[Movie Festival 3] Moment Wie Diesen by Juliahwang

momentwiediesen2-bbon

[IFK MOVIE FESTIVAL 3]

MOMENT WIE DIESEN

a short movie by Juliahwang (@kakjul_)

starring

[Red Velvet’s] Seulgi & [17’s] Wonwoo

support cast [Red Velvet’s] Irene, [OC’s] Yuna, Went and Kris

Genre: Family, Hurt/Comfort, Slice of life, Sci-fi, AU! Rating: General Duration: Ficlet

Awesome poster by Bbon

Happy 4th Anniversary IFK!

“Aku adalah Seulgi dan aku menyayangi adik tiriku.”

.

.

.

Aku adalah Seulgi dan dia adalah Wonwoo.

Kami bertemu tujuh tahun yang lalu tepat saat mentari terbenam di ufuk barat, di mana pada saat itu ayah pulang bersama seorang wanita berparas keibuan dan seorang anak laki-laki yang kuterka hanya berbeda dua tahun dariku. Wajahnya terlihat ketakutan dan hanya bersembunyi di balik punggung si wanita.

Aku melihat kebahagian di mata ayah saat mengenalkan kedua orang asing itu. Ia tersenyum. Senyum pertama semenjak kematian ibu yang ia perlihatkan padaku. Sebelum itu, beliau mana pernah tersenyum dan berubah menjadi pendiam.

Mataku menatap mereka mengintimidasi. Anak lelaki itu memiliki mata yang sipit dengan sorot yang tajam dan rahang yang tegas; mirip seperti ayah. Dia balik menatapku walaupun sebenarnya masih ada rasa takut di dalam dirinya.

Belum selesai kami baku tatap dan aku masih tidak mengerti situasi saat itu, tiba-tiba aku dibuat tak percaya dengan keputusan yang diumumkan ayah. Cairan bening dari ujung kelopak mataku menetes keluar tanpa perintah. Tungkaiku melemas seakan ingin ambruk.

Tanggal 28 Agustus 2008 yang lalu, Wonwoo resmi menjadi adik tiriku.

oOOOo

 

Musim dingin di bulan Desember. Detik jam yang berirama seakan menjadi melodi pengantar bola putih itu jatuh di atas atap. Pagi-pagi sekali, ruang tengah telah hangat oleh panasnya perapian. Membuat seorang pria duduk di depannya menghangatkan tubuh.

Aku melongok ke bawah menatapnya. Selama delapan tahun bersama, aku masih enggan untuk menyapa ataupun bertatap mata dengannya, mungkin hanya sekali dua kali. Dia adalah Wonwoo dan dia orang pertama yang selalu menyapaku di pagi hari.

“Selamat pagi, Noona.”

Entah itu sapaan keberapa, toh aku tak peduli. Aku tak pernah balik menyapanya. Tak pernah ingin satu meja saat makan bersama dan sangat malas jika ditinggal serumah berdua dengannya, seperti saat ini. Jangan tanya kenapa, karena hingga saat ini aku masih memendam rasa kesal dan amarah kepadanya. Kepada ibunya dan kepada ayah yang membawa mereka ke dalam rumah ini.

Aku hanya duduk melamun menikmati salju yang turun di jendela. Sambil meneguk green tea hangat, aku mencoba melupakan segala penat selama seminggu ditinggal pergi dan di kurung berdua bersama Wonwoo. Kuakui, pria itu sangat rajin. Setiap hari ia memasak, membersihkan rumah, dan aku hanya menontonnya bekerja. Seakan ia tinggal bersama orang lumpuh. Sekali lagi aku tetap tak peduli. Tentu saja itu hal bagus karena ia mengerti posisi dirinya yang hanya menumpang di rumah orang. Membantu membereskan pekerjaan rumah bukan hal yang sulit.

Noona, ayo sarapan.” Wonwoo memanggilku kembali dan aku hanya mengangguk. Mengikutinya di belakang lalu mengambil jatah sarapanku dan kembali naik ke atas. Lantai dua adalah wilayahku dan pria kecil itu hanya memiliki tiga kali kesempatan untuk naik ke atas.

Dia sudah terbiasa akan sikap abaiku. Aku pernah sesekali membentaknya dan itu adalah hal biasa yang ia dapatkan hampir setiap hari. Dengan menunduk menyesal dan kadang tersenyum, itulah respons nya terhadapku dan setelah itu kami kembali tak saling mengenal; mungkin lebih tepatnya aku.

Noona, turunlah ke bawah dan hangatkanlah dirimu. Udara sangat dingin di luar sana.”

Aku pura-pura tak mendengar saat ia berteriak dari bawah dan tetap fokus pada makanan di hadapanku. Yah, dia benar. Udara memang dingin dan aku merasa nasi yang kumakan telah berubah menjadi es batu. Sweter yang kupakai tidak cukup menghangatkan tubuhku yang mulai menggigil. Kulirik jam dinding dan itu baru pukul delapan pagi.

Aku melenggang menuju kamar. Samar kudengar suara ribut-ribut di dapur dan kutebak Wonwoo pasti sedang melakukan pekerjaannya. Kulirik perapian bawah dengan apinya yang masih menyala. Nampak sangat hangat dan Wonwoo pasti senang melakukan pekerjaan musim dinginnya kali ini.

Pintu kututup rapat dan aku bersiap untuk tidur. Mungkin aku akan berhibernasi untuk sementara sambil memakai berlapis-lapis pakaian musim dingin. Aku tidak akan sadar apa yang akan terjadi ketika kubiarkan jendela terbuka lebar. Mungkin membiarkan tubuh ini membeku hingga hibernasiku selesai.

Sambil tertidur aku mulai bermimpi. Bermimpi bahwa Wonwoo dan ibunya pergi jauh dari rumah dan kehidupanku bersama ayah.

.

Sayang, mimpi itu tak terjadi. Yang kulihat hanyalah diriku yang sedang berdiri dengan wajah bingung di suatu tempat dengan warna putih yang mendominasi. Di sana sangat hangat seakan dalam ruangan itu musim panas sedang terjadi. Rasanya kuingin berbaring dengan nyaman dan tak mau kembali ke rumah. Beberapa sentuhan hangat kurasakan saat tubuhku terasa bagaikan es. Aku senang dan berbaring sementara memejamkan mata.

Aku menggeliat saat sentuhan itu makin terasa sangat nyaman. Ketika aku kembali ke alam nyata, aku melihat tubuhku sedang berbalut selimut tebal. Seseorang tengah memelukku dalam dekapanannya. Aku tak merasa kedinginan lagi walaupun tubuh ini masih menggigil. Kulirik dengan mata yang sedikit terpejam, Wonwoo sedang memelukku dengan wajah pucat dan nampak kedinginan. Ia menggigil dan hanya memakai kaos tipis yang menutupi tubuhnya. Keringatnya bercucuran dan suhu tubuhnya nampak hangat. Aku langsung melompat bangun dan mendapati pria itu kini kedinginan dengan mata terpejam. Kusentuh keningnya yang berkeringat dan ia menarik tanganku, memelukku dalam dekapannya kemudian berbisik pelan.

Noona kedinginan, Noona kedinginan…”

Jantungku berdegup kencang. Aku langsung menangis histeris saat itu. Wonwoo membeku kedinginan karena aku. Mencoba meminta tolong tapi bibirku tak mengeluarkan suara. Aku bingung, panik dan langsung memapah Wonwoo ke lantai bawah. Aku merebahkannya di depan perapian. Memeluknya sambil menangis kembali. Wajahnya sangat pucat dan bibir merahnya memutih kering dan pucat. Tangannya membeku dingin dan yang bisa kulakukan hanya menangis sambil terus memeluknya di depan perapian.

Sedang terjadi badai salju di luar sana. Saluran telepon daerah Seoul dimatikan serempak. Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Aku ingin mendengar Wonwoo memanggilku untuk sarapan bersama, aku ingin dia menyuruhku menghangatkan diri di lantai bawah, aku ingin dia menyapaku di pagi hari lagi dan saat itu aku tak tahu bahwa aku telah kehilangan dirinya untuk selamanya.

Napasnya terhenti. Jantungnya tak berdegup kembali. Ia tertidur pulas dalam pelukanku. Wonwoo tak bergumam lagi dan berhenti menggigil. Pada sore itu, aku menyesali diriku yang egois. Aku menyesali segalanya. Aku sampai ingat saat pertama kali aku melihatnya. Api benci dalam mataku bertemu mata kecilnya yang nampak ketakutan. Tapi bisa kulihat ada titik kecil yang bersembunyi di dalamnya, bahwa ia sangat senang bertemu denganku. Ia bangga bisa mempunyai saudara perempuan.

Musim dingin di bulan Desember, aku kehilangan adik tiri yang menyayangiku. Kuharap suatu saat nanti, ada Seulgi lain yang akan menyayangi adik tirinya dengan tulus sebelum mengembuskan napas terakhirnya tepat saat musim dingin.

oOOOo

 

Musim Gugur, tahun 2245

Irene mematikan perangkat komputer dan beranjak masuk ke dalam ruangan kaca. Sinar laser yang di arahkan pada dirinya seketika mati saat robot penembus beranjak pergi dari ruangan itu. Ia tersenyum simpul kala melihat sahabatnya menangis dalam duduknya. Dan segala percobaan tadi membuat Irene yakin bahwa Yuna ingin kembali ke masa lalunya.

“Aku membunuhnya, Rene. Aku tak kuasa ketika melihatnya membeku di pangkuanku.”

Ini yang Irene takutkan. Ketika ia meminta Yuna mencoba alat terbarunya, setengah hatinya berkata jangan. Yuna terlalu lemah dan gadis itu dahulu begitu keji dan egois. Irene tahu semua itu sebelum Yuna mengetahuinya. Seulgi masa lalu adalah Yuna yang sekarang. Reinkarnasi yang sama sekali bertolak belakang.

Irene meraih tubuh Yuna dan memeluknya. Gadis itu masih menangis ketika pada akhirnya ia tahu bagaimana dirinya pada masa itu. Alat pelihat masa lalu bernomor AD-48 miliknya memang berhasil, tapi membawa bekas luka yang dalam untuk Yuna.

“Tapi sekarang, kau bukanlah Seulgi. Kau adalah Yuna dan kau adalah kakak kandung Went.”

Irene melepas pelukan Yuna kemudian meraih monitor berjalan dan mengetik beberapa nomor. Menghubungi Went yang terlihat sibuk dengan alat terbangnya bersama Kris kemudian mengadu.

“Hey, Boy. Lihatlah! Kau punya kakak yang sangat cengeng.”

Went di dalam monitor terbahak sampai ia menambrak Kris yang sedang menghadang di hadapannya. Mendekatkan wajahnya ke arah monitor seakan ingin berbisik ke Irene. “Katakan padanya kalau ia sampai menangis lagi, aku akan merebut Milo dan mengurungnya dalam kandang cantikku.”

“Went, jika kau berani menyentuh Milo aku akan mengadu bahwa kau mulai berani menggeledah berangkas Ayah dan mengambil beberapa rancangan masa depannya!” sahut Yuna cepat tak terima atas ancaman tak bermutu dari adiknya itu.

Kini, kedua bersaudara itu mulai bertengkar dan saling mengancam dalam monitor sedangkan Irene hanya menonton sambil sesekali tertawa. Ia memang percaya takdir walau zaman telah berubah. Seulgi dan Wonwoo yang dahulu kini bertemu lagi di masa depan. Menjadi Yuna dan Went yang kini berada di hadapannya. Irene yakin, setelah Yuna tahu masa lalunya, gadis itu akan membayar semua kesalahannya dan akan lebih menyayangi adiknya dengan sepenuh jiwa. Karena ia tahu, kesalahan dulu bisa diperbaiki lagi di masa depan nanti.

Seperti Seulgi yang baru menyayangi Wonwoo dan Yuna yang lebih, lebih, lebih menyayangi Went melebihi jiwanya.

-fin

A.N : Selamat hari jadi yang ke 4th IFK! ^^ Yeah, ini movie festival pertamaku jadi semoga tidak mengecewakan dengan alur yang kecepetan, ngga nyambung sama tema apalagi judul, dll oh mai ini buatnya ngebut jadi maaf jika banyak salah dan maaf juga buat Fikha ngirimnya telat banget huhu /.\ semoga pesan dalam ff ini tersampaikan ya :’)

BIG THANKS FOR KAYEN udah bantu ngebeta~ Apalah diri ini kalau tanpamu kak :’)) sekali lagi makasih banyak~❤

Dan hanya mau meluruskan masalah judul itu bahasa Jerman yang artinya ‘Saat Seperti Ini’ jadi ya begitulah :’D hehe

And last, mind to review?

Salam hangat,

Juls.

3 thoughts on “[Movie Festival 3] Moment Wie Diesen by Juliahwang”

  1. halo julia ^^
    jadi ini temanya rebirth, ternyata. aku sdh menduga2, kira2 di mana unsur ‘waktu’nya muncul, eh ternyata mereka direinkarnasi di masa depan… uh padahal biasanya kan jangkauan alat2 begitu kalau di fiksi jarang bisa sampai kehidupan yg lalu, ya, cuman masa lalu aja gak sampai kehidupan sblm reinkarnasi.
    btw aku udh murung aja bawaannya waktu wonwoo nya sekarat. apakah ini akan menjadi fic gelap (lagi)? karena kebanyakan movfest kali ini agak gelap sih ceritanya, beruntung walaupun wonwoo mati tapi kisah seulgi gak berulang di kehidupan berikutnya ^^
    makasih sdh menulis ini dan keep writing! dan makasih juga utk likenya kemaren hehe.

    Suka

  2. aku awalnya mikir si seulgi bakalan suka sama wonwoo gitu, eh ternyata bukan ya.-.
    tapi keren loh kak, aku jd ngerasa aku harus lebih sayang ke adekku*niapa😄

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s