hcith

How Can I Tell Her ? : Chapter 2

Aku menarik nafasku. Menyenderkan bahuku ke kursi. Kuperhatikan mesin printer yang sedang bekerja, mencetak beberapa lembar kertas. Jam satu pagi, terdengar bunyi klakson dari alaram mobil. Sebuah BMW Series 4 Coupe kini terparkir di depan Mercedes Benz A45. Soojung baru saja pulang. Aku segera keluar dari dalam kamar. Ia terkejut ketika aku menyambutnya tepat di depan pintu utama.

“Ah, mengejutkan aku!” ucapnya sambil melepaskan sepatunya, tangan kirinya memegang tangan kananku untuk membantunya menopang saat melepaskan sepasang sepatu beludru coklat miliknya.
“Kau membicarakan apa dengan kakak tadi?” tanya-nya sambil memeluk diriku. Ia berjinjit dan mengecup pipiku.
“Bukan hal besar… hanya minta ditemani minum kopi saja…”
“Minum kopi? Ah manja, dia kemana-mana bisa pergi sendiri, giliran minum kopi sampai memintamu menemaninya…” ujar Soojung.

hcith

How Can I Tell Her ?
[ AU | Romance | 17+ ]
Writer : BabyJung

Lee Dong Wook
Jessica
Krystal

Alright, sudah masuk ke chapter 2. Selamat menikmati cerita ini, jangan lupa berikan komentar kamu yah! ^^


 

Aku terbangun hampir ditengah hari. Sebuah tidur yang lelap setelah beberapa saat ini aku selalu terjaga ditengah malam. Mungkin karena beberapa proyek yang sudah kuselesaikan kemarin, membuatku tidak ada beban pikiran lagi. Ketika keluar dari dalam kamar, aku langsung berjalan menuju lantai satu untuk mengambil air.

“Oppa… kau baru bangun? Mau sarapan? Eh, apa mau langsung makan siang saja…?” Soojung memperhatikanku, namun aku tak menjawabnya. Sementara itu aku melihat Jessica sama sekali tidak menaruh perhatiannya kepadaku. Ia sedang sibuk dengan laptopnya, sibuk dengan rancangan baju-baju miliknya.
“Senin, kosongkan seluruh jadwalmu ya…” ucapku
“Senin? ” Soojung keheranan.

“Bukan kau, Hey… Sica… aku berbicara kepadamu…”
“Umh… aku?” Jessica menoleh kebingungan.

===

Beberapa jam penerbangan,

Membuat kami merasakan jetlag. Kami tiba di Maldives disambut dengan birunya laut, karena pantulan dari langit yang cerah. Sebuah taksi menjemput kami dan mengantarkan kami menuju resort yang telah kupesan beberapa hari sebelumnya. Jessica tersenyum memandangi pemandangan alam yang berada di luar jendela.

“Sepertinya aku tidak akan menyesal telah mengosongkan jadwal selama beberapa hari kedepan…” ucap Sica seperti bergumam.

Kami berdua tiba di resort. Senyuman Sica semakin melebar dan akupun ikut tersenyum simpul melihat dirinya yang sedang menikmati liburan ini.

“Satu ranjang? Kau ingin berbagi ranjang denganku?” tanya Jessica ketika kami sedang melakukan proses check-in.
“Apa itu masalah denganmu?” tanyaku kepadanya.
“Tidak… tidak… hanya saja aneh…” ucapnya.

Sampai akhirnya kami berdua tiba di dalam kamar. Aku segera memisahkan diriku, mencari tempat nyaman untuk diriku sendiri. Karena sudah senja, matahari sudah tidak terlalu terik, ada sebuah tempat yang menyediakan sofa, lounge terbuka. Akupun tertarik pada hammock yang tergantung mengarah langsung ke lautan. Tepat di bawah hammock itu tak ada pasir putih pantai, melainkan langsung laut yang begitu dekat.  Aku melompat dan merebahkan diriku disana. Kupejamkan mataku dan kunikmati atmosfir dan udara yang berbeda ditempat itu.

“Yah…” kudengar suara Jessica. Aku segera membuka mataku dan membantunya untuk duduk disampingku. Ia mengganti bajunya, menjadi sebuah mini-dress tipis berwarna kuning muda. Ia memakai bikini berwarna merah jambu sebagai dalamannya.

“Membawaku sejauh ini, pasti kau mau membicarakan sesuatu kan?” ucap Jessica, ia sedang mengikat rambutnya yang panjang.

“Emh… mengenai pembicaraan kita yang kemarin itu…-” aku sengaja tidak meneruskan kata-kataku, ingin melihat reaksinya.
“Lalu… apa jawabanmu?”

Aku menelan ludahku, menghembuskan nafasku, membuat diriku lebih rileks dan bersiap mengatakannya.

“Bisakah… kau… memberikan waktu kepadaku sedikit lagi? Masih hal-hal yang ingin kupikirkan…” ucapku kepadanya.Jawaban itu membuat Jessica mendengus, membuang nafasnya dengan berat.

“Pergi sejauh ini hanya untuk mengatakan itu?” Jessica kemudian menggeleng dan ia tersenyum kecut.

“Di rumah saja kan bisa… dasar, aneh…”
“Liburan, aku dan kau butuh liburan, nikmatilah… sebab beberapa hari lagi, kita akan kembali ke realita… ke dalam bisnis dan dunia kita masing-masing…”

Kami berdua memejamkan mata dan bersantai selama beberapa saat. Hingga akhirnya rona langit berubah menjadi semakin gelap. Setelah dua gelas jus pun telah habis kami nikmati, aku dan Jessica berjalan-jalan dipinggir pantai.

“Aku ingin kau mengetahui sesuatu…” ucap Jessica saat kami berdua berjalan di pinggiran pantai. Ia tiba-tiba menarik lengan kiriku dengan erat.

“Kau tahu kan aku ini egois… dan aku tidak akan segan-segan untuk merebut kembali apa yang sudah kumiliki…” ujarnya. Perkataan Jessica membuatku bingung, sebuah konotasi yang ia utarakan apakah karena dia sudah mengetahuinya?

“Maksudnya… Aku ingin kita tetap lanjut…” ujarnya.
Aku tak menjawab semua apa yang dia ungkapkan. Iapun tak memaksa mendengarkan apa pendapat atau jawabanku.

===

Sebuah ranjang berukuran King Size, besarnya sama persis dengan ranjang yang berada di kamarku. Kami berdua berbagi ranjang di malam itu, untuk pertama kalinya. Sudah pukul dua belas malam, Jessica baru saja menyelesaikan ritual membersihkan wajahnya. Gaun malam hitam tipis menjadi busana-nya malam itu. Sementara aku sedang membaca-baca artikel melalui website dengan handphoneku. Jessica naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya disamping kananku.

Keheningan terjadi, Jessica perlahan menutup matanya. Sekitar lima belas menit kami terdiam, hanya ada bunyi pendingin ruangan yang bekerja. Jessica tiba-tiba bergerak, merubah posisi tidurnya, menghadap diriku. Ia lantas memperhatikanku yang masih sibuk dengan handphoneku. Ia kemudian memegang handphoneku, menghalangi layarnya dengan tangan kanannya.

“Wae??” ucapku kepadanya.

Lantas dengan segera ia menarik handphoneku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Matanya setengah terpejam, namun aku yakin ia melakukannya dalam keadaan sadar.

Ia menciumku.

===

Tiga hari kemudian,

Kami kembali ke Seoul, kembali menjalani rutinitas kami. Aku sebagai pemilik perusahaan advertising kembali harus menghadapi klien-klien perusahaan besar dan Jessica sibuk dengan peragaan busana dan butik miliknya. Di Sore itu, aku menjemput Soojung dari tempat kuliahnya. Kubawa ia ke sebuah Café di Itaewon.

Ia menatapku dengan tatapan yang tajam, sesaat setelah kami memesan minuman.
Aku memilih untuk diam, akan kubiarkan dia terlebih dahulu berbicara kepadaku.

“Kenapa diam saja, huh?” sudah kuduga, nada bicaranya akan seperti itu, dihiasi dengan rasa kesal.

“Soojung-ah, mian…–”
“Minta maaf? Kenapa? Karena sudah pergi ke Maldives tanpa mengajakku?!” alu mengangguk kecil kepadanya.
“itu janjiku kepadanya tahun lalu… sorry…”
“Hmph… janji yang kau tepati karena dia atau karena kau berjanji di depan orangtua-mu?” tanya Soojung kepadaku.

Memang janji untuk pergi berlibur ke Maldives kuutarakan saat orangtua-ku berkunjung ke rumah. Mereka mempertanyakan kenapa aku dan Jessica belum juga pergi berbulan madu. Pada saat itu Jessica menjawab pertanyaan itu karena kami sedang sibuk dan akupun bilang kalau tahun depan kami akan pergi berlibur bersama.

“Soojung-ah… Beberapa waktu yang lalu, kami keluar bersama untuk minum kopi,apa kau ingat?” aku mengungkit topik lain. Soojung hanya menghembuskan nafasnya dan pandangannya mengarah ke arah lain, namun aku yakin ia mendengarkanku.

“Sica… dia… bertanya kepadaku, apakah aku ingin melanjutkan pernikahanku dengannya… atau akhiri saja…” ucapku dengan perlahan.

“Orangtua kalian, mempertanyakan kenapa Sica belum juga hamil sampai saat ini dan Sica sudah tidak bisa mencari alasan lain untuk berbohong… mungkin… ini… adalah batas terakhir kami untuk saling berbohong…”

Soojung menoleh ke arahku, “Lalu…? Memang sebaiknya kalian berpisah kan?”
“Itu… Be… belum kujawab…” jawabku, ucapan itu membuat Soojung kembali membuang nafasnya dan ia menggelengkan kepalanya.

“Kau itu… kenapa tidak bisa tegas sih? Akhiri saja hubungan kalian, apa yang patut kau pertahankan hah? Kau mengikuti perintah orangtua-mu tetapi malah membuat kau hidup dalam kebohongan, membohongi dirimu sendiri dan orangtua mu? Heran aku… kenapa kau bisa bertahan selama ini…” ucap Soojung, dahinya mengerut dan melotot ke arahku.

Aku terdiam setelah mendengarkan apa yang di utarakan Soojung. Melihat aku yang hanya bisa terdiam, Soojung pun kembali membuang pandangannya. Minuman yang kami pesan datang, iapun segera meminum Caramel Macchiato miliknya.

“Kalau kita bersama… mungkin kita akan bahagia…” ucap Soojung dengan perlahan seperti berbisik. Kepalanya sedikit menunduk dan ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Mungkin dia membayangkan sesuatu, mungkin membayangkan manisnya jika kami hidup bersama.

“Kalaupun aku dan Sica harus berakhir, kita tidak mungkin bersama… ya, sangat tidak mungkin…–”
“Wae? Waeyo!?” ia menyambarku sebelum perkataanku selesai.

Aku mengambil nafasku, “Pikirkanlah… apa kata orang lain… jika aku bercerai, kemudian kita hidup bersama… orang lain akan menyebut kita apa… jangankan orang lain, apa kata orangtua kita nantinya? Belum lagi jika aku bercerai, mungkin saja hubungan orangtua kita akan akan sedikit merenggang…”

“Erghhh!!! Terserah kau lah… kau itu sudah dewasa… sudah menikah, sudah mandiri, seharusnya kau sudah lepas dari orangtua-mu… kau sendiri yang bilang kalau menikahi Sica adalah petuah terakhir dari mereka yang kau turuti… namun lihat sekarang kau masih juga seperti itu… bersembunyi dibawah bayang-bayang orangtuamu…” diakhir ucapannya Soojung bangkit dari tempat duduknya dan ia mengangkat tasnya.

Aku mencoba mengejar Soojung, ia menepis tanganku, “Jangan ganggu aku!”
Membuat kami diperhatikan oleh beberapa orang yang merupakan pengunjung café.  Ia segera menghentikan sebuah taksi dan pergi menjauhi Itaewon.

===

Aku kembali ke rumah. Dan langit sudah berubah menjadi malam, kuhabiskan waktuku untuk merenung sendirian di café. Kubuka pintu rumah, tak ada suara yang menyambutku, hanya ada beberapa lembar kertas berserakan dan gulungan-gulungan kain berada diruang tamu, semua benda itu adalah milik Sica pastinya. Aku menoleh ke pintu kamar yang berada tak jauh dari ruang televisi, pintunya sedikit terbuka dan kamar itu dalam keadaan gelap. ‘Dia belum pulang?’

Akhirnya aku menuju lantai dua.Berjalan menuju kamarku dan ketika kubuka pintu kamar aku mendapati sosok perempuan yang tertidur di atas ranjangku. Perempuan yang nampaknya kelelahan sampai-sampai ia tak menyadari kehadiranku. Di meja kerjaku ada banyak kertas dengan gambar ilustrasi. Berbagai macam warna marker copic, penghapus dan pensil rotring.

TRAK saat aku menaruh tasku, menimbulkan suara kencang.
“Umh… kau sudah pulang…?” ucap Sica, ia nampaknya terbangun karena bunyi tadi.

Kulepaskan kemeja dan membuka lemari, mencari pakaian yang ingin kupakai nanti setelah mandi.
“Lanjutkan istirahatmu…” ucapku kepada Sica. Ia kembali memejamkan matanya sambil tersenyum kecil.

Sampai aku selesai mandi, belum ada tanda-tanda kepulangan Soojung. Kamarnya masih kosong, kendati sudah mendekati hampir jam 9 malam. Belum lagi pesan singkatku tidak masuk ke handphonenya, apakah ia sengaja mematikan handphonenya?

“Mau kemana?” ujar Sica saat melihatku keluar dari dalam kamar. Ia rupanya tidak tertidur, hanya memejamkan matanya saja.
“Kau mau tidur disini kan? Tidur saja lah, aku akan tidur di ruang tamu saja…”

Namun Jessica segera bangkit dari tidurnya,
“Kau… Istirahat disini saja…” ujarnya sambil menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya.
“Tak apa-apa? Kau tak terusik kalau aku berada disampingmu?” tanyaku.
“Tidak…” ucapnya dengan perlahan.

“Ini kamarmu… dan juga ranjangmu… kenapa kau malah mau tidur diluar?” ucap Sica saat aku merebahkan diriku disampingnya. Kupegang remote televisi yang berada di lemari disamping tempat tidur. Aku hendak menyalakan televisi, namun melihat Sica yang terus memejamkan mata, akupun mengurungkan niatku itu.

“Nyalakan saja kalau kau memang mau menonton…” ucap Sica dengan mata yang terbuka sedikit, mungkin ia memperhatikan gerak gerikku sedari tadi.
“Tidak, nanti berisik, kau tak bisa tertidur…” diakhir ucapanku, Sica bangkit dari tidurnya.

“Shh… kau itu…” Sica menghelakan nafasnya, seakan ia menahan amarahnya yang ia pendam.
“Kenapa selalu menuding diriku seperti itu? Padahal kau belum bertanya sedikitpun kepadaku?” tanya Sica kepadaku.

Aku tak menjawab Sica, kupikir dia sedang mengalami stress atau depresi akibat pekerjaannya. Aku hanya mengangguk canggung dan membuka lembar demi lembar majalah.

Selama beberapa menit kami berdua terdiam. Mataku terpaku dengan majalah yang kubuka, namun isi kepalaku entah berada dimana. Aku memikirkan kenapa Sica menjadi berbeda akhir-akhir ini. Biasanya dia bersikap cuek dan tak memperdulikan diriku, namun kini ia terasa begitu sensitif.

“Kau hanya pernah bertanya sekali… dan itu sudah lama sekali… ya, pertanyaan yang kau ajukan setahun yang lalu…” ucap Sica.

===

To Be Continue

12 thoughts on “How Can I Tell Her ? : Chapter 2”

  1. author baby jung mah hobbynya bikin readers penasaran setengah mati ..
    hehehe peace ✌..

    nah dari sini aku udah ngerti, waktu chap 1 jadi awalnya si cewe itu soojung bukan jessica..

    setiap hari senin ya thor di postnya ??
    aku usahain nunggu deh..
    nunggu sweet mommentnta dongwook dan sica hahaha

    Suka

    1. 😀

      Memang kalau sebuah cerita harus ada unsur yang dapat membuat penasaran Reader kan? hehehe…

      Sweet Moment mereka? umh, let’s see kemungkinan baru sweet nanti… di akhir cerita hihi~

      Suka

  2. Nah, akhirnya chapter 2 keluar. Disini soojung adiknya sicca pan ? Ko tega ya sama kakanya -.- kesian sicca. Semangat author-nim !!! Cepat cepat chap 3 ^^

    Suka

  3. oh gee…………… untung saya sudah cukup umur baca ini, hahaaha.
    well, dengan ngebaca ini saya tuh jadi tahu rasanya sebuah mahligai(?) pernikahan yang terombang-ambing gitu…. gregetan sama kakak jessi-nya……yah perempuan mah terlebih di jaman sekarang gak apa2 kali ambil inisiatif untuk ngeconfess duluan… yakin, sebenernya kakak sica ini tuh feel something toward him.cuma dia gak sanggup ngomong langsung. dan lebih milih menunjukannya…

    dan mas dongdong tuh yah tipikal pria jaman sekarang juga (biasa yg saya liat di drakor2,hehe) kurang peka.aduhhh ini mah seru. gausah pakai konvensi bahasa yang berbau KBBI-isme, cukup dnegan tuturan sederhana yang kakak taruh di ff ini saya masih bisa dan sangat menikmatinya🙂

    chapter ke-3 ditunggu ya kak!!🙂

    Suka

    1. Hahaha nice akhirnya ada juga reader yang cukup umur dan bisa menangkap cerita yang saya tulis ini walaupun minim bahasa yang indah dan banyak typo disana-sini :p

      Memang Dongwook seperti pria drakor pada umumnya. Pria tidak peka, sukses dengan usahanya namun ia masih dibayang-bayangi oleh orangtuanya. Dia masih beranggapan kalau menyenangkan hati orangtua adalah nomer satu, karena merekalah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Urusan hati/perasaan pribadi ia kebelakangkan.

      Makasih ya sudah mau membaca tulisan saya ^^

      Suka

      1. hehehehe. simplicity is the best! yah typo mah wajar kak. typo itu manusiawi. selama saya masih bisa menangkap ceritanya sih woles aja.he

        nah kan….. emg tuhan itu maha adil, di balik kesempurnaan pada makhluk yang ia ciptakan, Ia juga menaruh celah di sana sini. *tsaaah omonganmu Na T_T*
        contoh aja karakter mas dong di sini. dia cakep (bgtz), kaya, sukses, tapi masalah percintaanya dan keluargan yah gitu. berantakan.. di saat dia dikasih masalah dia kaya kelihatan ragu gitu..aduh gimana ga greget coba?
        (btw jadi inget LDW di roommate season 1 pas intro…doi kan juga anak mamah T_T)

        nah dan yang bikin saya sukak sama epep ini tuh adalah penggunaan Aku sebagai tokoh utamanya. udah mana kakak ini seorang pria makanya kesan realfeel-nya ituh berasa. kerenn!!

        ya sama-sama.makasih juga kolom komennya mau dirusuhin sama komenan saya.hehe😀

        Suka

    2. Haha, nonton roommate jg ya? hehe emg ada sedikit inspirasi dr situ sih :p

      Sebetulnya nanti saya pakai 2-POV. Yang sudut pandang Dongwook dan ketiga. Ya mudah-mudahan perpindahan POV-nya tidak menimbulkan kejomplangan cerita ya… hehe…

      Justru karena ada komen saya jadi merasa ‘Hidup’ kalau tak ada komen gersang nih TT__TT…

      Suka

      1. ngikutin di awal2 doang kak T_T haha

        oh begituu! semoga dengan penggunaan sudut pandang orang ketiga ff ini bakal lebih greget!! gud luck!!

        my comment is like oxygen gituh?haha😀

        Suka

  4. ya ampuun.. si soojung nanya kenapa dongwook bisa bertahan yang muncul d benakku adalah kenapa soojung juga bisa bertahan dengan dongwook yang kaya gitu? aah.. geregetan banget sama tokoh”nya. aku suka gaya bahasa author, ringan tapi nyentuh.. aduh apa sih. pokoknya ngalir, slow dan tiba” TBC. ya wess, tetep lanjut ya..

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s