[Oneshot] The Opposite

the-opposite-hongbin

 

The Opposite

cast VIXX’s Hongbin and You genre AU, Surrealism, Romance duration Oneshot rating PG-15

.

Karena aku… akan selalu mencandu akan dirinya.

.

.

.

“Selamat pagi, Sayang.”

Aku menggilai senyum itu—senyum yang datang bersamaan dengan sapaan selamat paginya, dipulas dengan begitu lembut dan dilengkapi lesung pipi yang tercetak manis. Lantas, pria bernama Lee Hongbin ini pun akan mendekapku erat, membiarkan indra penciumanku menghidu aroma parfumnya yang khas dan menyegarkan. Jangan lupakan pula tangan hangatnya yang selalu mengacak puncak kepalaku lembut, seolah sedang menyalurkan rasa semangat dan membuat sudut-sudut bibir ini tak bisa berhenti berjingkat ke atas.

.

.

“Kau sudah makan?”

Terkadang, pada suatu siang yang penat dan dipenuhi oleh tumpukan tugas kuliah, Hongbin akan datang padaku seraya memamerkan cengiran lebar. Lengannya otomatis akan merangkulku, sementara sebelah tangannya menyingkirkan tumpukan buku-buku dari atas meja perpustakaan dan membuatku terpaksa mendesiskan protes. Tak pernah berhasil, sebenarnya. Lelaki ini selalu memiliki cara untuk membungkamku dan itu mengesalkan.

“Kubilang—“

Hongbin mengecup pipi kananku.

Ya! Lee Hongbin, ini perpustakaan!” bisikku sebal. Namun, lagi-lagi, Hongbin hanya terkekeh pelan dan menarikku keluar dari tempat ini, jelas-jelas mengabaikan pandangan menusuk dari pria paruh baya yang berjaga di konter samping pintu perpustakaan. Kepalanya dicondongkan begitu dekat ke arahku, dan sebelum aku bisa mencegahnya, ia—

“Lee Hongbin!”

—sudah mencium pipi kiriku.

“Makanya jangan banyak protes. Yuk, makan.”

Dan aku pun tak bisa menolak, tidak kalau lelaki sialan ini malah tersenyum lebar dan membuat kakiku bertransformasi menjadi agar-agar.

.

.

Malam pun tak jauh berbeda.

“Sampai besok, Hongbin-a.

Sebelah tanganku sudah menggapai handle pintu mobil, bersiap untuk mendorongnya hingga terbuka. Kendati begitu, punggungku masihlah menempel lekat pada jok mobil yang empuk, sementara sepasang manikku menilik ke arah Hongbin yang masih mencengkeram roda kemudi. Lelaki itu mengarahkan pandangannya lurus ke depan, tak bersuara, pun mengumbar senyum seperti biasa.

“Hongbin-a?” Lirih, kuputuskan untuk menarik perhatiannya dan mencari tahu mengapa ia tak mengucapkan kata-kata “Selamat malam, mimpi indah, ya” seperti pada hari-hari lain. Hongbin hanya mengamatiku lamat-lamat dari sudut mata, genggamannya pada setir mobil seketika menguat. Aku meneguk ludah, gugup sekaligus bingung pada saat yang bersamaan.

“Kau tidak keluar?”

“Y-ya?”

“Aku lelah,” tandas Hongbin dengan nada datar, mendadak terlihat jengkel. “Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, cepat keluar.”

“O—“ Tanpa sadar aku mengepalkan tangan, menahan sesak yang tiba-tiba menerjang dada. Hongbin tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu kepadaku. Apa pun situasinya, selelah apa pun dia, Hongbin adalah jenis pria yang tak pernah absen mengulas senyum. Lantas… mengapa?

“Kau masih diam di sana?”

“O-oke. Aku… masuk dulu, ya. Bye.”

Hongbin mengedikkan bahunya sebagai jawaban, sepasang irisnya bahkan tak melirikku barang sedikit pun. Ia membiarkanku membanting pintu mobilnya hingga menutup, kemudian lekas-lekas melesat menjauh seakan aku ini hanya seonggok benda yang tak perlu diperhatikan.

Oh well, kurasa aku salah.

Malam ini jelas berbeda.

Lee Hongbin, kau kenapa?

.

.

“Pag—“

“Aku tak bisa menjemputmu, kita bertemu di kampus saja.”

Pip.

Aku tak mengerti, tak bisa memahami dari mana datangnya emosi negatif yang merasuki Hongbin sejak beberapa malam lalu. Pagi ini bahkan lebih parah lagi. Ketika aku mendapati bahwa sosoknya tak berada di depan pintu rumahku seperti biasa, kuputuskan untuk meneleponnya dan… sudahlah tak usah dibahas lagi. Untuk mengucap sapa padaku saja sepertinya ia enggan.

“Awas kalau aku sampai terlambat karenamu, Lee Hongbin,” geramku seraya meraih payung dan jaket, lantas cepat-cepat menerobos hujan menuju halte bus terdekat. Angin dingin berembus tanpa belas kasihan, menerbangkan helai-helai rambutku hingga berserabutan menutupi wajah. Dalam diam yang ditingkahi deru air hujan, aku bisa merasakan sesuatu yang panas menggumpal di pelupuk mata sebelum akhirnya meluncur turun. Membasahi pipiku dalam bentuk sepasang anak sungai, membaur dengan tetes air hujan yang tak sengaja menciprati wajah.

“Kau menyebalkan. Apa salahku, Hongbin-a?”

.

.

“Kau tidak makan?”

Kala pertanyaan macam itu meluncur masuk ke dalam gendang telingaku lagi, aku memilih untuk mengatupkan bibirku rapat-rapat dan bersembunyi di balik jurnal tebal yang sedang kubaca. Menenggelamkan diri di sudut perpustakaan yang sepi, menolak untuk bertatap muka atau melempar jawab pada pertanyaan Hongbin barusan.

Apa pedulinya?

“Hei, kau ingin dicium, ya?”

Aku mendengus, mau tak mau mengintip dari balik lembar-lembar kertas yang sedang kubaca. Hongbin berdiri tepat di hadapanku seraya menyedekapkan lengan, senyum dan kilat mata usilnya sudah kembali.

Namun, bukan itu yang membuatku terpana.

“Rambut…mu, kenapa?”

“Oh, ini?” Hongbin beringsut mendekat ke arahku, memamerkan rambut barunya yang kini berwarna pirang madu dan terlihat mencolok. “Supaya suasana lebih cerah, itu saja.”

“T-tapi….”

“Sudahlah. Aku ke sini untuk mengajakmu makan, bukan berdebat. Yuk.”

Dengan seenaknya, jemari Hongbin kini sudah bertautan dengan milikku, menarikku keluar dan meredam semua protesku yang agaknya sudah tersangkut di tenggorokan. Aku tak mengerti. Ke mana perginya Hongbin yang penuh emosi? Apa ia… sedang mengalami masalah sehingga mendadak bersikap aneh?

“Hongbin-a, tadi pagi…”

“Kenapa?”

“Kenapa kau tidak bisa menjemputku? Kau sedang ada masalah?”

“Masa?” Hongbin mengangkat bahunya, kebingungan tercetak jelas di raut wajahnya yang tampan. “Bukankah aku selalu menjemputmu? Kau ini sedang bicara apa sih, Sayang?”

Dan guratan di keningku pun seketika muncul, menutup percakapan aneh ini dengan bisu.

Lalu yang tadi pagi itu… apa?

.

.

“Bangun.”

Seseorang mengguncangkan bahuku, menyentakkanku dari fase tak sadar hingga berjengit kaget. Aku mengerjap, membiarkan bias sinar lampu pinggir jalan menyerobot masuk ke dalam mata. Seraya menoleh linglung, kudapati wajah Hongbin yang masam hanya berjarak beberapa inci saja dari diriku.

Aku mengerjap, lagi.

“Hongbin-a? Kenapa?”

“Mobil ini bukan tempat untuk tidur. Sana keluar.”

Aku mengerutkan kening, tak yakin apakah telingaku berfungsi dengan benar sekarang. Tadi, setelah makan siang dan menyelesaikan kelas sore, Hongbin yang kini berambut pirang mengajakku pulang dengan ceria dan berjanji bahwa ia akan bergabung denganku untuk makan malam. Namun… sekarang? Apa yang….

“Kau mau menunggu sampai kapan?”

“Ah…” Aku menggeleng pelan. “Tidak, aku akan… keluar sekarang.”

Hongbin mengangguk tegas, seolah menyetujui perkataanku dan mendorongku untuk cepat-cepat pergi. Surai rambut hitamnya terjuntai ke depan hingga menutupi mata, membuat penampilan dan sikap diamnya menjadi berkali lipat lebih mengerikan.

Eh.

Tunggu.

Rambut… hitam?

“Hongbin-a, tunggu!” ujarku sembari mengetuk jendela mobil, memaksa lelaki itu untuk membukanya barang sejenak. “Rambutm—“

“Aku sedang banyak urusan. Kita bicara besok saja. Bye.” Hongbin memotong rasa ingin tahuku dengan tajam, kakinya menginjak pedal gas tepat setelah ia menutup kaca jendelanya rapat-rapat. Lagi, ia meninggalkanku sendiri, berkubang dengan sejuta tanya dan rasa sedih di dada.

Sebenarnya, apa yang terjadi di sini?

Aku salah apa?

Dan yang tadi siang itu… siapa?

.

.

“Pagi ini cerah, ya.”

Aku menelengkan kepala, tak berani berkomentar. Hari ini memang cerah; terlihat jelas dari gumpalan awan tipis yang hanya berarak di sebagian tempat, langit biru yang membentang tak berujung, juga kicau burung yang seakan tak ada habisnya. Rambut Hongbin sudah kembali berubah warna—pirang dengan semburat oranye—sementara senyum lebar dan lesung pipi yang dalam itu kembali terpahat di wajahnya. Ia mengayun-ayunkan tangan kami yang bergandengan erat, seolah hendak menunjukkan kepada dunia bahwa kami ini pasangan yang bahagia.

Oh, benarkah itu?

“Kenapa diam saja?”

Kepalaku spontan mendongak, terlebih kala Hongbin menghentikan langkahnya di sepanjang trotoar dan memosisikan dirinya tepat di hadapanku. Tangannya yang tadi menggenggam milikku kini sudah terlepas, tersimpan rapi di balik saku jaket yang ia kenakan. Hongbin mengamatiku lekat-lekat, iris cokelat tuanya bersirobok denganku dan seolah menyelami isi hatiku yang tersembunyi. Salah tingkah, aku pun berdeham pelan dan mengalihkan perhatiannya.

“K-kemarin itu….”

“Ya?”

“Kau mengecat rambut berulang kali?”

“Tidak.”

Aku mengernyit, namun membiarkan rasa penasaranku terpendam untuk sementara waktu. Saat ini, ada masalah yang kiranya lebih mendesak jika dibandingkan dengan meributkan warna rambut Hongbin.

“Lantas… kau marah?”

“Tidak, untuk apa?”

“Kau mengabaikanku,” tuduhku langsung. Kening Hongbin pun sontak memunculkan kerut, sementara senyumnya pudar ditelan ekspresi cemberut. Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, membiarkanku menghirup aroma tubuhnya yang… seperti cokelat hangat.

Sejak kapan Hongbin memakai parfum beraroma cokelat?

Well, aku tak menyangkal kalau aku senang karena wangi itu adalah salah satu favoritku. Namun, di sisi lain, aku yakin kalau memoriku masih berfungsi dengan baik—setidaknya cukup baik untuk mengingat ucapan Hongbin bahwa ia tak suka bau cokelat yang terlampau manis.

Lalu ini….

“Aku tidak mengabaikanmu.”

“Tapi kemarin—mmph!

Hongbin memotong ucapanku dengan cara yang paling ampuh sekaligus tak bisa disebut sopan—mengingat kami sedang berada di tengah keramaian saat ini. Ia menciumku, membungkamku rapat dengan kedua belah bibirnya yang lembap dan hangat. Lelaki itu sama sekali tak memiliki niat untuk melepaskanku, bahkan ketika aku berusaha mendorongnya menjauh untuk menarik napas. Kedua lengannya melingkari pinggangku erat, sementara bibirnya—syukurlah ia sadar bahwa jantungku tak sekuat itu—akhirnya bergerak naik dan mendarat di atas dahiku, mengecupnya lama tanpa ada maksud untuk menyudahi.

“Lee Hongbin….”

“Aku yang di sini tak akan pernah mengabaikanmu.”

Lantas bibirku pun kembali terkatup rapat, tak memiliki kesempatan untuk berdebat atau bertanya karena Hongbin baru saja menciumku lagi. Dan kali ini, untuk waktu yang cukup lama, sampai-sampai aku pun kehilangan hitungan akan menit dan hanya bisa balas merangkulkan kedua lenganku pada lehernya.

Masa bodoh dengan semua keanehan itu.

.

.

“Jangan main-main, aku tak punya waktu untuk meladenimu.”

“Hongbin-a,” desahku pelan pada corong telepon, “aku tidak sedang main-main.”

“Rambut pirang dan pergi berjalan-jalan berdua katamu? Kau jelas sedang mempermainkanku.”

Aku menarik napas, membiarkan oksigen meluncur masuk ke dalam paru-paru sementara diri ini susah payah menelan emosi yang ada agar tak mencuat ke permukaan. Dengan sabar, aku pun mengulangi detail kejadian tempo hari pada Hongbin, berusaha keras untuk mencari tahu mengapa sikapnya mendadak berubah-ubah begini.

“Aku tak bisa memahami omonganmu. Dan bukankah aku sudah bilang bahwa aku sedang sibuk?”

“Tapi, Hongbin-a, kau harus mendengarkanku! Sikapmu berubah dan—“

Pip.

Telepon diputus secara sepihak, memaksaku untuk bersandar pada tembok terdekat sebelum akhirnya merosot turun ke lantai. Air mata menggenang di pelupukku, menderas tanpa bisa dihentikan. Samar-samar, aku bisa membayangkan bagaimana Hongbin biasa merangkulku dalam kondisi seperti ini, membiarkanku mengubur tangis dalam dekap hangatnya dan membasahi kausnya dengan bulir-bulir air mata. Namun, saat ini, dengan kesadaran yang terasa menghunjam ulu hati, aku terpaksa mengakui bahwa aku sendirian. Tak ada lagi yang datang untuk memelukku, pun sekadar mengulas senyum manis yang membawa keceriaan.

Aku telah diabaikan dan…

…bolehkah aku berharap bahwa semua ini hanyalah bayang semu semata?

.

.

“Ayo kita putus saja.”

Dua minggu berlalu dan aku tak tahan lagi. Aku tak mengerti, tak bisa mencerna semua fenomena aneh ini secara sempurna. Hongbin lebih sering bersikap diam dan tak segan melempar kata-kata dingin padaku, membuatku perlahan menjauh dan memilih untuk melakukan hal yang serupa. Namun, ada kalanya ialah yang datang mencariku; bersikap layaknya Hongbin yang dulu—ceria, penuh tawa, dan suka menggoda—serta kerap berpolah seakan tak pernah ada yang salah di antara kami.

Dan jangan lupakan warna rambutnya yang berubah secara tak pasti. Juga aroma cokelat yang menempel. Serta—

“Putus?” Tangan Hongbin menggebrak loker perpustakaan yang berada tepat di belakangku, memenjarakanku dalam kedua lengannya yang kokoh. Beberapa mahasiswa lain menoleh dan bergumam penuh rasa ingin tahu, namun Hongbin mengabaikan semua itu dan memilih untuk menutup jarak di antara kami.

“Iya, ayo kita putus saja,” ulangku dengan nada semantap mungkin, berusaha agar tidak gemetar di hadapannya. “Kalau kau terus seperti—“

“Aku masih mencintaimu,” desisnya tepat di samping telingaku, membuatku sontak bergidik kala napasnya menyapu tengkukku yang terbuka. “Jangan pernah berpikir untuk putus dariku, Nona.”

“Kalau kau mencintaiku, lantas apa yang terjadi belakangan ini, hah? Kau mengabaikanku, kau bahkan tak melirikku dan—ya!” Aku membentaknya, berusaha mendorong tubuh itu menjauh kala bibirnya mendarat di atas leherku dan merambatkan panas ke seluruh penjuru tubuh.

“Jangan pergi,” perintah Hongbin dalam nada rendah mengancam, jemarinya kini bergerak turun untuk mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat. “Aku masih mencintaimu dan aku tahu kalau kau pun sama. Apa pun yang terjadi, jangan pergi, paham?”

Aku terdiam.

“Kuanggap itu sebagai jawaban iya.”

.

.

“Aku masih mencintaimu.”

Kupejamkan kedua mataku erat-erat, berusaha untuk mengusir gema suara Hongbin yang tak kunjung mau beranjak dari ingatan. Perintahnya yang sarat akan paksaan tadi masih terekam jelas di dalam benak, membuatku bergidik kala menyadari bahwa aku tak lagi punya pilihan selain mematuhinya.

Karena sejujurnya, aku juga… masih amat mencintainya.

Aku tak bisa berbohong soal yang satu ini, tidak karena kata “putus” yang kuucapkan tadi pun pada dasarnya tidak keluar dari lubuk hatiku yang terdalam. Kendati sikap Hongbin berubah, namun ia masih ingin memilikiku.

Dan aku masih ingin memilikinya.

Mungkin ia bosan, sahut sebuah suara dari dalam kepalaku. Mungkin kami sedang dalam fase itu, jengah akan hubungan ini, tetapi terlalu enggan untuk mengakhiri. Ada ‘kan, orang-orang yang seperti itu? Menggantung, kendati sebenarnya masih saling menyukai.

Apa itu… jawabannya?

Aku berguling pelan di atas kasurku, masih membiarkan mataku terpejam erat sementara pikiranku melayang tak tentu arah. Bisa saja argumenku tadi adalah jawaban yang tepat, alasan atas semua kejanggalan ini. Meskipun begitu, sebagai orang yang tersakiti di sini, tentu saja aku tak bisa memungkiri bahwa aku—

.

.

“Merindukanku?”

Ya, tentu saja.

Cuaca hari ini tergolong cerah, terik meskipun angin sepoi-sepoi masih berbaik hati untuk berembus dan menghapuskan gerah yang melanda. Jalan setapak tempat kami bersua dinaungi oleh puluhan pohon yang berderet rapi, semuanya membentuk jalinan kanopi hijau tua yang teduh. Beberapa pasang kekasih bertebaran di sekitar tempat ini, menambah ramai suasana akhir minggu pada suatu musim semi.

“Kau dari mana saja, Hongbin-a?” gumamku pelan ketika kedua lengan lelaki itu membelit pinggangku sementara ujung dagunya bersandar di atas lekuk bahuku. “Aku merindukanmu, tentu saja.”

Hongbin yang ini, si pemuda berambut pirang yang selalu muncul di saat tak terduga, terkekeh lirih dan hanya menjawab pertanyaanku dengan cara mengencangkan pelukannya. Ia mempertahankan posisi itu selama sepersekian menit lamanya, sebelum akhirnya melepaskan diri dan membalikkan tubuhku untuk bertatap muka dengannya.

“Aku tidak pergi ke mana-mana.”

“Bohong,” ujarku dengan nada setengah merajuk. “Kemarin saja kau marah-marah padaku.”

“Yang marah padamu itu bukan aku,” bantahnya seraya memasang tampang bingung. “Kau pasti salah orang.”

“Mana mung—“

Sssh! Apa kauingin menghabiskan hari yang indah ini dengan berdebat?” potong Hongbin sembari mengacak-acak rambut pirang madunya, membuat helai-helai itu makin bersinar mencolok kala sinar matahari yang menyusup di sela-sela rimbun dedaunan menimpanya. “Ayo, kita berkencan saja.”

Aku bungkam, membiarkan Hongbin yang penuh senyum ini merangkul bahuku dan mengarahkan langkah kaki kami di sepanjang jalan setapak. Ia mengoceh riang, sesekali berhenti untuk mengambil foto bersamaku atau mengomentari pejalan kaki yang lain. Sikap dinginnya selama dua minggu belakangan bagaikan lenyap tak berbekas, membuat benakku terus bertanya-tanya lantaran otakku tak lagi bisa memberikan penjelasan yang masuk akal.

Satu, aku tidak mungkin berpacaran dengan dua pria sekaligus.

Dua, mereka sama-sama mengaku bernama Lee Hongbin dan memiliki pribadi yang amat bertolak belakang.

Dan tiga… manakah Lee Hongbin yang asli?

Oh, ada yang bertengkar.”

Lamunanku spontan buyar, kepalaku terangkat kala suara seorang lelaki yang sedang berteriak keras menggema di sepanjang jalan. Tanpa kusadari, rupa-rupanya kami sudah melangkah keluar dari area taman kota dan sedang berdiri di tepi jalan raya, menunggu untuk menyeberang.

“Mana?”

Telunjuk Hongbin mengarah ke samping kanan, tepat pada sepasang sejoli yang sedang bertukar amarah dan bentakan di depan sebuah kedai es krim. Sang lelaki berambut hitam pekat, tubuh jangkung dan tegapnya terasa tak asing di mataku. Sementara yang perempuan….

“Hei, kau kenapa?”

Hongbin melambaikan tangannya di depan wajahku, tak menyadari bahwa tindakannya barusan sudah terlampau terlambat. Manikku tak sengaja bersirobok dengan gadis yang sedang bertengkar dengan kekasihnya itu, gadis yang memiliki rambut cokelat panjang dan mengenakan kardigan putih favoritku, gadis yang ternyata…

“Itu aku.”

… adalah diriku sendiri.

“Hongbin-a, ini di mana? A-aku… aku tak mungkin melihat diriku sendiri, bukan?”

Rahang Hongbin mengeras, jemarinya yang melingkari pergelangan tanganku seketika mengerat sementara langkah-langkahnya bertambah cepat. Ia seakan diburu waktu, menyeretku menjauh dari situasi tak mengenakkan barusan tanpa berkomentar barang sedikit pun.

“Hongbin-a!” Aku memberontak. Sekuat tenaga aku berusaha untuk mempertahankan pijakanku di atas tanah, menolak untuk bergerak barang seinci pun sebelum mendapatkan sebuah penjelasan. “Aku tak mengerti! Kumohon, Lee Hongbin…”

“Kendalikan dirimu,” geramnya dari sela-sela gigi, debam sepatunya yang beradu dengan trotoar kini terdengar semakin mantap. “Kau yang menciptakan ini, jadi kendalikan dirimu!”

Aku terperenyak, tak lagi mampu menahan berat tubuhku kala mendengar bentakan Hongbin. Tanpa dikomando, bola mataku kembali bergulir ke arah sepasang kekasih tadi—mengamati bagaimana gadis yang bagai kloningan diriku terisak sementara sang lelaki hanya melengos membuang muka dan tanpa sengaja bertatap pandang denganku.

Oh, tidak.

Ketajaman mata Hongbin yang berambut hitam pekat itu seakan menusukku, memaksa wajah ini untuk berpaling dan menunduk dalam demi menyembunyikan identitas. Terjebak dalam semua anomali ini, aku tak lagi mampu menahan gemetar tubuhku yang masih terduduk di pinggir jalan. Pikiranku mengabur, mencampuradukkan batas antara realita dan imaji. Aku tak mengerti, sungguh-sungguh tak bisa memahami semua ini.

“Hei…”

Aku menggeleng cepat, menampik panggilan bernada lembut itu kendati sebelah tangan Hongbin—entah Hongbin yang mana aku sudah tak peduli—mengangkat daguku dengan penuh kehati-hatian. Lamat-lamat, meskipun masih enggan, kuarahkan pupil mataku hingga bertemu dengan sepasang iris cokelat hazel milik Hongbin, mengamatinya lekat seraya menahan bulir air mata yang sudah menggantung di sudut pelupuk.

“Jangan perhatikan mereka.”

Bibirku masih terkunci rapat, sementara Hongbin yang ini—satu yang berambut pirang cerah dan telah membuatku tersenyum sepanjang hari—menghapus air mataku dengan ujung jemarinya sebelum mendekapku erat. Kedua belah bibirnya mendarat tepat di samping telingaku, membisikkan kata-kata manis yang membuai dan meredakan getar ketakutan dalam tubuhku. Setelah beberapa menit berlalu, suara-suara pertengkaran itu pun berangsur-angsur mereda dan digantikan dengan desah napas Hongbin yang masih memelukku, agaknya tak memiliki niat untuk melepaskan sampai diri ini benar-benar tenang.

“Hongbin-a….

Sssst, tidak apa-apa. Tenangkan saja dirimu, pejamkan matamu…”

Aku menurutinya.

“… dan ayo kita pergi. Pergi ke tempat dimana hanya ada aku dan kau, tanpa dia yang bisa menyakitimu.”

.

.

Tatkala mataku mengerjap hingga terbuka lebar, bentangan rumput bak permadani hijau pohon-pohon yang digelantungi buah apel merah, dan semerbak wangi bunga menyambutku begitu saja. Terpana, sepasang manikku lantas beralih memandangi langit lembayung muda yang terbentang bak selimut lembut di atas sana, lengkap dengan burung-burung sewarna pelangi yang terbang ke segala arah tanpa kenal lelah.

Di mana aku sekarang? Apa ini… nyata?

“Kau sudah bangun? Indah, ya.”

Kepalaku kini tertoleh ke samping kiri, hanya untuk mendapati sosok Hongbin yang juga tengah berbaring dan membiarkan salah satu burung pelangi tersebut bermain-main dengan helai rambut pirangnya. Ia memejamkan mata, bibirnya mengulas senyuman manis yang selalu bisa menghipnotisku sejak dulu.

“Iya,” balasku jujur, tak mampu untuk memikirkan kata-kata lain di tengah keanehan yang semakin menjadi. “Kita di mana?”

“Kau yang mengajakku ke sini,” balas Hongbin dengan riang, seolah mengatakan bahwa hal itu sudah teramat jelas kebenarannya. “Kau tak ingat?”

Aku menggeleng dan beringsut mendekatinya, membiarkan kepala ini bersandar pada lengan atasnya sementara tubuhku bergelung rapat di samping sosok tegapnya yang menguarkan aroma cokelat. Hongbin tak memprotes. Ia hanya membiarkanku berbaring di sana, mendengarkan sepasang debar jantung yang bersahutan dengan seirama, pun dengan embusan napas kami yang memiliki ritme sama. Begitu tenang, damai, dan—

Sial!

“Apa ini nyata?” ucapku tanpa peringatan, membuat lengan Hongbin yang tengah melingkari bahuku sontak menegang. “Apa kau nyata?”

“Apa kau siap mendengar jawabannya, kalau begitu?”

Aku terdiam mendengar nada bicara Hongbin yang tetap tenang, kendati reaksi tubuhnya jelas-jelas mengatakan sebaliknya. Perlahan, sepasang kelopaknya pun menggeletar terbuka. Detik berikutnya, iris hazel itu sudah mengunciku dalam adu tatap yang hanya berjarak sejengkal, tanpa peringatan ataupun aba-aba sebelumnya.

Tegukan ludahku terdengar begitu kentara dalam hening yang mengikuti.

“Aku—“

“Realita tak pernah seindah tempat ini, Sayang,” ucap Hongbin lirih, bibirnya kini hanya berjarak setengah jengkal dari milikku. “Kau tentunya menyadari itu, bukan?”

“Y-ya. Aku tahu… aku… tolong bantu aku.”

Suaraku nyaris merengek sekarang, terlebih ketika Hongbin menyusupkan jemarinya pada helai rambutku dan menarik kepalaku semakin mendekat. “Aku selalu membantumu. Aku selalu di sini, iya, ‘kan?”

Kepalaku terangguk, sementara bibirku tanpa sadar sudah kembali terbuka dan meluncurkan sebuah perintah, “Aku siap. Bisa tolong jelaskan?”

Dan Hongbin pun mendesah panjang, menyelipkan secercah nada penyesalan di sana. Bibirnya mengecup milikku dengan selembut mungkin, amat penuh dengan kehati-hatian sebelum akhirnya ia pun melepaskan diri dan bergumam, “Kau benar, aku tidak nyata.”

.

.

“Hongbin-a.”

“Jangan sekarang,” timpal Hongbin seraya membuang muka, jemarinya sibuk memainkan pulpen sementara matanya terfokus pada buku tebal yang tergeletak di atas meja. “Aku ada kuis, nanti saja kalau mau mengobrol.”

“Iya, aku tahu, kok,” balasku dengan nada seceria mungkin sambil melangkah mendekatinya. Ragu-ragu, aku meletakkan sebelah tangan di atas pundaknya, berharap agar ia tidak mendorongku menjauh atau mulai bersikap dingin. “Sukses, ya, untuk kuismu.”

Hongbin mengangguk cepat, matanya yang berwarna gelap pekat melirikku dari balik helai rambut hitamnya yang jatuh menutupi dahi. Ia sama sekali tak tersenyum, namun pandangan yang menelusuri setiap inci wajahku itu sudah menjelaskan segalanya.

“Aku mencintaimu, Hongbin-a,” kataku sambil meremas pundaknya, menyalurkan sedikit semangat di sana. “Sampai nanti, ya.”

Lalu, aku pun melangkah pergi. Membiarkan Hongbin kembali berkutat dengan materi ujiannya tanpa diganggu, juga berusaha keras untuk menghindari pertengkaran dengan pribadi baru seorang Lee Hongbin yang berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari kepribadian lamanya.

Tidak apa-apa, bisikku pada diri sendiri seraya berderap menjauh, benakku tanpa sadar mengulang-ulang kalimat itu bagai mantra penyembuh. Tidak apa-apa. Kau masih mencintai Hongbin, kan? Tidak apa-apa, kalau begitu.

Lagipula, kau akan baik-baik saja… Semua pasti—

Langkahku kini terarah menuju salah satu sudut tersembunyi di perpustakaan, tempat yang teramat jarang disambangi oleh mahasiswa mana pun. Tanpa menimbulkan suara barang sekecil pun, aku mengenyakkan tubuh di salah satu kursi yang ada dan membenamkan wajahku dalam kedua lengan. Mengubur diri di sana, sementara mataku terpejam rapat dan siap untuk memasuki alam yang lain.

—akan baik-baik saja.

.

.

Dia berulah lagi?”

Hmm,” jawabku pelan sambil mengulum sendok es krim, sementara si Hongbin-rambut-pirang menggerakkan ayunan yang kududuki dalam gerak lambat. “Masih dingin, masih pendiam….”

“Tapi kau mencintainya?”

Pipiku sontak bersemu merah; kepalaku terangguk tanpa beban. Sambil mengerling Hongbin yang kini beralih untuk duduk di ayunan sebelah, aku pun berkata, “Aku tak bisa mengakhirinya. Kaulihat sendiri, bukan? Aku sudah mencoba dan aku gagal. Lagi, kendati aku tahu ia berubah… tetapi perasaan itu—“

“Tak pernah berubah, aku tahu,” ucap Hongbin lugas, menyelesaikan kata-kataku dalam sekali tebak. “Dan kau tidak apa-apa, harus menghadapi semua ini?”

Aku menggeleng, jemariku otomatis terulur untuk bertautan dengan miliknya—Lee Hongbin yang penuh senyum meneduhkan. Seperti yang sudah kuduga—dan juga kuminta—Hongbin membalas perlakuan itu dengan senyuman lembut dan lesung pipi yang menawan, satu yang membuat candu akan dirinya ini menjadi semakin tak berkesudahan.

“Aku tidak apa-apa,” jawabku mantap. “Sungguh, toh aku masih memilikimu, bukan?”

“Ya, tentu saja,” kekeh Hongbin seraya mengayunkan tangan kami. “Selama kau memintanya, aku akan selalu ada.”

“Kalau begitu, itu cukup.”

.

.

Karena aku… akan selalu mencandu akan dirinya.

Baik itu Lee Hongbin yang penuh senyum tapi semu, maupun dirinya yang nyata namun tak lagi hangat.

Bagai dua sisi mata uang yang berlainan, namun sejatinya mereka tetap satu.

Sehingga, pada akhirnya, aku pun tak bisa melakukan apa-apa selain menggenggamnya erat-erat dan memastikan agar keduanya tetap menjadi milikku.

Yang mana pun itu, tak peduli apakah ia membawa bahagia atau duka, perasaan ini akan tetap sama.

Aku mencintaimu.

.

fin.

A/N: 

Special thanks for Suciramadhaniy and her fic, Gray, for inspiring me and making me wanna write another surrealism fic :**

Oh ya, dan kalau anda bingung, selamat! /kicked/ karena sebenarnya saya juga nggak tau ini nulis apaan, asal ketik aja gara2 senyum Hongbin yang nggak mau keluar dari kepala -_-

Dan untuk Hongbin’s stan, maaf kalau terlalu OOC dan karakter Kong mendadak agak ketuker sama Leo, seriously, saya juga ga paham kok jadinya begini .__.v

Anyway, untuk kalian yang sudah baca, mind to leave some review? ^^

Iklan

43 tanggapan untuk “[Oneshot] The Opposite”

  1. Ini kenapa sih
    Yaampun sweet sekali oaaaa ;AAA;
    Huu, ketuker karakternya juga gak papa deh, jadinya bagus banget

    Sekarang aku jadi mikirin kalo Hongbin kaya gini masa ;;
    Bagus deh bagus 😀

    Suka

    1. KAK AMEEER. Maaf banget aku baru bisa nulis komen sekarang. Seperti kata iklan Kak, jadi anak SMA enak tapi susah dijalanin. Bikoz tugas yang menderaku terus menerus otidaaaxxx tugas kamu jangan menjalani hubungan sepihak dong, aku kan butuh seneng-seneng jugak! 😦 /ditimpuk telor asin/

      Dan ini Kak aduh aku sampe bingung mau komen apa, boong sih kalo aku bilang bingung mau komen apa soalnya ini aku lagi nulis komen dengan hidung kembang kempis #apaancoba. Walaupun di vixx cuma hapal Ravi, N, sama Leo tapi pas liat nama Hongbin di sini semacam ketarik-tarik medan magnet maha dasyat gitu Kak #lebaybangetlo #mendingpulangaja #instapulang. Dan pas baca sumpahhh aku ga nyesel Kak! Inituh URGH. Aku antara kesel sama Hongbin plus kesel ama tokoh ‘Aku’ nih bahaha. Aku kira awalnya Hongbin semacam punya kelainan jiwa 😦 dan setelah baca paragraf demi paragraf langsung kayak ‘OHHH GINI TOH.’ Dan si cewek ini kok ga biSA neRImA hongBin oPPa ap4 adaNXA?!?!? /ditimpuk martabak/ ngga deng ngga HEHEHEHE. Itu komen ngawur aku ketularan Asel kak hiQSzzzzzzzzzzz ;'(((. Awalnya rada bingung sih kenapa sifatnya Hongbin bisa berubah 180 derajat gitu, udah jenuh tohhh. Kalo udah jenuh sini sini sama Mala aja ;D

      Dan ceweknya ini…. hm….karena belum bisa nerima sifat Hongbin, dia akhirnya bikin tokoh imajinatifnya sendiri kan? Semacam pengen liat tokoh ‘Aku’ buat barengan terus ama Hongbin berambut madu, cuma kadang fantasi memang terlalu indah buat jadi realita Kak :’D /sesi curhat dibuka setelah ini/ Surrelismnya kerasa! Dan hebatnya lagi ini semacam di-mix sama kehidupan nyata urghhhhh suka banget deh! Dan pilihan tokoh ‘Aku’ buat lari ke Hongbin berambut madu saat dia sedih bikin aku iri 😦 Aku juga pengen punya Hongbin duaa.

      Intinya suka banget dehhhhhhh. Two tumbs up, ditunggu Kak fics yang selanjutnya! 🙂

      -xx Oliver

      Suka

      1. MALAAA! ah aku paham banget kok rasanya tugas bertumpuk terus kita mau ngapa2in gabisa huhuhu ;;; tapi masa SMA itu emang enak kok sayaaang, dijalanin aja, nanti kalo udah lulus pasti kangen berat sama masa terakhir make seraham sekolah ini ;;_;;

        Hahaha, hongbin ini emang punya magnet sepertinya… aku ga pernah barang sekalipun lirik dia jadi bias dan beberapa hari yg lalu ugh, serasa ketarik senyum dan pipi bolongnya yang nggak santai itu T^T yaudah aku bisa gimana… lahirlah fic aneh yg satu ini dimana hongbin jadi nista -_-

        dan kamu ini semacam out of the box (?) yak, orang lain ngiranya si cewek kelainan jiwa, kamu malah ngira hongbinnya xD dan yap kamu benaaar, si cewek belum bisa menerima sepenuhnya kalo hongbinnya udah agak jenuh sama dia makanya jadi begitu deh 😦 /lalu gelar sesi curhat galau masal/ xD

        lah kalo punya hongbin dua aku juga mau kaliiii, siapa sih yg gamau punya dua gitu, satu aja udah susah nyarinya dimana .__.

        makasih banyak ya udah repot2 nyempetin komen dimari T^T love you too Malaaa 😀 /ditimpuk soalnya kebanyakan gombal/ xD

        Suka

  2. KAKAK INI APA???!! MASA’ BACA ENDINGNYA AKU NYESEK TAK TERTAHANKAN GITU?!! SEMACAMNYA WAKTU LIHAT ENDING WEREWOLF BOY AAAAAAA DD”X

    oke… tenangkan diri… tenangkan diri…

    jujur aku gak ngerti kenapa Hongbin begitu, padahal dia sama Hyuk selalu jadi MC sarap di Plan V, ato malah yang lebih sarap lagi dia bikin grup komedi garing bareng Ravi (ya 93line berjaya untuk komedi di Vixx)… terus pas bikin Leo ketawa dia mempermalukan diri sendiri, terus yang dia suap-suapan sama Leo… dia masak bareng sama anak2 Vixx lainnya… ah… kenapa dia jadi dingin?! aku gak bisa membayangkan dia jadi orang dingin kak, maap T_T

    oke oke.. jadi sebelum Hongbin dingin, selama ini Hongbin yang nemenin AKU itu Hongbin yang ceria kan? nah, jadi Hongbin yang asli yang mana? yang dingin? tapi kok yang dingin munculnya baru-baru ini? aduh… aduh… ya jadi Hongbin yang dingin tuh suka sama si cewek apa enggak? suka? tapi kok dingin? ah… minta di santet dia //ngasih bingkisan voodoo doll ke “Aku” di fic ini

    dan yah, aku sangat terbuai ketika Hongbin yang ceria itu menghibur si cewek berkali-kali. okey, jadi si cewek mengkhayal kalo Hongbin tuh orangnya kayak gini… gitu? oh enak ya punya dunia imajinasi. dan Hongbin yang ceria itu (yang semu itu) notabene cuma temennya si cewek dong? ah nyesek ini nyesek, bener nyesek, kasihan Hongbin yang ceria :”( (ya padahal di fic dia bukan siapa-siapa)

    kasihan si aku juga, dia suka sama si cowok yang selalu dingin ke dia, ya gimana ya, ya namanya cinta mau gimana lagi? aduh, padahal dari awal aku berharap yang asli tuh yang ceria, biar happy end gitu, biar manis gitu, etapi eksekusinya mungkin failed ya kalo manis?

    tapi… tapi…

    aduh bener kak ini nyesek, gimana si cewek jadi ceria di depan si Hongbin dingin tanpa banyak protes, si cewek berharap Hongbin berubah-kah, makanya dia mau tetep ceria gitu?! aduh… bener kan ini nyesek, ah entahlah baca judulnya perasaanku udah gak enak sebenarnya, haha (ditendang ke kandang Hongbin (?))

    tapi bener kak, awalnya aku ngira Hongbin yang asli tuh yang ceria, soalnya kan kalo sama Hongbin dingin tuh pernah berkomunikasi (?) lewat telepon, sementara sama Hongbin ceria tuh ya terus bertemu secara langsung. lalu aku baru nyadar : “mana ada wujud bayangan yang punya handphone?”

    dan oke aku anggep nih fic manis (ya apapun fic kakak kayaknya ada manisnya deh) dan manisnya tuh sedikit banget, cuma momen-momen bareng Hongbin ceria doang… dan yang aku dapatkan setelah baca ini tuh kayak yang… aduh kan nyesek jadinya :””( kembalikan Hongbin yang unyu kak, kembalikan T_T

    dan ini maaf kak aku gak nyepot di tempat pertama, tadi masih bergulingan di atas kasur gara2 tamu :”” ini perut sama punggung masih pegel, tapi penasaran sama fic ini, jadinya.. yah begitulah :”)

    aku gak kecewa baca ini kak, karena feel-nya nyampek banget, tapi yang bikin aku kecewa adalah : “Hongbin jadi dingin di sini.. a….”
    tapi bohong kok kak kalo aku bilang aku gak bisa bayangin dia dingin. itu bohong lho, aku bisa kok bayangin dia dingin ._.v

    p.s : kak kayaknya review ini overload dan tanpa ada curcolan ya? xD
    p.p.s : maap kalo kakak mabok :”(
    p.p.p.s : makasih udah baca komen ini nyampek abis :”D

    Suka

      1. AKU JUGA GATAU SA INI APA SUMPAH PAS NGETIK TUH KAYAKNYA OTAKKU LAGI GA SINKRON DEH /ikutjebolincaps/

        oke…kembali ke mode normal….
        kamu ga ngerti kenapa hongbin begini, aku tambah ga ngerti juga sama diriku sendiri yang ngetik ini .__.v jujur ya pas ngetik tuh ga ada niatan2 Kong jadi dingin tapi tau-tau aja dia udah begini dan… yasudahlah aku juga ga paham lagi -__-

        jadi tuh gini Sa, pas awal2 tuh Hongbin emang masih normal dan ceria, terus lama-kelamaan tuh mereka berdua kaya ada di fase jenuh gitulah.. sejenis yang mau ngomong males mau sayang-sayangan males tapi masih cinta .__.v nah tapi, si cewek tuh masih ga bisa nerima perubahannya abang Kong, makanya dia jadi bikin ‘dunia’ yang baru dimana si Kong di sana alias imajinasinya dia tuh adalah Kong yang ceria… paham? /kabur soalnya ga pinter ngejelasin/

        dan yap, eksekusinya kayaknya jadi aneh kalo yg manis yg nyata 😦 nyesek sih, tapi ya semacam kenyataan juga kan kalo tiap hubungan tuh pasti ada naik turunnya ((sumpah aku ga lagi curhat kok kali ini)) xD

        dan seratus buat kamu soalnya paham ini! yes itu si cewek akhirnya mutusin buat bersikap baik ke hongbin dingin soalnya dia masih cinta, dan di pikiran dia tuh “gapapa lah, toh aku masih bisa kabur ke hongbin ceria walau cuma imajinasi” gitu…

        oke-oke, aku bakal balikin Kong yang imut begitu ada ide lagi deh janji ._.v kasian dia jadi aku nistai di sini T^T

        haha p.s kamu banyak banget dan aku cuma mau bilang it’s okay kali sa :” reviewmu selalu bikin aku terhura dan bohong juga kalo aku ga bisa bayangin Hongbin dingin, toh tinggal liat mv hyde atau voodoo doll juga kebayang xD

        okaaay makasih ya Sa! muaaaah :***

        Suka

  3. Sweet sekali*-*
    Miris kalau jadi ceweknya… Jadi penasaran juga kenapa Hongbin yang nyata sikapnya kayak gitu;_;
    Tapi terlepas dari itu semua, aku suka ff-nya 😀

    Suka

  4. oke mer, aku mau ngaku dulu. itu…separuh pertama aku baca ini, aku ngakak dengan sepenuh jiwa (?) karena aku mikir sebenernya Kong ini punya kepribadian ganda /ditendang mas kacang/ dan aku sempet2nya juga mikir “ini sih bukan surreal, tapi psychology” /ditendang Amer/

    oh iya, aku juga sempet mikir kalo sebenernya gak ada karakter mas Kong disini, adanya Sanghyuk sama Leo .___. Sanghyuk jadi Hongbin berambut pirang terus Leo jadi Hongbin si pendiam :/

    tapi………………lama2 surreal-nya dapet kok, terutama karena gara2 si ‘aku’nya itu ketemu sama dirinya sendiri. btw, itu gimana ceritanya? kan dia lagi tidur, kok bisa2nya ada sosok dianya yg laen? bukannya dia yg ngendaliin mimpinya dia sendiri ya?

    terus itu…..KENAPA KONG BISA BERUBAH? iya kan? ‘aku’-nya sendiri lho yg bilang si Hongbin berubah…ada apa dengan dia? apa dia kecelakaan terus amnesia? apa jiwanya dia ketuker sama Leo? ((emangnya sinetron))

    btw….yakali mer itu tidur di perpus -____- ak bayanginnya tidur di perpus kampus lho, di belakang rak2 buku itu… /ditendang/ kukira dia tidur pas malem2 atau gimana…ternyata….

    udah yaaaaa~~ ak belum makan dan perut udah meronta-ronta :””

    see you hari senin di kelas bahasa inggris!!! :*

    Suka

    1. eum…. ga salah kok kalo kamu ngakak karena awalnya aku pun gitu pas nulis ._.v dan tadinya sih aku emang udah mau masukin genre psikologi sih, cuma setelah dipikir2 rasanya kok ga tepat -_-

      hahahaha /ketawagaring/ aku kan udah bilang ini sangat OOC dan karakter Hongbin ketuker2 sama member lain… mungkin ini efek kebanyakan liat MV hyde sebelum nulis /apahubungannya/ .__.

      iya itu ketemu dirinya sendiri pas lagi tidur gitu…. yah kalo mimpi semua bisa terjadi kan? /duar/ soalnya kalo ga salah aku pernah sih mimpi ngeliat diriku sendiri juga ._.v

      Itu Kong (asli) bisa berubah soalnya dia semacam jenuh gitulah… jadi aslinya dia masih sayang tapi lagi dalam fase males ngomong males ngapa-ngapain sama ceweknya, cuma masih cinta gimana dong…. coba deh baca komenku ke sasa aja kalo mau lebih jelas /dilempar/

      dan tidur di perpus ga salah kok~ aku sering pas SMA .____.v

      okaaay, sampai jumpa besok senin! makasih ya tiwiii 😀

      Suka

  5. Ya ampunnnn ini FF NYA!!! Wuahhh!!! Aku sedikit kasian sama tokoh ‘aku’ nya kak, hiks.. kakak sukses bikin gado-gado(?) di hati(?) ku/halah
    KAK AMER JJANG!!! XD

    Suka

  6. Jadi sebenernya surreal itu apa thor? Ini ff kedua yg aku baca dgn genre itu, dan aku tetep gak ngerti ._.v
    Aku jd mikir kalo si aku itu punya gejala kelainan jiwa yg melarikan diri dri kenyataan yg dihadapi. *terjadi karna saking gak ngerti surreal itu
    Tapi fict ini bagus. Penjelasannya sedrhana, tapi jelas perasaan si akunya. Hehe
    Dan hongbin asli emang mirip leo, lama2 jd ngebayangin leo waktu bacanya. *plakk

    Suka

    1. Surealis itu sebenernya diartikan sebagai sesuatu yang nggak real (kebalikannya realis) dan biasanya tuh terjadinya kaya di bawah sadar, makanya hal yg paling nyeleneh dan ga mungkin sekalipun bisa terjadi gitu~

      Ya si aku ini emang melarikan diri sih, tapi bukan krn kelainan jiwa juga…. Semacam manusia mah maunya pasti bahagia jadinya alam bawah sadar dia kaya begitu deh~

      Dan….. Hongbin mirip Leo darimana……? Kalo aslinya tuh mereka beda jauuuh, yg satu gila unyu yg satu kaya patung xD
      Anyway thanks yaa 😀

      Suka

  7. Jadi hongbin brambut pirang itu hanya imajinasi saja, karna si ce terlalu menginginkan hongbin bermanis2 padanya. Menipu diri sendiri hingga dy bingung mana nyata dan mana imajinasi

    Suka

  8. SPECIAL THANKS TOO for Amer yg udah nulis fic ini:**
    AAA aku terharu namaku ada di author’s note di atas T.T padahal Gray aku abal bgt, gak ada apa-apanya ketimbang ini yg jauuuh lebih surreal dan menggeleparkan xD

    BENTAR YA AKU IZIN MENGGELINDING DULU PAS AWAL PARAGRAF….
    Sumpaaah itu…itu… aaaa Hongbin kamu bikin aku kehabisan napas selagi baca fic ini 😦

    Rasanya random bgt mer, awalnya terhura, ngeblushing di depan hp trs menggelinding, tapiii makin ke tengah ceritanya kok Hongbin menyebalkan sih:( pake punya karakter beda gitu lagi yg ‘opposite’ bgt sama karakter aslinya. Terus juga bagian paling ngejleb itu pas dibentak sama abang kacang T.T AAA aku lemah dibentak gitu…. Tapi abis itu aku terbuai lagi sama sikapnya dia yg manisss :3 Duhhh ini randomnya semacam apaa ya? Yaa pokoknya berpadu bgt rasanya tapi berujung nyesek di akhir cerita T.T

    Lalu, emosi yg dituangkan di sini dpt bgt mer. Sumpah aku ngerasain bgt betapa nyeseknya kalo abang kacang jadi kayak gini ;—; terus terus yg pas bagian dia berubah karena udaah merasa di titik jenuh antara udah bosen tapi msh sayang itu rasanya…… <//3
    ((ini gak curhat loh yaa xD)) (kamu gak lagi curcol jg kan nulisnya? xD)) ahaha

    Ohyaa aku ngebayangin abang kacang yg rambutnya pirang madu(?) itu seperti di mv Girls why? atau GR8U tapi pas rambutnya hitam ituuu…di mv voodoo doll ;—; Ibaratnya itu di Girls why dia senyum pake lesung pipi yg melemahkan tapi ngeliat voodoo yg gelap jadiii ngejleb gitu :<

    Tapi, aku tahu kok abang kacang orangnya friendly trs senyumnya itu memberi efek positif bgt xD jadi yg liat dia ikut senyum juga. Ahaha.

    And for this fic! Yeaaah ini KEREN pokoknya! Berhasil memporakporandakan hati aku dan bias list tentunya xD ahaha.

    Hhhm Mer… Ehehe maaf ya aku blm bisa kasih masukan apa-apa buat kamu setiap komen dan komenku kayaknya jg gak mutu wkwk. Yaa karena tulisanmu emg udah bikin aku jatuh hati<3 Eaaaaks wkwk

    Maaf baru bs komenT.T Segini dulu ya, See you Amer with ur another surreal fic 😉

    -UCI xx

    Suka

    1. UCI UCI UCIIII :** aaaakk aku melarangmu untuk merendah di sini karena percayalah Gray itu juga bikin aku gelindingan yaluhaaan, mana ficmu kan ga kaya ini yang endingnya mengenaskan dan jadi nista hongbinnya -__- /ditimpuk rame2/

      ehehehe iya maapin ya ci kalo aku mainin perasaan kamu (?) duh aku pun naik turun emosinya nulis ini dan bagian dibentak itu pas aku baca ulang emang jleb ya ((lah baru nyadar kamu mer -,-))

      huhu iya aku ga sanggup lah kalo abang kacang berubah jadi gini juga… cukuplah aku ngadepin abang kripik kentang yg udah jarang ngomong dari sananya, gaperlu ditambahin si kacang jadi random gini… dan enggaaaak, kali aku nggak curhat kok pas nulis, mau curhat darimana ci, orang cowok aja gapunya ((nah kalo yg ini curhat xD))

      dan imajinasimu (?) tepat bangeeet, iya aku juga bayangin abang kacang pirang itu dari MV GR8U dan pas item itu dari voodoo doll ;;;
      berasa dari manis jadi menyakitkan ya…. /peluk kong pirang erat2/

      hahaha iya santai aja ci, rusuhanmu selalu bermutu untuk membangkitkan moodku kali :** okaaay, see ya juga di ficmu yang lain ci ehehe 😀
      thanks yaaa :3

      Suka

  9. Kak Amerrrrrr ini keren sekali bahkan aku sampe baca dua kali. By the way Hongbin ini visual bukan sih? Fotonya sepintas mirip Lay di poster haha xD tapi kalo liat foto lain dia bisa lah jadi cast yang serem marah-marahin cuekin ceweknya gini haha. Oke langsung ke inti.

    Ini jadi si cewek cuma berimaji aja kalo Hongbin jadi baik? Dan tempatnya di perpustakaan itu? Kok bisa dia nggak nyadar gitu ya pas udah malemnya terus ketemu Hongbin asli? Tapi bagaimanapun kan ya tetep aja yang penting itu yang real. Jadi kenapa masih dipertahanin padahal yang nyata justru nyesekin hati? Duh kak jujur aku jleb banget pas si aku nangis itu…….kok tega sih Hongbinnya…..

    Aku pikir awalnya itu tuh bukan khayalan loh. Kali aja itu sodaranya si Hongbib gitu kembar hahahah /lupakanlupakan/

    Seperti kataku di twitter ini surealisnya lebih berasa deh. Aku beneran bingung sama si Hongbin soalnya.

    Haha oke kak makasih udah bikin melayang dan jatuh di saat bersamaan xD
    Aku kangen nih sama tulisan kece kakak… semoga kesibukannya cepet kelar dan bisa aktif lagi ya kak. Amin.

    -Niswa dooong dah tau kan? B-)

    Suka

    1. Halo Niswaaa, ah tentu dong aku tau ini kamu, masa ya aku lupa sih x)
      Yap Hongbin itu visual, dan dia emang sepintas mirip Lay sih, apalagi kalo senyum sama2 mematikan dan ada lesung pipinya xD tapi kalo dari tampak depan sih miripnya langsung ilang~

      yap si cewek tuh cuma berimajinasi kalo Hongbin balik kaya dulu pas masih baik (jadi ceritanya mereka tuh dulu manis tapi berhubung Hongbin udah di fase bosen, dia jadi dingin gitu) dan saking kuatnya imajinasi dia itu, sampe semacam kebawa ke dunia nyata dan malah jadi kecampur2 gituuu~

      hahaha dan oke ini teorimu boleh juga xD setelah Mala bilang Hongbin ada 2, kamu bilang dia kembar… duh kalo ada cowok macem begini kembar, aku maulah pacarin salah satunya xD

      ehe iya makasih banyak ya Nis, maap kalo aku bikin kamu bingung~ dan omong2 soal kesibukan, sebenernya ini aku malah baru mau mulai sibuk lagi masuk kuliah .__.

      okaaay, thanks and see ya! 😀

      Suka

  10. kak Amer! jujur aja, Asel udah baca ini sekitar tiga hari lalu berbekal hp orang tapi baru bisa komentar sekarang……. kurang malu apa /_\ maaf kak Amer TAT seandainya minggu ini bukan pekan TO……… hah kejadian kayak gini ga akan Asel ulang pokoknya kak hehehe

    Cupaps balik ke review~~

    (seperti biasa) karya kak Amer masterpiece gitu :3 double jackpot. Bagus banget plot + diksi + gaya bahasa, itu yang menjadikan kak Amer selalu dinanti-nanti Asel dan bahkan banyak orang. Semangat terus ya kaak! XD

    Oke INI UDAH PALING LEMAH KAK TOLONG. Karakter manis, pengertian dan penuh kejutan kayak Hongbin berambut pirang itu udah paling cihuy. Fix naksir. Menjauhlah kau Hongbin jahat biarkan si tokoh aku bahagia :”)

    Dan, Asel kira ini surrealis berhasil karena bisa buat bingung. Kalau seandainya nggak ada kalimat akhir itu ya kak, Asel mungkin masih cengo sampe sekarang dan terpaksa minta jelasin ke kak Amer xD tapi selebihnya, surrealis kan memang harus gitu ya kak. udah ah ini mah jebal good job kak Amer.

    Segini dulu ya kak 😀 nanti kita ketemu lagi di fic lain kak Amel-r-l! XD semangat juga main flappy birdnya HAHAHA ayo jangan kalah kak!

    Suka

    1. Halow Aseeel! haha santai aja kali Thel ((ini versi cadel sehun)) aku juga sering kali begitu, bahkan utang komen seminggu aja aku pernah masa .__.v
      ahaha iyaa aku semangat terus kok :3 aduh komenmu ini di awal aja udah bikin terhura T^T

      yap yap, hongbin pirang = cowok idaman setiap wanita AAAAAA ;;; ya pantes sih si Aku ini imajinasinya begitu, siapa sih yang nggak mau punya cowok manis begitu T T mari kita buat jampi2 buat usir Hongbin jahat yaaa~ /apaan/

      ah maaf ya kalo misal bikin binguuung~ itu kalimat terakhir juga awalnya aku bingung mau masukin apa nggak… tapi berhubung aku males ngejelasin berulang2 yaudah masukin aja xD

      yap, sampai jumpa lagiii xD dan hei ini “kak Amel-r-l!” maksudnya apaaaa Atheeeeeel u,u duh emang kita harus bikin the cadel club kali ya di ifk sini…./ngelantur/

      makasih banyak buat rusuhannya dan salam cadel juga sel xDD /ditimpuk/

      P.S: flepi bird-nya aku masih semangat kok, udah tembus angka 10 nih akhirnya hahahah XDD

      Suka

  11. AMERR, oke ini udah telat banget dari waktu kamu tag-in kemarin
    well, kaya biasanya kamu sukses buat aku senyum-senyum seorang diri di depan lepi gegara tingkah polah Hongbin yang bikin perut ini mules tak tertahankan /apasih
    dan kenapa kamu bikin dia hanya imajinasi meeerrrr~~~~ itu ketuker kan?? /ngeyel/ itu yg berambut pirang yg asli kan? iya kan? /okeabaikan

    waktu baru baca awal2 aku mikirnya si Hongbin punya kepribadian ganda atau semacam penyakit jiwa /PARAH!/ eetaapi….
    aku terkecoh olehmu meer, kenapa kamu munculin yg pertama itu yg ga nyata? kenapa????? kalo akhirnya jadi bikin miris gini /lalumewek
    aku masih penasaran nih, Hongbin yg nyata itu sebenernya manis ato emang dingin dari awalnya?

    aku juga maau mer, kalo jadi si AKU yg bisa dapet paket spesial kek si Hongbin gitu eehhaahaa
    fyi, aku suka quote ini –> “Aku yang di sini tak akan pernah mengabaikanmu.”
    AAHHH, manis kayak kembang gula
    ukkedeh, ga usah panjang-panjang karena ga tau mau ngomong apa lagi, nice work amer^^

    Suka

    1. Halo kak Suliii! Aduh ini komen februari baru aku balesin september masa duh -__- maafkan saya ya kak, lempar saja diri ini ke rawa-rawa saking telatnya balesin komen ;_;

      btw kalo penasaran ((walau ini telat jawabnya)) hongbin yang nyata itu aslinya manis di awal lalu lama2 jadi dingin gitu kak heheh
      anyway, makasih ya kak sul! 😀

      Suka

  12. MISI NUMPANG IKUTAN KOMEN YA ‘^’

    ini fic kereeennn bangeettt!!!!!!!!!!
    ceritanya luar biasa langka dan unik!!
    penggambarannya pas banget ><

    DAE to the BAK !! lanjut nulisnya cipatin karya yg unik dan seru =))

    Suka

  13. KAKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK (akungikutinyanglainpadmanggil’kak’yaudinguaikutan(.ˍ.) #infopenting #boongbanget(?))
    Dan, inii, aduuuhhh… aku nggak tahu ini apa, kak, pokoknya kak Amer kudu tanggung jawab(?) #beksonpetir -_-
    Ini seriusan, aku nggak ngerti sama sekali dengan jalan ceritanya, yaahh.. pikirku ta’ kira Hongbin berpirang(?) itu hanya sebatas kenang2an alias khayalan semata si OC karena dia frustasi oleh s Hongbin hitam(?) dan mkanya s OC itu mnghayalkan s Hongbin dengan Hongbin yang lain..
    tapi yaah.. gaya cerita seperti yang kugambarkan tadi emg terlalu biasa, mainstream, tapi tema certa yg umumkan bisa jdi bagus mengikuti pokok masalah crta yg nggak biasa, yaah… kalau mnrtku MAAF cerita kakak juga biasa, tapi PENGGAMBARAN ALUR CERITA DAN ENDING YANG TANDA TANYA(?) ITU YANG NGGAK BISASAAAA! AAAAAAAAAAAAA AKU CINTA TSUKIYAMARISAAAAAA #matiincaps #akumasihnormal #sekip
    Maksudnya aku suka ceritanya gituu, aku suka cara pengarang menceritakan masalah, perkara, kejadian si OC, karena aku jarang dan mungkin bru kali ini baca ff ber genre surrealism yg roman roman gitu, jadi yaah.. begitulah 😀 #apasih
    Dan ya kak, ketika aku melihat tittle nya pikiranku seketika menari2 dan otakku berpikir sedikit menyimpang, itu judul ada ‘oppo’-nya XD #iniantaraorangJawabarubacabahasa lain ataukarena nggakngertibahasaInggris? Yg terahir jangan deh -_-

    Aku jadi ngomong yg nggak penting disini, tapi komentar ‘asli’-ku sepertinya udah nemplok(?) sebagian d atas sana, karena setelah bca cerita yg—ekhem!—biasanya buat aku terkesan, aku jdi sulit untuk memprediksi lbih jauh lgi (halah, bahasanya ituuuu XD) #lemparconfetti dan untuk typo, aku kurg jeli membaca krena maaf aku cuma ngambil intinya saja ktika mmbaca, nanti aku baca lgi deh :))))) XD
    Udahlah, kyanya jadi kepanjangan karena kbnyakan nulis nggak penting, bukannya masukkan, i’m sorry~
    Makasih udah boleh nge-spam kak ヽ(♥´з`)/ dan ini lagi2 aku ngetik daei hape (.ˍ.)

    Suka

  14. Awal baca aku juga mikir si Hongbin ini punya kepribadian ganda. Tapi aku juga mikir “Kepribadian ganda koq bisa ganti-ganti warna rambut?”

    Ternyata eh ternyata, pas baca sampai ending aku baru ngerti kalo Hongbin yang ceria itu cuma imajinasi si “aku”-nya. Nyesek banget kalo jadi “aku” yang dicuekin+diketusin, lengkap dah dan nyeseknya sampai kehati aku T^T *lebay mode:on*
    Rasanya si Hongbin pengen aku jitak aja, tega bener, ngomong dong apa maunya, jangan tiba-tiba jutek *jitak Hongbin*

    Huhuhu, nyeseknya ketinggalan dihati. Soalnya pernah ngalamin *curcol*. Ya udah, sampai ketemu di lain efef. Dah Amer *sok kenal*

    Suka

  15. KAKKK JUJUR YA. INI FF SURREALISM YANG PALING NGENA /? ADUH SOALNYA AKU NGERTI JALAN CERITANYA;;A;;
    EH TAPI KAYANYA HONGBIN COCOK2 AJA JADI DINGIN HOSHHH
    KAKKK LANJUTIN TP VERSI N DONG/? #MAKSA
    AKU GABISA KOMEN APA2 ;;A;; INI FF TERLALU BAGUS HUHUHUHUHUHU

    Suka

  16. Surrealism…
    semper bingung juga sih sebenernya hongbinnya itu yang mana
    eh taunya yang si rambut item itu yang juteknya naujubillah
    sebel juga kalo si hongbin ini beneran jutek kkkkk

    Suka

  17. Wahh ._____.
    Keren ini ouo tapi yang masih bikin bingung itu ya, kenapa kong mendadak berubah drastis kayak gitu????
    Kenapa dia mendadak jenuh sama aku /? lagi ada masalahkah? atau gimana? sampe awalnya aku ngambil kesimpulan mungkin abang kong punya kepribadian ganda! 😐
    over all, ini ff nya keren ya, aku suka, mungkin dari ff ini aku terinspirasi bikin temen dunia lain juga buat pelipurla disaat sedih xD
    btw, ini aku komen jauh banget ya dari tanggal post ._. karna emang baru beberapa hari ini saya merasa abang kong manggil” nyuruh cari fict dia akhirnya kebaca lah ini e3e
    dan sampe sini aja komentar saya, salam cinta buat authooor <333or <333

    Suka

    1. halooo~
      ah maaf kalo bikin bingung, intinya sih ini abang kong emang mendadak berubah sih, bisa karena jenuh, bisa karena ada masalah, bisa karena apa aja ya biasalah orang pacaran (?)

      anyway, makasih banyak ya udah mampir!! ❤

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s