Twenty (Chapter 5)

Twenty 5-7

Title :  Twenty || Scriptwriter :   shopie-ns || Cast:  Jung So Min / Kim Woo Bin  || Support cast : Choi Seunghyun &  Your imaginations || Genre : Romance, NC, || Duration: ? || Rating : M (lime)

Previous part: 1. 2. 3. 4

Disclaimer :

Poster created  by :  LAYKIM @ Indo Fanfictions Arts

I have nothing except stories

5

Preview:

Apakah cinta bertahan bersama tiga tahun?

Apakah cinta mengizinkan?

Apakah cinta percaya?

Jika ya-

Cinta adalah bodoh.

-soomin

I have nothing except stories

Taksi yang dtumpangi Soomin sudah berhenti, Soomin melangkah keluar dari taksi setelah membayar dan mengucapkan terimakasih.

Dirinya sudah sampai. “Akhirnya…” Setelah meletakkan barang bawaanya di tanah, ia menggosok-gosok tangan dan kedua pipinya, mencoba menghilangkan dingin sebelum mengetuk pintu beberapa kali.

“Seunghyun kau dimana?”  soomin merapatkan jaket. Pria yang ditunggunya tak juga keluar. Dia masih sibuk dengan kedua telapak tanganya yang saling digosokkan ketika pintu mulai terbuka dan keluarlah seorang pria dengan guratan wajah yang tegas.

Tatapannya setajam Woobin oppa, namun dengan dagu yang lebih tajam. dan meski ini dini hari, gelap tak menghalangi Soomin untuk sedikit terpana pada pemandangan di depanya. Sepupunya ternyata sangat tampan.

“Mari masuk dan ceritakan dengan lengkap di dalam. Somin-ssi…” katanya mengembalikan Somin kedunia nyata.

Mereka duduk di sebuah ruangan, terpisah sebuah meja, yang kalau bisa dibilang itu adalah perpaduan ruang tamu, ruang TV, dan ruang tidur. Pria ini tinggal ditempat yang begitu sederhana.

“Apa kabar, Seunghyun?” kata Somin kaku.

“Yang jelas lebih baik dari dirimu.” katanya sambil menuangkan teh. Penghangat katanya.

“Dan panggil aku TOP, top oppa. aku kakak sepupumu yang sama seperti beberapa tahun lalu, kau ingat?” katanya sebelum meninggalkan Somin.

Membuat mata somin membulat sebelum akhirnya menunduk dan tersenyum sini. “oppa…” katanya lirih

“hm?” katanya pelan. tak diduga Top sudah ada di pintu ruangan membawa sebaskom air hangat dan kain bersih. Somin yakin ia menggumamkanya pelan, tapi pria itu mendengarnya dengan jelas. Pendengaran yang tajam.

Top duduk disamping Somin, dengan gerakan jarinya ia membuat somin duduk menghadapnya. ia mengusap lembut wajah Somin dengan kain basah yang hangat itu. membersihkan Somin dari bekas merah dipipi dan riasan yang meluber.

“Gomawo” kata somin hampir seperti berbisik, sebelum berkata lagi, “Dia itu pria gila” Dari kalimatnya Top tahu, somin memulai ceritanya.

 *flashback*

Dan begitulah Somin mengulang kisahnya ( 1 | 2 | 3 | extended) tentu bagian tertentu tak ia ceritakan dengan rinci. Hanya bagian-bagian yang berhubungan dengan dendamnya…

“Woobin memang berubah saat itu. Aku bahkan diajaknya tidur di kamarnya seolah selama ini aku terbiasa keluar masuk kamar itu. Beberapakali aku juga  memegang HPnya. meski tak melihat isinya, HP itu selalu dikunci dengan password yang digantinya secara teratur. Dia masih menyembunyikan sesuatu, kutahu itu.” Ada jeda disana, Top masih dengan sabar mengusap wajah somin.

“Dan karenanya juga, aku bertemu dengan oppa lagi setelah sekian lama” kata somin seolah pria itu lupa.

Top sudah selesai, kini ia khidmat mendengar Somin.

 Di suatu pagi, saat Somin terbangun dan menyadari ia sudah pergi. mungkin bekerja, entah apa pekerjaanya. Dengan  hati-hati ia memeriksa seluruh apartemen, berharap pria itu memang sudah pergi selanjutnya dengan gerakan cepat seolah tak mau sedetikpun terbuang, ia membuka laci di meja komputer Woobin. Ada banyak benda yang ditaruh serampangan. Hingga saat ia sampai di laci ketiga di kolom ke dua, ia menemukan data dirinya sendiri. Lebih terkejut lagi saat somin membuka map itu, didalamnya juga ada data orangtua dan keluarga besarnya, hingga ia menemukan satu-satunya saudara terdekat yang masih hidup : sepupu. Choi Seunghyun disitu ditulis.

Somin bahkan mendapatkan alamat tempat seunghyun tinggal saat ini dari data yang dimiliki Woobin. Beruntunglah Seunghyun yang itu tak mengubah alamatnya juga no HPnya karena penemuan itu telah berlangsung lebih dari setahun lalu, dan ketika 6 bulan yang Somin mulai menghubungi saudaranya itu.

 “Jujur, aku baru mengingatmu saat kau meminta dipanggil top” Kata somin menunduk. Lalu melnjutkan ceritanya

 Penemuan ini hanya membawaku pada pertanyaan lainya, membuatku frustasi dibuatnya. Apa sebenarnya yang dilakukan Woobin oppa? Kenapa ia bahkan memiliki data keluarga jauhku yang aku sendiri sempat melupakanya.

Apa sebenarnya dia?

Tapi sebagimanapun Somin didera penasaran jangan tanya perasaanya. Dia masih memantaskan diri menjadi istri idaman woobin. Tak seharipun ia lewatkan tanpa makeup entah itu hanya sekedar menonton TV menunggu namja-chingunya pulang, semua hanya demi satu alasan: cinta. Begitulah ia meyakinkan diri.

Baginya, Woobin adalah tempat bergantung. Kompasnya selalu mengarah pada Woobin  tak peduli gangguan yang dialami prianya itu (Somin bahkan tak lagi menganggap itu sebagai sebuah penyimpangan) ataupun emosinya yang semacam roller coaster.

Bukan tak pernah ia melukai somin, tapi itu selalu berakhir dengan sebuah ciuman. Mungkin hanya itu yang mampu meredakan nafsu amarah pria ini. Lama kelamaan Somin semakin hafal gelagatnya. Maka jika Woobin pulang membanting pintu disusul teriakkan, ia akan berubah menjadi gadis paling nakal dengan mini dress yang tak pernah kehabisan stok, kerlingan mata yang nakal, dan cara berjalan yang seolah menyombongkan diri yang begitu sempurna. Bahkan Woobin pun dibuatnya takluk. Gadis ini belajar banyak.

“Chagi, HP mu berdering” somin membisikkan itu ditelinga pria yang tengah mendekapnya dalam lelap. Woobin menggeliat, tanda bangun. “hmm” katanya yang somin artikan permintaan tolong ambilkan. “Passwordnya tanggal lahirmu” katanya masih sambil menutup mata.

Begitulah Somin selalu dibuat terkejut dengan cara pria itu mencintanya.

“Ia percaya padaku”. tegas somin. lalu menyesap teh yang tadi dihidangkan

 Kini ia tahu, ternyata kalaupun diganti, password itu hanya seputar kombinasi tanggal-bulan-tahun kelahiran somin yang urutanya diputar.  Suatu hari Woobin tengah di kamar mandi, HPnya berdering tanda sms masuk. Somin yang secara tak sengaja menyentuh pesan itu hingga terbuka. Kode itu lagi, barang baru.

Bukan somin bodoh, ia hanya tidak yakin dan tidak mau percaya. Ia melupakanya seolah tak pernah melihatnya.

Hingga di suatu malam yang sunyi, Woobin belum juga pulang padahal ini hari ia lulus dari kuliah. Tak nampak juga lah hidungnya di kampus. Padahal ia berharap kedatanganya, entah karena memang rindu atau ingin menyombongkan kekasihnya lagi. Somin akhirnya pulang dengan seribu amarah berharap ketika pulang ia dapat menumpahkan kemarahan dan kekecewaanya pada pria itu sebelum pria itu meminta maaf dan mendekapnya erat. Skenario sempurna, pikirnya.

Tapi jam sudah menunjukkan pukul 1 dan pria itu tak juga datang. “Seperti dulu” katanya berat. Ada dorongan untuk pergi kekamarnya mencari petunjuk sekecil apapun itu, sebab sejak siang tadi HPnya tak bisa dihubungi. Pintunya dikunci, Dan kali ini passwordnya bukan ulang tahun somin. Mungkin satu wanita setiap password katanya marah. Iseng ia mencoba empat angka jam kelahiranya. Tak diduga ternyata ia benar.  Komputernya masih menyala diatas meja, ada firasat buruk disana. Teringat pada email terdahulu, ia buka laman email. Betapa terkejutnya, ada bekas pembicaraan disana.

Sebuah transaksi, seharga ratusan juta, malam ini, dan kenyataan bahwa transaksi itu adalah tentang narkoba.

Benarlah apa yang ditakutinya selama ini. Dan seketika hal ini membuatnya terhenyak. Malam itu ia habiskan dengan meringkuk dikamarnya, menangis.

Ada hal yang mengganggu benaknya, ia punya kenangan buruk tentang usaha dibidang ini. Ia punya pengalaman, dan itu buruk. Dan ironi, pria yang disayangnya tengah berbisnis itu.

“Berhentilah” Kata somin di meja sarapan keesokan harinya. Sejak tadi Woobin sebenarnya memandanginya terus, mencari sebab gadis ini tak menyapanya sebagaimana biasa. Tapi kata pertamanya adalah berhentilah.

Woobin bukan pria bodoh, berpura-pura bodoh juga bukan bagianya. Ia malah menggebrak meja sebelum berkata “Sejak kapan kau mengurusi pekerjaanku. Berhentilah melewati batas sebelum aku kehilangan kesabaran, Somi-ssi!!!”

Pria itu pergi, meninggalkan somin dalam keadaan kacau. Membuatnya malah merutuki dirinya sendiri yang bersikap tanpa pikir panjang.

Sejak hari itu, Woobin berubah jadi kasar, dia sering pulang mabuk, dan memukuli somin. Gerak gerik yang biasanya bisa somin taklukan itu tiba-tiba semakin ganas dan liar.

Sudah berbulan-bulan sejak pagi di meja makan itu dan Somin masih tinggal di apertemen ini. Apartemen miliknya.

Tapi kesabaran somin ada alasanya. Dia sungguh-sungguh masih berharap Woobinya akan kembali seperti dulu, dan juga melakukan hal yang berguna. Menyelidiki sejauh apa bisnis woobin (meski itu sungguh tak mudah) dan berkorespondensi dengan sepupunya.

Hingga ia tahu, ketika waktunya tiba ia harus balas dendam.

Top mengusap kepala somin lembut, seolah bilang pembalasan dendam tak menyelesaikan apapun. Mata Somin mendelik demi hal itu. Pria itu lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakanya.

Somin sedang duduk memandang lampu Seoul yang gemerlap, matanya menatap orang yang lalu lalang seperti semut dari lantai 19, tak jelas tapi tak apa. Pikiran Somin juga sedang berkelana, menyusun kalimat untuk prianya.  Beberapa menit lagi ia berumur 23 sekaligus anniv mereka yang ketiga. Soomin bahkan memesan kue khusus. Dan dia sedang tak enak hati.

Dia marah, lebih pada dirinya sendiri sebab prianya terjebak di bisnis haram itu dan ia bahkan selalu bertengkar karenanya. Dia marah, lebih pada takdir yang membuat ia bertemu pria itu, dan takdir yang membuat pria itu jatuh dalam organisasi ini, dan takdir yang memberi fakta bahwa kedua orangtuanya mati ditangan anggota organisasi ini. Ironi? Bukan, ini takdir. Dan ia marah karenanya.

Ulang tahunya sudah lewat (Sebenarnya belum karena jam lahirnya bukan jam 00.00) tapi apa bedanya? Dia sudah menunggunakan 3 jam waktu menunggunya untuk menyusun kalimat ketika pria itu pulang, membanting pintu, dan meneriakkan kata sialan. Bahkan dia mengutuk lantai yang membuatnya tersandung saat berjalan sempoyongan. Mulutnya mengeluarkan aroma, kali ini wangi bir murahan di pinggir jalan. “Sialan” desis Somin.

Melihat kue dengan lilin yang meleleh, dia malah melemparkanya tanpa alasan jelas, kali ini tujuan jelas: wajah somin. Somin beruntung pria itu kehilangan keseimbangan dan membuat kue berlapis coklat putih itu terjun ke aspal. Somin dibuat sadar, “Apa, apa? Kau mau apa? Tampar aku, tampar”

Dan woobin memang menamparnya. Bahkan darah segar terlihat diujung bibir pink Somin. Merasa terpancing, somin hendak memukulnya balik, tapi fisik bukan tandinganya. Dia meludah ke wajah Woobin setelah puas berkata “Anjing! Setelah mengambil kegadisanku, setelah mengambil ciuman pertamaku, setelah membunuh membunuh kedua orangtuaku, kau bahkan berani menyentuhku? Bangsat!” Pecahlah tangis Somin sejadi-jadinya.

Tangisnya memilukkan, menyakitkan, bagaikan serigala yang terjepit dibatu gunung. Pria mabukpun sampai terganggu.

“Diam!” katanya tanpa teriakkan tanpa nada tinggi. Tapi cukup membuat somin terkejut, sebelum melanjutkan tangisnya lagi.

Raut kesal mulai tampak di wajah Woobin. Didera frustasi karena suara tangis yang tak kunjung reda, Woobin menarik somin ke kamar Somin. Dia teriak lebih keras dari sebelumnya, teriakan yang baru di dengar Somin membuatnya ketakutan meringkuk disudut kamar, ia takkan sudi jika kali ini pria itu ingin menyentuhnya. Tapi pria itu menuju sudut lain kamar itu.

Somin menggeleng pelan.

Tapi pria itu tak peduli.

Pria itu menyentuh Violin besar berwarna coklat.

Somin masih menggeleng, kali ini diiringi kata “Andweeee” dan kakinya melangkah mencoba mencegah.

“Braaaaak!!!!!”

Terlambat. Satu-satunya benda di tempat itu yang dimiliki Somin setelah sebelumnya disimpan di kampus, satu-satunya benda milik Somin yang peninggalan orangtuanya. Hancur.

Seakan bisa mengembalikkan kebentuk semula, Somin memukul dada bidang pria dihadapanya yang kini nampak kepayahan. Sia-sia. Pria itu sedang mabuk diatas awan. Matanya terpejam erat.

Dia sudah tidur, khidmat.

“Aku harus pergi. Secepatnya sebelum monster itu bangun…” Somin terus menggumamkan hal tersebut sambil mengepak pakaianya. Sepertinya ia benar-benar ingin pergi.  Kali ini yang terakhir, pikir Somin.

“Sudah tinggal bersama bertahun-tahun tak juga ia tunjukkan keseriusan.”

“Sabar adalah pilihan bodoh yang telah aku lakukan”

“Dia sekarang menjadi monster. Pergi kemana kau pangeranku?” Gumam somin sambil menghapus air mata yang terus membasahi pipinya.

*end of flashback*

“Jadi begitulah aku sampai harus menghubungimu malam-malam dan bertamu dengan cara ini.” kata Soomin diakhir kisahnya.

“Dan aku tahu, kamu adalah polisi bagian…. “ kalimat somin terhenti karena sebuah bekapan tanganya.

“Berhentilah bermain dengan ikan kecil” kata somin ketika akhirnya top menjauhkan tanganya dengan gerakan halus.

Pria itu memandang somin sekilas selagi mengepulkan asap rokoknya.  “Jangan bercanda”

“Jangan harap urusan cintamu jadi pekerjaanku. Aku membiarkanmu tinggal hanya karena kau sepupuku”

“Jangan bodoh. Aku balas dendam karena darah orangtuaku. Paman dan bibimu!”

Rokoknya sudah tinggal puntung. Top melemparkanya begitu saja ke halaman.

“Kapan kita akan mulai?”

Semenjak itu, Top mulai mengumpulkan rekan kerja yang ia percaya. “Terlalu banyak tangan tidak baik bagi misi rahasia” katanya.

Dia benar.

Lagipula, aku tidak akan membiarkan polisi menangkapnya.  Tidak sebelum aku membunuhnya.

End of chapter 5

2 tanggapan untuk “Twenty (Chapter 5)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s