiarkan, mungkin Seungjae sudah harus dilarikan kembali ke rumah sakit, ia hanya meminum obat yang sebelum makan kemudian melewatkan makan siang dan obat setelah makan. Sepertinya mulai kali ini dirinya harus benar-benar mengawasi Seungjae agar bosnya itu tidak cepat mati muda.

Ketika melangkah kembali ke mejanya, diam-diam Sooran tersenyum senang, walaupun harus berpanik ria seperti tadi, setidaknya Seungjae sama sekali tidak menolak ketika ia menyuapkan makanan kepadanya.

*

Setelah meneguk habis air putih dingin dalam gelasnya Sooran tanpa sadar membiarkan pikirannya kosong dan tiba-tiba saja ia teringat kembali pada tujuannya masuk ke ruangan Seung Jae. Ia seharusnya memberitahu tentang pengecekkan lahan di suatu kota di Jepang yang harus dilakukan Seungjae beberapa minggu lagi. Jika tidak segera ia sampaikan, sang boss bisa mengomel, hal itu membuatnya harus kembali lagi ke ruangan Seungjae yang belum lama ia datangi.

“Kamu lupa memberitahu saya tentang pengecekan lahan, kan? Mangkanya datang kesini lagi.” tanya Seungjae dengan tepat sasaran begitu Sooran menutup pintu ruangan dari dalam membuatnya salah tingkah dan meringis menahan malu. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain hanya tersenyum kikuk. Tanpa berkata-kata Seungjae mengintruksikan sekretarisnya itu agar duduk di kursi seberangnya hanya dengan sebuah gerakan kepala. “Saya akan pergi ke Indonesia untuk beberapa hari, mungkin agak lama. Kamu ke Jepang duluan, nanti saya susul. Pastikan salah satu dari kamu atau Junho datang ke Hong Kong, kamu yang atur.”

*

Jihyun diam-diam memerhatikan gerakan Kyuhyun yang entah mengapa membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Sambil masih terus memerhatikan dalam diam, tanpa mengalihkan perhatian pada Hyunjung dan mengajaknya berbicara yang saat ini tengah diberikan suatu tindakan oleh Kyuhyun yang tampak melakukannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada Hyunjung, sepengetahuan Jihyun selama ini, dengar-dengar Kyuhyun adalah dokter yang ramah, namun setelah ia lihat sendiri, mungkin itu hanya rumor belaka.

“Bagaimana semalam?” tanyanya membuat Hyunjung menatapnya dengan suatu gerakan cepat membuat Jihyun segera meneruskan kalimatnya, “Apakah ada keluhan ataupun merasa sakit semacamnya?”

Butuh beberapa detik bagi Hyunjung sebelum akhirnya ia berhasil mengumpulkan suaranya yang masih terdengar serak, “Tidak ada.” ia berujar singkat sementara Jihyun tidak segera menjawab menunggu apakah Kyuhyun akan merespon karena telah selesai dengan tindakan medisnya. “Baik, saya senang mendengarnya.” Jihyun berkata lagi setelah tidak menemukan tanda-tanda Kyuhyun akan menjawab.

Jihyun memasukkan kembali penanya ke dalam selipan jas putih, menandakan kunjungan mereka sudah selesai. “Kapan saya boleh pergi keluar?” Hyunjung bertanya tiba-tiba membuat Jihyun menghentikan sebentar gerakannya, dengan alis yang sedikit terangkat, ia menjawab tenang menarik ujung bibirnya, “Itu bisa dibicarakan.” detik itu Kyuhyun menoleh kearahnya sementara Hyunjung mulai terlihat berbinar.

“Sampai jumpa dua hari lagi nona Hyunjung.” Jihyun berlalu pergi.

*

“Kamu lihat Kyuhyun dimana?” Jihyun mencegat Donghae yang berjalan berpapasan segera mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Donghae tampak tengah buru-buru menjawab cepat, “Saya tidak lihat,” sedetik kemudian ia sudah berlalu namun tak lama ia menepuk keningnya baru ingat sesuatu saat itu juga berbalik menemukan Jihyun yang untungnya masih belum jauh. “Hari ini dia tidak masuk.” ia berlalu lagi.

Jihyun memerhatikan tingkah Donghae yang seperti tengah kejar sesuatu entah mau kemana dia sebenarnya Jihyun tidak ingin tahu, mereka berdua tidak pernah begitu dekat walaupun bekerja di departemen yang sama, setahunya Donghae dekat dengan Kyuhyun, mereka seperti sudah berteman lama.

Jika seandainya Donghae tadi tidak terlihat seperti orang yang sedang kecacingan, mungkin Jihyun sudah akan mengintrogasinya tentang keberadaan Kyuhyun yang menganggu Jihyun akhir-akhir ini.

Mengenai permintaan Hyunjung untuk diizinkan pergi keluar memang sudah menjadi pertimbangan Jihyun dari jauh-jauh hari, apalagi gadis itu sudah melakukan proses kemoterapi, sudah seharusnya ia memberikan waktu bagi gadis muda itu melihat duniar luar lagi, namun absennya Kyuhyun dari rumah sakit dengan alasan mengambil cuti membuat Jihyun merasa ada sesuatu. Tidak biasanya Kyuhyun mengambil cuti begitu mendadak. Satu-satunya cara untuk mencari tahu hanya lewat Lee Donghae yang tadi terlihat begitu buru-buru.

Jihyun kembali ke ruangannya dan membereskan barangnya, ia harus bergegas pulang lebih cepat dari hari biasanya, ia telah berjanji kepada Yeonhee akan makan diluar untuk merayakan ulang tahunnya hari ini.

Entah mengapa di rumah sakit tadi terasa sepi, seperti banyak yang tidak berada di tempat, bagaimana tidak, besok adalah hari sabtu, semua orang seperti sudah menyiapkan hal yang harus dilakukan untuk menghabiskan akhir pekan dari kesibukan senin sampai jumat. Mulai dari Kyuhyun yang ambil cuti dan Donghae yang terlihat tergesa-gesa pergi, ia pun juga tidak menyangkal bahwa hari ini pulang cepat karena telah memiliki janji makan malam dengan Yeonhee.

Sambil menunggu Yeonhee keluar dari gedung sekolahnya, jam pulang sekolah baru saja tiba, sore itu Jihyun yang menunggu di mobil memerhatikan para siswa yang mulai berhamburan keluar. Melihat Yeonhee yang melambaikan tangan dari kejauhan membuat Jihyun menurunkan kaca kali itu adiknya tengah berlari menghampiri mobil.

“Selamat ulang tahun, Oppa!” Yeonhee mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Jihyun tersenyum ketika Yeonhee menyerahkan hadiah tersebut kepadanya yang tidak tahu kapan Yeonhee menyiapkannya. “Terima kasih, Yeonhee.” Jihyun meraih tubuh Yeonhee kedalam pelukannya. Tidak ada hal yang lebih berarti daripada Yeonhee, termasuk ulang tahunnya sendiri, ia tidak peduli dengan ulang tahunnya melainkan melihat Yeonhee terlihat begitu berbinar dan ceria adalah hal yang tidak dapat ia tebus dengan apapun.

“Oppa akan ajak makan malam yang paling spesial, sudah lapar kan?” Yeonhee mengangguk semangat menerima tawaran Jihyun. Makan bersama sang kakak adalah hal yang begitu jarang dilakukannya, malam ini akan menjadi malam yang begitu istimewa bagi Yeonhee yang begitu merindukan menghabiskan waktu dengan Jihyun yang super sibuk.

*

Kyuhyun mengecup kening Hyunjung sekali lagi ketika gadis itu selesai menari. Setelah menuruti keinginan Hyunjung untuk menghabiskan malam dengan melakukan apa yang selama ini tidak bisa dilakukannya selama berada di rumah sakit, Kyuhyun terus menemani disamping gadis muda itu yang terlihat sangat menikmati setiap menit yang dihabiskan bersama, walaupun dengan beberapa larangan dari Kyuhyun, seperti tidak diperbolehkan untuk meminum alkohol karena masih dalam proses pengobatan, tapi Hyunjung tampak tidak keberatan.

“Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.” Hyunjung mengalungkan tangannya pada sekeliling bahu Kyuhyun membuat pria itu tersenyum hangat. “Ya jika kamu senang.”

Hyunjung memeluk Kyuhyun dengan sedikit berjinjit sambil membisikkan kata-kata di dekat telinga kekasihnya itu, “Terima kasih.” ujarnya sebelum akhirnya Kyuhyun melonggarkan pelukannya dan melihat kearah jam tangannya.

“Ayahmu tidak akan mencari?” Kyuhyun mulai terlihat khawatir setelah hampir seharian bersama Hyunjung, namun gadis itu bergeleng dengan cepat. “Aku sudah bilang dan dia sedang di luar kota.”

Hyunjung masih berdiri di hadapan Kyuhyun kembali berujar, “Aku tidak ingin pulang malam ini.” mendengar itu Kyuhyun sontak mengerutkan kening, “Lalu?”

“Boleh aku pergi ke tempatmu?”

*

Donghae hampir tidak pernah merasa segugup ini, saat ini dirinya tengah terperangkap dalam sebuah acara makan malam salah satu anggota keluarga Jung Sila, walaupun awalnya ia sama sekali ada niat untuk pergi ke acara seperti ini, ia hanya ingin pergi menemui Sila untuk mengembalikan buku catatan kecil yang ditemukannya beberapa hari lalu, tanpa mengetahui bahwa ternyata alamat yang tertulis disana bukanlah alamat rumah Sila melainkan alamat salah seorang sepupunya yang entah mengapa, secara kebetulan yang benar-benar diluar akal sehatnya, sedang merayakan acara ulang tahun.

Beberapa saat lalu Donghae datang memencet tombol bel di depan sebuah pintu apartemen yang alamatnya tertera dengan jelas disalah satu halaman dalam buku catatan milik Sila yang sudah beberapa hari ini ada pada dirinya. Dengan telah memasang senyum terbaik miliknya berjaga-jaga Sila yang datang membukakan pintu untuknya, seorang wanita paruh baya tiba-tiba membuka pintu dengan setengah berteriak, “Aigoo, siapa ini?” ia berujar kencang hampir memekakkan telinga Donghae yang tidak siap.

Dari cara wanita itu bicara, sama sekali tidak mirip dengan Jung Sila yang ia taksir, Donghae pun juga tidak dapat mengenali siapakah wanita itu, rasanya tidak mungkin jika wanita tersebut adalah ibu Sila, mereka tidak terlihat mirip. Dengan masih memandangi wanita itu, Donghae hanya bisa tersenyum yang sudah sedikit mengerut. Sebelum bahkan dirinya sempat untuk mengeluarkan suara, wanita itu kini kembali berujar dengan suara yang hampir sama kencangnya seperti tadi, “Apakah ini Dongwook?”

Belum sempat dirinya menyanggah, wanita itu dengan cepat segera menarik tangannya masuk kedalam mengikuti langkah yang cepat sampai ke sebuah ruang makan yang berisi begitu banyak orang yang sama sekali tidak ia kenali. “Ini pacar Hyojin yang tadi mau menyusul, kan?” saat itu juga Donghae menoleh cepat kearah wanita yang berbicara begitu yakin tentang dirinya.

Sedetik berlalu tidak ada satupun orang yang menyahut, mereka mulai memandangi Donghae dengan pandangan yang sulit diartikan, rasanya ingin sekali dirinya segera kabur dari sana namun kakinya seolah terkunci mati rasa.

“Lee Donghae..!” tiba-tiba saja seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi menyebutkan namanya. Baik Donghae dan semua orang di ruang makan itu segera mencari sumber suara. Detik itu pula Donghae rasanya baru bisa kembali bernapas, orang yang baru saja memanggil namanya adalah Jung Sila.

Dengan terlihat agak bingung Sila menghampiri Donghae yang diam-diam menghembuskan napas lega. Entah apa yang telah terjadi barusan, Donghae benar-benar masih tidak dapat mencernanya. “Sedang apa disini, Lee Donghae?” Sila bertanya dengan wajahnya yang ramah membuat Donghae harus mati-matian menahan diri untuk tidak terlihat bodoh dihadapan banyaknya orang yang masih memandangi dirinya.

Dalam selang waktu beberapa detik, seorang laki-laki datang dari arah yang sama seperti saat dirinya tadi masuk. Semua orang segera menoleh termasuk Donghae. “Pintu di depan dibiarkan terbuka, jadi saya masuk.” ujar laki-laki itu memecah keheningan.

Seketika itu seorang wanita segera menghampiri dan langsung melingkarkan lengannya pada lengan pria tersebut, “Ini Sung Dongwook.” ujarnya memperkenalkan. Lantas semua orang kini beralih menatap Donghae.

“Ini Lee Donghae.” kalimat Sila sama sekali tidak merubah apapun. Sekitar belasan pasang mata yang menatap justru kini mulai terlihat mengerutkan kening karena tidak satupun dari mereka yang mengenali Donghae, apalagi merasa mengundang Donghae. “Ia pacarku,” Sila berujar dengan cepat kali ini justru yang membuat Donghae menoleh sambil mengerutkan kening, “Aku yang menyuruhnya datang.” dengan cepat pula Sila segera melingkarkan lengannya sama seperti yang dilakukan Hyojin sepupunya terhadap kekasihnya yang baru saja datang.

Suasana mulai mencair sementara Donghae entah harus merasa senang atau sebaliknya terlihat tidak tahu harus melakukan apa agar terlihat tidak konyol. Ketika acara makan malam dimulai, Sila diam-diam membisikkannya sesuatu dan meminta maaf. “Donghae kau datang disaat yang kurang tepat.”

*

Seungjae membukakan pintu mobil untuk Olivia, tiap kali dirinya akan pergi meninggalkan Olivia untuk urusan pekerjaan ke luar negeri, mengajak Olivia pergi keluar bersama untuk menonton film ataupun sekedar makan malam adalah suatu hal yang tidak pernah sedikitpun terlewatkan, ditambah kenyataan bahwa pergi bersama dengan keponakannya itu tidak selalu dapat ia lakukan setiap akhir pekan tiba, maka momen seperti ini bagi Seungjae benar-benar tidak dapat dilewatkan begitu saja.

Selama ini, jika Olivia sedang libur sekolah, Seungjae belum pernah sekali pun tidak mengajak Olivia untuk pergi bersamanya kemanapun itu, namun tidak jarang pula ia harus rela meninggalkan gadis muda tersebut bersama dengan seorang babysitter tiap kali ia harus pergi jauh, seperti nanti.

Seungjae merangkul bahu keponakannya itu ketika melangkah keluar studio bioskop, film yang mereka tonton baru saja selesai diputar, Olivia berjalan santai masih dalam rangkulan pamannya, langkah kaki yang berjalan beriringan seolah hapal betul tempat yang selalu mereka tuju tiap kali selesai menonton bioskop, belum ada hal yang dapat menandingi kegemaran mereka berdua selain kedai es krim gelato yang selalu mereka datangi.

Olivia yang selalu gemar mencoba rasa baru sedangkan Seungjae yang tidak pernah mengganti rasa es krimnya, tidak pernah jadi masalah bagi keduanya yang memiliki selera berbeda. Seungjae sama sekali tidak pernah merasa begitu tua jika pergi bersama dengan keponakannya itu, bahkan Olivia pun tidak pernah menyangkal.

“Dia pamanku,” ujarnya walaupun enggan kepada seseorang yang baru saja menyerahkan es krim kepadanya sementara Seungjae yang telah menunggu di salah satu kursi. “Barista ice cream-nya mengira aku pergi dengan pacarku,” Olivia mengerucutkan bibirnya kepada Seungjae saat memberikannya es krim. “Aku bahkan belum lulus sekolah menengah.” tambahnya dengan nada protes lagi membuat Seungjae tersenyum. “Kamu yang tua atau paman yang muda?” goda Seungjae sambil terkekeh pelan.

“Paman yang tua.” ujarnya kali ini tidak terima. Seungjae mengendikkan bahunya tanda mengalah. “Kita hanya beda belasan tahun, Liv.” Seungjae sengaja menggoda Olivia yang sebenarnya baru naik pada tahun kedua sekolah menengah pertama, namun tidak banyak yang dapat mengira bahwa mereka berdua bukanlah sepasang kakak adik atau lebih parahnya tidak jarang yang mengira Olivia sedang berpacaran dengan laki-laki dari universitas, nyatanya mereka adalah keponakan dan paman. “Paman belum cukup tua untuk bisa dibilang memiliki anak perempuan sebesar kamu.” Seungjae berujar santai sambil masih menikmati eskrimnya dengan pandangan menang ke arah Olivia.

*

Jihyun masih terus mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan oleh Yeonhee, memerhatikan dengan betul bagaimana Yeonhee menyampaikan ceritanya tentang apa saja yang sudah dialami selama di sekolah, yang sama sekali tidak pernah Jihyun ketahui selama ini, tentang apapun yang selama ini belum pernah diceritakan kepada dirinya. Jihyun mengamati keseluruhan cerita Yeonhee tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan, setiap detik yang ia habiskan bersama dengan Yeonhee terasa begitu berharga daripada hidupnya sendiri.

Terhadap Yeonhee yang beberapa hari lalu sempat terjadi sedikit masalah karena diam-diam memiliki seorang teman pria yang dapat Jihyun simpulkan sebagai kekasih Yeonhee, namun dirinya sudah memastikan bahwa hubungan antara keduanya telah benar berakhir.

Namun begitu ia tetap tidak dapat mengingkari bahwa sebagian dari dirinya mengatakan untuk hanya membiarkan Yeonhee memiliki kekasih, sudah waktu yang wajar jika seorang remaja seperti Yeonhee tertarik dengan teman prianya, tidak ada hal lain yang membuat Jihyun masih belum dapat melepaskan adiknya itu kepada pelukan seorang laki-laki berseragam sekolah, disamping karena Yeonhee masih duduk di tahun kedua sekolah menengah atas, adalah karena dirinya tidak ingin Yeonhee akan terasa semakin jauh dari dirinya.

Kenyataan bahwa mereka sempat bertengkar beberapa hari lalu, malam ini baik dirinya maupun Yeonhee sama-sama bersikap seakan tidak pernah terjadi sesuatu, sehingga saat ini mereka dapat makan malam dengan santai tanpa teringat akan pertengkaran yang sempat pernah terjadi.

Dentingan ponsel Jihyun saat itu juga membuat cerita Yeonhee terputus dalam jeda waktu pada saat Jihyun mengangkat ponselnya, selama ini Yeonhee tahu bahwa kakaknya itu adalah seorang penyelamat kehidupan banyak orang, walaupun begitu diam-diam Yeonhee berharap dalam hati agar makan malam ini tidak segera berakhir karena panggilan telepon itu.

Jihyun hanya memerhatikan layar ponsel selama beberapa detik tanpa mengangkatnya sebelum akhirnya ia menyentuh dan segera membalikkan menghadap permukaan meja. Ia kembali kepada Yeonhee yang masih menunggu, namun dalam beberapa saat dentingan tersebut kembali terdengar, dengan sedikit tergesa ia segera menempelkan benda tipis itu ke telinganya.

“Saya sedang sibuk, nanti saya telepon balik.” detik itu pula Yeonhee dapat kembali bernapas lega. Setidaknya ia masih dapat menikmati waktu bersama dengan kakaknya ini sedikit lebih lama lagi. Tersebesit rasa senang dalam hatinya, baru kali ini ia merasa tidak dikorbankan, walaupun sebenarnya tidak mengetahui dari siapa panggilan masuk tersebut berasal.

“Maaf Yeonhee,” Jihyun meletakkan kedua tangannya ke atas meja, Yeonhee menghentikan gerakan garpunya, mengangkat kepalanya ketika menunggu kakaknya kembali bicara, “Sampai mana kita tadi?” tanya Jihyun dengan menarik ujung bibirnya.

Selama beberapa saat Yeonhee sempat terdiam kemudian pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Bukan dari rumah sakit?” jauh di dalam matanya ia menyembunyikan sekelebat rasa khawatir akan kehilangan Jihyun lagi.

Mendengar Yeonhee yang bertanya dengan nada rendah membuat Jihyun menggelengkan kepalanya perlahan. “Bukan.” ia kembali tersenyum, kali ini terasa begitu hangat, senyuman hangat milik kakaknya itu tidak selalu dapat Yeonhee lihat, senyuman itu pula yang seketika dapat langsung membuat dirinya merasa tenang.

*

Ketika bunyi dentingan panggilan masuk kembali terdengar, Jihyun baru menghabiskan setengah dari sisa makanannya, begitu pula dengan Yeonhee yang segera mengalihkan pandangannya mengikuti sumber suara yang mana berasal dari ponsel yang sudah disimpan di balik jas kakaknya itu.

Mau tidak mau Jihyun meletakkan kembali garpu dan pisaunya, sementara Yeonhee memerhatikan dalam diam berusaha terlihat biasa saja dengan masih melanjutkan kegiatan makannya dengan tenang, mencoba tidak menghiraukan Jihyun yang tengah menerima telepon.

Panggilan tersebut berakhir singkat, tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya, namun ketika Jihyun menurunkan ponselnya, ia segera menatap Yeonhee dengan berat hati berkata kepada gadis itu, “Kali ini dari rumah sakit, Yeonhee.”

*

Eunra menurunkan ponselnya tepat ketika sambungan telepon dimatikan. Ia kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti ketika teleponnya sempat tersambung kepada seseorang yang telah membuatnya tidak tenang akhir-akhir ini.

Semenjak malam itu dirinya sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mencoba menghubungi Jihyun, namun akhirnya dengan jari yang bergetar ia menekan nomor Jihyun yang tidak pernah berubah sejak dulu. Saat pertama kali ia mendengar suara yang rendah itu berbicara cepat rasanya seperti ada sesuatu yang begitu dingin menyentuh hatinya.

Belum sempat dirinya mengeluarkan kata, Jihyun sudah memutuskan sambungan. Tanpa ada kata menyapa ataupun mengakhiri dari seberang sana, Eunra tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya nada datar yang kemudian dapat terdengar memekakkan.

Tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan untuk dapat membuat dirinya tidak merasa sendirian selain hanya berjalan seorang diri dalam keramaian sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Rasanya pikirannya sudah tidak dapat bekerja dengan benar, pergulatan antara hati dan pikirannya membawanya menjadi tidak menentu.

Salah satu masih mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Jihyun malam itu, namun sebagian lainnya mengatakan bahwa Jihyun tidak mungkin datang menemuinya malam itu.

Eunra menutup matanya sejenak untuk menjernihkan pikirannya yang mulai tidak terkendali. Dasi yang tertinggal itu tidak pernah ia keluarkan dari dalam tasnya, berharap menemukan siapa pemiliknya. Sebagian kecil hatinya masih mengharapkan bahwa Jihyun lah yang memilikinya.

Dalam sebuah lift yang penuh sesak, Eunra yang berdiri di barisan paling belakang mencoba untuk melangkah keluar, namun seketika mengurungkan niatnya, ketika melihat seseorang berdiri di balik pintu lift yang baru saja terbuka perlahan.

Dengan cepat ia segera memalingkan pandangannya dan berusaha bersembunyi di balik wanita yang berdiri di depannya, beruntung lah dirinya, tidak ada tempat bagi Seungjae untuk melangkah masuk lift yang kali ini tengah menggandeng tangan seorang gadis muda, entah sedang bersama siapakah pria itu sekarang, dirinya tidak peduli.

Selama pintu lift belum kembali menutup dari tempatnya berdiri namun tidak dapat dipungkiri bahwa Eunra mencuri pandang kepada gadis muda dengan beberapa buah tas belanja juga sebuah bingkisan berada di salah satu tangannya sementara Seungjae sedari tadi terlihat masih sibuk memerhatikan layar ponsel. Tepat ketika pandangannya bertemu dengan gadis muda tersebut pintu lift segera kembali tertutup.

*

Jihyun melangkah dengan setengah berlari menuju gedung rumah sakit sementara Yeonhee masih berada dalam genggaman tangannya berusaha menyamakan langkah kaki Jihyun yang begitu cepat, tanpa tahu apa yang membuat kakaknya itu terlihat begitu panik. Yeonhee sama sekali belum pernah melihat langsung kakak laki-lakinya itu ketika berada di rumah sakit, selama ini dirinya belum pernah ikut.

Yeonhee yang sedikit berada di belakang terus mengikuti langkah cepat Jihyun sebelum akhirnya langkah kaki kakaknya itu dengan tiba-tiba seketika terhenti ketika berpapasan dengan seseorang yang tidak ia kenal.

Detik itu juga Jihyun mencegat Donghae yang tadi sedang berjalan berlawanan arah dengannya. “Donghae, tolong temani dulu, saya harus kesana.” Jihyun hanya menepuk bahu Donghae seraya melepaskan tangan Yeonhee kemudian berlalu pergi menuju ruang operasi dengan tergesa, meninggalkan Yeonhee dan Donghae yang menatap kepergian Jihyun masih bertanya-tanya.

Donghae mulai mengalihkan pandangannya ke arah Yeonhee, dirinya sama sekali tidak diberi waktu untuk menolak maupun hanya sekedar menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya sedang akan pergi pulang, setidaknya seharusnya Jihyun tahu dengan hanya melihat dirinya yang sudah tidak memakai jas putih melainkan hanya memakai kemeja biasa. Seketika itu juga Donghae merasa menyesali keputusannya untuk kembali ke rumah sakit karena laptopnya yang tertinggal sebelum pergi tadi sore karena terlalu buru-buru, sedangkan besok ia tidak ada jadwal praktik, hanya kunjungan pasien di siang hari.

Dengan canggung Donghae mulai mengangkat suara, “Saya Lee Donghae.” ujarnya seraya mengulurkan sebelah tangannya yang kemudian disambut dengan ragu-ragu oleh Yeonhee yang hanya menyebutkan namanya dengan singkat, “Yeonhee.”

*

Jihyun baru saja selesai melakukan operasi mendadaknya dengan tanpa hambatan yang berarti, walaupun berhasil dilakukan namun tetap memakan waktu yang panjang, kini ia sudah kembali berganti pakaian normal dan berusaha menemukan Yeonhee yang tadi ia tinggalkan pada seseorang untuk menemani. Dengan menghela napas Jihyun berusaha mengingat seseorang tersebut.

Lorong rumah sakit yang sudah sepi membuatnya mempercepat langkah, ia sudah meninggalkan Yeonhee selama kurang lebih tiga jam ditambah dengan acara makan mereka yang tidak sampai selesai karena harus segera menangani seorang pasien, ia tidak ingin melukai perasaan adiknya itu lagi.

Dengan pikiran yang masih memikirkan Yeonhee dan detak jantungnya yang berdebar cepat, seketika itu juga ia hampir saja bertubrukan dengan seseorang tepat di persimpangan koridor.

“Cho Kyuhyun?” Jihyun berujar karena kaget melihat Kyuhyun yang berada di sana, seingatnya rekan kerjanya itu tengah ambil cuti sehari. Detik itu juga Jihyun teringat akan Hyunjung yang malam ini seharusnya sudah kembali ke rumah sakit. “Dari mana?” tanyanya pada Kyuhyun yang tampak biasa saja.

Jihyun diam-diam melirik ke arah kamar rawat kelas paling eksklusif milik Hyunjung yang berada tidak jauh dari tempatnya berpapasan dengan Kyuhyun. Dalam hati seolah dapat menebak, semua semakin jelas kini bagi Jihyun. Ia menarik ujung bibirnya terlihat mulai sarkastik, “Bagaimana Hyunjung?”

Dengan tetap terlihat santai, Kyuhyun hanya mengendikkan bahunya meskipun dalam hati berharap Jihyun tidak bertanya macam-macam kepada dirinya.

Jihyun melirik ke arah kamar Hyunjung yang tertutup dari balik kacamatanya. “Hyunjung sudah kembali, kan?” tanpa menunggu sahutan dari Kyuhyun, Jihyun segera berlalu pergi seraya menepuk bahu Kyuhyun, seakan tidak ingin memperpanjang apapun, setidaknya tidak dulu hari ini, karena tanpa Kyuhyun ketahui, Yeonhee sudah menunggu.

*

“Yeonhee,” panggil Jihyun kepada Yeonhee yang tengah asik mengobrol dengan Donghae. Entah apa yang mereka bicarakan, Jihyun tidak begitu memperhatikan. Yeonhee lebih dahulu menoleh kepada Jihyun yang masih berdiri tidak jauh dari ambang pintu ruangan Donghae. “Ayo pulang.” sambungnya lagi sambil menghampiri Yeonhee dan Donghae yang masih duduk di sofa.

Mendengar ajakan Jihyun seketika membuat Yeonhee sedikit mengerucutkan bibirnya membuat Jihyun semakin tidak mengerti sementara Donghae beranjak berdiri dari sofa sambil membenarkan kemejanya. “Sudah selesai?”

Jihyun mengangguk samar seraya mengulurkan sebelah tangannya pada Yeonhee yang segera meraihnya. “Kami pergi dulu, sampai nanti.” Jihyun berujar kepada Donghae sambil membawa Yeonhee pergi menjauh. Sedangkan Yeonhee masih belum dapat melepaskan pandangannya ke belakang sambil melambaikan tangannya. “Sampai jumpa, Donghae oppa!”

*

Di dalam mobil dengan musik yang diputar pelan, Jihyun sesekali mencuri pandang ke arah Yeonhee, memastikan bahwa adiknya itu tidak sedang merajuk atau semacamnya karena telah ia tinggalkan selama hampir tiga jam dan juga sudah merusak acara makan malam mereka.

“Dia baik saja kan?” Jihyun berkata hati-hati memecah keheningan.

Dengan menoleh cepat, Yeonhee terdengar riang kembali “Oh, Donghae oppa?” Jihyun bergumam pelan disusul oleh sahutan Yeonhee yang masih terdengar begitu bersemangat walaupun hari sudah larut. “Dia justru sangat baik.”

“Oppa tidak pernah menceritakan tentang teman oppa.” Yeonhee berkata lagi membuat Jihyun menoleh. “Benarkah?” dari sekian lama Jihyun bekerja di sana hampir tidak penah menceritakan kehidupannya di rumah sakit kepada Yeonhee. “Mau dengar?” hanya anggukan semangat Yeonhee yang segera membuat Jihyun mau tidak mau melakukannya.

*

Dengan seperti tidak bertenaga, Eunra mulai menata dan menyusun kembali sebagian bajunya ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Masa berliburnya di korea sudah harus segera usai. Jadwal keberangkatannya pun hanya tinggal beberapa jam lagi. Tidak ada yang dapat diubah, walaupun tetap tidak dapat menemui Jihyun untuk mengobati rasa rindunya akan kekasih lamanya itu.

Ketika memasukkan sehelai baju terakhir, Eunra merasakan ponselnya bergetar diantara baju yang masih berserakan di atas kasurnya. Tanpa dapat menebak siapa yang akan meneleponnya di tengah malam seperti ini, Eunra mengangkatnya dengan malas, kemungkinan hanyalah pamannya mengingatkan akan jam penerbangannya, memastikan Eunra tidak akan bangun telat dan melewatkan kepulangannya.

“Halo,” suara dari seberang sana terdengar rendah membuat seketika itu Eunra menghentikan gerakan tangannya menutup resleting koper dan segera menurunkan kembali ponselnya, melihat sendiri ke arah layar ponsel untuk mencari tahu siapa yang baru saja meneleponnya, yang ternyata bukanlah pamannya.

Tanpa bisa mengeluarkan suara dengan benar, Eunra menjawab dengan nada yang tiba-tiba berubah serak. Dengan lututnya yang terasa lemas, ia berusaha merangkak menaiki kasur. Masih belum dapat percaya sepenuhnya akan seseorang yang tengah meneleponnya.

“Ada apa menelepon?” saat itu juga Eunra segera teringat pada saat dirinya menghubungi Jihyun beberapa jam lalu, yang pada saat itu Jihyun berkata bahwa sedang sibuk dan akan menelepon balik.

Dengan ragu-ragu ia mulai mengeluarkan kembali suaranya, “Apa mungkin kita pernah bertemu lagi, setelah terakhir kali aku menemuimu di rumah sakit?” tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya sambil melirik jarum jam pada jam dindingnya, Eunra mengerutkan kening, sudah tengah malam, sedangkan Jihyun baru meneleponnya lagi pada jam ini, Eunra segera dapat menyimpulkan bahwa laki-laki itu baru mendapatkan waktu luangnya pada saat hari telah begitu larut, Jihyun belum berubah, selalu sibuk sejak mereka masih bersama dahulu. Namun setidaknya Jihyun menepati janjinya.

Terdapat jeda beberapa saat tanpa ada jawaban dari Jihyun, kenyataan bahwa Jihyun benar-benar menelepon balik, sudah membuat ada sedikit rasa berbinar dalam hatinya, entah apa yang telah membuat Jihyun mau melakukannya, Eunra masih tidak dapat menebak, mengingat bagaimana saat terakhir kali dirinya menemui Jihyun di rumah sakit, Eunra masih belum dapat melupakan tatapan pria itu terhadapnya yang terlihat begitu dingin.

“Ya,” suara Jihyun kini terdengar berat sementara Eunra menahan napasnya, tidak menyangka Jihyun akan berkata demikian. Belum dapat Eunra mengatur kembali napasnya, Jihyun sudah kembali terdengar, “Kamu datang menemuiku dalam keadaan begitu mabuk.” tanpa dapat Eunra cegah, jantungnya kini berdegup begitu kencang.

“Dan dasi ini, benar milikmu?” Eunra mengatakannya dengan bergetar, rasanya ingin menangis, namun dirinya terlalu lemah untuk dapat mengeluarkan air mata.

Dari seberang sana suara rendah milik Jihyun terdengar lagi, “Ya, itu milikku.”

***TBC***

Iklan

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s