[Vignette] Hidden Intention

13

 

a movie by tsukiyamarisa

starring [BTS] Suga (Min Yoongi) and [OC] Park Minha duration Vignette (1400+ wc) genre Romance, Fluff rating G

.

What are you trying to do, Min Yoongi?

.

.

Memahami jalan pikiran seorang Min Yoongi itu bukan perkara mudah.

Ini bukan sekadar pernyataan biasa yang muncul akibat perbedaan pendapat, pun berhubungan dengan segala argumen mengenai perbedaan psikologis antara lelaki dan perempuan. Soal wanita yang susah memahami jalan pikir lelaki dan sebaliknya itu memang sudah menjadi rahasia umum. Namun, soal perilaku dan isi pikiran lelaki di sampingnya ini adalah bahasan lain. Ini bagai misteri yang harus dipecahkan; menarik tetapi juga membuatnya gemas di saat bersamaan.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Pertanyaan itu meluncur dari mulut Minha secara spontan, mengisi relung-relung otaknya selagi ia sibuk mengamati sosok sang lelaki. Gadis itu merasa perlu untuk bertanya karena—well, jujur sajaia memang tak bisa menebak apa mau Yoongi saat ini. Lelaki itu bukanlah sebuah buku yang terbuka lebar, bukan pula sebuah kotak musik yang hanya bisa mengeluarkan bunyi konstan. Ia itu tak tertebak—cuek di satu waktu, lalu mendadak manis di hari berikutnya; pura-pura tak peduli, lantas merasa kesal karena tak diberi kabar.

Iya, Min Yoongi adalah orang yang seperti itu.

Dan tak peduli seberapa pun lelahnya, Minha mendapati dirinya masih terus berada di sana. Ia kesal, tetapi ia juga penasaran dan ingin tahu apa makna di balik perilaku Yoongi yang satu ini. Kendati rasa frustasinya kini teramat memuncak dan otaknya tak mau diajak bekerja sama, Minha mendapati tubuhnya tetap bergeming di tempat karena—

.

.

.

What are you trying to do, Min Yoongi?”

—lelaki itu baru setengah jalan membuka jaket hitam yang melapisi tubuhnya, membiarkan benda itu menggantung di lengan. Kaos putih yang membalut badannya dengan pas kini terlihat jelas, sementara Yoongi malah mengeluarkan kekeh kecil dan mengukir senyum di wajahnya. Ia mengerling ke arah Minha sekilas, jelas sedang berusaha terlihat menggoda sementara sang gadis sibuk menelan saliva dan menyembunyikan kegugupan.

“Aku tidak sedang melakukan apa-apa, kok.” Yoongi menjawab dengan nada sesantai mungkin, merajut langkah ke arah Minha yang masih duduk diam di sofa. Ia lantas menjatuhkan dirinya tepat di samping gadis itu, mengamatinya dengan intensitas berlebih sehingga Minha terpaksa menahan umpatan dalam hati.

“A-apa?” Berusaha membuat suaranya terdengar sedikit galak, Minha pun menaikkan nada suaranya sedikit. “Apa maumu?”

“Hm.” Yoongi hanya mengedikkan kepalanya sebagai jawaban, masih enggan melepaskan atensinya dari sang gadis. Malas-malasan, telapak tangannya pun bergerak untuk menepuk-nepuk puncak kepala Minha, sembari tubuhnya bergeser memangkas jarak yang ada. Bahu mereka sekarang berdempetan, dan tanpa meminta izin terlebih dahulu, Yoongi sudah merebahkan kepalanya di atas bahu gadis itu.

“Yoongi-ya.

Kekesalan itu masih kentara di sana, tersemat pada caranya memanggil nama sang lelaki dengan intonasi sedatar mungkin. Walau ia masih tak tahu alasan pastinya, tetapi setidaknya ia mengetahui satu hal. Yoongi jelas sedang berusaha menggodanya—mungkin ia berniat untuk menghadirkan rona merah di pipi Minha, membuatnya bertingkah bodoh seperti remaja baru jatuh cinta, atau hal-hal semacam itu.

Namun, tidak. Ia tidak akan kalah pada permainan-entah-apa yang sedang dilakukan oleh Yoongi. Di balik semua tingkah abnormalnya ini, Minha yakin bahwa pasti ada maksud tersembunyi yang ingin disampaikan oleh lelaki itu. Pasti ada sesuatu yang sedang Yoongi simpan rapat-rapat, sebuah makna yang akan menjelaskan segala tindakan sok keren dan menggodanya ini. Maka, ia pun memutuskan untuk melakukan satu-satunya tindakan yang bisa ia perbuat di saat seperti ini.

Menunggu.

.

.

.

Lima menit.

Mereka masih tak bertukar kata. Yoongi baru saja menyampirkan jaket hitamnya di atas punggung sofa beberapa sekon lalu, lantas membiarkan lengannya merangkul Minha dengan santai. Bibirnya menggumamkan beberapa bait lirik, mungkin bermaksud untuk terlihat tak acuh sekaligus keren pada saat yang sama.

Minha masih tak peduli.

Dan mereka pun melewatkan lima menit berikutnya tanpa ada kalimat penjelasan yang terlontar.

.

.

.

Lima belas menit.

Yoongi berulang kali meliriknya, berganti-ganti antara menukar dan membuang tatap. Ia menambahi aksinya itu dengan gestur menggigit bibir, kepalanya ditelengkan dengan mimik wajah yang—menurut Minha—terlalu dibuat-buat. Lagi-lagi berusaha untuk membuat Minha tergoda, namun gadis itu malah lekas memalingkan muka dan bersikap abai.

Karena sungguh, kali ini Minha nyaris tak bisa menahan tawanya lagi.

.

.

.

“Minha-ya…

Hampir setengah jam berlalu, dan Yoongi pun akhirnya memutuskan membuka mulut untuk mengawali konversasi. Suaranya yang rendah dan dalam terdengar tepat di samping indra pendengaran sang gadis, embusan napasnya menggelitik dengan sentuhan seringan bulu. Kesabarannya jelas sudah mulai terkikis, sehingga untuk kali ini, Minha pun membiarkan ujung-ujung bibirnya berjingkat naik penuh kemenangan.

“Ya, kenapa?”

.

.

.

“Apa kamu sama sekali tidak terpesona dengan yang barusan?”

.

.

.

Ng.” Minha mendengus geli, spontan menghadirkan ekspresi tersinggung pada wajah Yoongi. Yah, tentu saja ia tidak akan mengakuinya semudah itu, bukan? Ia—pada realitanya—memang harus bersusah-payah untuk bertahan dari ‘serangan’ Yoongi barusan. Degup jantungnya belum kembali ke ambang batas normal, namun ia berusaha keras untuk menutup-nutupinya. Begitu pula halnya dengan deham keras yang ia keluarkan, satu usaha untuk memastikan agar suaranya tidak terkontaminasi oleh rasa gugup kala ia berujar:

“Jadi, kamu mau memberitahu alasannya sekarang?”

.

.

.

Yoongi terdiam sejenak, mengacak-acak rambutnya seraya berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Butuh hampir tiga menit penuh lamanya hingga ia berhenti di hadapan Minha, lantas meletakkan kedua tangannya di atas bahu sang gadis. Membiarkan iris mereka bersirobok, lengkap dengan aura serius yang tiba-tiba melingkupi.

“Jangan tertawa, oke?”

“Oke.”

“Hm, oke. Baiklah. Sebenarnya aku hanya”—jeda sejenak, yang dimanfaatkan oleh Yoongi untuk segera memalingkan muka demi menutupi rasa malu—“hanya ingin memastikan agar kamu tak berpaling dariku.”

.

.

.

Minha mengerjap, alisnya kontan terangkat kala pernyataan itu terucap. Selama beberapa sekon lamanya, ia pun memutuskan untuk menatap lekat-lekat iris hitam Yoongi, memastikan bahwa telinganya tadi tidak salah dengar.

“Berpaling darimu, ya?” ulang Minha seraya—lagi-lagi—berusaha menekan tawa agar tak menyeruak ke permukaan. “Dan kenapa kamu berpikir begitu?”

.

.

.

“Er—”

“Aku menunggu.”

.

.

.

“Kamu tahu, belakangan kamu sering menghabiskan waktumu dengan Taehyung—”

“Dia teman sekelasku dan kami sedang ada tugas kelompok.”

“Lalu dengan adik kelasmu, Youngjae—”

“Kami bergabung di ekskul yang sama.”

“Dan masih ada Seokjin yang—”

“Seokjin hanya memintaku menjadi penasihat cintanya, itu saja. Dia sedang menyukai seseorang.”

Eum, lantas—”

“Apa sekarang kamu juga mau cemburu pada Jimin yang jelas-jelas saudara kembarku itu?”

.

.

.

“Cemburu?” Kata itu menarik perhatian Yoongi, membuatnya serta-merta merengut sebal sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tidak cemburu.”

.

.

.

“Bohong.”

.

.

.

“Aku tidak—”

.

.

.

“Kalau bukan, lalu apa?” Minha menyedekapkan kedua lengannya di depan dada, gemas melihat pipi Yoongi yang digembungkan. Tuh kan, ia benar. Lelaki itu boleh saja bersikap sok keren dan berusaha menggodanya tadi. Namun, siapa sangka bahwa maksud di balik tindakannya itu ternyata berakar dari masalah sesimpel ini? Seorang Min Yoongi memang tak pernah bisa ditebak dengan mudah, tetapi di sanalah letak daya tariknya.

Dan ketertarikan itulah yang membuat Minha melangkah mendekat, mendorong jemarinya untuk mencubit pipi lelaki itu.

“You’re such a cutie, you know.”

“I’m not.”

“Being jealous is cute, Yoongi-ya.”

“Ugh.”

Minha tergelak, membiarkan rasa frustasi menyapu mimik wajah lelaki itu. Bagaimanapun juga, ia tahu bahwa Yoongi tak akan berlama-lama marah padanya, pun memperpanjang masalah konyol ini hingga menyentuh kata ‘pertengkaran’.

Iya, ia tidak mungkin melakukannya karena Minha tahu persis cara meluluhkan hatinya.

.

.

.

“Yoongi-ya….”

Maka, memutuskan untuk memendam egonya barang sebentar saja, Minha pun membiarkan dirinya menggelayuti lengan Yoongi. Menarik perhatian lelaki itu, kendati yang bersangkutan masih kukuh mempertahankan tampang masam.

“Hei, aku sudah susah-susah berusaha mengerti maumu dan kamu marah padaku?”

Yoongi masih bungkam.

“Aku juga memilihmu di antara semua lelaki yang kamu sebutkan tadi. Itu belum cukup?”

Yoongi menggaruk tengkuknya, membalas pertanyaan Minha tadi dengan satu lirikan singkat dan gumaman, “Aku tidak bermaksud meragukanmu.”

“Aku tahu.” Minha membalas cepat, sama sekali tak merasa tersinggung. “Meskipun kamu kadang bertingkah menyebalkan, pura-pura tak peduli, atau semacamnya; aku selalu tahu bahwa kamu tidak begitu. Aku memilihmu, dan kendati kamu kerap membuatku harus menebak-nebak semua maksud tersembunyi di balik tindakanmu, aku tak keberatan.”

“Jadi…”

“Jadi, berhentilah bersikap konyol seperti tadi,” sahut Minha cepat, membiarkan senyum manis terukir di bibirnya. “Oke?”

Yoongi cepat mengangguk, mengiakan meskipun bibirnya kembali terbuka untuk berkata-kata. “Tetapi, Minha-ya…

“Apa lagi?”

.

.

.

Detik berikutnya, Minha pun menyesal karena telah mengira Yoongi akan berhenti mencandainya. Ia sungguh-sungguh menyesal, karena lelaki itu kini tengah mencondongkan tubuh ke arahnya dan menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman menggoda. Membiarkan Minha lagi-lagi tertegun dan tak kuasa bergerak, selagi rasa panas menyebar hingga membuat semu merah tak mungkin bisa ia sembunyikan.

“Yoongi-ya, hentikan.“

“Aku akan berhenti kalau kamu mengakuinya. Aku tahu kamu juga menyembunyikan sesuatu. Aku tahu kalau kamu—“

.

.

.

Dan sebelum Yoongi bisa berpolah lebih jauh, Minha pun buru-buru menempelkan satu kecupan singkat di pipi lelaki itu. Menutup mulutnya rapat-rapat dengan efektif; menghadirkan rona yang serupa di roman mukanya; menghentikan semua tingkah sok menawan itu sebelum jantung Minha benar-benar terlepas dari rongganya.

Shut up and stop teasing me, Min Yoongi.”

fin.

HAHAHAHAHA AKU KEMBALI KARENA ANOTHER FOTO SIALAN LAGI XD

Anyway, hari ini beranda IFK ada dua ff Yoongi-Minha ahey saya bahagia!!! ((walau di ff lais di bikin putus)) .__.

Dan buat yang udah baca, review seperti biasa jangan lupa yaa! I’ll be back kalau ada foto laknat lagi bertebaran di twitter xD

See ya!! ❤

Iklan

23 tanggapan untuk “[Vignette] Hidden Intention”

  1. pertama, itu bukan foto laknat tp foto yg musti kudu wajib buru-buru di save, mer. suer itu suga ganteng banget :3 #ketjupketjup

    duuuhh ini fanfic mas gula kedua yg aku baca setelah punya lais. dan disini aku suka dia yg jail jail epil gitu. sok-sok an menggoda akhirnya minha duluan yg nyosor #eh

    segini aja komennya boleh kan ya? aku jd kepengen buat fanfic yoongi coba ^^

    Suka

    1. halo kak Yeni!!
      haha iya sih itu foto emang minta langsung di save, cuma ya jadi laknat soalnya bikin aku gagal belajar dan nugas gitu kak -__-

      hehe iyaaaa, makasih banyak ya komennya kak! btw kalo mau buat fic mas suga silakan, ini minha-nya menunggu xD ((kedip kedip kode minta dibuatin ff))

      see ya kak! 😀

      Suka

      1. harusnya mas suga bisa membuatmu giat belajar mer. hahaha.. hukum saja dia dengan memenjarakan dihatimu selamanya #tsaaahhh

        aku mau remake ff aku nih. pengen ganti cast jd minha. tapi takut tak sesuai harapan ㅡ.ㅡ

        Suka

  2. HAAAAAAGGGGZZZZZ INI SUNGGUH AH SUDAHLAH SUDAH CUKUP MIN YOONGI!

    Halo, Amer! Kamu kurang tak berperasaan apa lagi ini vignette isinya total Yoongi tebar pesona menggoda dilanjutkan dengan kiyut dilanjutkan dengan menggoda kaganahaaannn.
    ini settingnya cuma di satu tempat tapi berjuta rasanya mihihihi. Girls wannabe like Minha!

    Nice, Amer-chan!

    Suka

    1. SUDAH LELAH GITU YA KAK ECI KITANYA HUHUHU ;;___;;

      hehe anyway aku juga nulisnya gak kuat kali kak….. tiap kalimat pake acara gelindingan dulu hah mungkin itu aku lagi konslet kali ya bisa nulis adegan macam itu (?) buat mas suga .__.

      makasih banyak kak Eci!! 😀

      Suka

  3. Kak Amer jahat. beneran kak amer jahat. kenapa kakak menghadirkan fic semanis ini dan foto suga yang itu kaaak? Dan kenapa timing-ku jelek banget, bacanya waktu aku lagi di depan ibuku? TT TT jadinya harus menahan diri untuk fangirling-an

    aduh mas aguS mah kalo cemburu manis banget… apalagi caranya mau nggoda Minha aduh XD I’m dying inside cuma gara2 bayangin Suga yg nyoba nggoda Minha XD aaak pasti lucu bangetttt

    Suka

    1. yang jahat bukan aku .__. yang jahat itu ya foto di atas yang menggodaku buat nulis ini dek /kabur/
      hihi iya dia tuh aku ngebayanginnya juga lucuk banget, pengen cubit aja deh pipinya huhuhu /ikut fangirlingan/

      anyway, makasih banyak ya leoo! 😀

      Suka

  4. Kak amer ngakak sumpah pas yoongi bilang “Apa kamu sama sekali tidak terpesona dengan yang barusan?” 😂
    rasanya pengen gigitin yoongi
    Pengen nyubitin biar merah” badannya/ditimpuk/
    Betewe mau diculik nih boleh ga sih ?
    buat dijadiin pajangan biar kalo bosen bisa diliatin
    Argghhhhh dan senyumnya itu loh bikin dag dig dug

    Suka

  5. KAMER HANJAY UDAH INI GABISA NGOMONG PANJANG PANJANG cuman perlu bilang bahwa udahlah kamer bikin buku aja dulu yak judulnya yang jelas gitu ‘FLUFF KAMPRET FIC BY AMER’ sama sekalian tulis warning di bawah titel nya ‘awas mabok fluff. Untuk diabetes, jantungan, guncangan mental dan sebagainya tidak ditanggung penulis.’ Nah, gitu. Soalnya cuman mau nyindir ini sekarang aku mabok gini pasti kamer gabakal tanggung jawab kan soalnya dengan begonya juga aku baca tanpa garansi ini udahlah BYEBYE KAMER

    Zyan

    P.s: aku bakal mabok untuk sementara waktu, jadi yunginya aku bawa /uuuyaaaaaaah

    Suka

    1. halo Zyaaan! aduh maaf ya aku bikin ayan mulu, habis kalo aku kasih warning gitu ntar gaada yang baca, dikiranya aku buka lapak jualan rokok lagi di ifk (?)

      anyway, makasih yaa! dan maaf kalau habis ini notifmu rusuh sama balesan komen heheh xD

      see ya!

      Suka

  6. fotonya menggodaa HAHA

    “Apa kamu sama sekali tidak terpesona
    dengan yang barusan?”

    LOL haha,ngebayangin suga ngomong gtu dengan ekspresi jenaka. aahhhh pgn bawa pulang suga -nyaaa 😀

    Suka

  7. YA AMPUUN… NGEBAYANGIN YOONGI YANG SOK KEREN TAPI EMANG IYA TUH SANGAT ASDFGHJKL..

    Aku gak butuh 30 menit,, cukup 10 detik aja pasti udah lumer kayak coklat kena panas.. XD

    Dan ooh,, walopun awalnya sok-ganteng-tapi-emang-bener,, ujungnya malah trnyata cemburu.. mukanya cemberutnya pasti….. ahhh.. kyeopta.. >_<

    dan soal foto laknat itu,, iya.. aku doakan semakin banyak bertebaran biar kak amer makin sering muncul bawa si gula ini.. ^^

    Suka

    1. haha iya dia emang sok tapi ugh ya gitu deh bikin gelimpangan sejuta wanita LOL
      dan bersyukurlah itu Minha tabah ya bertahan 30 menit xD

      haha iya kalo makin banyak foto laknat bangtan pasti makin banyak fic kok 😀 makasih ya udah bacaa 😀

      Suka

  8. suga jealous? terus jadi ngegodain minha biar minha ga berpaling(?) suga oenyoeee jealous lucuuuk pasti minta diunyeng – unyeng/?

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s