[Vignette] Choose You, Now

bts-jin-vignette

Choose You, Now

a movie by tsukiyamarisa

cast(s) [BTS] Jin and [OC] Rena duration Vignette (1900+ words) genre Romance, Fluff, Life rating T

[warning!] Cheesy dialogue ahead! 

.

Gerbong paling ujung.

Perjumpaan.

Kamu,

Dan sebuah keputusan.

.

.

Sepasang iris cokelat itu bertemu pandang denganku, tepat ketika aku melangkah masuk ke dalam gerbong kereta.

Tatapannya familiar, hangat dan memancarkan rasa aman. Layaknya rumah yang selalu terbuka dan menawarkan perlindungan, ia berhasil menarikku mendekat hanya dalam kurun waktu beberapa sekon saja. Spontan—dan tanpa kusadari—diri ini malah sudah duduk tepat bersebelahan dengan dirinya.

“Apa kabar?”

Suara lelaki itu masih sama seperti dulu; dalam, ingin tahu, dan mengusik bibirku agar segera menimpalinya. Maka, sembari mengulum senyum, aku pun balik berucap, “Baik. Kamu sendiri?”

Kim Seokjin menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaanku tanpa kata. Kendati begitu, pupilnya yang masih setia memerangkap bayang diriku telah mengatakan segalanya. Kuharap aku tak salah menafsirkan, karena tatapan Seokjin yang berbinar-binar itu agaknya hanya mengandung satu arti bagiku.

.

Aku juga baik. 

Dan aku tidak menyangka akan melihatmu di sini.

Lagi. 

.

Kuhela napasku perlahan, dengan kikuk memainkan anak-anak rambutku agar tidak jatuh menutupi muka. Kucoba untuk bersenandung pelan, niatnya untuk meredakan degup jantung yang tiba-tiba saja bertalu bagai alat musik perkusi. Berdiam diri dalam suasana hening tak pernah menjadi keahlianku, maka kuputuskan saja untuk kembali membuka mulut dan mengucapkan sesuatu yang tadi sempat terlintas.

“Tidak menyangka akan bertemu lagi?” Akhirnya, aku menyuarakan dugaan itu; disambut dengan kekeh pelan Seokjin dan gumaman ‘iya’. Ia lantas melirik setumpuk tas belanja yang kubawa, sementara tangannya otomatis bergerak memindahkan benda-benda itu dari pangkuanku.

“Tak usa—“

“Tak apa,” potong Seokjin seraya mengambil kantong plastik yang berisi beberapa bungkus mie instan dan persediaan makanan lain. “Seperti dulu, kan?”

Aku tercenung, jelas tidak menyangka bahwa lelaki ini masih ingat akan detail pertemuan pertama kami berbulan-bulan lalu. Kala itu, kami juga berada di gerbong ini. Dan entah kesialan macam apa yang menimpaku di hari itu, gerbong paling ujung yang biasanya kutumpangi ini dijejali oleh puluhan penumpang—tidak sesepi biasanya. Sebuah bencana besar bagiku yang sedang menenteng berkantong-kantong belanjaan dan terpaksa berdiri selama tiga puluh menit perjalanan pulang.

Saat itulah kali pertama pandangan kami bersirobok.

Seokjin berdiri di pojok dekat pintu otomatis, tatapannya lekat tertuju padaku. Selama beberapa jenak lamanya, ia terus mengamatiku yang sedang kesusahan menyeimbangkan posisi, berusaha agar tas-tas plastik di tanganku tak jatuh terlepas. Lalu, tiba-tiba saja, ia sudah menerobos kerumunan penumpang lain dan berdiri di sampingku. Mengulurkan tangannya untuk mengambil alih beberapa barang yang kubawa, sembari mengulas senyum manis yang—entah kenapa—membuatku langsung percaya kepada dirinya.

Trims.”

Seperti halnya dua orang yang tidak saling mengenal, aku hanya bisa mengutarakan rasa terima kasihku dengan canggung kala kereta berhenti dan ia harus turun lebih dulu. Pada saat itu, kupikir aku tak akan pernah melihatnya lagi. Namun, ternyata aku salah.

Dua hari setelahnya, aku kembali bertemu dengan Seokjin. Lalu di hari berikutnya, juga hari berikutnya lagi, terus-menerus hingga jemariku tak mampu menghitung berapa kali wajah yang ramah itu mengisi setengah jam perjalanan pulangku yang biasanya membosankan. Kami mulai mengenal satu sama lain, sebuah perjumpaan singkat yang senantiasa diisi obrolan singkat dan padat tentang hidup satu sama lain.

Begitulah awalnya, dan—

“Kupikir, kamu menjauhiku, Rena.”

Seokjin mengucapkan kalimat itu tanpa nada menuduh barang sedikit pun. Aku tahu ia tak bermaksud membuatku merasa bersalah, tetapi—walau bagaimanapun juga—rasa bersalah adalah sesuatu yang muncul dari dalam hati nurani dan tak dapat kauatur semudah menjentikkan jati. Rasa itulah yang kini timbul dan mengisi tiap sudut ruang benakku, membuat diri ini bergerak gelisah seraya menghindari tatapan Seokjin.

“Aku… tidak bermaksud melakukan itu, tahu.”

“Aku tahu.” Seokjin menarik napas dalam. “Tetapi, kamu membuatku penasaran terlalu lama, Rena-ya. Aku ini bukan pembaca pikiran yang ulung.”

“Membaca pikiran saja kamu tidak bisa,” cibirku sembari menyenggol lengannya pelan, menghadirkan sedikit tawa ringan di tengah-tengah suasana gerbong yang sepi. Selama beberapa detik, aura yang terbentuk di antara aku dan Seokjin tampaknya telah kembali lagi seperti dulu. Nyaman, santai, dan tidak digelayuti beban keharusan untuk saling memahami perasaan satu sama lain. Aku menyukai ini, tetapi Seokjin—

“Aku serius, Rena. Mengapa kamu menghilang—atau tepatnya—mengapa kamu tidak menaiki gerbong ini lagi?”

—jelas tidak semudah itu dialihkan perhatiannya.

“Entahlah.”

“Aku tahu itu bohong, iya ‘kan?”

Kugelengkan kepalaku perlahan. Aku tidak membantahnya, tidak pula mengiyakan ucapan itu. Sejujurnya, aku hanya tidak tahu. Tidak mengerti mengapa—dari semua perempuan yang pernah ada di hidup Seokjin—ia harus membuatku kepalang bingung dengan pengakuan bodohnya beberapa minggu lalu. Kupikir, kami hanya teman, dua orang yang tak sengaja bertemu dan selalu menaiki gerbong yang sama hampir setiap harinya. Aku tak pernah meminta lebih, namun lelaki ini jelas menuntut sesuatu yang serius.

“Seokjin-a…

“Aku ingin tahu. Apa kamu menghindariku?” ulang Seokjin lagi.

“Aku tidak bermaksud menghindarimu. Aku hanya butuh waktu.”

“Dan sekarang—“ Tiba-tiba saja ia mengulurkan tangan; bukan untuk mengambil kantong belanjaanku yang lain, melainkan menangkupkan tangan itu di atas jemariku yang berpolah karena gugup. “—mengapa kamu muncul lagi?”

Karena kamu membuatku gila, bodoh!

Karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Karena aku merasa bersalah telah mengabaikan kata ‘aku menyukaimu’ yang terlontar dari mulut itu. Dan juga, karena aku punya segudang pertanyaan untuk kaujawab, Kim Seokjin!

Aku meneguk ludah; beribu alasan itu beterbangan di dalam otakku tanpa bisa dicegah.

“Aku…”

Seokjin mengeratkan genggamannya, jemarinya kini bertautan erat dengan milikku secara pas.

“Aku juga tidak tahu.”

“Punya jawaban lain, tidak, sih?” sindir Seokjin, bibirnya mengeluarkan decakan diiringi kekeh pelan. Aku tahu ia sedang bermaksud bercanda, sedikit mencairkan suasana agar aku bisa bersikap terbuka tanpa beban. Namun, sejak kapan mengakui isi hatimu itu menjadi perkara yang mudah?

Jawabannya tidak pernah. Well, mungkin tidak pernah mudah bagiku. Tetapi, bagi Seokjin, semuanya jelas berbeda.

“Aku tidak peduli mengapa kamu sempat menghilang selama beberapa minggu lamanya. Pertanyaanku tetap sama, Rena. Aku menyukaimu, bagaimana denganmu?”

“Apa semudah itu bagimu untuk menyatakannya? Sementara aku butuh berminggu-minggu lamanya untuk menentukan jawaban yang tepat?”

Seokjin terdiam, senyumnya sedikit memudar kala mendengar jawabanku. Ditelengkannya kepala itu ke samping, keningnya berkerut sementara ia berpikir keras. Tangannya masih setia menggenggam milikku, seolah dengan begitu ia mampu membuatku terlena dan luluh dalam pesonanya.

Atau aku… memang sudah terpesona olehnya?

Dalam hening, kulirik Seokjin dari sudut mata.

Sebenarnya mudah saja.

Aku juga menyukai Seokjin, sesederhana itu. Namun, suka bukan berarti aku bisa mengiyakan ajakannya untuk berkencan dalam sekali anggukan. Seokjin memang menarik, aku akui itu. Ia baik padaku, itu juga aku sudah tahu. Tetapi, sejujurnya, bukan hal-hal sepele macam itulah yang mengganggu pikiranku. Ada satu hal lain, sebentuk topik percakapan yang dulu pernah kami obrolkan di sela-sela perjalanan.

Percakapan itu adalah tentang tipe ideal kami.

Sebagai seorang gadis yang biasa-biasa saja, aku sungguh tak pernah mengharapkan sesuatu yang terlalu muluk dari seorang lelaki. Waktu itu, aku hanya berkata pada Seokjin bahwa tipe idealku adalah seseorang yang baik dan bisa mengerti diriku. Itu saja sudah cukup, tanpa embel-embel lain yang menyertai.

Sayang, penjabaranku itu sangat bertolak belakang dengan apa yang keluar dari bibir Seokjin. Ia benar-benar detail soal jenis perempuan yang ingin ia jadikan kekasih, menyebutkan segalanya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan kini, mengingat-ingat perkataannya itu, hanya membuatku merasa rendah diri dan tak pantas untuk bersanding dengannya.

Itulah sebabnya aku menjauh. Memilih untuk menghindari kompartemen kereta yang sama dengan Seokjin, atau terkadang malah pulang lebih larut. Aku hanya tak ingin melihatnya, tak ingin merasa terbebani dengan pernyataan suka yang keluar secara gamblang dari bibir Seokjin.

Lantas, mengapa hari ini….

“Beri aku alasan, Seokjin-a. Beri aku alasan mengapa kamu memilihku, sementara ada ratusan gadis lain yang lebih baik di luar sana.”

Seokjin sedikit tersentak saat mendengarku berbicara lagi. Ia menoleh ke arahku, ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan lembut tatkala ia berujar, “Jadi itu? Alasan kamu menghindariku?”

“Mungkin.” Aku mengedikkan bahu. “Kamu tahu, Kim Seokjin, aku ini tidak pantas—“

“Itu jawaban yang bodoh, Rena.”

“Aku sangaaaat berbeda dari tipe idealmu.”

“Apa aku peduli?” timpal Seokjin sambil menaikkan sebelah alis, menggodaku. “Keluarkan saja semua. Tanyakan padaku, dan aku akan menjawabnya.”

Aku menghela napas, lelah. Oke, kalau itu memang maunya, aku siap-siap saja mengeluarkan semua beban yang menyesaki batinku belakangan ini.

“Aku tidak cantik.” Aku memulai, yang langsung dibalas gelak tawa Seokjin.

“Cantik itu relatif.”

“Rambutku tidak panjang,” balasku sambil menunjuk ke arah rambut cokelat kemerahanku yang dipotong pendek sebahu. “Katanya kamu—“

“Aku bisa menunggunya hingga panjang. Gampang.”

“Aku bukan perempuan yang cukup sabar. Aku bahkan pernah marah-marah padamu saat sedang bad mood.

“Itulah sebabnya kamu harus menerimaku. Agar ada yang membuatmu tenang dan ceria lagi saat sedang kesal.”

“Aku tidak bisa memasak,” kejarku lagi, habis sabar melihat rupa Seokjin yang terus dihiasi senyuman. “Katanya—“

“Tak peduli. Aku bisa memasak untuk kita berdua.” Seokjin mengangkat bahu, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arahku.

“A-aku…” Sedikit tergagap, aku berdeham dan berusaha mengusir semu merah yang merambat tanpa izin. “Aku tidak tahu mengapa kamu menyukaiku, d-dan…”

“Dan itu mengganggumu?” tebak Seokjin sambil mengacak puncak kepalaku, lantas menyandarkan punggungnya pada bangku kereta. “Mau tahu kenapa aku memilihmu?”

Aku lekas mengangguk.

“Begini ya…” Seokjin menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menjelaskan. “Setiap orang pasti memiliki apa yang mereka anggap tipe ideal, benar? Semua kriteria yang pernah kusebutkan itu bukanlah sebuah kebohongan, pun prasyarat dalam menentukan siapa gadis yang ingin kukencani. Pikirmu, berapa lama aku harus hidup sendiri sampai aku menemukan seorang gadis yang memenuhi semua syarat itu?”

“Mungkin suatu saat nanti… di masa depan…”

“Itu jawaban yang salah,” tandas Seokjin cepat sambil mendesah pelan. “Tidak ada yang tahu kapan hal itu bisa terjadi, Rena. Atau tepatnya, tidak ada yang bisa menjamin apakah aku bisa bertemu gadis seperti itu. Aku tidak mau menunggu sampai tua tanpa kepastian. Jadi, ketika hatiku berkata bahwa aku menyukaimu, kuputuskan untuk mengikutinya tanpa banyak tanya. Aku memilihmu. Sekarang, dan bukan nanti di masa depan.”

“Lantas, untuk apa tipe idealmu dan sebagainya itu?” tuntutku sambil menaikkan suara. “Mengapa kamu—“

“Tipe ideal hanyalah tipe, formalitas jika ada seseorang yang bertanya atau menjadikannya topik pembicaraan. Tipe ideal bukanlah patokan, karena sejak kapan cinta membutuhkan sebuah standar? Kamu kira ini prosedur penerimaan kerja di sebuah perusahaan?”

Penjabaran Seokjin barusan jelas menohokku hingga sedemikian rupa. Malu, aku hanya bisa menggeleng dan membiarkan warna merah sialan itu muncul menghiasi pipi lagi. Masa bodoh dengan degup jantung dan aliran darah yang menderas, saat ini aku hanya ingin meminta maaf pada Seokjin dan memberikan apa yang seharusnya ia dapatkan sejak berhari-hari lalu.

“Maaf.”

“Tidak perlu.”

“Tetapi….”

Seokjin mengerling ke arahku, jelas-jelas sedang menantangku untuk membalas rasa sukanya secara terang-terangan. Telunjuknya diarahkan pada pipi, memberi isyarat soal apa yang harus kulakukan untuk mendapat maafnya. Terkesiap, aku pun sontak menggeleng tegas, menolaknya karena… well, kami jelas tidak sedang sendirian di gerbong ini! Namun, lelaki itu malah mengerucutkan bibirnya dan membuang muka—berpura-pura marah.

“Kim Seokjin.”

“Kamu tahu apa yang aku mau, benar begitu?”

“Haruskah—“

“Ya, tentu saja. Kamu membuatku menunggu selama hampir sebulan, jad—“

Omelan Seokjin terhenti begitu saja kala aku—dengan nekat—mengecup pipinya singkat, bersamaan dengan bunyi berdecit pelan ketika kereta melambat dan berhenti di stasiun. Ia memandangiku dengan mata membeliak, jelas tak percaya bahwa aku akan menerimanya semudah itu.

Yah, siapa juga yang bilang aku tidak menyukainya, huh?

“R-rena….”

“Sudah sana,” usirku halus sementara ia masih bengong di tempat duduknya. “Kamu harus turun di stasiun ini, ‘kan?”

“Tidak lagi,” sanggahnya sambil mengulurkan lengan, tiba-tiba saja merangkulku ke dalam dekapannya. “Aku akan ikut mengantarmu pulang, oke?”

“H-hei! Kim Seokjin!”

Ia hanya tertawa riang, lalu mengintip isi tas belanjaanku sambil berdecak pelan.

“Apa?”

“Seperti yang kubilang tadi,” tukasnya sambil menepuk-nepuk kepalaku dengan sok menggurui, “karena gadisku ini tidak bisa memasak, maka aku yang akan memasak malam ini.”

“T-tapi…”

“Sudah, jangan membantah. Lagi pula, inilah gunanya memilih seseorang yang berbeda dari tipe idealmu. Kamu tahu kenapa?”

Aku menggeleng.

“Gunanya….”

Seokjin mengusap puncak kepalaku, lalu mendekatkan bibirnya ke samping telingaku agar suaranya dapat terdengar jelas di tengah bunyi pengumuman keberangkatan kereta.

“… agar kita bisa saling melengkapi.

 

—fin.

 A/N:

HAHAHAHA AKU BALIK LAGI XD

Oke sebenernya sih ini idenya udah lama, dari pelajaran Manajemen minggu lalu dimana topik decision making berubah jadi decision for your love life xD Entah mengapa dosen saya malah bercerita panjang lebar soal: Kalo nunggu dapet yang sesuai tipe, nanti kamu keburu tua dan yang bagus2 udah diambil orang. Jadinya dapet yang jelek nanti, mau? /lol/

Dan ya, ini fic BTS perdanaku… bocah2 sialan ini emang sialan, terlebih mas di atas yang sering ga sadar umur dan banyak aegyo ((lambaikan tangan ke kamera)) ((amer tak kuat))

Anyway, mungkin habis ini fic BTS lain dari saya akan bertebaran, dinanti saya yaaaa…. 🙂

and mind to review?

 

 

 

Iklan

54 tanggapan untuk “[Vignette] Choose You, Now”

    1. yang paling bikin aku histeris adalah; ITU KENAPA GANTENG BANGET JIN-NYA YALUHAN;_______; Aku selalu nyerah sama fluff-mu kak Amer.. lelah banget lah apalagi ini Jin yang notabone suka disney princess kenapa jadi gentle banget huwaaaa aku juga mau dong dibawain tasnya sama Jin:’D

      Yessh aku iri–plus plus plus–sama kak Amer yang jadi rutin setiap hari post fic begitu produktif syekali. Pertahankan kak!((apalagi cerita fluff kayak gini)) diabetes gapapa deh saya lah ya. Dan ini idenya benar-benar anti mainstream kakkk! Biasanya kan paling cuma ketemu di halte gt gt kan naaah ini di gerbong kereta, how classic kak, aku bacanya jadi gampang ngeimajinasiinnyah

      Aku suka banget gimana mereka berdebat tentang ‘tipe’ ceweknya Jin, betapa rendah hatinya Rena dan betapa santainya Jin menghadapi argumen Rena. Sikap Jin disini.. apa ya, easy going banget kaka ameer>.< suka banget sama cara simpel((tapi manis)) Jin buat narik perhatian((iya ga sih?)) Rena, DIA GENTLE BANGET /lagi.

      Jadi, Rena juga suka sama Jin, gitu? Ah, untung ga unrequited love. I'm in love with all of ur fluffy fic kak Ameeer /walaupun tbh fav aku tetaplah after 72 muah. Cinta pada pandangan pertama emang bikin gila. Endingnya? A-aku.. juga mau…. Rena….. /kemudian di depak ke jurang. Yang pasti, pribadi Jin disini benar-benar bikin jatuh hati.. pria idaman sekali..

      untuk diksi? Aku masih jauh darimu kak Amer, so TWO THUMBS UP BUAT KAKAK! Aku berhasil meleleh ajdguyerefrr. Bye kak Amerrr! Ini guru udah mencak-mencak suruh matiin laptop hihi{}

      Suka

      1. HALO LAIIIIIS!! ahehey, iya emang Jin di sana ngeselin abis aku jadi lupa segalanya /halah/ mana editan foto dia dari majalahnya itu entah kenapa bikin mata dia jadi cokelat2 menenggelamkan jiwa wanita (?), aku kan tak kuat……. /menggelepar/

        HAHAHA actually aku produktif karena emang belum banyak tugas sih… entah minggu ini soalnya tugas udah mulai bermunculan… ya doakan saja paling enggak seminggu sekali ya, bukan ngilang berbulan-bulan kaya kemarin ini u,u
        fyi, ide di kereta itu pun dari dosen owe, jadi makasihnya ke bapak dosen aja okesip .__.

        eh anyway betewe, Jin memang paling gentle sih di antara bocah bocah idiot itu… ya mungkin dia agak sadar umur udah tua kali ya //dilempar//
        dan omong2, after 72 itu……. sudah jangan dibahas karena itu emang fluffnya udah overdose….. kayaknya pas itu aku konslet waktu ngetik jadi rada berlebih sekinshipnya .___.

        okee, makasih banyak ya Lais! thanks atas spot pertamanya ehehe 😀 see ya!

        Suka

    1. AMEERR… DEMI APA FICT KAMU INI MENGINGATKANKU PADA SESEORANG.. /abaikan/
      dari judul aja aku udah tahu kalo ini bakal sesuai sm kondisi dan situasiku saat ini /apaini/ /malahcurhat/
      aku berharap semoga (ya, semoga) nantinya bakal happy end kayak Rena sam Seokjin. (aamiinn) XD

      DAN KENAPA KAMU NGEPOST FICT INI DI SAAT YANG TEPAT, MERR??? KENAPA KENAPA?? /ditendang/
      kau membuatku galau, Mer.. kkk 😀 (alay kambuh)
      beberapa jam sebelum kamu ngepost ini, aku baru aja diceramahin sama temenku KALO KITA MUSTI CEPETAN BIKIN KEPUTUSAN TENTANG SESUATU (sebut aja, cinta). wkwkwk
      makasih ya, Mer. setelah baca fict kamu semangatku tumbuh lagi 😀

      oke, daritadi perasaan aku curcol mulu. -_-

      kembali ke ceritaa, 😀 seperti biasa, dek, diksimu sudah sangat sangat bagus. saya selalu mengagumi pilihan kata2mu. kamu ga pernah takut mainin diksi, Mer. itu yang aku suka.
      Seokjin cocok banget deh. dan demi apa di covermu itu dia cakep.. :3
      next time, aku tunggu ceritanya my lovely Suga yaa, Mer? 😀

      maafkan daku karena sepam yang tak enak dipandang mata ini.. :3 #hugAmer

      Salam, Riris. 🙂

      Suka

      1. HALO KAK RIRIS!!!
        ah tak apa, kita bersama kok… aku juga pas ngetik agak inget sama seseorang *uhuk* tapi karena mas jin ganteng jadi mari lupakan orang itu ((kicked))
        anyway, semoga kakak juga berjalan selancar mereka ya, aamiiiin /bantu doa/ 😉

        haha iya sama-sama kak, seneng udah ikut berhasil menumbuhkan semangat (?) kebetulan dosenku waktu itu juga ceramahnya tentang keputusan cinta wkakak, mungkin dia memang pemberi pencerahan bagi mahasiswanya agar bisa tetap semangat /apa/

        ah….. (/.\) btw diksiku biasa aja kakaaaa~ ini juga efek baca karya SC lain sama novel2 sih ehehehe :3
        Suga? boleh boleh kebetulan daku juga suka xD tunggu saja idenya muncul nih, abisan projectku selanjutnya masih ada beberapa juga -__-

        anyway, makasih banyak ya kak Riris! ((hugback)) 😀

        Suka

  1. CONTEMPORARY MANAGEMENT. CHAPTER 7: DECISION MAKING

    HAHAHAHAHAHAHAHA AKU UDAH NGAKAK SEJAK AKU BACA JUDULNYA HAHAHAHAHAHAHA decision making oh decision making…………makasih udah bikin temen sekelas manajemen-mu ini ketawa2 di tengah sariawan yang melanda xD

    TIPE IDEAL SEOKJIN WOY kalo nurutin tipe ideal berarti dia make prinsip tradisional ya…semuanya kudu yang bagus, yang maksimal 😐 emang tipe ideal itu menghancurkan segala impian kok :” kesannya tipe ideal itu adalah prince charming yg suka menolong dan rajin menabung………

    tapi ak juga melenceng dari tipe idealku sendiri sih……………/lirik Jongup/

    terus terus scene di kereta *ngakak lagi* ak jadi inget cerita bapaknya yg tentang doa-ekspetasi-harapan itu x”D untung ya, si Rena ini ketemunya mas2 cakep macam Seokjin…..coba kalo ketemunya om2 macem Changmin 2AM…pasti beda cerita (tapi kalo aku sih mau2 aja :p)

    tau gak, awal ak baca ini ak kira keretanya kereta Indonesia yang kelas ekonomi .____. yg duduknya adep2an, panas, dan rame…..tapi beberapa saat kemudian aku sadar ini setting-nya di Korea dan untungnya diri ini langsung kembali ke jalan yang benar :”

    udah deh, aku mau ngelanjutin 95line sama project drama-week-ftv-week-apapun-itu

    DADAH AMEEEER, SEE YA TOMORROW!!!

    ^.^/

    Suka

    1. KARENA DECISION MAKING ADALAH AWAL DARI SEGALANYA HAHAHAHAHAH XDD

      btw, sariawanmu tak kenapa-kenapa kan dipake ketawa….. kali ada yg kegigit .___.
      ya yang ideal kan katanya emang tak tergapai wi, keburu tua soalnya ga ada yang cukup bagus xD tapi kalo udah ketemu yang macem jin begini, tak usah sampe mentok kata ideal juga aku terima deh….. /krik

      eung, well….. alhamdulillah kalo gitu castnya seokjin bukan changmin apalagi ahjussi2 yang sudah tua /dikeplak/ ya ini kan emang kejadian satu banding sejuta gitu wi, aku mah mau naik bis apa kereta berulang kali juga mana ada yang makhluk begini -__-

      okaaay, 95 line dan truth/dare gilanya ditunggu dengan amat sangat ya Wi!!!!
      sampai jumpa besok jugaaaa!! 😀

      Suka

  2. aku… aku.. /tarik napas/
    kalo ketemu orang macem Jin di kereta gimana…. aku lemah ;__; pertemuan pertamanya sweet banget ;__; jarang-jarang ada cowo yang dengan tiba-tiba nyamperin dan bantuin bawain barang-barang. nerobos kerumunan pula. setelah tatap-tatapan pula… AH AKU GILA T_T
    itu pertemuan pertama yang amat sangat AAAAAAAAAHHHH.
    Kim Seokjin cheesy sekaleh ingin aku tampol ya ampun :)) kak Amer selalu membuat aku tertawa maloe dengan cerita-cerita seperti ini ah :3 aku sampe diliatin ibuku ketawa-ketawa sendiri di depan laptop -_- /apaan curhat/
    aku menunggu fluff lainnya dengan cast cast ketjeh lainnya! laff yaaahh ❤ muach :*

    Suka

    1. put… napas put napas… sabar ya…… /brb ambil tabung oksigen/ .__.

      ya seperti kataku pada tiwi di atas, pertemuan seperti ini emang satu dibanding sejuta hahahah :’> kalo liat cowok cakep belum tentu dia gentle…. kalo cowoknya gentle belum tentu juga kan dia cakep dan pinter masak? ((heh))

      anyway tampol aja dia put, tampol aja…. sekalian tuh si bocah idiot aka taehyung yang bikin owe gemes setengah mampus -__-

      okaaay, nanti kutag kalo ada fluff2 lagi ((modus)) XDD
      makasih banyak ya puput!! 😀

      Suka

  3. Kyaaaaa seokjin T_T
    Disini seokjinnya ramah sama orang asing ya kayak waktu di rookie king episode 1, pas secret camera yang di lift, seokjinnya nanyain mbak2 yang nangis xD
    Toe-curling bangeeeet ini ff cheesy nya meeer aku sampai tidak bisa berhenti squealing membacanyaaaa >.<
    Aku menunggu ff si hoseok deh mer hahaha kalo bisa pasangin dia sama taehyung ya #eh hahaha good job mer! Keep writing! Your fics made my day deh hehehehe❤️

    Suka

    1. Haloooowww!!
      IYAP KAMU BENER BANGEEEET!!! aku juga terinspirasi sama sikap jin pas di secret cameraa~ sementara yang lain idiot abis, dia dengan manis ((dan super awkwardnya)) kan paling perhatian gitu AWWWWWWW /mimisan seember/

      haha hoseok sama taehyung? ini ada draft taehyung tapi sama jimin sih ehehehe~ ditunggu saja semoga ideku buat para bocah bangtan selancar cintaku pada jin dan suga /halah/
      makasih banyak yaaa ❤

      Suka

  4. Ini manis banget smpe bkin aku senyum” gaje dan kata”nya jin yg terakhir itu ngena bgt. Aigoo… pingsan seketika klo jin ngomong langsung. Ya… ditggu bts yg mc-nya suga dan jungkook

    Suka

  5. UWOOOOOOOO……….AKU MAU TEREAK DULU POSTERNYA CAKEP, SEOKJIN ASDFGHJKLZXCVBNMQWERTYUIOP!! /selesai nyapu keyboard/

    Ea, materi kuliahpun bisa jadi fic manis di tanganmu. Well, jujur aja buatku decision making itu susah, apalagi masalah cintoy-mencintoy gini, haha..

    Rena, Rena, Rena, surga banget hidupmu.. berdiri cuma 30 menit naek kereta yang sepanjang jalan ga pernah ngerem aja udah tertakdir bertemu perjaka kece macem Seokjin. Aku yang berdiri berjam-jam bawa gembolan ‘udah kayak orang mau minggat’ di dalem bus yg ugal ga karuan kenapa ga ada yang nolongin. Bete! /ups, malah curhat

    Nanya tipe ideal itu emang kayak makan buah simalakama. Ga ditanyain penasaran setengah idup, abis ditanyain malah seringnya sweatdrop karena tipe ideal ya pasti IDEAL. Manusia tanpa cela gitu kesannya.. Kadang malah dapet yg berkebalikan.

    Rambut panjang, pinter masak, sabar, ini kalo begini mending dia ngegebet jin tomang betina aja dah, susah cari stok cewek macem begitu sekarang.

    “…dan mengusik bibirku agar segera menimpalinya” –> aduh ini nih, maaf banget pas baca sempet khilaf, yang kebayang malah bibir Seokjin yang aduhai itu. Gataulah kenapa tiap ada Seokjin langsung sensi aja kalo ada yang nyinggung2 bibir. Aduh duh, otakku perlu diwashing pake sabun colek -.-

    Ahem, selamat bities~ kalian udah mengetuk hati Amer untuk menjadikan kalian ladang imajinasinya. Semoga beruntung dan ga dapet yang angst aja ya //hati-hati yang bang jehop, banyakan nyengir di dunia nyata biasanya dibiikin ngenes di fic. Sekian peringatan dari saya..

    Sekian juga rusuhannya. Semoga kamu ga kapok kukomen yah, eheyy
    Bai-bai ^.*

    Suka

    1. KAKAAAAK UWOOOOOOOOOOO ((rusuh))
      IYA EMANG ITU POSTER GANTENGNYA TIDAK NYANTAI SANGAT I KNOW BEBAS TERSERAH JIN BOTOL AJA DEH //sedih//
      oh iya btw kakak udah pesen spot di atas tapi lupa lagi tuh xD

      decision making emang susah kak, buat aku sih paling susah decision making menentukan bias /dilempar/
      oh ya omong2 kenapa aku ngakak bagian perjaka kece ya……. -__- well, kalo kakak di bus ugal2an tak ada yang menolong, aku malah tiap jalan kaki pulang bawaannya buku seabrek nggak ada yang bantu bawa padahal jalannya panas nan berdebu nan bikin alergi kumat ((syedihabis))

      hahah dan cowok, ya namanya juga cowok ya pasti demennya yang begitu sama kaya kalo cewek maunya cowok yang kaya-cakep-tinggi-baik kan ya….
      fyi, bibir jin emang menggoda kak, aku aja tergoda ((MER PLIS)) dan ya otak kita perlu dicuci ini….PADAHAL DI FOTO ATAS TAK ADA PENAMPAKAN BIBIR TAPI KENAPA KAKAK MEMBAHASNYA TAT

      aduh mengetuk hati…. iya nih aku udah ada draft anak bities lagi dan itu…..angst //jedor// ya mari doakan saja semoga ga ngenes2 amat yaw .__.v

      akhir kata, makasih banyak ya kak dhini atas rusuhan panjang lebarnya muaaah :**

      Suka

  6. KAK AMEEEER AKU JUGA LAGI TERGILA-GILA SAMA BTS KHUSUSNYA TAEHYUNG AAAAAAAKKKK~!!! TAPI SEOKJIN MAYAN JUGA KOK #ganyante #capsjebol

    dan serius… ini fluffy banget. biar kata orang menggelikkan tapi menurutku yang kayak gini nih yang bisa ngubah mood aku dari down sampe up #assa~

    hmmm si Rena ini aku banget. kurang pe to the de. tapi untung Seokjin kebalikannya. saling melengkapi >< bener banget kak Seokjin udah tua sok2an ber-aegyo wkwkwk tapi gapapa, imutnya bisa kok ngalah2in maknae Jungkook.

    ditunggu fanfic2 BTS nya kak. yang Taehyung ya hihihi /kok maksa/ /plak/ xD

    Suka

    1. AAAA HALOW HALOOOW KITA SAMAAN EHEEEEEY!!
      aku juga lagi suka nih, tapi demennya ke Jin sama Suga :3 emang ya mereka semua ini sialan dalam mengacak2 hati perempuan :’>

      aih aku terhura nih kamu bilang bisa naikin mood :3 tapi bener sih, aku juga pas dosenku cerita ga jadi ngantuk terus cekikikan /lah/ xD

      yap! siaaaap! diusahakan ya idenya bisa muncul terus buat mereka ehehe~
      makasih banyaaaak!! 😀

      Suka

  7. Aaaaa uwouwoh sumpah terima kasih ya mer udh ditag ehehets! 🙂
    Aduh seokjin parah, kita tuh sebenernya satu kereta kan tiap hari? Dari sudirman sampai jurang mangu, lalu aku masuk ke jurang hatimu gimana dong? Uhuhu

    Mer! Why why ini ketemu di kereta jadinya aku merasa kan ((ih najis! Pede banget seeh!)) HAHAHA XD aduh…gak ngebayang kalo ketemu cowok begitu di kereta, ya bisa apa kita orang kan ya. Langsung berharap keretanya penuh biar “aw, aw sori ya mas keinjek kakinya” ato “aduh pegangannya tinggi bgt sih, boleh megang tangan masnya gak?” #yailah #brbberubahjadiemping

    Suka banget momen mereka di kereta terus si ceweknya kayak mempertanyakan “kenapa sih milih aku?” Terus si seokjinnya mulai menggombal gembel gitu kan pake ideal type bukanlah my style sebenarnya. Kamulah style saya sebenernya.

    Ih rasanya pengen nelen biji melinjo bulat2, wae so cool man si seokjin ini. Tapi emang karakter lembut lembut kayak perut lembu gini sih emang cucok banget sama si jin. Ato agak dongoks sesungguhnya dia mampu hahaha gak deng.

    Terus apa lagi ya…ya pokoknya bahagia lah. Entar kalo naik kereta baca ini lagi terus senyum senyum sendiri hahahaha kkaebsong lah. Terus apaan itu ada decision making segala hahaha plis lah, aku mau bc ff biar lupa sm matkul malah diingatkan ini huhuhu tp gapapa lah, klo caranya kayak gini aku seneng hehehe 🙂

    Okeh, selamat menulis lg. Aku jg kangen nulis dan sebenernya fanfic jungkook dan jin sudah di draft, tp ada yg lbh ‘perlu’ ditulis jadinya…begitulah hehe 🙂

    See youuuu ❤

    Suka

    1. KAK DIRAAAAA! /pelukerat/
      duh aku kangen rusuhan kakak nih, ehehe, sama-sama kakaaak! aku malah takutnya ngerepotin nih pas ngetag, jadi sempat terjungkal penuh haru gitu pas liat nama kakak muncul di notif :’>

      haha yap, tepat bangeeet! kalo ketemu yang mecem begini di kereta bisa apa kita orang… sayang sampe sekarang belum pernah nemu aku kak, mungkin harus kereta koreya ya bukan kereta lokal (?)

      HAH APA INI IDEAL TYPE IS NOT MY STYLE /ketawa sepenuh hati/ XDD aku juga semacam keriting benernya kak pas nulis menggombal gembel itu, untung ya dia cakep jadi makin disayang /halah/

      anyway, maaf lho kak kalo mengingatkan sama kuliah…. saya juga tak paham mengapa dosen owe yang lagi ceramah soal decision making perusahaan mendadak berubah haluan xDD

      okaaay, makasih ya kak Diraaa! Semangat juga buat kakak dan apa pun yang perlu ditulis, sukses teruuus!! :3

      love,

      cimolicnut’s maknae ❤

      Suka

  8. hehe.. masih berasa cengar-cengirnya. enak yah jadi renaaa.. seandainya nemu cowo kaya begitu beruntung bgt di dunia keras kaya sekarang gini *curcol? I don’t know*

    love your story sososo much !!
    terima kasih telah memberikan pelajaran baru dalam penulisan fanfic dan telah memberikan cerita yang sangaf bagus.. ! (^﹏^)

    Suka

    1. hehe ini emang all about keberuntungan sih, ya berdoa saja semoga suatu saat ada pangeran baik hati macem begini datang ke hidup kita ((aamiin)) /gelar doa bersama/

      yap, sama-samaaa! makasih juga udah baca dan makasih atas apresiasinya yaa 😀

      Suka

  9. HALLOOHAA AMEEER!{}
    Haha sepertinya aku sudah lama tdk mengisi kolom komentar kamu. Dan heiii ini something yg diluar dugaanku. Aku kira akan muncul cast anak VIXX atau EXO (wkwk) etapiii yg muncul anak BTS dan ini Jin! Weeew. Aku musti keluar dari zona nyamanku sepertinya xD Emg anak-anak Bities memgambil perhatian byk orang x) dan sumpah! Jin di sini tuh yaaa duuuh kamu dptn karakter apaa yg aku mau bgt Mer! Gentle gilaaaa! XD ketemuan di kereta itu so sweet syekaliii. Dan yg tambah so sweet itu, pas bawain tas belanjaan. Cowok kayak gitu langka bgt. Bahkan ngasih tempat duduk buat cewek pas lg di bus aja langka bgt /oke ini curhat jadinya/ xD Ya meskipun aku kalo pulang naiknya transjakarta sih bukan kereta, tapi feelnya tetep kerasaa:3
    Dan emg yg fluff-fluff gini sih kamu udah spesialisasinya bgt jadi aku hanya bisa menggelinding xD
    Ohya, kamu bulan ini udah publish brp fic ya? Sepertinya aku sering sekali melihat namamu di home teratas ifk. Dan well, itu membuktikan bahwa tugas gak jadi masalah buat kamu utk tetap berkarya. Tidak sepertiku yg 2bulan gak publish fic x'( syedih. Bagiii tipsnya Mer, jebaaaal:(
    Okee sekian dari Uci. Maaf kalo komen aku banyakan ke curcol :’) Keep writing Amer! & keep success! Lafya!
    – Uci xx

    Suka

    1. LOHA JUGA UCIIIIII!!!!
      duh aku kaget nih liat namamu di notif semacam terhura gitu huhuhu abis aku kangen komenmu yang rusuh sih :’)

      ehe iya akhir2 ini aku banyak eksperimen gituuu…. VIXX alhamdulillah semua member udah kebagian cerita satu2, jadi aku beralih dulu ke bocah2 ini ehe :3

      yap, cowok begini langka dan sampe sekarang saya belum nemu satupun *sedih* mana ada cowok yang tau2 nyamperin aku terus bilang “kubawain ya bukunya” atau “mau dianter pulang nggak?” -__- adanya mah aku yang maksa temen2 cowokku buat nebengin zzz…. ((curhat))

      ang ing eng…. sejak comeback beberapa minggu lalu kayaknya sih aku udah publish lima fic .___. Dan heeeei, apa ini tugas gak jadi masalah…… aku juga habis hiatus dua bulan kali ci… ((fyi terakhir postku beneran dua bulan lalu sebelum kambek, perkecualian drama week krn itu yg publish kan fikha))
      jadi aku tak ada tips ci…. kecuali kalo kamu emang betah nulis di notes hape kaya aku x)

      curhat itu baik kok Ci dan aku juga miss you so much gitu huhuhu T^T
      makasih ya buat komennya dan sukses juga nulis + kuliahnyaa! ❤

      Suka

  10. Eonni,aku Siichan, baru kali ini memunculkan diri setelah The Opposite *sembunyi dibalik Taeyeon*. Aku harus manggil apa? Tsuki eonni? Marissa eonni?

    Astaga ini… Ini bener-bener sesuai sama dugaan aku dari awal. Sweet, manis… Oh siapapun tolong carikan aku lelaki seperti dia /pingsan. Ngg eonni, kalau boleh tau itu ngedit fotonya pake app apa?

    Suka

    1. Halo juga siichan!! ah kamu baca the opposite juga? :3
      eum, panggil Tsuki juga boleh kalo kamu mau gampang mengingat…. real name-ku Amer, dari line 95, jadi terserah kamu aja mau manggil apa 🙂

      edit foto aku pake photoscape ^^ maklum gaptek ga bisa photoshop dsb sih ehehe .__.

      makasih banyak ya udah bacaaa 😀

      Suka

      1. Astaga the opposite itu yang terbaik lah. Good job banget eonni♥♥. Oh pantes sering ada yang manggil amer *kadang gak sengaja kepeleset jadi amber. Aa aku manggilnya eonni aja, ya? Hehe

        Photoscape? Ada di android gak eonni? Aku juga gaptek photoshop sih ._.

        Suka

  11. KAK TSUKI

    well sebenernya aku kayak mas Jin gitu, nyari tipe idealnya mirip dan akhirrrnyaaa saya malah jatuh cinta dengan seseorang yang jelas jelas menyimpang dari tipe ideal saya!!

    Dan awawaw… Kalo di kereta ketemu mas2 ganteng? Pengen sih daripada waktu nemenin ortu cari barang di Jakarta malah kejepit tante2 jumbo =.=

    Suka

  12. so sweet…
    Jin nya nggak OOC i like this hiks /mewek/
    FF nya kelen, aku gak bisa komen masih membayangkan gimana jika diriku ada di posisi mbak/? itu aku yakin aku meleleh ;;;

    Suka

  13. Heyooooo KakMer!

    Sori kak karena aku baru kasih komentar sekarang setelah aku udah aca 2x XD

    Ehm,ehm… ini Jin ya Jin itu Seokjin ya…. YA AMPUN KAK DIA ITU SEMACAM CEM-CEMAN DAN DI SINI KENAPA DIA UNYU BANGET ;_;

    Awalnya kukira mereka udah mantanan (soalnya kok Rena semacam bersikap kayak gitu) dan Jin-nya semacem masih sayang tapi ternyata diriku salah seratus persen HAHAHA

    KakMer, berikan aku satu laki-laki yang berwajah dan bersifat persis Jin di sini kak tulung aku ngidam ((dibantai))

    Aku harus ngomentarin apa lagi Kak?

    Diksi? Ih Kakmer gausah ditanya lah yaw ini udah membekas sekali di pikiran sampe terngiang-ngiang TT alurnya juga kak, ini udah keren sekali bikin aku menebak-nebak selanjutnya dan semacam gabisa berhenti ngebaca.

    “Suara lelaki itu masih sama seperti dulu; dalam, ingin tahu, dan mengusik bibirku agar segera menimpalinya” » ini tuh bikin aku nangis darah entah kenapa :’3

    Lalu, tiba-tiba saja, ia sudah menerobos kerumunan penumpang lain dan berdiri di sampingku » GILAK INI JIN GENTLE BANGET UDAH GANTENG JKSZHJYCXFKCVJHUD

    Dan BENERAN KAK AKU SUKA KARAKTER RENA DI SINI YANG RENDAH HATI DAN JINNYA YANG BEGITU ASDFGHJKL

    Ah sudahlah kak maafkan aku yang terlalu melantur. Dan maafkan komen saya yang super pendek ini.

    Keep writing Kak Amer! Aku tunggu bts’ ficnya yap ><

    Suka

    1. Heyho Mey! ah tak apa, harusnya aku yang berterima kasih nih soalnya kamu udah dateng {}

      hahaha aduh mantan…. salah besar mey kalo sampe punya mantan kaya Rena, ngapain jadi mantan, mending dipertahanin terus jadi pacar ya nggak sih ((maunya))
      dan fyi ini bukan cuma kamu yang ngidam ;__; aku pun begitu dan kalo ga dapet Jin, dapet kloningannya pun aku iklas kok /segitunya/

      yap rendah hati itu emang bagus Mey, kali kan berhasil menarik hati para lelaki tampan *uhuk* ya asal jangan rendah diri aja sih……………

      yep, makasih banyak ya Mey atas rusuhannya! see ya! :*

      Suka

  14. Itu kenapa Jin-nya menggoda sekali /tunjuk atas/ ok! ini beneran flufff >< aku setuju. Tipe ideal itu cuma buat patokan. Terpesona sesaat dengan perlakuan Jin pada Rena yang begitu Asdfghjklzxcvbnm. Hahaaaa Renanya malu-malu mau gitu. Beruntung sekali dia ketemu + jatuh cintanya sama Jin bukan om-om tua yang suka ngkring di kereta wkwk btw pekerjaan mereka apaan sih/? Kok rena selalu bawa kantung belanjaan. Ok, ditunggu ff BTS yang lain.Khususnya Taehyung *kedip-kedip* {}

    Suka

  15. PFFTTT KAK TSUKI INI FIX AKU KENA DIABETES TANGGUNG JAWAB KAAK HAKHAKHAK………………
    Alangkah bahagia nasib kalo bisa ketemu beneran sama orang setampan bang seokjin di kereta tapi di kasus ku ini di bus kota -.,- mungkin kalo ketemu beneran bau bau asam tidak mengenakkan itu bisa ilang kali yaa (kenapa curhat) oke! kak tsuki! aku lopek dis fict lah pokoknya gabisa berkata kata lagi…
    “Seokjin mengangkat bahu, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arahku.”HAHAY SEOKJIN GENIT BET DAH GENIT..
    hahah dadah kak tsuki, aku menunggu kedatangan ur next fict heuhehe~~ dan maaf gaje soalnya saya gatau mau tulis apa kkk

    Suka

  16. Annyeong marla imnida 99L

    sebelumnya kak, aku mau bilang ini fanfic fluff banget ya. kak jin kayaknya ganteng banget deh disitu. ngebayangin kalo aku di posisi Rena itu. Btw gerbong kereta paling ujung biasanya ditempati sama om om pulang kantor kan ya? tapi ini tuh beddaaaa.

    keep Writing! aku tunggu fanfic selanjutnya^^

    Suka

  17. /kelelep/ /lambaikan tangan ke arah kamera/ EFKHDGWSHVAGSGAGAVSH /ngosngosan/

    Oke sebelumnya holaaa kak Amerrr! Hah apa banget aku muncul telat terus langsung sembur sana sini. Entahlah kak ini fluffnya semacam after 72 versi 2.0 dan owe gak kuat. Aku penasaran kakak masukin gulanya berapa ton. Dan castnya si-perusak-list-biaskuh makin membuat imageku rusak di kalangan orang rumah (gakdeng di runah saya emang agak tidak waras, y y). Ya salahkan si makhluk pecinta warna pink ini yg makin kesini makin ngegemesin tingkahnya, minta dipukul pakai panci :”

    Oh oke disini seokjin kayak model2 sangnamja haha idaman cewek kebanyakan lah ya. Siapa sih yg gak meleleh gitu rela2in ngebantu bawaain barang belanjaan pas kereta lg rame2nya uhukk. Dan uuugh aku suka banget sama interaksi mereka berdua syalala. Apa ya kesannya? Err seokjin ini tipe santai sementara rena ini keknya tipe pemikir /?. Kalau disatuin cocok aja gitu huahaha. aku paling suka perdebatan mereka soal tipe ideal itu yg bikin aku senyum2 sendiri di depan hp. Dan disangka yg tidak-tidak sama adek……..

    Well fix aku kena diabetes lah xD tapi entah mengapa aku antara ngakak dan setuju dengan perkataan dosen kakak. Ini semacam aku yg ‘tipe ideal bias yg tampang+tingkahnya cute, namun nyatanya lg pdkt sama mas tekwun.’ lol xD

    Untuk masalah diksi owe gak mau komen karena emang udah tingkat dewa. Oke mungkin sampai disini saja komenku sebelum kegajeannya nambah lagi. See you qaqa!

    Suka

  18. Halo. Tisha, 98L here-
    Halo kak, sebelumnya pernah baca ff-ff kakak di wp, dan seneng banget waktu tahu ada ff bts dengan author kakak:)
    Fluff>.< titik deh, baca bait pertama udah bisa bayangin Jin dengan jelas di depan mata, haha:D

    Ditunggu lagi kak ff cast BTSnya, hehe^^

    Fighting~

    Suka

  19. Annyoeng aku reader baru ^^
    omo mas jin kau begitu so sweet ;;) , meskipun sweet mu tetep kagak ngalahin jiminku :v , memang bener harusnya pasangan saling melengkapi, ntuh si jin pan udh bisa masak, ntar kalo dapet cewek yg bisa masak juga malah saingan masak dong kek di masterchef gituh ._. /eh ?
    Nice fluff , manisnya nggak ketulungan dah ^^ (y)

    Suka

  20. SEOKJIIIINNNN ;;A;; Aku gk tau, Jin yg mana sih? -_- kkk
    Gzzz.. Aku harus bilang apa selain ini FULL NGEFLUFFF ;;___;; Duh duh aku gk bisa bayangin gimana jadinya kalo ketemu abang-abang cakep macem bang Seokjin di dalem kereta. Terus terus digombal-gembelin pake gombal bekas ples senyum malaekat maut/? itu. Hiyaaa meleleh lah akuu!! Ah, tapi pasti gk mungkin lah itu! Iyalah, bang Seokjin pan nun jauh di Korea syanah ;__;

    Duh kak aku bingung mau nulis apa selain kata KEREN yg mungkin udah 100kali ditulis sama readers kakak >w< Aku gk tau gk tau gk tau ;___;

    Suka

  21. Halo, kakak /bow/
    Aku Suryani. 99line.
    Sebenernya aku udah sering baca ff kakak yang asli keren-keren itu cuman yaaa aku baru komentar sekarang, maaf ka._. /silent reader yang baru tersadar/ Anyway, ff ini maniiiis banget.
    Aku suka, aku suka, aku suka, meleleh ini aaaa._.
    Seandainya aja beneran nemu cowok ganteng macem Seokjin di gerbong kereta, udah di bawa pulang kali/ups/
    Salam kenal ya kakak^^

    Suka

  22. *tepok tangan* komennya cuma satu: merinding euy bacanya.

    berhubung sy tiap pulang kerja naik kereta jd berharap ketemu cowok kayak Jin di gerbong tp sayang di sini gerbong pertama & terakhir khusus buat wanita *halah*

    “… agar kita bisa saling melengkapi.” => cari fandom baru biar bias makin “lengkap” LOL #plak

    Suka

    1. ini bukan horor kenapa kamu merinding……… mungkin merinding saking cakepnya mas Jin ya? XD /eyak/

      ehehe iya biar makin lengkap, kita harus rajin nyari koleksi cowok dong (?) .___.

      anyway, makasih udah baca ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s