How Can I Tell Her ? : Chapter 3

Sudah hampir pukul sebelas malam. Dan aku menunggu di depan mobil sendirian, parkiran sudah mulai sepi. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Orang yang kutunggu belum kunjung datang. Hingga akhirnya ada sedikit keributan, ada sekitar lima orang berjalan bersama-sama.

“Oppa…?” ucap Jessica yang terkejut akan kehadiranku. Aku melemparkan senyuman tipis kepadanya. Jessica mendekati diriku dan bisa sayup-sayup terdengar rekan-rekannya Jessica yang mungkin sedang membicarakan diriku.

“Kau lelah? Kau ada waktu? Aku ingin berbicang sebentar saja…” ucapku kepadanya. Sesungguhnya aku tak tega ‘menculik’ dirinya yang baru saja menyelesaikan acara pameran busana rancangannya itu. Meskipun ia memakai make-up untuk menutupi lingkar matanya yang menghitam, namun besarnya kantong mata tidak bisa ia hindari.

Jessica pun berpamitan dengan rekan-rekannya. Aku dan dia segera meninggalkan parkiran mobil dan berkendara menuju ke tempat lain. Sepanjang perjalanan Jessica tersenyum saat melihat handphone-nya. “Selamat ya… mungkin setelah ini butikmu akan semakin ramai…” ucapku kepadanya.
Ia mengangguk kecil dan masih tetap tersenyum.
“Beberapa website majalah fashion memuat foto dari baju yang kurancang… senangnya…” ucap Sica.

Kubawa dia mengunjungi sebuah Café di Hongdae. Sebuah Café di lantai dua yang bernuansa Eropa kuno. Dua gelas wine menemani kami setelah kami menghabiskan makan malam. Sedari tadi ia bercerita terus menerus mengenai acara yang baru saja ia selesaikan itu.

Perlahan-lahan subjek pembicaraan berubah, menjadi mengenai keluarga kami. Membicarakan kami yang saling mengenal karena kedua orangtua kami yang mempertemukan kami. Dan di malam itu, aku memiliki tujuan lain,

“Pernikahan? Kenapa kau bertanya seperti itu?” Sica terkejut dengan pertanyaan yang kulemparkan kepadanya.
“Tak apa.. hanya ingin tahu saja pendapatmu… kau dan akukan sesungguhnya sudah berada di rentang umur untuk menikah…” ucapku kepadanya.

Jessica terdiam selama beberapa detik, iapun meneguk wine miliknya.

“Hmh… bagiku… menikah… harus dipikirkan masak-masak… sebab… pria itu akan menjadi pasangan hidupku selamanya…” ucap Sica perlahan-lahan.
“Ah… jadi kau ingin menikahi pria yang kau cintai ya?”
“Hmmm… lebih tepatnya orang yang bisa membuatku nyaman, sebab dari rasa nyaman itulah, aku akan menyayangi dia… dan perlahan mungkin akan mencintainya… ya… ya seperti itu…”

“Ah… nyaman ya…” ucapku sambil tertawa simpul. Jessica mengangguk, sementara tangan kirinya memainkan leher gelas wine miliknya.
Aku menarik nafasku dalam-dalam. “Aku ini orang yang canggung ya…? Sorry kalau membuatmu tidak enak saat berada–”
“Tidak-tidak… aku nyaman berada di dekatmu… kalau tidak nyaman mungkin aku sudah menolak ajakanmu sekarang dan menghindari kamu…” ucap Jessica yang memotong kalimat pesimisku.

Wajah Jessica sedikit memerah, iapun hendak meneguk wine-nya kembali. Namun aku menahannya. Ia terkejut dengan perbuatanku itu. “Wae? Wae? Aku tidak akan mabuk…”

Kemudian tangan kananku mengeluarkan kotak kecil dari saku celanaku.
“Aku ingin melakukannya selagi kau sadar…”

Kubuka kotak kecil berlapis beludru berwarna maroon itu, ada sebuah cincin emas dengan berlian. Matanya membesar dan kurasa nafas Sica terhenti sesaat.
“Apa… itu?” ucapnya perlahan matanya berkedip cepat dan segera menatapku.

“Jessica… menikahlah denganku…”

===

hcith

How Can I Tell Her ?
Chapter 3
[ AU | Romance | 17+ ]
Writer : BabyJung

Lee Dong Wook
Jessica
Krystal

===

===

24/02/15 : Update terlambat karena ada kesibukan minggu ini. Selamat menikmati! ^^

===

“Kenapa? Kenapa kau menjadi semakin berubah? Semua kau tentukan sendiri… kau menilai diriku seperti itu… kenapa?” tanya Jessica. Aku tahu ia menangis, ia tak sedikitpun memperlihatkan wajahnya. Ia mulai menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Aku meletakan majalahku dan menghelakan nafasku.

“Perjanjian itu… ada dimana?” tanyaku kepadanya.
“Perjanjian??”
Aku menelan ludahku, “Perjanjian pra-nikah kita…” ucapku kepadanya.
Ia menatap ke arahku, matanya sudah memerah dan air mata sudah membanjiri wajahnya.

“Akan kurobek perjanjian itu, dengan begitu perjanjian telah dibatalkan, kau bisa bebas… tak perlu lagi mengkhawatirkan diriku… toh memang dalam perjanjian itu, kita bisa membatalkan pernikahannya kan?” ucapku kepada Sica.

“Begi…tukah? Begitukah yang ada dipikiranmu? Mungkin aku memang tak butuh jawabannya… jawaban dari mulutmu… kau ingin mengakhiri ini kan? Tanpa mengetahui perasaanku yang sebenarnya?” ucap Sica meninggalkan teka-teki dan iapun meninggalkan kamarku.

Saat ia hendak membuka pintu kamar, dengan cepat aku berdiri dan menghampiri Sica. Kutahan tubuhnya dengan kupeluk dari belakang. “Tunggu! Aku ingin mendengarnya…” ucapku berbisik ditelinganya. Sica tak bergeming, nafasnya terdengar tidak karuan karena tindakanku yang tiba-tiba.

===

Keesokan paginya,

“Bangun… hey… bangun Soojung-ah…”

SRETTTT!

Seseorang menyibak tirai, membuat Soojung menggeliat dan ia menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut tebal.
“Kau habis minum-minum ya? Pulang jam berapa?” yang membangunkan Soojung adalah Jessica. Ia lantas menarik selimut yang meghalangi tubuh Soojung.
“Sudah siang, cepat bangun… ayo keluar kita makan siang… kalau kau tidur seharian habis minum-minum bisa sakit…”
“Umh…..”

Jessica mengenakan kacamata Rayban, tubuhnya berbalut kemeja putih chifon, washed denim biru muda dan sneakers putih polos. Ia pun menyalakan mesin mobil BMW Series 4 Coupe berwarna abu-abu tua metalik. Pintu garasi terbuka otomatis, Jessica pun membuka jendela mobilnya karena ia masih menunggu Krystal.

Tidak sampai dua menit kemudian, Krystal tiba, ia memakai kaus berwarna maroon dengan hotpants denim biru tua dan sepatu kanvas putih, ia memakai topi hitam dan mengikat rambutnya. Tak ada make-up di wajahnya, hanya bedak saja. Ia lantas langsung masuk ke dalam mobil.

“Kau… sejak kapan bisa minum alkohol?” tanya Sica, memecah suasana sepi diantara mereka berdua.
“Umh… kapan ya…” jawab Soojung, ia malah memberikan jawaban kosong kepada Jessica.
“Kau minum-minum dengan siapa semalam?”
“Myung…” jawab Soojung dengan cepat.
“Perempuan? Atau-”
“Laki-laki… dan kami hanya teman…” jawab Soojung sebelum Sica berkata lain mengenai identitas pria yang menemaninya semalam.
“A…a… araseo… Dia pasti pria baik ya… menemani mu minum dan mengantarkanmu yang mabuk pulang sampai ke rumah…” ucap Sica.

Di akhir kalimat Sica, Soojung kembali terdiam, matanya menghadap ke arah lain. Wajah tanpa ekspresi, mungkin sedang memikirkan sesuatu.

“Unnie… kau… mau sampai kapan seperti itu terus bersama Dongwook oppa?” tanya Soojung dengan suara perlahan, hampir tak terdengar karena tersamar dengan raungan mesin mobil.
“S…seperti apa?” ujar Jessica keheranan.
Soojung menghelakan nafasnya, “Orang asing yang tinggal satu atap, bersandiwara kalau mereka berkeluarga dan saling mencintai dihadapan orangtua mereka!”

Suara Soojung yang meningkat dan terdengar begitu emosional membuat Jessica terkejut. Ia mencengkram kemudi mobil dengan erat saat mendengar pernyataan itu. Iapun menghelakan nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawabnya.

“Kau perlu tahu, kalau kami… kami bukan orang asing… memang terlihat kaku namun… perlahan-lahan kami saling menyayangi satu sama lain…”
“Puh… ucapanmu itu berbeda dengan satu tahun yang lalu… saat kau menikahinya…” ujar Soojung.

“Kau waktu itu menangis saat berada di kamar hotel di hari pernikahanmu, kupikir kau telah menemukan laki-laki yang mampu membahagiakanmu, namun ternyata kau menangis karena kau menikahi pria yang belum lama kau kenal karena perjodohan dan belum tentu kalian saling mencintai… ditambah lagi kau bilang kalau pernikahan kalian hanya untuk membahagiakan orangtua kedua belah pihak saja…” ucap Soojung, nada suaranya semakin kencang dan ia mulai menoleh ke arah Jessica.

Selama beberapa detik Jessica terdiam. Kemudian kendaraan terhenti sesaat karena lalu-lintas yang sedikit macet. Wajahnya terlihat getir setelah mendengarkan ucapan Soojung.

“Itu memang benar… dia memang tidak begitu memperdulikan pernikahan itu, ia masih sibuk dengan perusahaan yang ia kelola… begitu juga denganku… namun kau belum mengetahui satu hal, Soojung…” perkataan Jessica mengambang di akhir kalimatnya.
“Apa? Apa itu?”

“Selama ini aku tak memperdulikannya bukan karena aku tak menyayanginya… namun karena aku tak mau menjadi penghalang bagi kehidupannya… semenjak kami dikenalkan, aku sudah membuka hatiku kepadanya…” seperti sebuah meriam besar yang menembakan pelurunya, mendentum kencang membuat kekacauan dalam pikiran dan perasaan Soojung.

“Aku tahu, itu memang bodoh, bertindak seakan aku tidak memperdulikannya… namun kurasa memang belum waktunya…”

“M…memang belum waktunya dan tidak mungkin ada…” ucap Soojung, pandangannya terlihat kosong.
“Apa maksudmu?”

“Pria seperti dia… mungkin hanya mempermainkanmu… bisa saja dia… saat ini… sedang… menjalin hubungan dengan wanita lain…” ucap Soojung. Perkataan ironis yang menyiratkan hubungannya dengan Dongwook.

“M…mh… mungkin saja seperti itu… sebab semakin kesini dia semakin berubah… mungkin saja memang ada wanita lain yang dia dambakan… dia tidak pernah cerita kepadaku…” ucap Jessica.
“Ya sudah kalau begitu kau lepaskan saja dia, biarkan dia pergi… daripada kalian membohongi diri kalian dan orangtua!” ucap Soojung.

“Tidak… Tidak akan… kulepaskan dia…” ucap Jessica dengan cepat dan seketika membekukan percakapan kakak beradik itu.

===

Aku masih tak bisa menghubungi Soojung. Handphone-nya masih tak menyala. Hari sudah menjadi senja, beberapa staff sudah meninggalkan kantor. Pikiranku kembali melayang-layang dengan apa yang akan segera kuhadapi dirumah nantinya. Akupun memegang kembali handphoneku, mengirimkan pesan singkat.

“Kau, dimana?” kukirim itu untuk Jessica.
Tidak sampai lima menit, handphone ku berdering kembali, sebuah pesan singkat masuk
“Butik… kau dimana? Sudah pulang ke rumah?”

Belum kujawab pesan terakhir dari Jessica, ingatan semalam tiba-tiba saja terulang dalam benakku. Ketika aku memeluk Jessica dengan erat menahannya agar tidak keluar dari dalam kamarku.

“Tunggu aku ingin mendengarnya!”

Selama beberapa saat kurasakan nafas Jessica yang semakin cepat.
Aku memeluknya dari belakang, iapun kemudian menyentuh tanganku dengan kedua tangannya.

“Semenjak kita pertama kali berkenalan… aku sudah membuka hatiku kepadamu, aku tahu hati, pikiran dan passion-mu berada di perusahaanmu itu… dan mungkin pernikahan ini mungkin tak penting bagimu, semata-mata hanya untuk menyenangkan hati orangtua kita saja.. Namun sampai saat inipun aku masih membuka hatiku dan menunggumu, menunggu kapan waktunya aku bisa benar-benar masuk ke dalam kehidupanmu… Dan selama ini, Aku bersikap dingin semata-mata hanya tidak ingin menganggumu… namun nampaknya semua itu berdampak buruk… semakin kesini mungkin kau semakin merasakan kalau aku tidak memperdulikanmu… itu… itu semua salah…” ucap Sica. Kurasakan air matanya yang hangat menuruni wajahnya dan mengenai tanganku.

Aku terdiam, mendengarkan perkataannya.

“Kau berubah mungkin karena dampak dari sikapku… mungkinkah kau kini membenciku…? Dan hatimu sudah berada ditempat lain? Oleh karena itu aku akan merebut kembali dirimu… bagaimana pun juga… aku masih mengharapkan dirimu… maaf, maafkan aku…” ujar Sica dengan suara yang lemah.

Aku pun berbisik ditelinga Sica.

“Seharusnya aku yang meminta maaf… bukan dirimu…”

===

Malam itu,

Lampu lava sudah menyala selama enam jam. Cahaya yang merah hangat segera menguasai seisi kamar yang dingin karena pendingin ruangan. Mata Soojung terlihat kosong. Ia memperhatikan pijaran lampu lava yang berada di meja kamarnya. Ia tak sedikitpun bergerak dari posisi tidurnya.

KRING… Sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphone-nya.

“Bisa kau keluar, sebentar?” Dongwook mengirimkan pesan singkat.  Sambil menghelakan nafasnya, Soojung keluar dari dalam kamarnya. Ruanganan utama rumah sudah terlihat redup karena beberapa lampu utama sudah dimatikan. Ada sebuah lampu sorot di sekitar dapur yang masih menyala terang. Menarik perhatian Soojung untuk berjalan menuju tempat itu.

Ia melihat Dongwook berdiri dihadapan pintu kulkas. Ia memperhatikan Dongwook yang tengah meneguk air mineral dari botol dingin. Dongwook menyadari keberadaan Soojung, ia segera membalikan badannya dan mendekati Soojung yang telah duduk dikursi meja mini-bar.

“Dia… tidur di kamarmu lagi?” tanya Soojung dengan kepala menunduk.

“Umh…” jawab Dongwook, ia berdiri dihadapan Soojung.

Soojung kemudian memperhatikan Dongwook, “Sorry kalau kemarin aku emosional…” iapun meraih lengan kanan Dongwook, Dongwook menyambut lengan Soojung dan memegang erat tangan Soojung.

“Maaf, aku juga masih bingung untuk menentukan pilihanku… untuk hubungan kita ini.. aku rasa… tidak ada jalan keluar yang pasti…” di akhir kalimat Dongwook menghelakan nafasnya.

Soojung memandang dengan raut wajah yang sedih.

“Ma… maksudnya?”

===

To Be Continue

17 thoughts on “How Can I Tell Her ? : Chapter 3”

  1. kak akhirnya apdet juga!!wah,wah sumpah ini tuh kaya berasa nonton drama pink lipstick dan sejenisnya deh, marriaged-life khas orang korea bangett T_T
    gemes sumpah semua castnya di sini. ah gemes parah T_T di satu sisi ada sica yang ternyata selama ini nyimpen perasaan sama mas dongdong, doi sendiri yang perasaannya terhadap dua cewe canteks berikut yg masih jadi misteri, dan soojung yah no komen buat dialah😦
    sumpahlah ini greget abis.. aku sih udah nebak mas dongwook bakal dihadapin sama situasi ini, harus milih salah satu dari mereka, bukan dua-duanya….ah, awas aja kalo sampe dia salah ambil pilihan. #see, this kiddo is really falling into gretetion for this movie-_-#
    next chapternya ditunggu kak! semangatttt😀

    Suka

      1. duh saya mah kaga bisa dah nebak2 begini. prediksi saya tuh selalu melesett #makanya gapernah menang kuis tekor#
        hm, yah, semoga mas dongwuk memilih seseorang yang tepat. entah itu siapa nantinya, hanya dia dan dirimu yang tahu, haha😀

        Suka

      1. kak i know this one is so asdfggk random, but i have read ur teaser of Romansa Asmara Sandiwara!! BLAAAAR! judulnya ciamik bangett!! jadi idol ngehitz yang dipasangin sama Suzy itu SUNGJAE??!! okay, bye!

        Suka

      2. Ini dibagi 3 chapter sh, per-chapter akan punya judul sendiri-sendiri, Romansa Asmara dan Sandiwara itu kalimat depan buat judulnya hahaha~

        Disukai oleh 1 orang

      3. hahaha😄 maklum dong kakak-nya saya gaptek pengetahuan bollywood cuma tau padang rumput, pohon dansa-dansa kalau lagi senang susah~

        Suka

  2. ooh jadi seperti ituu.. yang kagak peka disini justru si soojungnya dan si dongwook sebenarnya masih labil toh. itu si sica dibuat bangun aja d next part dan denger percakapan mereka. aku penasaran gimana sikap sica. kalo si dongwook dan soojung ga bisa ngambil keputusan, kurasa sica bisa.. yep, walau mungkin jungsist bakal berselisih paham tp kuharap tetep saling sayang. hohoho.. ditunggu next chapnya author sayaang ~~

    Suka

  3. Wah aku ketinggan nih, udah lama ngepost tapi aku baru buka sekarang.
    Dan lagi-lagi mimpi yang memperingatkanku untuk buka IFK

    Nah dari sini aku ngerti. Jadi di awal part 1 itu Dongwook sama krystal bukan Sica .

    Kapan next nya author baby jung. Saya akan menunggumu hahaha

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s