hcith

How Can I Tell Her ? : Chapter 1

jsy

Wife.

ldw

Husband.

jsj

Affair.


Satu keinginan terakhir dari orangtuaku, aku pun menurutinya. Keinginan terakhir mereka yang membuatku harus menjejakan kaki ke dalam cerita berbeda, babak selanjutnya dari kehidupan. Sebetulnya aku tidak begitu memperdulikannya. Bukan karena aku yang menyimpang, namun untuk memilih seseorang haruslah melalui pertimbangan yang matang. Dan aku tidak memiliki waktu untuk itu hingga saat ini. Waktu dan perhatianku tersita habis di sebuah perusahaan kecil yang sedang ku kelola dengan hasrat dan impianku.

Kami tak saling mengenal, hanya beberapa kali pertemuan yang mereka sebut sebagai kencan. Lalu kami mengikat janji sehidup semati di depan altar. Melihat kedua orangtuaku tersenyum dan menangis haru di hari itu, membuat perasaanku menjadi sedikit tenang. Kendati demikian babak baru, bukanlah sebuah jalan yang lurus, melainkan sebuah jalan yang dipenuhi dengan lika-liku kehidupan.

How I Can Tell Her ? : Chapter 1
Author : BabyJung
[ AU | Romance | 15+ ]
Lee Dong Wook | Jessica | Krystal

Another Affair Story.

Halo semua! Setelah saya ber- hiatus ria dalam menulis FF, akhirnya kesampean juga menuis cerita baru (walau sebenarnya ini proyek yang sudah sangatlah lama haha) Entah kenapa saya sedang gandrung banget menulis cerita berbau kehidupan setelah pernikahan (faktor umur juga kali ya haha).

As always, Nikmati cerita saya ini sebagai sesuatu yang baru, tidak berhubungan dengan kehidupan mereka sebagai artis/idola. Bayangkan saja wajah mereka, namun untuk sifat dan karakter mereka akan terbangun melalui cerita ini.

Ok, selamat menikmati ceritanya dan jangan lupa berikan komentar aku sekedar bekunjung ke blog saya.


 

Rumah besar ini terasa begitu dingin dan luas, rumah yang berdiri di atas tanah yang ukurannya cukup besar, dikelilingi oleh banyak pepohonan rindang. Nuansanya seperti rumah tropis dengan kaca besar dimana-mana.

Kulepaskan dua kancing teratas dan kancing lengan bajuku. Pintu rumah terbuka begitu aku memasukan nomer sandi pintu-nya. Percuma berteriak ‘Aku pulang’ dirumah sebesar ini karena belum tentu ada yang mendengar dan menyahut. Perhatianku kemudian tersita kepada sepasang sepatu yang terletak tak jauh dari pintu utama. Sepatu canvas merah yang sudah usang, mungkin sudah layak untuk dibuang. Ketika kusandingkan sepatu hitam kulitku, maka sepatu canvas itu akan terlihat semakin menyedihkan.

“Haahh… seram ih! Masuk tanpa menyapa!”

Kemudian ada yang memelukku dari belakang. “Cape ya? Cape? Kasihan…” ujar perempuan berambut ombak itu sambil berbisik ditelingaku. Aku memegang tangannya yang mengalung di dadaku, senyuman kecil terbit di wajah kami berdua.

“Aku lapar, kau memasak makan malam?” tanyaku kepadanya, pertanyaan itu membenamkan senyuman yang sebelumnya ia terbitkan kepadaku.
“Em… masak? Tentu tidak… hehe… makan diluar saja ya?” dengan segera wajahnya kembali tersenyum, sambil memejakan mata dan ia menguatkan pelukannya.
“Ya.. ya… tapi aku mandi dahulu ya…” ucapku sambil berusaha bangkit, membuat kami berdua bangkit dan ia mengikutiku hingga ke dalam kamar.

Lupakanlah soal perut yang kosong, kulit wajah berminyak ataupun kemeja yang seidkit berkeringat. Karena kami berdua sedang bercumbu di atas ranjang. Tangannya pun perlahan-lahan melepaskan tiap kancing dari kemeja biru muda yang ku kenakan.
“Mandi… mandi…” ujarnya sambil melepaskan bibirku, menatapku dan sekali lagi tersenyum.
Aku membuang nafasku, “Baiklah… baik… mandi… mandi…” ujarku sambil tersenyum.

“Hehe… Mau kubantu menyabuni tubuhmu?”

===

Saat tengah menunggunya untuk berpakaian, Pikiranku yang baru saja beistirahat beberapa puluh menit ini, seakan tidak ingin mendingin sedikitpun. Kuraih laptopku dan menyalakannya. Kulihat laporan keuangan untuk kuartal kedua tahun ini.

SLAM! Aku terkejut ketika ia mendorong layar laptopku hingga tertutup, membuatnya berada dalam Sleep Mode. “Kau itu, bersantai dikit bisa kan? Ini sudah dirumah… saatnya kau istirahat bukan kembali membebani kepalamu… kalau kau masih ingin bekerja sebaiknya jangan pulang…” ujarnya, dengan segera ia menarik tanganku. Memaksaku untuk keluar dari dalam kamar.

Mungkin alasan inilah yang membuat ibuku menyuruhku cepat menikah. Mereka sudah lelah menegur dan mengingatkanku akan jam kerjaku yang super diforsir. Yang mampu memperingatkanku dan mengalahkanku ialah seorang perempuan yang mampu mendampingiku. Perempuan yang dapat merawat dan menjagaku.

Dengan segera, Mercedes Benz A45 membawa kami berdua ke tengah kota. Tangan kirinya tak melepaskan tangan kananku yang berada di perseneling. Ia bersenandung mengikuti irama musik yang diputar oleh headunit mobil ini. Matanya memantulkan setiap cahaya lampu dari pertokoan yang kami lewati. Hingga akhirnya ia menunjuk ke sebuah rumah makan.

Bukan tempat yang mewah, bukan tempat yang nyaman untuk berlama-lama. Namun sajian yang dihidangkan mampu memberikan energi yang terkuras karena seharian penuh. Ditemani olehnya yang terus tersenyum karena makan-nya yang masih hangat baru saja tiba.
Gelas kecil dan satu botol soju baru saja diantarkan oleh pelayan, aku yang memesannya. Ia tersenyum sambil mengunyah makanannya. Aku tahu, senyuman itu mengartikan ia menginginkan minuman itu. Aku segera menjauhkan gelas kecil dan botol itu sambil menggelengkan kepalaku ‘tidak’.

Lantas ia menekan-nekan kakiku dengan ujung kakinya, meruncingkan ujung bibirnya sambil melemparkan tatapan tajam. Akupun menghembuskan nafasku.

“Oke, satu teguk saja, ya…”

===

Jam empat pagi, entah sudah berapa kali aku terbangun. Betul-betul tak nyaman. Sudah sekitar dua minggu aku seperti ini. Tidak bisa tidur nyenyak. Hingga akhirnya aku bangkit dari tempat tidur, perlahan-lahan jangan sampai membangunkannya yang sedang tertidur lelap disampingku.

“Oppa… mau kemana? Memang sudah jam berapa?” rupanya tindakanku sia-sia, ia terbangun. Aku tak menjawab, berjalan menuju meja kerja, menyalakan lampu kecil dan membuka laptopku.
“Ada yang ingin ku kerjakan…” ucapku.
“Hemh…” ia membetulkan posisi tidurnya.

Sampai matahari menanjak dan menghangatkan setiap sisi bumi bagian timur, aku masih berkutat dengan laptopku. Hingga akhirnya ia terbangun, meraih handphone-nya, memeriksa notifikasi. Ia kemudian beranjak dari kasur dengan membawa selimut untuk menutupi tubuhnya. Karena pakaiannya berceceran dilantai.

“Pagi… ucapnya sambil mengecup pipi kanan dan memelukku…”
“Pagi…” jawabku sambil mengecup pipi kirinya, terasa lembut dan wanginya seperti bayi.
“Sebaiknya kau segera mandi dan bergegas… bukankah hari ini kau harus ke kampus pagi-pagi?”
“Mh…” ujarnya sambil beranjak, melepaskan pelukannya, dari cara ia berbicara aku tahu apa yang sedang ia rasakan.

Beberapa jam kemudian. Ketika jam kerja berakhir, tak adalagi suara yang menyambut dan memelukku. Sunyi, seperti seorang diri di akhir pekan ini. Namun ketika tiba diruang tamu, aku mendapati sosok yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

“Loh, kapan pulag? Kenapa masuk diam-diam?” perempuan dengan rambut ombak kecoklatan itu merubah posisi duduknya, ia berdiri dan mengikutiku yang berajalan menuju area ruang makan untuk mengambil segelas air.

“Pulang jam berapa kamu? Seharusnya tadi aku menyuruh supir kantor untuk menjemputmu…” di akhir kalimat aku meneguk segelas air mineral.
“Tak usah repot-repot, toh kemarin aku menginapkan mobil di bandara, jadi aku membawanya pulang… tadi aku sampai sini sekitar jam dua siang…” perempuan itu lantas duduk dan menghadap ke arah diriku. Akupun memandangi beberapa kantong plastik yang berada di meja makan.
“Ah itu, oleh-oleh untuk kau dan Soojung…” aku mengangguk dan segera meraih kantung plastik transparant itu.

“Bagaimana bisnis-nya…? Lancar?” tanyaku kepadanya.
Ia mengangguk kecil dan tersenyum lebar, iapun membantu membuka kotak makanan sebuah Carrot Cake!
“Yap, pihak Wisma Atria sudah memberikan kontraknya… tinggal membaca ulang dan menandatanganinya…” ia meletakan Carrot Cake itu di atas piring dan bersiap memanaskannya di dalam microwave.

“Boleh kubaca kontraknya?” tanyaku kepadanya yang sedang menekan-nekan tombol timer microwave.
Sure… nanti sekalian kasih tahu aku ya, sekiranya kalau ada yang tidak beres dengan perjanjian kontrak itu…”

Carrot Cake tersaji dihadapanku. Sementara aku duduk di sofa, ditemani dengan sebuah map berisikan beberapa lembar dari dokumen yang ia berikan kepadaku. Semua dalam bahasa Inggris dan memang bukan kendala bahasa, melainkan harus cermat menelaah dari setiap point yang diajukan oleh pihak asing. Aku tak ingin ia terjebak dalam perjanjian yang merugikan. Ada beberapa point yang aku pertanyakan kepadanya, semua dapat ia jawab, kendati kedua bola matanya memperhatikan televisi yang menyala namun ia tetap fokus dan menjawab dengan mantap.

Is that Carrot Cake?” ada suara yang mengejutkan kami.
Oh my… I want that…

“Yah! Soojung-ah kau itu… pulang-pulang, bukannya menyapaku dulu, malah langsung menyambut makanan… heh aku ini kakakmu, yang baru pulang dari Singapura!”
Perempuan yang baru tiba itu langsung mendekati piring dan dengan sendok kecil ia memotong dan menyuap makanan itu. Ia tersenyum lebar saat makanan itu tiba di mulutnya.

Sorry, unnie! Tapi perutku lapar, hehe… anyway… selamat datang kembali…” Soojung tertawa-tawa dan segera di hadiahi toyoran kepala oleh Jessica, kakaknya.

“Dasar kau itu…”

===

Semakin larut. Televisi diruang keluarga masih menyala,kali ini sedang menayangkan film dari Blu-ray.
“Kalian mau kemana?” Soojung keheranan saat aku dan Jessica jalan beriringan menuju pintu depan.
“Anak kecil mau tahu saja urusan orang dewasa…” Jessica melemparkan kunci mobil BMW miliknya kepada Soojung.
“Kau jalan-jalan saja sana, pergi malam minggu bersama teman-temanmu…” ucap Jessica.

Jessica menarik lengan kananku untuk menjaga keseimbangan tubuhnya saat ia sedang memakai flat shoes-nya. Sementara Soojung hanya memperhatikan kami dari kejauhan, tak sedikitpun ia tersenyum saat kami tinggalkan.

Mobil kupacu menuju Buam-dong, tempat dimana Jessica ingin membicarakan suatu hal kepadaku. Mungkin ia ingin membicarakan mengenai bisnis-nya sambil menikmati secangkir kopi kesukaannya. Saat kami berdua tiba di dalam Café kecil itu, kehadiran kami berdua menyita para tamu di tempat itu. Mungkin karena Jessica yang cantik dan juga terkenal dikalangan para wanita muda. Ia memilih tempat yang berada di dekat kaca, tempat itu sungguh tenang dan setiap tamu yang datang selalu berbicara dengan suara yang cukup pelan.

Double Shoot Espresso…” Jessica memesan itu.
Waeyo? Kau mau begadang?” aku keheranan mendengar pesanan Jessica.
Caramel Macchiato… satu untuk saya…” pintaku kepada sang pelayan.
“Pssh… kau… biasanya Triple Shoot Espresso, kenapa sekarang malah minum kopi kesenangan Soojung?” tanya Jessica, aku hanya tersenyum saja.

Selama beberapa menit kami terdiam. Lalu aku menghembuskan nafasku sambil merubah posisi dudukku menjadi lebih nyaman.
“Lalu… kau mau membicarakan apa? Sampai harus sejauh ini?” ucapku kepadanya.

Matanya tiba-tiba memandang tajam ke arahku, melepaskan pandangannya dari iPhone 5s miliknya.
“Yah, kau benar-benar lupa ya, hari ini tanggal berapa…? Ckck… terlalu sibuk sampai lupa?” ucapnya dengan nada suara berat.
“Emh… hari ini..?”
DUK. Ia memukul meja dengan telapak kanannya, bunyi benturan cincin di jari manis tangan kananya terdengar nyaring.

“AH!!!… Mian… aku lupa… sungguh…” ucapku sambil menepuk keningku.
“Emh… kau itu… padahal aku sengaja mempercepat urusanku di Singapura…–”
“Besok, aku akan mem-booking ticket… aku sudah janji… kalau kita akan berlibur ke Bahama…?”
“Maldives! *tsk*” ucapnya mengkoreksi.

Kemudian sang pelayan memberikan dua cangkir minuman kami.

“Bukan itu maksudku… membawamu kemari…” Jessica kemudian terdiam, seperti ada yang menganjal, membuatnya tidak berani untuk mengutarakan hal yang sudah berada di ujung lidahnya.
“Lalu? Apa? Berceritalah…” ucapku kepadanya.

“Pernikahan ini… apa kau ingin tetap melanjutkannya?”

=== bersambung ===

13 thoughts on “How Can I Tell Her ? : Chapter 1”

      1. iya , yang bikin bingung itu waktu part jessica tanya pernikahannya mau dilanjutin apa enggak..
        aku juga suka baca ff marriage life

        tahu ga thor tadi malem aku sampe mimpi ff ini, author jawab komenku eh ternyata bener..

        kapan dilanjut thor. mungkin kebingunganku akan terjawab di chap selanjutnya..

        Suka

      2. Hihi~ sabar ya, saya usahain update mingguan ^^v waduh sampe kebawa mimpi? hehehe… dapet jawaban dr mimpi ya? (licik nih hahah) sebetulnya kan di cover utamanya sudah ada. Wife. Husband. Affair hehe~

        Suka

      3. haha ga banyak sih bocoranya cuman tentang author bales komenku ..

        aku coba buka blognya author kok ga keluar ffnya ya ? ga ada home nya juga ?

        oke aku akan baca juga link yang author kasih ..
        tiap minggu ya? oke saya akan menunggu hahaha

        Suka

  1. jadi………..jadi…………….dongwook………….ohmyyyyyyy:O belum tau sica tuh gmn ke dongwook, dongwook gimana ke sica, dan gimana sama soojung?well, chapter satu jadi ada pertanyaan sana sini, jadi aku menunggu saja lanjutannya, hehehehe:D

    Suka

  2. author.. salam kenal. reader baru nyasar disini. aah.. ini soojung emang udah lama kenal sama dongwook atau emang selingkuh pas sica udah nikah? si sica sama dongwook nikah beneran karena terpaksa atau pernah ada cinta sih? penasaran sama endingnya ntar.. keep writting, thor.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s