MAMA-07: Suho

07

a ficlet-vignette series by Liana D.S.

MAMA

(MODERN ANTHROPOMORPHIC MECHANICAL ASSISTANT)

07. Suho

starring

EXO’s Suho and Red Velvet’s Irene (Bae Joohyun)

genre Romance, Sci-fi, Drama duration Ficlet rating Teen

.

.

-I ride the wind and descend into your world.-

***

[Pengenalan] Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant (MAMA) adalah robot berbentuk manusia yang dirancang sebagai asisten serbabisa. Secara fisik, MAMA tersusun dari kerangka titanium, kulit sintetis, dan jaringan penyangga dari silikon. Sistem fungsional robot ini berada dalam microchip sentral di kepalanya. Sistem ini memampukan robot berinteraksi dengan pemiliknya, sehingga dapat menyesuaikan kemampuan diri dengan kebutuhan si pemilik.

***

Bae Joohyun gadis yang buruk rupa. Rambutnya memutih sebelum usia 20, kulitnya terlalu pucat seakan-akan tidak teraliri darah, dan lengan serta kakinya menyusut akibat jarang digunakan. Anak-anak kecil yang bertetangga dengannya tiap hari berteriak mengejek ke arah jendelanya: ‘hantu putih, hantu putih!’, sedangkan beberapa orang yang sempat dikenalnya di luar rumah sebelum jatuh sakit—kebanyakan dari mereka sudah kuliah sekarang—hanya menatapnya sekilas sebelum kembali menyibukkan diri. Mungkin mereka malu memiliki teman dengan penampilan semengerikan Joohyun.

“Kau cantik.”

Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant-07 adalah pengecualian. Usai diaktifkan oleh orang tua Joohyun dan memperoleh nama baru ‘Suho’, MAMA-07 langsung mendapat perintah untuk selalu memuji Joohyun. Maka ia lakukan. Awalnya, Suho mengucapkan ini atas dasar perintah, tetapi seiring bergulirnya waktu, bagaimana Joohyun tersipu karena pujian itu telah membangkitkan sesuatu yang Suho kira tak akan ia rasa.

“Aku tahu aku cantik.” Joohyun tertawa kecil dan Suho tersenyum lega. Gadis itu telah berubah, dari muram menjadi ceria dan cenderung percaya diri. Meski demikian, sifat pemalu Joohyun belum sepenuhnya hilang—lihatlah caranya menunduk cepat dan memalingkan wajah tiap dipuji—dan inilah yang paling Suho suka dari gadis itu.

“Tapi Suho… sesungguhnya ‘cantik’ lebih tepat untukmu… M-maksudku bukan dengan cara yang feminin. Kau—indah,” ralat Joohyun dengan gugup, merendah seperti biasa, “juga pandai, baik, kuat, dan selalu menyenangkanku. Seperti malaikat. Atau jangan-jangan, kau memang dikirim dari surga?”

Lidah Joohyun agak geli karena tak biasa memuji seseorang; ia lebih sering mengagumi dalam diam. Namun demikian, Suho masih tersenyum, tidak keberatan akan rayuan yang menurut Joohyun basi ini. “Tidak, aku tidak berasal dari surga,” sangkalnya, “tetapi meski bukan malaikat, aku pasti akan selalu melindungimu.”

Janji itu sudah beberapa kali diikrarkan, tetapi Joohyun tetap tergetar karenanya. Ia penasaran, kira-kira apa yang membuat pelayannya satu ini begitu setia? Padahal Joohyun membosankan, tidak banyak tahu dunia, gagap teknologi, dan ke mana-mana harus naik kursi roda yang didorongkan Suho karena tidak kuat jalan sendiri. Di luar sana, banyak gadis sehat yang jauh lebih menarik, bukan?

“Kalau kau mau berhenti sebagai pelayanku, aku mengizinkan, Suho. Aku tidak ingin kau terikat denganku hanya karena kontrak kerja. Lagipula aku sudah lebih baik sekarang,” Joohyun tertawa getir, “Daripada menunggu kematian seorang gadis sekarat, tidakkah lebih menyenangkan pergi keluar dan mencari orang baru untuk dicintai?”

Suho mendesah panjang sebelum menangkup sepasang telapak mungil Joohyun. “Kumohon jangan katakan itu lagi. Kau bukan gadis sekarat bagiku. Kau masih memiliki banyak harapan dan semangat untuk terus hidup, maka apapun vonis dokter, kau tidak sekarat. Dan aku bekerja untukmu bukan semata-mata karena kontrak kerja.”

Tidak perlu puluhan kata lagi untuk menjelaskan kalimat terakhir Suho. Caranya menatap Joohyun cukup menjelaskan perasaannya. Suho memang hanya mesin, dengan intelegensi buatan yang amat terbatas, tetapi sejak mendalami dunia Joohyun, ia berubah. Joohyun adalah kecantikan yang rentan dan membutuhkan penguatan, keingintahuan yang menuntut untuk dipuaskan, cinta terpendam yang menunggu disalurkan. Suho seorang yang mampu memenuhi itu semua.

Jika Suho tidak bertemu dengan Joohyun, maka kehidupannya sebagai asisten mekanis mungkin tidak akan seindah ini.

Maka Joohyun adalah sesuatu yang tak ternilai baginya.

Satu ketika, pasangan Bae pulang dengan wajah berseri, memberitahu Joohyun bahwa ada opsi terapi yang mungkin dapat memperpanjang hidupnya. Suho ingat sekali Joohyun langsung memeluknya. Tidak ada teriakan girang atau tawa berlebihan, tetapi pelukan itu dengan gamblang menyampaikan kegembiraan si gadis. Suho baru saja akan ikut gembira saat suami-istri Bae mengajaknya bicara secara terpisah.

“Joohyunie kemungkinan besar bisa sembuh dengan pengobatan ini, tetapi kaki dan tangannya akan lumpuh total sebagai efek samping. Bagaimana kami harus menyampaikan ini, Suho?”

***

Joohyun berlari. Joohyun mampu berlari sekarang. Rambutnya kini berwarna hitam pekat, tebal bergelombang. Bukan wig; ini hasil dari pengobatan yang sudah ia jalani. Kulit cerahnya agak kemerahan terkena sinar matahari. Tubuh yang dulu kelewat kurus jadi berisi, walaupun masih ramping, dan Joohyun tampak segar karenanya.

Tapi senyum Joohyun tidak terkembang. Sepulang dari rumah sakit, ia langsung menuju kamarnya untuk menemui Suho.

Joohyun membuka pintu kamarnya kasar. Suho di kursi rodanya—kursi roda Joohyun—menoleh, terkejut akan metamorfosis luar biasa dari Bae Joohyun yang terengah-engah di ambang pintu. “Hai,” sapanya dengan senyum lebar, “kau cantik sekali.”

“Suho…”

Melihat satu-dua sungai kecil menuruni mata Joohyun, Suho menjadi cemas. “Joohyun, ada apa? Masih sakitkah?”

Tidak berjawab. Joohyun menubruk dan mendekap Suho erat-erat. Terisak selama beberapa menit. Oh, andai sistem saraf elektriknya masih ada, Suho pasti bisa memeluk balik Joohyun dan mengusap punggung gadis itu lembut.

Tapi Suho tidak bisa.

“Kenapa kau tidak menolak permintaan Ayah dan Ibu? Kenapa kau menyerahkan begitu saja pemicu dalam sistem kendali tubuhmu untuk dipasang padaku? Kau ‘kan jadi tidak bisa bergerak!”

Sesuai dugaan Suho. Sang humanoid melirik lengan dan kakinya yang dipotong hingga menyisakan pangkal. Sebelum operasi Joohyun, bagian itu memang diambil dan pemicu listrik yang menggerakkan Suho dipilah-pilah dari sana. Pemicu ini diintegrasikan dengan otak dan sumsum tulang belakang Joohyun sehingga memungkinkan si gadis bergerak bebas.

“Apalah pentingnya untukku. Kau dapat hidup normal sekarang, seperti yang selalu kau impikan, itu lebih utama. Lagipula, aku hanya mesin yang dirancang agar bisa membantu pemilik.” jawab Suho tenang.

“Tidak! Kau bukan hanya mesin! Sama seperti kau yang tidak pernah menganggapku sekarat, bagiku kau itu… kau itu…” Tubuh Joohyun merosot, kepalanya kini berada di pangkuan Suho, “…malaikat.”

Ya. Suho tidak lagi menyangkal bahwa dirinya malaikat. Malaikat pelindung Joohyun—dan karena itu, ia wajib melakukan apapun yang perlu untuk membahagiakan si gadis.

“Hei, lihat aku.”

Joohyun menengadah. Demi Tuhan, Suho ingin menghapus air mata itu langsung, tetapi karena keterbatasannya, Suho cukup menggunakan senyum tulusnya untuk melenyapkan kesedihan Joohyun.

“Hanya tangan dan kakiku yang pergi, bukan kebahagiaanku, dan kebahagiaan itu ada selama kau merasakannya juga. Jadi berbahagialah. Untukku.”

***

TAMAT

.

.

dramaaaa astaga, aku gak merasa ini layak posting T.T tapi apa boleh buat, seriesnya kan udah jadi dan tidak boleh dibiarkan terposting separuh.

15 tanggapan untuk “MAMA-07: Suho”

  1. “Hanya tangan dan kakiku yang pergi, bukan kebahagiaanku, dan kebahagiaan itu ada selama kau merasakannya juga. Jadi berbahagialah. Untukku.”
    Ini apaaaa??? Bener2 ‘Suho’ deh. Huuaaa…
    No comment deh *sibuk ngapusin air mata* *jadi ikutan drama*
    Sukaaaaaa…

    Suka

  2. Huaaahhh suhoooo?! Addduhhh you’re an angel, smpe nangis bcanyaa arrghhh byanginnya, addduhhh bner” suhonya rela berkorban bgt demi irene

    Suka

  3. Suho angel banget 😍😍😍 suka kata-kata pas di akhirnya “Hanya tangan dan kakiku yang pergi, bukan kebahagiaanku, dan kebahagiaanku itu ada selama kau merasakannya juga. Jadi, berbahagialah. Untukku.”
    /melting/
    💖

    Suka

  4. Yang paling ditunggu!!
    Suho emang…… aduh…. hatinya malaikat banget…. /peluk suho/
    Tapi feelnya dapet loh, kepingin ikutan nangis pas tau (bias) suho jadi gapunya tangan kaki gitu duduk di kursi roda masih bisa senyum tulus, kalo ada beneran mah aku mau beli ;(
    yaudah deh, semangat lanjutinnya ya 8′) /ilang bareng suho/

    Suka

  5. First of all, Isn’t that gonna be amazing if you explain how Artificial Intelligence kayak Suho bisa memiliki perasaan? Gimana caranya dia punya self-consciousness and how his program works? Dan menurutku bakal lebih seru lagi kalo konflik batin Juhyun dipertajam, kayak misalnya aja Suho kan AI gimana caranya ia punya perasaan? Apa bener suho punya perasaan? Bagian ini “Awalnya, Suho mengucapkan ini atas dasar perintah, tetapi seiring bergulirnya waktu, bagaimana Joohyun tersipu karena pujian itu telah membangkitkan sesuatu yang Suho kira tak akan ia rasa” It looks like a fresh meat to me. Ada banyak bahan mentah yang bisa diolah lebih matang untuk menciptakan sebuah konflik yang lebih legit di dalam cerita ini. Dan sayang banget kalo cuma dibuat narasi pendek. Tapi OVERALL, this story is well-written. You have a potential right there! Keep writing!

    Suka

    1. halo ^^ aku sangat berterima kasih atas kritik dan sarannya ^^ jadi ya ini, aku pikir ada benernya juga, kalo ada penjelasan bakal lebih seru tapi buatku pribadi itu terlalu berat penjelasannya :p dan sebenernya ini kuniatkan jadi ficlet sayangnya gagal. setelah kutilik lagi emang ini kurang dalam ya.
      terima kasih sdh mampir! (kak?)

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s