[Oneshot] Nothing Left

baroposter

 

NOTHING LEFT

 

Cast : [AOA] Jimin, [B1A4] Baro, [BTOB] Minhyuk, [VIXX] Hak Yeon a.k.a N | GENRE :  Sad, Romance | Rating : PG-15 | Duration : Oneshot

 “Ketika aku menyadari bahwa jarak antara aku dengan kesempatan itu terlampau sangat jauh”

Hari Senin memang hari yang begitu menyebalkan, entah mengapa semua orang menjuluki hari Senin sebagai hari menyebalkan, mungkin karena dia akan memanggil-manggil semua orang untuk bekerja kembali, ah entahlah.

Menurutku semua hari itu sama, hari menyebalkan, apalagi jika bertemu dengan kecoa bawel, komplit sudah jalan cerita hidupku, bagaikan Cinderella tidak memakai bakiak, tanpa dia tak serasi.

“Shin Jimin!”

Huft, baru saja aku ingin menjauh dari kecoa bawel itu setelah dia merenggut jadwal paling sakral dalam hidup ku —tidur—.

“Nunna, tunggu!”

Sebisa mungkin aku mempercepat jalanku dengan harapan bisa lolos dari sergapannya, tapi apalah daya tinggi ku hanyalah sebatas pohon kencur, tak sebanding dengannya yang setinggi tiang listrik depan komplek.

“Nunna, tunggu!”

Akhirnya akupun terpaksa menghentikan adegan Tom And Jerry ini karena dia berhasil menggapai pergelangan tanganku yang lurus semampai ini.

“Ada apa Hak Yeon? Aku ingin tidur, kau tidak tahu, sudah delapan belas jam aku belum tidur, kau lihat kelopak mataku!”

Aku lihat dia mengamati kedua mataku ini,

Hey,”

Aku mendorong muka Hak Yeon jauh-jauh karena dia mengamati mukaku dengan begitu dekatnya sampai-sampai hidung kami hampir bersentuhan, yah itu berkat hidungku yang tidak terlalu mancung sehingga jarak pemisah begitu sedikit.

“Mau apa lagi kau? Mau minta tolong benarkan gorden kamar mu? Atau mau minta tolong benarkan posisi celana mu? Kau sudah besar Hak Yeon, dewasalah.”

Setelah aku mengomel ngelantur tidak jelas karena derita anak perawan yang belum tidur ini begitu berat, aku melihat perbedaan raut muka Hak Yeon yang sangat kontras dari keadaan sebelumnya, dia kini sedikit murung.

“Aku ingin memberikan ini Jimin nunna, tadi dompet mu terjatuh di toilet, aku pulang, maaf mengganggu jadwal sakral nunna.”

Hak Yeon langsung kembali kerumahnya setelah aku mengambil dompetku dari tangannya. Apa aku terlalu keji dalam mengomel tadi? Argh masa bodoh, yang penting aku bisa bertemu dengan pacar tidurku kembali —ranjang—.

Cuaca hari ini tidak terlalu panas, tetapi akibat dari adegan Tom and Jerry tadi, tubuh ku kini diselimuti oleh butiran air yang cukup banyak, sesaat setelah aku melewati beberapa pengkolan —tikungan— di kompleks pertokoan di daerah Dongdaemun ini, aku dikejutkan oleh penampakan seorang yang sudah ingin aku buang jauh-jauh dari kehidupan ku, Minhyuk, ya dialah orang yang membuat hatiku porak poranda karena dia memberikan ku sebuah surat dengan sampul yang manis, tetapi isi yang pahit —undangan pernikahan—.

Tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia malah sering menemuiku, dengan dalil kangen, ini-itulah yang membuatku semakin ingin membuangnya ke palung yang paling dalam. Sebelum dia menyadari keberadaanku ini, aku lekas cepat balik arah, tapi sial keberadaanku sudah di endus oleh Tungau itu dan kini akhirnya aku harus kembali beradegan Tom and Jerry untuk kedua kalinya.

Sungguh sangat sial sekali diriku ini, selalu di selimuti oleh sekumpulan orang-orang menyebalkan. Karena aku lari secara membabi buta, tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang baru saja keluar dari sebuah pasar swalayan hingga membuat aku harus jungkir ke aspal yang sialnya panas karena hari beranjak siang.

“Kau tidak apa-apa nunna?”

Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu aku berdiri, sesaat setelah aku berdiri manik mataku menangkap Tungau itu lagi, entah dapat wangsit dari mana, secara refleks aku memeluk mesra pria di depanku yang tadi menolongku.

“Kau habis beli apa sayang? Hem.”

Dalam hati aku merasa geli mengatakan hal tersebut, singkat aku melihat raut muka pria tadi tampak keheranan, karena aku ingin cepat-cepat Minhyuk pergi, aku menggandeng pria tersebut dengan erat dan berusaha menuntunnya untuk ikut dengan ku, melewati Minhyuk yang ku lihat menatapku seakan tidak percaya bahwa aku sudah memiliki pengganti dirinya di hati yang suci ini.

Setelah jauh berjalan meninggalkan Minhyuk berdiri mematung, dan memastikan Minhyuk sudah tidak melihatku, aku melepaskan peganganku kepada pria tersebut.

“Maaf, mohon maaf aku mohon maaf atas sikap tidak sopanku barusan.”

Aku berkali-kali membungkuk meminta maaf sebagai rasa bersalahku yang tidak sopan memegangnya. Bukan sebuah kata ‘ah tidak apa-apa’ atau sejenisnya, dia malah menengadahkan tangan kanannya di depan mukaku.

“Kau harus ganti telurku yang pecah gara-gara kamu tabrak tadi,”

Hah

“Dan kau harus membayar aku juga karena, sudah berakting di depan pacar mu tadi, kau sedang bersandiwara bukan dengan laki-laki tadi? Sayang? Kau siapa berani-beraninya kau memanggil sembarang orang dengan kalimat seperti itu?”

Sungguh tidak diduga bahwa ternyata pria ini sangat materialistis sekali.

“Bukankah aku sudah meminta maaf sebelumnya?”

“Minta maaf? Kau pikir dengan minta maaf telur yang baru saja aku beli bisa utuh kembali?”

Sungguh pria menyebalkan sekali dia, belum selesai perkara ini, dari kejauhan aku lihat Minhyuk membuntutiku, sontak aku berakting mesra kembali dengan pria ini. Perlahan Minhyuk mulai dekat dengan tempat kami berdiri.

“Apa dia pria baru mu Jimin?”

“Ya, dia pria baru ku lebih tampan dan lebih mapan dari mu, bukan begitu sayang?”

Ucapku sambil menatap pria di sampingku sambil mengelelus-elus dadanya dengan memasang wajah aegyo, harap-harap cemas aku menunggu komentar dari pria tersebut.

“Ya, dia kekasih ku, bukankah kami mesra?”

Pria tersebut merangkul pundak ku dan mencium keningku, satu respons yang tidak terduga dari ku.

“Kau pasti sedang bercandakan?”

“Kenapa kami bercanda, dia wanita cantik, rambut panjang berponi, kulit mulus, bukankah suatu tipe yang di idamkan oleh banyak pria?”

Sungguh tidak aku sangka bahwa dia berkata begitu jauh dalam akting palsu ku kali ini. Setelah mendengar perkataan dari pria tersebut Minhyuk langsung pergi meninggalkan kita berdua yang masih saja berangkulan mesra. Setelah dianggap aman, aku melepaskan pelukanku kepada pria tersebut.

“Terima kasih atas bantuannya.”

Cepat-cepat aku pergi darinya, tetapi tanganku dengan cepat di cegat olehnya.

“Urusan kita belum selesai nona, kau harus membayar telurku yang pecah serta diriku yang sudah berakting apik di depan mantan mu itu.”

“Kenapa kau begitu materialistis tuan?”

“Hidup ini tidak ada yang gratis nona.”

Karena aku mempertimbangkan prospek masa depanku, akhirnya akupun membayar ganti rugi serta royalti yang harus aku bayar karena telah mengajaknya berakting di depan orang yang sangat aku benci dengan beberapa syarat yang akhirnya kita sepakati.

Aku mengajukan syarat agar dia akan terus berakting sebagai sepasang kekasih mesra jika hanya ada Minhyuk di hadapan kita sampai Minhyuk berhenti mengejar-ngejar diriku, diapun menyanggupinya, serta dia mengajukan syarat bawa aku harus siap sedia jika harus diajaknya jalan pergi sebagai pembantunya. Menyebalkan memang, tapi apalah daya, tubuh sudah basah, maka ceburkan sekalian saja ke dalam kolam.

“Siapa nama mu?”

Hem? Buat apa kau menanyakan namaku?”

“Kau ini sebenarnya bodoh atau bagaimana? Apa ada seorang sepasang kekasih tetapi mereka tidak tahu nama dari pasangannya,”

Argh sial, pria ini tampan tetapi kata-katanya bagai petir berkekuatan jutaan watt.

“Jimin, Shin Jimin,”

“Jimin? Ehm nama yang cukup bagus, aku Baro,”

“Oke, urusan kita selesai bukan? Aku mau pulang dan langsung istirahat,”

Sebelum kakiku melangkah menjauhinya, dia menghentikan langah ku terlebih dahulu, kali ini dia justru bertanya nomor telepon ku, ah sungguh malang nasib ini, dia pasti ingin mempermudah dirinya untuk menyuruhku sesuka hatinya. Karena akupun masih butuh dirinya sebagai kekasih jadi-jadian akupun memberi nomor telepon ku kepadanya.

 

Malam telah tiba, dan kini tepat duapuluh empat jam sudah aku tidak memejamkan mataku sejak aku pulang kerja dari toko es krim milik Hak Yeon. Sungguh hari yang melelahkan, di awali dari Hak Yeon sampai dengan pacar jadi-jadian—Baro—. Dan kini akhirnya aku bisa melakukan ritual sakral—tidur— dengan harapan semoga esok akan lebih baik.

 

Sudah hampir lima pekan aku dan Baro berpura-pura sebagai sepasang kekasih tetapi masih tetap saja Minhyuk terus-terusan mengejarku, padahal dia sendiri sudah mau menikah dengan wanita yang lebih cantik.

“Nunna, kau kenapa?”

Hak Yeon duduk di kursi sebelah ku sambil memberikanku semangkuk es krim, dia ternyata dari tadi mengamatiku duduk murung di emperan toko es krimnya.

Huft, entahlah, aku bingung dengan alur jalan hidupku sendiri.”

Di tengah-tengah percakapanku dengan Hak Yeon, tiba-tiba Minhyuk mengirimkan pesan singkat yang mana isinya dia ingin meminta klarifikasi sebenar-benarnya atas hubunganku dengan Baro. Dan saat itulah aku mulai bimbang, apakah aku harus membongkar sandiwara ini atau akan tetap melanjutkannya.

 

Aku sampai di sebuah kedai kopi pertama kali aku dan Minhyuk bertemu dan tempat Minhyuk menyatakan cintanya kepadaku.

“Kau baik-baik saja?”

Hem, jadi kau ingin kejelasan status hubungan ku?”

“Ya, tentu saja,”

“Apa untungnya bagiku dan apa untungnya bagimu? Bukankah kau tiga hari lagi akan menikah dengan wanita itu?”

“Aku membatalkannya, aku tidak mau menikah karena dipaksa.”

Mendengar jawaban tersebut pikiranku menjadi semakin kalut, di sisi lain semakin hari hubungan ku dengan Baro sedikit membuatku bahagia, dan di sisi lain akupun masih belum bisa melupakan Minhyuk dari pikiranku. Lama aku tak memberikan respons atas pertanyaannya, lantas membuat Minhyuk memindahkan posisi duduknya menjadi di sampingku, dan satu situasi yang tidak diduga karena Minhyuk memelukku secara erat. Diapun membisikkan bahwa dia masih sangat mencintai ku dan meminta agar hubungan kita kembali lagi seperti dulu. Tetapi aku belum bisa memberikan jawabannya sekarang, aku meminta waktu agar aku memikirkannya matang-matang.

 

Malam telah tiba, aku sungguh gundah-gulana, aku hanya merutuki nasibku di atas ranjang dengan bayang-bayang kenangan manis saat-saat bahagia bersama Minhyuk, sampai bunyi dering ponsel ku membuyarkan semuanya, ‘Baro’, nama yang tertampil di layar ponsel. Ternyata dia menelponku untuk mengajak ku lari malam bersama, karena aku masih ingin sendiri maka akupun menolak ajakannya, sampai pada detik  berikutnya, suara Baro semakin meninggi.

 

(I recommend to start playing the song before continuing to read)

 

 

 

BRAAKKK………

Sontak aku menoleh ke arah sumber suara yang tidak lain adalah suara pintu kamar ku sendiri yang di dobrak paksa, Baro, ternyata dia pelaku pendobrak pintu kamar ku, aku sungguh tidak percaya kalau dia bisa sampai melakukan hal tersebut.

“Kenapa kau masih bertemu dengannya?”

Apakah dia tadi mengikuti ku saat bertemu dengan Minhyuk? Aku yang sungguh sudah sangat pilu ini hanya bungkam seribu kata.

“CEPAT KAU JAWAB, KENAPA KAU MASIH BERTEMU DENGANNYA!”

Kali ini Baro berkata dengan intonasi dan nada tinggi, itu pertama kalinya aku mendengar Baro berkata dengan intonasi dan nada tinggi.

“cepat ikut dengan ku!”

Kali ini Baro meraih tangan ku yang masih duduk di atas kasur dan menarik ku secara paksa untuk ikut dengannya.

“Kau kenapa Baro? Ini masalah hidup ku, kenapa kau yang marah? Apa hak mu untuk marah kepada ku, dan sungguh lancang kau masuk ke dalam kamar ku tanpa permisi, kau memang pria bajingan Baro.”

Setelah aku mengucapkan kata-kata yang bahkan tidak aku telaah terlebih dahulu sebelum aku lontarkan tersebut, Baro melepaskan genggamannya, aku lihat matanya mulai berkaca-kaca, ini pertama kalinya juga aku melihat Baro ingin menangis. Karena setiap kali kita bertemu atau bersama dia selalu bahagia dan bahkan menyebalkan. Tetapi kini lain, semuanya seperti sudah lenyap dalam jiwa Baro, ada apa ini sebenarnya?.

 

Sudah tiga hari Baro tidak ada kabar, pesan singkat yang aku kirim tidak pernah dia balas, telepon apa lagi. Ini semakin membuat ku tidak karuan, sesekali aku pergi ketempat yang dulu Baro bilang sebagai dunia surga kecilnya. Sebuah taman bermain yang sudah usang dengan sebuah air mancur di tengah taman tersebut yang tentunya sudah tidak berfungsi lagi karena tidak mendapatkan perawatan, tetapi hasilnyapun nihil, aku tidak menemukan Baro.

Akupun memutuskan untuk kembali pulang karena hari sudah semakin gelap, di tengah perjalanan pulang aku berpapasan dengan Minhyuk, kali ini dia bertanya apa jawaban dari pertanyaannya.

“Minhyuk, sesungguhnya bunga mawar yang layu tidak bisa mekar kembali, tidak seperti bunga Wijaya Kusuma yang dapat mekar kembali setelah layu, dan aku bukanlah bunga Wijaya Kusuma, maaf Minhyuk, mungkin kelak kau mendapatkan pasangan yang benar – benar cocok.”

Karena sungguh sudah tidak bisa menahan derita ini, semua ucapanku yang terlontar dari mulutku tersebut tanpa memandang muka Minhyuk sama sekali, dan akupun langsung pergi meninggalkan Minhyuk sendirian karena aku sungguh ingin cepat keluar dari derita ini.

 

Genap sudah satu bulan aku dan Baro hilang kontak, semua kenalan Baro aku tanyai satu persatu, tetapi tetap saja hasilnya hampa, entah mengapa, ketika kejadian satu bulan lalu saat Baro untuk pertama kalinya sejak kita bertemu membentak dan menangis di hadapan ku. Hati ku sungguh remuk, perasaan yang justru lebih sangat menyakitkan ketika aku menerima surat undangan pernikahan Minhyuk dan dia menyatakan perpisahan.

Ini lain dan ini aneh, seperti Baro yang benar-benar sudah menjadi pilihan hati ku sendiri tanpa aku sadari. Kini aku seperti seseorang yang tidak berguna, hari-hari ku kini hanya di hiasi oleh perenungan dan penyesalan, dulu Baro pernah menanyakan apakah aku ingin menjadi kekasihnya, tetapi malah aku tanggapi dengan gurauan, bagai aku anggap pertanyaan itu hanyalah gurauan semata. Dan kini akupun menyadari keseriusan pertanyaan Baro.

Kenapa penyesalan selalu datang di akhir?

Apakah aku bisa bertemu dengannya kembali?

Aku ingin bertemu dengannya, berikanlah aku kesempatan lagi.

Sungguh penyiksaan batin yang menyakitkan, aku sungguh menyesal dan ingin mengulangnya kembali, apakah bisa? Berikanlah aku kesempatan kembali Tuhan. Di tengah-tengah perenungan nasib ku sendiri, ponsel ku memberi notifikasi pesan singkat, malas sebenarnya aku membuka ponsel, tetapi hati nurani seperti menuntun ku untuk membaca pesan singkat tersebut, dan akhirnya akupun memutuskan untuk membukanya, ‘Baro’ ini pesan singkat dari Baro ini suatu mukjizat karena orang yang aku cari akhirnya membalas pesan singkat yang aku kirim.

 

“Good Night”

 

Baro hanya mengirimkan dua buah kata saja, setelah aku mengirim puluhan pesan singkat. Tetapi itu kini bukanlah menjadi permasalahan besar, yang terpenting dia memberikan respons kepada pesan singkat yang aku kirim, dengan hati yang mulai senang akupun membalas pesan Baro dengan menanyakan keadaannya akan tetapi,

Satu menit,

Lima menit,

Sepuluh menit,

Duapuluh menit,

Dia belum juga membalas pesan singkat yang aku kirim sampai-sampai aku tertidur dalam penantian balasan pesan singkatku. Bangun-bangun hari sudah berganti, jam menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit, aku beranjak dari tempat tidur untuk gosok gigi serta membasuh muka. Tidak lama berselang ponsel ku berdering tanda pesan singkat masuk, lekas sesegera mungkin aku keluar dari kamar mandi dan langsung membuka pesan singkat yang aku terima, aku berharap ini adalah dari Baro, dan benar juga dugaanku ini dari Baro lantas akupun mulai membaca pesan singkat yang ia kirim.

“Selamat pagi Jimin😉 semoga harimu menyenangkan, bangunlah, kau pasti belum bangun kalau belum aku bangunkan.

Sebelumnya terima kasih telah memberikan warna yang indah dalam kehidupanku tempo lalu, tapi baru akhir-akhir ini aku berpikir bahwa kamu bukanlah untuk ku. Tempo lalu aku melihat mu bersama Minhyuk di sebuah kedai kopi, aku melihat kau dan dia seperti sangat mesra.

Sejujurnya pada saat itu pula aku ingin menghampiri kalian dan langsung memukul Minhyuk, tetapi aku melihat ekspresi wajahmu yang kelihatan seperti mendapatkan kehidupan kembali, akupun mengurungkan niat tersebut, dan saat aku menghampirimu di kamar mu, semua terkaanku benar, kau memang masih menginginkannya, aku harus berbuat apa? Maaf jika tempo lalu selalu membuat hidupmu kacau.

Terima kasih”

Sebuah balasan yang sungguh tidak aku harapkan, ternyata memang benar Baro mengajukan pertanyaannya itu sungguhan bukan sebuah candaan belaka. Lantas akupun membalas pesannya dengan menjelaskan secara mendetail dari perasaanku yang sekarang kepadanya. Lama aku menunggu balasan dari Baro hingga rasanya kepalaku mau pecah, akhirnya dia membalasnya.

“Terima kasih kau telah memperhatikan ku Jimin, tetapi mungkin kita memang lebih baik seperti ini, menjalani hidup masing-masing, aku akan pergi ke London untuk melanjutkan studi ku. Jaga baik-baik diri mu Jimin ;)”

Setelah aku menerima balasan tersebut, betapa hancur dan rumuknya sudah diri ku ini, disaat kesempatan itu datang aku justru bermain-main dengan kesempatan tersebut, dan ketika aku menyesalinya betapa aku menyadari bahwa jarak antara aku dengan kesempatan itu terlampau sangat jauh.

Aku sungguh ingin menemuinya, aku cepat-cepat berganti baju, sesampainya di tepi jalan, semua taksi yang ingin aku stop selalu sudah berpenumpang ditambah lagi, bus yang menuju bandarapun sudah berangkat dan ada lagi satu jam setelahnya. Sungguh komplit sudah siksaan batin ini, sudah hampir sepuluh menit aku berusaha menghentikan taksi hingga aku sudah sangat frustrasi akan situasi ini, akhirnya aku mendapatkan sebuah taksi yang dapat aku tumpaki menuju bandar udara Incheon.

Sesampainya Disana aku bergegas mencari setiap sudut dari bandara, sampai akhirnya aku menemukan Baro sudah di depan pintu keberangkatan.

“Baro!”

Aku berusaha berteriak dan berlari mendekatinya, dan akhirnya dia mendengar panggilanku, dia menoleh dan menyimpulkan sebuah senyuman khas miliknya.

“Kau baik-baik saja? Minumlah, sepertinya kau kelelahan.”

Baro memberikan ku sebotol air mineral.

“Kenapa kau bersikap seperti ini?”

“Aku harus segera berangkan Jimin,”

“Bisakah kau kembali? Bisakah kau tertawa seperti dulu? Bisakah kau membuatku kesal akan tingkah mu? Bisakah kau menyuruhku sesuka hatimu? Bisakah itu kembali lagi seperti semula?”

Kini air mataku sudah tidak bisa di bendung kembali, aku hanya bisa berharap bahwa Baro bisa merubah keputusannya, aku memegang tangannya erat-erat agar dia tidak melanjutkan perjalanannya ke London.

“Baiklah, kau menyuruhku untuk menyuruhmu sesuka hatiku bukan?”

Dengan isak tangis yang sudah meluap-uap aku hanya bisa menangguk saja sebagai jawaban pengiyaan atas pertanyaannya.

“Pulanglah, kau lebih baik tetap di sini, yakinlah kau akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari aku, kau tidak pantas mendapatkan pria yang egois seperti ku, maka pulanglah, jaga kesehatanmu semoga kita bisa bertemu kembali Jimin.”

Sebuah perintah yang tidak ingin aku dengar dari mulut Baro, dia melepaskan genggamanku lalu menyimpulkan sebuah senyuman kembali kepadaku, membuat ku semakin tersakiti atas tindakanku tempo lalu. Kini dia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan aku yang begitu bodohnya baru menyadari perasaan tulus dari cinta Baro di saat perpisahan ku dengannya.

 

The end.

a/n. Alhamdulillah akhirnya kelar juga, hehe, ini debut ff pertamaku di tahun 2015 ini, semoga dapat memberikan sesuatu sumbangsih yang bermutu di tahun 2015 ini kepada IFK, aku harap tulisanku ini sudilah untuk di review, kritik, dan saran. Mengenai cast, yah itulah, hasil imajinasi awkwrd yang tiba-tiba saja muncul di saat suntuk melanda diri saat sedang bekerja, semoga pairing cast ini bisa kalian terima hehe.

5 thoughts on “[Oneshot] Nothing Left”

  1. hai ^^
    salam kenal Bayu, aku Liana 95line, sc generasi baru ^^ (kalau ternyata aku harus panggil Kak, mohon maafkan aku, tapi dari hasil stalking setauku Bayu 95line juga hehe)
    yaaah ampun jimin… ada baiknya kita tidak mempermainkan cinta…. soalnya jadinya begini kan, rusak sendiri…. bener2 ‘nothing left’
    aku kaget lho, seorang penulis cowok bisa membuat romance seperti ini hehe. dan waktu aku search di IFK emg pernah bikin fluff juga ya? aku aja yg cewek g bisa bikin romance -.-
    tapi kalo menurut aku sih, penjelasan hubungan jimin-baro sblm pisah itu kurang mendalam… dan ini masih kurang rapi sedikit lagi, terutama di imbuhan. kata macam ‘-ku’, ‘di-‘ itu digabung aja, jadi ‘kamarku’ dsb.
    oh ya dan perumpamaan bunga wijaya kusuma itu… apa ada ya bunga wijaya kusuma di korea? rasanya agak ganjil sih menemukan sisipan ini di FF Kpop.
    aduh maap ya kesannya jadi agak menggurui gini, padahal niatnya kan kenalan ^^

    keep writing!

    Suka

    1. oh hi juga Liana, iya aku Bayu 95L juga kok hehe.

      kekeke yah, mungkin nulis ini pas lagi kebawa perasaaan Liana, mengenai imbuhan ke dan di, ya itu karena ini project jaman purbakala, baru kelar bulan ini, udah dibeta hampir 4 kali sih, tapi emang lagi gak konsen jadinya masih rancu.

      mengenai perumpamaan yah, itu sih hanya sepintas lewat pas nulis dan lupa juga sih setingnya di korea hehe.
      reviewmu bermanfaat kok buat kemajuanku, yap salam kenal jadi nambah geng 95L nih

      Suka

  2. haloha bay ^^ maaf ya baru sempet komen -.-

    untuk koreksian mungkin sama kaya yang disampein liana ya. ada beberapa typo tapi gapapa, typo mah wajar ya. hehehehe😀

    sekarang ke cerita. ko kayanya njumma atau hakyeon itu melas banget ya. mau balikin dompet malah disembur duluan sama jimin😄
    trus minhyuk ini mantan yang udah mau nikah gitu??? hah ngapain juga masih dateng dih masih ngarep aja -.- oh iya, n sama minhyuk ini lebih muda ya? duh aku ga tau. hihihihihi😀 malah pada manggil nuna gitu ko aku kepikiran kamu yang mau buat dengan cast t.y.s.j ya?😄

    pas yang ketemu baro seru ya, lucu gitu jiminnya koplak dah cewek juga maen nemplok aja😄
    tapi kenapa ujungnya sedih???? gegara minhyuk nih pasti!!! aaaaaakk apalagi sambi denger lagunya. emang ya bay feelnya makin dapet😥
    pesannya baro juga tuh😦 mana akhirnya mereka gak bersatu kan kan kan???😥

    sekian ya bay🙂 selamat atas debutnya di bulan februari ini ^O^)/
    keep writing and see ya ^^

    Suka

    1. ohaiyo kakyen, makasih komennya
      emm yang kaya udah aku bilang itu karena ini project fict jaman purba yang baru kelar, dan jadi kaya gini, walau udah di beta berkali-kali.

      kayaknya enak gituh loh ngebully si hakyeon, mengenai jimin, yah diakan kaya yang atraktif gitu orangnya makannya dibikin kaya gini suka namplk sana-sini *plak

      emm iya disini ceritanya tuh jimin dan minhyuk pernah pacaran gitu, tpi minhyuk mau nikah dan itu bukan bareng jimin, tpi di hati minhyuk masih ada partikel” cintanya jimin *elah
      dan di cerita ini, anggep aja n ama minhyuk itu mudaan karena kocak aja gitu..

      cast t.y.s.j yah wkwkwkwk masih dlm maintenace kak, rombak sana sini biar pas ama rule yg diterapkan.
      tuh lagu emang balad banget secara k.will yg nyanyi.
      oke kak makasih dah mampir🙂

      Suka

  3. Ini authornya cwok ya? Ulala~ aku baru ngeh pas baca komenan reader *bow*
    Fanfic km ringan ya, dan simple hingga cenderung aku mikir ini cerpen, bukan ff😀 gaya bahasanya jg kocak, unik. Apalagi Minhyuk dikatain tungau, haduuh senyumku kelewat lebar bacanya hahaha~
    endingnya bikin termehek-mehek. Emang sih, ga smua cerita cinta (harus) happy ending xD

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s