[Movie Festival 3] COLOR RUN by Phynz20

Poster Phynz20 Color Run 2 by ArinYessy

Color Run

A Movie by Phynz20 (@putriines)

For IFK’s 3rd Movie Festival

.

Starring: Jeon Jungkook [BTS] – Ryu Sujeong [Lovelyz] – Bambam [GOT7] – Choi Yuju [G-Friend] Kim Mingyu [Seventeen] – Ahn Solbin [LABOUM] || Genre: Friendship, Adventure, Fantasy-SciFi || Rated: PG-15 || Duration: Long–OneShoot

.

“Karena tanpa mereka, ia tak bisa menyadari bahwa hidup ini sangat berharga untuk disia-siakan.”

.

WARNING! Siapkan mata kalian untuk fic yang super panjang!

Enjoy!

.

Teng teng teng….

“Baiklah anak-anak, sampai bertemu di tahun ajaran baru!”

Guru Cha tersenyum sembari melambaikan tangan singkat kemudian meninggalkan ruang kelas. Sujeong yang jelas sekali bergembira luar biasa itu segera berkemas.

“Ya, Jeon Jungkook! Kamu tidak lupa urusan kita, kan?”

“Tidak,” jawab Jungkook kecil sembari meninggalkan ruang kelas dengan cepat. Sujeong yang melihat itu meniup poninya sebentar, tanda ia kesal, lalu menyusul Jungkook.

“Kalau tidak lupa,” ia menahan napasnya sebentar, “Lalu kenapa kamu pergi duluan?”

Jungkook tidak menghentikan, maupun memelankan langkah kakinya. Ia hanya sekilas menengok Sujeong dan menjawab, “Kamu berisik.”

Pipi Sujeong memerah mendengar jawaban Jungkook yang terkesan sarkastik. Ia segera memukul –tanpa berpikir sebelumnya- punggung Jungkook, yang akhirnya mengaduh kesakitan.

“Rasakan! Orang macam apa yang bilang begitu pada sahabatnya sendiri?!”

Jungkook tidak membalas, malah tertawa begitu rupa. Ia tadi hanya berpura-pura, jelas. Tidak mungkin ia benar-benar mengatakan itu, kendati Sujeong memanglah demikian. Jungkook dan keempat sahabatnya yang lain tahu bahwa keberisikan nona Ryu itu sendiri malah mendatangkan senyum lebar bagi mereka.

“Sial! Malah tertawa lagi!” Sujeong kembali memukulkan tasnya ke punggung Jungkook. Kali ini ditambahi dengan beberapa cubitan kecil pada perutnya atau pinggangnya. Walau begitu, perbuatan itu malah mendatangkan tawa bagi keduanya.

“Ya! Kalian ini kalau mau bertengkar di ranjang saja!”

Mendengar hal itu, Sujeong tak ragu untuk melempar sepatunya tepat ke arah kepala Bambam.

***

“Mau kemana kita? Mau kemana kita?” Bambam melompat-lompat tak jelas, membuat Sujeong, Jungkook dan Yuju terbahak. Sedangkan Solbin dan Mingyu kompak bungkam. Memandang kesal Bambam yang bertingkah kekanakkan.

“Apa? Kalian berdua tidak senang ya? Hey, kita liburan tahu. Li-bu-ran!” Bambam memberikan penekanan di kalimat terakhirnya. Terdengar jelas sekali dinadanya bahwa ia menantang dua sahabatnya itu.

“Kau kekanakkan….”

“… Dan juga berisik.”

Kompak -lagi- Solbin dan Mingyu saling melirik kemudian ber-tos ria. Karena sesungguhnya mereka memang tahu, hanya mereka berdualah dalam kelompok ini yang sulit untuk terbiasa dengan mulut ember Bambam, apalagi ditambah Sujeong.

“Aku tidak terima kalau kalian mengatakan Bambam berisik.”

“Uuu, pembelaan dari berisik-line.”

Kemudian botol minum yang dipegang Sujeong melayang tepat ke arah Mingyu. Membuat Sujeong dan Bambam saling rangkul. Pembalasan, sungguh manis.

Solbin memilih diam walau masih menggerutu, Jungkook hanya geleng kepala dan Yuju, dengan sikap keibuan, mengeluarkan tisu dari tasnya dan me-lap wajah Mingyu.

Tak ada pembalasan lagi karena baik Mingyu maupun Solbin sudah tahu polah kedua sahabatnya itu.

“Selamat datang di Chró̱ma, semoga hari ini berwarna!”

Jungkook menganggukkan kepala sopan sementara kelima sahabatnya sudah berlari pontang-panting mencapai meja nomor tujuh. Ia menghela napas, antara geli dan kesal, sebentar lagi pasti ia akan disuruh memesan.

“Kookie-ah! Kau boleh duduk. Biar aku saja yang memesan!”

Lima pasang mata sontak menatap Sujeong yang telah berdiri. Solbin yang terlebih dahulu menyuarakan isi hati mereka, “Sejak kapan kau mau disuruh memesan makanan?”

“Sejak Taehyung sunbae bekerja disini, wle!” jawab Sujeong sambil memeletkan lidah dan melangkahkan kakinya cepat. Sesuai perkiraannya, sedetik kemudian benda-benda yang kebetulan dipegang lima sahabatnya melayang menujunya.

Ia tak peduli.

Yang penting hari ini ia bertemu dengan Taehyung. Masa bodoh dengan kelima sahabatnya apalagi dengan kakak laki-lakinya, Ken. Hari ini pokoknya ia yang memesan!

Tapi keberuntungan tak berpihak padanya.

“Mau pesan apa adik kecil?” Senyum jahat, mata nakal dan alis yang naik-turun terpeta diwajah orang yang berdiri di belakang meja pemesanan. Sujeong memberengut tak suka dan agak sedikit kaget, bukannya Taehyung yang didapatinya malah setan yang suka sekali menganggunya.

“Kemana Taehyung sunbae? Kok malah oppa yang jaga?”

“Memang kenapa? Tidak boleh? Aku bebas dong jaga kapan saja, kan aku yang punya cafe ini.”

Sujeong bungkam. Ia mendelik tidak suka, walau bagaimana pun ia tak lupa tujuan murninya kesini, “Red velvet 2, black forrest 1, rainbow cake 3, minumnya white coffee 2, green tea 4. Tolong diantar ke meja nomor tujuh. Terimakasih.”

Tanpa mengubris dan terkesan buru-buru, Sujeong menyudahi pemesanannya. Berbalik cepat, ia melangkahkan kaki kembali. Berharap Ken tak punya urusan apa-apa padanya.

Sujeong sesungguhnya tak bisa berharap lebih cepat dari seseorang yang pernah menjadi pemenang olimpiade lari.

“Ya ya ya, anak kurang ajar!”

Ken dengan gesit meraih tangan Sujeong dan menyeretnya ke ruang belakang. Sujeong bersungut. Entah apalagi yang akan kakaknya lakukan.

Sesampainya di belakang, Ken melepas tautannya dan dengan utuh menghadap Sujeong. Sedikit terkikik ia bertanya, “Liburan ini kalian mau kemana?”

“Bukan urusanmu!” jawab Sujeong sarkas.

Seakan tak mendengar jawaban adiknya yang berupa penolakkan, ia mengeluarkan kantung hitam kecil terbuat dari kulit. Memberinya pada Sujeong tanpa kata-kata, hanya mata jenaka dan senyum misterius. Membuat Sujeong, alih-alih menerima malah mendorong kembali ke Ken.

“Aku tidak butuh, okay? Urus sendiri urusanmu!”

“Uuu, dasar bocah sombong! Kau yakin tidak mau?”

Sujeong mengangguk mantap, kemudian berusaha melepaskan diri dari belenggu Ken. Tidak semudah itu karena Ken benar-benar ingin memberikan kantung itu pada Sujeong.

“Apalagi sih?”

“Sudah terima saja.”

“Tidak mau.”

“Aku tahu liburan kalian akan membosankan. Ini sesuatu buatanku yang pasti membuat petualangan kalian menyenangkan.”

Ken pikir dengan demonstrasinya yang begitu rupa, Sujeong akan mengambil kantungnya.

“Tidak butuh. Tahu tidak? Terakhir kali kami menerima barang-barang darimu, kami hampir tidak kembali ke bumi. Melalangbuana di planet Chró̱ma tanpa apapun!”

“Oh ayolah Sujeong, sekali saja. Kalau kalian berhasil membuktikan bahwa bubuk ini aman, kita akan kaya raya, tahu!”

“Dasar gila!”

Itu kalimat terakhir Sujeong pada kakaknya. Berhasil lepas, ia berlari secepat mungkin menuju meja nomor tujuh.

“Sialan!”

Sujeong menjatuhkan diri ke kursinya, menyambar –tak tahu- minuman siapa, dengan tampang bengis. Ternyata makanan dan minuman sudah sampai lebih dulu daripada dirinya.

“Apa yang dilakukan Ken hyung padamu?” tanya Jungkook yang menerka alasan Sujeong jadi seperti ini.

“Tidak ada,” Sujeong menyeruput minumannya, “Dan tidak perlu bertanya,” jawabnya sembari memicingkan mata, “Sampai mana tadi kalian bicara?”

“Daftar kunjungan liburan, tentu,” sahut Solbin

“Oh, aku ingin ke perpustakaan!” seru Yuju tiba-tiba membuat beberapa yang lain tersedak. Yuju tak pernah menjadi paling pertama yang mengutarakan keinginan liburannya. Itu selalu ditempati oleh Bambam dan Sujeong biasanya.

Are you serious, Choi Yuju?” tanya Mingyu mengerutkan kening. Perpustakaan? Anak kekinian macam apa yang menghabiskan waktu liburannya di perpustakaan? Membosankan!

“Oh? Ya tentu saja! Perpustakaan punya banyak hal yang bisa kita jadikan cerita petualang tanpa harus benar-benar bepergian kan? Oh, ayolah kawan, hanya kali ini aku….”

“Tunggu, aku ambil pulpen dan catatan dulu,” potong Sujeong. Ia tahu menurut Mingyu dan Bambam perpustakaan itu sama membosankannya seperti sekolah. Tapi ini pilihan Yuju, seseorang yang jarang sekali mengutarakan keinginannya.

Sambil menulis daftar, Sujeong ganti lirik Mingyu-Yuju-Bambam. Mingyu jelas berwajah masam, tapi Bambam tak seperti perkiraannya. Tak ada tanda penolakkan.

“Baiklah, kalau Yuju mau ke perpustakaan, aku mau kita menonton film horror!”

No way!”

Sujeong mencibir ke arah Solbin. Film horror? Mendengar secuil cerita misteri saja membuat Sujeong ketar-ketir, ini lagi Solbin malah menyuruh mereka nonton film horror.

“Yuju bisa memilih apa yang ia suka kenapa aku tidak?” kesal Solbin tanpa arti. Sujeong mendengus. Okelah kalau Yuju, tapi Solbin? Film horror itu kan….

“Sudahlah Sujeong, kita kan memang tidak pernah menonton film horror.” Jungkook mendukung Solbin yang membuat Sujeong mendengus namun tetap menuliskan keinginan Solbin. Kalau Jungkook sudah berkata, Sujeong bisa apa?

“Oke?” tanya Jungkook memastikan. Dilihatnya Sujeong sudah mulai menulis, ia melanjutkan, “Aku ingin liburan ini kita wisata kuliner!”

“Tidak, aku sedang diet!”

“Aku tidak ada uang!”

Solbin dan Bambam sontak mengeluarkan suaranya menentang keinginan Jungkook. Jungkook sebenarnya tak berpikir sahabatnya akan menentangnya.

“Oh ayolah, kamu sudah ideal Solbin, dan Bambam, kita punya Mingyu kan!” Ganti Yuju membela Jungkook.

Sujeong tertawa mendengar ucapan Yuju dan Mingyu mendelik tak percaya.

Yuju kelabakan, ia tidak bermaksud memanfaatkan Mingyu, tapi semua orang tahu kan kalau Mingyu memang kaya tujuh turunan?

“Tapikan….”

“Catat saja Sujeong.” Mingyu bersuara, membuat Bambam berteriak senang. Kini tinggal Solbin yang menggerutu karena keinginan Jungkook.

Sembari Sujeong mencatat, suasana kembali hening. Bambam sibuk dengan pemikiran akan keinginannya, sedang yang lain menunggu.

Kemungkinan yang lucu saat ini adalah, Mingyu yang bimbang ingin mengutarakan keinginannya. Ia yakin Jungkook tak suka dan yang lain juga akan memandangnya aneh. Tapi seumur-umur ia belum pernah ke tempat itu.

“Karaoke?”

“Kau gila ya Mingyu?”

Tepat dugaan. Jungkook adalah orang pertama yang melontarkan ketidaksukaannya, sementara yang lain menghentikan kegiatannya. Takjub akan pilihan Mingyu yang diluar karakternya.

Mingyu yang mereka kenal adalah orang yang cuek, membenci keributan, tak suka hal yang norak, terkesan sebal dengan Bambam yang selalu menginginkan mereka karaoke, tapi ini? Wah, dunia seakan terbalik.

“Aku suka karaoke!” dukung Bambam dengan senyum gembiranya. Tapi Jungkook berlaku sebaliknya. Sebenarnya ia bingung kenapa Mingyu, yang menjadi partner dalam menghentikan Bambam menyeret mereka ke karaoke, jadi seperti ini.

Namun tampaknya ketidaksetujuannya tak digubris sama sekali. Sujeong lanjut mencatat dan yang lain tersenyum-senyum tidak jelas.

Kali ini giliran Bambam.

“Rumah Mingyu adalah sesuatu yang komplit didatangi ketika liburan!”

Memang tidak bisa dipungkiri kalau rumah Mingyu adalah semua yang mereka harapkan tadi. Rumah besar laksana istana tersebut adalah basecamp mereka. Sebut apa saja yang kau mau pada pelayan maka mereka akan menyiapkannya.

Sekali pun kau menyebutkan sapu terbang milik Harry Potter.

“Tapi tiap liburan kita kesana Bambam, masa kamu tidak bosan sih?”

Bambam tersentak. Ia pikir siapa yang akan menolaknya, tapi ini Yuju! Yuju yang selalu ikut saja akan apa yang mereka lakukan.

“Tapikan….”

“Sepertinya patut untuk aku catat deh. Bagaimana pun memang rumah Mingyu kan basecamp kita.”

Yang lain bungkam. Sujeong kembali menekuni bukunya, mencatat permintaan Bambam, kemudian menutup bukunya dan memasukkan kembali ke tas.

Kelima sahabatnya menatap heran sampai Mingyu menyeletuk, “Lantas apa keinginanmu, Sujeong?”

Senyum tercetak. Sujeong menatap manik sahabatnya dalam.

“Aku ingin kita pergi ke tempat dimana kita bisa menikmati waktu yang berkualitas. Hanya berenam. Semakin membuat persahabatan kita sangat erat.”

“Tapi dimana?”

“Tidak tahu.”

Sedetik kemudian tisu-tisu di meja melayang ke arah Sujeong.

***

Rencana mereka gagal total.

Diulangi, GAGAL TOTAL

Semua yang mereka catat, daftar dan yang mereka ingin lakukan, tak ada satu pun yang berjalan mulus. Ini belum sampai seminggu tapi mereka sudah menghabiskan daftar bepergian mereka. Liburan masih satu bulan lagi, dan mereka tidak berharap untuk mengulangi daftar keinginan mereka. Tidak pernah ingin.

Sehari setelah perjumpaan mereka di Chró̱ma cafe, mereka melaksanakan daftar keinginannya. Mulai dari keinginan Yuju ke perpustakaan. Namun, siapa sangka itu membuat trauma yang mendalam bagi Mingyu.

Mereka tiba disana dengan aura semangat liburan. Teriknya matahari tak mempengaruhi suasana yang sedang mereka nikmati. Berjalan-jalan sebentar mencari buku, sepuluh menit kemudian mereka berkumpul di satu meja besar yang mampu menampung hingga sepuluh orang pembaca.

Sebenarnya kali itu bisa saja dianggap liburan menyenangkan kalau saja Bambam tidak memekik kencang ketika menemukan salah satu komik berlabel dewasa dan seperti kesurupan memujanya.

Sampai detik berikutnya, seakan guruh memecah, terdengar suara menggelegar, “Kalian yang berisik disana, KELUAR!

Mendengarnya, keenam bocah itu berlari terbirit-birit. Mingyu sendiri berjanji dalam hati tak akan pernah mau menginjakkan lagi perpustakaan apa pun alasannya.

Hari kedua tak bisa berharap lebih baik. Sujeong, yang setengah diseret menuju teater bioskop, hampir menangis. Mereka hanya menonton satu film saja dan sepanjang film terdengar isakan Sujeong yang bahkan tak melirik sedikit pun layar bioskop. Ketika keluar teater, suatu insiden tak terelakkan. Yuju pingsan.

Tapi itu hanya Insidious 7. Tidak seram sama sekali!” Begitu penolakkan Solbin ketika disalahkan oleh tiga lelaki dihadapannya. Mau tak mau mereka pulang demi menenangkan Sujeong dan Yuju. Tak satu pun bersikeras menonton film horror lagi kecuali mereka ingin dipanggang hidup-hidup oleh Ken maupun orang tua Yuju.

Esoknya, ya, walaupun menjadi satu-satunya hari yang tak menyebalkan tapi juga tak menyenangkan. Ide Jungkook wisata kuliner membuat mereka terpencar dan satu jam kemudian mereka bertemu dengan Bambam yang terpaksa mencuci piring karena sudah menghabiskan enam porsi jjangmyeon dan baru ingat telah terpisah dengan Mingyu.

Melihat hal itu Sujeong terbahak kencang, memicu spons cuci piring yang Bambam pegang mendarat diwajahnya. Sujeong kesal, semua bubar.

Daftar kunjungan Mingyu satu-satunya yang mereka harapkan bisa mengembalikan mood liburan mereka. Tapi, lagi-lagi keberuntungan tak memihak. Baru satu lagu, mereka sudah mendengar nada sumbang keluar dari tenggorokan Mingyu. Sebelumnya mereka sesungguhnya sudah mendengar suara Mingyu, dan itu lumayanlah. Tapi sekarang semua berubah. Mingyu malah asik berkaraoke, berteriak-teriak, yang diikuti oleh Sujeong dan Bambam.

Yuju dan Solbin hanya bisa sesekali terkekeh tapi Jungkook tidak. Baru pergantian lagu kedua, ia minggat sambil membanting pintu keras. Kelimanya hanya bereaksi diam dan tak berani melanjutkan nyanyian gila mereka.

Maka disinilah mereka, dengan suasana hati yang telah hancur, keogahan untuk menjalani liburan dan tak punya harapan, di kamar Mingyu. Tak ada yang melakukan aktifitas berarti kecuali guling-guling di kasur Mingyu yang besar. Bahkan Solbin sampai tidur sungguhan.

“Kalian tidak bosan apa?”

Itu suara Mingyu, yang sudah duduk tegak menghadap sahabat-sahabatnya. Solbin refleks bangun dan Sujeong mengangguk. Yang lain bagai mayat hidup, tak bereaksi.

“Ayolah, kita harus melakukan sesuatu kan? Liburan masih ada sebulan sobat!”

Mereka berpikir, tapi tak punya ide. Terdiam dalam sepuluh menit yang menyiksa dan Bambam lagi-lagi mengeluarkan ide gilanya, “Ayo kita berenang!” Detik kemudian sudah terbirit ke kolam renang rumah Mingyu.

Yuju menggeleng keras, “Kalau Bambam yang melontarkan ide itu aku tidak mau ikut. Kalian tahu sendiri kan otak Bambam seperti apa?”

Yang lain tertawa hambar, tapi Mingyu menyela, “Tak ada salahnya dicoba.”

Ide gila Bambam membawa mereka ke kolam renang Mingyu. Tapi tak satupun yang berniat berenang betul-betul. Mereka hanya memindahkan tubuh mereka dari kamar Mingyu kesini tapi tak benar-benar melakukan kegiatan semestinya.

Bambam sudah mencoba. Dari, “Ayolah,” sampai, “Airnya dingin!” Tapi tak digubris. Sekonyong-konyong Sujeong berdiri tegak dan berlari masuk ke rumah. Kelimanya menatap bingung sampai Sujeong kembali lagi sepuluh menit selanjutnya, membawa kantung hitam kecil dan sedikit tawa.

“Aku tahu kalian pasti tak setuju, tapi sepertinya ini satu-satunya cara menyelamatkan liburan kita.”

Lima pasang mata menatap penasaran kantung hitam itu. Mengambil dari Sujeong, lalu diedarkan ke yang lain. Solbin menyeletuk, “Ini apa?”

“Bubuk dari Ken oppa. Ia menjejalkannya ke kantung rok sekolahku ketika kita ke Chró̱ma terakhir kali. Katanya sih ini eksperimennya yang lain,” jawab Sujeong enteng.

 “Tidak! Kita tidak akan main-main lagi dengan apa pun eksperimen Ken oppa!” seru Yuju tegas. Ia tak ingin kejadian liburan lalu-lalu terulang. Mereka sudah berhasil menghadapi entah berapa kali petualangan menegangkan tapi semua itu kebetulan. Kalau kali ini kebetulan tak memihak padanya, lalu bagaimana?

“Dan menghabiskan liburan membosankan ini? Kukira tidak,” tolak Mingyu pada ucapan Yuju.

Hening sejenak. Tak ada tanda pembelaan maupun penolakan sekarang. Masing-masing otak memikirkan dampaknya. Apakah mereka ingin mencoba salah satu eksperimen Ken yang pasti menakjubkan namun dengan menggenggam bahaya atau mereka cukup menyerah dengan menjalani liburan yang membosankan ini.

“Baiklah, bagaimana cara kerjanya?” Itu Jungkook yang memecah keheningan yang membuat empat pasang mata lainnya berbinar, kecuali Yuju. Mereka bersorak senang ketika Jungkook sudah mengultimatum keputusannya.

“Aku… tak tahu.”

Yuju tersenyum penuh kemenangan, Solbin mendengus keras. Bambam mengambil kantung itu dari tangan Sujeong dan mengeluarkan bubuk di dalamnya. Warnanya keemasan. Tak pernah Bambam melihat suatu bubuk berkilau jernih seperti itu. Bubuk ini hampir sama berkilaunya dengan emas bahkan berlian.

“Mau kucoba?” Bambam bertanya. Yang lain terdiam, tak merespon pertanyaan Bambam dengan anggukan atau gelengan. Mereka hanya memandang takjub bubuk dalam genggaman Bambam, seakan mereka telah terhipnotis.

Bambam mengangkat bahu acuh, secara tiba-tiba ia melempar serbuk itu ke kolam. Detik berikutnya kolam yang jernih tadi berubah warna, seakan ada pelangi berenang-renang, jauh di dasar kolam. Keenam pasang mata disana memandang takjub.

Sujeong mendekati kolam dan menyiduk sedikit airnya. Rasanya menyenangkan, seperti ada yang menggelitik jarinya mengajak masuk. Sujeong menoleh ke sahabatnya, “Aku akan masuk.”

“TIDAK!”

Terlambat. Sujeong sudah terjun ke dasar kolam. Airnya beriak, namun tiga detik kemudian, permukaannya nampak datar seakan tak pernah diselami orang selama beberapa jam silam. Yuju berteriak histeris tapi Jungkook, dengan sikap heroiknya segera terjun menuju Sujeong.

Kejadian itu terulang lagi, Sujeong dan Jungkook tak terlihat batang hidungnya. Kolam itu kembali damai. Masing-masing mata menoleh, Mingyu, Solbin dan Bambam mengangguk mantap. Yuju memandang cemas.

“Kita… mereka….”

“Mereka sahabat kita, dan aku ingin menolong Sujeong dan Jungkook keluar dari sana.”

Ya, mereka bagian dariku, mereka sahabatku.

Yuju, dengan masih berharap cemas namun mengangguk mantap. Bambam yang melihat itu menautkan tangan kanannya pada tangan kiri Yuju dan meremasnya, seakan menyalurkan kekuatan.

“Bersama-sama?”

“Bersama-sama.”

Lalu, mereka dengan satu tujuan, terjun ke arah kolam itu sembari bergandengan.

Dan….

Mereka terjungkal dengan pose tak elit sama sekali. Tadi itu sama sekali bukan wujud air. Ketika mereka melompat, yang mereka rasakan seakan mereka terjun dari ketinggian 70 kaki. Bahkan satu pun dari mereka tak ada yang basah. Lebam-lebam dan mungkin benjolan terpeta di beberapa bagian tubuh yang langsung menyentuh tanah.

“Ki… kita dimana?” Solbin yang lebih dulu tersadar dan segera memandang ke sekeliling.

Ini bukan bumi, gumam mereka serentak. Di depan mereka, terhampar pohon-pohon boncel dengan daun berwarna jingga dan batangnya yang berwarna kuning, di kejauhan terlihat sebuah gunung dengan warna merah menyenangkan, awan-awan berubah menjadi hijau, sedangkan tanah di bawah mereka berwarna nila dihiasi rumput berwarna biru.

Mereka tidak melihat orang lain selain mereka berenam kecuali beberapa kelinci ungu yang sedari tadi hilang-timbul di antara pohon-pohon boncel. Solbin menatap tak percaya tapi tak bisa memungkiri bahwa ini bukan ilusi semata. Ini benar-benar nyata.

“Selamat datang di Chró̱ma island,” sebuah suara menggelegar, “Tunjukkan sopan santunmu!” Tiba-tiba saja di belakang mereka ada Gorila putih yang hampir saja membuat Mingyu memekik, menunjuk Bambam yang sedang menggaruk-garuk pantatnya. Bambam segera saja bersikap tegak sembari memandang ngeri pada gorila yang entah bagaimana bisa berbahasa Korea.

Setelah dirasanya cukup, ia kembali melanjutkan dengan suara dalamnya yang memang sama sekali tak cocok dengan warna tubuhnya, “Selamat datang di Chró̱ma island. Tempat dimana Anda menemukan jati diri. Harap berhati-hati dengan Alter Ego kejam. Hanya yang berhati lapanglah yang bisa menaklukkan Alter Egonya.”

Keenamnya melongo setelah mendengar sedikit pembukaan dari gorila itu. Jungkook sedikit mengerutkan alis tapi kemudian dengan keberanian yang harus dipompa ia bertanya, “Tapi apa itu Alter Ego kejam?”

“Ya, bagian dari dirimu. Musuhmu yang sangat kuat dan kejam yang harus kau hindari. Maka dari itu kan, nama permainan ini Color Run?”

Color Run?” serempak mereka bertanya.

“Iya, ini nama permainannya, kalian harus melarikan diri dari Alter Ego yang berniat memangsa kalian dan merebut hidup kalian di kenyataan. Mereka tidak akan berhenti sampai kalian mencapai garis finish atau kalian akan dilenyapkan dan pada saat itu, whoa! Merekalah yang akan keluar dari permainan ini dan mengambil hidup kalian. Sementara kalian akan mati.”

“Apa?!”

Gorila itu mengangguk jenaka dan terkikik dengan tampang serasa ia hanya membawa guyonan saja. Padahal keenam pasang mata dihadapannya tak bisa tak bertampang horror mendengar jika mereka tak menang, mereka akan mati begitu saja.

“Hey, kami masih tujuh belas tahun dan akan mati konyol karena disentil Alter Ego tak jelas itu saja?! Ya, kau pikir kita gila?!” Solbin berteriak keras menentang Gorila itu, tapi Gorila itu tak mengubris gertakan Solbin.

“Tunggu, tunggu, kenapa kau terlihat seperti Ken oppa?”

Gorila itu menatap Sujeong sesaat dan terkekeh kemudian, “Ya jelaslah. Aku kan programnya. Apa pun yang ada disini Ken-lah yang memprogramnya. Kami semua terkontrol dari otaknya.”

“Jadi Alter Ego itu juga dari otaknya?”

“Tidak! Alter Ego itu bagian dirimu yang lain. Satu-satunya yang tak bisa dikendalikan oleh otak Ken.”

“Tapi, bagaimana wujud….”

Gorila putih menunjuk ke belakang mereka. Sontak mereka menengok, dan berdirilah enam tubuh transparan. Beberapa diantaranya berisi air hitam. Tapi mereka tak mengerti apa pun yang berada di depannya.

“Itu Alter Ego kalian.”

“Apa?!”

Gorila itu mendengus seakan lelah mengajarkan mereka yang seperti anak balita, “Iya, mereka Alter Ego kalian. Air Hitam itu adalah energi mereka dan energi mereka terisi berkat pikiran negatif kalian. Semakin banyak kalian berpikir negatif, semakin cepat mereka terisi penuh dan ketika itu terjadi, voila! Mereka mengejar kalian.”

Solbin menampilkan wajah horror, Mingyu hanya diam seakan tak dapat menerima ini semua, Sujeong dan Bambam bahkan tak dapat mengatupkan mulutnya, Yuju bertampang cemas, hanya Jungkook yang seakan bisa mengendalikan dirinya.

“Jadi, kita mulai darimana?” Jungkook lagi-lagi bertanya seakan tak menghiraukan sosok-sosok tubuh transparan yang diantaranya telah terisi hampir setengah badan air hitam. Ia berwajah tenang, tapi karena tampangnya rasa-rasanya Sujeong ingin membunuhnya saat itu juga. Bisa-bisanya ia tak terpengaruh dengan permainan macam ini?!

Gorila itu menatap senang Jungkook, seakan Jungkook adalah hiburannya kala itu.

“Kalian tahu kan warna pelangi? Sprektum cahaya yang terdispersi olehnya?”

Sujeong, Jungkook dan Yuju mengangguk cepat, namun tidak dengan Bambam. Ia melongo tak mengetahui apa yang diucapkan si gorilla imut tersebut.

Gorila tersebut menangkap raut Bambam dan terkikik merendahkan, “Sprektum cahaya! Warna pelangi!”

“Hah? Apa? Warna pelangi?”

“Maksudnya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, Bambam,” ujar Yuju menjelaskan disambut anggukan kecil Bambam.

“Kalau warna pelangi bilang, dong! Jangan berbelit-belit begitu,” gertak Bambam sewot. Sepertinya Gorila putih ini tak suka dengan sikap Bambam yang kelewat ceplas-ceplos.

“Ehm. Ya, kalian sudah mengerti kan? Jadi, di setiap warna ini, kalian harus menaklukan sebuah misi. Satu warna itu melambangkan karakter kalian. Hanya ada satu orang yang bisa menaklukan satu misi. Yang lain hanya bisa membantu tanpa terjun sebenarnya. Mengerti?”

“Tapi, bagaimana kami tahu siapa yang cocok untuk misi itu?”

“Kalian sahabat sudah lebih dari lima tahun, kalian harusnya mengetahui bagaimana kelebihan dan kekurangan sahabat kalian kan?”

Keenamnya terdiam. Mereka memang bersahabat sejak lima tahun lalu. Canda tawa dan suka duka sudah mereka alami. Benar kata Gorila itu, sesungguhnya kalau mereka telah bersahabat selama itu, mereka tahu baik-buruk sahabat mereka dan akan dengan senang hati menunjukkan jalan dan menolong satu sama lain. Tapi apa benar mereka mengenal satu sama lain luar-dalam? Atau selama ini ada beberapa dari mereka yang disembunyikan?

Ahn Solbin, lima puluh persen.”

Suara lembut namun menakutkan tiba-tiba terdengar. Membuat keenamnya tersentak dan mau tak mau merasa agak ngeri. Solbin-lah yang lebih dulu mengeluarkan suara balasan, “Maksudnya apa aku lima puluh persen?”

“Berarti kadar pikiran negatifmu sudah melebihi lima puluh persen untuk mengaktifkan Alter Ego-mu. Kusarankan kalian mempercepat petualangan kalian kalau tidak Alter Ego Solbin akan aktif dan kemungkinan Solbin selamat hanya sembilan puluh sembilan persen.”

“Lantas kau?” Yuju bertanya pelan pada Gorila.

“Aku akan diam disini. Aku hanya program yang bertugas menjelaskan kalian sistem kerja Color Run, bukan pengawal kalian.”

Yuju menggaruk tengkuknya yang tak gatal merespon tanggapan Gorila.

“Apa yang kalian tunggu? Solbin dalam bahaya. Ayo!”

Mingyu segera berlari dan dengan cekatan menggenggam Solbin, setengah menyeret Solbin menarik Jungkook, Jungkook menarik Sujeong, Sujeong menarik Bambam, dan dideret terakhir Bambam menyeret Yuju yang bahkan tak refleks dengan cepat.

Di sela-sela pelarian mereka, Mingyu bertanya, “Memang kita akan kemana?”

Mendengar itu kelima sahabatnya tertawa tak ampun. Mereka sudah hapal perangai satu sama lain. Beginilah mereka, tak satu pun yang bisa berpikir cemerlang kalau dialah penggagas idenya. Bahkan Jungkook si pemikir ulung.

Sujeong berpikir cepat kemudian menyeletuk, “Kalau Gorila tadi bilang warna pelangi, berarti misi kita pertama dimulai dari gunung itu.”

Mereka serentak berhenti berlari mencerna perkataan Sujeong sampai sepakat mengangguk.

***

Gunung itu merah pekat. Tapi jika dilihat dari dekat, malah menjadi merah menyenangkan. Tak ada satu kata pun yang terlontar dari keenam bibir ini. Mereka benar-benar fokus pada jalan mereka yang sedikt menanjak dan berbatu. Bertekad sampai puncak secepat mereka bisa, untuk mengungguli Alter Ego Solbin yang sudah lima puluh persen.

Namun, sebelum sampai puncak, mereka sudah dipertemukan dengan elang berbulu merah menyala. Ia terbang mengeliling sebuah lapang luas. Setelah keenamnya sampai di lapang, elang itu bertengger pada pohon tinggi berdaun merah.

“Siapa yang akan bermain?”

Mereka tersentak, masih belum dapat menerka dengan jitu apa sebenarnya Color Run itu. Yang mereka tahu, mereka harus berlari secepat mungkin demi menghindari Alter Ego tersebut.

“Boleh kami berdiskusi sejenak?”

“Satu menit!”

Keenamnya segera membuat lingkaran kecil, berkasak-kusuk sengit.

“Apa kau tahu misinya? Kalau kita tahu, kita mungkin bisa menyusun strategi yang tepat.”

“Jungkook benar, tak mungkin kita bisa memilih ini semua secara acak.”

“Apa yang berhubungan dengan warna merah kalau kalian tahu?”

“Keberanian? Merah yang selalu jadi lambang keberanian kan?”

“Kalau begitu… yang paling berani diantara kita, Solbin kan?”

“Sepuluh detik lagi!”

“Baiklah, hanya ada satu solusi. Aku yang akan maju duluan.”

“Solbin tidak!”

“Selesai! Menjauh dari yang lain, ayo!”

Mereka menuruti perintah Elang merah tersebut.

“Jadi, siapa yang akan maju melawanku?”

“Apa?!”

Solbin membuang napasnya kasar. Ia tak tahu apa-apa mengenai misi satu ini. Tapi ia berani jamin kalau pemikiran Yuju tak salah. Ia memang seorang pemberani. Ia bukan sombong, tapi itulah yang dipikirkan sahabat-sahabatnya kan?

“Aku.”

Elang itu memutar kepalanya hingga dapat melihat Solbin. Ia terdengar tertawa dan berkata kemudian, “Ahn Solbin? Begitu banyak pikitan negatif di dalam kepalamu dan kau masih berani untuk melawanku?”

Solbin meneguk liurnya tapi ia tak akan gentar. Ia bisa saja mundur dari misi ini karena pikiran negatifnya, tapi Ahn Solbin tetaplah Ahn Solbin. Ia tidak mau menjadi pengecut dan kerap memikirkan hal yang tak kunjung kebenarannya.

“Ya. Aku akan melawanmu.”

 Elang itu terbang dengan segera menuju wajah Solbin. Yuju dan Sujeong berteriak, para lelaki terkejut dengan cara yang berbeda. Tapi tidak dengan Solbin.

Ia sudah menghabiskan setiap liburannya dengan petualangan kelima sahabatnya dan menanggung begitu banyak bahaya. Ia tak akan gentar bahkan menutup matanya sekali pun. Sesungguhnya, hanya dengan berhadapan dengan elang inilah ia bisa melewati bahaya yang entah apa itu, kan?

Elang itu berhenti tepat lima senti di ujung hidung Solbin. Gerak mencakarnya, membuat orang normal akan berteriak histeris, takut ajal akan menjemput lebih cepat. Sekali lagi, Solbin menampakkan wajah tak terusiknya.

“Kau pikir kau akan hidup bila bertarung denganku, hah?!”

Solbin menatap tajam pada Elang itu. Sejujurnya, Elang itu bisa saja mencakar wajahnya sekarang juga, tapi Solbin tahu, Elang itu tak akan mungkin melakukan itu. Lagipula ia harus menunjukkan bahwa ia tak gentar sedikit pun. Ia pernah mengalami hal yang lebih menegangkan bukan?

“Aku tidak takut!”

“Aku bisa menghancurkan wajahmu!”

Elang itu menghilang tepat ketika Solbin berkedip. Gadis itu mencari ke seluruh arah, namun elang merah mencolok itu tak ditemukan oleh netranya. Bukan sosoknya, malah suara yang menyambutnya tadi yang berbisik kasar, “Aku tantang kau untuk pergi memasukkan kartu di hadapanmu ke mesin di bawah sana.

Keenamnya mengerutkan alis. Pasalnya tak ada satu pun kartu yang melayang atau sesuatu yang bisa mendukung Solbin ke bawah.

Namun, seakan penuh ilusi, kartu merah tebal melayang tepat di hadapan hidung Solbin dan jurang pun menganga sejauh lima sentimeter dari kakinya beranjak.

“Kau bercanda?”

Bukannya serius, elang itu malah terkikik senang melihat teman-teman Solbin panik.

“A-aku bisa.”

Maka diambilah kartu merah itu, ditaruhnya dengan benar di saku celananya. Ia kini berhati-hati menuruni jurang yang curam itu.

Solbin meneguk salivanya berkali-kali. Menghilangkan rasa gugup. Siapa pun mentalnya pasti akan jatuh ketika melihat ia harus turun dari ketinggian sekitar 50 kaki tanpa pengaman dan dindingnya hanya dipenuhi oleh pepohonan yang terkesan rapuh.

“Aku pasti bisa. Ahn Solbin pemberani!”

Seakan mendongkrak semangatnya, Solbin mengucapkan kata itu berulang-ulang.

“AAA!”

Remaja-remaja itu refleks menengok ke bawah jurang. Tadi tak salah bahwa mereka mendengar teriakan Solbin. Apa gadis itu tak apa-apa atau bagaimana?

Tepat seperti prediksi mereka ternyata, ada insiden yang membuat penurunan Solbin tak mulus. Kini gadis itu tengah bergelantungan pada satu ranting yang terlihat ringkih.

“A-aku tak apa! Tenang saja!”

Dengan susah payah, kurasan emosi dan tenaga, akhirnya Sobin bisa mengembalikan posisinya dengan lebih baik untuk menempel pada dindingnya. Kira-kira tinggal 5 kaki lagi ia sampai pada mesin pendeteksi kartu itu.

“VOILA!”

Solbin berteriak histeris manakala ia telah berhasil memasukkan kartu itu pada mesinnya. Ia hampir menyelesaikan misinya.

“Solbin kau baik-baik saja?”

Solbin menampakkan senyum lebarnya. Ia tak menyahut teriakan Mingyu. Kini ia ingin memperlihatkan wujud sesungguhnya dirinya.

Satu hal yang masih terputar di otaknya, ini baru setengah jalan.

Maka ia kembali menyiapkan mentalnya untuk memanjat dinding ini. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuat teman-temannya ketar-ketir mengira Solbin meninggal.

Namun Solbin dengan peluh dan senyum lebarnya mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika ia hampir mencapai puncak.

“SOLBIN KAU BERHASIL?!”

“Selamat Ahn solbin, kau berhasil menaklukan misi merah. Imbalan, air mati akan hilang lima puluh persen dari air mati di Alter Egomu.”

“AAA.” Kelimanya segera mengerubungi Solbin tanpa ampun. Memeluk besar-besar, mereka tertawa. Seakan beban terangkat, tersenyum lebar pun mereka lakukan.

“Kalian tidak boleh senang dulu, karena Alter Ego kalian ada dua lagi yang hampir mencapai lima puluh persen,” koar Elang itu menggema.

Masing-masing dari mereka melepaskan tautan-tautan. Kalau pun misi kali ini mereka berhasil, tapi tak aka nada yang menjamin kalau misi selanjutnya akan berhasil. Masih ada enam misi lagi dan mereka harus putar otak dan kenangan untuk mengatur strategi menaklukan semua misi.

“Ayo kita lanjutkan!”

Semuanya menggangguk atas usulan Bambam. Mereka melangkah mantap, satu misi tadi berhasil memompa semangatnya.

“Jadi, selanjutnya kita harus mencari apa?”

Yuju berdeham sedikit dan menempatkan jarinya di dagu, “Hmm, sehabis merah adalah jingga. Dan kalau aku tak salah lihat, sesuatu berwarna jingga disini adalah….”

“Pohon-pohon boncel!” Kompak, yang lain menyerukan satu jawaban yang santer di otak Yuju. Dengan senyum yang tak kunjung padam, mereka segera mengejar pohon-pohon boncel itu.

.

“Selanjutnya apa ya?”

“Sudah jelas jingga, kan?”

Yuju menoleh ke arah Bambam. Keenamnya masih terus berjalan menuju tujuan mereka. Belum terlihat pohon-pohon boncel berwarna jingga tersebut. Mereka tahu sebentar lagi pasti sampai. Namun, setelah sepuluh menit kemudian, tak terlihat satu batang pun pohon boncel berwarna jingga, beberapa dari mereka sudah terlihat lelah.

“Aku tidak lelah, aku tidak lelah, aku pasti sanggup, kita pasti sanggup!” Sujeong meracau seakan kalimat itu dapat menjadi pendongkrak semangatnya. Pun tahu, ia memang lelah, bahkan tak tahu kapan mereka bisa sampai di hamparan pohon-pohon boncel tersebut. Rasa-rasanya mereka sudah diputar terlalu jauh sampai tak tahu arah lagi.

Jungkook tetap fokus pada rangkaian jalan dihadapannya. Sesekali ranting disingkirkan, dari sana ia bisa melihat secercah kehangatan. Pohon-pohon itu berada hanya beberapa meter dari mereka, pun tumbuhan yang lain sangat rapih untuk mendandaninya.

“Lihat, lihat! Disana!”

Kelimanya mengikuti arah pandang Jungkook. Seketika histeris, dan berlomba-lomba berlari untuk segera sampai di sekelilingnya. Pohon-pohon itu memberi aura kehangatan kepada mereka seakan mereka kembali ke rumah.

Bambam sampai pertama di lingkungan itu. Senyum lebarnya terpancar, ia merentangkan tangan dan berseru, “Kali ini tolong biarkan aku yang menjalankan misinya!”

Semua terkekeh melihat keburu-buruan Bambam. Sesampai disana, kelimanya mengelilingi Bambam.

“Aku yakin kembaranku ini bisa menaklukan apa pun itu! Hahaha.” Sujeong datang sembari merangkul Bambam.

“Aku tidak yakin…. Kalau ada sesuatu yang menakutkan bagaimana?” Yuju yang pertama member interupsi pada Bambam.

Seakan dipenuhi kekecewaan teramat mendalam dari perkataan Yuju, Bambam menampilkan wajahnya sedemikian rupa, dan berkata seperti orang sakit hati, “Yuju, kau pikir aku memang tidak bisa apa-apa ya?”

Yuju gelagapan, ia tidak bermaksud seperti itu sebenarnya. Tapi itu bukan main-main.

“Kaukah itu Bambam?”

Mereka refleks mencari sumber suara itu. Suara itu jelas-jelas terkesan dingin, seakan tak tersentuh oleh kehangatan yang terpancar dari pohon-pohon disekelilingnya. Belum terungkap suara apa itu, sekonyong-konyong tercipta ilusi meja jingga, beserta kotak berpita enam meter dihadapan mereka.

“Misimu hanyalah membuka kotak itu.”

“APA?!” Semua terkaget mendengar misi Bambam. Sungguh, ini sangat mudah. Bahkan berjalan sejauh enam meter sekaligus membuka kotaknya hanya memerlukan waktu satu menit saja.

“Kau bercanda. Tunjukkan wajahmu!” perintah Bambam yang tidak percaya dengan misi yang mudah ini.

“Kau pikir misi ini bercanda? Belum mencoba sudah berpikir yang bukan-bukan, rupanya?”

Bambam mendengus kasar. Ia paling tidak suka diremehkan. Ia memang tidak sebijak Jungkook atau setenang Mingyu, tapi dirinya tetaplah dirinya. Keyakinan bahwa ia bisa menaklukan misi ini lebih besar dari dugaannya.

Bambam melangkah hati-hati mengikuti intruksi suara dingin tadi. Hanya saja, suatu kejadian tak terduga terjadi. Baru saja Bambam melangkah untuk yang ketiga kali, kehangatan mulai pudar, suara dingin itu pun kembali menggema.

“Kau tidak membutuhkan teman-temanmu itu Bambam.”

“Tidak, aku sangat membutuhkan mereka.”

Bambam melangkahkan kakinya lagi dan terhenti di langkah ketiga, kehangatan seakan menipis. Lagi-lagi suara itu terdengar.

“Mereka tidak berguna.”

“Mereka sahabat-sahabatku.”

Kembali melangkah untuk ketiga kalinya, suhu udara semakin menurun. Suara itupun tak lelah mengganggu mental Bambam.

“Kau lebih hebat kalau berjuang sendiri.”

“Aku bukan apa-apa tanpa mereka.”

Sudah setengah jalan. Bambam kembali melangkah tiga kali, kini dingin diam-diam menyusup. Menguras sedikit demi sedikit pikiran positif Bambam. Ia hampir sampai tapi rasanya itu masih berkilo-kilo meter lagi.

“Mereka juga tidak membutuhkanmu Bambam.”

“Kami sahabat, itu sudah jelas.”

Lagi dan lagi. Kali ini Bambam sudah siap membentengi mentalnya oleh dingin yang menusuk. Suara itu tak henti-hentinya menari di telinga Bambam.

“Mereka tidak membutuhkanmu.”

“Kami saling… membutuhkan… lebih dari apa pun…. Huh.”  Bambam membuang napas kasar. Ini tiga langkah terakhirnya dan hawa dingin itu menusuk tulang. Bambam merasa ia sedang berada di kolam membeku saat musim salju tanpa sehelai baju pun. Ia mencoba sekeras tenaga mengangkat tangannya untuk membuka kotak itu, namun rasanya itu seperti batu.

“Kau bisa disini bersamaku.”

“Mereka adalah alasanku berjuang di permainan ini. Alasanku pulang selain keluargaku. Mereka yang memberiku rasa nyaman dan tentram sekalipun aku sering meracau. Tak ada lagi alasan untukku meninggalkan mereka!”

Cukup sudah. Bambam menpersenjatai dirinya dengan mental dan setiap arti dari persahabatan mereka. Ia tak ingin mengorbankan persahabatannya hanya demi hal tak jelas dan egonya. Tidak akan.

Bambam berhasil membuka kotak itu dan seketika hawa dingin itu lenyap tak bersisa. Dari sana keluar seekor beruang jingga yang manis. Beruang itu dengan gerak cepat melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Bambam. Menyalurkan kehangatan begitu rupa padanya.

“Selamat Bambam, kau berhasil menaklukan misi jingga. Imbalan, air mati akan hilang lima puluh persen dari air mati di Alter Egomu.”

Tak ada yang bersorak kegirangan seperti misi sebelumnya. Kelimanya tak menyadari apa pun yang terjadi pada Bambam. Mereka tak merasakan hawa dingin, tak mendengar suara, yang mereka tahu hanyalah Bambam semakin pucat dari langkah ke langkah.

“Kalian tidak senang?” Bambam menampilkan wajah polosnya. Ia sendiri bingung mengapa sahabat-sahabatnya tak bergeming mendengar pengumuman itu. Ia sudah berusaha semampunya dan sahabat-sahabatnya tak memberi respons?

“Ada apa sebenarnya Bambam?”

Kelimanya menunggu jawaban Bambam, namun Bambam tak mengerti. Apa mereka semua tak melihat segala yang terjadi? Semua yang Bambam katakan dan rasakan? Jadi mereka tadi melihat apa saja?!

“Kalian tak tahu? Kalian tak melihat aku… aku….”

“Kami hanya melihatmu berjalan terlampau pelan dan sedikit demi sedikit pucat,” jelas Sujeong sembari menampilkan wajah kecurigaannya.

Bambam mendengus pelan. Entah ini suatu keuntungan atau kemalangan. Bambam memang sedikit kecewa sahabatnya tak tahu apa-apa tentang misi yang tadi ia jalankan, tapi setidaknya ia lega tak tertangkap basah bermelankolis dengan arti sahabat.

“Oke, lanjut ke misi selanjutnya!”

Mereka tak kemana-mana. Satu-satunya benda yang berwana kuning memanglah batang pohon boncel. Tapi mereka jelas tak tahu apa dan bagaimana misi selanjutnya. Mereka ingin bertanya tapi tahu tak akan ada jawaban yang datang kepadanya.

“Ayo diskusi!” Jungkook mengintruksikan dan kelima lainnya lantas membentuk lingkaran.

“Kira-kira ada yang bisa memberikan kisi-kisi tentang warna kuning ini?”

Sujeong mengangkat tangan dan segera menjawab, “Kuning itu melambangkan keceriaan.”

Kelima pasang mata itu sontak memandang Sujeong. Jelas mereka tahu keceriaan itu adalah separuh jiwa Sujeong.

“Ada apa?” Sujeong menampilkan wajah bingung nan polosnya. Ia kikuk ditatap kelimanya sekaligus.

“Ini misimu Sujeong,” jelas Solbin mantap, yang lain mengangguk setuju.

Namun tidak dengan Sujeong. Ia menatap tak percaya sahabatnya. Tak begitu yakin ia bisa menaklukkan apa pun misi itu kali ini.

“Kau bisa Sujeong.” Itu kali pertama Mingyu meyakini kelebihan Sujeong dan Sujeong membalasnya dengan menatap tak percaya.

“Kalian sudah menentukannya?” cicit suara kecil nan lucu namun masih dapat terdengar nyaring. Dari batang pohon didepan mereka timbul beberapa tupai berwarna kuning imut.

Kelimanya mengangguk, kecuali Sujeong. Ia butuh pendongkrak kepercayaan diri sekarang. Ia bukan Solbin yang pemberani, pun bukan Bambam yang percaya diri. Dia hanya Sujeong.

“Hmm… baiklah. Ini giliranku.”

Tupai itu mendekati Sujeong sembari membawa kotak warna-warni, seperti rubik.

“Kau hanya perlu membetulkan rubik ini.”

Sujeong mengambilnya dan menatap tupai itu penuh tanya. Ketika tangannya bersentuhan dengan rubik itu, ia menjerit. Segala kenangan yang menyedihkan, menakutkan dan memilukan ada dihadapannya. Ia menutup matanya tapi kenangan itu masih terproyeksi jelas menembus retinanya.

“Sujeong kau baik-baik saja?!”

“Kau lemah ya? Semua keceriaan itu ternyata kepura-puraan? Itukah Ryu Sujeong yang asli?” cicitan itu sesungguhnya kecil sekali sampai-sampai hanya Sujeong yang mendengarnya. Namun itu berdampak sangat besar bagi gadis itu.

Seakan tertampar mendengarnya, Sujeong mengeratkan pegangannya pada rubik itu. Ia membuka matanya dan bersusah payah menahan air mata yang hendak keluar. Tidak boleh seperti ini. Ia tak boleh kalah hanya karena kenangan itu. Ia hidup di zaman sekarang. Bukan hidup dalam kelamnya kenangan.

Susah payah, Sujeong mengotak-atik, memutar-balik, menggeser rubik. Ia mencoba memfokuskan pikirannya hanya pada rubik itu pun disekelilingnya kenangan itu berputar terus menerus. Kenangan ketika kedua orangtuanya meninggal, ketika Ken hampir tidak punya tangan karena eksperimennya, ketika ia putus cinta, ketika sahabat-sahabatnya menjauh karena kesalahpahaman, ketika Jungkook menghilang hanya karena permainan konyol dari Ken. Semua itu berputar di sekelilingnya.

Sujeong tak mau menangis dan tak akan menangis. Ia tak akan menunjukkan kerapuhannya dan ia harus tetap menjalani hidup bagaimanapun kelamnya kenangannya. Ia fokus pada rubik itu dan beberapa menit kemudian yang seakan seabad, Sujeong mengangkat rubik itu dan berseru, “Aku sudah selesai!”

Si tupai kuning pun mengambil rubik itu. Ketika rubik sudah tidak digenggaman Sujeong lagi, semua kenangan itu musnah, diganti wajah si tupai yang terkesan meledek. Sujeong jatuh tak berdaya. Tenaganya telah terkuras demi menahan emosi dan fokusnya.

“Kau tidak menangis bukan, Sujeong?”

Sujeong menatap tupai itu dalam, detik berikutnya senyum tulus terpeta disana, dan suara serak keluar dari bibir tebal itu, “Terimakasih sudah membuatku sadar bahwa aku harus ceria menghadapi segala kejadian, walau itu memilukan.”

Si tupai berjalan menjauh. Cicitnya kembali terdengar, “Selamat Ryu Sujeong, kau berhasil menaklukan misi kuning. Imbalan, air mati akan hilang lima puluh persen dari air mati di Alter Egomu.”

Kelimanya segera mengelilingi Sujeong yang sudah berlutut di atas tanah.

“Sujeong, kamu baik-baik saja?”

“Apa yang terjadi?”

“Sujeong kenapa?”

“Apa yang dia lakukan.”

“Sujeong, wajahmu pucat!”

Sujeong menatap satu per satu wajah sahabatnya. Ia sadar bahwa kelima orang inilah yang selalu berada disekelilingnya selain Ken. Merekalah yang tahu isi hatinya bahkan ketika ia mencoba berbohong. Merekalah yang memberi Sujeong kekuatan ketika ia menghadapi masalah. Entah bagaimana nasibnya kalau ia tak bertemu sahabat-sahabat seperti mereka.

Gadis itu berdiri dan menampakkan senyum tulusnya, “Aku baik-baik saja. Ayo kita menuju awan hijau disana.”

“Tapi bagaimana caranya?”

Seakan menjawab pertanyaan Bambam tadi, dari tanah dibawah mereka terdengar suara debam. Tiba-tiba tanah itu terbuka, membuat keenamnya menciptakan jarak. Dari lubang menganga itu, terciptalah sebuah tangga yang terus naik dan terus naik seperti eskalator. Tanpa pikir panjang, Mingyu dan kelima sahabatnya menyusuri tangga itu.

“Kurasa Mingyu bisa menaklukan misi ini.”

“Memang kamu tahu misi apa selanjutnya?”

Solbin tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tapi aku yakin. Entahlah, sepertinya hijau ini memang identik dengan Mingyu,” sejenak ia menoleh kepada Sujeong, “Sujeong, kamu tahu arti warna hijau?”

Tanpa ragu Sujeong menjawab, “Pengharapan.”

Mingyu refleks menengok ke arah Sujeong. Ia tak yakin akan apa yang diucapkan Solbin. Memang ia punya pengharapan apa?

Mereka sudah sampai di hamparan kapas hijau lembut. Jika melangkahkan kaki, rasanya seperti berjalan di atas air, hanya saja warnanya hijau dan lebih padat. Keenamnya berjalan hati-hati, takut kapas itu terlalu rapuh menahan berat tubuh mereka.

Dari gumpalan-gumpalan kapas itu, terbentuklah seekor domba dengan bulu selembut kapas. Mereka takjub, tapi dikembalikan ke realita oleh suara yang tiba-tiba menggema, “Siapa yang bermain di misi ini?”

Jungkook hendak maju kalau saja tangannya tidak dicekal Mingyu. Matanya seakan menyiratkan bahwa ini bukanlah waktunya Jungkook.

“Aku.”

Setelah mencegah Jungkook, Mingyu berjalan mendekati domba itu.

“Jadi Kim Mingyu?”

Mingyu mengangguk mantap. Maka terbentuklah labirin dihadapannya. Seakan menjawab rasa ingin tahu Mingyu yang bingung dngan kemunculan labirin, domba itu mengelilinginya dan masuk ke dalam labirin. Mingyu menggaruk kepalanya, pun ia mengikuti domba itu masuk ke dalam labirin.

Ketika Mingyu memasuki labirin itu, angin berhembus kencang sekali, kabut menyelimuti tempatnya berdiri seakan ada Dementor yang menghisap habis harapannya. Atau memang Ken menciptakan sosok penjaga Azkaban di dalam permainan ini?

Mingyu kehilangan akal. Angin berhembus terlalu kencang tapi ia tak tahu ia harus melakukan apa.

Dan suara itu menjawab segalanya.

“Apa yang akan kau lakukan ke depan?”

“Aku harus menaklukan Color Run bersama sahabat-sahabatku untuk pulang ke rumah.”

Jawaban enteng Mingyu seakan membawa pengaruh besar, kabut disana perlahan menipis. Angin pun tak sekencang pertama kali ia menginjakkan kaki ke labirin ini.

“Apa yang kau inginkan saat ini?”

“Menyelesaikan petualangan kami berenam.”

Sebuah pintu pada tembok di hadapan Mingyu tercipta. Ia tersenyum lebar dan bergegas membuka pintu itu, seakan ada pengharapan baru yang merasuki dirinya.

“Seberapa yakin kamu akan menang?”

“Seratus persen.”

Ia melangkahkan kakinya ke kanan dan menyusuri jalan setapak.

“Mengapa kamu bisa berpikir seratus persen?”

Pertanyaan itu seakan membawa kembali kabut dan angin kencangnya. Mingyu sampai menutup matanya tak tahan dengan anginnya.

“Kami berenam dengan pribadi yang berbeda pasti akan bisa menaklukannya.”

Tapi Mingyu tak pasrah begitu saja. Lelaki itu tetap menjawab pertanyaan dari suara itu. Tak pernah berniat membiarkan ia dan teman-temannya terperangkap disini.

“Kau tak takut mati?”

“Mengapa harus takut mati kalau masih punya sesuatu yang pasti diperjuangkan. Orang yang takut mati hanya orang-orang yang putus asa dan tak berpengharapan untuk menjalani hidup.”

Lelaki itu terus melangkahkan kakinya dan berpegangan kuat-kuat pada dinding. Ia tak tahu seberapa kencang kekuatan angin ini. Mungkin saja bisa menghempaskannya ke dunia lain. Tapi ia yakin, dan secercah harapan mulai terlihat dari pintu di ujung sana.

“Kalau disuruh memilih, kau akan pilih masa lalu, masa sekarang, atau masa depan?”

“Aku akan memilih masa sekarang. Melupakan masa lalu dan berusaha untuk masa depan.”

Mingyu berharap semua perkataannya bisa terwujud. Walau terkesan muluk, ia tak mau menggeser harapan-harapan itu pada point utama perwujudannya di dunia nyata.

Kaki jenjang itu kuat-kuat melangkah hingga mencapai ujung pintu kayu bertahtakan batu zamrud. Mingyu berusaha sekuat tenaga untuk memaksa tubuhnya keluar dari tempat itu sekarang juga.

“Selamat Kim Mingyu, kau berhasil menaklukan misi hijau. Imbalan, air mati akan hilang lima puluh persen dari air mati di Alter Egomu.”

Dan itu berhasil.

“Hah? Yang benar saja?”

“AAAAA.”

Labirin itu menghilang. Kapas-kapas di bawah mereka pun perlahan mencair dan meleleh. Mereka terhempas dari ketinggian hampir lima belas kaki, namun untungnya mendarat di atas rumput biru yang empuk. Tanpa lecet, mereka berenam bangun.

“Apa itu tadi?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau… apa yang domba tadi lakukan Mingyu?”

Mingyu menatap wajah sahabat-sahabatnya dengan seksama. Mereka tak melihat aksi dari misinya tadi?!

“Apa ada yang terjadi di dalam labirin itu?

Mingyu terdiam, walau sedetik kemudian tertawa. Ternyata sahabatnya tak ada yang mengetahui aksi susah payahnya tadi.

Entahlah, tapi rasanya Mingyu tak memikirkan keharusan kelimanya untuk mengetahui misinya.

“Oke, masih ada tiga misi lagi. Semangat!”

“Kami masih tak tahu misimu, tahu.” Solbin menyanggah Mingyu yang baru saja menyelesaikan kalimatnya.

“Apa pentingnya misi itu? Yang penting kan aku sudah melakukannya dan berhasil demi sahabat-sahabatku. Harusnya kita lebih fokus pada keadaan selanjutnya.”

Mendengar Mingyu, mereka terdiam. Benar, bagaimana pun anehnya misinya tadi, mereka tetap harus menempatkan fokus pada misi selanjutnya. Bukan malah terlena pada tebak tak berhadiah itu.

“Baiklah… ada yang bisa menjelaskan tentang rumput biru ini dan kemungkinan misinya?”

Semua menengok ke arah Sujeong. Ini sudah keahlian Sujeong. Sejak dulu ia selalu dijejalkan tentang spektrum cahaya ini oleh Ken. Jadi jelas saja sedari tadi ia yang mengoceh tentang arti-arti dari warna-warna ini.

“Biru itu melambangkan kedamaian.”

Kelimanya juga tahu siapa yang biasa membawa damai dan melerai pertengkaran mereka. Semua mata tertuju padanya.

“Apa? Aku?”

“Ya memang siapa lagi?” tanya Bambam gemas. Jungkook hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Ditengah-tengah diskusi mereka, suara asing lagi-lagi menyambangi telinganya. Kali ini terdengar berbeda karena diikuti oleh beberapa auman kecil. Tanpa menampakkan diri pun, keenamnya tahu bahwa kali ini lawan mereka adalah binatang yang bergelar raja hutan.

Tanpa ditanya terlebih dahulu, Jungkook segera mendekati singa yang seakan sedang duduk santai. Ini bukan saatnya gemetar. Ini waktu untuk menaklukan misi.

“Jadi? Jeon Jungkook yang akan maju?”

“Ya,” balas Jungkook mantap. Apapun yang akan jadi misinya nanti. Itu adalah keputusannya dan sahabatnya. Tak mungkin salah.

Zrep

Kelima sahabatnya sontak mundur seakan ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka dari Jungkook. Jungkook tahu kini ia sendirian, tapi ia juga tahu kalau ini demi sahabatnya.

Sekonyong-konyong muncul monitor seukuran tubuh manusia. Monitor itu memproyeksi ia dan kelima sahabatnya saling berangkulan, namun detik berikutnya adegan baru pun bertandang. Pertengkaran Bambam dan Solbin terproyeksi di sisi kanannya.

Baru saja ia hendak menghampiri sosok itu, di sisi kirinya tercipta perang dingin antara Yuju dan Mingyu, yang kemudian menghilangkan pertengkaran Bambam dan Sobin. Sekali lagi, ketika ia hendak menghampiri mereka, hal itu menghilang begitu rupa. Kini menampilkan kelimanya sekaligus berjalan sendiri-sendiri seakan mereka tak kenal. Seakan mereka bukan sahabat. Bahkan tatap mata mereka terpancar tak menyukai satu sama lain.

“Apa yang kau lakukan Jungkook?”

Jungkook terdiam, namun kalimat tadi menamparnya. Ia berteriak begitu kerasnya, “Kita ini sahabat! Mengapa kalian berjalan seperti itu? Kalian pikir kalian bisa melangkah sendirian?!”

Gambar Sujeong disana menengok langsung ke arah Jungkook sembari tersenyum sinis, “Kamu bukan pimpinan kami Jungkook, jadi berhenti sok memerintah kami!”

“Apa masalah kalian? Bukankah bisa kita selesaikan baik-baik? Kita bukan bersahabat satu-dua hari. Tidakkah kalian ingin persahabatan ini sampai kita tua nanti?”

Monitor itu kembali lenyap. Kini digantikan oleh sosok singa berbulu biru. Jungkook mencoba mengembalikan emosinya yang tadi baru saja keluar.

“Kalau kau dihadapkan pada kejadian tadi, mana yang akan kau pilih? Solbin, Bambam, Sujeong, Mingyu atau Yuju.”

Jungkook terdiam. Bagaimana bisa ia disuruh memilih antara kelima sahabatnya? Mereka semua sama, sama-sama ada di saat dirinya bersuka maupun berduka. Mana mungkin ia bisa memilih satu diantaranya? Itu berarti dia tak sayang kelimanya.

“Aku akan memilih untuk membetulkan wadah sahabatku yang rusak. Aku hanya akan meluruskan pertengkaran mereka.”

Singa itu mendekatkan diri ke Jungkook, tapi Jungkook tidak gentar. Ia hanya berkata sesuai hatinya.

“Aku tidak butuh omongan dustamu, Jeon Jungkook.”

“Aku tidak berdusta!”

Singa itu tersenyum sinis, kemudian membalikkan badannya. Sesaat kemuadian suaranya kembali terdengar, “Selamat Jeon Jungkook, kau berhasil menaklukan misi biru. Imbalan, air mati akan hilang lima puluh persen dari air mati di Alter Egomu.”

Choi Yuju, lima puluh persen.

“APA?!”

Keenamnya gundah. Mereka bingung harus senang karena satu misi kembali ditaklukan atau harus cemas karena sekali lagi ada satu sahabat mereka yang Alter Egonya akan siap menyala.

Yuju sudah menampakkan wajah kagetnya, namun sebentar ia kembali menampilkan sosok tenangnya, “Aku baik-baik saja, kok. Ayo kita teruskan misinya.”

Mereka tahu Yuju sebenarnya tidak baik-baik saja, tapi mereka tak sanggup untuk bertanya lebih dalam.

Tepat disaat berakhirnya kalimat Yuju, rerumputan biru itu diterbangkan angin. Angin ini bukan seperti pada misi Mingyu tadi, namun angin yang berhembus dengan lembut membawa sisa-sisa rumput biru ke atas.

Keenamnya melongo takjub melihat pemandangan ini. Hampir sekitar lima menit mereka menatap lamat-lamat angin lembut itu membawa pergi rumput biru.

Ketika rerumputan biru sudah diterbangkan tak tahu kemana, kini mereka sadar bahwa tempat mereka berpijak telah beralih menjadi tanah lapang luas dengan warna nila. Remaja-remaja itu bersemangat menggebu-gebu untuk misi terakhir mereka.

Mungkin hanya Yuju dan gadis berpipi tembam di sebelahnya yang tak merasakan euforia misi terakhir, “Tapi apa kalian tidak aneh, mengapa misi Ken oppa bisa kita taklukkan dengan begitu mudah?”

“Ayolah, Ken hyung memang aneh kan?”

Sujeong menggaruk tengkuknya, ia tetap merasa aneh kendati sahabatnya berkata demikian. Permainan ini yang merancang kakaknya loh, masa semudah ini.

“Kalian sudah mendiskusikannya?”

Seluruh kepala masing-masing menoleh ke arah sumber suara. Mereka mendapati seekor ular dengan panjang kira-kira tujuh meter, berdesis. Hampir-hampir Sujeong berteriak kalau saja ia tak langsung membekap mulutnya.

“Ja-jadi misinya?” Yuju mengeluarkan cicitannya manakala ia sadar kini gilirannya. Misi terakhir dan ia tahu hanya dialah yang tersisa yang belum menyelesaikan misi. Namun benaknya memberontak, mengapa juga harus ular ini yang menjaga misinya?!

“Choi Yuju-kah?”

“I-iya….”

Semua diluar dugaan. Seakan ada sebuah tangan tak terlihat yang meninju masing-masing dari kelima orang itu hingga mereka terlempar sejauh 8 meter. Sedangkan tepat pada detik itu juga, Yuju terhempas pada kursi yang datang entah darimana.

Masih dengan ketiba-tibaan, meja lengkap dengan kertas dan pulpennya berada tepat di hadapan Yuju. Ia mengerutkan kening, mengapa ini terlihat seperti akan ujian negara?

Ketika teman-temannya sibuk dengan pengaduhan dan penahanan rasa sakit, suara itu kembali mendesis, “Tolong tuliskan hal positif dan negatif yang ada pada setiap individu kalian berenam.”

Yuju menelengkan kepalanya. Maksud dari misi ini hanya untuk mendeskripsikan persahabannya atau bagaimana?

“Aku memperhatikan setiap kata, Choi Yuju, jadi jangan sampai menuliskan kebohongan atau semacamnya. Aku akan tahu.”

Yuju mengangguk. Sekarang ia sibuk bergelut dengan kertas dan pulpennya. Kata-kata itu mengalir begitu saja. Jungkook yang mengayomi namun terlalu keras kepala, Sujeong yang ceria namun seringkali jika punya masalah tak pernah diceritakan, Bambam yang kelewat dewasa dalam arti lain namun selalu bisa menjadi motivator mereka, Solbin yang ketus namun penyayang, Mingyu yang jutek tapi sangat loyal.

Dan dirinya yang pemalu namun sering kali melukai teman-temannya dengan perkataannya.

Lalu, persahabatan diantara mereka?

Yuju makin bersemangat ketika mencapai saat dimana ia menorehkan kalimat, ‘Persahabatan kami dipenuhi dengan keegoisan, bentak, amarah, tangisan, candaan yang kelewat batas tapi semua dibentuk dengan rasa bersalah, kehilangan, kasih sayang, permintaan maaf. Dan satu hal lagi, waktuku bersama mereka sangat berharga karena mereka menangis bersamaku ketika duka dan tertawa bersamaku ketika suka.’

Tepat pada akhir titik yang Yuju torehkan, kertas itu terbang ke atas dan terbakar. Ia hampir berteriak karena hasil curahannya lenyap begitu saja.

“Choi Yuju, tadahkan kedua tanganmu. Pikirkan tentang persahabatanmu, apakah kalian bisa membinanya hingga ajal menjemput nanti atau malah sepulangnya kalian dari sini, kalian malah terpecah belah. Kau harus bisa memikirkan bagaimana caranya kalian dapat bertahan.”

Yuju menurut. Ia memejamkan matanya memikirkan hal itu berulang-ulang. Setelah otaknya terfokus pada permasalahan itu, terciptalah visualisasi apel merah pada kedua tangannya.

“Coba kau tukar posisi apel itu.”

Lagi-lagi Yuju melaksanakan intruksinya. Apel pada tangan kanannya ia tukar dengan apel di sebelah kirinya, begitu pun sebaliknya.

“Mana yang lebih berat?”

“Apel di sebelah kanan.”

“Selamat Choi Yuju, kau berhasil menaklukan misi nila. Imbalan, air mati akan hilang lima puluh persen dari air mati di Alter Egomu.”

“Apa?!”

Tubuh-tubuh itu berlarian menuju satu pusat dan saling menabrakkan diri. Dengan gaya seperti Teletubies, mereka berangkulan sembari berputar-putar.

“Misi selesai! We did it! Hore!”

Namun dugaan mereka salah. Muncullah kelinci berwarna ungu dihadapan mereka dan berseru, “Kalian masih punya satu misi lagi dan ini amatlah sulit.”

Kelinci itu meloncat menjauhi mereka.

“Kejar aku!”

Sejenak para remaja itu terdiam. Berusaha mencerna apa yang kelinci itu katakan. Mereka masih punya misi lagi? Lebih berat? Lalu siapa yang akan menjalankan misinya?

Walaupun itu disadarkan oleh Mingyu, “Ayo, tunggu apalagi? Masih ada satu misi lagi yang belum terselesaikan.”

“Tapi kita semua sudah melaksanakan misinya satu persatu….”

“Itu berarti kita menaklukkannya bersama. Ayo!”

Maka berlarilah keenam orang itu pontang-panting mengejar kelinci ungu tersebut.

***

“Ki-kita mau dibawa kemana?” Sujeong mendemonstrasikan pikirannya manakala netranya menangkap pemandangan yang luar biasa mengundang curiga, yang lain hanya bisa berganti pandang. Sama-sama berfirasat buruk.

Dihadapan mereka berdiri kokoh sebuah gerbang yang mereka yakini dari kayu namun berwarna ungu. Sesungguhnya gerbang itu terbuka, namun tak bisa mereka pandang apa yang ada di dalamnya.

The Finish Line,” ungkap si kelinci sembari mengangkat satu kaki depannya, “Adalah serangkaian permainan terakhir pada Color Run. Mereka tak ingin membuktikan kekuatan maupun kepintaran kalian, melainkan mereka butuh kerjasama kalian dalam menaklukkannya. Sedikit saja kesalahan yang kalian buat, air mati akan bertambah lima puluh persen dari jumlah semula.”

Mendengar itu semua, wajah mereka pucat pasi. Baru beberapa waktu lalu mereka berteriak girang karena berhasil memecahkan misi, sedang sekarang mereka harus melewati  misi baru dan terlihat sulit. Keenamnya pesimis.

“Ta-tapi… itu tidak adil kan?”

Kelinci itu menoleh ke arah Mingyu dan tersenyum meremehkan, “Hanya orang-orang yang merasa bahwa anggota timnya tidak kompaklah yang takut pada misi ini.”

Setelah melontarkan kata-kata yang sungguh menohok keenam orang itu, Si Kelinci kembali melompat dan kini tujuannya memasuki gerbang itu.

“Dengar,” omongan Jungkook seketika membuat yang lain membentuk lingkaran, “Kita berteman sudah bertahun-tahun. Kita tahu kita bisa melewati ini, jadi jangan sampai ada yang ragu. Mengerti?”

Yang lain mengangguk paham dan refleks bergandengan tangan satu sama lain, memasuki gerbang ungu tersebut.

Tepat disaat kaki diinjakan disisi gerbang lain, mata mereka mengerjap-kerjap kaget. Pasalnya, netra itu terkaget karena perbedaan warna yang mencolok yang bisa mereka lihat. Jika di sisi gerbang sebelumnya pemandangan yang mereka tangkap berwarna-warni, kini yang dapat dilihat hanya dua warna, hitam dan putih.

Remaja itu kompak melangkahkan kaki melihat keadaan sekitar. Lalu, Solbin bersuara, “Apa yang harus kita lakukan?”

Maka tertutuplah mata mereka semua kecuali Jungkook. Ia terheran dan memandang satu diantara yang lain.

“Ada apa….”

“Kalian hanya ditugaskan mengoper sesuatu di tangan kalian dengan pemandu yaitu Jeon Jungkook.”

Jungkook termangu, ia melihat kini tangan sahabat-sahabatnya dinaungi oleh cahaya warna yang redup. Ia mulai gugup karena dialah yang harus menopang misi ini.

“Kalian sudah siap? Satu, dua, mulai!”

Jungkook mulai mengintruksikan perjalanan kelima sahabatnya. Mulai dari Solbin ke arah Bambam hingga Yuju yang menaruh cahaya yang sudah menjadi putih ke satu tabung kecil.

Ia berteriak-teriak dan hampir frustasi. Di tempat itu bukan hanya suara Jungkook yang mendominasi, namun segala suara semacam bisikan-bisikan meredupkan semangat pun berlomba-lombe untuk didengar yang lain.

Insiden-insiden kecil juga tak luput dari mereka. Mulai dari Bambam yang terlampau jauh berbelok, Mingyu yang hampir tersandung sampai Yuju yang hampir memecahkan cahaya itu dengan salah penempatan.

Namun tak ada yang lebih menghebohkan dari Sujeong yang menjatuhkan cahaya redupnya.

Ryu Sujeong, sembilan puluh persen.”

Antara panik dan kesal. Keburu-buruan dan ingin bertindak hati-hati mereka menyelesaikan misi ini. Sujeong malah sudah menangis karena kesalahan fatalnya.

Ryu Sujeong, seratus persen.”

“APA?!”

Keenamnya gundah, mereka tak tahu apa yang harus dilakukan jika tak bisa membawa Sujeong yang asli kembali ke dunia sesungguhnya.

Yuju saja sudah menangis sesenggukan, “Bagaimana ini, kalau Sujeong tak selamat kita harus apa?”

Tanpa diundang dan selalu tiba-tiba, Gorila putih yang menemui mereka awal mereka masuk Color Run sudah ada di hadapan mereka. Antara mereka kesal mengapa baru saat itu dia datang dan punya harapan juga untuk menyelamatkan Sujeong.

“Alter Ego Sujeong sudah berlari ke arah sini. Aku sarankan kalian juga berlari.”

Bambam sudah kesal, pun dia memang tak begitu suka dengan Gorila itu, ia berteriak frustasi, “Ya kami tahu kami harus berlari, tapi tujuan kami saja kami tak tahu!”

“Kalian hanya perlu berlari melewati hitam-putih ini ke gerbang kecil di sebelah sana. Harus satu-satu melewatinya karena tak muat untuk dua orang sekaligus.”

Taka da jeda sesekon, mereka langsung berlari. Seperti sebelumnya, rangkaian tangan ketika berlari, kini Jungkook-lah yang tersadar lebih dulu dan segera menarik tangan Sujeong diikuti Mingyu, Yuju, Bambam dan Solbin.

Agak susah sebenarnya, berlari seperti ini akan lebih menguras tenaga dan membuang waktu, namun mereka tahu jika tak seperti ini, kemungkinan ada yang tertinggal sangat besar.

Mereka sudah memusatkan fokus pada gerbang kecil ungu di depan mereka ketika Alter Ego Sujeong sekonyong-konyong datang di belakang mereka. Ia tengah melewati gerbang masuk hitam-putih dan kemungkinan besar hanya berdurasi sepuluh detik saja, ia sudah bisa membunuh Sujeong.

“Sujeong ayo!”Dengan kekuatan akhir yang tersisa, mereka berlari dengan kecepatan maksimal. Gerbang sudah tiga meter lagi ketika Alter Ego Sujeong sudah mencapai Solbin dan segera menarik Sujeong….

Byur

“Hah!”

Mereka basah kuyup.

***

Kendati sudah satu minggu paska kejadian itu, enam serangkai–minus Sujeong tentu saja–masih saja mendiamkan Ken. Mereka sepakat untuk tidak berbicara barang satu kalimat pun dengan lelaki itu. Dilayani oleh Ken di café-nya pun mereka tak mau.

“Dasar orang gila. Mana ada seorang kakak yang mengorbankan adiknya untuk kepentingan konyol macam itu?!” Solbin kembali tersulut emosinya manakala ia melihat Ken dari kejauhan.

Yuju mengangguk setuju, namun ia sudah kepalang lelah memaki Ken tepat satu jam setelah mereka bisa keluar dari Color Run. Rasa-rasanya semua emosinya ia tumpahkan pada Ken saat itu juga.

Mingyu dan Bambam hanya bisa terdiam. Mereka pun emosi, tapi nampaknya kemarahan Solbin ditambah amukan Yuju kemarin dulu sudah cukup untuk mengguncangkan emosi mereka.

Tak tahu kalau Yuju yang semanis itu bisa segahar kemarin.

“Sudahlah toh….”

“Ada apa ini?”

Omongan Jungkook terpotong oleh sosok berpipi tembam yang menghampiri mereka. Seketika juga tak satu pun ada yang nampak mengobrolkan hal penting.

“Tak ada apa-apa Sujeong,” ucap Mingyu tak normal sehingga yang lainnya nyaris mengutukinya karena tak bisa menutupi apa yang tadi mereka bicarakan.

“Apa karena seminggu yang lalu?”

Kelimanya kompak memfokuskan retina pada gadis berponi tersebut. Dengan wajah-wajah penasaran mereka bertanya, “Kau sudah bisa mengingatnya?”

Sujeong terdiami hampir lima menit sehingga kawan-kawannya pikir ia masih tak bisa mengingat apa yang telah terjadi. Walaupun harus diakui, kehilangan ingatan saat permainan konyol itu tak sebanding dengan kehilangan raga itu seutuhnya.

“Tak apa kalau….”

“Waktu yang kulewati bersama kalian adalah hal yang paling berharga untuk menghargai hidup.”

Detik itu juga segala barang yang mampu melayang dilemparkan tepat mengenai tubuh Sujeong yang kini tengah menghindar.

Karena tanpa kalian, aku tak bisa menyadari bahwa hidup ini sangat berharga untuk disia-siakan, waktu bersama kalian adalah hal yang paling membahagiakan, serta hal-hal yang kulalui bersama kalian adalah suatu peristiwa yang akan terpatri di memoriku selamanya.

Karena tanpa sahabat, hidup ini bagai sayur tanpa garam.

-END-

p.s: Sorry for bad fanfiction and HAPPY ANNIVERSARY IFK!

Iklan

19 tanggapan untuk “[Movie Festival 3] COLOR RUN by Phynz20”

  1. keren! fantasinya dapet bgt! XD
    mingyu dpt warna hijau asek XD
    tapi kok aku rada nggak ngeh ya bagian akhirnya.-.
    adakah yg bersedia menjelaskannya untukku? wkwk

    Suka

    1. Aduh makasih hahahaXD
      Yaps! Mingyu dapet warna ijo hehehe
      Jadi singkatnya mereka berenam lolos Color Run (walau dengan Sujeong yang hampir “ketinggalan” disana.
      Makasih udah mau baca dan komentar ya Chan!^^

      Suka

  2. Aih satu kata, Keren!
    Berasa nonton film haha
    Banyak kata kata mutiaranya nih, makasih dah bikin ff macem ini kkk i love my bestfriend even more xD
    Tapi agak gak ngeh sih sama akhirnya pas mereka kecebur /?
    But overall Keren
    Keep writing yah

    Suka

    1. Waduh…… Makasih ya? Hehehe
      Jadi seneng bisa menginspirasi kamu /lah
      Iya, itu nggak ngeh mungkin karena eksekusinya kecepatan hahaha. Jadi sebenernya pas mereka keluar dari gerbang, mereka balik ke kolam renang dan kalo ke kolam renang pasti basah kan……… (?)
      Siap! Makasih udah mampir ke lapak aku!^^

      Disukai oleh 1 orang

  3. Aigooo eonni dapet ide darimana buat cerita kaya gini >.< keren banget eonni ceritanya…
    Aku jadi engga bisa bayangin kalo Ryu eonni ketinggalan di permainannya si Ken 😀
    keep writting eonni!! 😉

    Suka

    1. Halo Gyeomhee!
      Ide cerita? Aku lupa darimana ide ceritanya (hahaha) tapi kalo nggak salah dari games color run sama arti arti dari warna deh ehehe ((banyak juga sih inspirasinya))
      Kalo Ryu kejebak, Ken pasti nyesel banget………
      Siap siap! Ditunggu aja yaaaaa

      Suka

  4. Kereeeennn!! ^^b entah kenapa aku malah ngelantur Mingyu-Solbin ada hubungan lebih sekedar sahabat. Tapi Yuju-Mingyu kayaknya juga ((kayaknya)). Jadi kayak Mingyu nge-phpin Solbin, dan malah berpaling ke Yuju. Duh! Keren kak, aku suka genrenya. Aku suka Si Merah Solbin, hehe 😀

    Suka

    1. Aduh, ini sih bukan siapa yang ngephpin siapa dan siapa yang sekedar sahabat. Aku bikinnya pure mau friendship nggak ada yang baper baperan hehehehe (Tapi kalo emang ada yang nangkep begitu berarti akunya aja yang baperan hahaha)
      Makasih ya, jadi seneng hahahaXD Yap yap! Aku juga suka Solbin ((sebenernya semua 97liners sih suka eheheh)

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s