EXISTENTIA — The Bloody Memories: Interfectorem and Chico [7th]

existentia5-1

Misteri dari chapterchapter sebelumnya terlalu banyak? Sampai sekarang hampir tak ada pemecahannya? Tenang kawan-kawan yang masih mau membaca, karena mulai chapter ini segalanya mulai menemukan titik terang! (^w^)/

Silakan download soundtrack (cielah) EXISTENTIA terlebih dahulu (jika mau) di MF :3

++

Casts belong to Allah SWT. Story © kihyukha

do not plagiarize, copycat, or repost without my permission || WARNING! Violence. PG-15 || Action / Angst / AU / Dark / Fantasy / Friendship / Mystery / Romance / Thriller / Tragedy || Inspired by Tokyo Ghoul – Sui Ishida

++

(bold for the most appearance in this chapter)

Kim Hyunah (HyunA) [4Minute] ♦ Jang Hyunseung [B2ST] ♦ Yoon Doojoon [B2ST] ♦ Jung Ilhoon [BtoB] ♦ Jung Byunghee (G.O) [MBLAQ] ♦ Jang Dongwoo [INFINITE] ♦ Yang Yoseob [B2ST] ♦ Yong Junhyung [B2ST] ♦ Jung Jinyoung [B1A4] ♦ Yang Seungho [MBLAQ] ♦ Yoon Mi Rae

Kim Himchan [B.A.P] ♠ Kim Jonghyo (J-Hyo) [LC9] ♠  Yoo Youngjae [B.A.P] ♠ Kim Seokjin (Jin) [BTS] ♠ Cha Hakyeon (N) [VIXX] ♠ Jung Hana [SECRET]

///

“Darah Tartaron yang kaucaci busuk itu mengalir dalam dirimu…

… sama sepertiku.”

.

.

Kau benar, Ayah.

Tapi…

///

previous:

| The Beginning: PROLOGUE | 1st [Filia’s Destiny: EXPLICATIO] | 2nd [Ignition: BATTLE] | 3rd [Ignition: CONFUSE] | 4th [Ignition: THE KING’S ORDER] | 5th [The Bloody Memories: CHICO’S JOKE] | 6th [The Bloody Memories: CLUE] |

.

existentia

Henolia

Negara bersistem monarki yang terletak di dekat ekuator. Luasnya sekitar 8400km2, merupakan negara kecil dengan tingkat kesejahteraan tinggi, di mana produktivitas industri, pertanian, perikanan, dan pertambangannya seimbang. Ibukotanya bernama Henolia, sama seperti nama negara.

Dengan segala keuntungan dan harmonisasi yang ada di Henolia tidak membuat negara ini aman sepenuhnya. Letak Henolia juga dekat dengan Tartaron, sebuah tempat yang dulunya pulau tak berpenghuni, dan digunakan sebagai ‘markas’ oleh para penjahat kelas dunia.

Raja Henolia dan para Ilmuwannya menciptakan senjata untuk melindungi Henolia dari teroris, dan akhirnya menghasilkan delapan anak dengan kekuatan luar biasa, yang dimasukkan ke dalam Kelompok Rahasia dan diasingkan di sebuah kastel tua. Tetapi ada kendala, tiga di antaranya membelot, dan belum diketahui bagaimana nasib mereka.

Masih banyak rahasia yang tersimpan pada anak-anak itu, bahkan yang mereka tidak mengetahuinya. Rahasia yang utama disimpan oleh seorang Ilmuwan yang merupakan unsur utama penelitian tersebut, namun ia meninggal dunia dan belum diketahui apakah ia meninggalkan catatan rahasianya atau tidak. Yang tersisa darinya hanyalah istri dan seorang putri, di mana istrinya diculik dan putrinya sekarang berada bersama anak-anak Kelompok Rahasia, ikut berpartisipasi menguak misteri di balik penelitian dan kudeta yang diam-diam terjadi di dalam negara kecil tersebut.

Selama lima belas tahun terakhir, Henolia selalu berada dalam keadaan baik, tetapi tiba-tiba sekelompok penjahat muda muncul dan berniat menghancurkan negara itu, karena suatu dendam yang tak pernah terungkap oleh orang luar.

Tartaron

Terletak di Barat Daya Henolia. Julukan lain untuk Tartaron adalah Pulau Buangan. Di sini didirikan penjara untuk para penjahat kelas dunia, dan di pedalamannya terdapat markas kepunyaan beberapa organisasi dan kelompok kriminal. Keberadaan orang-orang ini membuat Henolia harus selalu dalam posisi siaga. Selain Delapan Anak dalam Kelompok Rahasia, Henolia juga memiliki lapisan militer yang menjaga Henolia luar-dalam, terlebih dari para Penjahat Tartaron. Namun gebrakan besar diciptakan oleh Quadro, yang mampu menyelundupkan kejahatannya di sudut-sudut kota-kota Henolia.

.

Character(s)


cast01

cast02-now

Silakan diklik untuk ukuran sesungguhnya!

.

.

.

7th chapter of tale

happy watching!

.

.

.

the bloody memories,

Interfectorem and chico

.

.

.

existentia

.

Interfectorem berusia dua belas tahun ketika ia bertemu chico.

Kala itu, Interfectorem hanyalah anak laki-laki yang tinggal di wilayah Karaccos, kota penambang di sebelah utara Henolia di mana anak-anak saban kali bertandang di pertambangan untuk membantu, mengotori tangan-tangan mungil mereka dengan lumpur dan jelaga. Tubuhnya kecil dan kurus, dengan rambut hitam layaknya arang dan dagu yang agak kotak dan tumpul bak batu lonjong. Alih-alih, rahangnya tergolong agak lemah, sehingga Jung Byunghee tak bisa mengunyah makanan keras tanpa menyebabkan gusinya berdarah.

Sementara chico baru pindah ke wilayah Karaccos, mengekori ayahnya yang seorang ahli pertambangan. Dia kerap mengikuti ayahnya menyambangi tambang. Dagunya yang nyaris lancip terangkat tinggi-tinggi, rambutnya yang pirang dipotong klimis-pendek dan poninya tersibak ke kiri, menimbulkan kesalahpahaman bahwa anak itu adalah putra bangsawan. Pakaian yang dikenakannya pun selalu kemeja putih polos dan celana pendek bersuspender, agaknya enggan mengenakan gaun-gaun yang menunjukkan status sosialnya tatkala bertandang ke tambang.

Hari pertama ia datang, Jung Hana berdiri memandang para penambang di depan pintu masuk. Dia gelisah melihat anak-anak yang bolak-balik, seolah resah ingin mengajak bicara.

Sementara Jung Byunghee yang menjadi pekerja hanya menoleh sekilas kepadanya, berpikir “Oh, itu anak Pak Peneliti”, kemudian beralih pada pekerjaannya menambang di dekat pintu masuk sembari memikirkan makan malamnya. Walaupun si anak berambut pirang mengeluh dengan suara kencang bahwa anak-anak penambang bau dan kotor, bahwa ayahnya bisa-bisanya tahan di tempat begitu, dan bahwa dia ingin makan es dingin saking panasnya, Byunghee tahu dari pancaran matanya bahwa anak itu kesepian.

Tetapi Byunghee tidak memiliki rasa simpati seluas samudera sehingga mau menegur duluan. Dia bukan anak yang cuek, juga bukan anak yang terkenal akan kepeduliannya. Dia terbiasa bertingkah di balik bayang-bayang—datar dan tidak menarik perhatian, abu-abu dan kadangkala cokelat bagai tanah. Satu-satunya waktu ketika kehidupannya merekah dalam bermacam jenis warna cerah adalah saat ia bersama ibunya. Itu saja. Dia tidak berminat menjadi matahari bagi orang lain.

“Hei, kau.”

Oh, Byunghee terkesan. Si anak berambut pirang akhirnya memutuskan untuk menegurnya duluan, kendatipun bukan dengan cara paling sopan yang bisa Byunghee pikirkan.

“Di dalam ada apa?” Anak itu menunjuk pintu masuk terowongan.

“Ada tambang lagi, cuma lebih rumit.” Byunghee memerhatikan gerak mata anak itu. “Pak Peneliti pergi ke bagian paling dalam tambang. Tempatnya berbahaya. Banyak orang dewasa yang akan menggotongmu keluar kalau kau berani menyelundup—pekerja di sini punya mata yang tajam karena terbiasa mencari permata di gundukan tanah, jadi percuma kalau kau mau menyelinap masuk.”

Wajah anak itu merah padam. “Enak saja!” dengusnya, namun Byunghee tahu ucapannya tepat sasaran. Anak itu berputar dengan angkuh dan berlari masuk ke dalam, mengabaikan peringatan Byunghee.

“Semoga berhasil,” seru Byunghee, kemudian kembali menambang lagi, berandai-andai apakah ibunya akan memasakkannya ikan bakar. Dia suka ikan bakar. Apalagi kalau ada mentega leleh di atasnya….

“Lepaskan aku!”

Byunghee melihat jarinya yang sedari tadi bergerak menghitung tanpa berpikir. Tiga belas detik. Wah, tiga detik lebih lama dari perkiraan.

Seorang penambang yang kurus namun bertubuh kekar meletakkan tubuh mungil anak berambut pirang itu ke tanah, setelah sebelumnya membopong si anak di pundak. “Jangan masuk lagi seperti tadi!” Dia mengomeli, kemudian kembali ke dalam tambang.

“Apa kataku,” gumam Byunghee. Dia sudah berusaha berbisik sepelan mungkin, namun anak itu mendelik kepadanya dengan murka, tahu betul Byunghee mencelanya.

“Kau—”

Sebelum anak itu sukses menghardik, Byunghee sudah bergerak secepat angin, bertinggung memerhatikan lutut anak itu.

“Ah, sudah kuduga. Kau jatuh saat menyelinap, makanya ketahuan, ya?” Byunghee mengambil plester dan sebotol air dari saku celana pendeknya, dua dari beberapa alat yang selalu dibawa para penambang anak-anak untuk membersihkan dan melapisi jari-jari mereka supaya tidak terkelupas akibat keringat dan gesekan kayu. Byunghee mengguyur luka anak itu dengan air, menyebabkan kepalanya terkena pukulan keras.

“Perih!” pekik si anak berambut pirang.

“Berisik. Kau pasti tidak tahu bagaimana menangani luka macam ini, jadi diamlah,” balas Byunghee jengkel. Dia merekatkan plester di lutut anak itu dan, dengan tangkas, menyentilnya.

“Aduh! Apa yang kaulakukan?”

“Balasan karena kau memukul kepalaku.”

“Aku ini anak perempuan, tahu!”

“Aku tahu kau anak perempuan,” tukas Byunghee, menyebabkan anak itu bungkam. “Karena itulah aku tidak merekomendasikanmu masuk ke dalam. Bahaya. Sudah ah, aku harus kerja kalau mau makan ikan bakar.”

Byunghee kembali menambang lagi, sementara si anak bergeming di tempat. Apa yang terjadi selanjutnya membuat Byunghee menyesal sudah menjawab, lantaran setelah itu dia mendapat begitu banyak perhatian dari Pak Peneliti dan para pekerja tambang gara-gara eksistensi anak itu yang bolak-balik mencarinya.

“Siapa namamu? Berapa umurmu?” tanya si anak perempuan berambut pirang dengan suara yang lantang.

“Jung Byunghee. Dua belas,” jawab Byunghee cepat.

“Aku Jung Hana!” Intonasi si anak perempuan berubah menjadi lebih ceria. “Umurku sepuluh tahun. Lain kali kau harus mengantarku ke dalam lho, Byunghee!”

Duh, keras kepala.

“Mana jawabannya?”

“Lima tahun lagi, ya.”

“Itu terlalu lama!”

“Salah sendiri usiamu baru sepuluh tahun.”

Jung Hana melayangkan pukulan yang lebih keras ke punggung Byunghee, yang tak bisa ia antisipasi lantaran tengah menghitung harga satuan ikan di dalam kepalanya.

.

.

.

Kala itu, Interfectorem memang bukan yang pertama yang mengajak chico bicara.

Tetapi bagi chico, Interfectorem adalah tempat singgah pertamanya, untuk menceritakan segala hal, mulai dari sekadar bercelatuk ataupun menyatakan isi hati.

Dan tanpa sadar, Interfectorem sudah betul-betul memahami chico, walau sebetulnya ia tidak tertarik mendalami hal itu.

Sedangkan chico

///

“Aduh!”

Tatkala Yoseob mengerem kendaraan gelembungnya, Ilhoon terlempar dan jatuh terguling ke tumpukan debu dan pasir di muka gerbang baja raksasa.

“Ini dia, salah satu tambang paling terkemuka di Karaccos!” Yoseob mengumumkan, selayaknya seorang pemandu.

“Sudah tahu, kami bisa lihat.” Hyunseung berkomentar. Dia kemudian menyadari bahwa ada kesalahan di pemilihan kalimatnya, namun agaknya Hyunah tidak terusik sama sekali. Melihat bahwa gadis itu tidak bergeming, ia lantas melompat turun dari gelembung dan berdiri tepat di muka gerbang.

Pintu gerbang itu terbuat dari besi yang sudah berkarat, namun tebal sehingga sukar ditembus. Ada tonjolan-tonjolan yang memungkinkan gerbang ini dipanjat, tetapi bagian atas gerbang dilengkapi kabel listrik besar—tidak bisa begitu saja dilewati.

Serta-merta bayangan gelap berkelebat di benak Hyunseung—Gerbang Pertambangan Karaccos tatkala masih kukuh dan secara berkala dibuka setiap harinya… saat itu kabel listrik belum ada… bunyi roda dan sepatu kuda khas pedati lewat, tingginya suara anak-anak yang bermain dalam keriuhan, rendahnya suara para lelaki penambang, bunyi batu besar dan permata yang beradu, bau matahari musim kemarau dan tanah yang basah, betapa panasnya gerbang besi saat itu sampai-sampai membuat anak-anak yang berusaha memanjat menjerit kesakitan, suara Hyunseung sendiri, memanggil nama seseorang….

“Ingatanku ternyata masih agak abstrak. Gerbang yang kugunakan panjat-memanjat ternyata ini, dan ini bukan gerbang terbengkalai pada saat itu—ketika sudah besar sedikit aku tak takut lagi pada monster terowongan, malahan aku mengambil pekerjaan di tambang ini. Sekarang sudah diubah jadi stasiun, ya.”

Hyunseung memutar kepalanya, menemukan Byunghee menyentuhkan telapak tangannya ke gerbang besi yang dingin, laksana menyerap temperatur yang nyaris di bawah nol itu ke dalam dirinya.

“Maaf ya, Hyun.”

Alis Hyunseung terjungkit bak pedang. “Untuk?”

“Air mataku waktu itu.” Byunghee terkekeh. “Kau tahu, aku tak punya di mana pun tempat untuk pulang.”

“Oh.” Hyunseung tak tahu mesti mengatakan apa. Dia tidak terbiasa menghibur orang. “Ya… itu sudah berlalu. Kau tak perlu meminta maaf atas kejadian yang sudah lama. Kurasa kita berdua pun baru-baru ini mengingatnya. Sekarang kau sudah punya rumah, ‘kan? Kau sudah bisa pulang. Tidak perlu mencariku lagi.”

Byunghee tersenyum.

“… Hyun,”

“Apa?”

“Aku mau pecahan kaca.”

Poin simpati Hyunseung yang tadinya menjulang naik kini ambyar. “Bukan urusanku. Sana minta Doojoon.”

Byunghee meloyor ke dekat Doojoon, membuat pemuda itu terkejut akan permintaannya. Doojoon buru-buru mencari pecahan kaca di dekat situ—“Ngapain sih Senior ini?” Ilhoon bertanya, yang agaknya sebuah opsi yang salah lantaran Doojoon lekas-lekas menariknya untuk ikut mencari. Sementara Yoseob menumpahkan isi tasnya ke tanah seraya bersenandung, mencari kunci untuk membuka gerbang.

Hyunah mengambil satu langkah ragu sebelum akhirnya menghampiri Byunghee, yang sedang mengamati kedua temannya menolah-nolehkan kepala. “Memang begitu, ya?” tanya gadis itu lirih.

“Hmm?” Byunghee menelengkan kepalanya, namun Hyunah tahu pemuda itu paham apa maksudnya.

“Meskipun terkesan kasar dan cuek di awal, tetapi pada akhirnya dia akan memberikan solusi. Hyunseung, maksudku.” Hyunah berbisik, dan Byunghee mengangguk-angguk setuju dengan riang. “Dan lebih dari sekadar asupan tulang, ada alasan lainnya kenapa kau mengunyah pecahan kaca… apa ada hubungannya dengan kemampuanmu?”

Byunghee terperenyak. Tetapi pada detik selanjutnya, ukiran senyum tercetak pada wajahnya yang gelap karena membelakangi cahaya lampu jalan.

“Hyunah, kalau kau memerhatikan, penelitian yang diadakan ayahmu membuat kita semua punya kelebihan di satu bagian pada tubuh kita,” Byunghee berlisan dengan suara kecil, sehingga yang lain tak ada yang mendengarnya kecuali Hyunah, “hanya saja kita perlu mengamati untuk tahu apa-apa saja bagian tubuh yang dikembangkan pada setiap orang, lantaran ketiadaan data tertulis yang sanggup menjelaskan detail mengenai penelitian tersebut. Siapa saja yang sudah berhasil kauketahui?”

Yoseob mengambil kumpulan kunci yang disatukan pada sebuah lingkaran besi, mencoba satu persatu kunci yang ada di sana seraya bergumam-gumam, “He… yang ini sepertinya pas. Hah! Ternyata tidak! Oh, yang ini kunci kamarku, ternyata ada di sini—akhirnya aku bisa tidur lagi di kamar. Duhai kunci, tunjukkan dirimu! La! La! La!” membuat Hyunseung menukas, “Berisik!”

Hyunah memutar otaknya, mencoba mengingat-ingat dari hari pertama ia berada di kastel. “Anu… Dongwoo, tangan. Ilhoon… kemungkinan mata dan seluruh tubuh, ya? Sudah. Hanya itu saja. Atau aku melewatkan sesuatu…?”

“Tidak, itu sudah benar.” Byunghee menoleh sebentar, berterima kasih pada Ilhoon dan mata supernya yang hanya bisa menemukan pecahan-pecahan besi dari tumpukan bahan bangunan, lantas mengunyah pecahan-pecahan itu. Hyunah mengernyit, memperingatkan Byunghee bahwa mineral itu bisa saja menyimpan banyak sekali kuman, tetapi Byunghee tidak mengindahkannya. “Salah satu dari kemampuanku sulit dicerna, soalnya prosesnya tidak terlihat, bahkan oleh yang lainnya. Tetapi kuharap kau akan menemukan sesuatu dalam duel ini.”

Yoseob bersorak tatkala ia menemukan kunci yang tepat. Gerbang Stasiun Bawah Tanah Karaccos terbuka, menunjukkan sebuah gedung bercat putih yang masih baru namun belum rampung dengan tangga lebar menuju lantai bawah. Listrik sudah terpasang sehingga lampu-lampu menyala, tetapi tak ada penjaga. Hyunah dapat merasakan sesuatu menunggu di bawah sana—shirenshiren yang mengancam.

“Nah, kami bisa sendiri dari sini. Kau kembali saja,” Hyunseung mengibaskan tangannya kepada Yoseob, yang berdiri dengan mata berbinar. “Apa—kenapa tatapanmu itu?”

“Jadi, Tuan-Tuan dan Nona sekalian, bagaimana pelayanan saya?” tanya pemuda itu dengan intonasi tinggi. Dia bisa saja tiba-tiba menyanyi.

“Kau berjasa besar dalam menyingkat waktu perjalanan, Yoseob, terima kasih,” timpal Doojoon ramah.

“Lain kali sediakan snack di kendaraanmu,” Ilhoon menyarankan dengan baik hati.

“Dan pecahan kaca,” Byunghee bergumam.

“Dan sebaiknya kau berlatih untuk tidak bicara selama dua jam,” pungkas Hyunseung tak sabar. “Sekarang kau boleh pulang. Salam untuk Raja Seungho. Bilang padanya, aku tak peduli kalau sekarang dia tengah disibukkan oleh penyelundup dan penculik keponakannya. Dia tetap punya utang penjelasan kepada kami.”

“Akan saya sampaikan kepada beliau, Tuan!” Yoseob mengangguk gembira, lantas mengayunkan tangannya dengan heboh untuk membentuk sikap hormat. Dia kemudian beranjak dan langsung melompat ke atas kendaraan gelembungnya. “Hati-hati semuanya!”

Yoseob pun melesat ke udara, menghilang di dalam kegelapan cakrawala malam.

“Anak baik,” Doojoon menyeka air mata harunya.

“Jangan menyebalkan, Doojoon, kau bisa-bisa jadi sama seperti dia. Ayo.”

Hyunseung mengambil langkah pertama, memimpin semuanya turun ke bawah tanah melalui tangga stasiun. Dia sempat berhenti sebentar di dekat puncak tangga untuk melihat denah stasiun, kemudian bergegas melangkah lagi. Bunyi alas kaki mereka bergema di dinding koridor yang dibangun dari besi putih itu, yang spontan membuat semuanya melangkah dengan lebih pelan dan hati-hati.

“Ada petunjuk di mana lokasinya?” tanya Byunghee.

“Di surat undangan tidak dijelaskan,” Doojoon membalas.

“Bagaimana kalau ini hanya sekadar tipuan?” Ilhoon berbisik dengan nada penuh kewaspadaan.

“Tidak.” Suara Hyunseung begitu tegas, hingga mencuri semua perhatian. “Aku tahu betul mereka di sini. Seharusnya kalian sudah bisa merasakan dan mengikuti arahnya—ada shiren yang kuat lima ratus meter jauhnya dari kita. Jumlah, Doojoon?”

“Sekitar empat orang, Hyun.”

Wow, Hyunah berdecak kagum. Dia melirik Byunghee yang kontan membalas tatapannya. Pemuda itu mengangguk sembari mematahkan sekeping besi yang panjang dengan gigi seri. Doojoon punya kemampuan dalam shiren. Tidak seperti Hyunah yang mampu melihat bentuknya, barangkali Doojoon lebih tajam dalam merasakan dan membedakan tanpa perlu tahu seperti apa wujudnya.

Tak ada yang bicara lagi.

Hyunseung mencabut kartu undangan kecil yang diberikan Quadro dari sakunya, lalu membaca lagi, mencoba mengupas misteri apa yang tergurat pada tabir yang melapisi benda itu.

Kami mencari kunci untuk gembok masa lampau

Alih-alih menenun memoar tiada rampung,

Bayang-bayang ‘dia’lah yang kami pilih

Tanpa pengulas, hari-hari di masa silam hanyalah mimpi, realitas nan elusif

Bukankah menyedihkan bila kita dibiarkan terus terlelap?

Acap kali kami memburu jawaban dari pencipta perkara, namun segala-galanya hanyalah dusta belaka

Sudahkah kalian membuka mata?

Kami heran lantaran waktu pun sanggup dimanipulasi

Perkumpulan khalayak dagang dalam kegelapan malam, serangan lain akan dicetuskan, simbol terpuncak

Pernahkah bertanya, ada apa, bagaimana, dan mengapa?

Kami menyediakan pilihan: Menggali makam bersama kami atau jantung kalian direnggut oleh tangan kami?

Temukan underground sebelum simbol awal dan sebelumnya

Jangan lari, atau Harta Kerajaan kalian yang lain akan musnah

Ada yang salah di sini… tapi sulit mengatakannya….

Semakin mereka mendekat, shiren gelap semakin merajai udara, melonjakkan tensi secara drastis. Tak seorang pun berkomentar, namun Hyunah bisa merasakan keringat dingin melewati punggungnya, dan perubahan polah orang-orang di sekitarnya—shiren mereka, kecuali Hyunseung, tidak setenang tadi. Rusa biru Doojoon tampak waspada mengamati sekeliling. Binatang buas Ilhoon memancarkan lidah api yang membara dari sekujur tubuhnya, tampak bersemangat sekaligus mengerikan—ada nafsu membunuh menguar dari sana. Bunga matahari Byunghee terasa lebih panas dan tertutup, tidak seperti bunga yang melambai dengan tenang selayaknya yang dilihat Hyunah tadi pagi. Semuanya mendambakan pertarungan, sekaligus awas terhadap marabahaya.

Hyunah mampu membunuh, namun dia masih amatiran. Orang-orang yang berjalan bersamanya ini adalah para ahli—kasarnya, mereka lebih berpengalaman dalam duel dan pembunuhan. Apalagi Byunghee, yang disebut-sebut sebagai yang paling beringas. Hyunah sudah pernah melihat, bahkan merasakan, bagaimana bertarung dengan Ilhoon, dan itu parah—pemuda itu sama sekali tidak punya belas kasihan terhadap lawannya. Melihat Dongwoo yang pulang berlumuran darah dan tertawa riang di hari pertama Hyunah berada di kelompok ini membuat Hyunah berasumsi bahwa gaya bertarung Dongwoo santai namun mengancam. Kalau Ilhoon mengincar dengan gigih lawannya sampai bisa dipastikan bahwa lawannya sudah mati, Dongwoo lebih ke tipe yang takkan menoleh lagi setelah dia merobek dada lawannya. Dua-duanya menyeramkan dan membuat ngilu, kendatipun Hyunah bukan orang yang berhak berkomentar begitu lantaran dia membunuh orang dengan kedua tangannya.

“Membunuh atau dibunuh, Bu.”

Suara seorang anak perempuan menggema di dalam kepalanya, mengingatkan Hyunah tentang cara hidup yang telah dipilihnya, yang telah ia ucapkan dan disaksikan langsung oleh Ibunya manakala usianya sembilan tahun.

Sejak kecil, dia sudah hidup seperti itu. Saban kali manusia yang datang ke rumahnya bukan orang baik-baik, dan Ibunya yang duduk di kursi roda tak bisa melawan lelaki yang jumlahnya kepalang banyak. Hyunah merasakan tangan Ibunya memeluknya, gemetaran dan ketakutan, usai putri semata wayangnya membantai para lelaki itu. Hyunah tahu, walau Ibunya takut, namun wanita itu tak pernah secara gamblang menunjukkannya. Hyunah tahu, Ibunya gemetaran bukan karena para lelaki itu, tetapi karena melihat anaknya membunuh orang. Hyunah tahu, dia semestinya tak lagi melakukannya, namun dia tak bisa.

Di dalam hatinya yang paling dalam, Hyunah sangat ingin hidup normal. Tetapi keadaan memaksanya untuk terus mempergunakan tenaga abnormal pada tangan dan jari-jemarinya untuk mempertahankan nyawa.

“Selamat datang.”

Suara itu menyambar bagai guruh, membuat jantung semuanya nyaris mencelat. Lampu koridor mati dalam satu detik yang mengejutkan, kemudian lekas-lekas menyala lagi. Seseorang yang bertopeng berdiri limapuluh meter di depan mereka semua, tepat di sebuah persimpangan di pengujung koridor. Dari bentuk tubuh, jelas ia laki-laki—rambutnya kelabu dan kulitnya agak gelap, topeng bergambar tengkorak seperti di kartu kiriman Quadro menutupi seluruh wajahnya.

“Tolong, tidak dengan kekerasan,” kata pria tersebut dengan suara bak robot, tatkala Ilhoon nyaris melompat untuk menghajarnya. “Kelihatannya kalian semua sudah mengerti apa arti dari interfectorem & chico, maka langsung saja kuberitahu: chico menunggu interfectorem di Ruang Transportasi Kereta Tambang. Pijakkan kaki kalian dalam lima menit dari sekarang.”

Pria itu seketika lenyap, membuat Ilhoon menggerung mengapa tadi dia tidak mengabaikan saja peringatan tanpa kekerasan itu dan melayangkan sebuah tonjokan.

“Ada yang tahu Ruang Transportasi Kereta Tambang?” tanya Doojoon.

“Ruang di mana kereta mungil yang diisi hasil tambang diperiksa sebelum dibawa keluar,” Byunghee bergumam. Pecahan besi yang tadi dikonsumsinya kandas sudah. “Tetapi memikirkan bahwa tempat penambangan ini sudah beralih fungsi, kukira ruangan itu sudah jadi ruangan lain. Kalaupun kita berhasil tahu apakah ruangan itu, kita juga harus segera tahu bagaimana cara ke sana dalam waktu kurang dari lima menit….”

“Dari sini, belok kanan.”

Semuanya sontak berbalik, menemukan Hyunseung memandang lurus ke depan dan tanpa ragu mengegah menuju persimpangan koridor.

“Anu, Senior Hyun, apa yang kau—”

“Seingatku, ruangan itu ruangan berbentuk kubus dan paling besar di Tambang Karaccos,” sergah Hyunseung tajam, menukas Ilhoon. “Kita dan mereka butuh banyak ruang untuk pertarungan dengan pemain seganas Senior Byunghee. Dari yang terlihat di denah stasiun, ada ruang bawah tanah yang rencananya hendak digunakan untuk pusat belanja dan ukurannya memang paling besar dibanding yang lain. Letaknya di bawah lantai ini, lurus, belok kiri, kanan, kiri lagi, lalu pintu kedua di sisi kiri. Kalau kalian semua tak mau mati konyol, lari sekarang.”

Mereka semua kontan berlari mengikuti Hyunseung. Hyunah terangah. Hyunseung hanya melihat denah stasiun ini kira-kira lima detik lamanya—dan dia bisa menghafalnya dengan begitu akurat. Hyunah yakin Hyunseung juga tahu lokasi setiap tempat di stasiun ini, tanpa terkecuali.

“Daya memori yang hebat.” Ilhoon berujar lirih, namun suaranya yang nyaris mencapai frekuensi setingkat kepiawaian para kelelawar itu masih mampu didengar Hyunah di tengah-tengah rongrongan deru angin di telinga mereka. “Kini aku heran mengapa orang ini bisa kehilangan ingatannya….”

Lebih tepatnya, apa yang dia ketahui jika ingatannya tidak hilang, Hyunah menambahkan dengan nada seolah sedang bertafakur. Barangkali itulah hal yang paling berbahaya di antara begitu banyak unsur yang ada padanya.

Hyunah bertanya-tanya bagaimana ingatan mereka semua bisa hilang dan mengapa. Bahkan dirinya, yang jelas-jelas tak pernah menemui orang-orang ini sedari lahir, juga.

Tak terasa, kaki mereka membawa mereka ke depan sebuah pintu besar dari baja, pintu di lokasi yang tepat seperti yang dipaparkan Hyunseung. Ada shiren raksasa menyelusup keluar dari celah-celah pintu, menggerogoti udara dalam intensitas yang menggentarkan dan menghunjam mental, menyebabkan adrenalin menggelegak. Hyunah tak pernah merasakan shiren seperti ini—warnanya luar biasa kelam, terasa lebih jahat daripada shirenshiren orang-orang yang pernah datang ke rumahnya.

Bukan hanya Hyunah saja yang merasakan dampaknya—Ilhoon mengambil napas dalam-dalam, keringat dingin mengalir di keningnya. Doojoon mengeratkan kepalan tangan sembari menundukkan kepalanya. Mata Byunghee serta-merta menyala dengan liar namun hampa, laksana benda yang mengempis dan bermanuver tak keruan di luar angkasa. Kakinya dientak-entakkannya dengan keras. Hyunah sampai kaget tatkala mendengar bunyi debuman kaki seseorang dan suara krak! ketika lantai di bawah kaki kiri Byunghee retak.

Hyunseung mengeluarkan untaian rantai kecil-kecil namun panjang dari saku celananya, kemudian dengan gerakan gesit melingkari leher dan pergelangan tangan Byunghee dengan untaian besi tersebut bak binatang liar. Dari gerakan Byunghee yang kian menggila, dengan kekehan tak jelas yang digumamkannya, dan kakinya yang semakin mengentak tak sabar, tidak ada yang tertarik untuk protes mengenai perlakuan Hyunseung pada Byunghee.

Shiren bunga matahari di penglihatan Hyunah bergelemetar dan berubah menjadi bunga aneh yang tampak seperti makhluk hidup—bunga itu memiliki lidah yang terjulur, kelopak yang seolah membentuk mulutnya terbuka, seakan-akan ia tengah terbahak-bahak girang.

“Siap, Senior?” bisik Hyunseung.

Byunghee menimpalinya dengan semburan tawa. Sekonyong-konyong, tanpa memberi yang lainnya waktu untuk bernapas, ia mendobrak pintu hanya dengan sebelah kakinya saja.

Ruang Transportasi Kereta Tambang sudah diubah menjadi ruangan kubus raksasa berdinding baja putih. Langit-langitnya masih ada yang belum tertutup, memperlihatkan kabel-kabel listrik hitam tebal yang membelesak dan terjulur-julur dari berbagai bentuk lubang. Beberapa sisi di dinding telah dibentuk menjadi toko-toko, kendatipun belum tuntas dan pintu beserta jendelanya ditutupi terpal. Di hadapan mereka, jam raksasa menempel di dinding, jarum pendek menunggu pada angka sembilan, sementara jarum panjangnya singgah di angka dua.

“Terima kasih sudah datang memenuhi undangan.”

Hyunah, Hyunseung, Byunghee, Doojoon, dan Ilhoon kontan mengambil satu langkah mundur. Empat sosok bertopeng tengkorak Quadro berjalan keluar dari koridor di sisi seberang mereka, salah satunya adalah pria berambut kelabu yang tadi menyambut mereka. Sosok yang di tengah berambut pirang berantakan, penampilannya formal dengan jas hitam bermotif cek merah dan celana putih. Pemuda yang agak lebih pendek sedikit di kiri berambut cokelat tua, terlihat santai dengan konsol permainan di tangannya. Yang terakhir di belakang ketiganya, tentu saja, wanita dengan rambut panjang dicat kecokelatan dan dikucir kuda—Sang chico.

Dalam pandangan Hyunah, orang-orang tersebut punya shiren yang menguarkan hawa nan menggentarkan. Pria berpakaian formal terlihat sebagai makhluk putih yang berbentuk panjang dan meliuk-liuk, matanya tajam dan tamak—seekor ular putih. Yang memegang konsol mainan tampak seperti burung yang tidak mempunyai leher, matanya bulat, mengintimidasi dan membara dengan inteligensi—seekor burung hantu. Pemuda berambut kelabu juga memiliki sosok burung, hanya saja burung ini besar dan menyemburkan sesuatu yang panas dan menyala-nyala—phoenix api. Dan satu-satunya wanita di antara mereka berwujud seperti binatang gagah dengan empat kaki yang kencang dan kuat, juga buntut selayaknya cambuk—seekor kuda.

Serempak, anggota Quadro membuka topeng mereka masing-masing. Satu detik membeku dalam keganjilan yang menyesakkan tatkala mata kedua pihak bersua.

“… hei, itu bukannya—”

“—Hakyeon,” Doojoon menuntaskan keterkejutan Ilhoon.

Mereka bertiga memandang pemuda berambut kelabu, Cha Hakyeon, dengan tatapan pilu berpadu golakan amarah. Shiren Hakyeon terasa begitu asing sekarang, sehingga manakala ia menyambut anggota Kelompok Rahasia tadi, tak ada yang menyadari bahwa dialah kawan lama mereka.

Hyunseung terpaku. Dia sudah menduga mereka pasti bergabung dengan Quadro. Tetapi…

Hanya satu… ke mana dua yang lain?

“Siapa laki-laki yang satunya lagi?” Ilhoon berbisik di dekat Doojoon. Dia memerhatikan laki-laki yang memegang konsol mainan itu dan sekejap langsung tak suka kepadanya.

“… aku kurang yakin, tetapi aku pernah melihatnya di daftar buronan Kepolisian,” ujar Doojoon gamang. “Namanya Yoo Youngjae… sepupu dan partner Jung Hana. Ahli alat peledak dan senjata, kalau tidak salah.”

“Oh,… berarti dia yang menciptakan bom-bom mini sialan yang meledak di mana-mana itu,” gumam Hyunseung dongkol.

Sentakan kedua melanda Hyunseung, Doojoon, Ilhoon, dan Hyunah ketika Cha Hakyeon tiba-tiba menunduk sopan sembilan puluh derajat ke arah mereka. Bukannya membangun suasana damai, tindakan itu malahan membuat Hyunseung dan Ilhoon semakin marah.

“Apa-apaan—kau menghina kami!?” Ilhoon menghardik.

Cha Hakyeon tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya dan mundur ke belakang.

“Pengecut! Berengsek—” Ilhoon nyaris berlari kalau saja Doojoon tidak lekas-lekas menahan tangannya.

“… kapan, Hyun?” Suara berat Byunghee yang tahu-tahu saja menjadi serak menyapa indra pendengaran mereka. Pemuda itu terus mengentak-entakkan kakinya, merusakkan lantai dengan sangat parah. Matanya yang mendelik dengan liar berkilat-kilat tak sabar.

“Selamat malam.” Kim Himchan, si pemuda berpakaian formal, maju tiga langkah ke depan. “Terima kasih atas pemenuhan undangan dari kami. Syukurlah kalian bisa menebak definisi Interfectorem & chico tepat pada waktunya.” Dia tersenyum.

Kebencian dan kegusaran menjalar bak lidah api. Detik di mana suara dingin itu didengarnya, Hyunah langsung merasa takut pada orang itu.

“Berhenti bermanis-manis, Ki—” Lidah Hyunseung secara spontan kelu ketika mau menyebut nama Kim Himchan. Ia memutuskan untuk tidak mengucapkannya.

“Wah, wah,” Kim Himchan bertepuk tangan, tampaknya senang. “Adakah masalah dengan berbasa-basi? Atau segitu besarnya kebencianmu pada kami? Atau….” Matanya bergulir memandang ke bawah, dan Hyunseung tahu itu pertanda bahwa Himchan sedang meremehkan seseorang, dengan sengaja. “… Interfectorem-mu yang hasil gagal itu tak bisa menunggu terlalu lama ketika sudah dalam mode binatangnya?”

Hyunah tergemap. Hasil gagal… mode binatang…?

“Jaga mulut,” Hyunseung bergegas menghalangi dengan sebelah tangannya sebelum Ilhoon menerjang. Byunghee di sampingnya mendengus-dengus, agaknya terusik. “Kami ke sini bukan untuk mendengarkan omong kosongmu. Kalau kau mau berduel, tuntaskan dengan cara duel.”

“Lho, tapi aku tidak salah ‘kan kalau menyebutnya binatang? Kalian sendiri memperlakukannya seperti itu—merantainya dan sebagainya. Emosinya sangat berantakan dalam duel, seperti binatang.”

“Senior Byunghee dan kami tahu betul siapa dia.” Hyunseung berusaha mengatur nada dan volume suaranya. Hyunah sendiri kaget lantaran biasanya Hyunseung tidak membatasi lidahnya berbicara maupun meletakkan saringan di mulutnya. “Akan kami tunjukkan manusia yang kausebut binatang ini punya lebih dari sekadar tenaga untuk menghancurkan bocah laki-laki kalian.”

Himchan tak segan mengumbar seringaian. “Menarik!” Dia terkekeh. “Ayo, kita mulai.”

Kim Himchan, Cha Hakyeon, dan Yoo Youngjae betul-betul mundur ke belakang kali ini, membiarkan Jung Hana sendirian; Hyunseung melepas genggamannya pada rantai, yang seketika itu juga langsung hancur berkeping-keping akibat rontaan Byunghee.

BLAM!

Kaca tebal tahu-tahu muncul dan membatasi arena pertarungan dengan wilayah yang dipijaki Hyunseung dan yang lainnya beserta Quadro. Ilhoon menonjoki kaca itu, namun tidak berhasil tertembus walau dia sudah meyakinkan yang lainnya bahwa kepalan tangannya kini sekeras batu karang yang menopang kastel mereka. Entah kapan kaca tersebut dipasang—yang jelas, Quadro terbukti sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.

Tidak ada interupsi.

Benar-benar hanya Interfectorem dan chico.

Byunghee sontak berlari seperti cheetah dan berhenti sepuluh meter dari Hana, kemudian mencangkung di lantai. Dia menggigiti kukunya dan memandang Hana dengan tatapan hampa.

“Apa-apaan—berhenti memandangku!” bentak Hana galak.

“Hanya memperkirakan,” gumam Byunghee dengan nada melamun. “Apakah Nona chico yang manja ini masih ceroboh dan seenaknya seperti dulu.”

“Kau—” Emosi Hana lekas memuncak. Dia menyelipkan jari-jemarinya di celah-celah lantai baja dan mengangkat salah satu bagian lantai yang berbentuk kotak bermassa satu ton hanya dengan satu tangannya. “Apa kegilaanmu itu cuma pura-pura untuk mengelabuiku!?”

Hana melempar petak lantai itu, dan Byunghee menerjang baja tersebut, meninjunya dengan kepalan tangan kanannya hingga hancur menjadi potongan-potongan besar. Dia mendarat dengan satu kaki. Sejurus saja, Byunghee sudah berubah lagi. Tubuhnya berguncang hebat, dia terbahak-bahak dan berlari dengan kedua tangan dan kakinya ke arah Hana, menyentak kaki kanannya, dan serta-merta muncul di belakang gadis itu, menendang Hana menghantam dinding dalam waktu tiga detik saja.

“Berengsek!” Hana lekas-lekas berdiri dan menyeka dari sudut bibir dan hidungnya, kontan menyilangkan kedua tangannya di depan dada tatkala Byunghee lagi-lagi menendangnya. Tendangan Byunghee berbeda dengan tendangan yang diterima Hana ketika sedang berlatih dengan Jonghyo—luar biasa keras, muskil ditahan ataupun dilawan. Seolah-olah kakinya terbuat dari besi, namun tidak memiliki massa layaknya sehelai bulu, sehingga mampu diayunkan secepat angin.

Hana mengerjap, menyadari sesuatu—Begitu… jadi kaki kirinya juga kekuatannya.

“Hana, meskipun kau kalah dalam kecepatan, tetapi kaupunya kekuatan di sekujur tubuhmu, ‘kan?”

Benar, Hannah mengambil napas, mengembalikan konsentrasinya.

Byunghee berlarian di dinding dan lantai dengan kecepatan yang luar biasa, menghancurkan petak-petak baja lainnya. Matanya kosong dan hampa, mulutnya membuka dan ujung bibirnya meruncing membentuk seringai mengerikan. Semua yang menonton terpana hingga tak bisa berkata-kata. Dia seperti iblis. Iblis yang kelihatannya lepas kendali, penuh nafsu membunuh. Shiren bunga aneh di dalam pandangan Hyunah melecutkan tangkainya ke sepenjuru arah, tertawa-tawa menikmati teror, mengancam dan mematikan.

Hana mencoba mengikuti gerakannya, fokus kepada pergerakan kaki tangkas Byunghee….

Kiri. Hana menghantamkan tangan kirinya ke udara, yang spontan langsung mementalkan Byunghee bagai peluru ke dinding. Mata Byunghee menggeridip awas bercampur heran ketika dia menggerung-gerung sembari mengusap kepalanya.

“Ternyata kau memang binatang,” ujar Hana tajam. Matanya menyorot dingin Jung Byunghee. “Akan kutunjukkan bagaimana tenaga penghancur sebenarnya, Hasil Gagal.”

Hana melepaskan lantai baja lagi, kemudian memecah petak lantai itu menjadi dua. Dia melempar satu ke arah Byunghee yang langsung menghindar dan menggunakan yang satunya sebagai tameng. Agaknya berang lantaran dicemooh, Byunghee berteriak seraya mengitari ruangan, berlari menerjang Hana.

Kali ini, Hana siap. Saat Byunghee berada di hadapannya, dia mengangkat tangannya, meletakkan tangan di atas kepala Byunghee, lantas membanting kepala Byunghee ke lantai. Lantai baja remuk di bawah mereka.

Tiga detik terlewat tanpa seorang pun bergerak.

Kemudian, Byunghee mengayunkan kakinya tanpa mengangkat kepala, membuat Hana spontan melompat dan melepaskan tangannya dari kepala Byunghee. Momen itu dimanfaatkan Byunghee untuk mengangkat kepalanya, menunjukkan hidungnya yang barangkali sudah patah dan sekujur wajahnya yang berlumuran darah. Byunghee terdiam dengan tatapan melamun, menggosok-gosok bagian bawah hidungnya yang mengalirkan darah dengan pergelangan tangan, kemudian memandangi darah di pergelangan tangannya—seolah-olah tidak percaya dirinya bisa mengeluarkan darah. Dia menelengkan kepalanya dan mengerling Hana dengan pandangan memburam yang membentuk denyar samar.

Sedetik kemudian, Byunghee menyeringai lebar.

Dia menyentakkan kakinya lagi, langsung menghadap Hana yang masih terkejut akibat melihat seringaiannya.

“Halo, Hana,” gumam Byunghee.

Byunghee merapatkan jari-jemarinya, menusuk perut Hana.

Namun, Hana sudah meletakkan tangannya di sana, menahan serangan Byunghee.

“Tidak secepat itu,” pungkas gadis itu. Dia memelintir pergelangan tangan kanan Byunghee dan membantingnya lagi ke lantai. Alih-alih, Byunghee mencengkeram lantai tatkala tubuhnya terhantam dan dengan cepat menarik tangannya dari Hana. Namun, ada suara krak! memilukan ketika dia melakukan itu.

Akibat genggaman erat Hana dengan tenaganya yang sepuluh kali lipat dibanding manusia biasa, pergelangan tangan itu patah.

Tetapi Byunghee tak peduli.

Dia menyambar wajah Hana dengan tangan kirinya, kemudian membawa gadis itu berlarian mengitari ruangan.

“Pintar,” Hyunseung mengangguk setuju. “Kalau hanya diam, tenaga Jung Hana sulit ditangani.”

Mata elangnya melirik Kim Himchan di seberang, yang memandangi peristiwa itu dengan mata membulat, namun bibirnya terkatup rapat.

Lihat bagaimana dia beraksi. Dia bukan yang dulu lagi.

“OI—” Hana memekik. Berengsek, kecepatannya membuatku sulit bergerak.

Bekas cengkeraman Byunghee di wajahnya terasa sangat sakit dan membuat kepalanya pening—tenaga Byunghee pun bukan tenaga manusia biasa. Tangan Hana menggerapai udara, mencoba menjangkau dinding. Dia berhasil dalam percobaan kesepuluh, dan kukunya menggesek dinding, perlahan-lahan ikut mengeret lapisan baja bersamanya—hasilnya, permukaan dinding menjadi terlipat-lipat.

“Lepaskan aku, Hasil Gagal!”

Hana memijakkan salah satu kakinya dengan marah, lalu menumpukan seluruh berat badannya pada kaki itu, membuat hambatan yang menyebabkan Byunghee tersandung dan keduanya terlempar. Tangan kanan Byunghee yang patah terkulai lemas di samping tubuhnya manakala ia berdiri, sementara Hana yang terdampar ke dekat salah satu sisi dinding di mana anak-anak Kelompok Rahasia memperhatikan pertarungan mereka perlu menyeret tubuhnya sebelum benar-benar bisa bangkit. Kaki kanannya yang ia gunakan sebagai penumpu terluka parah, jadi ia berjalan tersaruk-saruk.

“Hasil Gagal!” Hana memekik. Byunghee mengerjap-ngerjap mengamati gerakannya. “Aku kecewa padamu—aku tahu caramu bertarung bukan seperti ini! Bukankah kau lebih kejam dari ini? Bukankah kau sudah pernah membunuh ayahmu sendiri?”

Byunghee merasa ada yang meniupkan angin dingin ke rongga hatinya.

“Darah Tartaron yang kaucaci busuk itu mengalir dalam dirimu… sama sepertiku.”

“Tidak… aku tidak….”

“Kau putraku, Jung Byunghee.”

“TIDAK!”

Bunyi pisau menancap.

Tarikan napas gemap, tersendat dan bergetar.

Suara tawa penuh kebencian dan kepuasan meledak.

Semuanya, runtut bagai untaian rantai, berkumandang dalam gelap. Bergema dalam kepala Byunghee.

“HAHAHA! KAU MELAKUKANNYA! HAHAHA!”

“KAU MELAKUKANNYA, BYUNGHEE!”

“KAU MEMBUNUHKU! KAU MEMBUNUHKU! HAHAHAHA!”

“KAU PEMBUNUH, JUNG BYUNGHEE!!”

“Tidak—tidak… tidak….”

“Byunghee, apa yang kaulakukan?”

Jung Hana yang berdiri di muka pintu saat itu, dengan pakaiannya yang selalu saja bergaya seperti anak laki-laki, memandangnya dengan tatapan horor yang jelas-jelas sangat asing—seakan-akan dia melihat sesosok monster mengerikan sedang memakan tubuh seseorang.

“Pembunuh!”

Gadis Kecil itu langsung berlari pulang.

Dan tak pernah kembali.

Tidak pula menolehkan wajahnya untuk memastikan sekali lagi bahwa temannya bukanlah monster—bahwa temannya sesungguhnya tengah merana, tak tahu harus berlaku apa, dan tengah digerogoti kengerian yang begitu besar sehingga ia tak berdaya. Pisau di genggamannya tercerabut dari perut ayahnya, berkelontangan dalam sunyi yang menyiksa.

“Hana….”

Air mata mengalir dari mata Byunghee.

Dan, sedetik setelah itu, sesuatu menyeruak keluar dari punggungnya. Sesuatu yang besar dan memancarkan cahaya merah berbahaya, selayaknya raksasa penuh kekuatan, sedang menyeringai penuh kemenangan. Shiren yang liar dan bebas seperti monster gunung. Mata Byunghee berkilat-kilat semerah darah. Dia tertawa, tertawa begitu lebar, seolah-olah seluruh dunia hanyalah sebuah lelucon pintar dan dirinya sendirilah yang mengetahui rahasia kecil di balik itu semua.

Semua orang hanya pengecut tak berdaya!

Idiot—naif—sampah!

Akan kubunuh semua orang!

Tubuhnya gemetar hebat, dan dia terlihat jauh lebih gila dibanding yang tadi. Dalam sepersekian detik, Byunghee sudah melesat menyerang Hana, mematahkan kaki gadis itu dalam sekali tendang, melemparnya ke arah kaca yang membatasi anak-anak Kelompok Rahasia hingga pecah berkeping-keping. Hyunseung, Doojoon, Ilhoon, dan Hyunah buru-buru mundur. Byunghee melompat ke sana dan menyergap kerah baju Ilhoon, membanting pemuda itu ke dinding. Dia tak terkendali—Doojoon buru-buru menolong Ilhoon, sementara Hyunseung merentangkan tangannya, melindungi Hyunah di balik punggungnya. Dia menarik rantai dari sakunya dan menggoyangkan rantai itu.

“Bukan kami lawanmu!” teriak Hyunseung. “Kau membiarkan dirimu dilahap lagi, Senior—jangan biarkan dirimu! Kau sudah berlatih untuk ini!”

Byunghee mendelik kepadanya, kemudian melangkah mendekati Hyunseung. Matanya yang merah menjegil mengerikan. Dia baru saja hendak menerkam tatkala sesuatu menahannya—entah apa yang terjadi, yang jelas dia terdiam, kemudian menjauh dari Hyunseung, seolah memutuskan untuk mengabaikannya.

Byunghee beralih pada Hana, yang tercepuk-cepuk kembali ke arena. Byunghee menerjang, menendang Hana lagi, membiarkan gadis itu menabrak dinding dan tumbang di lantai.

“Gadis Sial, apa tadi kaubilang?” tanya Byunghee dengan suara serak. “Kau membenciku? Heh, seberapa besar kebencianmu?”

Byunghee meraih tangan Hana. Tenaga gadis itu mulai berkurang akibat rasa sakit dan kelelahan.

“Tak terhitung,” ujar Hana sinis. Sebelah matanya lebam, jadi dia hanya bisa membuka satu mata saja, memperlihatkan bayangan seringaian Byunghee yang kejam.

“Kau berani padaku?”

“Kau cuma Hasil Gagal,” jawab Hana. Ia terdengar agak gusar. “Hasil Gagal yang bahkan tak bisa mengendalikan dirinya sendiri—”

Suaranya berubah menjadi jeritan memilukan ketika Byunghee mematahkan pergelangan tangannya.

“Sekarang, apa kau makin benci padaku karena kondisi kita sama?” tanya Byunghee.

“Aku benci padamu.” Hana mendesah berat. Wajahnya memerah akibat amarah dan rasa nyeri tak terperi yang menyengat sekujur tubuhnya. “Itu saja.”

“Dari satu sampai sepuluh, seberapa besar kebencianmu?”

“Apa—”

Byunghee menyentuh jari-jemari Hana, seolah-olah tengah mengabsen jari-jemarinya. “Satu? Dua? Tiga? Tujuh? Sepuluh? Akan kuremukkan kebencianmu. Sampai menjadi abu.”

Bencilah aku lebih banyak lagi.

Benci.

Benci.

Benci.

“Kau….” Hana menggeram.

Byunghee menekan kelingking kanan Hana, mendorongnya bertolak belakang dengan arah jari itu bisa dibengkokan.

“Senior, cukup!” Hyunseung dan Doojoon berteriak dari tempat mereka berdiri. Hyunseung baru saja hendak masuk ke arena, namun lingkaran listrik membatasinya. Dia mengangkat kepalanya, menemukan Yoo Youngjae mengamatinya dengan kedua tangan di konsol, seolah sedang mengontrol aliran listrik itu dan mengatakan “Jangan ganggu” lewat matanya.

Dasar orang-orang sinting!

Jeritan Hana melengking tinggi. Keringat dari dahinya bercampur dengan cucuran air matanya. Byunghee tertawa. Baru saja dia meraih jari Hana yang lain, mendadak gerakannya terhenti. Matanya membulat penuh keterkejutan.

Byunghee serta-merta mencengkeram kepalanya, kemudian berteriak-teriak kesakitan.

Hana memandanginya dengan tatapan bingung sekaligus ngeri.

“Hentikan…,” gumam suara lembut Byunghee. Dia menghajar dirinya sendiri sampai akhirnya tubuhnya terkapar di lantai. Deru napasnya memburu.

Hana terdiam memperhatikan keanehan yang terjadi pada Jung Byunghee. Melihat Byunghee yang tak berdaya sejurus melemparkan dirinya lagi kepada sepuluh tahun yang begitu lama, sepuluh tahun penantian yang menenggelamkannya dalam dusta dan asa yang berkepanjangan.

Mendadak, Byunghee bangkit lagi, mengejutkan Hana dan semuanya yang ada di sana. Pria itu melangkah gontai ke arah Hana, menyorot gadis itu dengan tatapan hampa nan dingin, membuat jantung Hana kembali nyaris mencelat ke tenggorokannya.

Byunghee berlutut.

Kemudian, ia julurkan tangannya ke wajah Hana.

Dan, tanpa aba-aba, ia tarik Hana ke dalam pelukannya, dengan tangan kirinya yang masih mampu bergerak.

“Hana,”

Hati Hana mencelus.

Kelembutan yang hangat itu, sebutir perhatian di balik topeng ketidakpedulian itu, perhatian tak terduga itu. Memancar kuat dari suara dan tindak-tanduk Jung Byunghee, seperti sepuluh tahun lalu.

“Tidak apa-apa kalau kau ingin membenciku. Bencilah sepuasmu.”

“… lepaskan aku—”

“Hana, maaf.”

Hana merasa pundaknya menjadi hangat. Suara isakan yang halus menyapa telinganya.

Byunghee menangis.

“Tidak apa-apa kalau kau takut padaku. Aku memang mengerikan. Kau tidak salah, Hana, kau tidak salah.”

Byunghee selalu bicara lugas, bahkan dalam kesedihan dan tangisnya.

Ini memang Byunghee.

Tanpa terasa, Hana ikut menangis.

“Kau meninggalkanku.” Hana tersedu-sedu, susah-payah menyeka air matanya. Seluruh badannya sakit, tetapi Byunghee memeluknya dengan lembut. “Karena—karena aku pun meninggalkanmu… aku—kupikir—aku tak bisa lagi minta maaf… aku benci itu, kau tahu… aku benci perasaan macam itu… bersalah dan sebagainya….”

“Iya.”

Interfectorem sudah betul-betul memahami chico, walau sebetulnya ia tidak tertarik mendalami hal itu.

Sedangkan chico….

“Aku benci kau, Jung Byunghee.”

“Ya, aku tahu.”

… sedangkan chico tak pernah kelihatan benar-benar memahami, tetapi Interfectorem tahu betul pada kenyataannya, yang terjadi adalah kebalikannya.

Pada akhirnya, chico masih mengejarnya hingga sekarang. Walau tak mau, tetapi chico memaksakan dirinya. Mengejar, seperti ketika pertama kali ia menyapa di pintu tambang, sepuluh tahun lalu. Chico selalu mengambil langkah, sementara Interfectorem hanya menunggunya, diam di tempat.

“Tak kusangka kau mau mengatakan hal memalukan seperti itu.”

“Ini gara-gara kau!”

“Aduh. Maaf.”

“… Byunghee, ini sudah lebih dari lima tahun.”

“Tambang sudah ditutup, Hana. Tak ada lagi bagian tambang yang dulu dimasuki ayahmu. Kita tak bisa lagi ke sana.”

‘kita’.

Jung Hana tertawa, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun.

Tahu-tahu, jantung Hana berdenyut luar biasa memilukan, seolah-olah ada yang menjeratnya. Dia mendorong Byunghee, mencengkeram dada kirinya, lantas menjerit. Sesuatu yang seperti luka bakar merambati sekujur kulitnya.

“Hana!” teriak Byunghee. Hana mengibaskan tangannya, menyuruh Byunghee menjauh.

“Byung—hee….” Hana mengerang dan berbicara tersendat-sendat. Air mata mengalir di kedua pipinya yang merah akibat terbakar. “Cari—cara… lepas—dari… keku—atan….”

“… Hana…?”

“Mere—ka… bo… hong—Byung… mereka—sembu—nyikan… itu… dari—kita….”

“Hana…!”

“Byung—hee… mere… ka….”

“HANA!”

Dor!

Ekspresi terakhir gadis itu adalah ekspresi tercengang yang sulit terkatakan.

Kemudian, tubuhnya tumbang. Kepalanya tertembus peluru.

Byunghee terngaga tak percaya, matanya beralih kepada sosok Yoo Youngjae, yang berdiri dengan tatapan dingin sembari menodongkan machine gun.

“Waktunya hampir habis….” Pemuda itu berbisik. “… lebih cepat dari perkiraan….”

Gedung itu mendadak bergemuruh, samar-samar terdengar ledakan dari atas. Ruangan tempat mereka berada berguncang-guncang seperti mau rubuh, kabel-kabel listrik berjatuhan dan memercikan listrik yang berbahaya. Quadro berbalik dan langsung berjalan pergi, sementara Byunghee duduk bergeming menatap tubuh Hana yang sudah tak bernyawa.

“Hana….”

“Aku Jung Hana! Lain kali kau harus mengantarku ke dalam lho, Byunghee!”

“… Hana….”

“Senior!” Hyunseung berlari menerobos kabel-kabel yang saling menimpa, dengan cekatan mengangkat tubuh Jung Hana ke punggungnya, lalu menarik Byunghee yang lunglai tak berdaya. “Ck, ayo, Senior! Oi, Ilhoon! Bantu sini!”

Ilhoon berlari menyusul mereka, sementara Doojoon melarikan Hyunah. Ilhoon lekas-lekas menggendong Byunghee ke punggungnya. Mereka berlari menerjang puluhan benda yang saling menimpa, menghindar dari arus listrik, dan dengan susah-payah menyeberangi koridor yang berguncang-guncang. Bunyi keriut besi memekakkan telinga.

“AH! Sumbang sekali suaranya!” pekik Ilhoon tak tahan.

“Sumbang…?” Hyunseung lekas-lekas teringat sesuatu. Mereka nyaris mencapai lantai dasar, di mana Doojoon dan Hyunah sudah menunggu. Tampak Yoseob dan kendaraan gelembungnya melesat dengan panik di langit malam menuju kedua orang itu, agaknya sadar ada ledakan di sana. Hyunseung merunduk ketika sebuah pilar nyaris meremukkannya, matanya yang awas melirik jam dinding.

23:45.

Berengsek!

Dia langsung melompat ke atas perahu gelembung, meletakkan tubuh Jung Hana di tengah-tengah perahu, membantu Ilhoon mengangkat Byunghee, dan berteriak kepada Yoseob supaya mengantar dirinya, Ilhoon, dan Hyunah ke Pusat Pertokoan Henolia secepat kilat sebelum membawa Byunghee dan Jung Hana ke Istana.

“Ada apa…?” Doojoon nyaris kehabisan napas ketika perahu gelembung mendadak melesat bak komet, meninggalkan gedung Stasiun Bawah Tanah Karaccos yang runtuh dalam sekejap. Hyunseung merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu dari Quadro.

“Pada kartu ini ada baris yang isinya begini: Perkumpulan khalayak dagang dalam kegelapan malam, serangan lain akan dicetuskan, simbol terpuncak… dasar tolol, kenapa aku tak menyadari adanya kalimat sumbang… bagaimanapun, kalimat itu sumbang, dan itulah rencana lain mereka—akan ada ledakan lain di Pusat Pertokoan pada pukul dua belas tengah malam, tempat di mana penduduk berkumpul. Sial… kita sengaja dijauhkan dari pusat kota sebagai pengalihan insiden yang sebetulnya….”

“Yang tadi bukan pengalihan,” tukas Hyunah dingin. Hyunseung tersentak ketika mendengar wanita itu bicara dengan nada macam itu kepadanya, tetapi sejurus kemudian Hyunseung mengerti, dan dia tidak menanggapinya dengan amarah.

“Kau benar,” kata Hyunseung. “Itu bukan pengalihan.”

Dia melirik Byunghee, yang masih duduk termenung dengan tatapan hampa di belakang perahu, tampaknya ingin menyentuh rambut Jung Hana namun tak tahu bagaimana caranya.

Waktunya hampir habis…, kata Yoo Youngjae.

Ekspresi kematian Jung Hana masih tercetak dengan jelas di benaknya.

Sial! Hyunseung memukul permukaan perahu. Ada apa ini? Pria dengan konsol itu, dia berani membunuh sepupunya sendiri!

 

///

“Ah, kau di sini rupanya!”

Pemuda berambut pirang sebahu itu bergeming, tak acuh walau temannya yang jangkung dan berambut hitam memasang tampang marah yang mengerikan.

Pemuda berambut pirang membaringkan tubuhnya di atas atap sebuah rumah, membiarkan kulitnya yang dingin menempel pada permukaan genting yang dingin pula. Musim hujan sudah nyaris terlewat, namun hawanya masih terasa begitu menelusuk. Dia mengembuskan napas, mengepulkan asap putih di tengah-tengah kelamnya udara malam.

“Oi, kau dicari-cari kakakmu ke mana-mana, tahu tidak? Pasti habis main perempuan lagi—moga-moga kepalamu gundul!”

“Hentikan! Jangan sebut-sebut gundul!” Si Pemuda Pirang akhirnya beralih ke posisi duduk, menaruh perhatian kepada temannya. “Rambutku masih sehat dan baik-baik saja! Awas kalau kau sebut-sebut gundul lagi!”

“Kuharap kau menua dan jadi gundul dalam dua tahun ke depan!”

“Terlalu cepat! Aku masih delapan belas—lebih tua darimu, tahu!”

“Berisik! Kaupikir aku peduli pada perbedaan usia kalau pekerjaanku menjemputmu setiap hari? Jangan bertingkah seperti remaja puber yang sedang memberontak, dong! Sekarang kau ikut aku saja, Boss akan membunuhku kalau kau tidak pulang. Apa yang kaulakukan sebenarnya dari tadi?” omel pemuda jangkung berambut hitam. Dia berkacak pinggang dan menyorot dengan mata hitam gelap nan tajamnya, membuat si pemuda pirang mengalihkan pandangan, takut dihunjam sampai mati hanya dengan tatapan. Kalau pemuda jangkung berambut hitam ini yang melakukannya, kemungkinan hal itu bisa saja terjadi.

“Yah, seperti katamu, aku sedang menggoda tunangan seorang reporter….” Pemuda jangkung berambut hitam bergidik mendengarnya, namun seusai itu ia memasang telinga. “… aku baru memulai jurusku ketika Jang Dongwoo datang mengganggu.”

“Jang Dongwoo?” Pemuda Jangkung Berambut Hitam mengerjap.

“Iya. Dia bilang dia ingin informasi dariku, cukup itu saja, tak lebih.”

“Lalu, jawabanmu?”

“Kutolak.”

Pemuda jangkung berambut hitam terkekeh. Kalau saja jawabannya berbeda, segalanya akan jadi menarik. Kawannya ini terkenal selalu berpikir panjang, namun jika terkait dengan hal-hal yang mengusiknya, dia pasti langsung saja menarik keputusan tanpa mempertimbangkan apa pun. Hanya perasaannya saja yang mengendalikan. “Kenapa?”

“Wah, kurang tahu, ya.” Pemuda pirang balas menyeringai. “Barangkali karena dia tak punya apa-apa yang membuatku tertarik.”

“Hmm… begitukah?” Pemuda jangkung berambut hitam memutar matanya. Ada yang hilang pada intonasi suara temannya, namun dia tidak berminat membahasnya sekarang. “Ya, sudahlah. Ayo kembali. Ada misi menunggu.” Dia membalikkan tubuh dan mengambil langkah, menyalang ke belakang sekali lagi untuk memastikan temannya yang kurus itu mengikutinya.

Si Pemuda Pirang menolehkan kepalanya, memandang asap kelabu tebal dan api membara yang bergejolak dan merambat kejam menjalari gedung-gedung di tengah kota dari kejauhan, menyiram wajah tampannya dengan cahaya jingga yang menyala-nyala. Pemandangan yang sedari tadi dipandanginya dan diabaikan oleh temannya.

Dia bergumam, “Sudah mulai terbuka, ya… gembok peti itu.”

“Lisanmu adalah senjatamu… jangan kehabisan akal dalam memanfaatkan itu.”

“Ketidakpedulian bisa menjadi pesona kalau kau tahu cara memanfaatkannya.”

“Hei, mau tahu satu rahasia?”

Bayangan-bayangan berkelebat, suara-suara bergema pelan, timbul-tenggelam seolah-olah pelita di gedung-gedung memainkan fatamorgana dengan siluet-siluetnya yang tajam; menggentarkan; sarat akan marabahaya. Dia tidak mengindahkan itu dahulu, walau dirinya tahu ada segumpal kegetiran yang menjerat benaknya.

Ya, betul.

Di dalam hidup, ada satu hal yang harus diperhatikan jika ingin terhindar dari kesialan. Memanfaatkan keadaan….

“Ren! Cepat jalan atau kugunduli kau!”

“Tutup mulutmu, Jun! Tidak ada korelasinya, tahu!”

Si pemuda pirang lantas terdiam dan menoleh sekali lagi. Memutuskan untuk benar-benar beranjak, ia mengayunkan kakinya yang panjang, mengikuti kawannya Jun pergi, menuju suatu tempat di balik garis cakrawala yang gelap gulita bak bintang mati, dan sesekali diciprati cahaya merah yang menari-menari.

.

.

.

7th Chapter of Tale

END

.

EXISTENTIA 8th

Dengan membayar sekoin nyawa, lautan teror tengah menanjak

Mengguncangkan yang stabil, meluluhlantakkan yang labil

Menyingkap tabir di balik kelamnya masa lampau

Dan terombang-ambing di samudera politik penuh ancaman

“Aku sungguh-sungguh tak peduli—sekarang katakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi?”

a story for connection

The Truth

///

Sujud syukur kepada Yang Maha Pengasih atas rahmatnya saya bisa menuntaskan 50% fic ini dalam waktu sehari :””D

Dan btw selamat kepada semua yang berhasil menebak bahwa si Pemuda Pirang yang ditemui Dongwoo di chapter lalu adalah Ren! Huawei! o/ #bukan #bukanmerekhape #iniceritanyagirang

Nah, apa sih yang sebetulnya terjadi di Henolia? Saya sendiri juga tida tau, jadi lebih baik kita simak saja di selanjutnya, dari mulut Raja Seungho sendiri :3 ((rencana mau bikin penasaran)) ((tapi gagal))

Sejauh ini dan untuk chapter ini, apa kesan pesan kritik dan saran kalian? Please tell me because this amateur scriptwriter is still learning and want to do better in the future! Terima kasih atas review kalian yang luar biasa berharga. Mohon maaf saya muncul sekali-sekali doang karena jarang on akhir-akhir ini dan begitu ngecek notifikasi isinya dari freelancer minta konfirmasi fic, jadi banyak komen yang ketimbun .///. Akan saya cicil untuk membalas semua perhatian kalian terhadap karya-karya saya dan IFK! Mohon maaf jika masih mengecewakan. Sekali lagi terima kasih!!! X3

Ehiya, si Jun ini betul maknae baru U-KISS, Lee Junyoung. Kelahiran 97, tinggi 186cm, dan yang jelas ganteng.

jun

tumblr_nk9pkhEXV91rewws5o1_250

((aduh)) ((aku lemah pada eye-smile ;_;)

xx,

fikha!

16 thoughts on “EXISTENTIA — The Bloody Memories: Interfectorem and Chico [7th]”

  1. Selamat hari senin yang indah Pikaru! ((lagi libur ceritanya)) ((makanya cinta hari senin))

    Jadi tadi aku kan udah spot via Line yah sekarang aku mau nulis komen. Pertama gini YA ALLAH AKU SENENG BANGET INI ADA LANJUTANNYA TADI AKU BACA SAMPAI SUSUT INGUS GITU :””” ((pilek maksudnya))

    Kedua, awal liburan aku baca banyak shoujo manga secara online dan aku baru tahu ternyata banyak baca shoujo manga itu nggak baik buat kesehatan jiwa :””” setelah tahu itu aku beralih baca Game of Thrones yang itu jelas menguras otak dan setengah buku aja belum dapet :””” ((ini curhat))

    LALU… akhirnya ini diupdate elah aku nggak tau mau komen apa uhuy ini asyik kece gila. Kalau kamu nanya, aku aku prefer ke adegan flashback flashbak penuh rahasia ketimbang adegan pertarungan sih. AKU SUKA FLASHBACKNYA OMO! DUH UCUL SEKALI MEREKA TIDAK MUNGKIN :”””

    Ohya itu kan inspired Tokyo Ghoul… itu aku nonton S1 loncat-loncat di laptop temenku terus langsung ep terakhir di mana Kaneki berubah jadi mahluk ganteng idola wanita chorom ((terus aku langsung jejeritan padahal itu lagi di kelas)) ((abaikan aja abaikan)) dan aku belum nonton S2

    Terus kalau kamu nanya apa yang aku harapkan di chapter berikutnya itu REN DAN JUN! Siapakah mereka sebenarnya? Ada di pihak manakah? Kalau yag aku tangkap sih mereka nggak memihak dan cenderung abu-abu elah nggak ngurusi urusan orang happy go lucky aja gitu… dan ini Jun UKIss kah? Kalau bukan silakan tenggelamkan aku di rawa-rawa

    Sekian dulu dari saya, aku tahu ini komen kebanyakan isinya curhatan orang lagi liburan tapi kekurangan pekerjaan bangetz mohon dimaafkan aja :DDD

    Salam, Al

    Suka

    1. HAH curang sekali kamu Al! gimana UNnyaah? Ini aku izin pulang sekolah huahaha bukan contoh murid yang baik jadi jangan ditiru. mau ngincer kuliah di manaaa?

      KAMU SPOT LEWAT LINE?? ((tengok hape)) ((syalan sim card hape ngana))
      IYAAA ADA LANJUTANNYA! dan akan sampe ending kok Alhamdulillah aku udah nyusun ceritanya hiks :’3

      AKU PAHAM SEKALI RASANYA BACA KEBANYAKAN SHOUJO MANGA AL. Sumpah itu bikin hobi delusional makin menggila dan itu emang nyiksa sekaligus membahagiakan tapi kutak bisa berenti :”'( kalo anime enakan shonen tapi kalo manga enakan shoujo… wah aku belom baca Game of Thrones, pengen banget cuma itu soal politik dan ada berbau-bau vulgarnya iya ga sih? ((gakuat baca vulgar-vulgar))

      Sejujurnya Al aku juga lebih seneng nulis flashbacknya HUAHAHA emang dasar sekarang otak w menjurus ke shoujo jadi pas nulis shonen bawaannya pengen di-fluff-fluff-in

      DUH KANEKI IDAMAN BANGET PARAH KANEKI RAMBUT PUTIH ITU WILD GANTENG bikin aku jejeritan Al duh ga tahan!!! S2 lumayan sih cuma aku kecewa karena interaksi Kaneki-Touko kurang banget😦 mau baca manganya mager //heh

      please wait for more REN DAN JUN! gilak kaya jin dan jun aja. enak ya mereka cuma satu kali pengucapan namanya :9 iyes bener sekali itu Jun U-KISS! dan silakan liat mereka akan cenderung ke arah mana~~

      ASIK BANGET AL AKU JUGA MAU NGANGGUR :((( semoga hasil UN UAS dkknya bagus ya AAAL! <3{}

      Suka

  2. Omo😮
    Mas G.O sama Hana toh ternyata :v xD
    Tapi kasihan si Hana akhirnya R.I.P
    3 Orang pengkhianat itu aku udah kira si Himchan sama Youngjae, tapi kalo Hakyeon, ya ampun gak nyangka, malah kukira si Jin :v xD😆
    Kira2 selanjutnya apa yang terjadi?
    Saya tak tahu

    Suka

    1. iya diiit huehehe suda kebongkar di chap sebelumnya kok xDD
      eh masa sih 3 Pengkhianat itu Himchan sama Youngjae juga? ayo diperhatikan lagii cluenya udah tersurat banget kok =3
      aku juga tatau, jadi ditunggu saja yaaah!! /plak
      makasih banyak ditaaa xD{}

      Suka

      1. Di chap sebelumnya udah tahu si mas G.O bakal tarung sama mbak Zinger alias Hana, tapi masa lalu mereka masih abu-abu, dan sekarang sudah jelas…
        Pengkhianat jelas si Jin, Youngjae, sama Hakyeon :v xD

        Suka

      2. ahaha yesseu suda jelas sekarang kan mereka siapa dan siapa x))
        yakiiin? tau dari manaaa? si Youngjae aja mereka pada gatau siapa dia :9 //mulaingeselin //maafkansaya

        Suka

  3. itu adegan tarung antra byunghee sm hana epik B.G.T, wlaupn saia rada” gatega ngebayanginny sm lwanny byunghee yg dihajar abis”an scara cewek kan ya ._. aplgi di masa lalu mreka tmenan… kamsud dri hasil gagal itu apa jngan” krna si byunghee ny adlh produk ciptaan yg prtma jd krng smpurna n lbih sring hilang kendali atau ada psan lain kah?
    saran? kritik? saia gapunya satupun, seriusan :v pnggambaranny udh siip (y) n backsoundny dr berbagai anime ngedukung pula. mngkin sesekali kalo pake yg sawano lbih ajib lgi *okesip saia mulai ngelantur*
    byebye n semangat bkin part slanjutny (9″o”)9

    Suka

  4. FIKHHAAAAA AKU DATANG AKU DATANG AKU DATANG maafkan daku yang baru komen sekarang padahal ini ffnya udah dari jaman kapan :”

    ak abis baca ini baru sadar kalo chico itu gak berarti anak laki2….cuma karena Hana tomboi setomboi-tomboinya, dia dijulukin anak laki-laki, iya kaaaaannnnn iya dong TAPI ITU KENAPA JUNG BYUNGHEE KECIL SOK COOL GITU ah bikin baper aja nih byunghee -____- terus terus itu pas Byunghee ngobatin lukanya……..KO SO SWEET BANGET (padahal ngobatinnya sambil misuh2 gitu) tapi mereka beneran so sweet ih ;-; kalo gedenya fine-fine aja pasti udah sama-sama suka :”

    BUAHAHAHAHAHAHAHAHA YEOKSHI LAH YOSEOB MOODMAKER PALING AMPUH DI EXISTENTIA (walaupun gak ngaruh ke Hyun sih ya….)
    Poin simpati Hyunseung yang tadinya menjulang naik kini ambyar. –>> AK NGAKAK LAGI ASTAGA BYUNGHEE udah bagus-bagus bisa ngomong dari hati ke hati sama Hyun (?) eh malah dirusak….dan ak kenapa bayangin Byunghee makan kaca malah jadi kayak kuda lumping LOL TERUS ITU DOOJONG JUGA LOL BANGET kenapa tiba2 ada air mata haru?? WHY WHY WHY kalo doojoonn beneran jadi kayak yoseob, bisa dipastikan tingkat stress Hyun naik 100% hahahahahahahaha

    AKHIRYA KETEMU QUADRO JUGA HAH FINALLY tapi kenapa shirennya Byunghee jadi serem begitu…ak jadi inget bunga yg bisa makan orang di plant vs zombie coba…..
    TERUS ITU QUADRO-NYA ASTAGA kok aura pas mereka muncul rada serem gitu sih…(minus Yujae soalnya dia malah ngegame -____-) JADI YANG MEMBELOT ITU HAKYEON?! HAKYEON?! CHA HAKYEON? EMAK HAKYEON?! OOOMMMMMGGGGG gak nyangka beneran /menbong/ terus yg satu siaapaaaa??? kalo mereka gak kaget ketemu Himchan, berarti kan bukan Himchan…terus siapaaaa????? tapi kok Hyun kenal Himchan???

    FIKH, SUMPAH LAH ITU SCENE TARUNGNYA KEREN AMAT aku sampe gak napas bacanya ;-; terus pas ini “menemukan Yoo Youngjae mengamatinya dengan kedua tangan di konsol, seolah sedang mengontrol aliran listrik itu dan mengatakan “Jangan ganggu” lewat matanya.” KOK YUJAE-NYA KEREN BANGET >,< diem-diem sok cool tapi matanya setajam silet (?) DAN ITU KENAPA YUJAE YANG NEMBAK HANA WHY WHY WHY ah emang sinting semua lah Quadro ini -____- terus itu maksudnya "waktunya hampir habis" apaan lagiiiii ah mas Yujae ini lama2 gue karungin juga nih

    ternyata cowok pirang itu Ren……tebakan gue salah semua OTL terus itu kenapa Jun-nya kurang ajar sama Ren😄 /tapi Ren juga rada somplak sih ya/ apakah mereka bakal jadi moodmaker ver 2 setelah yoseob? kita tunggu aja

    AAAAAA FIKHAAAA aku makin penasaran abis baca ini ;-; like yng "ITU YG MEMBELOT SIAPA LAGI WOY TERUS ITU REN PUNYA RAHASIA APA dsb dsb dsb" next chapter ditunggu yaaaa ^^

    dear

    thelittlerin

    Suka

  5. fikkkaaaaaaaaa

    aku gak sadar klo ada notif new post gitu >< (lirik himchan, bawa pulang)
    dia punya kekuatan juga ya? sama besarnya kah kayak hyunseung? aatau malah lebih kuat?
    trus itu youngjae kok tega sih nembk sepupunya sendiri ;-;
    gak tega liat byunghee jadi sedih :((

    pokoknya harus lanjuuuttttt…..
    oh iya, ren itu jadi siapa ya? .-. trus dia berpihak ke siapa? kelompok rahasia atau kelompok Quadro? atau ada perkumpulan lagi selain kelompok rahasia dan quadro? '-')a
    hmmm…. masih banyak teka-teki yg belum terpecahkan…

    oh iya, aku minta ID Line kamu dong fikkkhhh….
    boleh ya… ya yaaaa (muka melas)
    sukses ya buat FF nya!! nanyi aku bakalan (mencoba) untuk rajin ngecek wp deh wkwkwk…
    aku tungguin kelanjutannyaaaaa ^^~
    jiayou!!!

    Suka

  6. Sebenernya nabil lupa jalan ceritanya kaya gimana, tapi yang diinget sih existentia itu keren banget. DAN WOW NABIL JADI TAU ALASAN KENAPA SELALU JAWAB EXISTENTIA AJA KALAU ADA YANG NANYA FF RECOMMENDED, TERNYATA INIMAH LEBIH DARI BAGUS😦 /jadi inget soal remah kurupuk/

    Dan wew ternyata si nabil pernah jadi reader yang minta dibikin tikusruk ya, sori kak fikha waktu itu masih prasejarah /naonsih/ tapi sekarang sudah modern jadi nabil sepenuhnya lepas dari titel manusia purba. Nabil selalu meninggalkan komen sekarang, Alhamdulillah sekali ya🙂

    Ini jelas antimainstream ya, diksinya jelas kece ya, kece kece kece. Harus dibaca ya banget banget banget. Dan kita cocok di genre loh btw, nabil suka sekali dark fantasy psycho gini gini. Tapi eh jelas gimana siapa yang nulis lah, kalau udah master mah apa juga hayu ehehe :3

    Suka

  7. FIKHAAAAA FIKHAAAA FIKHAAAAAA HISASHIBURIIIII
    MASA AKU AKHIRNYA SENANG KAMU MEMUNCULKAN REN!!! UTUTUTUTU SINU MARI PELUK FIKHAAAA ({}) dia emang cocok jadi karakter jual mahal yang nyebelin.

    jadi, mau minta maaf baru kebaca chapter 7 heuheuuu… sebenernya waktu itu mau nyepot… udah donlod ostnya padahal. tapi ya gitu ternyata ternyata ketumpuk tumpuk. akhirnya baca setelah lebih dari setahun posting *sedkrai* karena itu aku jadi baca baca chapt sebelumnya karena agak agak lupa. DAN AKU SENANG KETIKA KAMU BILANG PEMUDA PIRANG ITU REN!!!

    nggak nyangka Hana kok malah dibunuh sama Quadro. emang ga punya hati gitu sih.

    btw Fikh, lanjutin lah existentianya :”) walaupun Hyunseung udah keluar dan Hyuna udah solo *apasih* aku ingin membaca kelanjutannya (dan menantikan Ren kembali muncul)

    Ya Fikh yaaa ayo lanjutin hehhehehe

    see ya Fikhaaaa

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s