[Movie Festival 3] Gray Paper by Liana D.S

graypaper

-IFK Movie Festival 3-

GRAY PAPER

scriptwriter Liana D. S.

starring

EXO’s Chen (Kim Jongdae) and Super Junior’s Yesung (Kim Jongwoon)

genre Family, Angst, Sci-Fi, dystopian!AU duration Vignette (netto 2,7K+ words) rating General Audiences

[Warning] Potentially confusing alternate universe! Read carefully.

.

“Aku membuat janji yang tak bisa kujaga. Sekali. Dua kali.”

***

Pada awal tahun 2805, sektor-sektor penting dalam kehidupan manusia, termasuk pemerintahan, telah dikuasai oleh sistem kendali komputer. Keputusan-keputusan penting tidak diambil berdasarkan akal pikiran dan nurani manusia, melainkan berdasarkan algoritma pikir dua kutub dari mesin-mesin cerdas: iya dan tidak, hitam dan putih, tanpa pertimbangan-pertimbangan lebih lanjut. Hal ini semula dianggap memudahkan oleh para petinggi negeri karena mempersingkat waktu penentuan kebijakan, tetapi seiring waktu, rakyat semakin dirugikan dan akhirnya muncullah pemberontakan-pemberontakan. Di Asia Timur, orang-orang dari Area 86 dikenal paling keras menentang sistem ini. Mereka sudah menonaktifkan segala ‘pejabat mekanik’ dalam wilayah mereka dan memisahkan diri dari Area 84 serta Area 81 yang masih bergantung pada sistem. Namun, teknologi terus diperbarui dan dalam waktu singkat, sistem kendali komputer yang sebelumnya hanya terdiri dari mesin penentu keputusan berubah menjadi penguasa tanpa tandingan. Mesin-mesin ini secara tidak langsung menyingkirkan para penentang sistem dengan rencana yang meyakinkan, sehingga para petinggi patuh-patuh saja dengan apa yang mereka sarankan. Nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan untuk meredam pemberontakan dan menciptakan perdamaian semu. Ujungnya, Central LeadWare—aplikasi politik termutakhir yang berpangkat setara presiden—mengomando Divisi Keamanan Area 84 dan Area 81 untuk mempersiapkan serangan besar-besaran ke Area 86.

Sebenarnya, serangan ini berpotensi menjadi permulaan kejatuhan peradaban manusia. Jika Area 86 berhasil dimusnahkan oleh serangan besar ini, maka itu akan menjadi simbol lumpuhnya nurani manusia, yang hanya bisa menuruti apa kata-kata komputer tanpa melihat efeknya pada manusia lain. Beruntung, seorang pejabat Divisi Keamanan Area 84, Kim Jongwoon, memiliki rencana lain.

***

“Ayah, hiks… tadi Kak Yi Xing dan Kak Lu Han berpamitan padaku di sekolah. Katanya mereka akan pergi dari Area 84 untuk selamanya… Kenapa, Yah? Apa karena mereka dari Area 86? Hiks… aku tidak mau berpisah dengan mereka…”

“Sayangnya kita harus berpisah dengan mereka, Jongdae-ya. Area 86 dan Area 84 sekarang bermusuhan.”

“Kenapa?! Padahal aku dan teman-teman tidak pernah membenci Kak Yi Xing dan Kak Lu Han…”

“Central LeadWare yang membenci mereka karena orang-orang Area 86 tidak mau dikendalikan oleh komputer, berbeda dengan kita.”

“A-aku kangen mereka, Yah… Aku ingin bertemu mereka lagi… Aku mau main sama Kak Yi Xing dan Kak Lu Han lagi…”

“Suatu saat, Jongdae-ya. Suatu saat, kamu pasti bisa melihat Area 86 dan Area 84 bersatu lagi. Ayah berjanji.”

Kata orang, waktu tak akan mematikan janji maupun kenangan.

Omong kosong. Kim Jongwoon selalu menjanjikan macam-macam saat aku kecil, tetapi tak satupun berhasil ia wujudkan. Janjinya telah kadaluarsa sekarang.

Langit Area 86 memerah karena interferensi gelombang senjata radioaktif yang digunakan dalam latihan perang. Kim Jongdae, kini berusia 20 tahun, menduga-duga apakah sama warna langit yang ia lihat ini dengan yang dilihat ayahnya di Area 84. Wacana penyerangan oleh Area 84 sudah terdengar sejak jauh hari, tetapi sepertinya baru besok Jongdae si pembelot akan bertempur melawan ayahnya sendiri. Kim Jongwoon pasti sudah tahu bahwa anak tengahnya kini telah bergabung dengan pasukan Area 86, jadi kalau pria tua itu cukup terbebani dengan fakta ini, langit yang ia lihat pastilah hanya berwarna kelabu.

Ah, tapi Jongdae ragu.

Kim Jongwoon tidak takut menghancurkan sahabatnya sendiri di Area 86 karena otaknya sudah dikeruhkan pejabat-pejabat robotik itu. Kurasa dia juga tidak akan segan-segan menghabisi anaknya—kalau ia masih menganggapku anak.

Rasa sakit menusuk Jongdae dari segala arah setiap mengingat statusnya sebagai mantan anak Jongwoon. Sesungguhnya, kasih Jongdae untuk sang ayah tidak berkurang sedikitpun, tetapi Jongdae tidak menyukai ideologi yang ayahnya anut. Jongdae masih berpendapat bahwa yang harusnya menduduki pemerintahan Area 84 adalah manusia, bukan komputer seperti sekarang ini. Central LeadWare harus digeser oleh presiden betulan, menurut Jongdae, sedangkan Jongwoon beranggapan Central LeadWare memimpin negara dengan lebih baik dibanding manusia yang egosentris. Selain itu, Jongwoon menyetujui ide Central LeadWare untuk memusnahkan para pemberontak sistem, yaitu penduduk Area 86, padahal secara moral, itu sama saja pembunuhan skala besar yang tak berdasar hukum kuat. Dari ketiga putra Jongwoon, hanya Jongdae yang cukup berani untuk menolak rencana itu dan melarikan diri ke Area 86 dengan pesawat personalnya, Aerobus. Ia temui kawan-kawannya untuk mengatur strategi menghadapi serangan dari Area 84 dan Area 81.

Tapi semakin dekat dengan hari pertempuran, ingatan tentang pria sipit penyabar yang Jongdae sebut ‘Ayah’ masih terus mengganggu.

“Langit merah jelek ya, Yah. Aku lebih suka langit biru pada pagi hari atau hitam di malam hari.”

“Ayah juga tidak begitu suka. Omong-omong, kamu tahu kenapa langit memerah, Jongdae-ya?”

“Kenapa?”

“Karena ada manusia awan yang ceroboh menumpahkan kuah tteokboki saat makan. Jadi jangan tumpahkan kuahmu, nanti mengotori sekitar seperti manusia awan itu.”

Jongdae tersenyum getir. Bahkan setelah ia tahu penyebab sebenarnya dari langit merah yang jelek ini, penuturan sang ayah belum mau meninggalkan kotak ingatannya.  Saat ia masih kecil, Jongwoon memangkunya setiap sore di teras rumah, membicarakan hal-hal trivial semacam kuah tteokboki yang menumpahi langit atau bersembunyinya bintang di balik tirai awan senja. Tangan Jongwoon setia menutup mata dan telinga Jongdae dari isu-isu politik yang kelam, meski pada hari kepergian kawan-kawannya, Jongdae mengetahui semua yang kelam itu.

Tangan itu pula, barangkali, yang akan mengantar Jongdae pada kematian dalam pertempuran besok.

Memandangi langit merah malah melebarkan luka di jiwa Jongdae, maka Jongdae masuk lagi ke tenda perangnya dan beristirahat. Ia harus menyiapkan mental untuk menyerang (atau diserang) siapapun yang ia hadapi besok; bisa jadi adiknya, kakaknya, atau yang paling buruk, ayahnya.

Mungkin ungkapan ‘waktu tak akan mematikan janji maupun kenangan’ tidak sepenuhnya salah. Waktu memang tidak mematikan janji maupun kenangan. Mekanisme pertahanan diri manusialah yang mematikannya agar mampu melewati waktu-waktu sulit tanpa digantungi manisnya masa lalu.

Contohnya saja Jongdae yang berusaha menyangkal kerinduannya kepada Jongwoon.

***

Ratusan unit Aerobus tempur memenuhi angkasa, dari Bumi tampak seperti kawanan burung warna-warni. Yang bersayap merah milik Area 86, yang biru milik Area 84, dan yang putih milik Area 81. Jongdae mengoperasikan salah satu Aerobus merah. Ia tembakkan peluru radioaktif raksasa pada pesawat-pesawat biru dan putih selagi menghindari ledakan senjata lawan. Tiap menjatuhkan satu Aerobus bersayap biru, Jongdae cemas. Mungkinkah di dalam sana ada kakaknya atau adiknya? Mereka tergabung dalam pasukan utama; Jongdae akan mengutuki dirinya sendiri jika ternyata salah satu dari mereka terbunuh di tangannya.

Jongwoon? Tidak, para pemimpin pasukan tidak berada di garis depan. Pesawat tempur mereka biasanya berada di sekeliling Chief Aerobus alias pesawat induk, jadi Jongdae tidak khawatir membunuh ayahnya sendiri. Chief Aerobus Area 84 berada jauh dalam formasi, terlindung puluhan pesawat kecil yang sedikit demi sedikit mulai berjatuhan.

Untuk saat ini tak masalah karena Jongdae belum mencapai Jongwoon.

Duar!

“Ukh!”

Aerobus Jongdae oleng karena serangan tak terduga dari arah jam 2, beruntung ‘cedera’ pesawatnya tidak parah. Yang tadi lumayan mengejutkan. Bukannya Jongdae tidak pernah merasakan guncangan dari dalam Aerobus, hanya saja saat latihan, tumbukannya tidak sedahsyat itu.

Tentu saja.

Karena suasana latihan sangat lain dengan perang yang dipenuhi kebencian.

“Yah… uhuk-uhuk, b-buka pintunya… A-aku janji tidak akan makan es krim diam-diam lagi waktu flu… Ayah jangan marah, uhuk…”

“Jongdae-ya? Kenapa kamu belum tidur, ini ‘kan sudah larut? Nanti sakitmu tambah parah, lho.”

“Ayah…? Uhuk… Ayah masih marah, ya? Aku mau minta maaf…”

“Untuk apa kamu minta maaf? Ayah tidak marah, kok.”

“Tapi Ayah diam terus dari tadi sore, kenapa…”

“Cuma kecapekan saja, jadi agak malas bicara. Mana bisa Ayah memarahimu, Jongdae-ya? Marah muncul cuma karena ada benci, sementara seorang anak tidak akan membawa kebencian di hati ayahnya. Aish, ingusmu berleleran. Sini, Ayah bersihkan.”

Seorang anak tidak akan membawa kebencian di hati ayahnya, tetapi bisakah hal sebaliknya terjadi? Jika ucapan Jongwoon lima belas tahun lalu itu benar, maka mungkinkah ayah dan anak bertemu di medan perang yang udaranya pekat oleh aroma permusuhan? Ketika Jongdae merenungkan ini sembari menahan serangan lawan, komandannya memberi perintah.

“Unit 209, serang Aerobus biru pada arah 80 derajat. Kepala Divisi Keamanan Area 84 ada dalam pesawat itu.”

Sial.

Kenapa Ayah maju secepat ini?! Harusnya dia berada di pusat formasi untuk melindungi diri dan menjaga Chief Aerobus! Kalau mengekspos dirinya begini, Chief Aerobus juga jadi mudah dijatuhkan!, gerutu Jongdae dalam hati. Segera ia menghubungi balik pemimpin pasukannya, mengkonfirmasi.

“Itu bisa jadi hanya serangan pengalihan atau jebakan, Komandan.”

“Pasukan 15 sudah bersiap di belakangmu untuk mengatasinya. Serang sekarang.”

Dan Jongdae gagal mengelak dari tugas. Seraya berharap agar yang ada di pesawat targetnya bukan Jongwoon, ia menembakkan peluru radium dua kali. Pesawat Aerobus sayap biru itu melakukan manuver-manuver cerdik untuk menyelamatkan diri, membuat komandan Jongdae gerah. Sang pemimpin pasukan terus mendesak Jongdae agar menggunakan peluru radium energi tinggi dan menepatkan serangannya, tetapi Jongdae berkelit dengan segala cara agar tidak menyerang Aerobus biru itu lebih lanjut.

Padahal Jongdae tidak boleh begini. Di medan perang, lawan adalah lawan, terlepas dari adanya ikatan darah dan kenangan indah yang pernah dijalin bersama. Lagipula, sekarang Jongdae sepenuhnya memihak dengan Area 86, jadi—

“Oi, Jongdae-ya. Jongdae-ya, jawablah kalau kau dengar.”

Deg!

Mustahil! Jongdae membetulkan antena telepathic device—alat komunikasi berbasis pemancar gelombang otak—yang terpasang di depan telinganya. Alat itu mestinya hanya dapat menangkap gelombang otak komandannya dan unit lain dari Area 86, tetapi kenapa suara familiar ini ikut masuk? Terlebih setelah suara ini menginterupsi, Jongdae tidak dapat mendengar suara komandannya atau unit lainnya, sama sekali.

“Ayah?”

“Oh, bisa masuk ternyata,” Jongwoon—yang entah bagaimana dapat menembus jaringan telepati pasukan Area 86—terdengar riang, “Lama tidak ketemu. Suaramu masih cempreng, ya.”

“Ini bukan saatnya reuni, Yah! Situasinya sedang ka—“

“Dan kau masih memanggilku ‘Ayah’? Aku senang sekali.”

Jongdae bungkam. Sekali lagi denyutan nyeri yang akrab itu menghujamnya, merasa bersalah dan malu karena ucapan Jongwoon, meski sang ayah tidak bermaksud menyakitinya. Sikap tidak logis Jongwoon ini tidak berubah, masih semengesalkan dulu, tetapi di saat bersamaan senantiasa berhasil meluluhkan kerasnya hati Jongdae.

“Awas, Jongdae-ya. Peluru radium arah jam 3.”

Gelagapan, Jongdae membelokkan pesawatnya sesuai arahan dari Jongwoon. Ia benar-benar kehilangan fokus sekarang.

“Karena kita tidak punya banyak waktu, aku akan cepat saja,” Kembali suara Jongwoon terdengar, “Kau ingat janjiku untuk mempertemukanmu dengan teman-temanmu di Area 86? Aku minta maaf karena tidak segera mewujudkannya. Detik ini juga, aku akan memulai pelaksanaan rencanaku untuk mengabulkan permintaanmu itu.”

Dahi Jongdae berkerut, terlebih ketika Aerobus Jongwoon berputar 180 derajat terhadap sumbu vertikal. Kini pesawat tempur bersayap biru itu menghadap Chief Aerobus, memunggungi pesawat tempur lain yang berada di garis depan.

Perasaan Jongdae buruk sekali soal ini.

“Ayo, naik.”

“Jangan. Bahu Ayah ‘kan sedang sakit. Selain itu, kenapa tiba-tiba Ayah ingin menggendongku di bahu?”

“Kamu tidak ingat, ya, janji Ayah seminggu lalu untuk berpura-pura menjadi Aerobus jika kamu mau makan sayur? Nah, karena tujuh hari belakangan Ayah sibuk, baru sekarang Ayah bisa mengabulkannya. Makanya ayo naik.”

“Tapi kasihan Ayah… Aku tidak jadi main Aerobus, deh. Kapan-kapan saja biar… hua!!! Bahumu, Yah, bahumu nanti sakit!”

“Aerobus tidak pernah sakit bahu, tau. Nah, sekarang kita terbang ke mana, Pilot Kim?”

Jongdae meneguk ludahnya sulit. Sejak dulu, untuk urusan pemenuhan janji kepada anak-anaknya, Jongwoon tidak pernah melihat waktu. Tidak ada istilah janji kosong; Jongwoon hanya akan menunda untuk memenuhi janji itu, dan meskipun untuk memenuhi janji itu akan menyakiti dirinya, Jongwoon tidak peduli. Janji adalah hutang dan kebahagiaan anaknya adalah bunga yang menyertai hutang itu, maka Jongwoon bersedia terluka demi membayarnya.

Benar.

Janji Jongwoon tidak pernah kadaluarsa.

Aerobus biru Jongwoon terbang lurus ke atas sehingga posisinya lebih tinggi dari pesawat-pesawat tempur yang lain. Manuver ini makin menguatkan dugaan Jongdae tentang apa yang akan dilakukan Jongwoon setelahnya.

“Walaupun secara teknis, kau sudah berada bersama teman-temanmu di Area 86 sekarang ini, tetapi kalian tidak akan benar-benar bersama jika sumber masalah tidak dimusnahkan, bukan?”

“Tidak,” Dengan pikiran kalut, Jongdae berteriak melalui telepathic device sekalipun transmisi gelombang otak saja cukup untuk bicara, “Jangan lakukan, Ayah!”

Tapi Jongwoon melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju titik vital Chief Aerobus Area 84 tanpa menggubris permintaan putranya.

“Kenapa? Inilah satu-satunya cara agar Area 84 dan Area 86 bersatu dalam perdamaian. Setelah Central LeadWare dalam Chief Aerobus itu hancur, ikatan kita sebagai ayah dan anak pun akan pulih, bukan? Setelahnya, kuharap kau mau pulang dan memaafkan ayahmu yang payah ini, Jongdae-ya.”

Dari nada bicara saja, segala ekspresi Jongwoon tergambar jelas dalam benak Jongdae. Penyesalan, kerinduan, senyum menyambut yang tidak pernah pudar. Tak banyak kata terucap, tetapi cukup untuk memperdalam rasa bersalah Jongdae. Pilot Aerobus unit 209 itu tidak lagi melancarkan serangan ke pasukan Area 84 yang mulai kocar-kacir karena aksi tak terduga Jongwoon. Jongdae hanya terus menghindar dari serangan yang masih diluncurkan lawan sembari mengamati Aerobus Jongwoon. Kata-kata untuk menahan Jongwoon tidak lagi berguna—dan Jongdae jadi semenyesal ayahnya sekarang. Seandainya dulu Jongdae tidak bersikeras menemui teman-temannya di Area 86, maka waktunya bersama Jongwoon akan lebih panjang. Jauh lebih panjang. Tapi untuk saat ini, Jongdae tak ingin diam. Tinggal beberapa detik sebelum pesawat Jongwoon hancur dan ia tidak mau menyia-nyiakannya. Ia akan mengatakan sesuatu yang lama menggantung di ujung lidahnya.

“Ayah… aku juga minta maaf… karena sudah jadi pembangkang selama beberapa tahun terakhir. Aku…” Suara Jongdae bergetar sedih, “…menyayangi Ayah.”

Jongwoon tertawa dan bagi Jongdae, itu terdengar seperti salam perpisahan.

“Tidak apa-apa, Jongdae-ya. Terima kasih sudah menyayangi Ayah.”

***

Duar!

Bzzt.

***

Koneksi telepathic device Jongdae dan Jongwoon terputus. Kemarahan komandan Jongdae tertangkap kembali oleh alat tersebut, menggelegar menggantikan ketenangan Jongwoon, tetapi suara itu tidak mengusik Jongdae. Dengan pemandangannya yang dikaburkan air mata, sang pilot muda menyaksikan Aerobus ayahnya menumbuk kuat-kuat pesawat induk Area 84. Chief Aerobus meledak, mulanya dari kanan, lalu ledakan itu ‘merambat’ hingga ke sisi lain dari badan pesawat. Komandan Jongdae tidak lagi marah-marah. Sebaliknya, ia melaporkan ke seluruh unit Aerobus milik Area 86 bahwa Central LeadWare, yang berada dalam Chief Aerobus, telah hancur. Lebih lanjut, ia juga melaporkan bahwa Kepala Divisi Keamanan Area 84 sudah tewas dalam insiden (yang disengaja) itu dan pasukan Area 84 memutuskan mundur. Tidak lama, pasukan Area 81 yang juga berantakan akibat tindakan Jongwoon itu ikut menarik diri.

‘Presiden robotik’ Area 84, Central LeadWare, yang seakan-akan menguasai dunia untuk selamanya, telah dimusnahkan. Serangan ini menjadi tonggak awal dari bangkitnya peradaban manusia yang sempat terdegradasi sistem komputer, sebuah era di mana nurani kembali dimainkan untuk memutar roda kehidupan. Dunia ‘kekal’ yang terdiri dari ribuan komputer akan terhapus supaya manusia biasa dapat memberikan makna yang lebih abadi pada kehidupan mereka.

Tapi ini bukan akhir yang bahagia untuk Jongdae.

“Ayah, sekarang ini ‘kan semuanya terbuat dari komputer. Bagaimana kalau suatu saat nanti, manusia mengganti dirinya sendiri dengan komputer? Maksudku… eum… misalnya aku ingin lebih lama bersama Ayah, tetapi aku ‘kan tambah tua. Nah, biar tidak menua, aku mengganti badanku dengan titanium, begitu.”

“Kamu mau berubah jadi robot?”

“Memangnya Ayah tidak ingin?”

“Aih, Jongdae-ya. Manusia juga bisa abadi meskipun badannya tidak bertahan sepanjag waktu seperti mesin-mesin modern.”

“Kok bisa?”

“Ya bisa. Mesin-mesin bertahan lama karena mereka punya tubuh dari logam yang stabil. Manusia bertahan lama karena mereka mengukir memori yang tidak dimakan waktu.”

“Tapi manusia ‘kan bisa mati, Yah. Beda dengan mesin, kalau mati bisa dihidupkan lagi.”

“Makanya manusia membuat kenangan supaya bisa hidup terus. Contohnya sekarang, Ayah makan patbingsu bersamamu supaya kalau Ayah mati, Ayah akan hidup terus dalam ingatanmu sebagai tukang traktir patbingsu.”

“Ayah jangan mati!!! Huaaaa!!!”

“Hahaha, anak cengeng. Iya, iya, cup, sudah diam. Mau tambah pasta kacang merahnya?”

“Tidak mau… Aku… hiks… cuma mau Ayah… Jangan pergi ya, Ayah…”

Jongwoon tidak pergi ke mana-mana. Jongdaelah yang meninggalkannya dengan egois, tanpa memberikan ayahnya kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Jongwoon terus menunggu, tetapi Jongdae tidak pernah mempertimbangkan untuk kembali saat ia masih memiliki waktu. Sekarang, Jongwoon menepati janji sesuai keinginan Jongdae—dan barulah Jongdae sadar bahwa ada yang lebih berharga dibanding menepati sebuah janji.

Seluruh unit Aerobus milik Area 86 diperintahkan untuk kembali ke pangkalan, tetapi Jongdae bergerak sendiri. Ia terbang rendah sebelum mendarat sempurna di antara puing-puing pesawat lawan. Aerobus bersayap biru yang sebelumnya menabrakkan diri ke pesawat induk itu terbelah dua; Jongdae tidak menemukan tubuh ayahnya di sana. Hanya lencana Jongwoon yang tergantung lesu pada satu kepingan badan pesawat.

“Tidak mau… Aku… hiks… cuma mau Ayah… Jangan pergi ya, Ayah…”

“Iya, Ayah janji. Kamu juga, jangan tinggalkan Ayah.”

“Mm, aku janji!”

Hangat kelingking besar Jongwoon pada kelingking Jongdae cilik masih membekas seolah baru kemarin ditautkan. Begitu mudah keduanya mengucap janji, tetapi satu dari mereka saja yang berusaha menjaga janji itu, melawan akal sehat, melawan usia, melawan waktu… sebentuk kasih sayang abadi yang lebih tahan lama dari titanium. Jongdae tidak memiliki cinta yang sehebat itu, tetapi Jongwoon memberikannya—dan walaupun tubuh Jongwoon mungkin telah melebur dalam ledakan, perasaan itu tertinggal.

Di antara serpihan-serpihan mesin pesawat dan komputer pengendali Aerobus, Jongdae berlutut. Memohon ampun pada seseorang yang tidak mungkin bisa mendengarnya. Pada setiap kata maaf, terselip pengandaian-pengandaian. Andai dulu Jongdae tidak tergesa. Andai dulu Jongdae tidak termakan emosi dan begitu saja meninggalkan ayahnya. Andai Jongwoon dan Jongdae lebih banyak menghabiskan waktu bersama, walaupun tidak selamanya, itu sudah lebih dari cukup.

“Ayah, maafkan aku… Maafkan aku…”

***

Waktu tak akan mematikan janji maupun kenangan, kini Jongdae percaya itu. Dan waktu dapat bergulir dengan cara yang menyakitkan untuk orang-orang bodoh—seperti dirinya—sehingga menimbulkan penyesalan tiada akhir.

***

“Ini adalah akhirnya, sekali, dua kali.

Kubuat janji yang tak bisa kujaga, sekali, dua kali.

Sedikit demi sedikit kau menjauh, menghilang dalam langkah-langkah yang berat.

Akulah yang kini terluka, kumohon, tolong.”

(Gray Paper – Yesung)

***

TAMAT

.

.

.

.

.

OTL.

last minute idea. minim edit. perasaan tidak sampai dan kurang menggambarkan lagu serta prompt ‘Waktu’nya. cast super ultra great delicious wonderful gak terkenal di dunia per-FF-an (dan rada gak match untuk ayah anak karena muka bapak yesung itu lebih awet muda dari jongdae nyahaha). feel familynya kosong karena udah agak lama gak nulis family. event tidak teratur dan rada gak masuk akal. AU-nya ribet dan kurang dijelaskan secara mendetil. poster gak canggih.

KALAU ADA YANG BACA INI AKU SANGAT BERTERIMA KASIH!

P.S. dan terima kasih juga Fikha karena telah sementara melepaskanku dari menulis roman picisan serta mau repot-repot mengeposkan sampah tulisan ini di movfest.

27 tanggapan untuk “[Movie Festival 3] Gray Paper by Liana D.S”

  1. BHAAA!!! FINALLY, BAPAK KIM DAN ANAKNYA DIPERTEMUKAN-MESKI JUGA DIPISAHKAN- EAAAAA!!!!!
    LATAR WAKTU SUPER CANGGIH YG JADI KHAS-NYA KAKLI ❤ FEMELI-ISSUE BAPAK EN ANAK!!!! AHHHHHH, VOTE BGT!!
    HUHU, TAG LAPAK DOELOE.
    KOMENTAR LENGKAPNYA BRU BISA KUBERIKAN BESOK, KAKLI. WAITT PLEASE 🙂 ❤

    Suka

    1. yuhuuuuu, setelah dari lapak Asti, langsung caw ke warung tenda(?) sushi kak liana 😀 muahaha

      pertama-tama, aku mau komentar dulu ama CAST-nya! ya, CAST-nyaaaaa, awwww!!! pertama kali baca dua arts of voice ini dalam satu cerita dan aku kaya langsung, eyaaaaa, ini bapak-anak cucok abis!!! eaaa, pad baca area 86 aku langsung ngebayangin sungmin, eunhae, yunho ikut bergerilya gitu, wehhh, baper kakk T_T wkwkwk 😀

      dan setelah baca prolog cerita di atas, aku kaya lagi ada di planetarium, menyelami lini masa di masa depan yang diceritain sama kak liana dengan superduer detil!!! masa depan prediksi manusia bumi jaman sekarang yg mengarah ke distopia yang diadopsi kak liana ke alam cerita sci-fi yang udah khatam bagi kak liana, suka sekali daku!!! ngga gampang buat yang beginian, aku thau itu T_T

      kak liana membawa son-father relationship dengan apik. gaya penceritaan reka-ulang dengan alur maju mundur cocok untuk membawa perasaan pembaca lebih terhanyut ke dalam inti dari cerita ini; jongdae yang meninggalkan jongwoon, atau sebaliknya(?).

      baca gray paper kaya baca transformer versi upgrade tingkat tinggi, ini jauh lebih keren dari itu!! 🙂

      jangan patah semangat and keep writing kak!! 😀 😀 😀

      Suka

      1. wew aku jadi nggak enak kalo kamu menyamakan karya abalku ini dgn transformer, but thanks anyway 🙂 kamu tau kan pairing bapak-anak yg aku ngefeel itu cuman dari china-line saja tapi aku paksa juga nulis ini karena pingin munculin chen *lagian china-line udah diramu dgn apiknya oleh kak riris huhu*
        lain kali aku bakal bikin yg lebih sakit! *tekad bulat* haha makasih sdh mampir ya!

        Disukai oleh 1 orang

      2. you’re welcome 🙂
        emg sih tapi vocal-line yg satu ini terasa feel-nya 🙂 iyaya, bias kakli di exo-m ufh pd di tag sm yg lain, hehe
        wahwah, ditungguu itu kak!!!
        semangatt ‘-‘)b

        Suka

  2. KAK LIANA AKU MEWEK NANGIS BOMBAY ADUHAY T_____T
    issue perang dan keluarga memang bakalan klop kalo dijadiin satu (pengalaman nulis fic kris+sophia waktu itu, genrenya samaan tapi settingnya past). Dan, aku setuju sama kakak kalo Yesung sama chen mukanya tuaan Chen ya ampun xp
    meskipun namanya sama2 “Jong” , dan bermarga “kim” pula :3
    nah nah, utk settingnya aku udah bisa bayangin banget kak, terutama langit merah dan pencemaran udara dan pemerintahan yang mirip negara komunis itu membuatku berpikir kalau ada saatnya manusia sudah lelah membuat keputusan, mungkin mereka cari efektifnya aja, padahal Tuhan menciptakan kita penuh emosi dan kasih sayang :’)
    semoga dunia gak akan pernah kehilangan nuraninya, karena itu serem banget ya ampun 😦
    pertemuan terakhir bapak anak itu cukup bikin terenyuh kak, apalagi itu dadakan, kalo jadi aku pasti udah jingkrak2 sendiri di dalem airbus sambil teriak “bapak yang bener ajaaaaaa!!!!”
    aku bisa banget bayangin yesung nangis dengan mata+idung merah (pernah liat dia mewek di super show) dan menurutku itu menghayati bgt T_T
    aku ga komen diksi, punya kakak udah ketjeh as always :*

    Suka

    1. halo astina, maap baru bales yak 🙂
      tapi
      JANGAN SEBUT FIC KRISOPHIAMU ITU ASTINAAAA KARENA AKU SAKIT HANYA KARENA KAMU MENYEBUTNYA! sumpah ya fic itu asdfghjkl sekali dan membuat fic ini seolah tidak ada apa2nya, dan movfestmu kali ini juga penuh feel family sekaleee adeuh… memang seharusnya kita tidak terlalu menenggelamkan diri dalam genre romance, aku suka tulisan2mu yg masih berbau family-friendship yg merupakan genre kesukaanku dulu T.T
      ya ampun yesung pernah mewek ternyata. aku tau dulu aku brgkt dari fandom ELF tapi yg pernah aku tau nangis cuman bapak leeteuk, eunhyuk sama ryeowook doang :p
      makasih udah mampir ya astina!

      Suka

      1. AAAAAAAKKKKKK ;-; MAAP KAK AKU GA AKAN SEBUT ITU LAGII /kuncimulut/
        Hmm..genre romance itu sesuatu yg kurang bisa aku dalami, karena pengalaman cinta2an juga minim (fokus belajar daripada pacaran sih kak :/) jadinya aku ga tau gimana rasanya kangen, galau, nangis, marah sama sama pasangan. Nah kalo family friendship kan tiap hari ngalamin toh, tinggal ditambahin bumbu penyedap /dikira vetsin kali/ dan jadilah fanfic :3
        Aku berangkatnya dari fandom Cassiopeia , trus Elf, Shawol, Sone, Queen, dan barulah EXO-L xD
        Oke kak, sip, denger2 mau ada movie week /bener ga kak?/ , klo emg bener, next aku pingin nulis fantasyyyy (kangen sm genre ini) :3
        ciao kak Liana!! ❤ /ngilang/

        Suka

  3. YAAAAA LIANA I LOVE THIS MOVIE! SUNGGUH!
    Aku jadi ngebayangin bener2 di masa depan ala2 Matrix (?).
    Kamu bilang feel familynya kosong? Bagiku ini unsur familynya dapet >< tapi aku ngebayanginnya Chen sama Yesung malah kakak adek *oke gampar saya Li*
    Dan aku suka banget kamu bawain tema2 yang anti mainstream dengan tokoh2 yang anti mainstream juga xD jadi pembacanya ga bosen 😀
    Ohya ini alur maju-mundur kan? Alurnya juga ga membingungkan dan mudah dipahami 😀
    Dan kamu menceritakannya cukup detil juga padat ^^
    Pokoknya suka deh sama fic buatan Liana xD
    Keep writing Li~~ 😚

    Suka

    1. kak narin! iyaaah aku tidak menyangka anda akan mampir di sini XD makasih bgt kak XD
      iya lebih enak bayangin chen-yesung kakak adikan ya? soalnya kalo bapak-anakan mukanya yesung ga mendukung *eak
      sekali lagi makasih ya kak sdh mampir!

      Suka

  4. KALIANA AKU MAMPIR

    Pertamanya mikir ‘Kok bisa ya ada orang ngegabungin yesung sama chen jadi satu. Emang yha kaliana ini…’
    Abis itu mikir lagi ‘Ini si jongdae baru jadi bapak toh ya? Duh padahal udah taun segini juga’
    Lalu baru ngeh ‘LAH INI YESUNG AMA CHEN BAPAK-ANAKAN TOH’
    Speechless kak sumpah. Kayak di note kakak itu, ga match. ANW LUCU BANGET DOH

    Udah berasa kaya ini perang dunia ketiga yang mana orang ngelawan robot, anak ngelawan bapak. Sungguh manusia itu ya terkadang:”)
    DAN TEKNOLOGI DI OTAK KAKAK CANGGIH YAH
    Bisa banget bayangin perang pake pesawat-pesawat yang yoi yoi warnanya bukan abu-abu-ijo-nyamuk lagi tapi biru-merah-putih-macem-padelpop, terus mana komunikasinya macem anak kembar gitu telepati aja bisa:”))) UDAH MANA NGEBANTU BANGET PIECE OF COVER NYA

    KEREN KAK INI BUKAN SAMPAH:”) AKU LIKE NI YA
    Zyan

    Suka

    1. hai zyan ya ampun kamu nemu ginian aku malu banget haha. iya castnya parah ga cocok pol, tapi aku udh terlanjur sering masangin dua orang ini jadi bapak anak terus gimana :p
      walaupun begitu aku seneng kamu enjoy baca tulisanku huks, pdhal ini au-nya agak maksa berhubung udah tagging latar tahun kan.
      tapi ini ga ada apa2nya dibandingkan milikmu huhuhu punya mu menyentuh hatiku banget lho sumpah
      *dan oh ya, omong2 soal cover itu diabaikan saja, aku ga bisa photoshoot soalnya T.T
      makasih udah mampir!

      Suka

  5. aku nyesek bacanya kak T.T penempatan alur maju-mundur nya itu loh.. greget banget :”)
    penyesalan jongdae ini aku rasain banget, sampe baper rasanya ><
    terus terus, penggambaran dunia ditahun 2806 itu bisa banget aku bayangiiin.. tapi semoga di masa mendatang dunia gak seburuk itu..

    Keep writing kakak..

    Suka

  6. Kalo xianara bilang kyk transformer, aq malah mau bilang ini kyk terminator, pas baca awal2 pnjelasan kehidupan manusia pd jaman itu. Hahay..

    HUWAAAA… Mewek malem2 aq baca ini, li.
    Malah ngingetin aq sm Herperus-mu, bapak Hangeng mati jg kan di sana, ninggalin Luhan.

    Suka

  7. Kak Liana jahat. Kakak udah bikin aku nangis berkali-kali tiap abis baca fanfic ini. Aku jadi selalu inget sama ayah aku. Ingat waktu-waktu yang dulu kulalui sama ayah. Aku jadi kangen banget sama ayah.
    But, after all..fanfic ini bagus banget. Aku suka interaksi antara Jongdae dan Jongwoon appa 😀 Ini salah satu fanfic kakak yang paling aku suka.
    Oh iya, kenalin nama aku May. Aku penggemar berat fanfic kakak. So, aku tunggu ya..fanfic kakak yang selanjutnya.. Fighting, kak.

    Suka

    1. Wah kamu udh berkali-kali baca ini? Duh maaf ya kalo bikin kamu sedih…. Tapi aku senang juga Krn ff ini masih bs bikin kamu senang dgn interaksi Jongwoon jongdae hehe. Aku masih aktif di blog pribadi, kalo mau mampir aja 🙂 makasih sdh suka dgn karya2ku may 🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s