[Vignette] Something Postponed

B2AtCLlCAAEhlqC

 

a special birthday movie by tsukiyamarisa

Something Postponed

starring [VIXX] Leo (Jung Taekwoon) and [OC] Re genre AU, Life, slight!Romance duration Vignette (1800+ wc) rating T

.

Mungkin, rasa itu memang tidak muncul pada saat yang bersamaan.

.

.

.

Mungkin, Re adalah satu-satunya orang yang nyaris saja tersedak tatkala lelaki itu melangkah lamat-lamat memasuki ruangan.

Saat itu tengah hari, waktu ketika seluruh anggota teater—baik pemain maupun kru seperti dirinya—berkumpul untuk melahap jatah makan yang disediakan. Semua orang sibuk bertukar cakap, mengisi seluruh penjuru hall tempat berlatih dengan tawa atau konversasi serius. Sang sutradara maupun pimpinan produksi mereka pun terkadang menggunakan waktu makan siang untuk menyampaikan beberapa pengumuman seputar pertunjukkan; dan rupanya, lelaki itulah yang menjadi objek pembicaraan mereka hari ini.

“Jung Taekwoon. Dia akan bergabung dengan kita untuk menjadi pianis dalam pertunjukkan mendatang.”

Manik Re spontan membulat, selagi rekan-rekannya menepukkan tangan dan melontarkan beberapa sapaan untuk menyambut Taekwoon. Ia tak menyangkal bahwa ia terkejut, pun merasa kalau seluruh kejadian yang dialaminya siang ini bagai bunga tidur semata. Kali terakhir ia berjumpa dengan lelaki itu adalah empat tahun lalu, dan siapa yang bisa menyangka bahwa takdir akan mempermainkannya hingga sedemikian rupa?

Karena kini—dengan teganya—takdir telah meruntuhkan semua usaha Re untuk melupakan lelaki itu.

 

***

 

Atau mungkin, sejujurnya ia tak pernah benar-benar lupa?

Gadis bersurai cokelat bergelombang itu masih ingat persis, kapan tepatnya ia mulai memperhatikan seorang Jung Taekwoon tanpa mampu berpaling.

Ia tak tahu bagaimana mulanya, tetapi ia ingat bagaimana dirinya tak lagi mampu mengabaikan presensi lelaki itu di dalam kesehariannya. Mereka memang tidak banyak bertukar obrolan, hanya sepatah-dua patah ucapan ‘selamat pagi’, ‘terima kasih’, atau sebagainya. Namun, walau bagaimanapun juga, Re tetap tak mampu menghapus semua detail mengenai Taekwoon dari kepalanya. Baik itu di kelas, di lorong-lorong kampus mereka, atau saat Re tak sengaja menangkap sosoknya di kantin maupun tempat parkir, semua itu terekam dengan amat baik di dalam ingatannya. Re selalu mengamati Taekwoon secara diam-diam, dan dalam cara yang sama pulalah—ironisnya—perasaan itu mulai berkembang.

“Aku tidak pernah mengharapkannya, kok.”

Dulu, Re punya kebiasaan untuk melontarkan kalimat itu sebagai pembelaan kala teman-temannya bertanya, “Kau tidak mau mengungkapkan perasaanmu?

Iya, terdengar bagai dusta memang. Namun, di waktu itu, Re pikir ia memang sungguh-sungguh tidak mengharapkan Taekwoon untuk menjadi kekasihnya. Baginya, tidak masalah jika ia hanya bisa mengamati Taekwoon secara sembunyi-sembunyi; tak menjadi persoalan jika lelaki itu tak pernah mengerti isi hatinya. Ia sendiri bahkan berprasangka bahwa perasaannya itu pasti akan menyurut seiring berjalannya waktu—layaknya kisah-kisah romansa anak muda yang masih terlalu naif dan tak mengenal kata serius.

Tetapi, tahun berlalu.

Mereka sama-sama sudah lulus, mendapat pekerjaan, menempuh jalan hidup masing-masing.

Dan perasaan Re untuk Taekwoon masih tetap sama.

Gadis itu mulai menyadari bahwa ia menemui kesulitan untuk mengosongkan hatinya kembali, untuk melupakan sosok seorang Jung Taekwoon yang dulu bahkan tak acuh kepadanya. Terkadang, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai kabar Taekwoon; namun di lain waktu, ia berpolah layaknya lelaki itu tidak pernah menelusup masuk dan mengendap di sudut hatinya. Terus seperti itu, sebuah siklus yang berputar bagai roda, sampai hari ini tiba dan mengacaukan kerja poros kehidupannya. Lagi.

Ya.

Sekali lagi, Re mendapati bahwa ia tak mampu berpaling dari Taekwoon.

 

***

 

“Hai.”

Re memutuskan untuk menyapanya lebih dulu saat jam makan siang berakhir, selagi para aktor dan aktris sibuk melakukan preparasi sebelum bermain peran. Toh, menilik dari sikap dingin Taekwoon, besar kemungkinan bahwa lelaki itu tak akan membuka mulut hingga seseorang mengajaknya bicara.

“Halo juga.” Taekwoon membalasnya dengan suara kecil, nyaris tidak terdengar di tengah hiruk-pikuk hall teater. Sorot tajamnya mengarah pada Re sekilas, sebelum akhirnya kembali terfokus pada lembaran-lembaran kertas berisi aransemen musik yang tersebar di atas piano. Lelaki itu sama sekali tidak berkomentar apa-apa mengenai kehadiran Re yang tiba-tiba, melainkan hanya membiarkan gadis itu berdiri di sampingnya sementara ia sibuk menekan-nekan tuts piano dengan asal.

Maklum, Re pun hanya bisa mengulas senyum simpul kala melihat tingkah Taekwoon. Mungkin ia memang sudah melupakan Re. Lagi pula, eksistensi Re memang tidak pernah memiliki arti yang penting dalam hidup Taekwoon, bukan? Ia bukan siapa-siapanya, dan ia tak semestinya berharap kalau—

 

“Lama tidak berjumpa, Re.”

 

oh, atau mungkin ia masih diizinkan untuk berharap?

 

***

 

“Jadi, kamu bekerja di mana selama ini?”

Memulai konversasi dengan Taekwoon ternyata tidak sesulit yang ia kira, terlebih karena lelaki itu sering berlatih hingga larut malam. Seperti hari ini, contohnya. Para pemain sudah lama pulang, begitu pula halnya dengan beberapa kru pertunjukkan. Hanya ada sang pimpinan produksi mereka yang sedang membahas tata letak panggung, Re—sebagai koordinator bagian make-up dan kostum—yang masih sibuk mendaftar nama pemain, serta Taekwoon yang masih setia mengulang-ulang sebait lagu pembuka pertunjukkan.

“Bermain piano,” jawab Taekwoon lugas, keningnya mengernyit ketika ia tak kunjung menemukan tempo yang dirasanya tepat. “Atau bernyanyi.”

“Coba, aku mau dengar suaramu.”

Taekwoon cepat-cepat menggeleng kala permintaan Re tersebut meluncur. Ia hendak menolak, tetapi Re sudah terlanjur mendudukkan diri di sampingnya dan mulai menggerakkan jari di atas bilah-bilah hitam putih piano. Ia menyanyikan sebuah lagu seraya menyenggol siku Taekwoon sekilas, menuntut lelaki itu untuk bernyanyi bersamanya.

“Suaraku memang tidak bagus-bagus amat, pun dengan permainanku. Jadi, ayo temani aku, Taekwoon-a.”

Sejenak, Taekwoon terlihat ragu. Namun, layaknya seorang pengamat setia yang sudah mengenal seluk-beluk sifat Taekwoon sedari dulu, Re tahu bahwa pria itu tak mungkin menolak. Ia boleh benci mengungkapkan perasaannya secara gamblang, tapi musik dan bernyanyi sudah menjadi bagian dari hidup Taekwoon sejak lama. Dan bernyanyi, adalah salah satu dari sekian banyak cara yang dipilih Taekwoon untuk mengungkapkan isi pikirannya.

“Ayolah.”

Taekwoon tidak menolak lagi. Detik berikutnya, jemarinya sudah ikut menari-menari sementara bibirnya melantunkan tembang dengan begitu indah. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Re telah berhenti bermain dan bernyanyi, terlalu larut dalam keasyikannya hingga gadis itu mengeluarkan tepuk tangan riuh sebagai tanda apreasiasi.

Ng…”

“Terima kasih,” ujar Re cepat, sementara Taekwoon hanya bisa bungkam dan mengamati figur di hadapannya lekat-lekat. “Aku menikmatinya, Taekwoon-a.

 

***

Re menikmatinya.

Terlalu menikmati, malah.

Ia menyukai rutinitasnya yang baru, kebiasaannya untuk tinggal di hall pertunjukan hingga larut karena menemani Taekwoon berlatih. Kendati ia akan merasa lelah setengah mati atau kekurangan tidur karenanya, ia tetap melakukannya. Ia sudah cukup senang karena Taekwoon mau berbicara kepadanya—dan tidak pada anggota teater yang lain—serta tampaknya memiliki kebiasaan baru untuk mengekori Re ke mana pun ia pergi.

“Kamu tidak pernah mau mengobrol dengan anggota lain, ya?” tanya Re suatu hari, ketika lagi-lagi ia mendapati Taekwoon membuntutinya ke ruang kostum. Lelaki itu hanya duduk di sudut ruangan, mengamati Re yang sedang sibuk mengecek kelengkapan kostum seraya memperbaiki beberapa jahitan di sana-sini.

“Aku tidak suka keramaian.” Taekwoon bergumam, menggaruk tengkuknya sekilas. “Kamu keberatan?”

“Tidak.” Re menjungkitkan sudut-sudut bibirnya penuh arti sementara Taekwoon mengangguk-angguk kecil. Tentu saja ia tidak keberatan. Ia diberi kesempatan untuk menyukai Taekwoon sekali lagi, walau entah apakah perasaan itu nantinya akan berbalas atau tidak. Namun, bagi Re, itu sudah cukup. Terlebih, mengingat bahwa satu momen penting itu akan datang esok hari.

“Omong-omong,” Re memulai lagi, melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kedua jarum jam yang ada di sana sudah nyaris berimpit rapat, menunjukkan waktu yang hampir tengah malam. “Sudah larut. Mau pulang?”

Taekwoon lekas mengiakan, menyamakan langkah kakinya dengan Re yang berjalan lebih lambat. Keduanya berjalan keluar dari hall teater dalam sunyi, sampai akhirnya genggaman tangan Re pada lengan Taekwoon mengehentikan ayunan tungkai lelaki tersebut. Sang gadis kini tengah mengamati Taekwoon lekat-lekat, terlihat sedikit gugup tetapi juga bersemangat pada saat yang bersamaan.

“Kenapa?”

Um, ini sudah lewat tengah malam.”

Taekwoon mengangkat sebelah alis, membuat deham-deham kecil menyeruak dari tenggorokan gadis itu. Mereka kini berdiri tepat di halaman depan gedung pertunjukan, praktis hanya berdua saja di tengah senyapnya malam.

“Artinya, ini sudah tanggal sepuluh November,” lanjut Re, diam-diam sedikit merutuki Taekwoon yang lupa akan hari lahirnya sendiri. “Selamat ulang tahun, Taekwoon-a.

“Oh.” Taekwoon mendadak paham, lantas memutuskan untuk membalas ucapan itu dengan senyuman singkat. “Terima kasih. Aku—“

Namun, ucapan Taekwoon terpotong begitu saja kala Re dengan nekat mencondongkan tubuhnya mendekati pria itu. Membiarkan kedua belah bibirnya menempel pada pipi Taekwoon barang sepersekian jenak, dilanjutkan dengan aksi menarik diri dan munculnya semu kemerahan pada wajah sang gadis.

“Re….”

Namun, yang dipanggil sudah tak lagi mampu untuk berkata-kata. Alih-alih menanggapi ekspresi keterkejutan yang melintas di rupa Taekwoon, Re malah buru-buru membalikkan badannya dan kabur secepat yang ia bisa. Benaknya kini kembali merutuk; namun bedanya, ia menujukan kekesalan itu kepada dirinya sendiri.

Apa yang sudah kamu lakukan, Re?!

 

***

 

Wajar saja jika Re tak mampu menatap Taekwoon tepat di mata keesokan paginya.

Kendati begitu, ia bersyukur karena hari itu kebetulan bertepatan dengan acara gladi bersih pertunjukan. Rolling scene demi scene yang dilakukan cukup untuk membuat Re sibuk di belakang panggung, memastikan agar semua pemain sudah mengenakan kostum mereka dengan tepat. Ia bahkan nyaris tak punya kesempatan untuk berduaan dengan Taekwoon, karena lelaki itu sendiri juga disibukkan dengan keharusannya mengiringi adegan demi adegan dengan permainan pianonya.

Namun, bukan berarti Re sudah melupakan aksi-tanpa-pikir-panjangnya tempo hari. Setiap detailnya masih terekam rapi, dan bohong jika ia berkata bahwa ia tidak merasa risau seharian ini. Tubuhnya boleh saja bergerak dengan cekatan kesana-kemari, tetapi benaknya terus-menerus teringat akan Taekwoon serta mimik wajah lelaki itu kemarin malam. Ia jadi merasa seperti orang bodoh. Hubungan mereka baru saja mengalami kemajuan setelah sekian lama tak bersua, bukan? Kenapa pula ia harus mengacaukan semua hal itu dengan tingkah polahnya yang terlampau spontan?

“Hei, Re, kita mendapat istirahat setengah jam, tuh. Mau ikut kami ke kedai dekat sini, tidak?”

Tergeragap, Re lekas mendongak dan mendapati bahwa scene terakhir baru saja selesai diperankan. Tirai beludru merah sudah tertutup rapat; alunan musik berhenti terdengar selagi para pemain melepas lelah di atas panggung yang remang.

“Re?”

“Tidak, kalian pergi saja.” Re tersenyum tipis dan melambaikan tangan, memberi tanda bahwa ia lebih memilih untuk tinggal dan—mungkin—mencari Taekwoon di antara kerumunan kru musik. Rasa malunya memang masih bertahan, tetapi kuriositas yang ada di dalam dirinya sudah melebihi rona merah yang tercetak di pipi. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Taekwoon; secara konstan bertanya-tanya apakah pria itu kini memilih untuk menghindarinya. Di satu sisi, Re tahu benar bahwa ia punya lima puluh persen peluang untuk mendapatkan jawaban yang tak mengenakkan hati. Namun, di sisi lain—

“Oh.”

—bukankah ia juga memiliki peluang yang sama besarnya untuk mendapatkan jawaban yang tak terduga?

Seperti sebungkus cokelat batang, misalnya?

Re mendapati benda itu diletakkan di atas tas tangannya, tepat di ruang kostum yang kosong melompong. Gadis itu tidak bisa menemukan Taekwoon di mana pun, sehingga ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang kostum dan menghabiskan waktu istirahatnya di sana.

Lamat-lamat, Re pun mengambil cokelat batang dengan merek favoritnya itu dan mendapati secarik kertas yang tertempel di sana. Entah mengapa, debar jantungnya mendadak bertalu tak keruan. Sedikit harapan mulai tercipta di benaknya, sementara kelegaan datang membanjir seiring dengan untaian kata-kata yang tertangkap manik hitamnya. Ujung-ujung bibirnya berjingkat naik, mengembangkan senyuman lebar yang mewakili isi hatinya saat ini.

Sekarang, ia mengerti mengapa takdir tak mengizinkannya untuk melupakan seorang Jung Taekwoon; mengapa pikirannya tak mau berkompromi untuk menghapus presensi pria tersebut.

Karena pada akhirnya, walau ia harus melewati sekian tahun dalam penantian, ajakan itu pun datang kepada dirinya. Taekwoon bukannya tak pernah memperhatikan Re. Yang terjadi hanyalah sebuah penundaan, sekelumit bumbu yang hadir agar mereka sama-sama menyadari perasaan masing-masing. Re mungkin memang sudah mengetahui isi hatinya sejak semula, namun bukan berarti hal yang serupa berlaku bagi Taekwoon, ‘kan? Tidak ada yang bisa menyalahkan lelaki itu, dan Re sendiri juga sama sekali tak berniat untuk mencercanya karena—

 

 

Terima kasih atas kejutannya kemarin, Re. Apa kamu ada waktu luang setelah gladi bersih hari ini? Bagaimana dengan makan malam bersama?

J. Taekwoon

 

 

—ajakan itu; sudah bisa dibilang sebagai kencan pertama mereka, bukan?

 fin.

note:

I’m back with a piece of VIXX’s fanfiction!

Kebetulan udah lama pengen bikin Teater!AU karena saya sendiri pas SMA anak teater dan banyak *uhuk* momen yang bisa dibikin cerita ((lalu baper)). Dan akhirnya kesampaian juga bikin cerita ini, plus nggak menutup kemungkinan kalau besok2 nulis teater!AU lagi

Anyway, happy birthday buat Mas Tekwun! Semoga ngomongnya bisa diperbanyak, jadi saya nggak capek juga yang ngebias (apa hubungannya)

And please do leave some review! ^ ^

regards,

tsukiyamarisa (@tsuki016)

Iklan

26 tanggapan untuk “[Vignette] Something Postponed”

    1. Ameeeeerrr maaf baru sempet komen 😥 Biasa nih aku mah inget udah nyepot tapi lupa dimana ㅜ.ㅜ

      Hah kisahnya sedih tapi ujunngnya…….WHY HAPPY ENDING?? INI LEBIH NYAKITIN MER 😥
      Bikos kisahku…….(kamu tau tanpa perlu aku ceritain ㅡ.ㅡ)
      Terus LEO! DIA MAEN PIANO? PIANO?!! PAKE SETELAN PUTIH TRUS YANG KALEM MAEN PIANO NO SMILE. HAH! Khayalan aku ㅠ.ㅠ
      Ficnya sweet bener mer X| aku iri sama Re….mau dong gantiin kamu makan malem sama oppa ganteng. Hihihihihi XD
      Etapi suka yang bagian leo buntutin Re ke ruang kostum. Unyu gemesin pengen peluk *EH?!

      See ya amer ^^
      Maaf atas keterlambatan komennya ㅠ.ㅠ

      Suka

  1. Wow…..aku senyum-senyum sendiri pas baca ini. Tahu kenapa? KISAH RE MIRIP SAMA GUEEE…..#histeris oke, tapi sayangnya nggak berakhir indah seperti itu…..#hiks….ah, yasudahlah lupakan.. Yang pasti ini ff baguusss…..so sweet……ngomong-ngomong karakter Taekwoon mirip sama cowok di kisah nyata gue hehehe….udah ah, malah jd curhat. Semangat terus ya nulisnyaa….^^

    Suka

  2. Wow…..aku senyum-senyum sendiri pas baca ini. Tahu kenapa? KISAH RE MIRIP SAMA GUEEE…..#histeris. Oke, tapi sayangnya nggak berakhir indah seperti itu…..#hiks….ah, yasudahlah lupakan.. Yang pasti ini ff baguusss…..so sweet……ngomong-ngomong karakter Taekwoon mirip sama cowok di kisah nyata gue hehehe….udah ah, malah jd curhat. Semangat terus ya nulisnyaa….^^ fighting….

    Suka

  3. Yayayay anjrittt bikin jungkir balik senyam senyum loncat loncat amburadul gak karuan
    mas leo akhirnya kamu sadar hihi
    ihhh dibuntutin sama makhluk tamvan berbinar bak akang leo siapa yang gamau atuhh
    senenggg wehhh senenggg kalo dibuntutin gitu udah kaya anak kecil buntut sana sini
    itu yang terakhir bikin speechless
    entahlah re yang dibikin seneng tapi daku jugag ikutan seneng
    karna akhirnya mas leo ngajak kencan juga yang secara gak langsung itu
    Betewe aku mau juga sih coklat dari mas leo
    ihhhh re bikin iri setengah hidup dahhh
    ihhhh mas tekwun ulang tahun
    aku gak tau soalnya bukan penstalker (?) Vixx sih cuma suka leo, si face of the group dan si leadernya yang namanya saya lupakan sejenak /maruk amat/(N bukan sih ?)
    kalo gitu hbd
    sama kaya hari pahlawan ya
    Kalo di indonesia mengenang pahlawan
    Kalo maz leo dikenang akyuuu dan pahlawan dihatiku (ngomong apa sih)

    Suka

  4. Tadinya udah niatan mau tidur nih
    ehh tapi iseng iseng buka ifk dan kak amer apdet langsung dah mata seger lagi apalagi ditawarin cast akang leo (curhat ulalala)

    Suka

    1. HALO TATAAAA!!

      hihi aduh kamu bilang mas leo kaya bocah bikin aku jadi makin gemes nih huhuhu
      dan dia emang ribet ya mau ngajak kentjan saja susah tapi yaudahlah leo ini aku nunggu juga rela /lho

      makasih banyak taaa, sorry for the late reply ;_;

      Suka

  5. Aduh, maaf bgt ya komenku kepost 2 kali….aku emg sering gitu, sering ga sengaja keklik. Yg terakhir itu anggep aja ga ada–walau beda user name, tapi ‘kan komennya sama–oke? Sekali lagi aku minta maaf……ngomong2, Happy Birthday Jung Taekwoon…. Di komen sebelumnya blm sempet ngucapi tadi hehehe……

    Suka

  6. gak tau ya mer baca ini tuh dari awal udah dagdigdug. mikir “kok ini gak jauh beda sama pengalaman gue (eaaaaaaa!)” tapi pas akhir NO bangetlah buat aku. gak ada ending sebahagia ini di kehidupan nyata aku 😥

    kata amer: INI KOTAK KOMEN WOY! NGAPA MALAH CURHAT?!!
    okeh maaf ya mer sok mendayu gini akunya ㅡ.ㅡ

    pengen banget jadi Re >< kenapa dia beruntung sekali bersanding dengan kang mas Leo?! WAE?!
    kalo aja bisa kayak Re yang maju terus pantang mundur plus dapet respon positif dari lawan……..aah syudahlah kelamaan berkicau nanti malah penuh curhatan aku ㅠㅠ

    makasih kado manisnya ya mer ^^ kang mas tekwan ngirim seribu mangkok tekwan buat kamu dan mas syuga *ketjup ♥

    Suka

    1. LAH KAYEN UDAH KOMEN DI SINI TERNYATA HAH JADI SPOT TADI DI ATAS…… DIKOMEN LAGI OMO ((bingung harus nangis apa ketawa))

      Ini kan emang cerita kita berdua kak T T cuma ini versi lebih beruntung kalo kita enggak huhu
      dan gabungin sama komen di atas, leo main piano = mati ((kayen harus liat pas dia di konser itu UGH MO NANGIS LIATNYA)) dan leo buntutin kaya anak ayam = bocah minta dicubit uhuhu aku tak kuasaaaa T T

      anyway, makasih banyak atas komen dobelnya ya kak!! muaaah ❤ ❤

      Suka

  7. Pagi” ngecek ada ff leo lagi dan buatan kak amer, langsung baca dan akhirnya berakhir dengan senyum” sendiri dan nangis (?)

    dilihat dr comment” di atas, ini mirip sama real life mrk, aku juga sama! Persis sama tp dengan ending yg berbeda :’) hoho
    aduh entah kenapa setiap baca, bawaannya terharu sama Re, ini aku banget masa :’ perjuangan gak sia” banget, mas leo bikin greget ah! Aku mencintaimu mas *loh 😀 dan ini sukses bikin nangis, nangis’a karena terharu, terharunya karna ini vignette keren yg pernah aku baca :* /okelah sudah cukup curhatnya/

    keep writing deh kak! Banyakin buat ff vixx yaa 😉 hihi
    lafya~ ❤ hihi

    Suka

    1. HALO JULS!!

      ah kamu komen di sini dari jaman kita belom kenal aku balesnya baru sekarang huhu ;;__;;

      dan yep, curhat sajalaaah, kayaknya banyak ya orang yang kisahnya serupa hihi ((berpelukan))
      makasih banyak ya juls! aku udah ada draft vixx lagi sih ditunggu sajaaa hehe 😀

      see ya!

      Suka

  8. hepibesdei buat si singa!
    oke, ini emang telat banget… tapi gak apalah,,
    back to the topic… aku heran setelah baca komen-komenan diatas, karena banyak reader yang punya pengalaman sama kaya Re, dan nyesek karena aku juga ngalamanin,, huhuuhu
    jadi ini malah curhat…. untuk cerita, diksi, dan teman-temannya aku gak bisa komen apa-apa karna ini keren banget! ngalir dan tiba-tiba ‘fin? aku mau baca lagi!’
    pokok’e jempul penuh!

    salam,,

    nana 😀

    Suka

    1. maaf juga ya atas balasannya yang terlambat ;;_;;
      huhu ini mungkin emang pengalaman banyak orang banget ya, udah suka lalu lost contact, tapi buat endingnya belum tentu sebahagia mas tekwun ;;__;;

      makasih banyak ya nanaa! 😀

      Suka

  9. fluffnya dapet banget, dan aku suka banget gaya cerita Author. Gak berbelit-belit tapi sampai tujuan.

    sukses untuk fanfic berikutnya!!!:)

    Suka

  10. aiiihhh itu lanjutannya gantung tuh padahal mau ngintip juga dong kencan pertama mereka kekekekekkeke jadi.. jadi.. leo suka juga kan ? wkkw ada harapan buat rei…

    Suka

  11. Huhuhuuu leonya bikin diabetes di sini!!!
    enak dong yah dikuntitin abang leo kemana-mana atuh mau juga dong dikasih cokelt trus diner aaaaa T_T monanges nih monangesss
    sukses thorrrr ffnya bikin jumpalitan rasa gak karuan hahaha

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s