[Ficlet] Face The Truth

h

Face The Truth

by Atikpiece (@atikranasa)

Main Cast : Kim Himchan [B.A.P], Kenni Jung (OC) | Support Cast : Jung Daehyun [B.A.P] | Genre : AU, Angst, Family, Supernatural, Tragedy | Rated : PG | Duration : Ficlet (±2000w)

©2014

.

“Kim Himchan adalah teman baikku.”

*****

 

Rintik hujan sore itu baru saja reda. Seperti yang kudengar, desau angin berembus menerpa kaus longgarku hingga ke sela-selanya. Aroma rerumputan basah seolah terbang merayap ke hidungku. Damai, sejuk, menenangkan, memicu kedua sudut bibirku agar terangkat tinggi-tinggi. Kudongakkan kepalaku lalu menghirup udara di sekelilingku sekali lagi. Ada sebesit rasa senang yang kudapati ketika merasakan nuansa seperti ini, saat aku tengah berusaha menegakkan kedua lututku lantas memandang jauh, mencoba menerka apa yang bisa kujangkau dengan sisa-sisa tenagaku. Meskipun aku tahu akan tampak sangat mustahil, sebab aku tidak benar-benar bisa memperhatikan apa yang ada di sekitarku.

Cahaya dari retinaku kini telah meredup, dan kegelapan itu selalu menyertaiku kemana pun aku pergi. Selamanya, sampai Tuhan benar-benar menyuruhku untuk pulang.

“Aku benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiranmu.”

“Apa?”

“Dari tadi aku bertanya kau mau membawaku ke mana. Semisterius itukah kau sampai aku tidak boleh mengetahuinya?”

“Sudah kukatakan berkali-kali, Nona. Kau tidak lihat?”

“Maksudmu mendengar? Aku kan tidak bisa melihat.”

“Sudahlah. Lebih baik kau diam dan ikuti saja aku.”

Percakapan antara aku dan dia pun berakhir. Agak kolot dan menyebalkan, ditambah aku sedikit tersinggung mendengar pertanyaannya yang berujung pada penglihatanku, seolah mengungkit-ungkit permasalahan yang menggerayangi pikiranku ketika aku sendiri ingin mengenyahkannya mati-matian.

Kecelakaan yang hampir saja merenggut kedua kakiku dua bulan lalu itu telah membuat jalan hidupku berubah. Tragedi sialan yang menjadikan sebagian diriku hancur. Aku tak lagi dapat melihat seperti dulu, dan aku tidak bisa menelusuri hiruk-pikuk Seoul di bawah langit biru yang menjuntai seperti dulu lagi. Awalnya aku sangat membenci keadaanku. Banyak orang yang kali pertamanya begitu baik terhadapku, kini meninggalkanku dengan sumpah serapah menjijikkan yang aku sendiri muak mendengarnya.

Aku nyaris putus asa. Walaupun aku sudah berusaha berdoa agar penglihatanku bisa kembali utuh, namun sepertinya aku sudah tidak punya harapan lagi. Kakakku—Jung Daehyun—berkali-kali mengatakan belum ada seorangpun yang mau mendonorkan matanya untukku, semenjak hari di mana kecelakaan itu terjadi.

Rasa-rasanya aku ingin menangis sejadinya. Aku bahkan sedikit kelewatan karena berulang kali menyalahkan takdirku. Itu sebabnya aku mengumpat lalu menyesali andai saja aku lebih berhati-hati. Tolol memang, tapi rasa yang berkecamuk di dadaku seolah ingin mengatakan bahwa tidak semestinya aku hidup seperti ini dan menjadi beban hidup sosok yang selama ini kusayangi. Kakakku, keluargaku,

Dan dia.

“Kau tahu,” Senyum tipisku tersungging. “Aku rasa kau telah membawaku ke suatu tempat di mana aku bisa merasakan dinginnya udara musim gugur. Rasanya sejuk sekali, dan aku juga bisa merasakan hangat tepat di wajahku. Apa yang ada di depanku? Matahari? Di mana ini? Di tengah-tengah sabana kah? Atau di puncak bukit?”

Tawa kecilnya mengudara, tanpa sedikitpun mengendurkan genggaman tangannya pada jemariku.

“Apapun yang kaukatakan, jawabannya hanya ada dua,” katanya. “Pertama, kau memang sedang menatap matahari, dan yang kedua, kau tidak sedang berada di tengah sabana maupun di puncak bukit. Kau berada di suatu tempat, di mana hanya ada kita berdua. Kau dan aku.”

“Aku benar-benar sulit mencerna otakmu, Him.”

“Apa aku perlu menciummu agar kau percaya padaku? Buktinya, kau tidak sedang menginjak rumput.”

“Oh, pantaslah. Aku baru ingat jika aku sedang bertelanjang kaki.”

“Dan aku pun begitu.”

.

.

.

Namanya Kim Himchan.

Aku mengenalnya tepat sebulan yang lalu, setelah aku menjalani terapi kedua kakiku di rumah sakit dekat komplek apartemenku—begitulah yang dibilang kakak. Jika dirasakan dari auranya, dia adalah sosok yang baik. Pribadinya menyenangkan, ekspresif, namun kadang juga tidak mudah dipahami—serentetan hal yang kusukai dari seorang Himchan.

Bagiku dia cukup unik, mengesankan, mungkin saja dia mempunyai perawakan tinggi dan jauh lebih dewasa dariku. Terasa sekali ketika dia merengkuh tubuhku saat aku menangis, atau mencoba melindungiku dari pohon besar yang hendak tumbang. Suaranya pun terdengar sangat lembut, meskipun kadang-kadang ucapannya begitu sarkastis, retoris serta menohokku.

Tetapi aku tidak peduli. Setidaknya dia bisa lebih menyenangkanku dengan kalimat-kalimatnya yang sok romantis hingga membuat ujung saraf otakku terasa lebih nyaman, atau lelucon konyolnya yang sanggup membuatku terbahak, jemari tangannya yang tidak pernah lepas dari tanganku, pun aroma tubuhnya yang jelas-jelas membuatku candu. Dia ada jika aku sedang membutuhkannya, dan aku tak tahu apa jadinya kalau dia lenyap begitu saja dariku. Memikirkannya saja hampir membuatku sinting.

Dan yang terpenting saat ini, dari kesemua yang kupunyai dalam hidupku, aku lebih bahagia bersamanya ketimbang lingkunganku sendiri.

“Kim Himchan.”

Awal yang cukup membuatku merasa lebih tenang ketika aku menyentuh angin yang berputar di sampingku. Kemudian aku meyakini bila Himchan menoleh ke arahku, meski tanpa menyahut.

“Apa… kau pernah mengalami hal yang sama sepertiku?”

Aku sama sekali tidak mendengar suaranya. Mungkin pertanyaanku barusan membuatnya bingung.

“Eng… maksudku seperti… kecelakaan. Ya, pokoknya sesuatu yang bisa membuatmu berdarah dan kau merasa nyaris mati.”

Tanganku cepat-cepat meremas kausku sampai kusut. Aku tidak mengira apa yang bakal terjadi setelah ini. Aku menunduk, Himchan pasti sudah menganggapku gila.

“Aku pernah merasakannya,” jawabnya. “Tapi itu tidak seperti aku bakal benar-benar mati. Semuanya terjadi begitu saja. Aneh, tapi nyata.” Hempasan udara dari bibirnya terdengar di gendang telingaku. Mungkin tidak seharusnya aku bertanya soal itu. Sepertinya ini bukan hal mudah bagi sosok seperti kami yang nyatanya sama saja, membiarkan satu kata itu tertulis dalam buku kehidupan kami. Kecelakaan, kemudian terpuruk begitu lama.

“Tidak usah menyalahkan diri. Aku senang kau bertanya begitu, tapi yang jelas, kau memang sudah gila, Ken.”

“Lihat, kau saja bisa menebak apa yang kupikirkan. Mengapa aku tidak?”

“Karena kita berbeda.”

“Kita bahkan sama-sama hidup.”

“Tapi aku bisa melihatmu.”

Kalimat balasan yang hendak kumuntahkan kutelan mentah-mentah. Lagi-lagi topik pembicaraan yang mengesalkan. Pria itu selalu menyeretku ke dalam zona di mana aku sendiri hampir tidak bisa mengendalikan kata-kataku yang jelas-jelas sepaham dengan ‘aku membencimu, Tuan Kim Himchan. Sangat sangat membencimu!’ Dan faktanya, aku bukanlah orang yang setega itu mengucapkannya pada orang yang sudah menemaniku selama empat puluh hari belakangan dengan tulus seperti dirinya.

Himchan sudah berhasil menempati sebagian besar ruang yang kututup rapat-rapat dari memoar orang lain. Tidak sepantasnya aku memberi jarak terlalu jauh darinya.

“Berhentilah berkata seperti itu, bodoh.”

“Maaf.”

“Dan parahnya, kau teman yang baik.”

Aku tersenyum. Tanganku meraba-raba sisi kananku sampai aku menemukan tangan kirinya. Baru kali ini aku merasakan tangannya sedingin es di kutub utara. Tapi aku tidak begitu mempermasalahkannya. Dia pernah bilang suhu tubuhnya kadang suka berubah. Awalnya terasa hangat, namun tiba-tiba berubah dingin. Salah satu hal menarik yang bisa kurasakan di detik yang kuinginkan.

“Kadang-kadang aku sering berpikir, apakah sosok sepertimu benar-benar ada di dunia ini.” Aku berhenti sejenak. “Kau sangat perhatian, membunuh waktumu hanya untuk selalu bersamaku. Kakakku bahkan tidak percaya jika selama ini aku punya teman dekat.”

“Benarkah? Senang bisa mendengarnya.”

“Tapi satu hal yang membuatku kesal.” Mimik mukaku bersungut-sungut. “Dia membenciku karena aku terus-menerus bercerita tentangmu.”

“Apakah itu berarti cemburu?” kelakarnya. “Mungkin dia merasa wajahnya kurang tampan jika dibandingkan denganku. Benar, kan?”

Aku lantas tertawa pelan. Leluconnya cukup bagus, aku merasa terhibur.

Tetapi kemudian, aku membawa diriku kembali menyelam dalam pikiranku sendiri. Membiarkan rasa penyesalan itu menyergap lagi hingga ke relung terdalamku.

Sebenarnya aku ingin membuktikan apa yang baru saja dikatakan Himchan, apakah dia benar-benar setampan itu. Walapun kutahu aku hanya bisa mengulangi kalimat yang sama sekali tak dapat mengubah hidupku. Bagi sosok yang telah divonis buta permanen sepertiku itu cuma buang-buang waktu. Sungguh membutakan pikiran, dan nyaris membuatku kembali beranggapan jika Tuhan benar-benar membenciku.

“Yah, andai saja, aku bisa melihat seorang Kim Himchan.”

Aku mengucapkannya tanpa sadar.

“Jika aku diberikan kesempatan kedua untuk melihat, mungkin aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin.” Aku tersenyum tipis. “Ini salahku karena aku tidak berhati-hati menyeberang jalan.”

“Tapi kau tenang saja, Kau masih bisa melihat hatiku.”

Aku merasa dia sedang memandangi wajahku lekat-lekat. Tapi aku harus berusaha untuk tidak menangis. Aku tidak ingin mempermalukan diriku di hadapan Himchan hanya karena ucapannya yang agaknya menyentuh, meskipun aku dan dia hanyalah sebatas teman.

Sampai-sampai aku lupa jika kaki kananku sudah melangkah satu kali ke arah depan, mengikuti dia yang sekarang tengah mencoba merekatkan ujung ibu jarinya pada punggung tanganku. Genggaman tangannya semakin erat melingkar di jemari kananku. Di tempat kuberpijak, kedua ujung kakiku terasa dingin, seperti baru saja menginjak lantai linolium. Namun di sisi lain, aku juga yakin tengah menceburkan kakiku ke dalam kubangan kecil. Sensasi basah merambat hingga tungkaiku. Aku agak menggigil, tapi aku baik-baik saja. Desau angin kembali berembus menghantam tubuhku, meski dingin, aku sangat senang merasakannya lagi.

“Himchan-ah.”

“Apa?”

“Anginnya sejuk sekali,” kataku. “Aku serasa ingin terbang.”

“Kau mau terbang?” Instingku berkata Himchan tengah tersenyum ke arahku. “Kalau begitu kemarilah.”

Pria itu menarik lenganku sampai ujung jempol kakiku menyentuh sesuatu yang lebih dingin dari sebelumnya. Agaknya terbuat dari besi dan sedikit bergerigi. Aku tidak mengerti apakah aku bisa berdiri di atas sini lebih lama karena hanya beberapa menit saja gigiku sudah hampir bergemeletuk. Embusan angin yang menerpaku semakin kencang saja. Meskipun kini sepertinya Himchan tengah berdiri menghadapku, tetapi itu tidak cukup untuk meminimalisir udara yang semakin membuatku menggigil.

Lalu, ada firasat aneh langsung menyerbu batinku. Sepertinya pria itu sama sekali tidak peduli. Jantungku sudah berdetak tak normal tetapi dia masih bersikukuh pada posisinya sembari merentangkan kedua tanganku.

“Kira-kira, apa yang kaurasakan?”

“Eng…” Aku bingung mencari kata yang tepat. “Aku… seperti melayang.”

“Aku juga merasa seperti itu,” katanya. “Di sini adalah tempat yang paling kusukai. Aku bisa melihat matahari terbenam, melihat burung berkoloni kembali ke rumah mereka, atau merasakan angin berembus selayaknya kini.”

Aku mencoba tersenyum selepas mungkin. Dengan keadaanku yang seperti ini, sebenarnya aku sedikit takut. Aku bak berdiri di atas langit, berlandaskan besi pesawat terbang dan membiarkan terpaan angin saling bersahutan seperti hendak menjatuhkanku. Kondisi benakku benar-benar tidak dalam keadaan baik sekarang, walau Himchan tengah berusaha membuatku nyaman hanya dengan berdiri seraya berpegangan tangan. Dari tiga puluh detik yang lalu sampai sekarang, rasa aneh itu menggejolak di kepalaku.

Ada yang hilang.

Aku sama sekali tidak menemukan secercah pun aura menenangkan dari pria itu lagi, yang seolah menjadi bayangan bak mentari hangat di pagi hari. Namun yang kutemukan cuma siluet semu yang aku sendiri tak tahu apa artinya.

Jemari tangannya semakin lama terasa dingin, sewaktu akan keringat bersuhu sama mengalir dari telapak tanganku.  Udara di sekitarku seakan sudah di bawah nol derajat, dan aku yakin hampir merasakan beku di sekujur tubuhku.

“Eng, Himchan.”

“Ada masalah?”

“Ya,” sahutku cepat. “Dan aku berpikir jika tempat ini sangat berbahaya untukku. Bukan untukku saja, tapi juga untukmu. Hidup kita.”

“Apa maksudmu? Tidak ada yang perlu kautakutkan di sini. Aku ada di sisimu, percayalah padaku.”

“Tapi aku hampir mati beku, Himchan!”

“Kau bilang kau serasa ingin terbang. Jika itu yang kauinginkan, aku akan melakukannya untukmu.”

“Ta—tapi aku…”

“Aku berjanji akan mengabulkannya.”

Dadaku naik turun menyeret oksigen tanpa henti. Sungguh, ini sangat menyesakkan. Dari cengkeraman tangannya yang begitu kuat, kemungkinan besar aku hampir frustasi mencari tahu kebenaran dari perasaan yang berusaha kuterka. Himchan benar-benar mengatakan yang sebenarnya, benar, kan? Dan aku hanya butuh menenangkan diri supaya aku bisa melakukan yang kuinginkan bersamanya. Tetapi dengan suhu yang agaknya membuat bibirku semakin mengering hingga aku menyangka bakal memucat, rasanya aku…

Mataku terpejam dalam hitungan detik.

Aku sudah tidak kuat.

.

.

.

“Kenni!”

Kelopakku langsung membelalak lebar seperti orang kesetanan. Ada seseorang memanggilku, namun telingaku berdengung bagai berada dalam sarang lebah.

“Jangan berdiri di situ, Kenni!”

Aku terkesiap. Aku benar-benar mendengar seseorang memanggilku. Suara yang kukenal, tapi aku ragu.

“Hi—Himchan, suara siapa itu?”

“Kau hanya mendengar suaraku. Tidak ada suara siapapun selain aku, Ken.”

“Tapi…”

“Kenni-ya!”

Dengungan itu lagi.

“Himchan, aku benar-benar mendengarnya!”

Dia tidak menjawab. Malah kini, dia mulai mengendurkan cengkeramannya dari tanganku. Aku menggeleng kuat-kuat. Aku hampir saja menangis. Tidak, ini tidak benar. Aku tidak ingin Himchan melepaskanku begitu saja.

“Himchaan!!”

“Aku berjanji akan membuatmu terbang, sayang.”

“Kenni, ini aku, Jung Daehyun!!”

Seketika itu pula, sesuatu yang rasanya kuabaikan tengah menghimpit telingaku menyeruak keluar. Aku dapat mendengar jelas teriakan kencang kakakku, bersamaan dengan suara besi bergesekan terlepas dari pengaitnya.

Dan di saat itulah, aku hanya bisa merasakan angin, gaya gravitasi menerjang tubuhku,

Beserta suara tawa lirih Kim Himchan.

“Selamat terjun dari lantai dua puluh lima, Kenni Jung…”

“Terima kasih sudah membunuhku.”

.

.

.

Two hours ago…

KRIING!

Yeoboseyo?

“Youngjae, ini aku, Daehyun. Bagaimana kasusnya?”

“Oh, Bung, wajahnya sudah tidak beraturan.” Ada nada malas terselip dalam kalimat Youngjae. “Tapi beruntung, ada salah satu temanku yang sangat pintar menganalisa. Dia berhasil mengautopsi mayat tersangka. Sekarang kami sudah mendapatkan datanya.”

“Jadi, siapa yang menabrak adikku dua bulan lalu?”

“Dia adalah seorang pengusaha kaya, berusia 26 tahun.”

“Namanya Kim Himchan.”

fin

 A/N : HALOOO~ KETEMU LAGI SAMA AKU, DAN AW, SI HIMCHAN GENTAYANGAN HIII~ Dan aku ngga bisa ngomong apa-apa setelah sampe kata -fin- O,o” Ini aneh banget ngga sih, kayaknya alurnya itu lho yang bikin ilfiil T^T Terus, aku juga yakin banget fic ini gagal. Karena jujur, genre supernatural adalah genre pertamaku dan baru dicoba sekarang. Tapi aku berharap semoga ngga begitu mengecewakan. Kalo sekiranya ada yang perlu diperbaiki tolong kasih tahu yaaaa ;__;

Terima kasih banyak buat yang udah baca. Sebelum aku ngilang, ada yang tahu maksud kalimat terakhir Himchan? XD

Iklan

13 thoughts on “[Ficlet] Face The Truth”

  1. Itu himchan suka ya sama kenni? berarti pas abis nabrak kenni dia langsung bunuh diri apa gimana?
    kan kenni bilang dia ketemu himcham waktu lagi terapy di deket rumah kata kakaknya, nah pas disitu himchan masih hidup kan?

    loh kok nanya semua -_- oke mohon penjelasan

    Suka

    1. Halo nahdayaa~ 😀
      Sebelumnya terima kasih udah nyempetin baca ^^ Si Himchan suka Kenni cuma pura-pura aja ya. Jadi ini ceritanya si Himchan dari awal cerita sampe akhir sudah dalam bentuk arwah 😀
      Nah, dua bulan yang lalu, Himchan nabrak si kenni di jalan. Himchannya mati, tapi si kenninya masih hidup, cumen mengalami buta aja. ^^
      Terus, Himchan sendiri pingin bales dendam gara-gara Kenni ngga hati-hati nyeberang jalan dan nganggep kenni lah yang bikin dia mati. Akhirnya sebulan kemudian ya begitu deh, Himchan ngebawa Kenni ke apartemen lantai 25 dan ngebuat Kenni jatuh dari sana ^^ Semoga mudah dipahami. Maaf ya kalo sekiranya ceritanya ngebingungin .__.v

      Sekali lagi tengseu~~ XD

      Suka

    1. Halo Shabrina~ 😀

      hehe, bersyukurlah kalo cerita ini berhasil bikin kamu merinding ^^ Terima kasih.

      Sama seperti komentar di atas. Jadi ini ceritanya si Himchan dari awal cerita sampe akhir sudah dalam bentuk arwah 😀

      Nah, dua bulan yang lalu, Himchan nabrak si kenni di jalan. Himchannya mati, tapi si kenninya masih hidup, cumen mengalami buta aja. ^^

      Terus, Himchan sendiri pingin bales dendam gara-gara Kenni ngga hati-hati nyeberang jalan dan nganggep kenni lah yang bikin dia mati. Akhirnya sebulan kemudian ya begitu deh, Himchan ngebawa Kenni ke apartemen lantai 25 dan ngebuat Kenni jatuh dari sana ^^ Smoga mudah dimengerti ya 😀

      tengseu~~ XD

      Suka

  2. Ini alurnya beneram ngebunuh yah!
    Iya, ini. ngebunuh sekali, kenapa?
    Kareka kenni anu Himchan dan membuat Himchan anu Kenni.
    EXCUSE ME, ini kenapajadi serba anu sih?
    Tapi ini beneran, supranatural. bekos, si Himchan ngerasa ia harus membawa Kenni pergi bareng dia juga? dan mengabulkan apa yang Kenni minta?
    atau karena permintaan Kenni yang buat Himchan ngarahin Kenni mati, bekos wajah tamvan Himchan hancur waktu nabrak si Kenni. ㅋㅋㅋ sudah seperti itu saja,

    Suka

    1. Haloo Jii~ 😀
      YAP, Benar sekali tebakanmu~ Jadi mereka berdua emang saling ngebunuh, cumen Himchannya itu ngebunuh dengan sengaja ^^

      Karena Himchan sendiri beranggapan si Kenni yang bikin dia mati, mungkin emang dia harus bawa kenni mati juga deh ^^ hahaha. Ngga kebayang wajah tamvannya bang Him ancur DUUH, JANGAN SAMPEK ;__;

      last, makasih banyak ya Jii udah nyempetin baca + komen. Tengseu ~ XD

      Suka

  3. jadi,kenni itu kehilangan matanya grgr kecelakaan berupa ditabrak kan? nah yang nabraknya tuh himchan. himchannya meninggal sementara kennie-nya jadi buta. himchannya dendam dan muncul sbg seseorang (sebenernya sesehantu) yang bikin kennie emmm kaya semacam ketergantungan gt sama himchan,sampe akhirnya pas waktunya tiba,himchan bunuh kennie dgn cara dorong dia dari lantai 25

    betul betul betul??? /ala upin ipin/

    dari awal aku udah nyangka himchannya itu hantu,apalagi pas dibilang kalo suhu tubuhnya berubah ubah dan pas kalimat ‘Aku sama sekali tidak menemukan secercah pun
    aura menenangkan dari pria itu lagi’ karena kalo manusia gakmungkin ‘hilang’ secepat itu.
    yeeee aku pinter! the second sherlock holmes! #sokpinter #ditabok author

    padahal thor ini lebih mirip ff riddle loh drpd supranatural. abis cara readers bacanya pasti sama dgn cara baca ff riddle. gak semua sih,cuma kalau aku dan pasti ada orang yg sama kaya aku. karena kalau aku pasti beda kalo baca ff romance dgn riddle *iniakungomongapasih* *gapaham abis* *abaikan*

    sukses author-nim! aku suka deh ffnya! maaf kalau omongan aku terkesan sok tau dan gak enak di hati:)))

    Suka

  4. Halooo~

    YAP, Tebakanmu BETUL BETUL BETUL XD benar-benar tepat dan sesuai aaah~ alhamdulillah banget ada yang ngerti gimana jalan tjerita ini heu heuuu :”” cumen yang terakhir, Himchannya ngga ngedorong si Kenni ya, cumen kenninya aja jatuh sendiri gara-gara besi penyangga di pinggir lantai 25 lepas karena ngga kuat nahan berat si Kenni ^^ dan itu emang udah sengaja dilakukan sama Himchan dari awal, hehe

    Hahaha~ the second sherlock holmes is coming~! *ikut hura-hura* #slapped XD yup, emang dari kalimat itulah yang membuktikan dari awal Himchan itu udh jadi arwah gentayangan ^^ dih, kamu pinter! beneran XD

    iya juga sih katamu. Tapi kalo misalkan ini dijadiin riddle, entar jatuhnya gampang banget ditebak dong ceritanya ^^ Yang namanya riddle kan cerita yang berisi permainan teka-teki yang ngebikin reader kudu muter otak buat nyari kesimpulan dari cerita itu apa. Jadi alhasil, karena ngga yakin, aku jadiin supernatural deh kekeke~ 😀

    sukses juga buat kamu ya ^^ Hahaha, engga kok, aku engga ngerasa begitu. Terima kasih banyak udah nyempetin baca cerita ini 😀 Tengseu~~

    Suka

  5. Annyeooooong , aku readers baru disini . Ini ff yg prtama yg aku baca d wp ini . Ff ini ….. Gimana ya ? Hmmmmm … Waktu prtama namanya kenni disebut aku kira ini ff yaoi , karena tulisannya ‘Ken’ otakku langsung menjurus ke Ken VIXX . Wkwkwk . Tapi syukur deh bukan . Haha ini sumpah commentku garing abis . Tapi aku suka banget sama ff ini walaupun ada bbrp yg kurang aku ngerti karena kerja otakku yg lambat . Suka sama bagian terakhir . Nice FF 😀

    Suka

    1. Halooo~ 😀 selamat datang di IFK! ^^
      Maaf ya baru bisa reply komentarmu 🙂 Tapi seneng deh ff saya jadi ff pertama yang kamu baca.
      Hahaha, bukaan~ ini bukan ff yaoi karena sayanya sendiri ngga bakat bikin kayak begitu ._.v namanya emang mirip ya, Ken XD
      Hihi ngga apa-apa lah. Komentar kayak gimanapun buat saya ngga masalah kok, saya mah orangnya santai aja, malah seneng banget ada yang mau ngeluangin waktu buat ngomentarin fic abal ini hahaha :”D

      But last, makasih banyaak yaa udah nyempetin baca. Makasih juga ficnya udah dibilang nice 😉 Atik imnida, 97line, salam kenal ya~ 😀

      Suka

      1. Woaaaah , kita seumuran tik , hihi . Salam kenal ya indah imnida . Haha sukur deh ga berbakat bikin yaoi , bikinnya yg straight aja yaa , wkwk . Kalo aku mah , kalo udah suka sama satu ff , pasti commentnya panjaaaang banget , nah udah panjang tuh , tapi masi aja ada yg kurang wkwkk . Kallo blm smpet comment pasti minimal aku like . So , jangan khawatir kalo aku baca fdmu pasti comment kok 😉 . Krna aku udah tobat jd silent readers sejak beberapa bulan yang lalu dan aku udah punya akun wp . Wkwk .

        Suka

    1. Halooo reader baru~ selamat datang di IFK ^^ jangan lupa sering-sering main ke sini ya 😀

      Masih belum ngerti ceritanya ya 😀 Jadi tuh intinya si Himchan dari awal cerita sampe akhir sudah dalam bentuk arwah 😀

      Nah, dua bulan yang lalu, Himchan nabrak si kenni di jalan. Himchannya mati, tapi si kenninya masih hidup, cumen mengalami buta aja. ^^

      Terus, Himchan sendiri pingin bales dendam gara-gara Kenni ngga hati-hati nyeberang jalan dan nganggep kenni lah yang bikin dia mati. Akhirnya sebulan kemudian ya begitu deh, Himchan ngebawa Kenni ke apartemen lantai 25 dan ngebuat Kenni jatuh dari sana ^^ Smoga mudah dimengerti ya 😀

      tengseu udh nyempetin baca~~ salam kenal XD

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s