[Vignette] Left Behind

Ravi-VIXX-image-ravi-vixx-36200702-1600-900

Left Behind

a movie by tsukiyamarisa

cast [VIXX] N/Cha Hakyeon, Ravi/Kim Wonshik, and a girl duration Vignette (1500+ w) genre Sad, Romance, Friendship rating PG-15 (for some swearing)

.

.

Menurutnya, patah hati itu menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada jatuh terhempas ke atas karang, atau ditusuk seribu belati sekalipun.

Itu katanya, sih.

Well, aku tak begitu tahu rasanya, pun sanggup menilai apakah deskripsi patah hati yang baru saja dituturkan teman baikku ini benar adanya. Aku hanya mengangguk saja, mendengar curahan hatinya sejak setengah jam lalu ditemani embusan asap rokok.

“Aku tahu aku ini orang bodoh.” Kim Wonshik menyambung ceritanya lagi setelah mengisap entah batang racun kesekian ke dalam paru-parunya. “Tapi, dude, dalam kondisi seperti ini, apalagi yang bisa kuperbuat?”

Aku mengedikkan bahu, keningku berkerut kala si gadis pelayan menyambangi meja kami dan meletakkan secangkir kopi hitam di depan Wonshik. Ini sudah cangkir ketiganya, dan jujur saja, aku tak paham mengapa temanku ini memaksakan dirinya menenggak kopi pahit, menolak gula yang ditawarkan pelayan, dan melengkapi sajian sederhana itu dengan sekotak rokok.

“Apa kau ingin mati?” tanyaku pedas. “Kopi dan rokok? Man, kautahu—“

“Berhenti bersikap cerewet, Cha Hakyeon,” tukas Wonshik tajam sambil memainkan gelang rajut di tangannya—seingatku itu kembar dengan milik si gadis yang ia puja. “Kau tak tahu rasanya patah hati.”

Bibirku spontan mengeluarkan kekeh keras, sementara punggungku menyandar santai pada kursi empuk yang ada—berusaha menjauh dari asap menyesakkan itu. Sekadar informasi, aku tak pernah suka pada asap hasil pembakaran lintingan tembakau itu, terima kasih banyak. Lidah ini bahkan sudah gatal ingin memaki Wonshik, namun atas nama persahabatan, aku pun mati-matian menahannya.

“Kau sendiri yang berkata bahwa kau orang bodoh,” balasku tak acuh sambil mengibas-ngibaskan tangan, berusaha membersihkan sebanyak mungkin pasokan oksigen yang kuhirup dari racun. “Berapa tahun kau mengenalnya dan memendam perasaan itu?”

“Tujuh,” gumam Wonshik sambil memaki pelan. “Tahu begini aku sudah mengajaknya kencan dari dulu.”

Pernyataan itu diikuti oleh keheningan yang nyaris absolut, meninggalkan suara denting gelas di konter pemesanan sebagai latar belakang. Kalimat barusan jelas mengandung rasa penyesalan yang tak bisa dibantah lagi, pun dengan sorotan mata Wonshik yang makin menegaskan segalanya. Merasa tak enak hati, aku pun memilih bungkam dan memutar otak, mencari topik pembicaraan lainnya.

Wonshik mengisi ketiadaan konversasi di antara kami dengan bunyi seruput pelan saat ia mulai meminum cangkir ketiganya, matanya terpancang pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Aku tahu ia sedang menghitung detik waktu, menaksir berapa lama lagi menit yang harus ia lewatkan sampai gadis itu datang.

“Kim Wonshik.”

“Hm?”

“Kalau gadismu itu akhirnya memang berpacaran dengan pria lain, bukankah kau tinggal menunggunya putus saja?”

Wonshik mengerutkan keningnya mendengar kata-kataku, bibirnya terkatup membentuk garis tipis selama beberapa jenak. Ia memutar-mutar cangkir yang dipegangnya di atas tatakan, mengamati bayang dirinya yang terpantul di permukaan kaca meja seraya tersenyum sinis.

“Kaupikir, semudah itu?”

Reaksi spontanku adalah mengangkat bahu. For God’s sake, sesungguhnya aku tak benar-benar mengetahui masalah apa yang terjadi di antara Wonshik dan gadis itu. Ditambah lagi, sahabatku ini juga tidak menjelaskannya secara gamblang. Ia hanya berkata bahwa gadis yang sudah menjadi teman dekat sekaligus cinta pertamanya itu jatuh ke pelukan pria lain—tanpa diiringi embel-embel penjelasan lain.

Lama-lama, aku bisa ikut frustasi kalau begini caranya.

“Kau tidak akan mengerti,” ucap Wonshik tiba-tiba, ekspresi wajahnya mendadak menggelap. “Tunggu dia datang, dan kau pasti akan mengerti rasa sakit yang kualami.”

“Kenapa tidak kaujelaskan sekarang saja, Kim Wonshik? Kenapa aku harus menunggunya datang?”

“Karena kau pasti akan semakin mengejekku dan menganggapku pria bodoh, that’s it. Aku tahu bagaimana cara mulut itu bekerja,” balas Wonshik sigap sambil mengeluarkan tawa sarkastis. Merasa tertohok, aku pun memutuskan untuk menyedot ice milk tea-ku hingga tandas, mengabaikan sorot mata Wonshik yang terlihat meremehkan.

Fine!

Aku memang tak begitu peka dalam mengerti perasaan orang, tetapi bukan berarti aku sejahat itu hingga mengejek sahabatku yang sedang menderita. Kalau aku memang jahat, semestinya aku sudah meninggalkan Wonshik sejak tadi dan membiarkan ia menghadapi gadis itu sendirian, bukan? Nah, kurang baik apa aku ini?

“Katakan lagi,” lirihku setelah beberapa saat berlalu, “apa tujuannya dia datang hari ini?”

“Ia mau menyampaikan sesuatu padaku. Pada kita.” Wonshik menumpukan dagunya di atas kepalan tangan, membiarkan irisnya menerawang ke jalanan di luar sana. “Kabar bahagia, katanya. Hah, dikiranya aku bodoh apa. Happy news, my ass. Aku bahkan sudah tahu isi kabar yang akan ia sampaikan itu sejak kemarin.”

Stalker,” tuduhku langsung sementara Wonshik memelototiku. “Atau kau punya penjelasan yang lebih baik?”

“Orangtuanya memberitahu orangtuaku beberapa hari lalu, apa itu disebut stalker?” decak Wonshik sambil menandaskan cangkir ketiganya dan menyulut sebatang rokok lagi. Sontak, aku pun mengulurkan tangan, memaksa ujung membara dari lintingan putih itu bertemu dengan permukaan asbak.

Shit, bisakah kau hentikan itu?” bentakku cepat sambil merampas kotak rokok yang tersembul dari saku jaket Wonshik. “Aku tidak mau mati muda, dan asal kau tahu saja, paru-paruku masih dibutuhkan agar aku bisa menjadi dancer yang baik.”

Wonshik memutar bola matanya, seolah mengindikasikan bahwa ucapanku barusan itu terlampau berlebihan dan dibuat-buat. Aku tak peduli. Sembari melempar sorot tak suka, kubiarkan kakiku melangkah menuju tong sampah yang terletak di sudut ruangan untuk melenyapkan kotak rokok yang berhasil kurampas, sementara Wonshik sudah memanggil pelayan untuk memesan secangkir kopi lagi. Yah, itu urusannya. Setidaknya menghabiskan bercangkir-cangkir kopi tak akan memengaruhi kesehatanku.

Seraya menghela napas lega, kubiarkan tubuhku berbalik dan kembali merajut langkah menuju Wonshik. Namun, belum genap lima langkah aku berjalan, kakiku sudah terpaku di tempat. Sepasang mataku menyipit ke arah Wonshik yang kini sedang menyapa seorang gadis, ekspresi wajah senangnya jelas terlihat dibuat-buat.

“Wonshik-a, apa kabar?”

Desau suara perempuan itu menyapa telingaku, membuatku lekas berlari kecil untuk menghampiri mereka. Satu, aku penasaran dengan apa masalah mereka sebenarnya. Dua—sekaligus yang terakhir—aku tidak mau melihat Wonshik tiba-tiba bertengkar dengan gadis itu dan mempermalukan dirinya sendiri.

“Baik,” sahut Wonshik sambil terseny—ralat, memaksakan senyum. “Duduklah.”

Gadis itu mengangguk, dengan anggun mendudukkan diri di sofa yang sama dengan Wonshik. Mereka bercakap-cakap sejenak, tidak menyadari kehadiranku sampai aku berdeham pelan dan menjatuhkan diri di atas kursiku.

“Hakyeon-a! Ah, kau datang bersama Wonshik?”

“Begitulah,” jawabku sambil ikut mengulas senyum, berusaha menutupi fakta bahwa Wonshik baru saja menghabiskan hampir seliter kopi saking depresinya. Aku tidak kenal dekat dengan perempuan ini, tetapi setidaknya kami mengetahui nama satu sama lain. “Katanya kauingin menyampaikan kabar bahagia?”

Gadis itu mengangguk mantap, membiarkan ujung rambutnya yang mengikal berayun pelan. Ia manis, dan kurasa aku bisa memahami alasan dibalik kegilaan Wonshik terhadapnya. Damn, padahal mereka terlihat serasi begitu, sungguh! Siapa sih lelaki yang sudah berhasil mengambil hati gadis ini? Dan mengapa Wonshik tidak melakukan apa-apa untuk merebutnya kembali?

“Iya,” jawabnya sambil menjinjitkan ujung-ujung bibir. “Kalian orang pertama yang tahu—selain keluargaku, tentunya. Jadi, kupikir aku harus menyampaikan berita ini secara langsung. Mengingat Wonshik juga sahabat dekatku sejak SMA dulu.”

Wonshik membenarkan ucapan itu dengan anggukan pelan, ikut tersenyum walau sebentuk tanda bahagia itu jelas tak mencapai matanya. Tangannya yang diletakkan di atas meja terkepal erat, seolah semua luka yang ia rasakan tertahan di sana. Aku meringis, merasa miris dan penasaran di saat yang sama.

“Langsung saja ke intinya,” ujar Wonshik tiba-tiba. “Aku tidak punya banyak waktu.”

“Oke,” sahut gadis itu sambil mengangguk penuh semangat. “Aku juga tidak bisa lama-lama, banyak yang harus kupersiapkan setelah ini.”

Wonshik mendesah pelan, jelas-jelas menyelipkan nada menyindir dan sedikit kekecewaan kala mendengar ucapan gadis itu. Aku bisa menangkapnya dengan teramat jelas, kendati aku tak yakin apakah gadis itu juga bisa memahami rasa sesak yang kini tengah menggumpal di hati Wonshik. Ia malah sibuk merogoh tasnya, mencari sesuatu di dalam sana.

Pandangan Wonshik tertuju padaku, dalam diam mengisyaratkan bahwa jawaban atas semua pertanyaanku ada di dalam tas gadis itu.

“Ini,” ujarnya beberapa saat kemudian seraya meletakkan selembar kertas tebal berwarna baby blue dengan aksen pita dan bunga-bunga. “Acaranya sebulan lagi, kuharap kalian bisa datang.”

Mataku seketika membeliak lebar. Wonshik hanya mendengus dan kembali menyandarkan punggung ke sandaran kursi, tatapannya seolah mengatakan bahwa hal semacam ini pasti mampu membuat pria manapun patah hati. Aku hanya bisa meneguk ludah, tak kuasa berkata-kata kala Wonshik menyambar undangan pernikahan itu dan mengucapkan terima kasihnya pada sang gadis dengan suara serak.

Oh, my God.

“Wonshik-a….

I know,” jawab Wonshik setelah gadis itu undur diri karena harus mengurus gaun pengantinnya. “Such a stupid person, am I?

Pertanyaan itu sejatinya adalah sebuah pernyataan; aku sama sekali tak mampu untuk menimpalinya dengan wajar. Untuk sekadar mengatakan ‘yeah, kau benar’ saja aku tak sanggup, apalagi menambahkannya dengan omelan atau saran-saran tak bermutu agar Wonshik bisa bersatu dengan gadis itu. Mereka mungkin terlihat cocok di mataku, tetapi bagaimanapun juga, takdir mereka sudah berakhir pada kata sahabat semata. Tidak kurang dan tidak lebih, karena undangan pernikahan itu tak ubahnya bagai batas yang menentukan lingkup hubungan mereka.

I’m sorry,” bisikku pelan, sementara Wonshik menggeleng cepat dan kembali menyesap porsi kopi pahit keempatnya. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebatang rokok yang rupa-rupanya berhasil ia selamatkan dari jangkauan tanganku. Ia menyulutnya, mencandu nikotin yang ada untuk menghilangkan kekesalannya, lalu mengembuskan asap pekat sembari menatapku dalam-dalam.

Kali ini, pada akhirnya aku bisa memahami Wonshik. Mengerti rasa sakitnya, memaklumi mengapa ia menggunakan metafora yang begitu berlebih dalam mengungkapkan rasa pedih yang mendera. Tidak ada yang lebih sakit di dunia daripada ditinggalkan dan—

I’m fine. Or will be fine. Someday.”

he , my best friend, has clearly been left behind.

—fin.

A/N:

Another random word vomit and idea xD

Maaf saya muncul terus di sini, mungkin ini efek lama nggak menulis jadi sekarang mendadak terlalu bernafsu ngepost mulu /dilempar/

anyway, mind to leave some review? ^^

Iklan

20 tanggapan untuk “[Vignette] Left Behind”

  1. gue laper……./abaikan/

    UWOOOO ABANG SAMCHON PATAH HATI UWOOOOO tapi itu kayaknya salah banget curhat sama si emak….malah diomelin kan. coba kalo curhatnya sama bapak taekwoon, pasti segala macam keluh kesah akan didengarkan dengan baik ya~ ((walaupun gak menutup kemungkinan si wonshik ini bakal dimarahi juga))

    terus itu ceweknya siapa? calon suaminya siapa? siapa aku? /plak/ tau gak, aku mikirnya si calon suami-perebut-gebetan-orang ini adalah Mas Jin tersayang…..dan ak mikirnya si mbaknya ini bakal bawa Mas Jin dan membiarkan si emak tahu betapa gantengnya calon suami dia .___. jadi hakyeon bakal tahu kenapa si wonshik depresi akut. kalah cakep soalnya xP

    oh ya, TUMBEN BANGET EMAK NGOMELNYA GAK SEPANJANG JALAN KENANGAN 😮 ak hampir ngakak lho bayangin dia half-serious di sini….

    udahlah, sebenernya ak kena webe akut sampe ak juga kadang bingung kalo mau komen .___. kapan webe ini sembuh T-T /lirik draft 95line/

    udah ya….tunggu tag fic-ku besok :”)

    DADAH AMER!! ^.^/

    Suka

    1. tuhkan tiwi memulai komen dengan kata laper lagi……

      well, emang salah wi curhat sama emak, salah besar… cuma berhubung semua anak vixx udah aku buatin ff dan yang tersisa cuma dua makhluk ini, yaudah apa boleh buat ravi curhatnya ke emak saja -__-
      ((btw kalo curhat sama tekwun serem ah, nanti akhirnya paling dia cuma ditoyor terus ditinggal pergi)) /pukpukmassamchon/

      eung, kenapa Jin? ya kalo suaminya Jin, ceweknya aku juga gapapa wi ;;; ((gagitu)) eh tapi bisa jadi ya, wonshik itu depresi lebih krn kalah gantengnya daripada krn si cewek mau nikah /kokjahat/ .__.

      HAHAHA SEPANJANG JALAN KENANGAN XDD aku mau bikin dia banyak ngomel, tambah scene nggodain cewek juga benernya… tapi ntar salah fokus dan samchon ga keurus jadi…… -____-

      okaaay, dadah juga tiwiii! kutunggu ficmu sore ini! 😀
      see ya!

      Suka

  2. Hwa.. akhirnya ada ff yg mc-nya abang n. Sbgai leader yg cerewet aja si n gk bsa ksh saran krna dia gk prnh ngerasain patah hati. Sini bang aku ajarin cara patah hati. Haha.. ravi move on dong! 2014 lho

    Suka

    1. aheeey yap akhirnya aku bikin N setelah sekian lama draftnya mengendap di hape -__-
      yap ravi harus move on karena ini sudah 2014, nggak jaman galau lagi (?) /plak/

      anyway, thanks for reading! 😀

      Suka

    1. Bayangin Ravi ngegalau itu termasuk sulit….

      TAPI KENAPA YANG INI NYESEKNYA MASIH KERASA NYAMPEK HARI INI??!! TANGGUNG JAWAB KAK TANGGUNG JAWAB!! //nodong golok

      yah… cowok itu gimana-gimana gak bisa lepas dari kopi sama rokok ya… seneng ngrokok, susah ngrokok, jadian ngrokok, patah hati ngrokok, terus kalo gak ngopi katanya gak klop… haduh.. sebenernya menanggulangi galau itu ya bukan dengan menambah kepahitan hidup (alah) dengan minum kopi tanpa gula gitu bang wonshik, daripada patah hati, sini aja aku buatin teh manis… oke oke? oke ya? janji? ngajak bang Taekwoon tapi ..modus

      dan ehm… aduh… bener-bener, 7 tahun nahan perasaan kok sanggup yah? :”) dan itu endingnya bener-bener gak kupikirkan di awal :”(

      tapi untunglah endingnya gini kak, pasti bang Wonshik bakal menemukan yang lebih baik :”) awalnya aku nebak si cewek itu pacaran sama Hakyeon, makanya bang Wonshik pikir si Hakyeon tambah ngeledek dia… haha //otak drama kumat

      dan aku gak bisa meracau lebih panjang lagi kak, doakan besok hari sabtu aku lolos seleksi fls2n tingkat kabupaten ya kak :”) ini satu-satunya jalan buat Ayah ngerestuin aku di DKV xD //makanya aku melupakan fic dan twiter dan internet belakangan ini xD

      Suka

  3. Oh, Men!
    Ravi ditinggal nikah ;;

    Please, siapa yang ga bakal stress kalo diginiin! Mendam perasaan 7 tahun (gilak lama banget), si cewek gatau, malah ditinggal nikah, patah hati, lalu DICERAMAHIN PANJANG LEBAR! Aduh, ga sekalian aja Hakyeon jorokin dia ke jurang /eh, jahat banget

    Tapi gabisa salahin Hakyeon juga sih. Sebenernya cuma salah timing. Niatnya nasehatin, tapi apa daya hati Ravi udah hancur berkeping-keping /susah dipungutin atu-atu

    “Kalian orang pertama yang tahu—selain keluargaku, tentunya. Jadi, kupikir aku harus menyampaikan berita ini secara langsung. Mengingat Wonshik juga sahabat dekatku sejak SMA dulu.” –> kata-kata macem begini ini ya -yg pake embel2 orang pertama- lebih berefek membunuh daripada berkotak-kotak rokok. Sumpah, I understand you Ravi.

    Duh, pukpuk Ravi, sini deh sama aku aja.. aku temenin minum jus sampe mabok, lebih sehat mas..
    Kasihin alamatku ke dia ya Mer, dijamin ntar dia pulang dengan senyum lima jari terplester di bibirnya /antara bahagia dan gila beda tipis

    Udah ah, cukup sekian. Ntar malah ngelantur kemana-mana. Byunbaek udah memanggil nih, mau dinner bareng katanya, haha.
    Tetep semangat nulis yaa.. Bye Ameeeer ^.^

    Suka

    1. halo kak Dhiniiii! thanks ya udah berkunjung walau ini tak jelas ^^

      iya ravi ditinggal nikah…. /hening/ dan ditambah omelan hakyeon emang penderitaan dia berat banget ya /pukpuk/
      btw hakyeon jangan dijorokin ke jurang, mending buat aku aja kak, lumayan bisa buat bersih2 rumah dia kan emaknya vixx ((dilempar)) xD

      anyway, kayaknya kakak ngerti banget sama penderitaan ravi di sini… gimana kalo kakak aja yang nemenin dia daripada makin depresi anaknya? :” ((diem diem jodoin kak dhini sama ravi)) xD

      ahaha, iya makasih banyak atas rusuhannya kakaaaaak :**
      see ya! 😀

      Suka

      1. Jangan Meeer..aku jangan dijodohin sama Ravi, jangan nawarin aku hal semenggiurkan itu, aku bisa khilaf nantiiii..
        Nanti gimana nasib peliharaanku di rumah -Baekhyun dan Chanyeol- kalo kutinggal -.-
        Ditinggal di tempat penitipan kucing bisa gak ya, haha.. /kejam nian
        ah, ini kenapa meninggalkan jejak yang semakin panjang.

        Sama2 Amer, bisaku itu cuma review, haha..
        Makasih udah banyak menghibur juga lewat cerita-ceritamu ^.^

        Suka


  4. Halo kak 🙂
    Ini mah nyesek sekalee.. Yg sabar yak ravi /pukpuk/
    Masih mending kalo ditinggal pacaran nah ini ditinggal nikah, aku tak bisa ngomong2 apa2 XD
    Ini bagus kak, keyen!
    Maap kak atas komen ku yg aneh hehehe..

    Suka

  5. hai, Amer… 🙂
    Riris, 94l. SC baruu.. hehe salam kenal yaa?
    (jujur, saya mengagumi tulisan2mu lho, mer XD)

    Aduh, patah hatii…. :3 siapa yang ga bakal galon kalo jdnya seperti ini, Mer?? abis mendam perasaan 7 tahun (sebenernya udah cukup nyesek banget), terus ditinggal nikah, langsung deh hatinya patah dan endingnya diceramahin.. ckck

    diksimuuu, Merr… tolong akuu… ini bener2 kereeenn.. dialognya jugaaa… KAMU MAKAN APA SIH MEEERR???? #diendang

    okedeh, segitu aja pesan kesanku XD
    semoga kita bisa tambah akrab ya, Mer.. :*

    salam, Riris, 🙂

    Suka

    1. Halo kak Riris! aku panggil begitu ya? Aku 95 liner sih soalnya x)
      anyway, selamat bergabung dengan IFK yaaa! Salam kenal juga kakak dan semoga kita cepet akrab sama yang lain juga :3

      ini emang edisi brokenheart habis2an kak ehehe, klise sih kalo sahabatan kan kadang cenderung gamau ngaku kalo suka ((eyaa curhat)) dan kalo udah begini, bisa apa sih mas ravi ini? /pukpuk/
      eung, btw aku hanya makan nasi dan ayam kok kak ((ini habis makan soalnya)) dan aku juga banyak belajar nulis dari IFK 😀 jadi mari belajar bersama di sini ehehehehehe :’D

      okaay, terima kasih banyak kak! Salam kenal lagi dan selamat bergabung di keluarga ini yaaa! 😀
      See you around! 🙂

      Suka

      1. tuh kaann.. cuman beda setahun ajaa.. tp kamu udah keren gt nulisnyaaaa.. yaampuunn~~ XD

        siippo, mer.. aku bakalan serius belajar sm SC2 di IFK yg udah pd keren2. 😀
        kapan2 boleh dong aku sharing sm kamuu.. #modusbanget XD

        oke, tengkyuu amerrr.. :*

        Suka

  6. jadi ini tuh fanfic wonshik dengan sudut pandang nenen? oh em ji… my NaVi feelssss :’)

    ga nahan bagian ini pengen komen “Lidah ini bahkan sudah gatal ingin memaki Wonshik, namun atas nama persahabatan, aku pun mati-matian menahannya.” jadi itu yang u bilang sahabat???? u salah hakyeon… sahabat ga ngebiarin temennya ngeroko tau… dSar bullShiT,,, dAMn,,, tapi karena NaVi otp w u jd terampuni.

    percakapannya oke dan yahud banget khas anak cowo gitu sambil si Ravinya ngerokok trus minum kopi meanwhile Hakyeon ribet sendiri nge-otpin wonshik sama si emba. napa sih nen kalo jomblo mah ga gitu juga yha… suasananya aku suka dehhhh yang moodnya galau gitu kan since the very beginning trus diakhiri dengan galau kali dua. ini sumpah lah ngenes banget MAS WONSHIK DITINGGAL KAWIN OMG WHY 😥 well, satu latar tempat ga bikin ceritanya ngebosenin kok aku juga penasaran kayak hah emang cewenya kayak gimana sih sampe ditungguin 7 tahun emang sehebat apaaa?! ga terjawab sih but okelah mungkin kak amer bisa bikin side story yang fokus pada Ravi dan perempuan ini? I still like this fic the way it is, anyway! ^^

    trus endingnya… “he, my best friend, has clearly been left behind.” TERACAQUE-ACAQUE SUDAH HATIQUE. CEWE MASIH BANYAK KAKA RAVI CONTOHNYA CEWE YANG MENEMANIMU MINUM KOPI INIE….

    aku bingung komen apa lagi kak jadi ya itu dulu aja yakkk maaf kalo komen ini ga bermuthu idup saya aja ga bermuthu apalagi komennya kak D’:

    p.s akupun naksir cowo since kelas 3 sd sampe sekarang meski tersendat-sendat but, tidakkah itu juga terhitung hamper 7 tahun? like whoa mas wonshik qt senasib qq. (halo? ini bukan mamah dedeh ya? wah keknya saya masuk genfm salah sambung,,,)

    Suka

    1. hai Ivana! iya aku akhirnya buat Navi dengan alasan mereka berdua doang yg belum kesentuh tangan nista owe, yang lain udah keseringan -__-

      wowowow sante can kamu kaya guru BK yang ngamuk2 liat anak cowok hasil didikannya jadi rusak 😦 /dilempar/ emang karakter emak di sini rada ngeselin gitu, ngaku temen tapi mah dia buLLsh1t soalnya aslinya cuma mikirin diri sendiri yekan….

      terus kenapa aku terharu dek sujung bilang ini percakapannya khas anak cowo ;;__;; habisan dari dulu perasaan gagal menyampaikan feeling para pria huhuhu

      ceweknya…. mungkin kapan2 bisa dijelasin di lain waktu ya der (?), side story akan diusahan oke kalo ada feel galau lagi terus ntar si mas samchon ini mengenang kenangan bersama si cewek di pinggiran sungai sambil ngabisin berbotol2 bir .__. ((depresi abis))

      oh ya bagian ini “CONTOHNYA CEWE YANG MENEMANIMU MINUM KOPI INIE….” ini maksudnya emak N atau kamu ya van kayaknya owe salah tangkep maksudnya =.=

      haha udah van udah, komen ini udah cukup panjang dan membuat aku ngakak dengan sepenuh hati dan jiwa, jadi kamu tenang saja ya dek sujung ((ketjup)) :***

      anyway MAKASIH BANYAK IVANAAAAAAA!! 😀

      p.s: buruan dinyatain kalo gamau ditinggal nikah van :(( maaf kalo sarannya ga mutu owe ketularan emak en 😦

      Suka

  7. aaaak aslinya gak kenal sama mereka-mereka yang jadi tokoknya waks. apalagi untuku tahu umurnya mereka. no. no. no.

    tapi ya ini feelnya dapet sangat. seakan aku dibawa ke pemikiran cowok gitu. dan karakternya mereka macam bad boy yang minta dipacarin gitu siplah.

    diskusi-diskusi mereka yang cowok abis. latar tempatnya yang satu tempat. tapi wow loh suka banget gak bikin bosen sama sekali.

    ten thumbs! ditunggu next fictmulah pasti xD

    Suka

  8. aaaak aslinya gak kenal sama mereka-mereka yang jadi tokoknya waks. apalagi untuku tahu umurnya mereka. no. no. no.

    tapi ya ini feelnya dapet sangat. seakan aku dibawa ke pemikiran cowok gitu. dan karakternya mereka macam bad boy yang minta dipacarin gitu siplah.

    diskusi-diskusi mereka yang cowok abis. latar tempatnya yang satu tempat. tapi wow loh suka banget gak bikin bosen sama sekali.

    ten thumbs! ditunggu next fictmulah pasti xD

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s