f(4) #5: Rude Love

a tracklist fic of f(x) 4th album ‘4 WALLS’ by Liana D. S.

#5. Rude Love

starring

f(x) Victoria (Song Qian), Super Junior-M Zhou Mi, and actor Han Geng

genre Romance, Marriage Life, slight!Fantasy duration borderline Ficlet (900+ words) rating Teen and Up

.

[Warning] Domestic violence.

.

Ada cinta yang Qian damba dari seseorang malam ini. Demi mendapatkannya, wanita itu rela bertelanjang kaki di atas rumput kasar bulan Juli, berlari menuju Mi. Tangan diulurkan, berusaha meraih sosok tegap di hadapan, tetapi sepasang kaki Qian yang rapuh tak mau patuh. Qian nyaris terjerembab andai sepasang lengan Mi tak sigap menangkap. Sepasang lengan itu kemudian menegakkan tubuh Qian yang gemetar, berhati-hati meredakan ketakutan yang menjalar pada setiap inci kulit, setiap tarikan napas, dan setiap tetes tangis.

“M-Mi… D-dia memecahkan botol bir itu buat menusukku. Geng akan membunuhku, Mi!”

Sesuai dugaan.

Seorang suami seharusnya menjaga, baik raga maupun jiwa istrinya, tetapi tangan Geng cuma mau bergerak untuk menanam luka. Luka ia tanamkan supaya teralihkan dari sakitnya teracuni alkohol, teman dalam botol yang mendampinginya menghadapi kejatuhan. Kejatuhan ini, padahal, bisa ditahan oleh jaring-jaring kelembutan Qian yang setia terbentang, mencegah Geng terhempas keras.

Sayang, jaring itu kini hancur-lebur oleh tangan Geng sendiri. Ia jatuh bebas bersama setumpuk masalah hidup sambil membawa serta Qian.

“Ssh. Sudah, cukup.“

Ibu jari Mi menghapus air mata Qian. Si wanita menengadah, seakan bertanya, bisakah kepedihan ini dicukupkan? Sebagai jawaban, telunjuk Mi mengusap goresan melintang dan memar-memar di pipi Qian, melenyapkan mereka semua dengan ajaib tanpa sisa.

“Mungkin sakit kepala Geng sedang kambuh gara-gara minum.”

Qian menggeleng. Geng benar-benar mau menghabisiku. Aku membencinya, sangat.

“Benarkah Geng sekejam itu jika kau pernah mencintainya, seolah tak ada orang lain yang lebih pantas mendapatkan kehormatan itu darimu?”

Jari tengah Mi menyapu lembut sudut bibir Qian. Robekan kecil di sana berdenyut, seperih malam-malam penuh racauan mabuk dan pertengkaran panas. Akan tetapi, robekan itu pun hilang berkat keajaiban Mi, dan kenangan-kenangan manis Qian bersama Geng terputar ulang.

Dulu saat kesusahan belum beramai-ramai datang mengacaukan, Geng-lah satu-satunya tujuan Qian. Binar kekanakan pria itu yang kental akan optimisme menjerat Qian makin kuat dari hari ke hari. Senyum sabarnya selalu mampu mengendalikan emosi Qian. Kata-kata yang hendak diucapkannya untuk Qian dipilih dengan cermat, sehingga meninggalkan impresi yang susah dihapus dari benak pendengarnya. Tiap sentuhannya pada Qian diperhitungkan matang-matang, berbeda rasa sesuai mau si empunya tubuh: bisa jadi sebuah pelipur rindu, pembasuh luka, atau sekadar pemuas keinginan bermanja.

Segala kemampuan luar biasa ini Qian temukan pada Mi sekarang.

“Aku tidak mau pulang. Aku cuma ingin kau, Mi, tidak ada lain. Permintaan yang sederhana, bukan?”

Tentu tidak sederhana. Mi tidak bisa memiliki Qian, sadar betul bahwa sebaik apapun dirinya di mata Qian, pria yang tengah terbaring lesu lantaran kebanyakan minum itulah takdir Qian sesungguhnya. Menyakitkan memang menyaksikan Qian tersedu dan terluka hampir setiap harinya, tetapi Mi tahu Geng hanya sedang kacau. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri—entah berapa lama—sampai Geng bisa bangkit kembali dari titik terendah. Qian merupakan kunci kebangkitan itu, maka Mi melarang diri merebut si wanita dari tangan yang semestinya. Cukuplah Mi menjadi penyembuh bagi Qian agar ia tetap kuat untuk pulang ke rumahnya yang bagai neraka, meski tak dapat dipungkiri, terkadang Mi ingin Qian tinggal.

Pelan Mi menyisir rambut Qian dengan jemari kurusnya.

“Malam ini saja, kau bisa bersamaku. Pagi berikutnya, kau harus pulang pada Geng. Bangunkan dia, berikan kecupan selamat pagi dan kata-kata penyemangat, lalu dia akan sembuh.”

“Besok, Mi,” Qian menghembuskan napas letih; ceruk leher Mi terlalu nyaman untuk bersandar, belum rela Qian pergi darinya, “Besok.”

Semakin Qian merapat, semakin kencang jantung Mi berdebar. Pada akhirnya, mereka berbaring bertumpukan, beralas rumput kasar bulan Juli, berselimut angin. Lengan Mi terus melingkari Qian yang terlelap di atas dadanya, menghalau dingin yang menusuk tulang biarpun Mi sendiri menggigil.

“Besok,” Mi berbisik, “pergilah, Qian.”

dan jangan kacaukan aku lagi. Berbahagialah, tapi jangan bersamaku.

Sesungguhnya, aku tidak pernah nyata untukmu.

***

“Qian. Qian… jangan…”

Yang pertama teraba oleh Qian pagi ini adalah sensasi kasar dan hangat kulit pria, juga tekstur halus seprainya. Satu gumaman parau yang begitu membuat iba memaksa Qian membuka mata. Ini suara siapa?

Telapak Qian, ternyata, digenggam oleh Geng yang belum terjaga. Geng mengigau dalam tidurnya, mungkin melihat Qian menjauhinya, dan kemudian mencoba menahan si wanita tapi tak bisa. Desis kesakitan sesekali menyisipi lirih suaranya. Qian cemas; seburuk itukah mimpinya? Sehebat apa sakit yang dirasakannya? Seketika kekhawatiran ini melunturkan sisa-sisa luka yang Qian terima hari sebelumnya.

Bangunkan dia.

“Geng,” Qian mengguncang pelan lengan suaminya, “Sudah pagi. Ayo bangun.”

Berikan kecupan selamat pagi dan kata-kata penyemangat.

Lembut bibir Qian menyapa Geng, menarik lelaki itu dari alam mimpi yang gelap. Lemah si lelaki mengerjap, mengumpulkan nyawa yang terserak, termasuk ingatan-ingatan yang sembarangan tergeletak. Usai semua potongan menyatu, Geng menelan ludah sulit.

Betapa kejam ia semalam pada perempuan ini, yang berbinar cantik ditimpa sinar mentari dari celah jendela.

“Qian,” –Yang dipanggil tersenyum, mengucap ‘selamat pagi’, sedangkan yang memanggil mendadak dihujani perasaan bersalah— “maaf soal tadi malam.”

“Jangan terlalu dipikirkan.”

“Akan kucoba untuk tidak melakukannya lagi, walaupun aku tak yakin mampu.”

Kurva bahagia di wajah Qian kian lebar. Ia naikkan sudut-sudut bibir Geng menggunakan telunjuk, melengkungkan senyum yang jatuhnya malah jadi aneh…

“Se-ma-ngat, dong. Percayalah kamu bisa.”

…namun, setelah Qian melepas dua telunjuknya, senyum yang lebih tulus bertahan di wajah Geng.

“Terima kasih banyak telah bertahan denganku, Qian.”

lalu dia akan sembuh.

Entah untuk berapa lama. Entah kapan kambuh, tetapi untuk sekarang, dia sembuh.

***

Qian memapah Geng yang masih sedikit terhuyung ke kamar mandi, membersihkan diri. Sekali lagi, keduanya utuh sehabis pecah, bersama saling melekatkan kepingan-kepingan jiwa yang berceceran.

Sementara itu, sebuah buku harian terabaikan di sisi ranjang. Dari halaman tengahnya yang membuka, ilustrasi seorang pria jangkung kurus yang bertelanjang kaki di atas rumput kasar bulan Juli mengawasi Qian lega.

TAMAT

.

.

.

sekali2 pake cast yg tuaan dikit biar ga bosen EXO *tapi malah ga ada yg baca *pundung. terus krn nulis ini juga, kemarin nemu tumblr victoria scenarios dan DI SANA ZHOUTORIA HANTORIA GEREGET BANGET! entah yg couplenya sendiri2 atau triangle!ZhouToriaHan argh sumpah.

10 thoughts on “f(4) #5: Rude Love”

  1. SUKAAAAAK. SERIUS SUKA BANGET.

    Kak Li emang selalu bisa nyadarin aku persoalan diksi. Saking banyaknya baca buku, saking banyaknya nulis nonfiksi, kadang aku jadi lupa caranya mempercantik diksi baik di orific maupun fanfic😄

    Intinya… Zhoumi di sini cuma tokoh khayalan yang digambar Vic? Atau tokoh di sebuah buku? Aku agak gagal paham tapi sukaaa hehe ><

    Tunggu kehadiranku di seri lainnya, da keep writing~~~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s