Ready, Set, Don’t Go (Chapter 1)

Ready Set Dont Go

Title: Ready,Set,Don’t Go

Scriptwriter: Sacchihanamichi

Main Cast:

  • BTS Jeon Jungkook
  • BTS Kim Seokjin

Support Cast:

  • Son Jihae (OC)
  • EXO Sehun
  • EXO Tao

Genre: Drama, Family, little bit romance

Rating: T

Summary: Sendirian dan kesepian bukan hal yang menyenangkan untuk dinikmati.Tapi,keterlibatan orang lain yang tidak diharapkan bisa lebih menyebalkan.

 

Ayahku adalah pria hebat. Bahunya tegap dan kuat, begitu juga dengan kakinya. Ia mampu menggendongku menaiki bukit untuk melihat matahari terbenam setiap hari Sabtu. Tidak hanya itu, ia juga mahir sekali memasak. Apapun yang ingin aku makan, ia selalu bisa membuatnya. Ialah yang selalu mengantarku ke sekolah setiap pagi dan memberiiku lima butir biskuit coklat yang sangat kusukai sebelum aku memasuki gerbang. Hobinya adalah menonton pertandingan tenis. Ia selalu mencoba untuk bermain seperti pemain tenis andalannya namun tetap saja kemampuannya payah. Aku selalu tertawa jika ayah gagal melakukan servis. Ia sama sekali tidak mahir dalam bidang yang amat disukainya itu. Kemahirannya banyak sekali dan tentu saja salah satunya bukan tenis. Ia bisa bermain sepakbola, bersepeda, gulat, dan masih banyak sampai aku lupa apa saja bidang yang dikuasai ayahku. Setiap malam, ia selalu membuatkanku susu coklat hangat sebelum tidur. Aku tidak dibacakan dongeng. Ayah lebih memilih menceritakan kisah hidupnya yang bagiku lebih seru dari cerita manapun. Tentang ia yang selalu nyaris menjadi juara kelas, -kalau saja ia tidak suka berkelahi-, dihukum memberisihkan taman oleh tetangga karena tidak sengaja memecahkan kaca saat bermain baseball dan yang paling menarik adalah saat ia menyambut kelahiranku, dimana ia sangat panik sampai salah memasuki kamar pasien.

Aku suka saat ayah mengajakku pergi arena berkuda setiap hari Kamis. Oh, ya. Ia juga sangat pandai berkuda. Ia mengajariku bagaimana cara mengendalikan kuda yang baik agar mau menurut. Kami selalu menggunakan kostum koboi jika pergi kesana.

Wajahnya tampan. Rambutnya kecoklatan seperti kayu eboni sementara milikku hitam, yang katanya seperti ibu. Garis wajahnya tegas, namun jika sudah tersenyum ia nampak ramah sekali. Ia suka walau tidak pandai membuat lelucon, setidaknya yang selalu berhasil membuatku tertawa atau bahkan mengernyit tidak mengerti.

Benda favorit ayah adalah sebuah syal rajut yang selalu menggantung di ruang keluarga. Warnanya merah dengan kombinasi hijau. Jika ayah lelah sepulang bekerja, ia pasti akan membawa syal itu ke kamarnya. Ia pernah marah besar saat aku mencoba untuk menyentuhnya. Aku memang anak nakal dan suka penasaran. Dan setelah melihat ayah semarah itu, aku tidak berani lagi memegang syal yang ia bilang adalah hadiah ulang tahun dari ibu natal pertama mereka.

Jika aku harus menceritakan semua tentang ayahku, mungkin ratusan lembar buku pun takkan cukup. Terlalu banyak. Dan ayahku terlalu hebat untuk dituliskan dengan kata-kata. Aku bangga padanya. Kelak, aku berjanji akan menjadi pria hebat seperti ayah. Tak pernah sekalipun ia terlihat bersedih. Ia selalu tersenyum, bahkan tertawa sekalipun aku tahu, hatinya sedang merasa sedih. Contohnya saat pusara ibu terpaksa harus dibongkar dan dipindahkan tanpa sepengetahuan kami. Ayah memang sempat terdiam dan tidak bicara, tapi kemudian ia tersenyum lagi dan mengajakku membeli permen kapas di taman bermain sambil menghabiskan waktu.

Idolaku adalah ayahku sendiri. Artis sehebat apapun, atlet setangguh apapun dan ilmuwan sepintar apapun, tak ada orang yang lebih kukagumi selain ayah. Sayangnya, aku tidak mewarisi kehebatan ayah. Aku hanya menyukai bidang-bidang itu, namun tidak menguasainya. Aku mungkin punya jalan sendiri. Dan ayah tidak pernah memaksaku untuk mengikuti jalannya. Aku suka music. Aku suka bernyanyi. Aku suka bermain piano. Ayah bilang, aku mirip sekali dengan ibu. Ayah bertemu ibu di salah satu pentas drama musical klasik dan saat itu, ibu menjadi salah satu pemerannya. Walaupun bukan yang utama, tapi ayah bilang ibu sangat bersinar di matanya dan nyanyiannya sangat indah.

Ayahku hebat. Aku sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Ia adalah salah satu manusia paling unggul yang pernah Tuhan ciptakan, dan beruntungnya diriku karena ia ditakdirkan untuk menjadi ayahku, bagian dari diriku dan akan selamanya begitu.

Hujan turun membasahi bumi dan menguarkan bau tanah. Beberapa payung mengembang melindungi pemiliknya dari guyuran air yang cukup lebat sore ini. Beberapa kali kilat melintas di langit disusul gemuruh petir yang mengejutkan. Beberapa orang sibuk mencari tempat berlindung agar kemungkinan terkena penyakit yang diakibatkan cuaca buruk bisa berkurang. Tidak hanya hari ini, namun beberapa hari ke belakang, hujan lebat selalu turun. Aktivitas luar ruangan terhambat dan terpaksa diatur ulang. Sementara yang berkegiatan dibawah atap kokoh, tak usah repot-repot memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh cuaca yang kurang bersahabat.

Di suatu tempat, hujan juga sedang mengguyur. Ada yang sedang berlangsung disana. Suasana sangat khidmat saat peti diturunkan ke tanah. Orang-orang berpakaian hitam itu sedang berkabung. Beberapanya menangis tersedu, atau sekedar menunduk. Prosesinya tak lama. Mereka mulai bepergian, kembali ke hidupnya masing-masing juga melupakan kesedihan yang sempat menyelimuti walaupun sebagian besar hanya merupakan bentuk formalitas, bukan benar-benar merasakannya. Mereka sadar, saat kematian datang, mereka juga ingin diantar orang banyak.

Bagi anak yang berada dibalik pohon cukup jauh dari pusara baru itu, apa yang baru saja dilihatnya hanyalah sebuah mimpi. Hidung kecil namun mancungnya itu memerah, begitu juga dengan sepasang mata bulatnya yang jernih. Isakan kecil meluncur dari bibir mungilnya. Tangannya mengusap kasar air yang baru saja turun ke pipinya. Ia juga berpakaian hitam dan ia benci. Seharusnya, yang ia pakai hari ini adalah jas hujan kuning favoritnya  dan payung berwarna pelangi karena itulah pakaian yang harus ia kenakan saat hujan. Ia benci bunga-bunga putih itu. Ia benci orang-orang yang menangis itu, dan ia benci menerima fakta bahwa hari ini adalah nyata, bukanlah mimpi. Ia juga benci harus mengeluarkan air mata. Dadanya sangat sesak, bukan karena sistem pernafasannya terganggu, namun karena tangisnya yang ditahan sekuat tenaga. Ia tidak mau menangis meraung walau ia mau.

Setelah pusara itu benar-benar tidak dikelilingi siapapun, ia mulai melangkah dengan ragu dan berjongkok disampingnya. Ia menatap kosong gundukan tanah basah itu.

Lama sekali ia berada disana. Sampai langit hitam pekat pun, ia masih berdiam diri dalam posisi yang sama. Tubuhnya mungilnya sudah basah kuyup. Kepalanya terasa sangat pening, namun ia enggan beranjak.

Sebuah suara langkah kaki beradu dengan tanah yang berair membuat bulu kuduknya meremang. Ia ketakutan, tapi berusaha tetap tenang. Ia menenggelamkan wajahnya dibalik telapak tangan. Ia tidak mau melihat dan mengetahui, jika memang yang ada disampingnya itu adalah makhluk menyeramkan. Ia berjanji, apapun yang terjadi, ia tak mau pergi dari sana sekalipun ada pembunuh, penjahat atau hantu didekatnya.

Anak itu mencoba melirik kearah samping. Ada seorang pria yang sedang berdoa disana. Setelah memberianikan diri, ia mulai mendongak dan di saat yang sama, pria itu tengah menatapnya walau wajahnya nampak samar karena cahaya sangat minim, belum lagi pandangannya yang memburam akibat terlalu banyak menangis.

Mereka beradu pandang tanpa mengatakan apapun. Ia masih berjongkok, sementara pria itu kini hendak menyimpan karangan bunga putih diatas pusara.

“Jangan menyimpannya disana. Jangan pernah.” cegah anak yang kini telah berdiri dan menahan tangan si pria.

“Kenapa?”

“Ayah bilang, bunga itu adalah simbol kematian.”

Jawaban itu sontak mengurungkan niat si pria tadi untuk menyimpan karangan bunganya. Ia menjatuhkannya ke tanah dan menatap anak yang malang itu.

“Ayah tidak akan suka bunga itu. Aku juga tidak suka..” katanya datar, nyaris tanpa beban. Entah memang tidak ada beban atau malah terlalu berat sehingga sulit ditampakkan.

Si pria berlutut guna menyamakan tinggi badannya dengan anakkecil yang ia tahu, sedang berusaha untuk tidak menangis.

“Maaf, ” gumamnya, “Kau pasti kedinginan. Berapa lama kau berada disini, hm?”

Pertanyaan itu tidak dijawab. Namun, pria tadi melepas jas hitamnya dan memakaikannya pada si anak. Ia merasa iba. Tubuh anak itu amat dingin dan basah. Belum lagi wajahnya yang pucat, bibirnya yang sudah mulai memutih dan hidungnya yang memerah menandakan bahwa ia sedang mati-matian menahan rasa dingin.

“Aku akan berada disini sampai ayah datang menepati janjinya.”

Si pria membelai rambut si anak dan mengeringkannya dengan sapu tangan merah yang baru saja ia ambil dari saku celana. Ia juga tak menanyakan lebih lanjut apa janji yang dimaksud oleh anak itu.

“Tadi aku bermain piano di panggung besar dan ayah tidak datang. Ia bilang, ia pasti datang dan duduk di kursi paling depan membawakanku buket bunga.”

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Kemeja putih si pria sudah mulai basah karena hujan masih turun walau tidak lebat dan hanya berupa rintik kecil. Ia juga kedinginan. Tapi ia tahu, anak itu jauh lebih kedinginan luar dalam. Hatinya juga sedang dingin, dirundung duka. Ia dapat menyimpulkan bahwa pria yang baru saja dimakamkan adalah ayah dari si anak.

“Kau harus pulang sekarang, ya? Ini sudah malam. Aku akan mengantarmu.”

“Pulang?Untuk apa jika di rumah tidak ada ayah.”

Ini akan menjadi hal yang sulit, pikir pria itu. Anak yang cukup keras kepala. Ya, wajar saja. Ia tahu bagaimana kondisi anak sekecil itu jika ditinggal orang yang paling berarti. Akan berat. Ia saja yang sudah dewasa pasti akan merasa sangat tertekan. Apalagi anak itu.

“Ibumu?Ia pasti khawa-“

“Ibuku sudah tidak ada.”

Lantas pria itu mendehem karena menyesal perkataannya tadi hanya memperburuk suasana. Anak itu sebatang kara. Hatinya mencelos. Ia jadi memikirkan bagaimana anak itu bisa hidup tanpa ayah dan ibunya?

“Keluargamu yang lain?” tanya pria itu pelan dan ragu.

Anak itu mendongak dan menatap bengis padanya, ”Aku tidak pernah tahu kalau aku punya keluarga selain ayah dan ibu. Aku tidak butuh diantar. Pergilah. Mungkin kakak yang sedang ditunggu.”

Jika boleh menjawab, ia akan memberiitahu anak tersebut bahwa ia tinggal sendiri. Tidak ada yang menunggunya malam ini. Tentu saja akan tidak lucu jika ia benar-benar menjawab seperti itu.

“Baiklah.”

Sepeninggal pria itu, yang bahkan kini sosoknya tak terlihat lagi, anak itu masih diam. Tak ada sedikitpun niatan untuk beranjak. Tidak usah diberitahu, ia pun sudah tahu betul kalau malam sudah mulai larut. Sekarang, kepalanya benar-benar pusing tak tertahankan. Tubuhnya lemas, perutnya mual, dan untuk sekedar membuka matapun ia merasa tidak sanggup. Semua terasa berbayang, dan tiba-tiba gelap.

Seokjin hanya berbohong. Ia tentu saja tidak tega meninggalkan anak itu sendirian. Ia hanya bersembunyi dibalik pohon dan melihat apa yang terjadi. Jika memang anak itu masih diam, ia terpaksa harus ‘menculiknya’ karena keadaannya sudah mengkhawatirkan. Tak peduli jika anak itu akan menolak sekeras apapun.

Setelah mengunjungi pusara nenek dan kakeknya tadi, ia tak sengaja menangkap sesosok bocah yang tengah mengguyur dirinya dibawah hujan deras. Akhirnya ia memutskan untuk menghampirinya dan berdoa di pusara tersebut. Kebetulan sekali, bunga yang ia beli masih tersisa. Namun seperti yang diketahui, sang anak tidak mau Seokjin menaruh bunga itu di pusara ayahnya. Seokjin mengerti.. Bunga putih adalah simbol dari kematian dan duka. Sementara anak itu beranggapan bahwa ayahnya masih ada dan belum pergi. Atau lebih tepatnya lari dari kenyataan buruk.

Kemudian ia terkejut saat melihat tubuh mungil di hadapan pusara itu limbung dan terbaring di tanah. Dengan sigap, ia menghampirinya dan membawanya ke dalam mobil. Setidaknya menghangatkan tubuhnya, lalu anak itu akan siuman dan memberiitahu alamat rumahnya. Sampai besok pagi, ia bisa menjaga anak itu kemudian berusaha mencari informasi tentang sanak-saudaranya. Seokjin yakin, pasti anak itu punya paman atau bibi, nenek atau kakek, atau siapapun yang punya pertalian darah dan mau mengasuh anakmalang tersebut. Usianya masih kecil dan mustahil dibiarkan hidup sendirian.

“Ya Tuhan, bagaimana ini?Apa aku harus membawanya ke rumah sakit?” gumam Seokjin pada dirinya sendiri.

Tidak ada tanda-tanda bahwa anak itu akan siuman. Sepertinya ia sudah ada di bawah guyuran hujan sejak sore, atau bahkan siang karena memang hujan tak kunjung berhenti.

“Ayah, kemana kau akan pergi?Tunggu aku!”

Padang rumput itu amat luas, seakan tak berbatas.. Dengan kaki kecilnya yang beralas sepatu boots kuning juga jas hujan yang berwarna sama, ia berlari kepayahan menerjang hujan yang masih saja setia mengguyur bumi. Ia harus mengejar pria itu, yang kini tengah berjalan beberapa puluh meter di depannya.

“Ayah!”

Suaranya melengking memecah langit. Tapi pria itu tak kunjung menolehkan kepalanya. Puluhan kali anak itu memanggil, namun tak ada respon. Lari, lari dan terus menerus berlari walau nafasnya tersengal dan jantungnya bergemuruh tak teratur.

Ayah.

Ya, pria itu tentu saja ayahnya yang beberapa waktu lalu sempat berjanji akan datang di penampilan perdananya bermain piano, akan bertepuk tangan paling keras dan sepulang dari sana, akan mengajaknya ke tempat paling menakjubkan. Namun janji hanya sekedar janji. Saat waktu yang ditunggu-tunggu itu tiba, sosok ayahnya tidak ada untuk memberiinya semangat. Setelah berhasil menemuinya nanti, anak itu berjanji akan menanyakan perihal tersebut pada sang ayah. Ia akan mengutarakan kekecewaannya.

Pria itu menghentikan langkahnya. Ia bergeming. Ini kesempatan bagi anak itu untuk menemuinya. Lalu, ia berlari sekuat tenaga hingga akhirnya sampai disamping ayahnya lalu menarik-narik tangan pria itu.

‘Ayah!Mengapa ayah menghilang?Mengapa ayah meninggalkanku?!Ayah bahkan tidak menonton pertunjukanku!’ tuntut sang anak sambil menangis.

Isakan pilunya mengalahkan suara desau angin. Baginya, menangis sekarang tidak apa-apa. Ia sedih, ia tak tahu harus berbuat apa. Ayahnya hanya diam saja.

“Ayah marah padaku?Ayah meninggalkanku karena aku nakal, ya?Nilaiku buruk?Maafkan aku yang telah membuat ayah marah..” gumamnya pelan. Ia menghentikan tangisnya dan menjadi lebih tenang.

Ayah pasti marah, pikirnya. Akhir-akhir ini dirinya seringkali menyusahkan dan membuat sang ayah menegurnya beberapa kali. Sekarang, ia sangat menyesal. Jika ayahnya marah besar lalu pergi, lalu bagaimana dengan dirinya?Ia tak mau ayahnya pergi. Jika memang harus, dirinya juga akan memaksa untuk ikut kemanapun dan selama apapun itu. Namun, ayahnya takkan pernah meninggalkannya. Ia percaya sepenuhnya karena ayahnya selalu mengatakan hal itu setiap saat.

“Aku memang anak nakal!Aku harus dihukum!Apa yang harus aku lakukan agar ayah tidak pe-“

“Ayah tidak marah, .”

Anak kecil itu mendongak, menatap wajah sang ayah dengan senyum teduhnya seperti biasa. Ia memeluk anaknya dengan sangat erat, sampai rasa hangat menyelimuti tubuh malaikat kecilnya yang amat ia cintai. Entah harus sampai kapan pelukan itu bertahan, masing-masing dari mereka tak ada satupun yang mau mengakhirinya. Tanpa kata, namun semua seolah bisa terungkapkan hanya dengan sebuah dekapan

“Bertahanlah!Ya Tuhan!”

Tubuh anak itu bergetar hebat tapi matanya belum terbuka. Seokjin panik bukan main. Ia menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di rumah sakit dan anak itu bisa ditangani. Ia tidak mau ada hal buruk yang terjadi. Sempat beberapa kali mobilnya hampir menabrak kendaraan lain. Jantungnya berdebar kencang. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah membuat anak itu selamat secepat mungkin.

Hatinya kini benar-benar terenyuh. Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul. Bagaimana kalau ia yang ada di posisi anak itu?Akankah ia menghadapinya dengan kuat atau tidak? Ia seharusnya mensyukuri keluarganya yang masih lengkap. Tapi yang selalu ia lakukan hanyalah mengeluh, mengeluh dan mengeluh tentang ibunya yang overprotektif, ayahnya yang terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadinya dan kakaknya yang selalu menganggap dirinya adik kecil. Keluarga adalah harta terbaik yang Tuhan berikan. Jika harta berupa materi hilang, keluarga takkan pernah hilang. Bahkan kehadiran mereka bisa menggantikan bongkahan berlian yang ada di seluruh dunia.

Sekarang yang anak itu butuhkan adalah kasih sayang. Dan mungkin ia bisa sedikit membantu dengan membuatnya ceria kembali. Walau bagaimanapun, anak itu harus tetap bertahan hidup dan melanjutkan meraih mimpinya yang entah apa, tapi Seokjin yakin sangatlah besar.

Jarak rumah sakit terasa jauh sekali karena efek dari rasa cemasnya. Ia bahkan lupa kemana ia harus berbelok, kiri atau kanan, utara atau selatan dan barat atau timurnya ia benar-benar lupa kalau saja tidak segera membuat dirinya sedikit lebih tenang. Jalan raya juga sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.

“Kau pasti akan selamat. Bersabarlah sebentar lagi, ya?Bertahanlah karena kau harus tetap hidup.” ujar Seokjin sembari melirik ke jok belakang, tempat dimana anak itu sedang terbaring lemah dengan tubuh yang masih saja bergetar hebat.

Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berdoa dan memacu mobilnya lebih cepat.

“Mengapa ayah harus meninggalkanku? Bahkan beberapa hari ke belakang, aku hanya tinggal sendirian dan aku sangat kesepian. Aku membutuhkan ayah. Jangan pergi lagi..”

Tidak ada jawaban. Anak itu masih ada dalam dekapan sang ayah yang hangat dan dirindukannya. Beberapa hari, mungkin tiga kalau tidak salah menghitung, adalah waktu yang sangat lama bagi sang anak. Ayahnya tidak pulang ke rumah dan ia sendirian. Entah kemana, ia tidak mendapat kabar apapun. Lebih dari rasa khawatir dan sedih yang ia rasakan atas hilangnya sang ayah. Ia sudah mencarinya, menanyakan pada rekan-rekan ayahnya, dan melakukan segala usaha agar ia bisa bertemu kembali dengan ayahnya. Sebelumnya ia tidak pernah ditinggalkan seperti itu.

“Ada yang harus datang, juga pergi. Ada yang harus diganti, juga menggantikan. Ada yang harus berlalu, juga berlangsung. Kau harus mengerti itu..”

Anak itu tak peduli. Apapun yang ayahnya katakan, ia akan terus memaksa pria itu untuk tinggal dan selalu disampingnya. Ia tak bisa jika harus sendirian. Ayahnya sangat berharga baginya.

“Pokoknya ayah tidak boleh pergi lagi!” teriak sang anak.

“Ayah harus-“

“Tidak boleh!”

 “Ayah harus pergi. Sekarang waktunya ayah bertemu dengan ibu.”

Ibunya? Bukankah ia sudah..?

Entah, anak itu hanya membisu mendengar penuturan ayahnya. Ia tidak pernah diajari untuk membantah dan ayahnya pun melarang. Tapi sekarang hal itu dirasa perlu untuk dilakukan. Jika tidak, ayahnya akan pergi dan ia akan sendirian. Hidupnya akan terasa sangat sepi dan menyedihkan. Tak ada lagi yang memberiinya kasih sayang yang tulus, tidak ada lagi yang menyemangatinya untuk sekolah dan juga tidak ada lagi yang menemaninya.

“Tapi kenapa? Apa ayah tidak menyayangiku lagi? Mengapa ayah tidak membawaku juga? Kita bisa berkumpul dengan ibu dan aku tidak akan sendirian jika ayah mau membawaku!” bantahnya kemudian.

“Kau belum menyelesaikan banyak hal, Jeon Jungkook.”

Jeon Jungkook.

Anak semata wayang yang ia rawat sendiri sejak lahir karena sang istri harus mengorbankan naywanya demi kehidupan baru untuk buah cinta mereka. Anak yang cerdas, berbakat, kritis dan sangat ia banggakan. Anak yang kini harus ditinggalkannya karena takdir yang sudah digariskan Tuhan. Ia menaruh harapan besar pada harta paling berharganya itu. Sayangnya kini dirinya tak bisa melihatnya tumbuh dewasa. Seharusnya ia bisa, namun apa boleh buat.

“Banyak sekali hal yang harus kau selesaikan. Jika kau pergi dan tugasmu tidak selesai, ayah akan kecewa.”

Jungkook tak mau membuat ayahnya kecewa. Tapi, ia juga tak bisa membiarkannya pergi.

 

 

One thought on “Ready, Set, Don’t Go (Chapter 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s