[Oneshot] Can’t Escape

cant escape

Can’t Escape

a movie by tsukiyamarisa

 cast [BTS] Kim Taehyung and Park Jimin genre AU! Fantasy. Friendship. Angst. slight!Action and Family duration Oneshot (5600+ words) rating 17

.

.

Dentuman dan letusan itu terdengar lagi.

Ini bukan pertama kalinya, kendati—tentu saja—tak ada yang begitu bodoh mengharapkan situasi seperti ini untuk terjadi berulang kali. Kondisi Rivory kacau balau, ditingkahi oleh suara cicit burung yang berhamburan melarikan diri dan ringkik kuda yang terjebak dalam istal. Tak ada yang peduli, tak ada pula yang sempat melirik untuk sekadar mengulurkan tangan. Suasananya sudah terlampau parah, begitu rusuh sampai-sampai semua warga di kota itu tahu bahwa ini adalah puncak dari aksi mereka.

Ya, mereka.

Kaum Dreq.

“Jimin, cepat!”

Di tengah semua kerumunan manusia dan letusan tembakan dari sekumpulan pria bertopeng, seorang bocah lelaki dengan rambut oranye berteriak panik seraya menunggu temannya di pinggiran jalan. Manik cokelat terangnya melebar dalam kepanikan, terlebih ketika ia mendapati seorang pria bertubuh tegap dari kaum Dreq sedang menodongkan senapan ke arah sang sahabat.

“Jimin!”

“Kau duluan!” Jimin balas berseru seraya menyelipkan tubuhnya di antara kerumunan manusia, sekuat tenaga berusaha menyusul Taehyung—si lelaki berambut menyala tadi—dan menghindari beberapa tembakan yang diluncurkan. Berulang kali ia memaki keras, sebagian besar karena kaki kirinya yang terluka dipaksa untuk melangkah lebih cepat. Suasana makin ricuh, terlebih kala satu debuman keras lain terdengar di kejauhan seiring dengan runtuhnya menara jam besar yang menjadi simbol Rivory—kota tempat tinggal mereka.

“Jim—”

 .

DOOORR!

 .

Suara letusan lain terasa bagai menyobek indra pendengaran mereka, diiringi oleh pekik dan jerit ketakutan kala tubuh beberapa orang tumbang secara bersamaan. Tawa keras membahana dari para anggota kaum Dreq terdengar begitu memuakkan, membuat jantung Taehyung bertalu dalam kecemasan. Manik cokelat terangnya pun otomatis memindai kerumunan, berusaha mencari penampakan rambut hitam sahabatnya.

“Ayolah, ayolah… Jimin, a—”

“Taehyung!”

Desah napas lega seketika meluncur dari bibir Taehyung, segala ketakutannya mendadak berkurang ketika ia melihat Jimin berlari ke arahnya. Lekas, kedua lelaki itu pun memacu tungkai kaki-kaki mereka ke pinggiran kota, menjauh dari segala kekacauan yang ada. Rimbunnya pepohonan hijau yang membentang di sisi barat kota bagai menawarkan perlindungan, gelap dan tersembunyi dari jangkauan mata musuh. Tanpa menoleh ke belakang lagi, mereka terus berlari hingga suara-suara kerusuhan di Rivory tak lagi terdengar; digantikan irama gemersik dedaunan dan kicau burung yang bersarang di atas sana.

“S-sepertinya… sudah cukup… jauh… hah, k-kau…”

Hah… hah…” Jimin menarik napas dalam, memenuhi paru-parunya dengan oksigen sambil menumpukan kedua tangan pada lututnya. “A-aku tak apa… aku baik-baik sa—”

“Kakimu terluka, bodoh,” potong Taehyung cepat, nada bicaranya mendadak berubah sebal. “Sini, kemarikan.”

Taehyung menarik temannya itu ke balik sebuah pohon besar, memastikan tak ada seorang pun yang mengikuti. Kini, mereka sudah benar-benar berada di tengah hutan, cukup jauh dan terlindungi dari segala teror yang terjadi di luar sana. Rapatnya pepohonan yang tumbuh, jalinan sulur-sulur, serta kanopi yang terbentuk di atas sana rupanya telah berfungsi sebagai peredam bunyi tembakan dan jeritan warga—memberi Taehyung dan Jimin sedikit waktu untuk beristirahat.

“Orang-orang di sana….”

“Aku tahu.” Taehyung berbisik sembari meletakkan tangannya di atas luka Jimin, lantas membisikkan sederet mantra penyembuh. “Tapi kita tak bisa melakukan apa-apa. Aku tak mau mati konyol.”

Jimin hanya mengangguk paham, bibirnya mengeluarkan desisan pelan saat kekuatan mantra Taehyung mulai menyentuh permukaan kulitnya yang terluka. Rasa perih menyebar di sana selama beberapa sekon, sebelum akhirnya lenyap bersamaan dengan menutupnya luka sayatan yang tadi mengucurkan darah segar itu.

Trims.”

Apa yang menghambatmu?”

“Hanya beberapa pria.” Jimin mengangkat bahu, iris kelamnya sengaja menghindari tatapan ingin tahu Taehyung. “Kupikir kau masih terjebak di rumah, tapi yang kutemukan di sana malah….”

Mengetahui kalimat macam apa yang akan dikeluarkan Jimin selanjutnya, Taehyung pun sontak mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia memilih untuk diam, memejamkan matanya ditemani suara desau angin yang berembus. Mereka sudah bersembunyi cukup jauh, dan Taehyung pikir, tak ada salahnya bagi mereka untuk berisitirahat barang satu atau dua jam saja. Kaum Dreq tentunya tak akan menyadari bahwa ada dua bocah ingusan seperti mereka yang menghilang, bukan?

“Taehyung…”

Ssshh, ayo istirahat saja, oke? Aku tak mau membahasnya.”

“Tapi—“

“Apa lagi, sih? Aku lelah, tahu. Lagi pula, kalau dipikir secara rasional, kaum Dreq ‘kan hanya menginginkan Rivory agar jatuh ke tangan mereka. Siapa yang peduli pada dua orang remaja seperti kita?

Jimin mengangguk, mengiyakan kata-kata tersebut walau dirinya masih agak merasa sangsi. Ia hendak membantah lagi, tetapi Taehyung buru-buru menyelanya sembari menunjuk bekas luka Jimin dan memberengut sebal.

“Kau baru saja terluka, jadi istirahat saja. Dan jangan khawatir, aku akan berjaga.”

Kali ini, Jimin tak punya pilihan selain patuh dan ikut-ikutan menyandarkan tubuh pada batang pohon yang sama. Taehyung benar. Ia lelah dan sihir temannya itu jelas hanya mampu untuk sekadar menutup luka saja. Maka, tanpa banyak mengeluarkan protes lagi, Jimin pun membiarkan kedua matanya dengan cepat terpejam, sementara otot-ototnya mengendur seiring dengan suara mendengkur halus yang terlepas dari kedua belah bibirnya. Dalam hitungan detik saja, ia sudah benar-benar tenggelam ke alam mimpi, melupakan semua kerusuhan yang tadi sempat terjadi.

Melihatnya, Taehyung hanya bisa mendesah pelan.

Ia mengamati Jimin dari sudut mata, mengawasi sahabatnya itu sembari mengamati keadaan sekitar. Dari tempat mereka bersembunyi, Taehyung bisa melihat asap yang membumbung tinggi di kejauhan, begitu tebal dan pekat hingga menodai birunya warna langit. Dadanya kontan terasa sesak, terlebih kala ia tahu bahwa segalanya memang sudah benar-benar berakhir. Ia tak perlu melihat secara langsung, tapi ia yakin bahwa tebakannya mengenai apa yang terjadi di sana pasti tepat. Kaum Dreq pasti sedang membumihanguskan kota kelahirannya.

Taehyung menarik napas dalam, memenuhi paru-parunya dengan oksigen seraya berharap agar aliran udara yang masuk itu dapat menggeser rasa duka di hatinya. Ia lantas ikut memejamkan mata, setengah berharap untuk mengubah semua kejadian buruk yang menimpanya ini menjadi bunga tidur semata. Terkadang, ia bahkan ingin tahu mengapa semua mantra dan keahlian yang dipelajarinya tak pernah mampu untuk mengatasi semua kekacauan ini. Tidak bisakah ia melambaikan tangan, mengucap sebaris kata, dan mengubah semuanya menjadi damai seperti sedia kala?

.

Jangan berpikiran macam-macam. Itu tidak mungkin terjadi, Taehyung.

.

Suara itu melintas di dalam otaknya tanpa diundang, membuyarkan semua harapan dan pikiran Taehyung soal hidup tenang. Faktanya, hidup Taehyung memang tak pernah aman dari bahaya. Hal itulah yang sudah ditanamkan ke dalam benaknya sejak masih kecil dulu. Warga kotanya dan kaum Dreq adalah musuh abadi, sehingga segala macam bentuk serangan atau ancaman dari pihak kaum Dreq bukanlah hal yang asing lagi. Mereka bagai dua kubu yang hidup berdampingan dalam tekanan, saling menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan terhebat.

Sayang, tak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa kaum Dreq akan memilih untuk datang hari ini dan menghabisi warga kota secara menyeluruh. Semuanya dimulai sejak pagi tadi, ketika Taehyung terbangun di tengah sepinya fajar karena suara gedebuk keras dari lantai bawah rumahnya. Hari masih amatlah gelap tatkala Taehyung berjingkat turun dari ranjang, lalu dengan hati-hati pergi ke kamar ayahnya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Firasatnya memberi tahu bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi di sini, dan…

.

“Nak, cepat kabur dan jangan kembali lagi. Kota ini akan segera hancur.”

.

…ia benar.

Kata-kata tadi adalah pesan terakhir ayahnya sebelum ia berpulang, tewas mengenaskan karena luka tembak di perutnya. Maka, dengan berat hati, Taehyung pun terpaksa kabur dari rumahnya dan mengabaikan jenazah sang ayah, berlari dan terus menghindar dari jangkauan tangan kaum Dreq yang rupanya sudah menyelinap masuk untuk menghabisi para petinggi dan pemimpin kota. Rencana mereka begitu mulus dan tak terbaca, sehingga siang ini, lewat beberapa jam sejak ayah Taehyung terbunuh, seisi kota sudah benar-benar hancur tak bersisa dan siap diambil alih.

Cih, jadi mereka sudah mendapat apa yang mereka mau, begitu?

Taehyung mendengus sebal, tangannya terulur untuk meraih sebatang ranting dan mematahkannya menjadi dua. Amarah dan dendam berkobar di dalam dirinya, tetapi apa yang bisa dilakukan bocah sepertinya untuk menghadapi para anggota kaum Dreq? Ia hanya berdua dengan Jimin di sini, jelas begitu kecil di hadapan masalah pelik antara dua kubu yang tak pernah berhenti bersiteru.

Ck, ia bahkan tidak tahu siapa yang salah di sini.

Konon katanya, kaum Dreq adalah sekumpulan orang-orang yang terbuang dari Rivory. Kota mereka itu terkenal sebagai pusat kegiatan para penyihir, tempat dimana seluruh manusia yang memiliki kemampuan unik tersebut lahir dan tumbuh besar. Mengucap mantra serta mengerjakan tugas sehari-hari dengan satu ayunan jari sudah menjadi kebiasaan mereka sejak usia muda.

Sampai pada suatu hari, kira-kira satu abad sebelum Taehyung dan Jimin lahir, keanehan itu mulai muncul. Para warga mendapati bahwa beberapa orang anak muda di kota mereka tak mampu melakukan sihir—satu hal yang dianggap aneh mengingat mereka semua seharusnya memiliki bakat itu sejak lahir. Tak hanya itu, berbagai macam tuduhan pun mulai bermunculan. Sebagian warga menganggap mereka sebagai mata-mata yang dikirim oleh manusia non penyihir, sementara yang lain mengeluarkan tuduhan bahwa mereka adalah penyihir hitam yang sengaja menyembunyikan kemampuannya. Kendati begitu, tidak pernah ada seorang pun yang mengetahui kebenarannya, pun memiliki keberanian untuk mendekati mereka. Seluruh penduduk Rivory memilih untuk mengucilkan mereka, mencemooh para remaja itu dengan berbagai hinaan, serta menimpakan segala macam bentuk kejahatan yang terjadi di dalam kota terhadap mereka.

Puncaknya, kerusuhan besar pun terjadi.

Mereka yang telah diasingkan selama bertahun-tahun itu pun mulai membangun kekuatan dan menamakan diri mereka sebagai kaum Dreq. Diam-diam, mereka menyimpan dendam. Memiliki tekad untuk mengambil alih kota, serta membuktikan bahwa para penyihir pun bisa ditaklukkan oleh orang-orang yang dulunya dianggap terbuang.

Sialnya, mereka benar.

Taehyung mendesah pelan, sama sekali tak mampu untuk terlelap sementara otaknya sibuk memikirkan semua hal itu. Diam-diam ia merutuki perbuatan para warga Rivory kala itu, marah karena semua akar permasalahan ini sebenarnya timbul dari kecurigaan semata. Namun, kendati begitu, apa yang sudah terjadi tak akan mungkin bisa diperbaiki. Waktu tak bisa diputar ulang, dan kini warga kota Rivory harus menerima akibat dari semua kesombongan mereka di masa lalu.

.

Tidak adil, batin Taehyung kesal. Bukankah kami tidak pernah memiliki niatan menghancurkan tempat tinggal mereka? Lantas, kenapa mereka mengganggu kami?

.

Taehyung ingat, dulu ayahnya pernah berkata bahwa beliau menginginkan perdamaian antara warga kota Rivory dan kaum Dreq. Menurutnya, semua kesalahpahaman yang ada hanyalah semata-mata akibat dari ego dan rasa tidak percaya antar kedua belah pihak. Andaikan saja mereka bisa saling berkawan dan mau memahami kelebihan serta kekurangan satu sama lain, tentunya perpecahan bisa dihentikan, bukan?

Dan sekarang, semuanya sudah terlambat. Rivory sudah hancur lebur, kaum Dreq makin berkuasa, dan ia terjebak di sini bersama dengan Jimin tanpa tahu harus berbuat apa. Well, mereka hanya dua remaja berusia delapan belas tahun, kan? Kekuatan sihir Taehyung belumlah sekuat itu, sementara Jimin—

“Tae….”

Taehyung lekas menoleh, dengan cepat mengusap air yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Sepasang pupilnya menangkap sosok Jimin yang sudah terbangun dan sedang meregangkan kedua lengan, membuat sudut-sudut bibirnya serta-merta terangkat tanpa dikomando.

.

Benar juga, pikir Taehyung, mendadak bersyukur bahwa ia tidak sendirian di tempat ini. Selama kami tetap bersama, apa pun pasti bisa kami lewati, bukan? Lupakan Rivory, kami harus tetap melanjutkan hidup.

.

“Taehyung?”

Ng?” Taehyung tersentak dari lamunannya, senyum yang tadi tercetak di wajahnya digantikan oleh cengiran lebar. “Kau lapar tidak?”

“Lumayan,” sahut Jimin sambil menepuk-nepuk perutnya. “Memang kau sempat menyelamatkan makanan?”

“Tidak, sih,” timpal Taehyung tanpa merasa bersalah, yang langsung dibalas dengan tatapan mencela Jimin. “Kita cari sesuatu untuk dimakan?”

Tanpa membuang waktu lagi, mereka pun segera beranjak dari tempat itu. Menelusuri hutan lebih jauh, terkadang sembari memetik beberapa buah berry liar dan memakannya sebagai pengganjal perut. Mentari sudah makin meninggi di langit, bias sinarnya menembus lingkup kanopi dedaunan dan membuat petak-petak cahaya di atas tanah.

Dalam diam, Taehyung dan Jimin terus berjalan sembari berharap bahwa mereka benar-benar sudah lolos dari maut. Keduanya kini sedang menuruni sebuah dataran yang berselimut rumput tebal, mengikuti bunyi gemericik samar yang terdengar sambil mencari-cari mata air atau sungai tempatnya bermuara.

“Haruskah kita beristirahat lagi?” Jimin membuka percakapan sambil membantu Taehyung berpijak pada bebatuan licin, dengan hati-hati menelusuri tepian sungai yang baru saja mereka temukan. Suasana di tempat itu amatlah hening, terlalu damai dan kontras jika dibandingkan dengan semua hal yang baru saja mereka lalui. “Taehyung, bagaimana menurutmu?”

“Oke,” balas Taehyung singkat, tak ingin berdebat panjang lebar karena tenggorokannya saat ini sudah begitu kering. Dengan sigap, ia pun melangkah hingga kedua tungkainya terendam dalam sungai, lantas mengulurkan tangannya untuk menciduk air dan meminumnya tanpa banyak kata. Desah lega kini menguar dari bibirnya, terlebih kala ia mulai mencipratkan air sejuk tersebut ke seluruh wajahnya sambil meminum lebih banyak lagi.

“Omong-omong—“ Jimin memotong keasyikan Taehyung bermain air sembari mengamati sekitarnya. “—ada ikan di sungai ini. Bagaimana kalau kita makan dulu?”

Taehyung lekas mengangguk, membiarkan Jimin menangkapi beberapa ikan berwarna keperakan yang melintas di antara kaki-kaki mereka. Sementara itu, ia sendiri lebih memilih untuk naik ke permukaan dan mulai mengumpulkan beberapa ranting kering. Pikirannya sudah jauh lebih tenang sekarang, terlebih karena—menurut pendapatnya—kaum Dreq tak akan mungkin membuntuti mereka. Ia dan Jimin telah berhasil meloloskan diri. Satu-satunya hal yang perlu ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana cara menemukan jalan menuju Verita—kota sebelah yang terkenal dengan suasana aman dan tenteramnya.

“Sepi sekali di sini. Apa kita sudah benar-benar lolos?”

Seolah mengetahui isi kepala Taehyung, Jimin menyuarakan hal itu seraya membawa beberapa ekor ikan hasil tangkapannya dan mulai membantu Taehyung menyiapkan bara api. “Taehyung, bagaimana kalau mereka tiba-ti—“

“Jangan berpikir yang aneh-aneh,” tandas Taehyung sambil mengerutkan keningnya, berkonsentrasi merapalkan mantra untuk menciptakan api dari ujung telunjuknya. “Oh ya, dan biar aku saja yang membuat apinya. Aku tidak mau nyawa yang sudah susah payah lolos dari maut ini terbuang sia-sia jika kau malah membuat ledakan di sini.”

“Sok,” cibir Jimin sambil menoyor kepala Taehyung dan mendengus kesal. “Oke, aku tahu kalau aku tidak pandai dalam sihir, jadi—“

“Kautahu aku tak bermaksud menyindirmu,” sahut Taehyung tak acuh sambil mengarahkan api yang keluar dari telunjuknya ke tumpukan ranting. Detik berikutnya, ia sudah menerbangkan ikan-ikan yang tadi ditangkap Jimin dan membiarkannya melayang tepat di atas bara api. “Dalam hal membuat ramuan, kau masih yang paling ahli.”

“Ramuan tak butuh sihir,” tandas Jimin, matanya menelisik kondisi di sekitar mereka dengan awas walau hanya sepi yang ia jumpai. “Dan—“

“—dan aku masih tidak bisa membuat ramuan dengan benar, bahkan satu yang sesimpel ramuan tidur sekalipun.” Taehyung berdecak ringan, lantas mendudukkan dirinya di atas sebongkah batu besar sambil mengamati Jimin dengan sebelah alis terangkat. Temannya itu masih terlihat waspada, seolah ia takut ada seseorang yang mungkin bisa meloncat dari balik pepohonan dan mengancam nyawa mereka.

“Jimin.”

“Hm?”

“Santai sedikit, dong,” keluh Taehyung sambil menarik tangan Jimin, memaksanya untuk ikut duduk. “Sejak tadi, kau terlihat begitu tegang. Bukankah sudah kubilang, mereka tidak akan mengejar kita hingga sejauh ini?”

Jimin tidak mengiyakan argumen itu, pun membantahnya secara gamblang. Ia hanya meneguk ludah, lantas mengetuk-ngetukkan sepatu cokelatnya ke atas bebatuan dengan was-was. “Entahlah, hanya saja perasaanku tidak enak.”

“Kau ingin terus berjalan?”

“Tak masalah buatku,” jawab Jimin sambil mengedikkan bahu, lagi-lagi matanya beredar ke deretan pepohonan di belakang mereka. “Tapi kau belum istirahat sejak tadi, kita juga belum makan apa-apa selain beberapa butir buah berry. Jadi…”

Paham dengan maksud sahabatnya itu, Taehyung pun bergeser sedikit ke samping Jimin dan mulai menepuk-nepuk pundaknya. “Berhenti membayangkan sesuatu yang buruk, oke? Sejauh ini kita baik-baik saja, Jimin. Jika kita beruntung, kita bisa tiba di Verita esok hari, dan setelah itu kita akan aman.“

“Tapi, Tae, bagaimana kalau mereka men—“ Jimin menggantungkan perkataannya di tengah jalan, lantas memalingkan wajahnya dari Taehyung. Lidahnya terasa bagai terkunci, tak mampu untuk melanjutkan kata demi kata yang sudah ia rangkai sejak lama. “Sudahlah.”

“Apa maksudmu?”

Jimin hanya menggeleng pelan, mendadak bungkam tanpa penjelasan.

“Jimin… apa ada yang kausembunyikan? Ada yang tidak kuketahui?”

Namun, Jimin sudah beranjak, agaknya tak memedulikan ekspresi kebingungan yang kini menghiasi muka Taehyung. Ia mengedikkan kepalanya ke arah ikan di atas panggangan, meminta Taehyung untuk menurunkannya sebelum makanan mereka berubah menjadi sehitam arang. Tanpa berkata-kata, ia pun lantas meraih salah satu ikan yang ada, meniup-niupnya sebentar, kemudian memakannya dengan secepat kilat. Satu hal yang langsung sukses membuat Taehyung kebingungan, tak tahu harus melakukan apa untuk menanggapi sikap Jimin yang tiba-tiba berubah.

“Kita hanya berdua di tempat ini, Jimin,” ucap Taehyung pelan sambil menggigiti ikannya dan melirik Jimin sekilas. “Aku memercayaimu lebih dari apa pun juga. Kita sudah berteman selama lebih dari sepuluh tahun, dan aku tidak akan membiarkan salah satu dari kita tertangkap atau terluka.”

“Aku tahu.” Jimin mengangguk ringan, lalu bangkit berdiri dan berjalan menyusuri tepian sungai sambil mengamati pohon-pohon berdaun lebar dengan mata memicing tajam. “Kalau kau sudah selesai makan, ayo kita lanjutkan perjalanan.”

Taehyung hanya mengangkat bahu, dengan sedikit tergesa menandaskan porsi makanannya dan meminum beberapa teguk air lagi dari sungai. Tanpa banyak bertanya—atau lebih tepatnya karena tak tahu harus bertanya apa—ia pun beranjak mengikuti Jimin yang sudah kembali menghilang ke balik rimbun pepohonan di tepian sungai. Mereka berjalan dalam keheningan, tanpa ada yang berbicara atau memiliki niat untuk bertukar pikiran. Suasana ini terasa begitu canggung, dan jujur saja, Taehyung tidak menyukainya.

“Jimin….”

Ng?”

Taehyung berlari kecil, menyusul Jimin yang sudah berhenti melangkah beberapa meter di hadapannya. Lamat-lamat, sahabatnya itu pun berbalik dan menyandarkan punggung pada salah satu pohon terdekat, maniknya yang sehitam gelap malam menatap Taehyung dengan penuh keseriusan.

“Ada masalah?”

Jimin mengembuskan napas panjang, tangannya menepuk-nepuk batang pohon tempat ia bersandar. “Kau bisa beristirahat di sini kalau hari sudah gelap nanti. Cabangnya cukup kokoh dan tersembunyi.”

“Dan bagaimana denganmu?” tuntut Taehyung, mendadak sadar dengan kata ‘kau’ alih-alih ‘kita’ yang meluncur keluar dari bibir Jimin. “Sejak tadi aku merasa ada sesuatu yang aneh dan…“

Jimin menghela napas panjang, sibuk berdebat dengan isi hatinya. Di satu sisi, ia ingin mengutarakan segalanya—semua hal yang membebani pikirannya sejak penyerangan itu terjadi dan membuatnya ketakutan setengah mati. Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa mengucapkan realita yang telah terkubur sekian lama mungkin akan membuat Taehyung menjauhinya—satu hal yang, jika menuruti egonya, tak akan pernah ia perbolehkan untuk terjadi.

Tapi Taehyung bisa terluka, bodoh, benak Jimin kembali menyuarakan sebuah alasan yang cukup masuk akal, membuat Jimin makin bimbang karenanya. Lagi pula, sampai kapan kau akan menyimpan rahasia ini? Perihal identitasmu sendiri?

“Ceritakan padaku,” pinta Taehyung dalam bisikan pelan. “Kau berjanji akan selalu jujur padaku, kan? Jadi, ceritakan sa—“

“Kalau kuceritakan, kau mungkin akan marah padaku,” potong Jimin tegas, sorot matanya tampak terluka. “Kau akan langsung membenciku.”

“Aku tak mengerti.”

Taehyung melipat kedua lengannya di depan dada, terlihat kesal. Tanpa memutus kontak mata mereka, ia mengambil satu langkah maju mendekati Jimin dan mendengus pelan. “Jangan konyol, Jimin. Aku percaya padamu, lebih dari apa pun juga.”

“Kau memercayai orang yang salah,” lirih Jimin sambil menundukkan wajahnya. “Selama ini, apa kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh pada diriku? Sesuatu yang berbeda?”

Aneh? Berbeda?

.

Pertanyaan Jimin barusan membuat Taehyung bungkam; kali ini tak berani langsung melontarkan jawaban. Tanpa perlu diminta, otaknya pun langsung menyodorkan beberapa kepingan memori Taehyung semasa masih kecil dulu, saat-saat ketika ia masih berumur tujuh tahun dan baru saja masuk sekolah.

Kala itu, Jimin adalah teman sebangkunya. Dengan rambut hitam—jauh berbeda dari anak-anak lain yang berambut cerah seperti Taehyung—dan iris sekelam langit malam, ia terlihat begitu berbeda jika dibandingkan dengan teman-teman Taehyung yang lain. Namun, alih-alih menjauhinya atau meminta tempat duduk lain, Taehyung malah menyapa teman barunya itu dengan ceria dan langsung mengajak Jimin mengobrol tanpa henti sepanjang hari.

Mereka bersahabat dekat sejak saat itu, nyaris tak pernah terpisahkan dalam keadaan apa pun juga. Bisa dibilang, Taehyung mengetahui semua hal tentang Jimin—mulai dari fakta bahwa ia dulu ditinggal di panti asuhan kota tanpa orang tua, kemampuannya yang parah dalam merapal mantra, hingga keahliannya membuat berbagai macam ramuan. Jimin mungkin memang bukan penyihir yang andal, tetapi ia tetap teman terbaik yang dimiliki Taehyung. Ia tak pernah keberatan dengan hal itu sampai—

.

“K-kau bercanda, ‘kan?”

.

—sampai hari ini tiba dan Taehyung pun mulai memikirkan semua perbedaan yang sebenarnya selalu ada dalam diri Jimin.

Sahabatnya itu bahkan masih kesusahan dalam menerbangkan benda-benda—satu mantra sederhana yang seharusnya bisa dilakukan bocah berumur sepuluh tahun sekalipun. Ia bisa membuat ramuan dengan baik, tapi Taehyung ingat benar perkataan Jimin tadi bahwa Ramuan adalah satu-satunya cabang ilmu yang tak perlu melibatkan kekuatan sihir. Selain itu, bukankah penampilan Jimin sendiri juga sudah mengatakan segalanya? Selama ini, Taehyung selalu mengira bahwa rambut hitam dan iris gelap itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dirisaukan. Toh, tak seorang pun warga kota yang menaruh curiga berlebihan pada perbedaan dalam diri Jimin—sebagian karena anak itu memang tak pernah membuat masalah, dan setengahnya lagi karena mereka selalu bersimpati pada status Jimin yang sebatang kara. Namun, bagaimana kalau ternyata….

“Jimin… kau bukan….”

“Aku pun berharap begitu,” bisik Jimin sambil membuang muka, kakinya bergerak-gerak gelisah di atas guguran daun-daun yang tersebar di sana. “Aku selalu berharap kalau aku bukan bagian dari mereka, Taehyung. Tapi… aku bisa apa?”

Taehyung menggelengkan kepalanya, tak mau percaya dengan semua fakta yang baru saja terucap. Sudah cukup ia menderita hari ini. Ia tak mau mendengar apa pun yang berhubungan dengan Rivory atau kaum Dreq lagi. Ia hanya ingin kabur dari semua ini, melupakan semua kejadian buruk yang baru saja ia lewati, dan…

Damn!

Mengapa Jimin harus membongkar segalanya sekarang?

“Kau berbohong, ‘kan?”

“Kau tahu aku benar, Tae… dan kau juga tahu bahwa tak ada gunanya menyangkal semua ini. Aku bagian dari kaum Dreq dan—“

“JANGAN SEBUT NAMA ITU!” bentak Taehyung, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. “Tolong, jangan sebut nama mereka. Aku membenci mereka, Jimin. Mereka yang menghancurkan kotaku, mereka pula yang membunuh ayahku. Tetapi, aku tahu kalau aku tak akan pernah bisa membencimu. A-aku…”

“Aku tahu ini rumit.” Jimin mengacak rambutnya dengan sebelah tangan, kepalanya terangkat untuk menatap Taehyung. “Dan aku tak melarangmu untuk membenciku. Kau boleh melanjutkan perjalanan ini sendiri. Jangan pedulikan aku, Taehyung. Aku—”

“Tapi aku memercayaimu, bodoh!” sentak Taehyung lagi, kepalan tangannya kini mendarat pada salah satu batang pohon sebagai bentuk luapan kekesalannya. “Aku percaya padamu, dan aku tahu ada alasan di balik semua ini, benar kan?!”

Jimin tidak mengangguk, tidak pula mengiyakan pertanyaan Taehyung. Ia hanya memainkan ujung bajunya yang sudah kotor, pupilnya berulang kali berkelebat ke segala penjuru hutan.

“Jawab aku, Jimin…” pinta Taehyung lemah sambil meletakkan kedua tangannya di atas bahu sang sahabat. “Aku tahu kau punya jawaban, jadi—“

 .

KRAAAK!

 .

Baik Jimin maupun Taehyung kontan terlonjak kaget, dengan segera melupakan semua konversasi serius yang tadi sempat terbentuk di antara mereka. Keduanya dengan gugup menolehkan muka, berusaha mencari dari mana suara tersebut berasal. Keheningan yang melingkupi mereka tampaknya kian mencekam, terlebih karena gema dari suara dahan yang dipatahkan tadi masih membekas di gendang telinga mereka.

“M-mungkin hewan… yeah, mungkin itu monyet atau apalah… iya, ‘kan, Jimin?”

Jimin tidak menjawab. Ia hanya melepaskan cengkeraman Taehyung dari pundaknya, lantas—mengabaikan desisan panik Taehyung—mulai melangkah menuju beberapa pohon yang tersebar dalam radius beberapa meter di sekeliling mereka. Ranting-ranting dan dedaunan di pohon itu bergoyang mencurigakan, kali ini ditemani bunyi gersak keras dan debum sepatu bot yang menginjak permukaan tanah.

“Jimin!” Taehyung kembali mendesis, lengannya terulur untuk menarik Jimin kembali ke arahnya. Kepanikan merambati tubuhnya, menghapus semua realita yang tadi sempat dipaparkan Jimin kepada dirinya. Masa bodoh dengan dari kaum mana Jimin sebenarnya berasal, Taehyung tetap percaya padanya. Ia percaya bahwa Jimin tak akan menyakitinya, percaya bahwa sahabatnya itu tidak akan mengorbankan dirinya kepada siapa pun yang kini tengah membuntuti mereka.

“Mereka di sini.” Jimin balas berbisik sambil berdiri mematung di tempat, postur tubuhnya tampak siaga dalam menghadapi serangan apa pun yang akan datang. “Pergilah dari sini, Taehyung.”

“Aku tak mungkin meninggalkanmu!”

“Jangan bodoh, kau bisa mati dan—“

Ucapan Jimin terhenti, tepat bersamaan dengan suara ‘kraaak’ keras lain yang menggemakan kengerian di telinga mereka dan bunyi senapan dikokang. Tahu bahwa satu kesalahan saja mungkin dapat membawa kematian dalam sekejap mata, Jimin pun lekas menutup mulutnya rapat-rapat dan beringsut mendekati Taehyung.

“Tae… maafkan aku.”

Taehyung menggeleng pelan sebagai jawaban, menolak permintaan maaf Jimin yang dirasanya tidak perlu. Sama seperti Jimin, pupilnya kini ikut waspada mengawasi pohon besar yang menjadi sumber kecurigaan mereka, sepenuh hati berharap agar penyerang mereka hanya sendirian dan bisa ditaklukan dengan mudah.

“Ini semua salahku.”

Di tengah semua rasa takut yang mencekam itu, Jimin tiba-tiba berujar pelan sambil menggenggam tangan Taehyung erat-erat. Iris hitamnya memancarkan rasa bersalah yang teramat sangat, membuat Taehyung menjingkatkan sebelah alisnya karena tak paham.

“Apa maksudmu?”

“Ini semua salahku, Taehyung. Salahku karena mereka pasti akan men—“

.

“Sudah cukup obrolan tak pentingnya, anak-anak.”

.

Jantung Taehyung serasa diremas-remas kala suara itu menembus indra pendengaran mereka, diikuti oleh derap langkah seorang pria yang wajahnya tertutup oleh topeng keperakan berhias simbol-simbol kuno yang tak dipahami oleh Taehyung. Senapan lelaki itu diacungkan tepat ke arah mereka, siap untuk membunuh entah Taehyung atau Jimin jikalau pelatuknya sampai ditarik. Meneguk ludah, Taehyung pun balik mencengkeram lengan Jimin seraya menegakkan kepalanya tanpa rasa gentar. Ayahnya selalu mengajari Taehyung untuk menjadi seseorang yang pemberani, bukan sebaliknya.

“Sungguh mengharukan.” Lelaki itu terkekeh, jemarinya bergerak untuk melepas simpul yang menahan topeng itu ke wajahnya. Dalam hitungan detik saja, topeng keperakan itu sudah jatuh terlepas, menampilkan wajah seorang laki-laki tua yang memiliki bentuk mata dan hidung amat serupa dengan Jimin.

Cengkeraman Taehyung pada tangan Jimin pun sontak melemas.

“Tidakkah ini saat yang tepat bagimu untuk kembali, Jimin? Kau tidak merindukan ayahmu?”

“A-ayah? Jimin dia—”

“AKU TIDAK PUNYA AYAH!” geram Jimin, membuat Taehyung terlonjak kaget dan terpaksa ikut melangkah mundur mengikuti tarikan tangan Jimin. “Aku boleh serupa dengan kalian, tapi kaum Dreq bukanlah keluargaku!”

“Rambut dan iris hitam itu…” Lelaki yang baru saja mengakui identitasnya sebagai ayah Jimin itu berdecak, lantas mengeluarkan tawa membahana yang penuh cemooh. “Kau tak bisa sihir, Nak, sama seperti kami! Dan lihat apa yang terjadi? Rivory—kota yang katanya dipenuhi penyihir andal itu—bahkan tak mampu melawan kekuatan kami, bukan?“

“KAU SALAH!!” Kali ini, ganti Taehyung yang balas berteriak, dengan penuh emosi mengangkat tangannya dan mulai mengeluarkan energi sihirnya dari sana. “KAU SALAH BESAR JIKA BERKATA BAHWA JIMIN TAK BISA APA-APA!”

“Oh, ya?” Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya, menampilkan ekspresi berpura-pura bingung. “Coba kita dengar bocah sok ini. Rupamu cukup familiar, apa kau anak walikota Rivory? Aku membunuh ayahmu pagi tadi, Nak. Ternyata sang pemimpin kota pun tak sehebat itu, ya?”

Mendengar ayahnya disebut-sebut, amarah Taehyung pun tampaknya makin memuncak hingga menyentuh titik tertinggi. Segumpal sinar kemerahan berpusar di atas telapak tangannya, siap digunakan untuk menyerang kapan saja.

“Jangan sebut ayahku dengan mulut kotor itu, pecundang!” bentak Taehyung sambil melangkah maju, mengabaikan lengan Jimin yang sekuat tenaga berusaha menahannya tetap di tempat. “Dan asal tahu saja, anakmu itu terlalu hebat untuk menjadi bagian dari kaum seperti kalian!”

“Taehyung, jangan!”

“Kau bilang kaum Dreq tak bisa sihir?” Taehyung menampik tangan Jimin menjauh, dengan berani memangkas jarak yang terbentang antara dirinya dan ayah Jimin hingga tersisa satu meter saja. “Jimin bisa melakukannya! Ia mungkin tak hebat, ia mungkin butuh waktu lebih lama untuk belajar, tetapi ia bisa!”

“Apa gunanya?” Pria itu mendengus, ujung senapannya diangkat hingga menyentuh pelipis Taehyung. “Kami juga tahu bahwa—dengan latihan dan usaha—kami mungkin bisa melakukan beberapa sihir sederhana. Cih, tapi warga kotamu sudah terlanjur meremehkan kami, bukan? Dan lihat jadi apa kami sekarang. Tanpa sihir pun—“

Taehyung memotong ucapan itu dengan mengarahkan sinar di tangannya hingga menghantam ulu hati ayah Jimin. Diikuti suara mengerang keras, tubuh tinggi tegap itu pun terjungkal jatuh ke belakang. Darah keluar dari sela-sela bibirnya, sementara lelaki tua itu terus terbatuk sambil melontarkan sumpah serapah. Manik hitamnya memelototi Taehyung dengan bengis, senapannya sudah terangkat untuk membalas perlakuan yang baru saja ia terima.

“Aku tak tahu apa maumu meninggalkan Jimin di Rivory saat ia masih kecil, tetapi kurasa ucapan Jimin tadi ada benarnya.” Taehyung kembali memunculkan sinar lain dari telapak tangannya, kali ini berwarna biru cerah dan menyilaukan. “Ia tak butuh ayah sepertimu, jadi berhentilah menggganggu hidup kami!”

.

“ARGH!!”

 .

DORRR!!

 .

“TAEHYUNG!”

 .

Segalanya terjadi dengan begitu cepat. Bersamaan dengan meluncurnya sinar tersebut ke arah ayah Jimin, suara tembakan lain terdengar menggema di seluruh hutan. Sinar kebiruan dari tangan Taehyung pun seketika kehilangan kendali, melesat hingga menubruk pepohonan dan merobohkan beberapa batang pohon yang cukup besar. Suara debam keras terdengar di sana-sini, namun semua itu tak dapat dibandingkan dengan teriakan Jimin saat menyaksikan tubuh Taehyung ambruk ke atas tanah.

“TAEHYUNG!! SIALAN! TAEHYUNG, BERTAHANLAH!!”

“Kupikir Ketua butuh bantuan.” Sebuah suara lain menyela kepanikan Jimin dan derai tawa ayahnya, diikuti langkah-langkah sepatu bot kulit lain. Seorang pria lain dari kaum Dreq muncul di antara mereka sambil membelai senapannya, manik kelamnya memicing ke arah Jimin yang sedang terduduk di samping Taehyung.

“Bantuan yang cukup tepat waktu,” balas ayah Jimin sambil bangkit berdiri dan meludahkan darah di mulutnya ke atas tanah. “Hei, Jimin, ayo kita—“

“SUDAH KUBILANG AKU TAK PUNYA AYAH!” raung Jimin sambil melangkah menghampiri ayahnya, tanpa takut mendorong tubuh tegap itu hingga nyaris terjatuh. Ia tak mungkin bisa menahan semua emosinya, tak peduli walau lawannya saat ini adalah sang ayah sendiri. Mendengar sahabatnya itu mengerang keras sambil menahan sakit akibat luka tembakan di bahunya membuat hati Jimin serasa tercabik. Matanya memanas, segumpal air menggantung di pelupuk matanya kala ia menyaksikan noda darah yang mulai melebar dan menghiasi kemeja putih Taehyung.

Karena sejujurnya, Jimin selalu menganggap Taehyung lebih dari sekadar sahabat untuknya. Hidup tanpa keluarga sejak kecil telah membuat Jimin lebih menghargai betapa berartinya sebuah persahabatan, lebih dari apa pun juga. Bagi Jimin, Taehyung adalah keluarganya. Orang yang tumbuh besar bersamanya, yang mengajarinya segala hal, yang kadang menemaninya di kala malam datang dan ia terlalu takut untuk tidur sendiri, serta yang selalu berdiri di sisinya kala ia diejek oleh anak-anak lain.

Tak hanya itu, Taehyung pun selalu percaya padanya. Ia bahkan masih sempat membela Jimin barusan, kendati ia tahu persis bahwa Jimin adalah seorang anak dari pemimpin kaum Dreq. Jimin menghargai semua hal itu, mengetahui secara pasti bahwa harga dari pengorbanan Taehyung barusan tidaklah murah.

Dan ia siap membayarnya. Siap membalas semua kebaikan Taehyung, karena Jimin tahu ia tak mungkin bisa tetap hidup sementara sahabatnya meregang nyawa. Bahkan, jikalau itu artinya ia harus melawan sang ayah sendiri, ia tak akan kabur. Atau lebih tepatnya, ia tak akan mungkin bisa untuk kabur.

Terkadang takdir memang begitu kejam.

Sejak awal—sama seperti Taehyung yang tahu bahwa warga Rivory tidak mungkin bisa lari dari dendam kaum Dreq—Jimin pun tahu bahwa ia tidak akan bisa mengelak dari takdirnya sebagai salah satu keturunan kaum itu. Masa-masa ketika ia bermimpi untuk kabur, melepaskan semua ikatan, serta hidup tenang di tempat lain sudah berakhir. Inilah realitanya, dan Jimin tahu—baik cepat atau lambat—bahwa ia harus menghadapi ini semua.

“Bunuh saja aku, Ayah,” bisik Jimin sambil melepaskan cengkeramannya pada kerah baju sang ayah, tatapannya penuh rasa jijik. “Aku tak punya keluarga di kaum Dreq, karena keluarga bukanlah seseorang yang membuangku di masa kecil dan malah menyuruhku untuk diam-diam mengamati warga kota Rivory. Ayah menyuruhku untuk menghancurkan mereka dari dalam? Asal Ayah tahu saja, warga Rivory lebih baik dari—“

 .

PLAAAK!!

 .

Tamparan itu dilayangkan tanpa peringatan, membuat pipi Jimin berdenyut-denyut sementara gigi-giginya terasa amat ngilu. Namun, seolah tak memedulikan rasa sakit yang baru saja ia terima, Jimin malah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan menantang sang ayah.

“Anak kurang ajar!”

“Perlu berapa kali kubilang bahwa aku bukan anakmu?” decak Jimin sambil mengepalkan kedua tangannya. “Satu-satunya keluarga yang kuakui adalah Taehyung dan para warga kota yang menerimaku dengan apa adanya, bukan seorang ayah yang berhati licik!”

“Merekalah yang dulu mengusir kita, Anak Bodoh!”

Jimin menarik sudut-sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Dulu, Ayah. Sekarang, kondisinya berbeda, dan aku tahu bahwa warga Rivory pun diam-diam menyesali kesombongan mereka.”

“Hah! Penyesalan, ya? Apa menurutmu itu cukup untuk membalas semua dendam kita di masa lalu?”

“Aku tak tahu. Yang jelas, aku hanya tahu kalau semua ini begitu konyol,” balas Jimin seraya melangkah mundur dan melirik Taehyung yang tergeletak di atas tanah dari sudut matanya. Ia tahu bahwa sahabatnya itu masih hidup dari deru napasnya yang terengah, dan ia juga bisa menebak bahwa sang ayah serta rekannya yang berdiri diam di sudut sana sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghabisi Taehyung dan melumpuhkan dirinya.

Singkat kata, mereka benar-benar sudah bertemu jalan buntu.

“Ayah ingin tahu mengapa?” Jimin terus berbicara, dengan hati-hati mengamati setiap detail pergerakan yang tercipta. “Karena berpuluh-puluh tahun sudah berlalu, dan kalian masih menyimpan dendam layaknya anak kecil. Awalnya, ketika aku tiba di Rivory, aku pun membenci mereka yang bisa melakukan sihir. Tapi, Taehyung mengubahku. Ia membuatku sadar bahwa perbedaan itu bukan sebuah masalah.”

“Hentikan omong kosong ini, Jimin!”

“Tidak, Ayah yang hentikan!” Jimin menarik napas dalam, tubuhnya menegang kala sang ayah dan rekannya saling bertukar kontak mata. “Aku tak peduli jika pada akhirnya aku tak bisa mengubah jalan pikiran Ayah, tapi aku hanya ingin Ayah tahu kalau aku tidak akan menyerah dan—“

“SEKARANG!”

Bersamaan dengan kode yang diberikan sang ayah pada rekannya dan letusan tembakan lain, Jimin pun melompat ke arah Taehyung dan menghalangi peluru yang meluncur itu dengan tubuhnya sendiri. Membiarkan timah panas tersebut menembus kulitnya tanpa ampun, tepat pada perut Jimin.

 .

BRUUK!

 .

Ia terjatuh tepat di samping Taehyung, tubuh mereka terbaring bersisian di atas tanah hutan yang lembap. Samar-samar—dalam detak-detak terakhir kehidupannya—Jimin bisa mendengar teriakan murka ayahnya serta bisikan lemah Taehyung yang mengatakan:

“A-aku tak pernah… m-membencimu. Terima k-kasih, s… sahabatku.”

Dan tembakan lain pun terdengar, seriring dengan suara mengerang keras yang terlepas dari bibir Taehyung dan meredupnya binar mata itu. Kali ini, Jimin tak berteriak atau menangis lagi, karena ia sendiri pun tahu kalau waktunya sudah dekat. Tarikan napasnya kian terputus-putus, pun dengan luka di perutnya yang telah mengucurkan darah semakin banyak.

Sudah berakhir.

Mereka memang tak pernah bisa melarikan diri dari apa yang sudah digariskan oleh pena kehidupan, tetapi setidaknya, Jimin masih menyimpan setitik harapan dalam embusan terakhir napas hidupnya. Harapan agar semuanya berubah menjadi lebih baik, agar—paling tidak—apa yang ia dan Taehyung alami dapat mengubah persepsi sebagian besar orang mengenai dendam dan perbedaan.

Itu saja sudah cukup

Maka, dengan lemah, Jimin pun mengulurkan tangannya untuk menggapai jemari Taehyung, menggenggamnya erat-erat sembari memejamkan kedua kelopak mata. Kegelapan pun mengambil alih penglihatan Jimin, membuatnya sadar bahwa ia sudah benar-benar harus pergi menyusul Taehyung sekarang. Karena layaknya sepasang sahabat yang selalu bersama dalam segala hal, kali ini pun Jimin diam-diam bersyukur karena ia tak perlu berduka dan menangisi kepergian Taehyung. Mereka akan terus bersama, dan…

 .

…tunggu aku di sana, ya… Taehyung.

.

.

.

—dan aku hanya ingin Ayah tahu; kalau sejatinya, yang kita semua perlukan hanyalah rasa saling memahami, keinginan untuk memulai segalanya dari awal, serta kemauan untuk membangun sebuah persahabatan.

.

Maka, semuanya pun pasti akan berakhir bahagia.      

.

Seperti aku dan Taehyung.

 fin.

A/N:

HAHAHAHAH INI APAAN SIH /malu /kabur/

niat hati mau bikin action tapi kayaknya emang action is not my style, udah gitu ini fic pertama make dua bocah itu, entah kenapa akhirannya malah angst -__-

yah se-fail apa pun ini, komentar tetap dinanti ya bagi yang sudah baca!

and I’l be back with some BAP fiction  XD

see ya! 🙂

Iklan

84 tanggapan untuk “[Oneshot] Can’t Escape”

  1. AAAAAAKKKKKK V-JIMIN AAAAAAAKKKKKK aku belum jadi ngelanjutin draft Namjae gara2 ini ;__; (dan gara2 grup line juga sih) jadi jangan salahin ak kalo 95line-nya keundur lagi yaaa /ditendang/

    Sebelumnya, ak mau ngomong ini komen ak ketik sambil baca. Beberapa paragraf baca, langsung ketik komen di notes. Jadi, jangan heran kalo tiba2 rada gak nyambung yaaaa~~~

    HAH kenapa di sini Taehyung jadi bijak+kuat (?)+berandalan? O.o kenapa Jimin seolah-olah jadi laki-laki lemah?? Di pikiranku ini malah jadi semacam……..boysxboys? /Ditendang Jimin/ abisnya ini kan OTP favorit aku, dan mereka di sini terlalu so sweet buat sekedar jadi temen :/ Apalagi pas scene Taehyung nepuk pundaknya Jimin….. AKU TIDAK SANGGUP DENGAN SEMUA INI

    Oke, halfway baca ini, berbagai macam plot ending sudah mulai berkeliaran… Tapi yg paling kepikiran adalah: JANGAN-JANGAN SI JIMIN INI KAUM DERQ? Abisnya dia sendiri bilang dia gak terlalu pinter dalam sihir, dan pas bagian Tae mau ngejelasin kemampuannya Jimin, dengan jahatnya kamu kasih tanda “-” gimana aku gak kepikiran kayal gitu?

    Oke, lanjut baca lagi

    ANJIR GUE BENER
    Jimin-aaaaa~~ T-T why Jimin why? Kenapa mereka harus setragis ini? Kenapa?? ((nggak nyadar ff sendiri)) …………owe speechless deh pas bagian ini…….kenapa Jimin harus jadi bagian dari mereka…../nangis di pelukan Sungmin/ aku pengen nangis….Jimin-aaaa

    WTH BAPAKNYA JIMIN SIAPA SIH? Aku gak bisa komen panjang2 pas bagian ending since aku marah sama bapaknya Jimin+ mau nangis liat Taehyung sama Jimin + terharu sama ucapannya Jimin T-T yah untungnya mereka bisa dapet hepi ending deh di dunia sana /plaak/

    Oke, sekian dulu ya meeeer~ maaf kalo gak panjang2. Kamu tau aku kena WB untuk hal2 komen kayak gini .____. Jadi, mohon dimaafkan……

    AND I’LL WAIT FOR YOUR BAP FICTION ^3^
    P.S.: jangan dibuat angst plis, owe belum siap /apa

    DADAH AMEER~~ 95line-nya ditunggu aja yaaaa~~~

    Suka

    1. HALO TIWIIIII :* duh kamu cepat sekali datengnyaaaa~ dan betewe maap ya aku mengalihkan fokusmu dari draft namjae duh -__- harusnya owe tak publish sekarang karena 95 line jadi ketunda kan T,T

      Haha itu….sebenernya itu…. tadinya sih karakter mereka ga begitu wi, tapi karena harus menyesuaikan dengan jalan cerita (?) terpaksalah Taehyung jadi (sok) kuat di sini dan Jimin jadi pihak terbully ((peluk saudara kembar beda tiga hariku)) xD

      Anyway, selamat yaaaa berhasil nebak XD aku emang hobi bikin orang penasaran (kicked) makanya sengaja dipotong pas itu~
      dan yah you know me so well kan wi…. aku kalo oneshot tuh selalu punya kecenderungan jadi angst dan pas baca ulang ini aja aku semacam “sial kamu apain tadi mereka berdua mer” -__-

      bapaknya terserah deh kamu bayangin siapa aja boyeh, ngeselin emang dia huh, makanya aku ga insert nama ((dan karena bingung juga sih .__.))

      okaaaay, nanti kalo yg biepi udah aku tag deh pasti ehehehe 😀
      ditunggu banget ya namjae dan 95 lineee! BYEEEE TIWIIII :*

      Suka

    1. HADOH, AKU UDAH SAMPE KATA FIN, MAU KOMEN LALU MODEM KEGENCET!!! WOOOH! KESEEEL!! AKU MAU KOMEN APA TADI???

      Bentar, diinget-inget dulu…

      Oh iya, jadi ini fic angst yang katamu itu.. DAN INI BENERAN DIJADIIN ANGST! MER, KENAPA HARUS TAEHYUNG SAMA JIMIN??! HUHU..

      Aduh, dunia Amer memang sesekali kejam. Masa anak cimit kayak kalian udah dibikin meniun sih, padahal perjalanan kalian masih panjang, dan.. AKU BELOM KETEMU KALIAN JADI JANGAN MATI DULU, OKE!

      Mer, ini ada beberapa kali nemu kata ‘cicit burung’ ‘kicau burung’ lalu pikiranku malah ini latarnya di pasar burung apa gimana kok burung ada dimana-mana /salah fokus/

      Taehyung jadi setrong man gini yah, berasa Jimin adeknya aja. Huwee..Tae tae si anak kucing bisa manly abis euy! Jimin disini minta dipeluuuukk, ga tau kenapa… PELUK DUA-DUANYA DEH! /maunya

      AACCKK..KOK JIMIN-TAEHYUNG MOMENTNYA BEGINI BANGET SIH MER! MANIS SEKALEH =) Bener mereka ga lari-larian rebutan permen kapas kayak di imajinasiku. Tapi kabur bareng, Taehyung nyembuhin luka Jimin, nangkep ikan bareng, dan yang terakhir mati bareng, Mer, cerita Romeo-Julliet aja mereka ga barengan matinya, tapi ini.. /gigit bantal

      Haha, ini semacam ada event bities week tanpa direncanakan yah.. Author ifk pada keranjingan 7 lelaki tampan ini. Yaudah, aku rapopo. Diabet, diabet dah!

      GAK USAH DITANYA DEH YA, AKU SELALU SUKA SAMA TULISAN KAMU YANG AWESOME SIAPAPUN CASTNYA. TETEP SEMANGAT NULIS YA AMER IMOET, HEART, HEART ❤ ❤ ❤

      Suka

      1. KAK DHINIII!! ^^
        ah kakak make acara modem kegencet aja komennya panjang banget dan bikin ngakak xD gimana kalo ga kegencet? ((terus kak dhini ninggalin komen oneshot))

        ehe kak dhini harus tau kalo aku ini pecinta oneshot angst HAHAHAH seumur-umur oneshot aku yang happy ending kayaknya baru dua apa tiga, itupun tengahnya angst ((HIDUP ANGST))
        dan kenapa kakak ngatain mereka cimit… mereka seumur saya kak….. ((berubah jadi cimit sambil pasang aegyo))

        Pasar burung ya……. KAK DHINI JEBAL INI KAN HUTAN T_T suara burung mah biasa, suara macan sekalian juga boleh deh di backsound :’) tapi pasar burung…. /ngakak terjungkal/
        btw jangan ketipu ya kak karena ini aslinya OOC -__- mana ada mah taehyung setrong begitu aslinya HAHAH, dan jimin emang minta dipeluk abis nih, si saudara kembar beda tiga hariku (?)

        pfft, lebih sweet dari romeo-julliet ya? abis aku juga lemah kak liat foto2 mereka yang unyu abis, bayangin aja kalo dulu owe SMA ada temen2 cowok macem begini…….

        iyap ini kita keranjingan mereka, jadi jangan bosen ya kakaaak XD
        ANYWAY MAKASIH BANYAAAAK!! DAN MAKASIH UDAH DISEBUT IMUT IHIK ((pasang aegyo bareng v))
        see ya kak Dhini! 😀

        Suka

  2. AKU NANGIS HUHUHU

    Amer… Kamu yang tanggung jawab kalo setelah baca ff ini aku jadi suka taehyung dan ngeship mereka berdua.. Padahal awalnya aku ngeship vhope

    Eh tapi aku ga nyangka endingnya begitu ternyata jimin…

    Baguuus mer, keep writing, aku akan selalu membacaaa ^^

    Suka

    1. Halo adeeee!!
      ahay ayo ship merekaaaa! iya nih di tl-ku kebanyakan vkook apa vhope, tapi aku setia (?) pada vjimin karena mereka ini kan temen seangkatan aku xDD

      yep, makasih ya udah bacaaaa 😀

      Suka

  3. WAAAAH TAEHYUNG!!! FINALLY KAK AMER BUAT FF BIASKU!! AND JIMIN IS MY 2ND FAVORITE MEMBER IN BTS HAHAHAHA! #capsjebol

    kak, aku jarang2 lho mau baca ff action tapi ini karena kak amer yang buat aku bela-belain baca dan SIAPA BILANG INI FAIL KAK?! bahkan aku yang gak biasanya baca yang kayak gini aja bisa nahan napas berkali-kali saking kerennya kakak menyusun kata demi kata. ketegangan yang dirasain jimin dan taehyung itu bener-bener nular juga ke aku sampe aku ikutan merinding dan bayangin yang nggak-nggak kayak “apa iya ada yang ngejar mereka? cepat lari sekarang!!”

    dan gatau kenapa aku ngebayangin ayahnya jimin itu… yoochun. HAHAHAHA menurutku mereka mirip. pipinya rada2 tembem gitu soalnya xD tapi masa yoochun jadi jahat sih, jangan dong… (?)

    aku gatau nama kopelnya taehyung sama jimin apa. sebut aja taemin /itumah anggota shinee kkk~/ aura persahabatan taemin (?) couple itu terasa sekali. mungkin karena faktor mereka yang seumuran ya? hehe. kalo aslinya jimin yang lebih tua beberapa bulan kan? tapi disini aku kok ngerasa taehyung yang lebih dewasa ya? hihihi anak tuyul satu itu :3

    gimana bilangnya ya kak. ini aja ff action kakak yang pertama udah keren apalagi yang berikut-berikutnya? jadikan itu style kakak juga dong, hohoho~

    what?! next kakak mau buat BAP? YEAAAAY!!! akhirnya kakak kesemsem juga sama mereka (eh uta nggak nih?). dituggu ya kak~ fighting! ♥

    Suka

    1. IYAAAP AKHIRNYA AKU KESEMSEM JUGA SAMA DUA BOCAH 95 INI HIHH /lemparin tae sama jimin make cinta/ sebenernya mah mereka jauh dari kata bias aku, tapi entah kenapa belakangan ini mereka sok merebut perhatianku /dilempar/

      er……. syukurlah deh kalo kamu bilang ini tak fail /menangis terharu di pundak jimin/ soalnya aku berasa bego banget kalo nulis action, semacam awkward gitu hahahah…. untunglah kamu ikut tegang pas baca :’)

      ng, yoochun? /mikir/ bisa sih bisa, setelah kamu bilang pun aku merasa kalo mereka rada mirip xD etapi kasian yoochun jadi jahat dimari -__- itu mah si bapak ngeselin abis, aku aja ngebayangin dia sebagai orang tua kumisan kaya tentara kok -__-

      yap, jimin yang lebih tua~ tapi emang karakter mereka di sini OOC sih… aku juga baru sadar pas ngetiknya selesai tbh… aslinya mah taehyung tuyul ya tuyul aja, absurd gitu xD

      haha oke okee, semoga deh bisa bikin action lagi kapan kapan muehehe
      makasih ya udah bacaaa, dan yap ditunggu saja biepi-nya semoga nggak stuck ._.v

      makasih banyaaak! 😀

      Suka

    1. AMEER, hai hai haiii…. 😀
      akhirnya aku bisa dateng ke fictmu lagi. YOSH INI BITIES LAGI! XD
      aku ga nyangka kamu bisa bikin action, Mer! /digamparAmer/ :v
      abisnya kamu udah kadung terkenal sbg spesialis fluffy fict dimataku. /tsaaah/ DAN AKU SENENG BANGET TIBA2 TAHU KAMU BAWA FICT ACTION MACEM GINII, SUMPAH! (peluk Amer) XD

      INI BUKAN FAIL, MER! KAMU SUKSES BIKIN AKU MAKIN JATUH CINTA SM SI TAEHYUNG! /salahfokus/
      5600 words.nya ga berasa kalo baca tulisan kamu. muahaha. udah kayak larut gitu aja dalam deretan kata2mu yang semakin membuatku jatuh cinta. /apadeh/ :O

      feelnya dapet bangeeeettt! duh, si Taehyung kenapa jadi (sok) kuat gitu sih? dia berasa lebih dewasa juga. ahhaha. dan si Jimiiiinn.. oh, dia unyu2 banget /salahfokuslagi/ XD

      MOMEN MEREKA BERDUA BIKIN AKU NGIRI, AMEEEERRR!!! /kicked/
      mereka bener2 keliatan cocok di ceritamu~ hiks. kapan giliranku? 😀

      YOSH, sepanjang apapun fict bikinanmu, aku ga pernah nyesel bacanya Mer. kamu pasti bikin sesuatu yang menarik di sana as always. (y)
      pertahankan, Mer! gayamu, ciri khas tulisanmu! I LIKE IT! XD
      AKU MASIH MENUNGGU SUGA BIKINANMU, AMEEER! 😀 (dan Amer pun emosi) XD

      okedeh, see you again yak, Amer! ^^
      keep writing!

      Riris, 🙂

      Suka

      1. KAK RIRIS HALOOOOOO!!! hai hai dan maaf buat balesan yang super telat ini ya huhu, adukan saja aku ke mas suga, kalo dia yg marahin aku rela deh (?)

        haha aku sendiri pun ganyangka kak bisa bikin action ini tuh semacam genre yg susah banget buat aku huhu 😦 jadi meskipun gagal gagal dikit, ya setidaknya ini agak bisa dibilang action dah xD

        hem iya ini waktu nulis kayaknya aku kebalik ngasih karakter taehyung sama jimin entah kenapa .____. dan sadarnya juga baru belakangan jadi yasudahlah, kadang diri ini emang hobi bikin yg ooc xDD

        hihi anyway makasih yaa atas komen super panjangnya ini kak :’D
        see ya kak Riris! :3

        Suka

  4. IGE MWOYA MWOYA MWOYAAAAA

    GA ADA MERK KLENEXX DI RATING, SIALAN AH GUE BERCUCUR AIR MATA……………………..
    KAK AMER MANA HAH? /cari sampe dapet/

    Kak, I know this is ur first action movie but you make this more than I though abt it UWOOOOO~

    Jujur, aku juga rada ga percaya begituan, apalagi aku tipenya 1 tahun lain kelas pisah ya sahabat juga pisah kalo gitu, makanya agak ragu gimana gitu dan disini genrenya pun………
    EW! WITCH LOPE LOPE BANGET SIH.

    Disini semua genre yang kusuka masuk semua, cium dulu yu, sini sini /?
    action, fantasy, crime, family, friendship dapet semua hiks.

    I’ll just let my mouth say one sentence when the fic is already on “THE END” spot, and that is

    “So, I’m gonna let you hear something, ((sebenernya ini lirik lagu juga yang untuk drama week, itung2 aku kasih clue untuk drama weekku HAHAHAHA))

    I LOVE THIS MORE THAN MY FIC.”

    gurlzbeat/vanes

    Suka

    1. Ha…lo Va…nes….. ((takut takut ngumpet di balik Jimin))
      eng ing ung, ini…….. aku juga nggak tau Nes….. menurutku sih ini tak pantas dapet kleenex warning, eh taunya kamu nangis .___. (dilempar) maafin yaaaa, sini sini cup cup aku kasih taehyung deh ((sodorin anak kucing))

      ng betewe ya nes… aku juga ga percaya lho sama yang gituan, entah karena aku belum nemu yang klop atau emang cara pandang aku aja yang beda dari orang2 di sekitarku ((ciyeeeh bahasanya)) tapi karena aku ga percaya itulah, kalo bikin fic friendship jadi semacam menuangkan semua keinginanku kalo punya sahabat deket gitu :’) dulu dua orang yang ngaku jadi sahabatku dua2nya ternyata malah ngomongin aku di belakang dan cuma manfaatin doang ((kenapa jadi curhat)) jadi yuknowlah… kaburnya mah ke ff ini aku xD #akurapopo

      dan kalo kamu bilang ini genre favoritmu semua, favoritku di sini mah cuma angst sama fantasy lol xDD action beneran hal baru dan syukurlah kamu berhasil baca ini tanpa muntah atau ilfil liat adegan aksinya hakhakhak :’)

      anyway makasih banyak ya Vaneees!! SEMANGAT WEEK-WEEKANNYAAAAA :*
      see ya! 😀 ((kabur ke line))

      Suka

  5. YEAAYY nemu fict taehyung lagi (y) aku nggak tau harus komentar apa kak. Ini bener-bener kereeeenn. Persahabatan mereka begitu kuat. Ugh! aku speechless tau nggak! Hahaaaa fict ini sukses bikin aku nangis. Feelnya dapet, diksinya aku suka. Pokoknya idenye kereeenn!!
    “dan aku hanya ingin ayah tahu, kalau sejatinya yang kita semua perlukan hanyalah rasa saling memahami, keinginan untuk memulai segalanya dari awal, serta kemauan untuk membangun sebuah persahabatan maka semuanya pasti akan berakhir bahagia. Seperti aku dan taehyung” SUKA BANGET SAMA KATA-KATA INI >< karena ini pula tangisku semakin menjadi /taehyung, peluk aku T.T/ oh ya, mau buat fict BTS? aku harap castnya Himchaan. yang lain juga gpp sih. terserah kak amer. pokoknya ditunggu fict selanjutnya~

    Suka

    1. Hihi iya taehyung lagi merajalela nih (?) dia populer sekalii xD
      ehe makasih banyak yaaa, aduh jangan nangis dong, sini aku kasih taehyung buat ngepukpuk :’)

      fic bts? fic BAP kali maksud kamu xDD iya ini aku lagi ongoing nulis dan spoiler aja sih castnya ada yongguk sama jongup xD well himchan mungkin kebagian suatu saat nanti karena akhir2 ini dia sering bikin mataku selingkuh -__-

      okaay, ditunggu aja yaaa, makasih banyaak! 😀

      Suka

  6. HALLO AMERRR!!

    ini orang rakjel yang pernah rusuh di guesbuk kamu, inget nggak? inget nggak? (amer pun lupa xD)

    walaupun kamu nggak merekomendasikan lagu sebagai sountrack tapi aku punya sendiri lohh hahaha (lagunya manis banget mer semanis si taehyung & jimin)

    mer ini kayak paket lengkap gitu ya, fantasy, frienship, action, family, angst, dan harusnya kamu sisipin fluff di genrenya (ini pengaruh sountrack yang mengalun di kepala aku xD) ini terlau manis buat sebuah persahabatan mer, bikin iri tau nggak sih? mau dong punya caabat macam taehyung sama jimin hehehe 🙂

    dan settingnya itu mer, aku suka banget macam petualangan kayak gini, dan latar tempat waktu suasana sampe ke detil-detilnya itu nampol banget mer, di hutan, di sungainya aku kayak jadi mata-mata mereka hahaha, berasa jadi burung-burung yang berkicau di sepanjang perjalanan mereka kekeke. apalagi pas makan buah berry itu mer (ini pengaruh nonton si bolang kemarin, dan mereka makan buah berry juga di hutan xD) aku jadi pengen juga hahaha. pas nangakap ikan juga itu juga sering di si bolang jadi enak gitu ya ngebayanginnya (ini apa hubungannya?) /dilempar sendal/

    sebenernya aku juga udah mulai curiga sih pas si taehyung ngobatin lukanya jimin itu, tapi yah karena amer yang nulis dan ceritanya asoyy begete, bawaannya pengen scroll aja.. dan yes to the yes ini emang awesome 🙂

    KRAKK KRAKKnya itu bikin deg-degan mer, plis mereka jangan ketangkep gitu terus mereka bisa life happily ever after sampai tua nantiii, tapi angstnya juga asoy sih, biasanya yang meninggal bareng itu kisah romansa tapi ini friendship jadi dobel-dobel gitu syeedihnyaa, si jimin pakek pengen tetep bareng taehyung segala pegang-pegang tangan…… aishh,, HOW SWEET AMER, HOW SWEET???

    pokoknya paporit lah pantasinya amer yang sihir-sihir kayak gini. dulu pernah baca yang si baekhyun juga sishir-sihir, itu juga cinta lah cinta sekalii hehehe. dan kenapa sekarang harus taehyung?? kebetulan kah? abisnya mereka agak-agak serupa gitu, (sama-sama minta dikarungin lalu di bawa pulang xD)

    dan kalo amer bilang ini fail, lalu yang berhasil kayak gimana mer? GIMANA? IT ISN’T FAIL AT ALL… (emot cinta cinta seratus biji)

    sekian amerr (sorry buat komen absurd ini yaa) thanks for nice storyy. yang bi ei pi aku nantikann yaaa 🙂 <333

    Suka

    1. HALOOOW!! eum fika… atau kak fika? aduh maaf ingatan saya soal nama orang parah abis jadi kalo salah dimaafkan ya T__T

      aduh fluff? iya nih kayaknya emang harus ada fluff, tapi ntar kasian yang ketipu (?) karena ini endingnya angst :’) dan emang persahabatan mereka bikin iri yaaa, aku maulah nyempil di tengah /salah xD

      duh life happily ever after cuma ada di dongeng sih /dilempar/ hahahah aku cinta angst banget sih makanya menistai bias adalah hobi pertama saya ((kicked))

      ah, itu sih kebetulan gara2 aku suka harpot make banget makanya semua fantasy jadi berujung begini xDD punya baekhyun itu sih series yang belum dilanjut, sementara ini semacam oneshot terpisah~ tapi emang baekhyun-taehyung ini serupa tapi tak sama ya, semuanya pengen aku cubitin sama diuyeluyel :3

      ehe, makasih ya udah menganggap ini enggak fail, aku terhura seriusan :’)
      dan maaf kalo aku lupa atau salah nama T_T
      anyway, thankseuuu :*

      Suka

  7. KAK TSUKI WAA I EM HIR!!!
    Selepas pusing belajar bersama rumus2 matematika/eak/ aku mampir ke IFK dan wow apa ini xDD!! Friendshipnya kerasa banget ah.. Its really.. Sobs Q.Q /lap ingus/ apalagi ditambah sama gaya bahasa Kak Tsuki yang keren jadi feel fantasy-nya lebih kerasa .-. Tadi Kak Tsuki bilang kalo action not my style kan, sebenernya saran dari aku sih tambahin aja adegan yang itu lho.. Pertarungan shirinya. Si Taehyung matinya kecepetan ih/?

    Udah gitu aja, xD!

    Suka

    1. HALOW HALOOOOO 😀
      aduh syukur deh syukur ini feelnya dapet… tbh aku udah lama banget ga nulis fantasy jadi ragu2 gituuu ;__;

      dan action emang bukan style aku sayaaang… well, alasan kenapa ini jadi fantasy adalah karena pas aku nyoba bikin action macem film yg tembak2an keren gitu aku gagal di tengah jalan lol, lalu larilah aku ke fantasy xD
      yep! aku juga merasa dia agak kecepetan mati tapi aku tak tahu harus menambah adegan apa karena referensi adegan bertarungku masih dangkal sekaliii ;__; mungkin abis ini aku harus belajar ngamatin orang bertarung dulu kali ya hahahah xDD

      anyway, makasih banyak ya sarannyaaa!! dan makasih buat komentarnya muaaah! :**

      Suka

  8. Ahhhhhhhhh ini kenapa dua duanya jadi mati
    gak ada satupun yang selamet u,u
    taehyunggggggg oh tidak kenapa dia mati duluan
    Mikir lagi abis baca ini kaum rivory kan bisa sihir kenapa gak ngelawan pake sihir
    tapi yaudahlah mau diapain lagi authornya maunya begitu terserah authornya aja jadinya

    Suka

    1. Ng, eum iya maaf ya akhirnya jadi pada mati semua gini…daripada ditinggal 1 kan mending semua aja (?)

      well yeah mereka bisa ngelawan tapi apa krn mereka penyihir trs semua masalah atau orang biasa bisa kalah gitu aja? 😉
      Aku ngasih petunjuk kan di atas tadi, soal pikirannya taehyung soal ‘knp sihir ga bisa buat memperbaiki semua ini’ plus semacam ngasih tau kalo orang yg awalnya diremehkan pun (baca: kaum dreq) akhirnya bisa jadi kuat tanpa sihir… Ya walau saya ga bilang bales dendam itu baik sih lol xD
      Ya begitulah intinya, hope you get it 🙂

      Makasih banyak ya udah bacaaaa 😀

      Suka

  9. Aku mau nangis dulu! (Ke kamar mandi setengah jem))

    Huaaaaaa! Ini fic Taehyun sama Jimin pertama kakak? Serius? Suer? Demi apa? Aku awalnya lagi longok ifk gak tertarik dengan ff ini ((maafkan akuuu)) cuman baca judul terus castnya udah deh lewatin. Tapi tiba” lagi pengen baca genre fantasty. Terus klik kagori di sini dan yang pertama muncul fic kakakkkk, entah petir dari Jongdae atau angin dari Sehun aku buka ffnya. Terus aku nangis -_-

    Aku suka pilihan castnyaaa, lagi dimabuk cinta juga sialnya sama bts apalagi Jin ((curcol mulu ni anak-_-)) dari kemaren juga nyarinya bts muluuu. Gak ketulungan dah. Terus, bayangin Taehyun lewat rambut oranye gak buruk banget juga malah nyenengin, kayak nyala” gitu sama warna irisnya. Dalam bayangan aku tuh kayak cahaya milik Baekhyun(?) /ini fic bts tapi komentarnya masih nyangkut exo aja-_-#digaplok/

    Dari kata ‘Kaum Dreg’ aku udah berasa fantasty karena.. yah gitulah aku juga bingung karena apa._. Dan Rivory juga tapi yang pas menaranya itu jatoh di bagian awal kenapa aku nyantolnya ke menara bigban ya? Yang di london’-‘ ini aneh.

    Pas keadaan awal juga kurang bisa dapet gimana situasi yang ada. Yang aku tangkap cuman lagi masa gwnting gitu tanpa sebab dan asal. Tapi akhirnya ngerti juga karena penjelasan menyusul setelah itu hehehe. Oya, pas Taehyung yang nyembuhin luka Jimin juga udah berasa aneh tuh kak, masa Taehyung bisa sihir tapi kenapa Jimin ga nyembuhin lukanya sendiri aja?

    Pertengahan, aku kewelehan sama Jimin yang kawatir terus bakal ada musuh ngikutin mereka. Jadi menduga” kalo mereka ga bakal nyampe ke mana itu namanya negri sebelah yang aman pokoknya. And thats true! Mereka mati juga akhirnya-_,-

    “Kau bukan ayahku!” Perseteruan Jimin, bokapnya, ama Taehyung mantep deh. Aku ampe ngosngosan juga pas baca Taehyung ditembak, untuk kaga langsung mati tuh anak. Tapi takdir memang takdir(?) Jiaahh, mati dua”nya emang lebih enak dari pada cuman atu. Entar merasa bersalah lagi.

    Oke, ini aku stop kok tenang aja. Maaf ya udah ngerusuh gini. Tulisan ficnya bagus malah dapet komentar bawel kayak aku._. Keep writing yaaaa ^○^)9 ditunggu fic bts selanjutnya!
    P/s: gak usah action, angst-fantasty gini aja udah keren abis ^○^)b

    Suka

    1. ((menunggu setengah jam dengan sabar)) xDD

      iyaaap, ini fic taehyung-jimin pertamaku muehehehe~
      aku juga lagi dimabuk sama mereka nih, padahal sebenernya mereka bukan biasku, tapi entah kenapa pengen aja nulis dua temen seangkatan ini :3

      menara jam emang semua orang nyantolnya ke london yak, aku pun begitu kok xD dan semua nama aneh itu adalah sumbangan dari mbah gugel translet tercinta sebenernya HAHAHAH XD

      hahay, iya aku emang udah ngasih tanda2 di tengah dan yah…. emang angst itu asik kok gimana dong ((dilempar)) dan yap mending shut down langsung dua aja kan ya daripada satu doang, setidaknya mereka bisa tetap bersama :’)

      aduh tenang aja cicil aku suka kok dirusuhin dengan bawel begini ehehehe :3 dan yap tunggu aja ya yang lainnyaaa!! aku juga udah semacam kapok action2an hahahah, jadi mungkin kembali ke genre normal dulu aja lol xD

      makasih banyak yaaa 😀

      Suka

  10. WOAH!! Daebbak! Very like this fiction -pokoknya 😀

    Semua genre-nya kerasa. walaupun gak sampe nangis, tapi tetep ada keharuan. biasanya kan kalo fanfic apapun genre-nya kadang-kadang ada satu-dua genre yang dicantumin tapi gak kerasa, tapi ini bener-bener kerasa!

    Feeling-nya juga dapet. waktu baca mendadak keringetan sendiri, deg-deg-an sendiri, dan terharu sendiri /oke ini gak penting/ :3

    Gak ada yang fail, menurutku. bahkan aku gak nyadar kalo action-nya agak /ehm/ tapi tetep kerasa action-nya!

    Keep Writing! Ditunggu B.A.P fiction-nya 😀

    Suka

    1. Haloo! wah makasih banyak yaa atas kunjungannya 🙂

      ah syukurlah itu semua genre kerasa karena pas masukin pun aku agak2 ragu apakah ini beneran mengandung semua itu -__-
      dan maafkan actionnya yang aneh ituuu, ehe namanya aja pemula ini ^^

      anyway thanks yaaa! 🙂

      Suka

  11. Halo kak mer! 😀
    Jujur aja kak, ini fict bener bener ngena feelnya, aku merinding pas bagian akhir akhir. Lalu nangis. Huhuhu. Padahal ini masih disekolah, jam kosong terus baca ini kemudian berakhir nangis alhasil ditanya tanya sama temen, aku mau ngejawab gimana coba -_- maaf deh jadi curhat hehe. Ah pokoknya fict ini segala feelnya terasa aku terhura biru lah lalalla, apalagi yang pas terakhir jimin ngeloncat buat ngelindungin taehyung oh ma oh ma itu bisa nggak taehyung diganti jadi aku aja?haha /salahfokus /ditendang
    dan makasih buat kak mer karena sepertinya aku bakal ngeship dua makhluk tuhan paling seksih ini jugaa asek. Aaaa kak pokoknya bagussssss, alur diksi dan segala macamnya beuh aku gatau mau muji bagaimana lageh ahay dan tetap lanjutkan karyaaa mu kak aku sukaa. Bye~

    Suka

    1. haloooo, sorry for the late reply dan maaf yaaa udah bikin kamu nangis di sekolah (?) ;__;
      haha kamu mau gantiin taehyung? ini akhirnya pada meniun semua lho padahal huhu, kalo fluff sih aku mau mau aja gantiin taehyung xD
      yep yep, makasih juga ya buat komennyaaa! see ya 😀

      Suka

  12. Huwaaa!! Bikin terharu banget >< 10 jempol deh

    Disini tae ama jimin nya so sweet bgt, aku malah jadi ngebayangin jiminnya jadi cewek xD /plak/ Tapi pokoknya bagus deh, sukses bikin aku geregetan sama tu om-om ayahnya jimin xD Keep writing thor^^ ditunggu ff selanjutnya~

    Suka


  13. AKU BUTUH TISU! TISU MANA TISU? TISUUUU!!
    Ya ampun ini menguras emosi T^T
    Persahabatan yg sangat sangat indah hiks hiks
    /tarik napas, hembuskan/
    Ini keren banget banget banget.. Aku kicep selese baca..
    Aku ga bisa komen apa2 lagi.. Alur, diksi, ide kece badai..
    Btw, ini kak amer ya?? /baru nyadar/ /ditimpuk/
    Salam kenal kak.. Aku pernah baca ff kakak tapi lupa komen, maapkan daku /sungkem/
    Eh, apa panggil nama aja? Aku 1 tahun dibawah /96line u~ yeah~/
    Aku tunggu ff yg laen hehehe^^

    Suka

  14. Ini sedih bnget thor 😥 *hiks
    haduh ini benerbener bagus thor ceritanya *nangisdipojokan* 😥 gak tau deh harus ngomong apaa 😀

    Suka

  15. aaaaaaaaa >< terlambatkah aku baca? tidak sepertinya hahah-_- /apasih/
    wellllllll aku aku terharuuuuuu kyaaaaa persahabatannya sangat menyentuh sekali. huaaaaaaaa taehyuuuuung-ah~ jimin-aaaaaah joahamnidaaa.
    saya suka saya sukaaaa

    Suka

  16. aaaa sekian lama ak gk baca ff, dn ff ini sukses bkin ak ngelap umbel T.T bagus bagu bagus :’D friendshipnya dapet bangeet >< sad ending pake begete . saya nangiiiss 😥 huuaaa

    Suka

  17. WOOOO AMEEEER AKU DATANG ! MAAF YAH MER BARU BISA KOMEN SEKARANG PADAHAL INI UDAH LAMA BANGET MAKASIH JUGA UDAH DI TAG /KETJUPAMER/

    oke ini jimin taehyung ? mer seriusan yah mereka tuh harusnya ga boleh dijadiin satu, ga boleh mer ntar yang ada semua jadi kacau :’) etapi dua bocah yang kelakuannya kacau abis ini bisa jadi sweet yah mer kalo kamu yang bikin :” kayak kata komen yang lain-lain, ini beda mer 🙂 plot nya itu keren abis dan ga pasaran, friendship nya kerasa banget huhuuu

    pas baca ini tuh yang ada di otak aku itu jadi setting nya anime attack on titan mer ahahaha habis suasananya mirip banget sama anime itu huhuu terus teruuss kamu dreq itu udah kaya titan yang suka makan manusia ahaha (sumpah abaikan ini) jadi jimin si bocah alay kamu ternyata kaum dreq ya dek ? tapi salut lah sama kamu biasanya kamu kerjaannya ngebully taehyung sekarang kamu loyal banget sama taehyung huhhuu

    ENDING YA TUHAN ENDING TOO MUCH FEELS GAAAH ! kirain kirain kirain tiba-tiba jimin bisa sihir terus dia teleportasi gitu bareng taehyung terus mereka hidup bahagia selamanya happy ending ternyata mer huhuu tapi anehnya aku gabisa bilang ini sad ending juga sih hahaha such a beautiful fanfiction lah ini mer 🙂 ditunggu karya lainnya yaa :DDD dada amer

    Suka

    1. KAK ASAAAAAAA!!!! jangan kaget ya liat aku muncul di notif hehe, buang saja diriku ini ke hutan bersama VMin karena komen bulan mei baru dibales sekarang huhuhu ;__;

      mereka emang seharusnya ga boleh dijadiin satu kak, HAHAH idiot 95 line mah aslinya kalo suruh begini udah hancur itu feel sedihnya /kicked /padahal sendirinya anak 95/

      btw kak aku belom pernah liat anime attack on titan…… tapi pas awal awal nulis emang aku sempat ngebayangin settingnya kaya anime2 action gitu sih xD haha sekali kali kak jimin loyal sama taehyung, ga capek apa mereka berantem mulu -__-

      aduh teleportasi bareng…..ya kalo ada maz jongin di cerita ini bisalah ya mereka hidup bahagia selamanya (?) tapi aku penggemar angst HAHAHAHAH lagian kan shut down nya berdua jadi gapapa deh /?

      yep, makasih banyak buat komennya ya kakaaaak! maaf merusuhi notif kakak telat begini huhu, see ya! :3

      Suka

  18. Ya ampun kayaknya aku telat banget ya review sekarang, but daripada dibilang siders ya mending komen kan meski cuman sebaris dua baris xD
    Pas liat posternya jadi keinget pas jaman Jimin masih berkepala jamur elah, geli liatnya
    Dan oke aku akui ini feelnya ngena banget. Apalagi pas adegan terakhir dan ini “A-aku tak pernah… m-membencimu. Terima k-kasih, s… sahabatku.” aku pengen nangis..
    Ini ff keren 😀

    Suka

    1. halo astri hehe iya gapapa, maaf juga ya ini telat balesannya huhu ;_;
      haha yap aku juga pas buat poster sebenernya ngakak sih, tadinya gamau make foto jimin yg itu tapi apa daya (?) biar keliatan pas sama punya taehyun aku tak punya pilihan lain -__-

      anyway, makasih banyak yaaa 😀

      Suka

  19. nggak ngerti kenapa tulisan kak tsukiyamarisa selalu menghanyutkan. jangan-jangan ada magicnya? XD
    dari dulu udah kagum sama tulisan2nya ._. tapi baru berani komen sekarang ._. /slapped/
    aku paling suka kalo kaka bikin cerita semacam ini, yang ada sentuhan2 seperti ininya /apa/ jadi, bukan sekedar cinta-cintaan doang ._. XD
    dan terimakasih sudah ajak aku merasakan udara sejuk di tengah hutan belantara. rasanya bener2 kayak ada disana. terus pas taehyung main di sungai itu, rasanya kayak ikutan keciprat air dan seger XD
    ini feelnya ngena banget!!! sedih, nyeseknya kerasa. sampe terharu liat persahabatan mereka :’) nilai moralnya juga dapet. pokonya nih movie bener-bener berisi 😥
    gatau mau ngomong apalagi. pokonya ini keren bangeeet. teriak-teriak sedih sendiri bacanya.
    oh, iya kak ._. waktu itu aku ngemention ga dibales ._. /teu diwaro asa kahina XD /

    cukup sekian. btw salam kenal kakak^_6
    julian yook.

    Suka

    1. halo juga julian aku panggil gitu gapapa kan? :3 first, maaf ya kalo ini balesannya super telat sekali huhu ;;
      hehe engga ceritaku gaada magicnya kok aku bukan penyihir kaya taehyung, aku mah cuma orang biasa kaya kak jimin xD

      anyway, makasih ya atas komentarnta dan salam kenaaal 😀

      Suka

  20. annyeong amer.. sebenarnya aku udah baca dari kemaren. tp berhubung bacanya kemalemanan jadi skip komennya dulu. dan wooow jjang bgt ceritanya mer. kaum dreq, rivory dan verita kamu dapet nama-nama itu dari mannaahh !! kereenn.. aku selalu salut sama pembuat cerita fantasy yang bisa dengan sempurna ngebawain tempat antah berantahnya mereka. bapaknya jimin minta dicolok matanya*sadis* ga mikir apa anak sendiri di jadiin alat cuman buat kepuasannya doank. taehyung, walaupun aku belum kenal sama mereka berdua tp disni hangat bgt dia sosoknya. pelindung yang teehebat dan emang ga ada yang bisa ngebalesin kebaikannya taehyung.

    salut sama cerita kamu.. terimakasih yah atas ceritanyaaa.. toooppp

    Suka

    1. halo jugaaaa, kak atau…eum how should I call you? anyway maaf atas balesan yang super terlambat ini yaaa ;__;

      em, nama nama itu sih dapetnya dari google translet hehe, asal aja gitu mainin kata apa nyoba nyoba di trans ke bahasa lain 😉
      yep, makasih juga ya atas apresiasinyaaa 😀

      Suka

  21. HIYAAAAA INI VMIN TAPI KENAPA ANGST?? TT
    ini friendshipnya dapet banget, tp beberapa scene aku tahan biar tetep berpikiran polos krn bisa2 jd kebablasan mikir ini ya–(iykwim XD)
    tapi ya, seperti biasa ff kakak bagus dan ini sukses bikin tegang pas ayahnya jimin dateng, apalagi pas jimin yg ngomong, dan aku ngga nyangka akhirnya mereka mati berdua (pegangan tangan lagi–eh!) dan bener, this is one of your beautiful fics:’)

    P.S. fyi, biasku jimin~ dan aku merasa terharu sekali/? kakak menganggap jimin kembaran kakak :”

    Suka

    1. soalnya soalnya…….soalnya OTPku sebenernya vkook sama yoonmin jadi kalo vmin aku buat angst (?) /kicked/ haha dan nooo jangan kebablasan mikir, mereka ini cuma temenan unyu unyu kok hahahah XD

      hehe anyway makasih banyak yaaa, dan kalo mau kenalan sama kakak jimin, silakan aja berkunjung ke rumah kami (?) /apa/
      thaaanks 😀

      Suka

  22. AAAAKKK INI MENGHARU BIRU SEKALI~~ Dari pas Taehyung nyembuhin luka Jimin itu aku udah curiga kalo Jimin gak punya kekuatan sihir, makin ke bawah aku makin curiga kalo Jimin itu Kaum Dreq dan ternyata..asdfghjkl..Keren banget, Kak~ Suasananya dapet banget apalagi scene hening di hutan dan Jimin yang khawatir itu. Awalnya aku malah ngeduga kalo Jimin bakal nyerahin Taehyung ke Kaum Dreq.. Huhuhu… 😦 Tapi tetep aja endingnya ngena banget terutama pas Jimin nutup(?) tubuhnya Taehyung sama badannya dan ditembak abis2an. TIDAAAAK T___________T
    Pokoknya ini keren banget lah~ Two thumbs buat Kak Amer 😀

    Suka

    1. halo Helmy, maaf ya aku baru sempat bales komen ini huhu iya buang saja diriku ke hutan bersama v dan jimin gapapa kok :’)
      huhu tadinya sih emang aku sempat menimbang nimbang pengen bikin jimin jadi pengkhianat (?) tapi kayaknya v kasian banget -,- yaudahlah begini saja, kan shut down keduanya lebih baik (?)

      anyway, makasih ya sayaaaang 😀

      Suka

  23. Kak, ini bagus sekali. Walaupun cast-nya manusia konyol itu tapi ceritanya dalem banget. Aku nangis di momen terakhirnya :c Lanjut buat yang kayak gini dong kak, please 🙂

    Suka

  24. Keren lah! Keren bgt malah *o* jadi si jimin kaum derq, pantes dia berubah gtu. Oh iya mau tnya, knapa bisa kaum derq yg lain tau keberadaan taehyung&jimin ?

    Udah gtu aja hehe, keep writing ya!

    Suka

    1. soalnya aku sering stuck kalo bikin chapter dan enakan oneshot hehet kadi begitulah deq

      aku BAP baru nulis make jongup lainnya masih proses~ itu ada dua yg A Source of Happiness sama Obstacle, selamat membacaaa :3
      dan maaksih yaaa 😉

      Suka

  25. Hai Kak Amer ini Al/ Airacho atau apalah itu.
    Mungkin Kak Amer lupa yah… mau gimana lagi TT___TT /mojok
    K.
    Jadi aku sebenernya udah baca ini waktu awal-awal puasa, tapi karena bacanya di hp jadi mager untuk komen. Dan well itu ada temen saya (re: Ding) yang komen pake ini akun jadi notifnya kan muncul di aku~ Dan akhirnya aku komen~ yey!

    Oke skip mulai komen.
    ADUH KAK INI BENER-BENER ASDFGHJKL BANGET!
    TT____TT duh… itu kenapa Taehyung sama Jimin dibegituin (?) /nangis di pundak Jimin. Aku sukaaaa banget sama ceritanya. Emang di tengah aku sudah nebak-nebak kalau Jimin itu pastilah Kaum Dreq. Dan ternyata Mas Jimin tersayang emang gitu :’

    DAN HUBUNGANNYA MEREKA DUH BETTER THAN ANY LOVE STORY (?). Duh bete aku Kak waktu suka Bangtan disuguhi fic macam gini itu kan jadi aaaaaagggggghhhhhh /gigit Jimin/

    Kata-kata terakhir Jimin itu… ‘Maka, semuanya pun pasti akan berakhir bahagia. Seperti aku dan Taehyung.’
    KURANG HOMO APA COBA NIH ANAK KECIL SATU INI DUH JIMINNIE SADAR NAK.
    Ini semacam ‘dan akhirnya Aurora dan pangeran hidup bahagia selamanya.’

    Duh sudah deh kak aku ngerusuhnya sumpah ini rusuh banget :’

    Suka

    1. Halo Al!!!
      haha honestly, kemaren aku kira aku salah inget orang soalnya temen kamu komen make akun ini…. seingetku ini akunnya Al tapi kenapa beda orang…. eh ternyata begini toh kejadian (?) sebenarnya xD

      eum……jadi gini lho, pas aku nulis ini dulu tuh pas jaman2 aku masih demen VMin ehhh emang dasar bawaan hobi angst jadi ya beginilah akhirnya aku juga tak tahu kenapa pada meniun huhu……
      dan iyaaaa emang mereka ini friendshipnya…duh, ya walau aslinya love hate mulu bertengkar ga jelas, tapi emang dua bocah 95 ini sangat menarik hati lah intinya :’D

      dan btw aku ngakak baca komenmu Al…. “kurang homo apalagi….” aduh ini kenapa kak Jimin udah meniun masih kamu nistai sih….. ((btw, itu aurora-nya jimin apa taehyung?)) XD

      hehe anyway, makasih atas rusuhan yang amat rusuhnya ini ya Al! See ya dan salam buat temenmu jugaaa 😀

      Suka

  26. Hai kak Amer;3
    Sempet berharap Jimin tiba-tiba bisa sihir dan nolong tae-tae; tapi ah kayaknya sad ending lebih ngena TAT /tearyeyes
    Finally BIAS, kk thanks kak Amer; feelssss

    Keep writing, kak;]

    Suka

    1. Haha sad ending is the best lah (?) apa emang dasarnya aku yang demen angst ini XD
      Ohh bias kamu taehyung ya? /lirik ava/ hoho biasku juga keliatan tuh dari ava XD

      Yep makasih ya Tishaa 😀

      Suka

  27. fail? gile lu ndro,, #plakk
    ini keren bighit (ceritanya mau bilang bingit) #
    alaygagal
    3 kali baca ni ff…. tp bru smpat komen, seru!!! jadiin novel plisss jos gandos si author mah #civokauthor

    Suka

  28. OH MY NO !!!! BACANYA GREGET SENDIRI , gak bisa bayangin aja kalo seandainya gue ngikut VJimin dikejar-kejar dan mo dibunuh gtu ?// *nyerah dah* . Keren banget thorrr (y)
    awalannya , gue senyum senyum gaje ama mereka *lirik VJimin* imuttttt banget >.<
    persahabatan mereka gue salut berat deh pokoknya !!!
    kapan-kapan kek bikin lagi ff VJimin *my favorit couple* ?///

    Suka

  29. Hi, salam kenal yaa. Iseng nyari ff BTS dan nyasar kemari. Saya baru tahu ada web khusus ff K-Pop yak, wkwkwkwk.

    Penulisannya rapih banget, nyaman banget saya bacanya. Deskripsi karakter dan tempat juga bikin saya mudah ngimajinasiinnya. Ceritanya juga ngalir dan enak, meski ketebak. Tapi saya sukaaa. Aduh, mak, Tae, Jimin, kenapa? Kenapa? Kenapaaaaa? *mulai lebay. Mereka bener-bener sahabat ya, sampe mati, duuuh hatiku, Gusti.

    Makasih ya, Author, ceritanya bikin ngilu malem2.
    Keep writting 🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s