Twenty (Chapter 6)

Twenty 5-7

Title :  Twenty || Scriptwriter :   shopie-ns || Cast:  Jung So Min / Kim Woo Bin  || Support cast : Choi Seunghyun &  Your imaginations || Genre : Romance, NC, || Duration: ? || Rating : M (lime)

Previous part: 1. 2. 3. 4. 5

6

 Preview:

Mungkin aku salah, mungkin yang selama ini kita rasakan, kasihan.

–soomin

“Aku pulang….”

hah, bodohnya. Siapa yang aku sapa? Tempat ini kosong tak bersisa.

Sudah 3 bulan sejak Somin pergi. Tak ada yang berubah. Semua kembali ketempat semula, bahkan kalau aku bisa aku akan me-lem semua serpihan violin menjadikanya seperti semula.

Aku tau somin baik-baik saja, dia bukan tipikal wanita bodoh. Setidaknya itu terbukti dengan dia pergi, dia tahu caranya bertahan hidup. Dan karenanya aku juga baik.

Seringkali aku tidur di kamar Somin, menyesapi aromanya yang masih tersisa. Bagiku, dia akan menjadi satu-satunya selamanya.

Aku bodoh?

Aku menyedihkan?

YA, dan karenya aku jadi selalu mual melihat bibimbap, hahahaha.

End of Kim Woobin POV

Seperti beberapa tahun belakangan ini, woobin masih selalu lembur. Pergi siang pulang pagi. Kehidupannya masih seperti itu. Entah akan ada hal apa yang terjadi, dia merasa misinya akan selesai segera. Mungkin karena ia ingin selesai. Mungkin ia lelah dan berencana kembali pada somin, atau karena semangat hidupnya kini sudah menipis?

Tubuhnya kini semakin kurus, lebih seperti seorang pemakai.

“Kalau ini semua karena ego-mu. kusarankan kau menyerah woobin-ah” Jihyo rekanya mengingatkan.

“Kau mulai gila, kau tahu?”

“apa susahnya? telphon dia, jemput, hidup bersama, bahagia selamanya” Sekarang kalimat jihyo terdengar seperti sedang mengejeknya.

“maka diia akan mati ketika aku menjemputnya. Bagus. Berhenti berpura-pura tidak tahu jihyo kau sendiri kehilangan Kang Gary karena pekerjaan ini!!!!”

“Ya! Kim-woobin jangan sekali-kali menyebut nama itu lagi!!!!” kata jihyo akhirnya sebelum meninggalkan woobin.

Somin sedang mengedarkan remah roti, menunggu burung memakanya. Seminggu semenjak keluar dari tempat itu, somin masih sering melamun. Ada banyak bayangan woobin dikepalanya.

Aroma teh hijau seolah membawanya kembali kedunia nyata, “Makanlah” kata Top yang tanpa ia sadari sudah berada disampingnya.

”gomawo” kata somin sembari mengambil roti isi kacang merah.

“Aku akan menjebaknya. kau bisa menunggu dibelakang, lalu menangkapnya.” Kata somin setenang mungkin, tapi tak dapat menyembunyikan bekas air matanya.

“Jangan memaksakan diri…” Kata Top sebelum menyentuh kepala somin dan menariknya ke bahu tegap miliknya, dan air mata somin keluar sendirinya.

“Siapa kira aku aku akan jatuh cinta pada orang yang membuatku yatimpiatu?” sebelum top menyelsaikan kalimatnya.

Top tahu, Somin sudah siap menceritakan sisa kisahnya dan Top akan selalu siap mendengarkanya.

Flashback

“Aku salah, ternyata klipingan kecelakaan omma dan appa ada banyak. Dan jelas bukan karena mobil mewah yang dipakai orangtuaku saat kecelakaan. tapi karena kecelekaan itu bukanlah kecelakaan, woobin  oppa jelas tahu. dia yang menyebabkanya.

Ada map lain dilaci kedua itu. Map berisi analisa otopsi yang seingatku jenazah orangtuaku langsung dikuburkan. Dia bahkan melakukanya tanpa seizin keluarga? tanganku terkepal menahan amarah.

Aku tak peduli lagi kalau woobin oppa memergokiku mencuri data, aku ingin dia marah, aku ingin melihat reaksinya, aku ingin dia tahu aku tahu…

Dan persetan dengan apa yang ada dibalik pintu satunya, mungkin kejahatan dia lainya. Sekarang aku punya bukti bahwa dihari kejadian, dialah yang menghubungi appa dan omma untuk datang ke pantai melalui tol, dia juga yang mengejarnya selama di tol, dan dia yang telah merusak rem mobil appa dengan memotongnya, hinggan kejadia itu serupa kecelakaan.” jelasnya berapi-api.

“Dan entah kemana perginya kekayaan appa dan omma, aku juga baru tahu kalau appa dan omma ku punya hutang banyak, tebak pada siapa? Bandar narkoba! Tapi mereka cukup pandai sehingga berkat asuransi aku bisa melunasi hutang itu. Sisanya? Tanyalah pada rekan polisimu, kenapa mereka menyitanya…” kali ini somin bertanya pada top, jenis pertanyaan yang bukan untuk dijawab

“Berkatnya, berkat satu-satunya pria yang kucintai, hidupku hancur sejak hari itu.

Meskipun sejujurnya aku tidak tahu, sejak kapan woobin bergabung tapi mau dia ataupun anggota lainya, dia tetap bagian organisasi itu, dia bagian orang yang membunuh orangtuaku.”

End of Flashback

“Dia….” Somin tak sanggup menahan airmatanya. Dia bahkan memasukkan roti ke mulutnya untuk menghentikan tangisan yang sama sekali tak berguna selain membuatnya tampak seperti anak TK.

Top mengusap pelan kepala Somin, sama sekali tak bermaksud menghentikan air matanya dia tahu cerita itu. dia tahu.

Handphonenya bergetar, seseorang di Seoul sudah sejak seminggu lalu menghubunginya terus menerus. Bibirnya tersenyum simpul, seolah berkata aku tahu ini darimu, tapi tak kunjung ia angkat telphonya. Belum saatnya, batinya.

Adikku, apa benar tak mungkin kau mencintai pria lain?

Soomin melanjutkan ceritanya, setelah berhenti terisak

Flashback

“Beberapa hari kemudian, aku berulang tahun. Tepatnya seminggu yang lalu.

Hari itu, aku yakin aku harus mengatakanya. Aku akan minta putus, aku akan memilih harga diri demi orangtua, aku akan melupakanya, menemukan pria yang lebih baik, dan hidup lebih baik. Aku bahkan punya gelar sarjana, kenapa aku harus takut?

Meski begitu, aku ingin dia tahu, aku masih begitu menyayanginya dan andai dia akan bercerita tentang hari itu dan mampu membuatku mengerti posisinya, maka aku takkan pergi.

Itu tekadku, selama 3 jam menunggu aku habiskan untuk menyusun kalimat tentang itu…

Aku masih percaya, woobin oppa masihlah woobin oppaku yang dulu.”  kata-kata somin menggantung, seolah menjelaskan juga mengapa dia masih sering melamun.

“Dia, orang yang sama yang menyelamatkanku, melamarku, menciumku pertama kali, menerbangkanku ke langit Seoul, orang yang sama yang mengikatku, memukulnku, menamparku, bahkan membunuh orangtuaku.

Dia masih orang yang begitu baik. Pasti ada alasanya, pasti…

Kenyataanya, woobin pulang dengan gembelnya. Dia marah entah karena alasan apa. Dia menamparku, dia bahkan memecahkan violin orangtuaku.

Apa yang dia mau? Apa?” tangisnya pecah.

Dalam isak ia bahkan masih berkata “Sekarang tidak hanya yatim piatu, aku bahkan tidak memiliki apa-apa lagi sebagai peninggalan orangtuaku.”

End of Flashback

Aku jadi bertanya-tanya, selama ini…

“Apa dia mencintaiku atau merasa kasihan pada nasibku?” Mata bulat somin mencoba mencari jawaban dengan memandang mata sepupunya, mata yang kelelahan menangis.

Disampingnya, top menarik somin dalam dekapan. Mencoba menghentikan sedihnya jika itu mungkin…

matanya menerawang jauh, memikirkan sosok di Seoul.

End of chapter 6

2 tanggapan untuk “Twenty (Chapter 6)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s