Twenty (Chapter 7/END)

Twenty 5-7

Title:  Twenty || Scriptwriter:  shopie-ns || Cast:  Jung So Min / Kim Woo Bin  || Support cast : Choi Seunghyun &  Your imaginations || Genre : Romance, NC, || Duration: ? || Rating : M (lime)

Previous part: 1. 2. 3. 4. 5. 6

7

 Preview:

My Last mission.

“Aku pulang” terdengar bunyi pintu bergeser tak lama kemudian muncul sosok top yang baru datang dari luar kota. Dia terhenti pada langkahnya melihat somin memeluk lutut, menunggunya.

Dia ingat Somin pernah bilang dia terbiasa menunggu seseorang pulang -woobin- dan dia tidak akan bisa tidur tenang jika orang itu belum sampai atau setidaknya memberi kabar.

Ternyata benar, batin top. “Somin, tidurlah” katanya lembut setelah menyentuh punggung somin.

Mata Top menerawang mengingat percakapan siang tadi.

*flashback*

“Dia akan membunuhmu, kau tahu?”

Woobin berhenti beraktivitas demi mendengar itu, tak lama, sebelum kembali melanjutkan pekerjaan dengan komputernya.

“Aku tahu” jawabnya singkat. “Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan” lanjutnya. Tangan top terkepal geram mendengar kta-kata dari mulut woobin.

“Biarkan dia bahagia..”

kalimatnya dihentikan oleh tinju top yang meninggalkan bercak darah disudut kanan bibir woobin.  “Ini untuk membuatnya jatuh cinta”.

Top kembali meninju, kali ini di pipi sebelah kiri “Ini untuk meninggalkanya”.

Kali ini top meninju perutnya “Ini untuk menyimpan rahasia darinya”.

“Dan ini untuk apa yang akan kau lakukan” saat top kembali menyerang woobin.

Disaksikan rekan kerja mereka yang menutup mulut seolah takjub dengan tingkah mereka, woobin hanya mengerang perlahan tanpa perlawanan, dia tahu dia layak mendapatkanya.

“Deabak…” ujar jihyo yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan wajah seolah tidak tertarik, ketika melihat Top baru berhenti memukul saat woobin sudah meringkuk dilantai dan tanganya sendiri berdarah.

apa yang harus aku lakukan adikku? Lelaki ini begitu bodoh. Hatinya masih menimang…

*End of flashback*

Woobin, ia tak menghubungi somin, dia bilang tidak akan membiarkan Somin sakit hati lagi. Dia gamau somin kembali sedang dia ga siap melihat air mata somin lagi. Kesalahanya tiga tahun kebelakang, akan menjadi kesalahnya yang terakhir. Lagipula selama dia tahu somin aman dia sudah bahagia. Itulah kenapa dia seharusnya sudah merasa bahagia saat ini. Meski sejujurnya dia tidak begitu yakin, “apa aku bahagia?” gumamnya setiap pagi selama tiga bulan belakangan…

Hingga hari penjebakan itu tiba…

“Woobin! Ada transaksi mencurigakan dari kota Daegu dan organisasi mu.” kata pimpinan di tempatku bekerja.

“Hah? Daegu? Maksudmu, Daegu-Top?” kataku serampangan.

“hm, kurasa kita akan menangkap ikan besar disana…” belum selesai Pak kepala mengatakanya, woobin sudah berlari keluar kantor… sayup terdengar teriakan

“Kau mau kemana woobin? Kita punya orang disana, kau tenang saja”

Tapi woobin sudah dengan kecepatan penuh menggunakan mobilna melaju kesana.

Ada ketegangan yang dia rasakan. “apa yang kau lakukan gadis bodoh? dengan cara apa kau akan menjebakku? kau benar-benar berfikir aku anggota organisasi itu?”

“Bodoh, ayo mobil bodoh, cepatlah. kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi sominssi…” katanya sambil memukul kemudi mobil. Begitu takutnya woobin jika sampai gadisnya yang terjerat bahaya dia sampai lupa negara ini memiliki lampu merah dan menerobosnya begitu saja.

“Dimana dia…..”

Butuh waktu tiga jam setengah hingga woobin sampai kesatu-satunya tempat yang ia tahu dikota ini. Rumah top. Dengan pistol ditangan, Woobin berlari masuk ketempat tinggal top, kosong.

“Dimana mereka?” ia membalikkan badan dalam panik, tak menyadari diseberang sana, seorang gadis berambut hitam sebahu  menodongkan pistol dari balik pagar.

Mereka saling tatap. Panik, kaget, takut, dan rindu melebur.

“Lama tidak bertemu, kim woobin” kata si gadis menguasai keadaan. Keduanya saling menodongkan pistol…

“Ssomin-ssi?” panggilnya berbisik.

Tidak ada tanda kesedihan dari wajah somin,  dia bahkan dengan gagah menodongkan pistol pada woobin. Dia hidup. Dia bahagia. Batinya.

Woobin tersenyum sinis memandangnya. Dia tahu, ini akan menjadi misi terakhirnya.

Seperti yang ia duga, woobin akan datang. Dengan sebuah berita bohong yang disisipkan top pada atasanya, somin yakin ia akan berhasil.

Pria itu baru saja memasuki rumah  top. Dia masih sangat misterius, “dari mana ia tahu aku tinggal disini?” batin somin, tapi somin tak berlama-lama dengan rasa penasaran, dia berdiri dibalik gerbang rumah. Menunggu woobin, sebelum benar-benar membunuhnya.

Pria dihadapanya berhenti begitu langkah kaki pertamaku membalikkan badan.

“Lama tidak bertemu, kim woobin”.

Oppa, kau berubah banyak. Tatapanmu tak setajam dulu kau seperti seorang yang lupa makan berbulan-bulan. Dengan gemetar somin menodongkan pistol kearah woobin yang memegang sejata di kedua lenganya.

Dengan penuh percaya diri, somin tahu ini akan menjadi akhir kisah mereka.

“Ssomin-si?” katanya penuh keraguan. Aku berubah oppa, mungkin juga hatiku.

Mata somin membesar, melihat  woobin berjalan mendekat dan apa? Dia tersenyum? sembari menodongkan pistol padaku?

Dia jelas bukan manusia. Dia monster itu…. dia monster dengan balutan tubuh woobin-oppa-ku.

“Annyeong” Mata somin terpejam, tak lama pelatuk pistolnya ditarik dua kali. Satu memecahkan jendela rumah top. Satunya mengenai seseorang sebab terdengar jerit tertahan dari hadapanya.

Tangan kanan woobin terluka. Dia menjatuhkan pistolnya ketanah.

Tapi langkahnya masih mendekati somin.

Dari jarak lebih dekat, somin tahu senyum itu tidak ditujukan untuknya tapi untuk dirinya sendiri. Dia sedang menertawakan diri sendiri.

Tangan woobin menggenggam erat tangan somin mengarahkan pistol ditanganya ke kepala.

“Annyeong” kata woobin sebelum mendekatkan kepala kearaah somin, menciumnya.

Woobin teringat, pertama kali ia tahu somin memasuki kamarnya dan gadis itu bersenbuny dibawah ranjangnya. Dia tahu, dia juga tahu segalanya hanya akan membuat somin terluka. Pekerjaan ku tak membutuhkan seseorang untuk mengertiku. Ini hanya akan membuatnya terluka. Dia tahu segala informasi yang somin dapatkan hanya akan mendekatkan woobin pada kematian. Dia tahu. Meski begitu, sampai saat inipun, dia tak mampu melepaskan somin, dia masih begitu mencintai somin, dan dia rela somin membencinya untuk itu.

Dia tahu, saat somin pertama kali memasuki apartemenya. Dia sudah mencintai somin.

Tidak. Woobin bahkan sudah mengawasi somin semenjak mereka belum saling mengenal. Entah rasa kasihan atau memang cinta, tapi woobin sudah memperhatikan somin sejak ia diperintahkan mengungkap narkoba jaringan internasional, yang salah satunya mengusai seoul. Para pembunuh dengan pakaian gagahnya seolah pebisnis ulung -orang tua somin- .

Harapanya sekarang hanya satu, somin mengerti bahwa woobin masih mencintainya.

Dikejauhan, seungri dan taeyang saling melempar pandangan merasa dipermainkan teman setim mereka, top.

Top sendiri memandang keduanya dengan takjub, ada raut bahagia dan semburat sedih disana.

“mereka masih saling cinta rupanya”.

Tepat ketika somin menjatuhkan pistolnya dan membalas ciuman woobin.

 tamat?

5 tanggapan untuk “Twenty (Chapter 7/END)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s