[4th Fanfiction Contest] Desiderabilis – zero404error

Desiderabilis-E-zero404error-poster

Desiderabĭlis

a ficlet mix by zero404error

Starring : [17’s] Xu Minghao, Wen Junhui, Jeon Wonwoo, Lee Chan; [BTS’s] Kim Namjoon; [The Ark’s] Jeon Minju

Duration: Ficlet || Rating: PG 15

Genre: AU, Historical, Friendship, Marriage Life, Romance, Scifi, Distopia

I own nothing except the plot!

.

Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga

.

.

[Xu Minghao X Wen Junhui]

Based on Nanking massacre Desember 1937

.

“Bangun, Ming! Mereka datang!”

Bisikan samar serta sentakan halus itu merenggut paksa kenikmatanku akan buaian alam mimpi. Diiringi dekapan tangan di bibir dan sepasang mata elang yang mengubah fokusnya dari kegelapan jalanan ke kedua netraku yang terpancang, Wen Junhui—sahabatku—berisyarat melalui tangannya; menyuruhku diam lantas merapat ke dinding terdekat, bersembunyi di sebalik reruntuhan arang.

Ada suara langkah-langkah berat sol sepatu yang beradu dengan kerikil jalanan dari kejauhan. Lantas, dari ketebalan kabut asap dan abu yang beterbangan, empat siluet manusia menapak dari ujung tikungan terdekat. Para serdadu berseragam itu mengintai melalui mata-mata tajam mereka, seakan tengah memastikan tidak ada satu pun makhluk hidup yang terlepas dari pengawasan. Tidak ada cengkerama yang keluar dari mulut-mulut yang terkatup waspada. Tidak pula gerakan sia-sia yang memancing pemberitahuan akan kedatangan mereka. Hanya kilatan bayonet di tangan para tentara yang memantulkan sisa-sisa pendar bara api di penghujung malam.

Aku dan Junhui sama-sama terdiam, pun meminimalisir gerakan. Kami menahan napas; menarik-hembuskan oksigen-karbondioksida sepelan mungkin tanpa suara, lantas menahan gerakan sekecil apapun. Hidup kami tengah dipertaruhkan. Kesalahan seremeh apapun mampu membawa kami ke tepi jurang kematian.

Beberapa sekon yang terasa laiknya selamanya, para serdadu melintas persis di samping reruntuhan tempat kami meringkuk diri. Bisa kudengar gesekan sol sepatu mereka. Sol-sol sepatu para pendatang yang sudah mengubah surga kami menjadi neraka tak bertepi. Sol-sol sepatu para perampas kemerdekaan kota ini. Derap langkah para pembunuh ayah ibu kami.

Mereka berlalu—setidaknya itu yang mampu ditangkap ekor mataku tatkala tumit bot mereka menghilang di penghujung puing terjauh. Ada kelegaan besar yang memenuhi rongga dadaku. Mereka tidak menyadari keberadaan kami, dan itu artinya kami selamat kali ini.

Iya. Kali ini. Paling tidak, kali ini.

“Nyaris saja.” Jun melepas tangannya dari bibirku lantas menghembus napas lega. Wajahnya tampak lelah sehabis mengumbar waspada. Disandarkannya punggung ke dinding terdekat yang juga kuikuti dengan tindakan serupa. “Kita selamat, Ming,” tukasnya.

Aku hanya mampu tersenyum, menatap bola perak yang kini menggantung di seperempat cakrawala, berusaha tidak terdengar terlalu pesimis saat mengucap kata jawaban untuknya, “Untuk kali ini.”

Bukan salahku kalau nada suaraku terdengar selirih desau angin yang bahkan tak mampu mengusir asap tebal dari puing-puing Nanking yang kucintai. Apa yang kualami beberapa hari terakhir tak pernah terlintas sedikitpun di benak sebelumnya. Tentara Jepang berhasil menguasai Nanking setelah dua puluh hari pengeboman tanpa henti. Aku kehilangan kedua orangtuaku; Junhui pun begitu. Kami berdua beruntung masih sempat meloloskan diri dari berondongan peluru yang menghampiri. Tetapi, aku bahkan meragukan apa itu keberuntungan ketika sekarang kami terpaksa bernapas dalam diam demi memertahankan diri.

“Oh, ayolah. Masih akan ada lain hari, Ming.” Lagi-lagi kalimat positif Jun merangsek ke runguku. Mengabaikan celotehnya, kualihkan fokus kedua manik gelapku ke arah jalanan berdebu. Puluhan raga tanpa nyawa bergelimpangan di sana. Tersapu debu, terpoles jelaga, bercampur dengan genangan merah yang sudah mengering dan hanya menyisakan anyir. Kondisi fisikku dan Junhui tak berbeda jauh dengan mereka; kotor dan bau. Hanya nyawa yang masih menetap serta beberapa luka ringan alih-alih darah yang berceceran yang jadi perbedaan signifikan.

“Tapi tidak ada hari-hari lain bersama orangtua kita lagi, Jun.”

Aroma daging-daging yang terbakar bercampur bacin menyambut ucapanku. Teriakan kesakitan, ratapan, suara letupan mesiu dan ujung-ujung bayonet yang menusuk daging kembali memenuhi memoriku. Kendati aku ada di sana saat mereka membunuh kedua orangtuaku, aku tak mampu berbuat apa-apa selain bersembunyi dan membeku gemetaran. Aku pengecut dan aku ragu orangtuaku bakal bangga tentang fakta itu.

Rasanya aneh ketika seluruh perasaan rindu itu bergumul tanpa diundang. Tiba-tiba aku merindukan tawa ayah dan ibu. Aku merindukan ceramah khawatir mereka tatkala aku dan Junhui bermain hingga kemalaman. Aku merindukan nyanyian pengantar tidur yang tak pernah absen ibu berikan untukku. Aku rindu dengan tepukan lembut ayah di puncak kepala sebagai apresiasi sayangnya padaku. Aku rindu dengan aroma dapur kami di pagi hari. Aku rindu dengan kasur empuk yang biasanya menemani tidurku. Aku rindu—

Oh, sial! Kuusap sudut mataku yang mulai berair. Kenapa aku malah menangis?

“Yang sudah mati memang tidak mungkin kembali lagi, Ming.” Kutangkap sosok buram Junhui dari ekor mataku. Sama sekali tidak ada air mata. Namun, roman getir terpulas jelas di wajah lelahnya. Seulas senyum agaknya ia paksa untuk tetap bersarang di sana. Dari dulu, dia memang lebih tegar dibanding aku. “Tapi paling tidak,” sahutnya kemudian, balik menatapku,”aku ingin kita mencoba hidup dengan membawa harapan mereka, Ming.”

“Mereka ingin kita hidup, dan meski hanya sedetik lebih lama, kurasa bukan saatnya kita menyerah begitu saja.”

Sejemang, dentang lonceng menara jam di kejauhan menguasai atensi sekitar.

Tiga dentangan keras.

Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga. Aku dan Junhui. Bergidik ngeri di tengah desingan peluru dan teriakan menyayat hati yang menjajah Nanking. Meraup kesadaran di antara kesunyian yang serta merta menyesap segala teriakan dan tangisan selepas dentuman besar membelah pekatnya malam. Bersembunyi, mengais hidup yang tak seberapa berharga di tengah gelimang nyawa yang terpisah dari raga di sudut lain tanah ini.

“Lagi pula, Ming.” Kedua netraku menumbuk manik obsidian Junhui. Meresapi tiap kata yang terlontar dari katupnya. “Bukankah kita masih punya satu sama lain?”

Seucap kalimat positif dan satu tatapan hangat di antara dinginnya sepertiga malam terakhir meyakinkanku bahwa ada seorang sahabat yang selalu siap menemani.

Aku tidak sendiri.

Setidaknya saat ini.

Mungkin juga—kalau beruntung—masih ada esok pagi yang bakal menyambut kami.

.

Namaku Xu Minghao. Usiaku belum genap 15 tahun tatkala angin dingin Desember 1937 menyapa, membawa letupan mesiu dan bau hangus rumah-rumah yang terbakar; mengenalkanku pada kehilangan, kematian orang terdekat, dan memoar pedih tentang perang. Lantas, mengajariku pula akan setitik pengharapan meski seremang cahaya kunang-kunang dan hangatnya sebuah persahabatan.

.

.

[Kim Namjoon X Jeon Minju]

.

‘Pagi, Sayang’ mungkin bukan selarik frasa yang patut diucap tatkala matahari sudah setengah jalan menuju tahta puncaknya sementara kau masih asyik bergelung dengan selimut yang membungkus puncak kepala hingga kaki; disambung dengan upaya frontal untuk segera menyesap kembali sisa-sisa liur yang tanpa sengaja berkeliaran menuju pipi. Namun, toh, Kim Namjoon tetap mengucapnya tanpa ragu, mengabaikan kacak pinggang ataupun raut kesal yang jelas dipasang oleh sang istri tercinta—Jeon Minju—yang kini berdiri mematung dengan tatapan sekaku betung.

“Hai.” Menjadi frasa kedua yang diumbarnya dengan bonus cengiran lebar. Sayangnya, tidak ada senyum balasan yang memapar. Agaknya, hari ini Minju sedang tidak ingin bercanda meski Namjoon tidak tahu pasti apa yang menjadi alasannya. Oke, mungkin Namjoon tahu. Ini bukan yang pertama kali sejujurnya. Sudah beberapa hari ini Minju terus menerus mengajukan protes atas kebiasaan bangun tidurnya yang di atas jam rata-rata. Bukan salah Minju juga, sih. Soalnya, kebetulan, Namjoon susah sekali dibangunkan hingga jam kerja Minju datang. Alhasil, beberapa kali Minju mendapat teguran dari atasan karena presensi keterlambatan. Minju, ‘kan, jadi kesal.

Lalu, kelihatannya, hari ini kekesalan Minju tengah mencapai puncak.

“Ini bahkan sudah tidak pagi lagi, Joon. Dan, please. Ini abad 21. Tidak bisakah kausetel alarm saja untuk membangunkan dirimu sendiri?” Minju menghela napas, menarik paksa selimut yang menggulung tubuh Namjoon hingga pria itu nyaris terguling dari ujung kasur. Untungnya dia sigap dan segera beringsut kembali ke tengah dipan.

“Tapi aku lebih suka mendengar bentakanmu daripada irama-irama statis itu,Minju Sayang.”

Sang istri menjeling; gerakannya terhenti sesaat. Nah, mulai. Namjoon dan kalimat-kalimat gombalnya. Beruntung, sudah Minju putuskan bahwa ia tidak boleh tergoda sedikitpun oleh tutur rayunya, meski barusan—sekejap, ada perasaan berbunga yang sempat hinggap di hatinya. Oh, Minju akan mengabaikan itu. Harus. Dia harus bersikap lebih tegas pada kebiasaan Namjoon bangun siang. Dia lelah dimarahi atasan.

“Terserah.” Bola mata Minju berputar malas sementara tangannya mengibas selimut sekarang, menerbangkan debu-debu halus yang kasat mata di antara cahaya mentari yang menelusup masuk.

“Kaumarah?” Namjoon bertanya.

“Tidak.” Seucap jawaban singkat menguar.

“Kesal?”

Minju berdecak. “Tidak.”

“Kauingin tahu alasanku selalu bangun kesiangan?” Manik mata Namjoon bergerak mengikuti semua aktivitas Minju. Dia sudah duduk di kasurnya sekarang, menguap beberapa kali sebelum memusatkan atensi pada sang istri.

“Tidak, Joon. Aku tidak ingin tahu apa-apa. Aku cuma ingin kaubangun lebih pagi dengan usahamu sendiri. Itu saja.” Tanpa mengacuhkan segala usaha Namjoon untuk menarik perhatiannya, Minju melipat selimut di tangannya; memertemukan ujung dengan ujung hingga membentuk satu tumpukan tebal yang cukup rapi. Diletakkannya hasil olahan pintalan benang itu di salah satu ujung kasur. Keinginannya untuk meneruskan percakapan sudah pupus sedari tadi. Dia baru saja akan berbalik ketika jemari Namjoon meraih tangannya dan menahan gerakannya untuk menuju pintu.

“Namjoon, apa-apa—“

“Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga.”

Minju mengernyit, menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak tahu apa fungsi kalimat yang terlontar dari bibir sang lelaki. Bukannya menghambur tanya, ia justru mendengus kasar. “Kurang kerjaan,” sahutnya ketus sebelum kembali mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Namjoon. Sayangnya, genggaman itu terlalu erat.

“Please. Lepas, Joon. Masih banyak yang harus ku—“

“Sekedar memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang tengah menyusup ke tengah mimpi indah istriku. Sekedar memastikan bahwa ia masih terlelap dengan senyuman indah yang mengunci hatiku. Sekedar memastikan bahwa dia masih ada di sisiku kala itu. Sekedar memastikan bahwa wajah damainya adalah yang paling ingin kulihat setiap waktu. Nah, menurutmu, salahkah aku kalau bangun kesiangan gara-gara itu?”

Sepersekon, aliran udara seakan terhenti di antara mereka. Lambaian tirai tipis di sisi jendela seolah sekedar menjadi hiasan lalu—alih-alih sebagai penanda sapaan sang bayu untuk keduanya. Suara pembaca berita televisi yang menyiarkan ulangan prakiraan cuaca hari ini bercampur dengan lengkingan ketel air di dapur, menjadi nada-nada tersendiri yang menghiasi sunyi yang tiba-tiba menghampiri. Namjoon tersenyum lebar sementara muka Minju memerah, tapi jelas bukan karena amarah.

“Ap—,” Minju menggigit bibir bawahnya. “Apa peduliku, bodoh!”

Pagutan tangan terlepas diiringi tawa membahana dari sosok sang pemuda yang dengan girang kembali berguling di kasurnya, memadu irama dengan hentakan-hentakan setengah kesal yang dirajut tungkai Minju meninggalkan kamar yang kini tak lagi temaram. Ada debar yang ikut melonjak dibalik organ yang tersembunyi apik di belakang tulang rusuk sang gadis. Ada kupu-kupu yang lagi-lagi beterbangan di perut padahal sudah susah payah ia kandang. Bilang saja Minju gampangan karena luluh dengan rangkaian kalimat picisan barusan, tapi—

Oh, sial! Namjoon memang gombal dan suka bangun siang, tapi mau bagaimana lagi kalau Minju sudah terlanjur sayang?

.

.

[Jeon Wonwoo X Lee Chan]

.

Belum pernah Jeon Wonwoo menemukan sosok pemuda penuh harapan itu seletih saat ini. Ada kantung hitam yang tercetak jelas di bawah matanya. Ada semangat yang meluruh nyaris tanpa bekas dari raganya. Ada lamun yang mengangkasa dari kedua mata kelabunya. Dan satu hal yang pasti, ada harapan yang tengah memudar dari sosoknya.

Ini hari ke-37 di kotak isolasi. Sudah empat puluh hari sejak Lee Chan menandatangani perjanjian kontrak untuk menjadi subyek eksprimen di lembaga penelitian tempat Wonwoo bekerja. Tahun ke-758 setelah keputusasaan bermanifestasi secara konkret lantas merebak meracuni jiwa-jiwa lemah manusia; mengubah langit menjadi kelabu, pun dengan semua manik anak yang terlahir setelah itu. Membuat mereka rentan terhadap apa yang mereka sebut virus pembunuh harapan. Memaksa manusia hidup dalam kungkungan kubah raksasa penangkal rasa putus asa, lantas melakukan sebanyak mungkin eksprerimen untuk membuat antiserumnya.

Lee Chan, pemuda berumur 18 belas tahun itu, adalah satu di antara ratusan pemuda yang mencoba peruntungan mereka untuk memiliki kekebalan dari sang virus petaka; merelakan tubuh mereka disuntik dengan venom berisikan kumpulan rasa pesimis lantas dikungkung dalam sel mini untuk melihat hasil reaksi imunologis yang terbentuk.

“Terjadi sesuatu, Chan?” Wonwoo mencoba menyapa pemuda di hadapannya dengan kurva positif di bibir. Lembar penelitian tersedia di tangan, siap ditoreh dengan suratan akan apa yang Chan rasakan.

Sang pemuda melirik tanpa ekspresi, tanpa keacuhan sama sekali. Jemari kurusnya menunjuk penunjuk waktu mekanik di salah satu dinding sel.

“Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga.”

Jeon Wonwoo merasakan vibrasi aneh dari tutur sang pemuda. Senyum yang diulas subyeknya kemudian bahkan bukan senyum yang biasa Wonwoo simpan dalam ingatan. Bibirnya bergetar. Kurva yang terbentuk kini lebih mirip garis miring alih-alih lengkungan khas yang menandakan kebahagiaan. Hanya sarkasme dan kengerian yang mampu tertelusur dari guratan elok wajahnya. Lee Chan yang dulu perlahan menghilang, digantikan Lee Chan yang tidak ia kenal.

“Aku melihat kematian.” Lirih ucapannya terdengar layaknya bisikan. “Banyak kematian,” tambahnya seraya melayangkan pandang kepada sang pemilik mata kelam. Manik kelabunya menyapu Wonwoo seakan tanpa jiwa. “Dan aku yang menyebabkannya. Aku yang membunuh mereka semua.”

Jemari Wonwoo sempat tertahan di atas kertas kala kalimat familiar itu mengudara. “Itu hanya ilusi, Chan,” sahutnya kalem seraya mencoret salah satu opsi di kertasnya; subyek mulai berhalusinasi.

Hyung bisa bilang begitu karena tidak mengalaminya sendiri.” Lagi-lagi ada sinis yang menjamah nadanya. “Bagaimana sosok sosok-sosok itu menjerit di hadapanku. Bagaimana mereka meraung persis di telingaku. Bagaimana tangan-tangan mereka berusaha menggapaiku. Bagaimana noda merah–“

Sang pemuda mencekau pelipisnya. Pupilnya melebar. Bayang-bayang segala yang ia alami tiap malam kembali menjajah serebrumnya. Warna merah. Bau karat. Tangan yang berlumuran darah. Segalanya begitu nyata dan tidak satu pun yang mau lekang dari otaknya. Jemarinya mencengkeram kepala kuat-kuat. Namun, tidak ada yang terjadi. Segala angan itu masih meracuni jiwanya tanpa mampu ia tanggalkan. Rasa bersalah bercampur mual menghantam organ pemilik perasaan dan penggilas makanan di tubuhnya. Satu hal yang paling ditakuti Lee Chan adalah menjadi seorang pembunuh. Bahkan meski itu hanya sekadar ilusi.

“Aku masih bisa merasakan cengkeraman tangan mereka yang terasa begitu nyata di kulitku, hyung.” Chan mulai mengerang.”Aroma darah bahkan masih begitu kentara di cuping hidungku. Berapakali pun aku membasuh tanganku, ada noda kasat mata yang menusuk penglihatanku. A—Aku…”

Ekor matanya mendelik liar ke arah Jeon Wonwoo berada. Lengan kurusnya sudah mencapai bahu sang peneliti hanya dalam sepersekon yang singkat.

“Aku sudah tidak kuat lagi, hyung.”

Diirngi ratapan serak, manik kelabu Chan lantas menumbuk manik obsidian di hadapannya; kegelapan pekat yang memantulkan bayang tanpa dayanya dengan sempurna. Wonwoo istimewa, Chan tahu itu. Dia salah satu dari sedikit anak-anak yang terlahir tanpa kelabu sebagai noda di manik maupun jiwanya. Dia kebal pada wabah putus asa, tidak perlu sedikitpun merasa takut akan kekacauan udara di luar suaka kota mereka. Wonwoo istimewa dan Chan pernah ingin seistimewa dirinya.

Pernah.

Lee Chan pernah hidup dalam gelimang harapan. Bahagia dengan kejutan-kejutan kecil yang ia alami dalam hidupnya. Hidup ini sepele, katanya, kau tinggal menikmatinya dan kau akan merasa memiliki segalanya.

Dulu.

Iya, dulu.

Dulu sekali.

Chan terpukau betapa kata itu terasa begitu lapuk dalam otaknya, seakan dulu yang ia alami adalah bagian masa lalu yang terpaut begitu jauh dari masa kininya. Padahal, faktanya, dulu miliknya hanyalah eksistensinya beberapa saat yang lalu. Ya, beberapa saat yang lalu ketika dunianya masih penuh dengan harapan dan beberapa saat kemudian semuanya menghilang dan hanya keputusasaan yang tetap mau tinggal.

Chan pikir, mungkin ia tak perlu jadi istimewa, hanya cukup berusaha membuat dirinya luar biasa. Nyatanya, ia sama saja. Sama biasanya dengan segala yang ia punya. Ia merasa lelah dengan segala yang dimilikinya. Ia lelah dengan ambisi yang nyatanya sia-sia belaka. Ia lelah dan ingin mencicip istirahat di usaha terakhirnya.

Tidak pernah tergagas dalam otaknya ketika akhirnya ia harus mengucapkan kata paling memuakkan itu dalam hidupnya.

Hyung.” Jemari Chan mencengkeram kedua lengan pria di hadapannya.”Kumohon—”

Dua pasang netra saling mematri.

“—bunuh saja aku.”

Malam ke-37, percobaan ke-1576, subyek kembali menunjukkan penolakan akan kehidupan. Antiserum putus asa terpantau gagal diproduksi. Percobaan disimpulkan gagal untuk yang kesekian kali.

fin

 

Iklan

12 tanggapan untuk “[4th Fanfiction Contest] Desiderabilis – zero404error”

  1. SUKA

    fiksimu ini bahenol kriyuk-kriyuk bikin aku ngawang di udara hampa.
    duheh, minghao unyu binggo kalo kenjen2an(?) ama bapak ibuknya gitu ye… aku mau komen panjang tapi keburu maboque duluan… tatanan bahasanya manis dan menjulang tinggi~~
    melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi~~
    /garing/
    /ditendang/

    Suka

  2. Mak… aku mau vote tapi ternyata udah ditutup… kaget… maaf… padahal udah janji mau ninggalin komentar di sini tapinya… mak… jangan marah sama aku ya… ;______; Simcard-ku kemarin ilang jadinya susah kalau mau browsing ini itu, dan mulai masuk kuliah udah dikejar tugas juga jadi udah jarang banget online, paling buka line doang, sisanya nyolong wifi kalau masih di kampus maafin mak.. terus dateng2 malah curhat. Aku kira terakhir vote itu tanggal 15 sept, makanya ini mumpung baru beli simcard yang baru sama punya kuota sempetin mampir ke sini ih maafin, maaf banget beneran nyesel lah ;____;
    Sebenernya ini udah gak ngaruh ke voting ya, tapi kuingat masih punya hutang belum komen ke maippo. Gak enak sama maippo-nya padahal akunya sendiri bingung mau komen apa selain harus bilang bagus. Ini truly keren, senpai. Aku harus komen dari sisi apanya, toh dari awal aku baca ini juga aku pikir fic ini udah keren banget. Ini penilaian jujur ya, senpai. Gimana dong komenan aku mah emang gak berbobot .-. Diksinya juga udah bagus banget, tapi kalau menurutku kata-katanya bukan tipikal yang orang-orang bakal ngerti dengan sekali baca (kecuali orang-orang tertentu yang memang senang tulis-menulis dan hobi baca, dengan catatan si yang hobi baca itu buka demenan baca yang ecek-ecek heheh). Termasuk aku juga jujurnya, ada beberapa kata yang menurutku agak asing dan aku perlu kbbi buat cari tahu dulu, tapi bukan salah maippo nya juga sih, ini mah akunya aja yang miskin kosakata.
    Selebihnya apa lagi ya. Hmm.
    Gatau sih tapi dari ketiga fic di atas yang paling membekas buat aku yang paling terakhir itu. Apa karena cast-nya wonu? ((enggak)) Sewaktu bacanya kayak perasaan depresinya chan ikut merasuk ke dalam diri aku, meskipun gak terlalu bisa ngebayangin ilusi apa yang dirasain sama chan sampe bener-bener kayak ‘nyata’ gitu tapi entah kenapa jadi kayak ikutan lemes sama pasrah aja gitu bacanya. Dan pas chan bilang, “bunuh saja aku.” kayak udah klimaks banget buatku rasanya kayak semua keputusasaannya chan malah pindah ke aku. Terserah mau bilang lebay apa gimana tapi aku ngerasainnya beneran kayak gitu sik. Tapi tapi tapiii entah mengapa justru di fic yang menurutku paling gereget ini kok prompt-nya malah rasa-rasanya kurang kuat ya? Kalau di fic pertama sama fic kedua aku rasa masih sinkron, dan si prompt ini gak berfungsi sebagai sekedar kalimat aja tapi juga punya peran di ceritanya (halah malah jadi ribet gini ngomongnya).
    Terus aku baru sadar ini jadinya panjang banget -_- Kan kan kan semoga maippo gak kesel fic-nya dikomen sama aku, walaupun aku tau ini telat banget. Gak tau juga bakal dibaca sama maippo gak dibaca juga gapapa gak penting juga hikz. Mau pamitan ajalah, makalah satu ini udah dadah-dadah minta di-notice. Once again, i am so sorry, makkk :”””

    ps: btw aku cuma nangkep typo-nya satu biji (setelah baca ulang) woles lah mak, mangats ya 8) /enggak nyambung/

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s