[Drama Week] Premonition by Tsukiyamarisa

premonition

Premonition

.

a movie for IFK’s Drama Week

scriptwriter Tsukiyamarisa(@tsuki016)

cast Choi Jin Hyuk and [OC] Choi Jin Hee subcast Song Ji Hyo genre Family, AU, Angst, slight!Surrealism rating G duration Oneshot

summary Choi Jin Hyuk dan Choi Jin Hee. Dua saudara yang dipertemukan dalam bayang semu setelah sekian tahun berpisah, meninggalkan sebuah pertanda buruk dan penjelas atas prasangka yang bertahun-tahun telah meretakkan hubungan keluarga mereka.

thanks to Sasphire aka Sasa for the awesome poster and discussion time! ^^

.

pre.mon.ition (n):

—is a strong feeling about something that is going to happen

.

especially something unpleasant

.

.

Sembilan puluh tiga persen dari dirinya yakin bahwa ini semua tak nyata.

Bandar udara itu kosong melompong; senyap dari keramaian orang-orang maupun gema pengumuman penerbangan yang biasanya tak pernah absen. Kursi-kursi di ruang tunggu tampak tak berpenghuni, begitu pula halnya dengan konter check-in pesawat yang tak dijaga dan bagian pemeriksaan keamanan yang tak dipenuhi antrean penumpang. Layaknya berada dalam suatu film horor, keheningan itu terasa mengimpit dan mengerikan. Begitu sunyi, sampai-sampai deru napas dan detak jantungnya yang berdentam-dentam keras terdengar begitu kentara di telinganya sendiri.

Ia bergidik pelan.

Lamat-lamat, langkah kakinya menapak ringan menuju bagian informasi, hanya untuk mendapati papan bertuliskan Canada’s Pacific Gateway yang terpanjang di sana. Keningnya pun berkerut dalam, sementara benaknya berusaha menerka-nerka bagaimana ia bisa terdampar di tempat ini tanpa tahu awal mula kejadiannya.

“Lama tak jumpa.”

Choi Jin Hyuk tersentak kaget, nyaris saja terantuk tepi meja di bagian informasi kala ia buru-buru membalikkan badannya untuk menatap sang pemilik suara. Di depan matanya, berdiri seorang gadis dengan rambut pendek sebahu, puncak kepalanya sejajar dengan pundak Jin Hyuk. Tubuh gadis itu cukup semampai, dibalut dengan dress putih sederhana berbahan ringan yang membuatnya terlihat seperti melayang. Senyum di bibir gadis itu terpulas lebar, dan Jin Hyuk bisa merasakan sesuatu di dalam hatinya mendadak bereaksi ketika ia menilik mata, hidung, dan bentuk bibir yang amat serupa dengannya itu.

“Jin Hee-ya?”

“Hai. Apa kabar, Oppa?”

.

.

Di dunia ini, tak ada seorang pun yang pernah memanggilnya dengan embel-embel “Oppa” kecuali gadis itu.

Choi Jin Hee.

Adik kembarnya.

Jin Hyuk menghela napas panjang seraya menatap ke sekeliling ruang apartemennya, pandangan matanya tertumbuk pada sosok seorang gadis yang tengah berkutat dengan wajan berisi telur seraya mengeluarkan keluhan demi keluhan dalam frekuensi yang cukup sering. Dengan langkah berat dan kepala yang masih terasa pening, Jin Hyuk menghampiri gadis itu dan melingkarkan lengannya pada pinggang Ji Hyo—nama gadisnya—tanpa permisi.

“Jin Hyuk-a, kau mengacaukan masakanku.”

“Sudah kacau, kok,” timpal Jin Hyuk tanpa merasa bersalah, fokus matanya beralih pada telur yang masih berada di atas penggorengan dan tak lagi berbentuk. Mungkin Ji Hyo bermaksud membuat omelet, tetapi Jin Hyuk berani bersumpah bahwa masakan itu jauh lebih mirip dengan telur orak-arik yang dicampur dengan potongan paprika merah dan daging asap.

“Sialan, kaupikir aku sudi mela—“

“Aku memimpikan Jin Hee,” potong Jin Hyuk cepat, menghentikan omelan Ji Hyo di tengah jalan sementara ia melepaskan rengkuhannya dan beranjak untuk mengambil segelas air. “Aneh, ‘kan? Mengingat… kautahu… aku tidak pernah benar-benar akur dengannya.”

Ji Hyo memandanginya dengan tatapan penuh arti, membiarkan iris mereka bersirobok selama beberapa sekon. Barulah setelah Jin Hyuk meletakkan gelasnya di atas meja dan memecah keheningan dengan bunyi ‘tuk’ pelan, Ji Hyo berdeham pelan dan berujar, “Yah, mungkin….”

“Apa?”

Gadisnya itu menghela napas panjang, lantas membalikkan tubuh untuk menatap Jin Hyuk lekat-lekat sebelum akhirnya bergumam, “Mungkin kau merindukannya? Atau dia yang merindukanmu?”

.

.

“Kau merindukanku?”

Pertanyaan itu terlontar secara gamblang dari bibir Jin Hyuk, menyebabkan kikik tertahan dan ekspresi geli serta-merta muncul di rupa manis Jin Hee. Seraya melangkah riang, gadis itu menyibakkan rambut sebahunya yang kecokelatan dan berkata, “Kalau Oppa? Tidak merindukanku?”

Jin Hyuk tertegun sesaat mendengar pertanyaan itu—kendati Jin Hee sebenarnya berucap dengan nada santai dan tidak menuntut untuk mendapatkan sebuah jawaban. Saudara kembarnya itu hanya bersenandung pelan, sesekali berhenti untuk mengamati toko-toko cinderamata yang tersebar di seluruh penjuru Vancouver International Airport.

“Kalau aku bilang ‘tidak’ bagaimana?”

“Mmm….” Jin Hee meletakkan telunjuknya di dagu, sepasang iris hazel-nya tertuju pada sekotak cokelat krim kacang yang dipamerkan di etalase toko. Jin Hyuk tak yakin apakah gadis itu sedang memikirkan pertanyaannya atau harga sekotak cokelat yang begitu menerbitkan air liur, maka ia pun memutuskan untuk terus melangkah dan—

“Aku akan sedih kalau begitu.”

—langkahnya terhenti secepat ia memulainya. Pria itu sontak berputar pada ujung tumitnya, matanya menyipit ke arah Jin Hee yang kini sudah menatapnya dengan wajah sedikit murung sembari berucap lagi, “Aku akan sedih, karena aku begitu merindukanmu.”

Dan Jin Hyuk mendapati dirinya terpaku, tak mampu bergerak sementara otaknya berusaha memproses kata-kata Jin Hee barusan dengan daya serap selambat siput berlari.

Untuk apa kau merindukanku, Choi Jin Hee?

.

.

Kesulitan mengucap rindu itu bukannya tak beralasan.

Jin Hyuk tak pernah benar-benar membenci Jin Hee, namun beberapa goresan luka dan tekanan batin yang ia alami semasa kecil cukup memberinya alasan untuk hidup terpisah dan menjauh dari Jin Hee—sekalipun adik kembarnya itu sama sekali tak pernah berbuat salah.

Tidak, Jin Hee memang tidak salah.

Orang tua merekalah yang salah.

Terkadang, Jin Hyuk merasa bahwa ia terlahir di dunia ini semata-mata untuk menjadi tempat sampah bagi amarah dan emosi sang ayah, juga untuk menampung tuntutan hasrat sang ibu yang meluap-luap dan tak berujung. Ia tidak melebih-lebihkan, tidak pula menyatakan hal ini atas dasar kebencian semata. Itu faktanya, sebuah realita tak terbantah yang tidak mungkin bisa terhapus dari benak Jin Hyuk sampai kapan pun juga.

.

.

Jin Hyuk-a, kau harus meneruskan profesi ayahmu sebagai dokter!”

Ketika ia masih duduk di bangku SMA, ibunya selalu mengucapkan kalimat itu dengan suara melengking, sementara Jin Hyuk malah asyik berkutat dengan buku-buku sastra dan jurnalistik; berusaha keras menghalau suara berisik ibunya dengan pura-pura bersikap tak acuh.

Kau ini anak tak berguna! Mau jadi apa kalau nilai biologimu bahkan tak lebih dari enam, bodoh?!”

Lalu, sang ayah pun akan mengambil alih. Oh ya, yang satu ini bahkan lebih mengesalkan—sebuah amarah yang menggurat luka dan dendam dalam benak Jin Hyuk muda. Bukan, bukannya ia meremehkan mata pelajaran sains atau apa. Namun, di mana persisnya letak kesalahan Jin Hyuk dalam hal ini? Ia dilahirkan bukan dengan bakat untuk menghafal sederet anatomi tubuh manusia, pun sudi mengotori tangannya untuk bermain-main dengan hewan-hewan berlendir yang menjijikkan. Jin Hyuk tak suka ilmu sains, jadi mengapa orang tuanya masih memaksa? Tak pahamkah mereka kalau kepala Jin Hyuk rasanya mau meledak saja setiap—

Tirulah Jin Hee! Saudaramu itu selalu mendapat nilai tinggi di pelajaran sains!”

—oh  well, banggakan saja terus adiknya itu. Namun, layaknya beribu ras berbeda yang tersebar di muka bumi ini, hal yang sama pun berlaku untuk Jin Hyuk dan Jin Hee. Ya, mereka memang kembar. Ya, mereka bersaudara dan Jin Hyuk rasa ia tak perlu repot-repot melakukan tes DNA demi membuktikannya. Tetapi, mereka berbeda. Jin Hyuk bukan Jin Hee, begitu pula sebaliknya. Adiknya itu payah dalam mata pelajaran sosial, dan pernahkah orang tua mereka memarahi Jin Hee—walau sekali saja—atas ketidakmampuannya dalam menyelesaikan soal mengenai penyimpangan sosial?

Tak perlulah kaujawab pertanyaan itu.

Penyimpangan itu sendiri toh sedang terjadi di dalam lingkup keluarga Choi, menyesakkan Jin Hyuk dengan tuntutan demi tuntutan, menjadikannya selalu dipandang sebelah mata layaknya anak tiri. Jadi, jangan salahkan ia kalau pada akhirnya… ia memilih untuk pergi dan melepas semua ikatan yang ada.

.

.

“Aku akan ke Kanada minggu depan.”

Jin Hyuk menghentikan keasyikannya menyesap kopi hitam dan merevisi tumpukan artikel yang tampaknya bisa melipatgandakan diri tanpa disentuh; sepasang maniknya memicing tajam ke arah Ji Hyo yang sedang berkutat dengan laptopnya sendiri dan sepenuhnya mengabaikan tatapan mengintimidasi dari Jin Hyuk.

“Kanada?”

“Iya, Kanada. Vancouver tepatnya. Ada beberapa liputan yang harus kukerjakan di sana dan—oh, jangan memandangiku seperti itu, please!”

Jin Hyuk sadar benar bahwa ia sedang memelototi Ji Hyo saat ini sementara genggamannya pada cangkir kopi bertambah kuat. Seluruh tubuhnya menegang, sementara raut wajahnya berubah menjadi serius kala ia bertanya, “Haruskah? Dan Vancouver, dari semua tempat yang ada di sana?”

“Hei, bukan aku yang memintanya!” sanggah Ji Hyo tak terima seraya menutup laptopnya dengan bunyi ‘tak’ keras dan mendelik ke arah Jin Hyuk. “Dan aku sudah menduga reaksimu akan seperti ini, Jin Hyuk-a. Kurasa, aku tak perlu repot-repot mengajakmu, ‘kan?”

“Tentu saja!” balas Jin Hyuk cepat, sementara emosinya meluap dan nyaris menyentuh ambang batas kesabaran. “Tentu saja aku tak akan ikut dan—“

Ji Hyo masih memelototinya.

“—maaf sudah berteriak padamu.”

Helaan napas terdengar keras dari bibir gadisnya, sementara Jin Hyuk sendiri dengan menyesal kembali menyandarkan punggungnya di atas sofa dan memainkan pegangan cangkir kopinya tanpa minat. Topik pembicaraan tentang Kanada selalu menyinggungnya hingga sedemikian rupa, terlebih tiap kali ia teringat fakta bahwa orang tuanya telah pindah ke negara itu demi memberikan Jin Hee pendidikan kedokteran yang terbaik.

Hah, seperti Jin Hyuk peduli saja pada mereka.

Orang tuanya toh sudah tak menganggap Jin Hyuk sebagai anak sejak laki-laki itu kabur dari rumah pada usia delapan belas tahun. Di lain sisi, Jin Hyuk sendiri juga tak mau repot-repot mengurusi pendapat dan cercaan keras dari keluarga yang tidak pernah ia inginkan. Bagi Jin Hyuk waktu itu—dan masih sampai sekarang—untuk apa tinggal jika ia bisa lebih bebas kendati tanpa keluarga?

Ia tak peduli lagi. Tak pernah memikirkan keluarganya, pun menyebut-nyebut nama mereka atau menilik foto-foto lama mereka. Satu-satunya kabar yang ia dengar adalah kepindahan orang tuanya dan Jin Hee ke Kanada tujuh tahun silam, hal yang diam-diam malah ia syukuri dengan sepenuh hati.

Jadi, kenapa sekarang….

“Jin Hyuk-a?”

Hmm?

“Apa kau sungguh tak ingin bertemu mereka?”

Jin Hyuk mengangkat kepalanya, lalu menggeleng tegas sambil menarik selembar artikel ke depan matanya dan mulai bekerja. Samar-samar, ingatannya menyodorkan mimpi tentang Jin Hee dan kata rindu yang sempat terlontar di alam semu itu, namun pikiran sadarnya dengan tegas berusaha mendorong memori itu jauh-jauh dan menguburnya rapat bersama dengan kenangan masa lalu yang lain. Ia bahagia di sini, titik. Mimpi hanyalah mimpi, bunga tidur yang seharusnya tidak ia pedulikan.

“Jin Hyuk-a…

“Tidak.”

Aku tak akan pergi kemana-mana.

.

.

Waktu itu, Jin Hyuk bisa mengusir bayang-bayang Jin Hee dengan mudah dan mengabaikan mimpi anehnya yang sempat menganggu. Waktu itu pula, Jin Hyuk bisa berkata dengan mantap bahwa ia tak ingin bertemu dengan keluarganya lagi.

Lalu, tiba-tiba semuanya berubah seiring dengan berjalannya masa dan detak jarum jam.

Mimpi-mimpi itu terus datang tanpa henti dan mulai membuatnya resah.

Bayang semu dan alam bawah sadarnya sedang berkomplot untuk mengacaukan hari-hari Jin Hyuk yang normal.

Dan Choi Jin Hee….

“Kenapa kau muncul terus?”

Jin Hee terkikik mendengar pertanyaan itu, kedua tangannya direntangkan sementara angin sepoi-sepoi membelai setiap inci kulitnya yang terbuka. Hari ini, gadis itu masih mengenakan gaun pendek selutut berwarna putih tulang, satu dengan renda di bagian bawah dan pita yang melilit pinggang rampingnya dengan rapi.

“Kenapa? Tidak boleh?”

Kening Jin Hyuk berkerut mendengar pertanyaan yang sedikit bernada manja itu, kakinya perlahan merajut langkah mengikuti Jin Hee yang sedang berjalan-jalan di petak-petak rumput lapangan parkir. Cuaca Vancouver hari ini cerah; mentari memancarkan sinarnya yang hangat ke seluruh penjuru kota ditemani dengan iring-iringan awan tipis yang tersebar di beberapa tempat. Kendati begitu—sejauh mata memandang—Jin Hyuk sama sekali tak melihat satu pun pesawat di tempat yang jelas-jelas bertajuk airport ini. Masih sama seperti kali pertama ia datang, tempat ini kosong-melompong dan tidak berpenghuni. Kesan ditinggalkan kentara begitu kuat di sana, seolah cerahnya matahari pun tak mampu mengusir aura sendu dan suram yang menggantung pekat di udara.

Oppa?”

“Uh,” deham Jin Hyuk pelan sambil mengangkat kepalanya, nyaris saja melompat kaget saat ia menyadari sosok Jin Hee yang kini sudah berdiri begitu dekat dengannya. “Kenapa?”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa aku tidak boleh muncul di hadapanmu?”

Jin Hyuk menelan ludah, tahu persis bahwa sarkasmenya tak akan berhasil dalam situasi seperti ini. Ya, seorang Choi Jin Hyuk memang boleh membenci kedua orang tuanya dengan sepenuh hati. Namun, ia tak akan pernah bisa membohongi rasa sayang dan pedulinya pada Jin Hee, tak peduli sebanyak apa pun pujian yang dilambungkan sang ayah dan ibu pada adiknya yang serba sempurna.

Hell, mereka itu kembar! Bukankah orang-orang selalu berkata bahwa saudara kembar memiliki keterikatan yang jauh lebih mendalam dibandingkan kakak-adik biasa? Toh, Jin Hyuk sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa Jin Hee tidak pernah meminta semua perhatian itu.

Lagi-lagi, ini salah orangtua mereka, batin Jin Hyuk dengan emosi membuncah.

Oppa-ya….

“Kautahu kalau aku tak bermaksud mengusirmu.”

“Tentu saja.” Jin Hee mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban semacam itu akan segera meluncur dari bibir kakaknya. Seraya mengulas senyum lebar, gadis itu mengulurkan kedua lengannya untuk memeluk tubuh sang kakak tanpa izin, membiarkan hangat yang sudah lama ia rindukan melesap jauh ke dalam benak.

Oy, Jin Hee-ya…” Jin Hyuk menggaruk tengkuk, terlihat sedikit canggung. Ia sudah pergi terlalu lama dan ia sadar benar akan hal itu. Kapan terakhir kali mereka berpelukan, mengobrol, dan bertukar senyum seperti ini? Jin Hyuk sudah tak ingat lagi.

Oppa, tidak merindukanku?”

Pertanyaan itu meluncur lagi dengan nada merajuk, membuat pandangan Jin Hyuk pun serta-merta tertuju pada sosok Jin Hee yang sudah mengendurkan pelukannya dan tengah mendongakkan kepala demi menatap sang kakak lekat-lekat. Sepasang irisnya terlihat berkaca-kaca, dan Jin Hyuk bersumpah bahwa ia sudah melihat segumpal air yang tergantung di sudut pelupuk Jin Hee.

Uh, adiknya ini tahu benar bagaimana cara meluluhkan hati Jin Hyuk.

Ya, seorang Jin Hyuk tidak akan pernah tahan melihat air mata seorang perempuan—terlebih jika perempuan itu adalah adik yang sangat ia sayangi, adik yang sudah ia abaikan selama bertahun-tahun lamanya, adik yang—

Yeah, kurasa aku juga… merindukanmu.”

diam-diam selalu ia rindukan.

.

.

“Kau sih, tidak menuruti kata-kataku!”

“Jangan pasang ekspresi seperti itu padaku, Ji Hyo-ya!”

Jin Hyuk mendelik ke arah layar laptopnya, mengamati jendela video call yang terbuka dan memenuhi layar berukuran 20 inci tersebut. Hari sudah terlampau larut, namun Jin Hyuk sama sekali tidak sanggup memejamkan matanya dan malah membiarkan pikirannya melayang-layang memikirkan Jin Hee. Tanpa sadar, sebersit penyesalan pun menelusup masuk ke dalam hatinya. Kenapa ia tidak ikut Ji Hyo pergi ke Kanada saja waktu itu?

“Habis mau bagaimana lagi, buktinya kau sekarang menye—“

“Aku tidak menyesal, oke?” sanggah Jin Hyuk cepat, maniknya memperhatikan Ji Hyo yang langsung mendesiskan kata-kata “bohong” seraya memasang ekspresi tak percaya. “Sungguh, aku hanya… hanya memikirkannya sedikit!”

“Sedikit? Sesedikit apa tepatnya, sampai kau tidak bisa tidur begitu?”

Ucapan Ji Hyo barusan menghantamnya telak, membuat kedua bibirnya sontak terkatup rapat. Kekasihnya itu benar, amat benar malah. Jin Hyuk bukan hanya sekadar merindukan atau memikirkan Jin Hee saja, tetapi ia juga mulai merasa cemas dan takut tanpa alasan yang jelas. Emosi-emosi negatif itu menerobos masuk tanpa diundang, mengendap di dalam diri, dan tak ayal membuat Jin Hyuk mempertanyakan apa arti dari semua mimpi-mimpinya.

“Jin Hyuk-a…

“Entahlah, Ji Hyo-ya. Mungkin aku hanya berlebihan, atau mungkin ini sebuah prasangka buruk—aku tak tahu. Bagaimana menurutmu?”

Ji Hyo menatapnya dalam diam, kepalanya ditopangkan pada sebelah tangan sementara ekspresi wajahnya tampak sedang berpikir keras. Sembari menggigiti bibir bawahnya, gadis itu lantas meraih ponselnya dan mengalihkan pandangan dari Jin Hyuk sejenak, entah sedang mengamati apa.

“Hei.”

“Mungkin aku bisa mengunjungi mereka. Kautahu alamat rumah mereka di sini, ‘kan? Lusa, aku punya waktu kosong selama beberapa jam. Bagaimana?”

Jin Hyuk tak perlu lama-lama mempertimbangkan penawaran itu; kepalanya langsung terangguk mantap untuk menyetujui usul Ji Hyo. “Oke. Sampaikan salamku pada Jin Hee. Mungkin… kalau ada waktu luang, aku juga bisa mengunjunginya kapan-kapan.”

“Dan orang tuamu?”

Jin Hyuk mendengus pelan, lagi-lagi tak perlu berpikir panjang untuk melontarkan jawabannya. Ia boleh merindukan Jin Hee, tetapi bukan berarti ia juga merindukan orang tuanya. Dua hal itu tak bisa disamakan, tidak karena adiknya memang pantas untuk disayangi sementara orang tuanya—menurut pendapat Jin Hyuk—jauh lebih pantas untuk dilupakan.

“Tidak.” Jin Hyuk menarik napas dalam, terlihat mantap dengan keputusannya. “Cukup Jin Hee saja.”

.

.

Ia bermimpi lagi.

Setelah memutus sambungan video call dengan Ji Hyo tadi, Jin Hyuk sebenarnya berusaha keras untuk tidak jatuh terlelap. Ia hanya berbaring di atas ranjangnya dalam diam, matanya nyalang menatap langit-langit yang dicat dengan warna putih. Deru napasnya terdengar dalam keheningan dan kesendirian itu, sementara bayang-bayang Jin Hee bermain di dalam lapisan-lapisan memori otaknya.

Dulu, mereka adalah sepasang saudara yang begitu akrab.

Dulu, ke mana pun Jin Hee pergi, maka Jin Hyuk akan berada di sana, mengikuti dan mengawasinya bak saudara laki-laki yang terlalu protektif. Teman-temannya sering mengejek Jin Hyuk karena itu, mengatai dirinya mengidap sindrom sister complex dan bersikap layaknya ibu-ibu paranoid. Namun, Jin Hyuk tak peduli. Ia tetap akan menggandeng atau merangkul Jin Hee kala mereka berjalan bersama, terkadang mentraktir adiknya itu ketika mereka melewati trotoar yang dipenuhi stan-stan jajanan atau kedai es krim.

Dulu, ia juga tak pernah begitu mempermasalahkan pujian yang dilayangkan pada Jin Hee semata. Toh, adiknya itu selalu tertawa dan tersenyum bahagia setelah dipuji, satu hal yang selalu membuat hati Jin Hyuk terasa hangat. Ia suka senyum itu, tawa dan celoteh polos yang kerap muncul kala Jin Hee menunjukkan nilai-nilai sains-nya yang sempurna dan berkata, “Oppa, lihat, hasil belajarku semalam tak sia-sia!”

Dulu, semuanya terasa begitu mudah. Sederhana, bahagia, dan tanpa beban. Andai saja ia memiliki kekuatan untuk mengendalikan detak jarum jam, mungkin Jin Hyuk sudah memilih untuk membekukan waktu dan tetap terjebak dalam masa-masa kecilnya yang bahagia saja. Masa yang belum dipenuhi oleh teriakan dan amarah, omelan demi omelan, serta tuntutan keras yang pada akhirnya malah meretakkan hubungan persaudaraan di antara Jin Hyuk dan Jin Hee.

Oh Tuhan, kalau boleh, Jin Hyuk benar-benar ingin memperbaiki semua itu. Ia ingin bertemu Jin Hee lagi, ingin merasakan kehangatan yang sama seperti dulu, ingin mendengar tawanya dan berbagi curhatan soal hidup bersama, ingin….

Oppa-ya!”

Jin Hyuk mengerjap, merasakan angin berembus lumayan keras di sekelilingnya. Lalu, ketika matanya terbuka lagi, suasana yang melingkupi dirinya ternyata sudah berubah total. Kamar apartemennya menghilang; digantikan dengan deretan kursi yang seolah tak berujung, lantai marmer mengkilat, jejeran speaker untuk menyampaikan pengumuman, pintu yang entah menuju ke mana, dan papan bertuliskan “boarding room”.

Shit!

Apa ia jatuh tertidur dan terlempar ke alam bawah sadarnya lagi?

“Jin Hyuk Oppa?”

Kepala Jin Hyuk kini tertoleh ke arah suara itu berasal. Choi Jin Hee sedang duduk di salah satu kursi yang ada, tangannya menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya dengan tatapan mengundang. Tanpa perlu berpikir atau bertanya-tanya lagi, Jin Hyuk mengarahkan kakinya ke samping sang adik dan mengenyakkan diri di sana. Bibirnya mengulas sebuah senyum lebar, agaknya berusaha keras untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang bertalu-talu dan rasa cemas yang mendadak menyeruak muncul tatkala ia melihat ekspresi wajah Jin Hee yang sedikit lesu.

“Jin Hee-ya, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu,” balas Jin Hee sembari mengedikkan bahu, rambut cokelat sebahunya berdesir pelan di atas gaun putih polosnya yang tanpa hiasan. “Apa?”

“Ini mimpi, bukan?”

“Kau sudah tahu kalau ini mimpi,” gumam Jin Hee sambil mengerling ke arah kakaknya, membiarkan pandang mereka bertemu sesaat sebelum akhirnya lekas-lekas menoleh demi menyembunyikan wajahnya yang sedikit pucat di balik helai rambut. “Kenapa masih bertanya?”

“Karena… aku tak mengerti.”

“Apanya?”

“Jin Hee-ya, coba lihat Oppa,” perintah Jin Hyuk pelan, tangannya terulur untuk meraih dagu Jin Hee dan mengarahkan wajah itu agar bertemu muka dengannya. Selama beberapa detik, Jin Hyuk sibuk menyerap detail wajah Jin Hee yang teramat mirip dengannya—mata, hidung, bentuk rahang—sampai akhirnya tatapan itu berhenti di bibir Jin Hee yang memutih dan tidak secerah biasanya.

“Jin Hyuk Oppa….”

“Katakan, Choi Jin Hee. Kenapa aku terus-menerus memimpikanmu? Kenapa kau tidak mau pergi dari pikiranku dan malah membuatku berfirasat buruk? Apa artinya semua ini?”

Jin Hee bungkam, tampaknya berusaha keras untuk tidak menatap mata Jin Hyuk dan malah menyentakkan pegangan sang kakak di dagunya. Gadis itu memalingkan wajahnya dengan tegas, terlihat enggan untuk mendengar kata-kata Jin Hyuk selanjutnya.

“Jin Hee-ya….

“Jangan katakan, Oppa. Apa yang ada di pikiranmu, jangan kata—“

“Kau tidak akan meninggalkanku, bukan?”

.

.

Orang bilang, darah itu lebih kental daripada air.

Orang juga bilang bahwa hubungan keluarga dan saudara—seburuk apa pun dan sebanyak apa pun masalah yang terkandung di dalamnya—tidak dapat diputuskan begitu saja.

Awalnya, Jin Hyuk sama sekali tidak percaya dengan pepatah yang satu itu. Ia selalu beranggapan bahwa orang-orang yang percaya pada seuntai kalimat murahan itu hanyalah mereka yang memiliki keluarga sempurna. Mereka yang tak pernah merasakan sakitnya perpisahan, pun beratnya menjalani hidup di tengah keluarga yang memiliki idealisme dan pendapat berbeda.

Namun, layaknya semua hal dalam hidup Jin Hyuk yang mulai berubah belakangan ini, ketidakpercayaannya pada pepatah itu pun mulai luntur. Memudar, lalu lama-lama terhapuskan seiring dengan banyaknya mimpi-mimpi tentang Jin Hee yang singgah ke dalam benak.

Malam itu, ada yang berbeda.

Bandara Vancouver yang menjadi latar belakang alam bawah sadarnya selama ini memang terlihat sama, tetapi ada satu perubahan berarti yang tak mungkin lolos dari tatapan penuh selidik Jin Hyuk.

“Jadi, akhirnya ada pesawat yang mendarat di sini?”

Jin Hyuk tahu pertanyaan itu terdengar konyol, tetapi ia tak bisa menghentikan bibirnya yang terlanjur berucap sementara kedua maniknya memperhatikan burung besi berwarna putih yang terparkir di landasan pesawat tersebut. Kendati begitu—sama halnya dengan berbagai infrastruktur yang ada di tempat ini—pesawat itu terlihat sepi dan tak terjamah manusia, hanya tergeletak di sana bagaikan mainan berukuran besar yang sudah diabaikan oleh sang pemilik. Karat kuning kecokelatan tampak di beberapa bagian, sedangkan warna putihnya pun sudah sedikit mengelupas dan memudar di bagian sayap. Pesawat itu tak laik terbang—menurut pendapat Jin Hyuk—dan ia tak paham mengapa benda berukuran raksasa itu tahu-tahu muncul di sana.

“Yah, beberapa orang harus pergi, bukan? Pesawat itu datang untuk menjemput.”

Jin Hyuk menoleh, mendapati adiknya tengah menempelkan kedua tangan pada kaca ruang boarding room sembari mengamati kapal terbang tua itu dengan penuh minat. Dari sisi ini, ia memang tidak bisa mengamati ekspresi wajah Jin Hee dengan jelas, tetapi ia berani bersumpah bahwa wajah yang amat serupa dengannya itu sudah bertambah pucat dan lesu jika dibandingkan dengan hari kemarin.

Apa yang terjadi?

“Kau sakit?”

Huh? Tidak. Siapa yang sakit?”

“Choi Jin Hee, wajahmu pucat sekali,” balas Jin Hyuk sambil meraih tangan Jin Hee dan merasakan telapak tangan sedingin es itu membalas genggaman jemarinya. “Jangan berbohong padaku.”

“Aku tidak berbohong,” bisik Jin Hee pelan, wajahnya dipalingkan ke arah lain. “Aku baik-baik saja.”

“Tapi—“

Oppa, aku sedang malas berdebat denganmu. Lagipula, hari ini aku ingin membicarakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang… penting.”

Lamat-lamat, Jin Hyuk mengamati air muka adiknya itu dalam diam. Ekspresi Jin Hee tampak begitu serius, semua senyum dan tawa manisnya hilang sudah. Sunyi menggantung di antara mereka selama beberapa jenak, jenis kesunyian yang membawa aura serius dan tegang pada saat yang bersamaan. Lelaki itu menarik napas panjang, pada akhirnya terpaksa mengurungkan niat dan mengubur keinginannya untuk menginterogasi Jin Hee. Untuk saat ini, Jin Hyuk rasa ia tak punya pilihan selain menuruti keinginan adiknya dan mendengarkan semua penuturan Jin Hee tanpa banyak protes.

“Oke. Aku akan mendengarkan.”

“Aku tak tahu bagaimana harus memulai ini.” Jin Hee langsung berkata-kata, pandangannya yang tertuju ke arah Jin Hyuk terlihat mantap walau sedikit sendu. “Tetapi aku ingin kau bertemu dengan ayah dan ibu.”

Jin Hyuk terperangah, tidak menyangka bahwa ucapan semacam itu akan keluar dari mulut adiknya. Mereka bertatapan, satu dengan sorot mata yang dipenuhi rasa sakit dan ketidakpercayaan, sementara yang lain dipenuhi binar memelas dan penuh permohonan.

“A-apa maksudmu, Jin Hee-ya? Jangan… jangan bercanda.”

Oppa masih membenci mereka.” Jin Hee menelengkan kepala sejenak, mengamati Jin Hyuk dengan pandangan menilai. “Iya, ‘kan?”

Jin Hyuk menelan ludah, mengabaikan nada tanya yang terselip di ujung kalimat Jin Hee barusan. Toh, tanpa perlu mengiyakan pertanyaan Jin Hee, gadis itu pasti sudah tahu apa jawabannya. Ya, Jin Hyuk masih membenci kedua orang tuanya. Dan ya, ia masih belum melupakan semua caci-maki yang ditujukan kepadanya, semua omelan yang diterimanya, juga semua perbandingan akan dirinya dan—

“Aku tahu bagaimana perasaan Oppa,” ucap Jin Hee lagi, menyela jalan pikiran Jin Hyuk. “Oppa membenci mereka, itu bisa dipahami. Seumur hidup dibanding-bandingkan, siapa sih yang tahan? Tetapi, sekarang ini, aku hanya ingin berkata bahwa… bahwa aku juga bersalah di sini.”

“Kau tidak pernah bersalah, Jin Hee-ya.

Oppa tidak tahu apa-apa.”

Keduanya lantas terdiam selama beberapa sekon, berusaha memproses kata demi kata yang akan mereka keluarkan selanjutnya. Jin Hyuk sendiri terlihat kebingungan, tidak sanggup memprediksi ke mana tepatnya arah pembicaraan mereka. Lain lagi dengan Jin Hee yang kini malah melempar pandang menerawang ke luar sana, bibirnya sedikit terbuka kendati tak ada secuil kata pun yang keluar dari sana.

“Apa… apa yang tidak kuketahui, Jin Hee-ya?”

“Bahwa aku tidak patut menerima semua pujian itu. Bahwa aku sebenarnya tidak pernah ingin menjadi dokter. Juga bahwa aku… aku tidak sepantas itu untuk dibanggakan, lantas menjadi alasan bagi ayah dan ibu untuk terus memarahimu.”

“Jin Hee-ya…

“Aku ingin jadi arsitek, Oppa.”

Jin Hyuk terdiam mendengar perkataan jujur saudarinya itu, kedua tangannya yang tersembunyi dalam kantung celana bergerak-gerak gelisah. Ke mana saja ia selama ini? Mengapa setelah bertahun-tahun berlalu, setelah mereka beranjak dewasa dan tak pernah saling bertemu, ia baru mau membuka hati untuk mendengar semua ini?

Aku bukan kakak yang baik, batin Jin Hyuk dalam bisu, sementara Jin Hee kini memandanginya dengan tatapan sedikit berkaca-kaca.

“Maaf.”

“Kenapa Oppa meminta maaf?” Jin Hee terkekeh ringan, lalu melanjutkan, “Seharusnya, aku yang meminta maaf di sini. Aku yang menjadi sumber penderitaan Oppa, bukan? Seandainya saja ayah dan ibu tahu bahwa cita-citaku selalu menyimpang dari harapan mereka, tentunya aku juga akan dimarahi dan dibentak-bentak, bukan?”

Jin Hyuk kembali melirik adiknya dari sudut mata, napasnya terhela dalam. Ia tidak ingin berprasangka buruk, pun meneteskan noda pada semua kenangan indahnya dengan Jin Hee. Jauh di dalam hatinya, ia yakin benar bahwa Jin Hee pasti memunyai alasan tersendiri, sebuah pembenaran atas tindakan yang ia lakukan.

“Tetapi, aku salah,” lanjut Jin Hee tanpa memedulikan ekspresi Jin Hyuk yang berubah kaku. “Aku salah, dan aku baru menyadarinya belakangan ini. Oppa… ingin tahu apa alasannya?”

“Tentu saja. Jin Hee-ya, tak peduli apa pun yang kaulakukan, sebenarnya aku tahu—selalu tahu malah—bahwa kau tidak akan mengecewakan atau mengkhianati, Oppa, ‘kan?”

Jin Hee mengangguk mantap, perlahan-lahan beringsut ke arah Jin Hyuk dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang kakak. Diam di sana selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali berkata, “Terima kasih, karena sudah memercayaiku.”

Jin Hyuk mengangguk pelan.

“Begini… aku tahu kalau Oppa tak pernah ingin menjadi dokter, pun menyukai mata pelajaran sains. Namun, sejak dulu, ayah dan ibu tidak pernah berhenti menuntut kita, bukan? Jadilah dokter, baik suka maupun tidak, itu yang mereka inginkan, benar begitu?”

“Ya.”

“Maka, aku memutuskan untuk menjadi dokter dan membuang mimpiku.”

“Kenapa kaulakukan itu?” bisik Jin Hyuk lirih seraya mengangkat tangan untuk membelai puncak kepala saudarinya dengan lembut. “Kenapa?”

“Karena dengan begitu, kupikir mereka akan puas. Kukira, mereka akan berhenti merecokimu dengan semua omong kosong itu, lantas membiarkanmu melakukan apa pun yang kauinginkan. Tetapi… seperti yang kaulihat sendiri… aku salah.”

“Dan… apakah kau menyesalinya? Karena pengorbananmu sia-sia?”

Hening sejenak. Lalu….

“Tidak.” Jin Hee melingkarkan lengannya untuk merangkul pinggang Jin Hyuk, merapatkan tubuh mereka sementara sedikit tangis mulai terdengar kentara dalam suaranya. “Aku tidak menyesali itu, namun aku menyesal karena Oppa terpaksa pergi dari rumah. Aku menyesal karena aku telah gagal. Aku tidak bisa membuat Oppa bahagia, padahal waktu kecil dulu—“

“Kau bodoh,” potong Jin Hyuk cepat, merasakan bulir air-air mulai tertampung di kelopak matanya sendiri dan mengancam untuk segera turun. “Kau bodoh, Choi Jin Hee! Tidakkah kau ingin bahagia?”

“Apa Oppa ingat janji yang kita buat sewaktu kecil dulu? Saat kita di taman bermain, diganggu oleh anak-anak nakal?”

Pertanyaan Jin Hee itu sontak membuat bibir Jin Hyuk terkunci rapat. Pikirannya mulai berkelana ke masa lalu, mengingat masa di mana Jin Hee kecil sering sekali diganggu anak-anak nakal dan ia pun akan datang untuk menyelamatkan adik perempuannya itu. Rutinitas itu cukup sering terjadi, sampai pada suatu hari, ketika ia tengah menggendong adiknya yang terluka di lutut, janji itu pun terbentuk begitu saja.

.

.

“Kenapa Oppa selalu menolongku?”

“Karena aku ini kakakmu, Jin Hee sayang. Masa begitu saja tidak mengerti? Kita ini saudara, ingat? Saudara harus berkorban demi satu sama lain. Kalau aku, aku akan melakukan apa saja agar adikku ini bahagia.”

“Begitu ya… kalau begitu, aku juga berjanji untuk membuat Oppa bahagia suatu saat nanti!”

.

.

“Ingat?”

Tentu saja, pikir Jin Hyuk pelan sambil menganggukkan kepalanya. Air matanya kini sudah turun membasahi lengkung pipi, jatuh begitu saja tanpa bisa dicegah. Perasaan sesak dan bersalah mendatangi dirinya secara bertubi-tubi, rasanya bagai mengalami siksaan yang tak berujung.

Ia adalah makhluk egois.

Bodoh! Kau ini bodoh, Choi Jin Hyuk! Sekarang, siapa yang melanggar janji itu? Siapa yang lari seperti pengecut, diam-diam membiarkan adik perempuannya menanggung semua beban dan terus berkorban tanpa kenal lelah?

Oppa-ya…

“M-maafkan aku… aku minta maaf Jin Hee-ya… kau boleh menyalahkanku… kau boleh melakukan apa saja… kau….”

“Aku tidak menjelaskan ini semua untuk mendengar permintaan maafmu, Oppa,” potong Jin Hee sembari menepuk-nepuk punggung Jin Hyuk, sekali ini bersikap layaknya ialah yang terlahir lebih tua. “Aku hanya ingin kau menemui ayah dan ibu. Akhir-akhir ini, mereka juga mulai menyadari bahwa tindakan mereka dulu itu salah. Bagaimanapun juga, kurasa orangtua akan selalu menyayangi dan merindukan anaknya, bukan?”

“Tapi… Jin Hee-ya….”

“Aku tak ingin mendengar protesmu. Tak apa kalau Oppa belum siap untuk memaafkan, namun setidaknya Oppa harus mencoba. Ayah dan ibu… mereka juga bukan manusia tanpa hati. Pelan-pelan, kalian pasti bisa melakukannya. Aku akan senang sekali kalau itu bisa terjadi.”

“Entahlah, Jin Hee-ya…” Jin Hyuk mendesah keras, diam-diam memutar beberapa memori masa kecilnya yang masih dipenuhi dengan kebahagiaan. Sejujurnya, ia juga menginginkan hal semacam itu untuk terjadi lagi. Ia ingin berbicara dengan ayahnya, memeluk ibunya, berbagi tawa dengan saudarinya, serta merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga yang utuh. Ia tak bisa memungkiri itu, dan….

“Tolong pertimbangkan kata-kataku, Oppa,” gumam Jin Hee pelan, kali ini tangannya terulur untuk menggenggam tangan Jin Hyuk erat-erat seperti kala mereka masih kecil dulu. “Atau begini saja, anggap itu sebagai permintaan terakhirku, bagaimana?”

.

.

Jin Hyuk berguling pelan di kasurnya, matanya mendadak terbuka lebar sementara kalimat “anggap itu sebagai permintaan terakhirku” terus terngiang di dalam rongga kepalanya. Lelaki itu bisa merasakan debar jantungnya yang terlalu keras, seakan organ tubuh pemompa darah yang satu itu hendak menjebol tulang-tulangnya dan meloncat keluar dari rongga dada. Napasnya menderu keras, dahi dan kausnya pun basah oleh keringat dingin.

Aku pasti sudah gila.

Pikiran itu terlintas di benak Jin Hyuk begitu saja, muncul tanpa diundang sementara potongan demi potongan mimpinya serasa berkelebat di depan mata. Ya, ia pasti sudah gila. Bagaimana mungkin mimpi itu dapat terasa begitu nyata? Dunia mimpi adalah sesuatu yang selalu ia anggap sureal—tidak nyata dan terpisah dari alam semesta tempatnya tinggal. Kedua dunia itu tidak seharusnya dicampuradukkan, tidak seharusnya pula diperbolehkan untuk saling bertumpang-tindih dan memenuhi benak Jin Hyuk dengan firasat-firasat buruk.

Nah, di situlah letak masalahnya.

Mimpi barusan terlalu nyata, bahkan sampai pada titik di mana Jin Hyuk berani bersumpah bahwa ia terbangun dengan mata berkaca-kaca dan nyaris menangis. Dalam situasi seperti ini, mustahil bukan bagi Jin Hyuk untuk mengabaikan pertanda itu begitu saja dan berpura-pura bahwa ia baru terbangun dari tidur yang nyenyak?

Well, ia juga masih punya hati, bukan? Mendengar pengakuan Jin Hee seperti tadi cukup untuk membangkitkan rasa panik dalam dirinya, terlebih kala mimpi itu ditutup dengan kata-kata semacam “ini permintaan terakhirku”.

Damn!

Choi Jin Hee, tolong jangan membuatku cemas begini!

Jin Hyuk menggigiti bibir bawahnya, kali ini sambil berderap keluar dari kamarnya untuk menyambar ponsel yang ia letakkan sembarangan di atas sofa. Sambil berusaha menghitung perbedaan waktu antara Kanada-Korea dan mengira-ngira kapan Ji Hyo akan sampai di rumah keluarga Choi, lelaki itu kembali membenamkan kepalanya pada bantal-bantal sofa untuk mencari ketenangan.

Semua pasti akan baik-baik saja. Semuanya oke. Semua akan berjalan lancar.

Tenangkan dirimu… tenang….

Jin Hee tidak akan kemana-mana.

Iya, ‘kan?

.

.

Faktanya, sugesti yang ia lancarkan sebelum jatuh terlelap lagi itu pun rupanya tak membawa hasil baik.

Katakanlah, ia sudah muak dengan bandara ini. Ia muak menatap landasan pacu Vancouver International Airport yang kosong melompong, mendapati boarding room yang hanya berisikan dirinya dan Jin Hee, serta kembali terjebak dalam aura menyesakkan dan suram yang tampaknya tak mau lenyap begitu saja dari tempat ini.

Ia benci ini, tetapi ia butuh jawaban.

“Permintaan terakhir, apa maksudnya itu?”

Tak biasanya Jin Hyuk menaikkan nada suaranya hingga satu oktaf, melontarkan satu kalimat tanya itu dengan penuh tuntutan kendati rasa panik sebenarnya sedang merambati setiap jengkal tubuhnya. Mata Jin Hyuk memicing tajam ke arah Jin Hee yang sedang berdiri di ambang pintu, seolah sedang menunggu daun pintunya mengayun terbuka agar ia bisa berjalan di sepanjang lorong garbarata yang menjadi penghubung antara ruang tunggu ini dengan pesawat.

“Bukankah kemarin sudah kubilang, pesawat itu datang untuk menjemput beberapa orang yang harus pergi?”

“Aku tak mengerti.”

Jin Hee tersenyum simpul, kakinya mengetuk-ngetuk permukaan lantai yang dilapisi karpet dengan tempo teratur. Gadis itu—Jin Hyuk sedikit terlambat menyadarinya—terlihat makin pucat dan, entah ini perasaan Jin Hyuk saja atau bagaimana, sosoknya terlihat mengabur kala diterpa cahaya mentari sore yang membias masuk lewat kaca jendela. Ia terlihat rapuh—layaknya kaca yang bisa pecah menjadi ratusan serpih kecil, atau serbuk bunga dandelion yang bisa terbang tak tentu arah sebelum akhirnya hilang karena ditiup angin.

Semua itu membuat bulu kuduk Jin Hyuk tanpa sadar meremang, ngeri akan jalan pikirannya sendiri.

“Choi Jin Hee.”

“Mungkin… Oppa sudah mulai menyadarinya sekarang. Apa arti dari semua ini.”

Jin Hyuk mengerutkan kening, menunjukkan betapa inginnya dia menampik ucapan itu, juga menyanggahnya dengan sepenuh hati semata-mata karena ia merasa takut. Jujur, ia belum siap untuk ditinggalkan. Ia tidak sanggup untuk menghadapi sebuah perpisahan yang lain. Ia hanya ingin bahagia sebentar saja, apa itu terlalu susah untuk dikabulkan?”

Oppa….

Lelaki itu menggeleng tegas, tahu persis bahwa mengucapkan dugaannya dengan suara keras sama artinya dengan mengakui firasat buruk itu sendiri. Dan ia tidak mau, tak ingin menerima bahwa prasangkanya selama ini akan segera menjadi nyata.

“Jin Hyuk Oppa, ini bukan sesuatu yang bisa kaucegah. Oppa… tahu itu, bukan? Tak ada yang bisa mencegah apa kata takdir dan—“

“Aku tahu!” bentak Jin Hyuk akhirnya, frustasi. “Aku tahu tetapi aku tak mau mengakuinya! Lagi pula, ini hanya mimpi dan… dan….”

Jin Hyuk kehilangan kata-katanya, sementara Jin Hee hanya menarik sudut-sudut bibirnya perlahan dan menampilkan senyumnya yang biasa. Gadis itu melangkah menjauhi pintu yang menuju ke pesawat, lengannya terulur untuk merengkuh Jin Hyuk erat-erat selama beberapa menit lamanya.

“Jin Hee-ya… Ini hanya mimpi, bukan?”

“Aku pun berharap begitu, Oppa.

“Lantas—“

Ssshh, jangan mendebatku, please. Biarkan aku mengucap salam perpisahan dengan sepantasnya, sekadar berjaga-jaga kalau saja aku memang harus per—“

“Jangan katakan.”

Jin Hee tertawa pelan, tawa tulus yang juga dihiasi gurat kesedihan. Lengannya yang mendekap tubuh Jin Hyuk kini sudah terlepas; sepasang irisnya dihiasi selapis air bening yang agaknya sudah siap untuk jatuh berderai. “Kalau begitu, jangan menangis, Oppa.

“Bagaimana mungkin kau memintaku untuk tidak menangis,” gumam Jin Hyuk kesal, “ketika kau sendiri malah seperti itu?”

Suara Jin Hee berubah sedikit serak, kekehannya makin terdengar dipaksakan ketika ia mengulurkan telunjuknya untuk menghapus air mata yang tanpa sadar sudah menghiasi lengkung pipi. Berikutnya, Jin Hee pun beranjak untuk menghapus air mata Jin Hyuk yang juga mulai terbentuk di sudut mata, sekuat tenaga berusaha untuk terlihat tegar dalam menghadapi semua ini.

“Apa ini benar-benar akhir?”

“Entahlah.” Jin Hee mengedikkan bahu, sedikit terlonjak kaget ketika pintu di belakangnya mendadak terbuka dengan bunyi debam keras. “Yah, apa pun itu, aku harus pergi sekarang.”

“Haruskah?”

Mmm-hmm. Seandainya aku tak ingin pun, takdir akan tetap mengarahkan langkah kakiku ke sana. Bagaimana mungkin aku bisa menolaknya?”

Jin Hyuk menggelengkan kepalanya perlahan, berpikir sejenak, lalu sekonyong-konyong berucap, “Aku bisa membantumu untuk menolaknya. Aku akan melindungimu.”

“Jangan konyol.”

“Aku tidak—“

Tapi Jin Hee menggelengkan kepalanya mantap, jelas-jelas tak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Jin Hyuk. Alih-alih mengizinkan kakaknya kembali berbicara, Jin Hee memilih untuk memeluk saudara lelakinya itu sekali lagi seraya berujar, “Jaga dirimu. Oppa, juga ayah dan ibu, kalian pasti akan baik-baik saja. Aku cinta kalian.”

“Jin Hee-ya…”

“Selamat tinggal.”

.
.

Selamat tinggal katanya?

Jin Hyuk menarik napas dalam-dalam, merasakan pegal mendadak datang dan merayapi otot-otot kakinya tatkala ia berhenti berlari di tengah lorong yang menghubungkan boarding room dengan pesawat itu. Sosok Jin Hee sudah tak terlihat, menghilang bagai debu yang tertiup angin.

Choi Jin Hee, kau tidak boleh pergi! Tidak, tidak, tidak!

Lelaki itu mulai berlari lagi, kendati ia tahu persis bahwa pengejarannya hanya akan berbuah kesia-siaan belaka. Ia hanya melakukan ini lantaran hatinya sudah terlalu mati rasa, terlalu lelah untuk menampung semua rasa duka yang ada.

Tolong… kembalilah! Kita bahkan belum bertemu di dunia nyata dan….

Langkah kakinya kembali berhenti, kali ini disertai dengan sepasang maniknya yang membeliak lebar. Napasnya masih terengah-engah dan pasokan oksigen di sekelilingnya terasa berkurang drastis, namun bukan itu yang menjadi fokus perhatian Jin Hyuk sekarang.

Garbarata tempatnya berdiri itu telah berubah. Dinding yang memagarinya dari dua sisi telah menghilang dalam satu kedipan mata. Pijakan kakinya kini terasa melayang-layang di udara, berayun tak tentu arah sementara dunia di sekitarnya mulai menggelap dan memudar.

Lalu, dalam hitungan detik saja, kantuk itu tiba-tiba datang menyergapnya. Membuat sepasang kelopak Jin Hyuk akhirnya terpejam walau enggan, sementara kesadarannya terus menurun sampai akhirnya hilang sepenuhnya.

Dan semuanya pun berubah menjadi hitam kelam.

Lenyap.

.

.

“Tidak, tidak! Choi Jin Hee!”

Teriakan itu menggema di seluruh sudut ruang apartemen, sementara sang pemilik suara lekas-lekas terbangun dari posisi berbaringnya seraya mengusap peluh yang bercucuran. Di atas bantalan sofa, ponsel Choi Jin Hyuk bergetar dengan suara cukup keras, layarnya berkedip menyala dan menarik perhatian lelaki itu. Rupa-rupanya, ia tadi jatuh tertidur di sofa sembari menunggu telepon atau pesan dari Ji Hyo. Dan kini, terpampang di layar ponsel itu, adalah nama kekasihnya yang tengah menelepon dari Kanada sana.

Mmm, Ji Hyo-ya…” Jin Hyuk langsung mengangkat teleponnya, berusaha keras untuk mengusir bayang-bayang mimpi buruknya yang bergentayangan seperti hantu. “Kau sudah bertemu Jin—“

Maafkan aku, Jin Hyuk-a… S-sepertinya aku terlambat.

Alis Jin Hyuk spontan berjungkit naik, debaran jantungnya yang sudah susah payah ia kendalikan beberapa sekon lalu kembali berpacu cepat. Tenggorokannya serasa tercekat, tak lagi mampu memproses kata-kata sementara gumaman maaf Ji Hyo terus meluncur masuk ke dalam rongga telinganya.

“Jangan bercanda, Ji Hyo-ya… Hei, untuk apa kau minta maaf?”

K-kau… apa beritanya belum sampai sana? Kecelakaan pesawat dari Kanada ke Los Angeles. Saudari kembarmu—“

Cukup!” bentak Jin Hyuk, merasakan dingin menjalari tengkuknya tanpa diundang. “Jangan membohongiku, Ji Hyo-ya. Mimpi-mimpiku sudah cukup buruk dan aku…”

Aku tidak berbohong.” Suara Ji Hyo yang lemah terdengar di ujung sana, merambatkan getaran rasa takut ke seluruh tubuh Jin Hyuk. “Aku baru saja sampai di rumah orang tuamu dan mereka memberiku kabar itu. K-katanya… jenazah Jin Hee akan tiba besok. Di Kanada.”

“K-kau bohong, ‘kan?”

“Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri, Jin Hyuk-a.”

“Kau bohong… k-kau… ini tidak nyata, bukan? Mimpiku… mimpi hanya mimpi dan….”

“Maaf. Aku turut berduka, Jin Hyuk-a.

Seluruh tubuh Jin Hyuk seketika terasa membatu, kaku bagaikan baru saja disiram dengan bergalon-galon air es. Otaknya mulai menyodorkan potongan-potongan mimpinya dengan Jin Hee selama beberapa hari belakangan, mengingatkan Jin Hyuk akan betapa berartinya masa-masa terakhir itu walau semu. Penyesalan datang merambat masuk, mengendap dan tak lagi bisa dienyahkan. Dalam kekalutan itu, pupilnya tanpa sadar mengarah pada bingkai foto yang terpajang di rak buku, bingkai yang seharusnya berisi foto dirinya dan Jin Hee saat masih kecil dulu.

Sudah hilang.

Jin Hyuk mengamati foto itu dengan cermat, matanya membelalak lebar saat ia mendapati bahwa foto Jin Hee sudah menghilang dari sana. Menyisakan dirinya yang berdiri sendiri, tampak kesepian dan aneh karena harus berpose seorang diri.

Seketika itu juga, ia tahu.

Ia terlambat.

Ia belum sempat mengunjungi adiknya untuk mengucap kata maaf, pun merajut beberapa kenangan indah untuk dikenang. Sekarang, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur, dan apa pun yang ia perbuat, ia tak akan bisa mengembalikan Jin Hee-nya dalam keadaan hidup.

Jin Hyuk memejamkan kedua matanya, dalam hati sungguh-sungguh berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk semata. Bulir-bulir air matanya menderas turun, menghiasi lengkung pipinya dengan sepasang anak sungai yang agaknya tidak berkesudahan. Kegelapan kembali mengambil alih, dan hal terakhir yang ia dengar adalah suara panik Ji Hyo serta bunyi ‘tak’ keras saat ponselnya menghantam lantai kayu.

Lalu, ia pun kembali terbenam dalam kekelaman.

Sekaligus berdoa bahwa, ketika ia bangun nanti, firasat terburuknya hanya akan menjadi firasat semata.

.

.

Jadi, bagaimana dengan sekarang? Sudah bolehkah ia membuka mata?

.

.

Ia terbangun dengan kepala pening pagi itu, sementara otaknya bekerja keras dalam merangkai potongan demi potongan kejadian yang terbentuk di alam bawah sadarnya. Rasanya seperti ada benang kusut yang menggumpal di dalam sana, tak bisa diuraikan atau ditemukan mana ujungnya.

Ini gila. Ini tidak mungkin terjadi padanya.

Ini…

… hanya mimpi, ‘kan?

Jin Hyuk menggelengkan kepalanya, seolah berharap gelengannya dapat melemparkan kekusutan di dalam otaknya menjauh. Namun, alih-alih merasa lega, pikirannya malah kembali melayang pada mimpi-mimpi buruknya yang terasa tumpang-tindih. Apa ia… baru saja bermimpi di dalam sebuah mimpi? Mungkinkah itu?

Entahlah, jawab sebuah suara di dalam kepalanya, membuat desahan keras serta-merta terlepas dari bibir Jin Hyuk. Mengabaikan kepalanya yang terasa berputar-putar dan tubuhnya yang pegal, lelaki itu pun bangkit berdiri sambil mencubit pipinya keras-keras. Ia mengaduh kesakitan tak lama setelahnya, sebuah pertanda bahwa ia sudah kembali ke dunia nyata lagi. Seraya mengusap-usap bekas merah di pipi kirinya, Jin Hyuk pun akhirnya berjalan menuju pintu depan apartemen untuk mengambil kiriman koran pagi itu dengan perasaan kalut.

Tolong, biarkan pertanda buruk itu tidak menjadi nyata, batinnya sambil membuka pintu dan meraih gulungan koran yang tergeletak di sana. Aku bukan peramal atau cenayang, memimpikan hal-hal seperti itu seharusnya tidak menjadi masalah, bukan?

Seraya menanamkan sugesti-sugesti itu di dalam benaknya, Jin Hyuk membuka halaman demi halaman koran dengan cepat, memindai setiap judul berita yang ada. Telapak tangannya berkeringat dingin saking tegangnya, sementara matanya bergerak cepat mencari-cari berita tentang kecelakaan pesawat.

Tidak ada. Di sini juga tidak. Negatif. Nihil. Tidak ada apa-apa. Tidak mungkin ter—

Jin Hyuk baru saja akan membalikkan korannya ke halaman terakhir, ketika ponselnya tiba-tiba berdering keras dan membuatnya terlonjak kaget. Tergesa-gesa, ia pun segera menyambar ponselnya yang terletak di bantalan sofa dan mendapati nama Ji Hyo yang terpampang di layar.

Jantungnya kini serasa diremas-remas, sungguh.

Dengan tangan gemetar, Jin Hyuk menekan tombol answer dan menempelkan benda mungil itu pada telinganya. Ia berdeham sejenak, kemudian berkata, “Mmm, Ji Hyo-ya… Kau sudah bertemu Jin—“

Maafkan aku, Jin Hyuk-a… S-sepertinya aku terlambat.

Nada suara Ji Hyo yang sendu langsung terdengar, memotong sapaan Jin Hyuk dan menggetarkan kengerian ke seluruh penjuru tubuhnya. Kalimat itu… mengapa ia merasa sudah pernah mendengar ucapan Ji Hyo itu sebelumnya?

“Jangan bercanda, Ji Hyo-ya… Hei, untuk apa kau minta maaf?” tanggap Jin Hyuk cepat dengan suara serak, mendadak sadar bahwa ia juga sudah pernah mengucapkan kata-kata ini sebelumnya.

Seperti… déjà vu.

Tetapi ini… ini….

K-kau… apa beritanya belum sampai sana? Kecelakaan pesawat dari Kanada ke Los Angeles. Saudari kembarmu—“

… mengapa ini nyata?

Jin Hyuk tak perlu lagi mendengar kelanjutan ucapan Ji Hyo—ia sudah mengalaminya sekali di alam bawah sadar dan ia tak punya niatan menyiksa diri dengan mendengarkannya lagi. Maka, dibiarkannya ponsel itu jatuh tergeletak begitu saja di atas lantai, sementara ia sendiri bergegas menyambar koran yang belum selesai dibaca dan menyelisik halaman terakhirnya.

Dan harapannya pun… runtuh seketika.

Judul berita tentang kecelakaan itu menyambutnya, tampak mencolok karena ditulis dengan font yang jauh lebih besar dibandingkan berita lainnya. Di bawahnya, berderet nama-nama korban dan kronologi kejadian, paragraf demi paragraf yang membuat matanya buram akibat tangis tak terbendung.

Kali ini… nyata.

Ini bukan mimpi atau firasat buruk lagi.

 “Jin Hyuk-a? Hei, kau baik-baik saja? Jin Hyuk-a?”

Teriakan Ji Hyo samar-samar masih terdengar—mungkin tadi tanpa sengaja ia menekan tombol loudspeaker. Kecemasan gadisnya itu berpadu dengan jerit kehilangan dan tangisnya yang tak mau berhenti, menodai keceriaan pagi itu dengan gurat duka, penyesalan, dan rasa sakit yang menusuk hati bagai belati tajam berkarat.

Semua firasat buruknya telah menjelma menjadi nyata; bukan lagi berbentuk bayangan gelap yang mengintai dari kejauhan, melainkan telah berubah menjadi monster besar yang mencabik-cabik dirinya hingga tak bersisa. Meninggalkan Jin Hyuk sendiri, membiarkannya berkubang dalam permintaan maaf tak tersampaikan, juga mengurungnya rapat-rapat dalam sangkar bernama penyesalan tak berujung.

Ini adalah akhir. Akhir yang jauh dari kata bahagia.

Akhir yang tak pernah diharapkan oleh seorang Choi Jin Hyuk.

Namun, pada saat yang bersamaan, ini adalah sebuah akhir yang terpaksa harus ia telan bulat-bulat. Jin Hyuk tahu itu. Ia tahu bahwa tatkala firasat itu muncul, dan ketika takdir akhirnya benar-benar datang menjemput, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menerimanya dengan ikhlas. Menyambutnya dengan tangan terbuka, meskipun sebenarnya ia begitu enggan hingga nyaris muak dengan dirinya sendiri.

Karena, sungguh, memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan selain—

Jin Hee-ya… selamat tinggal. Oppa… O-oppa minta maaf.

—mengucapkan selamat tinggal dan membiarkan penyesalan menggerogoti dirinya?

.

.

Kala firasat kelam itu masih mengintai dari kejauhan,

ia memilih untuk mengabaikannya

.

Kala kegelapan itu mulai membelitnya perlahan dan menyesaki batinnya,

ia pun masih memilih untuk memalingkan muka dan berpura-pura tak tahu

.

Lalu, pada akhirnya, ketika sosok bernama maut itu benar-benar datang

dan merenggut apa yang berharga baginya,

barulah ia mau menolehkan muka,

menyambut duka dengan gidikan ngeri,

sementara bibirnya mengucap maaf yang sudah tak punya arti

.

Tahukah kamu?

Karena sebenarnya, hatimu selalu mengatakan kebenaran;

instingmu siap dalam mendeteksi petaka;

sementara benakmu tak mungkin membohongi tuannya sendiri

.

Jadi, masihkah kamu menunggu penyesalan itu datang sebagai kado terakhir?

.

.

—fin.

 

A/N:

Happy drama week, IFK Family and Movie Freak!!

Hell yeah, saya tahu mungkin ini ucapannya telat mengingat kirim fic-nya pun saya telat dan publish-nya pasti udah belakangan muehehehe /ditendang/

Anyway, ini dia, my first family fic sekaligus my first fic with actor as a main cast! Maafkan semua ke-OOC-an yang ada di sini, juga alur cerita atau apalah yang memang dirasa kurang karena family fic sebenernya bukan aku banget dan aku sadar kalau ini bukan yang terbaik yang bisa aku berikan untuk para movie freaks :’) Tapi sejujurnya, puas sih bisa menyelesaikan ini karena semacam jadi tantangan juga buat aku :’’’

Oh ya, fic ini sebenernya semacam comeback  di IFK setelah sekian lama ga ngepost dan mengabaikan utang yang menumpuk /ditimpuk/ maaf untuk yang menunggu dan diusahakan secepatnya saya bisa posting lagi yaa~

Okaaay, dan akhir kata (?) terima kasih sudah membaca sampai akhir karena fyi aja ini 25 halaman word dengan total 7000+ words hahahah xD Selamat bagi kalian yang sudah mencapai author’s note ini dan alangkah baiknya (?) kalau kalian juga meninggalkan jejak :3

Thanks ^^

Regards,

 

Tsukiyamarisa

Iklan

26 tanggapan untuk “[Drama Week] Premonition by Tsukiyamarisa”

  1. Wth keren bgt thor.
    Tapi entah kenapa aku ga nangis/?
    Daebakk daebak!
    Keep writing thor..
    kalau bisa sama sequel/? Ya tentang si Jin Hee nya kembali tapi bukan ke tubuhnya lg atau apa gitu haha
    I wish my hope is not hopeless.
    Once more, daebak~

    Suka

    1. haha emang jangan nangis atuh, aku aja nulisnya nggak nangis kok (?) xD
      sequel? aduh karena ini fic spesial drama week, aku ga ada pikiran buat bikin sequel sih, lagian projectku juga masih numpuk heuheu ~.~ maaf yaaa~

      anyway, thanks for reading! 😀

      Suka

    1. Kakmeeeeer, yaampun ini comeback-nya bikin nangis tau nggak:””” Dan ya aku udah pernah ngrasain apa yang dirasain Jin Hyuk, mimpi di dalam mimpi, sekaligus waktu bangun mengalami déjà vu. Hell sakit banget itu:””””  

      Ini… Ini… Ini FF menyayat hati banget, tapi aku udah firasat deh dari awalnya. ‘kayaknya Jin Hee-nya udah mati, makanya dia nyamperin Jin Hyuk dalem mimpi’ and thats true :”)  

      Ahhh speechless deh kak pokoknya, bagus buanget deh! /logatjawakeluar/ Ditunggu comeback selanjutnya ya kak, dan aku di tag in dong kalo kakak comeback, yayayaya?;;)  

      Lusi

      Suka

      1. tidaaaaak *ikutan jin hyuk teriak* jangan nangis dong cantik ;;; aku nggak bermaksud bikin mewek lho, mungkin emang bawaan otak yang larinya ke angst mulu /ditimpuk
        hmmm, sama aku juga pernah ngerasain, cuma nggak pake ada yg meniun segala sih alhamdulilah…. ((aku juga gamau kali)) .___.

        ahaha okeee, nanti kalo aku post lagi aku tag deh ^^
        makasih banyak ya lusiiii :3

        Suka

      2. Tanggung jawab kak, heuheu T_T
        Ehiya, aku jadi ketularan kakak kan, suka nulis angst:””
        Oiya nggak ada yang meniun sih xD
        Sip, iya sama-sama kakmer cantik:3

        Suka

  2. Akhirnya, sampe kata fin.

    Kamu ga tau betapa susahnya aku menenangkan degup jantungku pas baca fic kamu ini. Aku sampe baca sambil bolak-balik buka page tuiter, cari pengalihan, karena kalo aku nekat baca sampe akhir tanpa jeda mungkin aku pingsan beneran karena lupa napas

    Amer, fic ini menguras hati banget. aku udah sering baca fic kamu tapi selalu terkaget-kaget sama kekayaan diksi yang kamu punya. Setiap kalimatnya bener-bener meresap di hati, cara kamu mendeskripsikan setting, suasana, semuanya berbayang di kepala dan ngebikin semua yang kamu tulis nyata di alam imajinasiku.

    Kamu bilang ini bukan yang terbaik dari kamu?? terus yang terbaik kayak apa?? /nangis garuk-garuk tanah/
    Well, terserah kamu mau ngecap aku sebagai reader bullshit yang suka komen ga jelas, tapi aku beneran kagum sama skill nulis kamu. bikin iri.

    Bisa gitu kamu menghubungkan tentang konflik keluarga, mimpi, bandara, bisa jadi plot yg awesome kayak gini. Di awal masih aman, terus ada adegan bandara yang misterius, dilanjutkan dengan kehasiran Jin Hee berkali-kali, mulai nyesek pas kemunculan pesawat itu /udah mulai firasat buruk disini/, lalu mimpi terakhir itu..aku pun terkapar. Bener!

    Premonition. Kamu dapet kata ini dari mana sih. Semacam firasat ya? Kalo cast nya mah ga usah ditanya lagi, aku tau kamu lagi tergila-gila sama Emergency Couple, haha >.<

    Ah, pesan moral di fic ini dalem banget. Aku berharap gak akan pernah ngalamin hal seperti Jinhyuk, saat firasat datang, diabaikan, dan hanya penyesalan yang menyambut di akhir ((semoga ntar malem ga mimpi macem-macem))

    UDAH AH, AKU SPEECHLESS. AKU KASIH SEMUA JEMPOLKU BUAT FIC KAMU!! IH, KESEL! ABIS KAN JEMPOLKU!! (maafkan keabsurd-an readermu ini)

    Oh iya, capek muji-muji kamu terus /emang pantes banget dipuji sih/
    sekarang aku mau curcol. Sempet bingung pas bagian akhir, yang Jinhyuk dapet telpon dari Jihyo, kupikir kamu typo, kok ceritanya berulang dua kali, baru sadar kalo scene pertama masih termasuk mimpi /haha, dasar akunya yang lemot/. Yaudah sih, gitu aja dari aku.

    Thanks for you, for all nice stories ^.^
    Love U (emot hati yang buanyak)

    Suka

    1. UWOOOOOW KAK DHINI KOMENNYA ASTAGA *melotot* semalem aku buka lewat hape kayaknya nggak sepanjang ini deh… kenapa pagi ini jadi keliatan panjang (?)

      ehehe, sumpah aku nggak bermaksud bikin kakak pingsan atau sebagainya dan yeaaay! makasih udah menyelesaikan ini sampe akhir, nggak mabok kan kak bacanya? ._.

      oh ya, anyway, makasih (lagi) buat apresiasinya aaaaa….. aku seneng kalo ini bisa meresap ke hati, soalnya jujur aja banyak hal yang baru aku coba tulis di fic ini huhuhu, jadi terharu kan bacanya T____T

      Haha dan aku mau ngecap kakak jadi reader termanis aja gimana, yayaya? XD habis tiap komentar kakak selalu bikin aku senyum2 sendiri sih, berasa lagi digombalin ((sesi menggombali reader dimulai))

      iya Premonition itu semacam firasat gitu kak… err, waktu itu aku bertapa tujuh hari tujuh malem dulu pas bikin judul ((nggak)) maksudnya itu judul tuh juga bikin galau bikinnya dan alhasil aku buka2 gugel trans sama kamus inggris hahahah XD dan yap, aku emang lagi tergila-gila berat sama Oh Couple yg satu itu :3

      ihihi udah kak, jangan muji2 aku teruuus, belum worth it ini, toh aku juga masih banyak belajar dan banyak kurang di sana sini :’)
      oh bagian akhir? ehe iya itu aku niatnya mau menjebak (?) maaf kalo bikin bingung~ yah intinya sih yg pas udah akhir banget itu baru yg nyata :3

      thanks juga buat kakak, for this long and nice comment :”’
      love you jugaaaa, see ya kak dhini! 😀

      Suka

  3. oh well narasinya ckup jelas walaupun tak terlalu membutuhkan dialog yang bertubi2 hehehe
    alur critanya bagus dan yah mudah ditebak. itulah manusia selalu mencoba menghindar dari firasat yg datang

    Suka

    1. KAK AMEEEERRRRRRRR ((make toa)) ((kumpulin warga)l
      Okay, wait, what? Jangan ngeliatin aku begitu, oke? Aku tau ini udah telat delapan hari dan…… (main ulat) maafin akuuu kakaaak. Pas baca ini aku inget banget baru pulang sekolah, dan lagi di KRL. Lalu dengan terpusing-pusing ((sorry sakit mulu, tapi emang aku lagi sakit bener bener ekstrim sakit)) aku baca ini dan ugh.. so menyayat…

      Pas liat cover, ada Om Jin Hyuk. Terus di bawah ada pinkeu pinkeu yang ternyata artworknya Kak Sasaa. Nice Job biat kak Sasaaaaaaa<3 itu covernya lovely sekali, sesuai sama alur cerita. Dan, interludenya semacam pas banget. Ada noun-nya gitu, dan dijelasin pulak. Jadi gaperlu kasih pembukaan yang ribet-ribet. Ini kak amer banget lah! Di Bayangan aku, Jin Hee itu hidup bangeeet. Biarpun dia cuma OC yaa di sini, tapi mungkin karena perannya dia penting dan banyak banget penggambarannya dia di sini, aku jadi terkesan-kesan lah sama diaaa. Tipikal adiknya berasa banget.

      Pas awal-awal menuju konfliknya si Jin Hyuk, aku udah bisa nebak-nebak tuh kak. Ini mah belum tentu lah si Jin Hee pengen jadi dokter…. dan ternyata……….. aku bener… hueeeeee. Tuhkan! Orang adeknya mau jadi arsitek jugaaa :''(( parah bangetan tauuk. Aku udah berkaca-kaca aja tauk kak pas part Jin Hyuk-JinHee semakin kenteel. Maksudku, setelah lama gak bersua, mereka ketemu di alam mimpi dan itu malah cuma saatsaat terakhir hidupnya si adek yang inosen. :((( kasiaaaan.

      Dan aku semakin cinta kak ameeer ❤ diksinya ganahan, aku suka katanya gaberulang-ulang. Gak kayak drama weekku (sedih).. salah kirim versi gitu kan aku ke fikha (salahkirim sampe 3 kali cobaaa) dan…. banyak spasi yang hilang /bigsigh/nangis/ kasian pukpuklah buat dhila. Okaay, berhubung aku mau minum obat-obatku terus mau bobo, aku udahin dulu ya kak komen inii. Jangan kaget, aku nulis komennya di note kak, baru dipost besok hehehehe. youwes laah, makasih udah buat fic yang cantik, kakaaak. Tsukiyamarisalwaysjjaaaaaanggg. 😉 🙂

      Suka

  4. Huh… Nyebelin! Kenapa baru comeback sekarang Kak?? Aku tiap hari reload blog IFK buat nungguin drama week-nya Kak Amer. Tetep aja belum ada.

    Pas buka malem ini, kira-kira jam setengah 10-an, taunya udah ada coba. Padahal udh di publish kemaren. Terharu T.T

    Dan fic family yang ini sukses kok Kak. Aku gk nyadar ini fic genre-nya surrealism -_- betapa menjebaknya nama ‘Tsukiyamarisa’. karena setiap ada nama itu, bawaannya pgn cepet-cepet baca fic-nya tanpa harus memperdulikan genre.

    Dan pas baca A/N ada tulisan 7000+ word. Hah? 7000+ word? Astaghfir, aku keasikkan baca berarti sampe gk sadar udh baca 7000+ huruf.

    Okelah, cukup sekian dari aku. Dan, aku selalu suka fic kakak seperti aku yg selalu menyukai Baek *maaf curhat* /ggaepsong/ oh ya, ngomong-ngomong Baek, jadi inget. Jngn lama-lama yah Kak. Itu loh… EXO series season 2 nya.

    Sama kaya comment Kak Phy diatas “Thanks for you, for all nice stories
    ^.^”

    Regard
    Dena~

    Suka

    1. Haloooo Dena! ah iya maaf yaaa, soalnya aku pun ngirim drama week ini telat banget udah ngelebihin deadline, jadi dipostnya belakangan deh huhuhu T^T sebenernya sih pengen banget comeback dari kemarin2, sayang tugas yg menumpuk menghalangi niatku -___-

      hahahaa duuuhh makasih ya ini dibilang sukses :’) yap seperti biasa kayaknya aku agak susah lepas sama genre semacam angst atau surealis, jadinya ikut kebawa di sini XD

      yap, ini aku lagi memproses EXO Series kedua part 2 kok~ ditunggu aja yaa 😀

      sama-sama dena, makasih juga ya udah baca ini :3

      Suka

  5. AMEEERRRR…. FINALLY, AKHIRNYA AKU BISA KOMEN :’) /hikseu salahkan tugas T-T

    Sebentar mer… ini hasil buatan kamu lebih dari 8000word? SUPER SEKALI! Apalagi ini surreal mer… aku gak sanggup ngebayangin keanehan-keanehannya Jin Hyuk di sini. Well, dia di drama aja udah enough bgt absurdnya. Nah di sini dia semakin menggila aja xD ahahaha.

    Dan, kamu tahu? aku semacam ketagihan gitu kalo baca yg surreal xD sbnrnya pengen bilang, “mer… ini kurang panjang” karena well, aku terlalu menikmati mungkin. Dan maafkan karena aku ketawa masa ngebayangin Jin Hyuk di sini xD ahaha mungkin karena efek drama mereka juga~ lalu, btw, aku fokusnya sama couple Jin Hyuk sm Ji Hyo, bukan sama adiknya masa u,u /OKE ini garagara Emergency Couple juga xD wkwk.

    Yg jelas ini KEREN! Aku sempat mikir, ‘Oh, ada ya mimpi di dalam mimpi’ terus aku mengiyakan di pikiran aku xD kayaknya aku pun pernah mengalami ahaha /lupa/

    Cukup sekian sampai di sini yaa mer ;”) kamu tahu? tugasku presentasi semuaaa jadi suka mabok sendiri sama materinya heuuu;-; /gak ada yg nanya ciiii xD /
    SUKSES SELALU BUAT AMER 😀 Keep writing~

    Rgrd
    -UCI-

    Suka

    1. UCIIIIIII T T hei aku malah beterima kasih banget lho kamu sempat komentar di sini, beda banget sama aku yang baca fic drama week anak IFK aja ga tuntas2, pun komen pun belum satupun tampak dimana-mana /hiks/ sama kaya kamu, tumpukan tugasku juga udah sampe ambang batas kegilaan nih /apa/

      iyaaa ini hampir 8000 words gitu ci, aku juga gapaham sama jariku sendiri -__- pas ngetik tuh kaya “alah paling 4000an kelar” taunya sampe bablas dan aku melongo sendiri XD

      dan masa sih ini kurang panjang…aku udah pusing tau bikinnya .___. ehehe tapi seperti yg kita bahas kemarin, sureal emang nagih abis kan yaaa~ oh ya betewe, pas aku baca ulang ini, aku juga ngakak kok bayangin jinhyuk, semacam dia melas dan nista dan tingkat kekerenannya ilang total di sini /digampar/ XDD

      iyaaaap, makasih juga buat rusuhannya di tengah tugas menumpuk ya ciii~ I know I know, tugasku juga semacam kamu dan tiap minggu kayanya malah berlipat ganda gitu T___T senasib lah kita ini..

      yah pokoknya semangat untuk kita semua dan semoga selamat sampai akhir semester ;;;
      oke thanks again and see yaaa! :3

      p.s. tunggu aku berkunjung ke ficmu yaaaaa ;;A;;

      Suka

  6. Kakak ff ini WOW BGT. Jujur ya sebenernya aku kepengen baca ini gara-gara aku liat castnya ada ji hyo sama jin hyuk. Tapi pas aku baca aku jadi lupa sama castnya dan fokus ama ceritanya. Well ini daebak banget kak

    Suka

  7. Huaaah butuh banyak pose duduk buat baca ampe akhir. Mata sepet juga soalnya pas baca ini ff aku lagi di angkot hihihi. Aku suka banget bahasanya, asik asik nenggelemin. Tapi ya kenapa aku ngerasa ini jalan cerita bisa ditebak ya. Yang lebih surprise mungkin seru ya, juga mungkin adegannya jangan pas Jinhyuk dirumah aja agak bete bacanya kalo dia ngantuk mulu. But, aku suka ff nya, bahasa dan cerita unik. Semangat kakak!

    Suka

  8. aaah kamu emang salah satu penulis genre sureal terbaik yang aku tahu ehehe imajinasi kamu bikin iri, bisa gitu kepikiran ngehubungin mimpi dan masalah keluarga gini.

    menurutku ini gak bener-bener mustahil ya. karena emang ada orang tertentu yang dikasih firasat akan kehilangan. aku udah lihat contohnya dan ya, aku percaya firasat lewat mimpi emang ada. tapi jelas mimpinya gak mungkin sejelas mimpi Jinhyuk xD

    pesannya sarat makna banget. mau sebenci apapun sama saudara pasti dalam hati sebenarnya sayang banget:” dapet banget feelnya, gimana perasaan Jinhyuk ke Jinhee yang udah terpisah sekian lama. apalagi mereka kembar, ikatannya pasti lebih kuat.

    wohoo gak nyangka ini sampe 7000an words, tapi seriously, gak bikin bosen. narasinya padat dan detail. dan hebatnya aku gak nemuin ada typo bertebaran. cuma ada satu kayaknya.

    keep writing ya. bakal nunggu fict kamu yang lain \m/

    Suka

  9. Iseng2 nyari short fic dan nemu nama amer… semoga ga telat komen^^v
    Mer………… well
    Tbh, idk what to say
    Ini keren parah!
    Dan terima kasih buat quote soal saudaranya. Aku hampir gapernah baca family tapi ngeliat namamu jadi pengen baca dan yaaaa speechless
    Udah ah mau mewek dulu hahaha

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s