[2 of 4] Things Between Us: Joshua’s Wishlist

tbu-2

a movie series by tsukiyamarisa

starring [SEVENTEEN] Joshua and [OC] Mia with [BTS] Jung Hoseok duration Vignette-series genre Friendship, Fluff, slight!Family rating 15

.

previous part(s)

part 2 of 4

 JOSHUA’S WISHLIST

Kemarin itu memang bukan kali pertama mereka ke pantai bersama,

tetapi itu adalah pertama kalinya mereka ke pantai berdua

.

.

.

Suara ‘bruk’ pelan itu sukses membuat Mia menoleh.

Menghentikan kesibukannya, gadis itu mengerjap dan menahan senyum tatkala ia menyadari asal suara. Kursi yang didudukinya telah ditinggalkan, pun dengan dirinya yang lamat-lamat menghampiri sosok di atas karpet tersebut. Lelaki yang kini sudah memejamkan matanya, menjatuhkan novel yang tengah ia baca hingga menutupi muka.

“Siapa suruh begadang semalam, hm?” Mia menahan tawa, memungut buku itu sehingga ia dapat memandangi raut wajah sahabatnya lekat. Joshua terlihat lelah, dan Mia tahu kalau lelaki itu pasti terlalu asyik bercengkerama dengan gitarnya sepanjang malam.

“Seharusnya kamu tidur di rumah saja.” Satu decakan geli kembali terlontar, seraya tangannya bergerak untuk meraih bantal dan menyelipkannya di bawah kepala Joshua. Memastikan sahabatnya itu nyaman, sebelum ia kembali bangkit untuk menyelesaikan kegiatannya yang tertunda.

Well, Mia bukannya hendak memprotes atau menganggap kehadiran Joshua merepotkan. Kawannya itu memang bersikeras untuk datang dengan alasan ingin meminjam novel milik Mia, padahal sang gadis sendiri tahu bahwa bukan itu penyebab utamanya. Walau tidak diungkapkan secara langsung, Mia bisa menebaknya. Ia tahu Joshua sengaja berkunjung untuk menemaninya yang sedang sendirian di rumah, memasang embel-embel bahwa tidak seharusnya liburan musim panas itu dilewatkan tanpa teman.

“Lagi pula, di rumahku juga sedang tidak ada orang. Apa aku tidak boleh merasa bosan?

Itu kata Joshua tadi, seraya ia memamerkan cengiran dan memilih salah satu novel dari rak buku Mia. Menit berikutnya, ia sudah membaringkan diri di atas karpet kamar gadis itu. Sibuk membaca, sementara Mia membongkar kotak penyimpanan yang berisi benda-benda berharganya semasa sekolah dulu.

“Itu apa? Bukan barang dari—uh, kamu tahu—mantan pa—“

“Bukan, kok.”

Mia ingat ia buru-buru menggelengkan kepalanya tadi, membantah pertanyaan Joshua dengan mantap serta tak lupa mengimbuhkan, “Aku bahkan sudah tak memikirkannya. Kotak ini ‘kan, berisi barang-barang kita.”

Itu memang benar.

Mia jujur kala ia berkata bahwa ia sudah tak memikirkan mantan kekasihnya lagi. Ia yang memutuskan, dan ia sendiri tahu kalau lelaki itu memang bukan seseorang yang baik baginya. Toh, lelaki itulah yang lebih dulu memainkan perasaan Mia. Ia adalah orang yang dengan santainya berkata kalau ia sengaja berbuat manis dan mendekati Mia, hanya untuk membuktikan pada teman-teman sekelasnya bahwa dirinya lebih baik dari Joshua.

Tentu saja, Mia tidak bisa menerima hal itu. Tambahkan fakta bahwa mantannya memang suka melirik gadis-gadis lain, maka kata ‘putus’ pun langsung terlontar begitu saja dari bibir Mia. Tanpa pertimbangan ataupun pikir panjang, dan Mia tidak—atau tepatnya, tidak lagi—menyesali itu.

Sahabatku lebih penting, begitu pikir sang gadis, selagi pandangnya kembali tertuju pada kotak yang baru separuh jalan ia keluarkan isinya. Aku menyayangi Joshua, dan bukankah ia satu-satunya teman yang selalu memperhatikanku?

Melirik Joshua yang masih terlelap, Mia bisa merasakan rasa yakin merambati dirinya. Seulas senyum terbentuk di bibir itu, sementara tangannya kembali mengaduk-aduk isi kotak. Ada beberapa album foto di sana, namun Mia memilih untuk meraih sebuah buku notes bersampul cokelat krem dan mulai membolak-balik lembar yang ada.

Lalu, matanya pun berhenti pada sebaris kata yang tertulis di salah satu halaman.

.

Joshua’s Wishlist

.

Setelah memastikan bahwa Joshua tidak akan terbangun dalam waktu dekat, Mia mulai membaca daftar keinginan yang tercantum di halaman itu. Sang gadis ingat benar bahwa wishlist ini dibuat saat mereka naik ke kelas tiga SMP dulu, berisi hal-hal apa yang ingin mereka lakukan di masa depan. Hal-hal yang sebagian kini sudah tercapai; seperti ‘masuk ke SMA yang sama’, ‘lulus dengan nilai lebih baik dari Mia’, ‘menonton kembang api di malam tahun baru’, atau ‘membuat sebuah lagu dengan gitarku’.

Namun, ada pula keinginan yang masih berupa angan-angan semata. Yang mungkin terlalu konyol atau tak masuk akal jika dipikirkan lagi, pun yang—

Kencan pertama: pergi ke pantai berdua.

oh.

Kontras dengan kikik geli atau senyum yang tampak di rupanya beberapa sekon lalu, Mia hanya bisa mematung kala ia membaca kalimat itu. Sebagian kecil dari otaknya sibuk memutar ulang suatu adegan, satu di mana dirinya sibuk memaksa Joshua untuk mencantumkan hal-hal cheesy macam itu di dalam wishlist-nya. Tetapi, gambaran itu kabur. Buram, lantaran detak jantungnya baru saja meningkat dengan teramat cepat dan mengambil alih segala akal sehat.

Ah, tapi, Mia menggeleng cepat, berusaha untuk menjernihkan pikiran, kemarin itu bukan kali pertama kami ke pantai bersama. Tidak mungkin kalau maksud Joshua itu—

—kamu membohongi diri sendiri, Mia.

Bagai ada dua sisi yang berlawanan di dalam dirinya, sepasang sosok mungil tak kasat mata itu terus berdebat di dalam benak sang gadis. Yah, walau bagaimanapun juga, Mia tahu kalau penyangkalannya tidak berdasar. Kemarin itu memang bukan kali pertama mereka ke pantai bersama, tetapi itu adalah pertama kalinya mereka ke pantai berdua. Tanpa teman-teman mereka layaknya acara wisata sekolah, pun kehadiran orang tua mereka seperti saat liburan di pantai dua tahun lalu.

Mereka benar-benar hanya berdua saja.

Ditambah lagi, bibi penjual es di pantai waktu itu menyangka mereka berpacaran.

Nah, kalau sudah begini, mana bisa Mia mengelak dan berkata kalau hal itu bukan masalah?

Karena jujur saja, ia tak pernah mengharapkan hubungannya dan Joshua untuk menjadi serumit ini.

.

-o-

.

“Mia.”

“Hm.”

“Kalau tidak mau, ayamnya akan kumakan.”

“Oke.”

“Serius, nih?”

“Iya, makan saja—“

“Kamu pasti sedang ada masalah.”

Menghentikan perdebatan kecil itu, Jung Hoseok meletakkan potongan ayam yang telah ia ambil dan menjentikkan jarinya di hadapan sang adik. Memaksa Mia untuk mengangkat kepalanya, lalu bertukar tatap dengan Hoseok yang sedang mengerutkan dahi.

“Kak Hoseok.”

“Ya?”

“Kenapa Kakak berpacaran dengan Jinhee?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, disertai mimik wajah datar serta embusan napas panjang setelahnya. Sukses membuat kerutan di kening Hoseok makin dalam, lantaran sorot mata adiknya itu terlihat amat serius. Bukan pertanyaan macam itu yang Hoseok harap akan ia dengar, mengingat—sepengetahuan Hoseok—adiknya itu tidak baru saja menerima pernyataan cinta dari lelaki mana pun.

Maka, Hoseok pun memilih untuk mengambil jalan aman dengan balik berucap, “Itu pertanyaan macam apa?”

“Aku hanya….” Mia mengambil jeda, memutuskan untuk mengambil sepotong ayam dan mengamati makanan itu lekat-lekat. Seolah dengan demikian Hoseok dapat membaca isi pikirannya, berharap agar ia tak perlu membuka mulut untuk memberi penjelasan. Namun, walau bagaimana pun juga, kakak angkatnya itu bukanlah ahli dalam membaca pikiran.

“Hanya apa?”

“Hanya ingin tahu saja,” gumam Mia, buru-buru memasukkan ayam di tangannya ke dalam mulut agar ia punya sedikit waktu untuk menyusun kata. Mengunyah dan menelannya lamat-lamat, sebelum kembali berkata, “Maksudku, Jinhee bukan pacar pertama Kak Hoseok, ‘kan? Bagaimana cara Kakak tahu kalau Jinhee itu tidak hanya—“

“—bagaimana aku tahu kalau dia bukan pelarian bagiku?” sambung Hoseok, mendadak paham kemana kiranya arah pembicaraan ini. “Kenapa? Kamu sedang menyukai seseorang?”

Satu gelengan lekas diberikan Mia sebagai jawaban.

“Atau ada yang menyukaimu?”

“Ti—“ Mia menarik napas dalam, hendak membantah namun tak yakin apakah hal itu tepat untuk dilakukan. Wishlist milik Joshua itu memang menghadirkan tanya, tetapi Mia juga harus ingat bahwa daftar itu dibuat sekitar empat—hampir lima—tahun lalu. Bisa saja Joshua sudah lupa akan keinginan itu, dan liburan mereka ke pantai kemarin hanyalah ketidaksengajaan semata. Namun, di sisi lain, Mia juga tidak bisa semudah itu menutup kemungkinan bahwa Joshua sedang mengajaknya berkencan.

“Mia?”

“Entahlah. Aku tidak tahu,” sahut Mia akhirnya, memainkan jemari di atas meja makan. “Aku tidak tahu apakah ini hanya prasangka milikku atau apa. Aku bahkan tidak bisa memahami perasaanku sendiri. Yang aku tahu, dia baik dan—“

“Joshua, ya?” potong Hoseok, cengiran kecil terbentuk di bibirnya sementara Mia membulatkan manik—kaget. “Apa aku benar?”

“Itu….”

“Oh, ayolah!” Hoseok sedikit tergelak, mengabaikan mimik wajah sang adik yang sedikit cemberut. “Berapa lama kalian bersahabat? Hal seperti ini cukup mudah untuk ditebak, tahu. Katakan, apa Joshua baru saja menyatakan perasaannya padamu?”

“B-bukan begitu!” sangkal Mia, merasakan pipinya mendadak memanas selagi tawa Hoseok makin menjadi. “Bukan itu yang terjadi, Kak! Joshua sama sekali tidak mengatakan apa-apa, tapi aku….”

“Kamu kenapa? Kamu menyukainya?”

Memutuskan untuk tidak memberi Hoseok kesempatan menduga-duga lagi, Mia pun akhirnya membeberkan semuanya. Segala yang terjadi sejak kunjungan ke pantai itu, sampai dengan wishlist yang ia temukan tadi siang. Pun dengan omongan orang-orang mengenai hubungan mereka, serta rasa takutnya kalau-kalau semua hal di antara ia dan Joshua mulai berubah. Mia menceritakan segalanya, dan gadis itu sungguh tak menduga bahwa kakaknya akan memberikan seulas senyuman menenangkan di penghujung cerita.

“Mia, coba jawab pertanyaanku ini.” Hoseok memulai setelah Mia selesai bercerita, memandang adiknya itu dengan ekspresi seserius mungkin seraya bertanya, “Kamu yakin, kalau kamu sudah move on?”

“Tentu saja.”

“Sudah tidak pernah memikirkan mantanmu?”

“Kurasa tidak,” sahut Mia dengan kening berkerut. “I kind of… made a promise? Aku pernah bilang ke Joshua kalau aku ingin move on, dan itulah yang kulakukan. Buat apa mengingat-ingat orang yang membuatmu kesal?”

“Oke.” Hoseok mengangguk-angguk, menunjukkan kalau ia paham sebelum melanjutkan, “Kalau begitu, pertanyaan terakhir. Pernahkan kamu membandingkan Joshua dengan mantan pacarmu? Hal-hal seperti ‘pergi dengan Joshua mengingatkanku akan kencan di masa lalu, hanya saja Joshua lebih baik’ atau semacam itulah?”

“Itu—“

“Coba pikirkan, Mia,” Hoseok menambahkan, tak memberi kesempatan untuk membantah. “Pikirkan, karena itulah yang dulu terjadi denganku. Kamu ingin tahu kenapa aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku pada Jinhee, ‘kan?”

Mia membiarkan mulutnya terkatup sebagai pembenaran.

“Nah, alasanku hanya satu.” Hoseok mengacungkan telunjuknya, tampak begitu bangga ketika ia berucap, “Karena Jinhee terasa seperti sesuatu yang baru. Yang membuatku berhenti membanding-bandingkan, juga tak lagi mengingatkanku akan masa lalu. Sesederhana itu, karena Jinhee adalah awal yang baru bagiku.”

Kali ini, Mia tertegun sejemang. Sibuk menyerap makna di balik kata-kata Hoseok barusan, serta pada saat yang bersamaan, memikirkan hubungannya dengan Joshua. Sang gadis sama sekali tak tahu bagaimana cara memberi nama pada perasaan ini: rasa senang ketika ia bertemu pandang dengan sahabatnya; keceriaan kala mereka tertawa bersama; rasa sayang dan saling peduli ketika mereka berbagi cerita; keengganan untuk berpisah dan merusak kenyamanan yang ada. Mia tidak yakin apakah gabungan dari semua rasa itu bisa disebut cinta, namun ia tahu satu hal.

Ia tahu kalau dirinya tidak pernah membanding-bandingkan Joshua dengan mantannya dulu.

Kehadiran Joshua dalam hidupnya mungkin memang tidak seperti Jinhee pada hidup Hoseok—Joshua sama sekali bukan orang baru. Namun, Mia tidak akan menyangkal bahwa lelaki itu membuat hidupnya lebih berwarna-warni. Ia memiliki sesuatu yang berbeda, sesuatu yang bahkan tak pernah Mia perbandingkan dengan apa yang diberikan mantan kekasihnya dulu. Itu terasa tidak pantas, tidak tepat untuk dilakukan.

Tapi, bisa menjawab pertanyaan Hoseok itu bukan berarti bahwa masalah Mia sudah terselesaikan.

“Kak Hoseok…”

“Ya?”

“Lantas…” Mia menarik napas dalam, jemarinya kembali diketuk-ketukkan di atas meja. “…sekarang aku harus bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

Mia berdecak ringan, membuat tawa kembali terlepas dari kedua belah bibir kakak lelakinya.

“Serius dong, Kak! Saat ini, aku bahkan tak tahu harus bagaimana jika bertemu dengan Joshua dan Kakak malah tertawa?”

Ey, bukan begitu maksudku, Mia.” Hoseok mengulurkan sebelah tangan, mengacak-acak surai panjang adiknya dengan gemas. “Menurutku, kamu tidak seharusnya terlalu memikirkan hal macam itu. Kamu merasa nyaman dengannya, ‘kan? Jalani saja seperti biasa.”

“Seperti biasa?”

“Iya.” Satu kedikan bahu dari Hoseok, sementara Mia memasang tampang tak setuju. “Kenapa? Kamu takut kalau misalnya dia diam-diam menyimpan rasa suka? Takut jika sebenarnya ia benar-benar mengajakmu kencan?”

Tak ada jawaban.

“Kalau iya, tanyakan saja secara langsung padanya.”

Saran itu diucapkan dengan begitu santainya, sontak membuat Mia melongo sementara Hoseok memanfaatkan jeda itu untuk menyuapkan beberapa potong ayam. Rasa laparnya sudah tak bisa ditoleransi lagi, sehingga ia pun memilih untuk mengisi perutnya lebih dahulu sebelum kembali memfokuskan atensi pada Mia.

“Dengar, ya….” Hoseok kembali membuka mulut, sadar bahwa adiknya itu sama sekali tak mau membuka percakapan lagi—mungkin bingung harus berkata apa. “Kalian bersahabat selama hampir tujuh tahun lamanya. Itu bukan waktu yang sebentar, dan menurutku, wajar saja jika kamu jadi bertanya-tanya seperti itu.”

“Wajar?” Mia menelengkan kepala, menyandarkannya pada telapak tangan kanan. “Maksud Kak Hoseok… laki-laki dan perempuan yang bersahabat itu pada akhirnya akan saling suka?”

“Tidak harus begitu, sih.”

“Lalu?”

“Aku masih percaya kalau laki-laki dan perempuan itu bisa berteman dekat, tetapi aku juga percaya kalau menyukai seseorang yang dekat denganmu itu bukan hal yang salah,” jelas Hoseok, otaknya dengan cepat merangkai sederetan kalimat. “Kamu bisa saja menyukainya, atau dia menyukaimu, atau kalian saling suka. Di sisi lain, bisa saja kalian memilih untuk mengubah status yang ada, atau tetap seperti ini dengan alasan kenyamanan. Apa pun itu…” Hoseok melempar senyum, berusaha untuk meyakinkan adiknya, “…asal kalian merasa bahagia, maka jalani saja. Kamu menyayanginya, ‘kan? Itu sudah cukup.”

Tak membantah, Mia ikut menjungkitkan ujung-ujung bibirnya untuk membalas senyum kakak lelakinya. “Kurasa Kakak benar.”

“Oh, tentu saja!” Hoseok menepuk dadanya dengan bangga. “Aku ‘kan, sudah pengalam—“

Seruan itu terpotong suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Mia, satu yang membuat gadis itu lekas melirik layar dan menahan napas kala melihat nama Joshua yang tertera di sana. Walau konversasinya dengan Hoseok barusan telah memberi sekelumit pencerahan, Mia tetap tak mampu membayangkan dirinya dan Joshua menjadi canggung.

Namun, ia sudah memutuskan.

Ia tidak ingin terus bertanya-tanya.

Dan untuk itu, jemarinya pun lekas mengetikkan persetujuan pada ajakan yang baru saja masuk ke ponselnya.

.

.

.

Hei, bagaimana kalau kita pergi menonton berdua besok?

.

.

.

a/n:

HAHAHAHAH maaf baru post sekarang, dan maaf juga karena (a) di sini Josh-nya dikit soalnya mau fokus ke Mia-Hoseok dulu (yes, kak Hoseok bakal jadi kakak angkatnya Mia); dan (b) karena ending-nya gantung /dilempar/

Anyway, part 3 sedang dalam proses, doakan saja cepat selesai karena tugas-tugas udah mulai kaya gunung lagi :”’

Okay, see ya in the next part!❤

7 thoughts on “[2 of 4] Things Between Us: Joshua’s Wishlist”

  1. Ameeerrr~~
    pengen banget punya kakak kayak Hoseok *salah fokus*
    tbh emang sih ya kadang kalo temenan apa sahabatan sama cowo tuh bisa timbul rasa suka/cinta gitu kalo emang udah lama *tapi kok aku ga ya* *curhat*

    ditunggu kisah manis selanjutnya Ameer~~ >_<

    Suka

  2. Sukadeh sama sosok hoseok, jadi pengen punya kakak laki” kek hoseok hihihi 😁, emang punya sahabat cowok itu menyenangkan, juga nggak menutup kemungkinan bakalan jadi pacar. Dan lebih menyenangkan lagi itu kalo sahabat kita jadi pacar kita, doi sudah tahu kebiasaan jelek kita, jadi kita nggak perlu tuh sok” jaim (loh jadi curhat 😂). Btw ff ini keren kak. Lanjut terus ya kak nulisnya ^^ semangaaattttt !!!! 👍👍👍👍😁

    Suka

  3. APA BAHKAN COWO CEM JOSHUA BISA BIKIN GABAPER?

    Dia bahkan pake mikir apa joshua suka sama dia ato ga. YA SUKALAH. Cowo bukan si kalo temenan segitu lama gasuka-suka?

    Tapi HOSOK YANG BIJAK ITU HIGHLIGHT DEH YA. “Bisa jadi lu suka cowo itu, atau cowo itu suka lu, atau lu suka-sukaan.” BISA SIH KALO GUA PUNYA TEMEN COWO:”””””)

    Aku baper kamer…(2)
    Zyan

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s