[4th Fanfiction Contest] It’s Soccer Time! – Joonisa

its-soccer-time-copy

IFK 4TH ANNIVERSARY

 

IT’S SOCCER TIME!

 

A ficletmix by Joonisa

Starring BEAST Yoon Doojoon, VIXX Jung Leo, SHINEE Choi Minho

Duration 3 ficlets (±500 words)

Genre AU!, Sport, Historical, Surrealism, Sci-Fi

Rating General

.

 Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga

.

.

.

Yoon Doojoon

 

Italia, Awal musim semi, 1530.

Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga.

Tuhan sepertinya menganugerahkan Doojoon sepasang telinga yang memiliki sensitifitas di atas rata-rata kemampuan manusia lain. Di pagi buta seperti ini, bahkan saat adik perempuan dan ibunya masih di alam mimpi, Doojoon terpaksa membuka matanya saat telinganya menangkap suara benturan kaki seseorang dengan si kulit bundar.

Keterpaksaan yang menyenangkan, Doojoon menyebutnya demikian.

Perlahan Doojoon beringsut dari tempat tidur, berusaha agar benda yang terbuat dari kayu berlapis beberapa lembar kain itu tak berderit saat ia mencoba untuk turun. Setelah berhasil turun tanpa menimbulkan suara, Doojoon mengendap-endap mengambil mantel berwarna abu-abu miliknya yang tergantung di belakang pintu. Sembari memakai mantel, ia berhenti sejenak, menatap ibu dan adik perempuannya yang tidur bersebelahan sambil berpegangan tangan.

“Aku ingin menemui mimpiku juga, seperti yang kalian temui di dalam tidur kalian,” bisik Doojoon seraya tersenyum simpul.

.

.

“Guigo de Calcio*!” seru Doojoon tertahan sambil berlari kecil dengan obor yang apinya menari-nari lantaran tertiup angin. Sebuah lapangan berukuran 20 meter x 20 meter yang berada tak jauh dari rumahnya menjadi perhentian Doojoon.  Iris hitam khas daratan Asia miliknya berbinar bahagia kala melihat sekumpulan pemuda berjumlah tidak kurang dari tiga puluh orang sedang mengejar dan berebut untuk menendang sebuah bola. Mereka terbagi dua kelompok, satu kelompok mengenakan baju hitam dan kelompok yang lain mengenakan baju biru. –

“MASUUUKKK!!!”

Salah seorang dari kelompok kaus biru berhasil memasukkan bola ke dalam gawang yang terbuat dari kayu yang dipaku berbentuk persegi panjang. Semua yang berbaju biru bersorak, larut dalam euphoria atas keberhasilan mereka merebut bola dan memasukkan ke gawang lawan.

“Wah!” Doojoon meletakkan obornya di dalam lubang pohon hasil perbuatan burung pelatuk, lalu ikut bertepuk tangan dan larut dalam euphoria kelompok baju biru dari pinggir lapangan. Tentu saja ulah Doojoon menarik perhatian semua yang berada di lapangan, mengingat tidak ada orang lain selain Doojoon yang melihat pertandingan itu.

Tepuk tangan Doojoon sontak berhenti saat seseorang yang betubuh lebih besar dari Doojoon – dari kelompok baju hitam – berjalan menghampirinya dengan ekspresi yang jauh dari kata menyenangkan. Saat jarak di antara mereka kurang dari lima meter, Doojoon mengambil langkah diam-diam ke belakang. Sayangnya, perawakan kecil seorang Doojoon yang masih berusia 15 tahun terlalu mudah untuk diraih pribumi Italia tersebut.

“Siapa namamu?”

“Yoo… Yoon Doojoon.”

Laki-laki itu mengamati Doojoon lekat-lekat, membuat nyali Doojoon semakin tergerus.

“Suka dengan permainan itu?”

Doojoon mengangguk sambil menggigit bibir. Ia takut, bukan takut dipukuli, tapi takut kalau ia tidak diperbolehkan menonton kedua tim itu dari pinggir lapangan seperti yang ia lakukan enam bulan belakangan. Baginya, saat melihat guigo de calcio, ia merasakan telah menemukan kebahagiaan lain yang bisa ia raih setelah sekian lama ia memikul beratnya beban sebagai pengganti kepala keluarga setelah ayahnya meninggal. Mencari nafkah dan menjadi perisai untuk melindungi ibu dan adiknya dari tatapan orang-orang karena mereka kaum minoritas bukan pekerjaan mudah bagi seorang Doojoon yang masih hangat-hangatnya memasuki masa remaja, di mana seharusnya ia lebih banyak menuntut ilmu dan bergaul dengan teman sebayanya.

Namun siapa yang menyangka, ketakutan seorang Doojoon sirna dalam sekejap saat laki-laki itu melanjutkan kalimatnya disertai dengan senyum yang lebih bersahabat,

“Kenalkan, namaku Alessio. Mau bergabung bersama kami? Kami sedang kekurangan orang. Kalau mau, silakan datang besok pukul dua dini hari di lapangan ini.”

Bibir Doojoon membentuk sebuah bulatan cukup besar. Ekspresi ragu bercampur takjub terlukis jelas di wajahnya. Ini seperti mimpi indah yang menjadi nyata karena masih ada pribumi yang mau mengajaknya untuk bermain bersama, terutama permainan bola kaki itu adalah favorit Doojoon. Atas perintah alam bawah sadarnya, Doojoon menjulurkan tangan kanan pada Alessio lalu menjabatnya erat-erat.

“Tentu! Tentu saja aku mau bergabung!”

.

.

.

 


Jung Leo

 

Seoul, musim dingin, 2015

Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga.

Ralat, bukan hanya pukul tiga dini hari, tapi hampir setiap waktu aku terjaga terutama saat seorang Jung Leo membutuhkanku. Saat ini Leo baru saja terbangun setelah mematikan alarmnya yang super berisik melebihi radio korslet. Ia menggeliat, meloloskan beberapa desahan, lantas merapikan surai acak-acakan berwarna hitam  itu dengan jemarinya.

Apa dia terlihat seksi?

Oh, tentu saja! Lebih beruntungnya lagi, pemandangan ini hanya aku yang bisa menikmatinya secara langsung tanpa gangguan apapun. Selain seksi, ekspresi wajah Leo saat mencariku setelah bangun tidur juga sangat lucu. Netranya melebar, menyempit, lalu melebar lagi saat menemukan keberadaanku yang hampir semalaman hanya bersandar di sofanya.

“Di situ kau rupanya.”

Leo beranjak dari tempat tidur lantas menghampiriku, mengangkatku dari sofa, lalu menciumku sekilas. Senyum tipis terukir di bibirnya saat menemukan wangi parfum milliknya masih menempel padaku. Sedetik kemudian ia membuatku memeluknya dengan erat. Kulit kami yang memiliki perbedaan suhu saling menyentuh tanpa ada pembatas berarti; itu benar-benar nyaman.

Aku bisa merasakan jakun Leo yang naik turun saat ia meneguk segelas air yang sudah tersedia di samping tempat tidurnya. Sejenak ia meregangkan otot lehernya, memutar-mutarnya beberapa kali ke kiri dan kanan, lalu meraih remote televisi yang ada di sisi kanan bantalnya. Kami bersama-sama menyender di kepala tempat tidur Leo yang sudah dialasi dengan bantal. Sesaat setelah televisi dinyalakan, terdengar bunyi peluit yang ditiup cukup panjang.

“Bagus, baru mulai!”

Leo menatap televisi nyaris tanpa berkedip saat klub sepak bola favoritnya, Manchester City, mulai menguasai pertandingan melawan Chelsea . Aku hanya bisa diam dan menurut saja, karena aku sama sekali tidak mengerti seperti apa permainan sepak bola yang begitu digilai oleh seorang Leo. Yang aku tahu hanyalah pada saat Leo menonton sepak bola, maka saat itulah Leo merasa bahagia dan melupakan semua kepenatan dunia hiburan yang menjadi pekerjaan utamanya.

Hyung?

Kepala Ravi menyembul dari balik pintu. Leo tak menjawab; fokus menonton pertandingan sepak bola. Ravi menoleh ke televisi, lalu kembali menatap Leo disertai decakan kecil yang lolos dari bibirnya.

“Pasti Manchester City. Ah, kenapa kau tidak bilang kalau malam ini pertandingannya, Hyung?”

“Kau tidak bertanya.” Jawab Leo sekenanya, membuat Ravi memberikan cibiran palsu.

“Besok kita ikut pertandingan futsal di acara Idol Star Athlethic Championship, jangan sampai kita kalah karena hyung tidak tidur semalaman!”

“Aku sudah tidur.”

“Kapan?”

“Tadi.”

Ravi menyerah. Ia memilih untuk bergabung menonton sepak bola di tempat tidur bersama kami. Udara yang cukup dingin ditambah dengan hanya menggunakan tank top berwarna hitam membuat seorang Kim Ravi mengambil langkah untuk berkemul di bawah selimut milik Leo.

Selama beberapa saat mereka berdua menikmati pertandingan dalam diam. Meskipun saat-saat tertentu; misalnya saat ada pelanggaran yang tidak terlihat oleh wasit, saat ada kesempatan bisa memasukkan bola ke gawang namun si pemain salah langkah, atau saat goal moment dari Manchester City, mereka berteriak-teriak seakan hanya mereka berdua yang tinggal di dalam rumah itu. Melihat mereka berdua bertingkah seperti itu, aku yakin siapapun akan tersenyum melihatnya.

Termasuk aku, seandainya saja bisa.

Hyung,” panggil Ravi tiba-tiba dengan nada serius, membuat Leo menoleh padanya.

“Apa?”

“Kalau aku bisa membuat banyak gol besok, sweater biru ini berikan padaku, ya?” Ravi menarik-narik bagian diriku yang menempel di lengan Leo. Hanya butuh waktu dua detik, aku langsung bisa  mendengar suara Ravi yang mengaduh kesakitan karena jitakan Leo.

“Sakit!”

“Mintalah yang lain, jangan yang ini.”

“Memangnya kenapa? Hyung kan bisa beli yang lain.” Ravi mencoba bernegosiasi, namun tatapan membunuh seorang Jung Leo membuatnya terpaksa berhenti merengek.

“Ini sweater terbaik milikku. Dia yang paling hangat dan pas untuk tubuhku, apalagi saat menonton pertandingan sepak bola di cuaca dingin begini. Mengerti?”

Oh? Apa Leo barusan memujiku? Benarkah?

“Bilang saja karena warnanya sama dengan seragam Manchester City, tidak perlu mengeluarkan alasan mengharukan seperti itu.” Seloroh Ravi disertai gelak tawa. Leo mengangguk dua kali, lalu meninju ringan lengan Ravi.

“Apapun yang berhubungan dengan klub itu, aku tidak akan memberikannya padamu!”

Baiklah, setidaknya itu bukan alasan yang cukup buruk untuk membuatku marah pada Leo. Seandainya aku bisa mengucapkan terima kasih, pasti aku akan mengucapkannya dengan lantang.

Terima kasih sepak bola, karenamu lah Leo membeliku.

.

.

.


Choi Minho

 

Seoul, musim panas, 2155

Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga.

Choi Minho mengucek matanya yang masih terasa berat. Kalau saja bukan dirinya yang mengatur waktu di mana ranjangnya akan secara otomatis melipat dan menjatuhkannya ke lantai, mungkin ranjang itu sudah masuk tempat pembuangan sampah akhir antariksa di Pluto. Ia tidak suka waktu tidurnya diganggu oleh hal apapun, kecuali untuk hal yang satu itu.

“Selamat pukul tiga dini hari, tuan Choi Minho,” suara lembut seorang wanita keluar dari speaker yang berada di langit-langit kamarnya, “jadwal anda hari ini – “

“Aku sudah tahu,” potong Minho cepat saat ia akhirnya tersadar, “Kapsul untuk penerbangan ke Barcelona sudah siap?”

“Sudah, Tuan.”

“Bagus.”

Minho bergegas mengambil jersey tim Barcelona, memakainya cepat-cepat, lalu berlari ke arah jendela. Sebuah benda yang terbuat dari kaca berbentuk elips; besarnya sembilan meter persegi, terdapat lampu hijau toska dua pasang di depan dan belakang, dan melayang di udara tengah membuka kap bagian atasnya secara otomatis saat Minho beradi di radius kurang dari satu setengah meter.

Dalam satu gerakan cepat, Minho melompat  masuk ke dalam elips kaca yang bertuliskan Jet 2155-S di sisi kanannya. Ia mengetuk beberapa pilihan kata pada layar navigasi yang tersedia di depannya, yang merupakan rencana penerbangannya kali ini.

Stadion Barcelona – VVIP Seat – Seoul – Sekolah

Pada abad di mana semua serba canggih, manusia bahkan tidak perlu mengeluarkan suaranya untuk sekedar bertanya atau memberi perintah singkat. Cukup dengan menggerakkan mata, semua bisa berpindah. Hanya dengan menggerakkan jari, semua bisa terlaksana. Namun kemudahan itu justru berbanding terbalik dengan kemampuan berkomunikasi setiap individu. Sebagian besar dari mereka terlihat seperti tidak memiliki hati nurani, tidak ada tegur sapa apalagi berbasa-basi sekedar menanyakan kabar. Ketika semua orang sudah menaiki kapsulnya masing-masing, maka dunia yang ada di dalam kapsul itulah yang menjadi dunia mereka. Kapsul itu juga yang menghubungkan mereka dengan dunia luar, bukan dengan interaksi tatap muka apalagi berjabat tangan.

Choi Minho bosan dengan semua itu.

Saat kapsulnya melesat dengan cepat menuju ke Barcelona, ia menatap hampa ke sekelilingnya. Robot pengantar makanan, robot pembersih, kamera pengintai, komputer PC abad 23 yang dipesan secara inden oleh ayahnya, dan kamera menyebar berukuran seperti takoyaki; apa yang Minho butuhkan semua berada di sana. Minho ingin berbicara, dia menginginkan teman, saudara, kekerabatan, dan keakraban seperti tim sepak bola. Bersama-sama menuju satu tujuan, menjalani suka duka, menciptakan gol, kemudian berpelukan bahagia menikmati kemenangan bersama.

Itu yang ia inginkan, bukan terkurung di dalam kapsul seperti saat ini.

Beruntungnya, di belahan dunia lain masih ada sepak bola yang menggunakan kaki manusia, bukan menggunakan kapsul. Itu sebabnya Minho rela terjaga pada dini hari dan melintasi benua lain demi menonton pertandingan sepak bola untuk mempelajari teknik-tekniknya. Cita-cita Minho saat ini juga hanya satu, menjadi pemain sepak bola legendaris. Kelak saat usianya sudah cukup dan ia sudah lulus SMA, Minho akan mendaftar di salah satu klub Eropa. Itu janjinya pada dirinya sendiri dan pada dua orang kakek leluhurnya yang juga menjadi legenda di dunia sepak bola.

Yoon Doojoon dan Jung Leo.

Minho menyentuh layar yang ada di sebelah tubuhnya dan mengetik dua nama kakek buyutnya itu. Tak lama berselang, seorang robot pelayan perempuan mengenakan pakaian olahraga – yang dimodifikasi oleh Minho agar tidak mengenakan pakaian mini seperti robot pelayan dengan pengaturan default – membawakan sebuah tablet berukuran 8 inchi pada Minho.

“Terima kasih, Julie.”

“Sudah tugas saya, Tuan,” Julie – nama robot itu – membungkuk dalam pada Minho. Minho mengangguk-angguk saat tablet itu menampilkan sejarah kakek buyutnya yang pertama, Yoon Doojoon.

Yoon Doojoon

Kelahiran 17 Februari, 1515. Pertama kali masuk klub awal musim semi 1530 di usia 15 tahun. Memecahkan rekor pada tahun pada tahun 1540 dengan mencetak 10 gol dalam sekali bertanding.

“Ck… Benar-benar luar biasa kakek buyutku ini. Umur 15 tahun sudah bergabung di klub, sedangkan aku sudah 18 tahun masih terperangkap dalam kapsul sial – ah sudahlah.”

Minho menggeser menu layar sentuh tablet nya, menampilkan sejarah yang ditorehkan oleh kakek buyutnya yang kedua, Jung Leo.

Jung Leo

Kelahiran 10 November 1990. Pertama kali masuk klub nasional sepak bola Korea Selatan usia 12 tahun. Sempat berhenti karena cedera dan memutuskan untuk menjadi penyanyi di bawah naungan grup idol VIXX. Memecahkan rekor pada tahun 2015 dengan mencetak sembilan gol tunggal pada pertandingan futsal antar grup idol.

“Ini juga tidak kalah hebat! Menjadi legenda di antara grup idola dengan prestasi di bidang olahraga itu tidak mudah! Wah kakek buyutku keren!”

Minho mendekap tablet miliknya dengan mata berbinar penuh harap. Stadion di pusat kota Barcelona sudah terllihat di depan matanya, berkilau membentang indah layaknya permadani hijau bertahtakan jutaan berlian di atasnya.

“Entah itu di Barcelona, Madrid, Inggris, atau bagian dunia lainnya, akan kupastikan kalau aku juga akan menjadi legenda seperti dua kakek buyutku! Semangat Choi Minho! SEMANGAT! SEMANGAT! YEAH SEMANGAAAATTT!!!”

Julie yang sedari tadi mengamati tingkah laku Minho hanya bisa menelengkan kepala sambil menatap Minho penuh tanda tanya.

“Manusia yang sesungguhnya itu ternyata lebih berisik dari dugaanku, karena kebanyakan manusia saat ini terlalu mirip dengan robot.”

.

.

.

fin

 

 

19 tanggapan untuk “[4th Fanfiction Contest] It’s Soccer Time! – Joonisa”

  1. SUKA

    aku suka ficlet kedua. ngefluff gimana2 gitu… kkk~~ ada satu typo yg tertangkap mataku, tapi ga begitu berpengaruh sih. ketiga ficletnya sama2 menyentuh buatku. joonisa! hwaiting!!

    Suka

  2. SUKA

    Oke khayalanku tentang fic kedua itu tokohnya si kucing lha ternyata sweater, terima kasih banyak ka nisa udah menjungkirbalikkan khayalanku lol. DAN LEO KOK MUSTI BANGET SAMA RAVI WAH AKU CURIGA JANGAN JANGAN KK STAFF JELPI INI PROMOSIIN LR /eh wkwkwk
    Overall, fic kaka udah bagus bgt kok. Dan ditambah appearancenya bang dujun jadi lope lope bgt.
    Musti gak nih dikasi hateu hateu? Wkwk💜💜💜💜💜💜

    Suka

  3. SUKA

    Bagian yang aku suka dr epep ini, pertama adalah karakteristik tokoh yang kuat, jelas sehingga pembaca gak bingung. Kedua, castnya member VIXX meski cuma Leo *bukan Ken. Kekeke
    Ketiga, ide cerita unik krn mengangkat cerita tentang dunia robot dan teknologi tinggi. Keempat, aku suka kalimat ini:
    “Manusia yang sesungguhnya itu ternyata lebih berisik dari dugaanku, karena kebanyakan manusia saat ini terlalu mirip dengan robot.”

    Fighting Nisa!!

    Suka

  4. SUKA :))

    haloo kak nisa yang unyu… kak nisa kece deh, bikin sepakbol-sepakbolaan gini jadi uhwow syekali… aku suka semua ceritanya, ugh… mendadak pundung….
    AKU PENGEN NGEBOMBARDIR TAPI BINGUNG MAU NGOMONG APA KAN INI KEREEN TERUS AKU KUDU APA MONANGESH AJA…

    Suka

  5. SUKA
    kak nisaaa kau menghancurkan khayalanku. kukira bagian Leo itu married life, aku udah ngebayangin gimana rasanya direngkuh Leo sambil nonton bola. duhhhh
    pokokkyaa suka suka suka. kereeenn kak nisaaaaaa
    😀

    Suka

  6. SUKA.
    Temanya enggak biasa, ringan, seru. Bawainnya asik banget.
    dengan tema inti yang ringan, cerita yg menarik, gak banyak penulis punya ‘gimmick’ sekuat ini. semangat terus ya nulisnya ^^

    Suka

  7. SUKA 😀

    Fresh dan unik 😀 Penggambaran tiap karakternya juga jelas jadi enak dan nyaman bacanya hehe 😀 awalnya aku pikir yang dibagian Leo itu kucing -_-
    soo unpredictable ini yang kusuka dari cerita ini

    Fighting!

    Suka

  8. SUKA!!
    Hai nisa ^^)/ fic yang simple tapi ngena dan enak dibacanya dari awal sampe akhir. Apalagi cerita kedua yg ternyata itu sweter trus yang ketiga bikin semuanya nyambung. Ternyata ceritanya berkaitan. Keren ^^)b

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s