[Vignette] Blackout

141018 지민 1-2560x1788

 

a movie by tsukiyamarisa

starring [BTS] Park Jimin and [OC] Park Minha genre Family, Fluff duration Vignette (1000+ wc) rating G

.

Mungkin, untuk sekali ini, Park Jimin tak lagi membenci gelap.

.

.

.

Penyesalan selalu datang terlambat, Jimin tahu itu.

Ia paham benar dengan pepatah yang satu itu, tetapi tekadnya untuk ikut pergi menonton film bersama teman-temannya tadi siang tak luntur juga. Sialnya, mereka memutuskan untuk menonton film horor kendati ada Jimin dan Minha yang ikut serta. Dan bodohnya lagi, mereka menurut saja dengan ajakan itu. Jimin mengira bahwa menonton film horor beramai-ramai tentunya tidak akan seseram jika kau menontonnya seorang diri, namun—

“Kenapa kamu mengikutiku terus, Minha-ya?”

Hmm.” Minha hanya bergumam kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memandangi dua buah gelas di atas meja dapur. Gadis itu menolak menjawab, tapi Jimin tahu persis bahwa ia pasti tak mau ditinggal sendiri di kamarnya. Orang tua mereka sedang tak ada di rumah; dan lagi, hujan deras pun sedang turun di luar sana.

“Takut?”

“Memang kamu berani?” Minha balik bertanya, menantang Jimin. “Jeritanmu di bioskop tadi sama kerasnya denganku, Kak.”

“Terserah,” sahut Jimin langsung, bibirnya dikerucutkan selagi ia mengaduk susu cokelat di dalam gelas. Well, ia tidak bisa mengelak karena pada kenyataannya ia memang sempat berteriak saat setan-setan sialan itu muncul tadi. Ditambah lagi, Taehyung dan Sungjae kompak menertawainya hingga menarik perhatian seisi bioskop. Kesimpulannya hanya satu, tentu. Menonton film horor adalah keputusan terburuk yang pernah Jimin buat seumur hidupnya.

“Nih.” Masih sedikit bersungut-sungut, Jimin mengulurkan segelas susu yang ia buat ke arah adiknya. “Ayo kita lupakan saja kejadian tadi siang, oke?”

Minha tergelak kecil, lantas lekas meminum susu cokelat itu alih-alih menjawab pertanyaan Jimin. Selama beberapa menit, keduanya hanya memandangi bulir-bulir air yang menempel di kaca jendela belakang. Membiarkan hening merayap perlahan, sampai cahaya terang yang membelah kegelapan malam tertangkap mata dan—

.

“Hei, hei! Kamu mau mengotori bajuku?” protes Jimin, tepat ketika guntur terdengar disusul dengan suara petir yang memekakkan telinga. Mengabaikan gelas susu yang masih berada di tangan, ternyata Minha sudah lebih dulu menginvasi ruang gerak Jimin dengan cara memeluk kakaknya itu erat-erat.

“Aku benci petir,” gumam Minha, masih enggan melepaskan diri. “Tenang saja, gelasku sudah kosong, kok.”

Jimin hanya menghela napas, lantas beralih mengambil gelas di tangan saudarinya dan susah payah berjalan menuju bak cuci piring. Adiknya itu masih setia menempel di sana, menggenggam ujung kaos Jimin erat-erat seperti anak kecil. Suasana rumah yang sepi juga tidak membantu, terlebih karena keduanya diam-diam mulai teringat akan adegan demi adegan di film horor yang tadi mereka tonton.

“Kak Jimin.”

“Hm?”

“Haruskah aku menelepon Yoongi saja?”

“Hah?” Jimin spontan menoleh, nyaris menjatuhkan gelas yang sedang dicucinya. “Memang kenapa?”

“Karena kita berdua tidak cukup berani?”

“Lalu aku jadi obat nyamuk di antara kalian, begitu?” dengus Jimin, tak paham dengan jalan pemikiran adiknya. “Aku cukup bera—”

Perkataan Jimin seketika terpotong, selagi lampu yang berada di atas kepala mereka berkedip mengancam. Suara dahan pohon yang saling bergesekan kini makin kentara, ditambah dengan derai hujan yang menderas disertai suara bergemuruh. Lekas ia pun menuntaskan kegiatannya mencuci gelas, sementara benaknya baru saja mulai memanjatkan harap ketika kegelapan tiba-tiba melanda.

.

“Sial!”

Jimin benci film horor, tetapi ia lebih benci dengan rasa takut yang selalu mengikutinya tiap kali ia selesai menonton genre laknat tersebut. Suara-suara aneh akibat hujan di luar sana sudah cukup mengerikan, jadi haruskah rumahnya mengalami pemadaman listrik pada saat-saat seperti ini? Hal terakhir yang Jimin butuhkan adalah penampakan setan atau hantu seperti di film-film dan—

“Kak Jimin? Hei, Jimin-a?”

“Y-ya?” Jimin menoleh, merasakan lengan Minha menyenggolnya. “Kenapa?”

“Tolong nyalakan.”

“Apanya?”

“Lilinnya, bodoh,” sahut Minha, jemarinya berusaha meraih tangan Jimin untuk meletakkan sekotak korek api di sana. “Aku tidak bisa.”

“Serius, Minha-ya?”

“Sudah lakukan saja,” jawab Minha, mendadak galak. “Aku tahu kamu benci gelap.”

Bibir Jimin sontak mengerucut maju, kendati ia tahu benar bahwa Minha tak bisa melihatnya. Hati-hati, ia pun menyulut api dengan korek yang diberikan Minha dan menyalakan lilin yang disodorkan sang adik. Cahaya kekuningan pun langsung terbentuk di sana, cukup untuk mengizinkan mata keduanya beradaptasi dengan kegelapan.

.

“Kamu baik-baik saja?”

“Aku hanya berharap tidak ada yang aneh-aneh lagi,” sahut Minha, tanpa sadar mulai menggigiti bibir bawahnya dengan cemas. “Atau sebaiknya aku telepon Yoongi sa—”

“Tidak.” Jimin menimpali dengan tegas, melupakan fakta bahwa ia sendiri nyaris terlonjak kaget saat mendengar suara kucing mengeong yang cukup keras—entah darimana asalnya. Menutupi rasa malunya, ia pun mengulurkan tangan untuk mengambil lilin di tangan Minha dan memindahkan benda itu ke atas meja.

“Tidak perlu,” ulang Jimin lagi, kali ini lengannya terulur untuk memeluk kembarannya. “Aku… aku berani, kok.”

“Bohong.”

“Tidak, sungguh. Lagi pula, aku tidak mau merepotkan Yoongi Hyung.”

“Sebenarnya, Yoongi yang bertanya apakah ia perlu kemari atau tidak. Dan karena ia sedang bersama Namjoon dan Hoseok, mungkin mereka bisa ke sini bersama-sama. Cukup untuk membuat suasana lebih ramai, kan?”

Argumen Minha itu ada benarnya, namun Jimin mendapati dirinya kembali menggelengkan kepala kuat-kuat dan merengkuh tubuh Minha makin erat. Sesuatu dalam dirinya mendadak bergejolak oleh amarah kala ia mendengar perkataan Minha tersebut. Walau bagaimanapun juga, ia ini laki-laki, bukan? Ia tidak sepengecut itu; dan ia ingin membuktikan bahwa ia juga bisa menghadirkan rasa aman bagi adik perempuannya.

“Aku tidak suka,” gumam Jimin, akhirnya memutuskan untuk jujur seraya membiarkan kepala Minha bersandar di dadanya. Sejak dulu, gadis itu punya kebiasaan untuk memeluk Jimin erat-erat tiap kali ia sedang merasa sedih, takut, atau kesal. Dan kini, Jimin memutuskan untuk melakukannya lebih dulu sebelum Minha memintanya.

“Tidak suka apa?”

“Aku benci gelap, tetapi kalau mati listrik bisa membuatku terlihat layaknya seorang kakak yang berani, aku tidak keberatan,” jelas Jimin panjang lebar, kini menarik diri untuk menatap manik Minha lekat-lekat dalam keremangan. “Aku tidak suka kalau kamu lebih bergantung pada Yoongi Hyung dibandingkan diriku.”

.

Mendengarnya, Minha pun tak bisa menahan senyum. “Kamu cemburu?”

“Itu bukan cemburu namanya!” bantah Jimin langsung. “Aku ‘kan, kakakmu! Aku punya hak untuk—”

“Aku tahu, aku hanya bercanda,” potong Minha langsung sembari menggelayuti lengan Jimin, berusaha agar kakaknya itu tidak merajuk. “Tapi, kenapa mendadak Kakak punya pikiran macam itu?”

“E-eh… karena….”

“Karena?”

Jimin menghela napas panjang, tahu bahwa alasannya ini mungkin terdengar tak masuk akal atau bodoh. Teman-temannya selalu berkata bahwa Jimin adalah tipe kakak lelaki yang kelewat protektif, tapi menurut Jimin, itu adalah cara untuk menunjukkan rasa sayangnya pada Minha yang melebihi apa pun juga. Mereka selalu bersama sejak kecil, tak salah kan, kalau ia berpolah seperti ini?

“Kakak?”

.

“Suatu saat nanti kamu pasti akan menikah, Minha-ya.”

Sang gadis nyaris tersedak begitu kata-kata itu meluncur, keningnya berkerut penuh rasa tak percaya. “Kenapa tiba-tiba membicarakan pernikahan? Aku juga tidak akan menikah secepat itu.”

“Tetap saja,” Jimin memasang ekspresi tak suka, lalu melanjutkan, “Suatu saat hal itu akan terjadi, baik padaku maupun pada dirimu. Dan sebelum aku merelakanmu untuk pergi bersama orang lain, aku mau menjadi kakak yang baik dan bisa diandalkan.”

Alasan itu sama sekali tak terdengar bodoh, bahkan di telinga Minha sekalipun. Diam-diam, gadis itu juga ikut bersyukur atas pemadaman listrik yang terjadi. Ia, sama seperti Jimin, sebenarnya juga memendam kekhawatiran yang sama. Dan kapan lagi mereka bisa saling bertukar obrolan serius seperti ini, jika bukan karena listrik yang mati?

“Maaf kalau itu terdengar menyebalkan, tapi—”

“Tidak, kok,” timpal Minha langsung, sekali lagi memeluk Jimin untuk mencari kehangatan di tengah hujan yang tak kunjung reda. “Tak masalah, Kak. Asal kamu mengizinkanku tidur di kamarmu malam ini.”

Jimin langsung mengangguk setuju, ujung-ujung bibirnya berjungkit membentuk senyum lebar. Tangannya bergerak untuk meraih lilin yang tadi diletakkan di atas meja, lantas melangkah mengikuti Minha yang sudah lebih dulu memasuki kamarnya dan menidurkan diri di atas kasur.

.

“Kak Jimin?”

Ng?” Jimin menguap lebar, membiarkan Minha beringsut mendekat dan menjadikan lengannya sebagai guling. “Ada yang ingin kamu katakan?”

“Aku juga menyayangimu, lebih dari apa pun,” ungkap Minha lirih, namun cukup keras bagi Jimin untuk mendengarnya. Lelaki itu mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir saudarinya dengan penuh perhatian, memastikan agar ucapan itu terus terekam dalam ingatannya sampai kapan pun juga.

“Dan kamu selalu jadi yang nomor satu bagiku, bahkan dibandingkan dengan Yoongi sekalipun,” lanjut Minha lagi, sementara Jimin lekas mengulas senyum penuh kemenangan karenanya.

“Benarkah?”

 

Mm-hmm. Jadi, jangan khawatir lagi, oke?”

fin.

Iklan

9 tanggapan untuk “[Vignette] Blackout”

  1. Eaaaaa JiMinha akur >3<
    Park siblings fix bikin iri. Kenapa pasti ada adegan di kasur coba? Minhanya peyuk-peyuk dek Jimin pula. Aaaaaaakkkk TAT
    Kalo gitu aku ajak dek Taemin maen uno lah di kamar. Mhihihihihi 😀

    Tjie Jimin cemburu tjie….. atut Minha diambil Yoongi ya? Tenang-tenang, kalo kamu kesepian kan bisa maen sama nuna. Hahahaha…
    Jimin tuh pengen banget ya diakuin sebagai kakak yang jantan gitu. Iya deh kamu jantan, yang paling berani (diantara anak esde. Ha!)
    Eh coba Yoongi jadi dateng ya. Minha kan bisa peyuk Yoongi. Hehehehehe XD

    Suka

    1. JiMinha kan emang unyu akur gitu kak aslinya, kamu bukan choi siblings heheh :3
      DAN APA INI MAIN UNO HAH TERNYATA DARI JAMAN INI YA ISTILAH MAIN UNO MUNCUL AKU BARU SADAR /.\ ((maafkan keterlambatannya ya kak…))

      biasalah kakak, kalo ga diakui ntar ngambek hihi xD yaudahlah toh jimin lebih pelukable daripada yungi ((lho))

      MAKASIH BANYAK YA KAYEEENI :*

      Suka

  2. Park sibling nyebelin bikin iri bangetttt ihhh (efek ga punya kakak cowok)
    beneran deh ni 2 bocah kalo udah keadaannya kaya gini bikin iri bingitttsss
    Berasa deket banget gitu
    Akhhhhh jadi pengen punya kakak cowok apalagi kayak kak jimin
    Tapi pas jimin bilang “Suatu saat nanti kamu pasti akan menikah, Minha-ya.”
    Langsung merinding seketika
    Jadi ikut-ikutan sedihhhh huhuhu 😭😭
    baca ff yang minha-yungi nikah aja udah mewek
    Aku sukak tiap mereka ada adegan (?) kaya gini
    Jimin berasa gentle banget
    Minha di peluk pulak mauuuuuuuu
    ARGGHHHH POKOKE PARK SIBLING ITU ALWAYS BIKIN AKU IRI
    Eh itu di poster kak jimin di pipinya ada lesung pipi ya tapi cuma satu doang di pipi kanannya
    Apa akunya yang salah liat
    Kalo beneran ada aku tambah sukak sama jimin 😍😍
    soalnya aku sukak sama cowok yang punya lesung cuma sebelah (?) doang Hihi /curhat/maapkeun/

    Suka

    1. EMANG SIAPA YANG GAMAU SIH TA PUNYA KAKAK KAYA JIMIN SIAPAAAA ((nangis))
      itu bagian nikah nikah salahkan kayeni sajalah habis bikin ff soal nikah aku jadi baper kan gamau pisah sama kakak ;;__;;

      itu bukan lesung pipi deh kayaknya ta, mungkin efek angle kamera sama bayangan xD setahuku jimin mah punyanya pipi gembul bukan lesung pipi wkwk

      makasih banyak ya tataaa ❤

      Suka

  3. AKKK JIMINHA~~
    KENAPA MINHA PEYUK-PEYUK JIMIN, kak??? Kan mereka sodara? Ini kaya semacam brother complex ya jadinya :”)
    enaknya jadi minha. Punya sodara kaya jimin yg sayang (bahkan cemburu) gitu. Sodaraku mah apa? /mendadakcurhat
    yah tapi aku suka pas bagian jim mau dengerin kalimat minha dan berharap kalo dia ga pernah lupa :”)

    semangat nulis lg ya kak amer(aku bener kan? Namanya?)

    your new movie-freak, yuki

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s