[Vignette] Superstition

superstitious

Casts: Jeon Wonwoo (Seventeen), Konno Amaya (OC) | Supporting casts: Kwon Soonyoung – Hoshi (Seventeen), Woozi – Lee Jihoon (Seventeen), slightly Hyuk (VIXX) and Sungjae (BTOB) | Genre: School life | Duration: Vignette | Rating: PG-15 | Disclaimer: I own the plot and Konno Amaya

© 2015 namtaegenic

.

Konno Amaya pasti penganut sihir hitam.

.

“Jadi…dari mana kamu bilang asalmu tadi? Midorihoshi?”

“Mikagehoshi, Okinawa.” Amaya membungkukkan sedikit tubuhnya kepada yang bertanya. Sementara selaku lawan bicara dan teman sebangku yang baik namun tak tahu harus menanggapi seheboh apa lagi, Soonyoung hanya mengangguk.

Konno Amaya baru datang hari ini. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa Korea yang fasih tanpa meninggalkan aksen Jepangnya. Katanya ia berasal dari Mikagehoshi, sebuah desa kecil di Okinawa, Jepang. Ia juga mengingatkan dengan cara yang aneh, bahwa teman-teman barunya itu tidak perlu repot-repot membuka peta untuk menelusuri daerah Okinawa, karena mereka toh tidak akan menemukan desa Mikagehoshi tercetak di sana.

“Apakah mungkin Mikagehoshi itu semacam ‘anak desa’?” tanya Soonyoung ingin tahu.

“Oh bukan,” Amaya melambai-lambaikan tangannya sembari menyuguhkan senyuman yang membuat kedua matanya membentuk bulan sabit. “Mikagehoshi itu terletak setelah Ginoza di distrik Kunigami.”

“Bagaimana dengan populasinya?”

Soonyoung mendongak ke arah Jihoon—yang tidak terlalu sulit dilakukannya karena temannya itu bertubuh mungil—dengan dahi yang berkerut.

“Untuk apa kamu tanya-tanya populasinya, Lee Jihoon?”

“Entahlah,” Jihoon mengangkat bahu. “Aku tidak tahu mau tanya apa lagi, tapi aku masih ingin nimbrung.”

“Populasinya tidak terlalu banyak. Rata-rata orang-orangnya bercocok tanam, sama dengan desa lain.” Amaya tampak tidak keberatan menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman barunya itu. Karena bukankah begitulah seharusnya adat murid baru? Semua pendatang asing akan selalu diberondong tatapan ingin tahu, dan jika mereka cukup beruntung, beberapa orang akan bersedia mengobrol dengannya.

Kecuali mungkin Jeon Wonwoo. Ia memutar bola matanya ketika seseorang melontarkan pertanyaan tentang seni beladiri.

“Buka Wikipedia sajalah, teman-teman,” usai mengatakan itu dan sukses mengalihkan semua pasangan mata lurus ke arahnya, Wonwoo mengangkat bahu. “Apa? Memang benar semua itu bisa kalian dapatkan di Wikipedia, ‘kan? Coba saja ketik Okinawa. Habis perkara. Kecuali mungkin kalau kalian memang tidak bisa menemukan desa Mayumihoshi—“

“Mikagehoshi, lho, namanya!”

Wonwoo memberikan Amaya tatapan dingin, yang sebenarnya tidak memerlukan usaha keras karena bentuk mata Wonwoo sedikit sipit dan memberikan kesan menakutkan—dan ia sangat bangga akan sudut matanya yang lancip dan lurus. Beberapa teman segan padanya karena ia selalu memancarkan aura sulit didekati. Dan Wonwoo juga tidak mau repot-repot mengubah citra yang terbangun dengan sendirinya sejak tahun pertamanya di SMU tersebut. Bukankah disegani semua orang itu adalah kenikmatan yang tidak bisa dibeli?

“Mau Mikagehoshi, Mayumihoshi, Midorihoshi, memangnya urusanku?” Wonwoo mengangkat alis, menantang Amaya untuk merespons.

Namun gadis itu kembali tersenyum, lalu berbalik ke arah teman-teman lain.

“Kalian tahu? Dulu pernah ada turis domestik dari Tokyo yang sedang menjelajahi Okinawa. Ia dan seorang temannya mampir dan menginap di rumah kepala desa di Mikagehoshi.

“Tadinya, semua aman-aman saja. Sampai suatu hari, ketika ia bangun pagi, ia menemukan seekor kodok di tumpukan bajunya. Bukan, bukan cuma seekor, tapi sekitar lima ekor kodok burik hijau lumut, bertengger manis di—aku sulit mengatakannya tapi ini memang benar—di laci pakaian dalam si turis.”

Terdengar seruan geli dari beberapa anak perempuan. Tapi mereka belum juga mau beranjak.

“Kepala Desa kami bertanya, apakah mereka pernah bicara sembarangan ketika menelusuri sungai, atau ketika mereka jalan-jalan ke hutan, dan lain-lain. Mereka bilang tidak.”

“Jadi dari mana asalnya katak-katak itu?” kini jarak Amaya dan teman-temannya tak lagi sebesar tadi. Berpasang-pasang mata itu menuntut kelanjutan kisah si turis di Mikagehoshi dan bagaimana ia bisa menemukan katak di laci pakaian dalamnya.

“Ternyata, setelah didesak dan diperingatkan bahwa katak itu tidak akan pergi sebelum ia mengakuinya, ia bilang pada kami bahwa sehari setelah ia menginap, ia mempermainkan nama Mikagehoshi menjadi sesuatu yang terdengar lucu. Salah satu yang kuingat adalah mereka menyebut desa kami sebagai Momokohoshi.”

Seruan-seruan semakin jelas, kali ini tidak lagi pada Amaya, tapi ke arah Wonwoo yang kini sudah tak lagi bersandar santai di bangkunya. Ia melemparkan tatapan marah pada gadis itu, tatapan yang belum dikenal oleh kebanyakan orang di sekolah ini.

Tatapan yang menyatakan perang.

Lantas Wonwoo bangkit dengan hentakan di bangkunya, dan melenggang pergi meninggalkan ruang kelas. Ia masih punya waktu sekitar lima menit sebelum bel berdering lagi, dan Wonwoo memutuskan untuk menggunakan waktunya di toilet. Berdiam diri di kamar mandi laki-laki jauh lebih baik ketimbang mendengarkan bualan kampungan dari anak baru menyebalkan itu—omong-omong Wonwoo kesal sekali dengan sikap Amaya yang dinilainya sok akrab dan cenderung lancang.

Terlebih lagi teman-teman sekelas justru mengerubunginya bagai lalat buah.

Wonwoo melewatkan seorang senior yang menyapanya ketika berpapasan di pintu masuk toilet, tapi ia masih terlalu larut dalam kekesalannya sehingga baru menyadari siapa yang baru saja berpapasan dengannya ketika senior itu sudah keluar.

Lantas pemuda itu menghampiri urinoir paling pojok, siap-siap buang air, ketika seonggok mahkluk yang nongkrong tepat di atas urinoir itu mendelik menatapnya. Wonwoo refleks memekik dan mundur beberapa langkah. Ia yakin kodok burik hijau lumut di hadapannya ini bukan halusinasinya. Si kodok mengoak-ngoak, bagian bawah moncongnya kembang-kempis, membuat Wonwoo tak bisa melakukan hal lain kecuali bergidik.

Wajah Konno Amaya adalah yang pertama kali terlintas di benaknya. Ia yakin ini bukan suatu kebetulan. Namun karena Wonwoo juga tidak percaya dengan mitos dan sebagainya, ia menyaring kembali semua alibi gadis itu, lalu menarik suatu kesimpulan.

Bahwa alih-alih kebenaran mitos orinisil Mikagehoshi dan sebagainya, yang aneh justru gadis itu sendiri. Ia menyebarkan hal-hal tidak benar mengenai kisah mistis di desanya. Padahal satu-satunya yang tampak akrab dengan hal-hal gaib justru dirinya sendiri.

Wonwoo menarik sudut kanan bibirnya ke atas. Kejadian hari ini hanya mengacu pada satu kesimpulan.

Konno Amaya pasti penganut sihir hitam.

Pemuda itu kembali ke kelas dengan langkah yang diusahakan agar tampak lebih percaya diri. Ia tidak akan kalah atau mengalah pada si anak baru. Konno Amaya perlu diberi sedikit informasi bahwa sihir-sihir tidak berlaku di sekolah ini, terutama pada Wonwoo. Kalau pun gadis itu masih bisa mempraktekkannya, ia akan mendapatkan perlawanan. Lalu nasibnya akan sama seperti tukang sihir lain—dihukum mati. Hah!

Yah, hukuman mati terlalu beraroma Inggris abad delapan belas. Ia mungkin akan dikeluarkan dari sekolah dan namanya akan jadi sejarah buruk sehingga menjadi pelajaran berharga bagi pihak sekolah dalam menyaring penerimaan murid baru.

Wonwoo melangkah masuk ke kelas dan langsung menghampiri meja gadis itu.

“Kalau kamu pikir bisa mengerjaiku dengan mitos Momokohoshi-mu, kamu salah besar. Aku tidak takut pada kodok yang kamu taruh di kamar mandi laki-laki,” desisnya. Amaya balas memandangnya dengan alis terangkat.

“Kodok?”

Wonwoo mendengus. “Silakan saja kalau mau pura-pura bodoh, tapi kuperingatkan saja kalau aku—“

“Sanghyuk! Kata Sungjae kodokmu ada di kamar mandi!” dari luar kelas, seorang anak kelas dua bernama Sanghyuk berlari kecil ke arah sebaliknya. Ia menepuk bahu si pemberi informasi.

“Ya Tuhan, untung dia ketemu. Kalau tidak, tamatlah riwayat nilai praktikum Biologi-ku!”

Wonwoo berdiri tegak, namun tatapannya pada Amaya semakin berapi-api—lebih karena ia kesal karena tuduhannya ternyata tidak tepat sasaran. Kenapa pula ada acara bedah kodok di laboratarium. Kenapa pula semua guru Biologi menyuruh murid-muridnya melakukan pembedahan pada amfibi kalau mereka sendiri tidak berani melakukannya? Kenapa pula sekarang ia harus merasa malu setengah mati di hadapan gadis ini, padahal ialah biang dari segala hal ini.

“Kali ini kamu bebas.” Wonwoo bergerak menjauh. Ia melayangkan telunjuknya pada Amaya. “Tapi lain kali jika kamu melakukan hal-hal aneh lagi, akulah yang akan menyerahkanmu ke Kesiswaan.”

“Tunggu, Jeon Wonwoo!”

Uh-huh, aku tidak terima kompromi!” Wonwoo semakin melangkah mundur, menggerak-gerakkan jemarinya ke kanan dan ke kiri, dan kembali ke bangkunya, bertepatan dengan dering bel tanda pelajaran kembali dimulai.

“Aku serius, Jeon Wonwoo. Ini penting untuk kamu ketahui, bahwa—“

“Bahwa jika aku memperingatkanmu, aku akan menemukan laba-laba di saku bajuku?” Wonwoo menyeringai penuh kemenangan. Amaya mengangkat alis, kemudian tanpa banyak omong lagi, ia berbalik ke mejanya sendiri.

Wonwoo masih berdiri, tiba-tiba tengkuknya meremang. Bukan, bukan karena ucapan penuh peringatan dari Amaya barusan, tapi karena kini semua mata di kelas memandang ke arahnya. Tu-tunggu, jangan-jangan benar-benar ada laba-laba yang menggerayangi seragam sekolahnya?

“Ke-kenapa?” tanyanya gugup. Ia lantas mensugesti dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa ia tidak takut laba-laba—dengan gumaman tiga oktaf lebih tinggi.

“Wonwoo…” Soonyoung meringis geli. “Garasimu lupa ditutup,”

Tersentak setengah mati, Wonwoo segera melayangkan pandangan sedikit turun ke celananya. Oh sial! Presensi kodok tadi membuatnya lupa segalanya. Lupa bahwa itu bisa saja adalah kodok laboratorium, lupa pada hasrat ingin buang air—

“Ck, sialan!”

—dan lupa menaikkan kembali resleting celananya.

.

| fin.

namtaenote: akhirnya Konno Amaya debut juga di IFK. mohon bantuannya, para OC-sunbaenim (bow down to all IFK OCs).

 

17 thoughts on “[Vignette] Superstition”

  1. Welcome Konno Amayaaaaa!! OMG GARASI WONWOO LEMME SEE LEMME SEE!!
    Idenya keren kak untuk debut Konno Amaya. Aku tunggu aku tunggu kisah selanjutnya hehehe. Duh itu kodok agak ngeri yaa sebenernya tiba2 ada di kamar mandi. Kalo aku udah loncat teriak2 histeris pasti. Wkwkwk. 😀

    Suka

  2. Duh, please wordpress, gimme more likes! Aku butuh, aku butuh banget like sebanyak-banyaknya untuk kisah ini :((

    Ini gokil banget ya kaeciii, uh, khas-khas kaeci sekali; lucu dan lucu dan bagus 😉 idenya wow. Eksekusi keren. karakternya pada kuat, (poin yg aku gak ahli sama sekali), trs humornya asyik dan ngepas.
    Wonwoo, kasian banget kamu ya, garasinya mau kututupin lagi gak? ((lol))

    Nice fic, kak! ♡

    Suka

  3. Ini lucu sumpaaahh aakkk
    Btw aku mau memperkenalkan diri dulu, Tita kelahiran 94; fansmu kak!
    Huhuhuhu

    Ini aroma remajanya kentel bangeeet lucu parah gemes terus ga keduga gitu alurnya… mulai dari karakternya si wonwoo sama amaya yg gemesin… deskripsinya juga mantep… huhuhuajariaku
    Mana endingnya ga keduga parah.. kesian malunya si wonwoo berkali lipat xD
    Ah ga tau mau komen apa lagi..
    Pokoknya sukaa!!

    Suka

  4. Duh kak maapkeun Narin tadi cuma baca pas di event tapi ga sempet komen :((
    Buang Narin ke kloset kak buang :(( *abaikan*

    Tbh kak baca ini ya aku ngakak kenceng kak sampe diliatin orang2 kak *abaikan*
    Lucu kak dan aseeek banget mana Wonwoo garasinya kebuka kan jadi pengen liat *eh* *ditampar*
    Welcome Amaya-chan~~

    NEED MORE STORY FOR WONYA (?) KAK!!

    Suka

  5. halo ka eci!^^ (ikut-ikutan lia manggil nama kaka di atas, huhu)
    aku mengikuti anjuran kak eci untuk baca ini sebelum aku baca [Vignette] Of Japanese Superstition, Rain, and His Attitude 😀
    dan wuah, dari awal sampai akhir aku ngga berhenti senyam-senyum, di pertengahan mulai ngukuk sampai akhir 😀
    setuju sama temen2 di atas, pembangunan suasana khas remajanya itu berhasil banget 😀
    apalagi pembangunan karakter mas wonwoo yg seremnya bikin emesh itu </3 eksekusi ending-nya topp! 😀 saat wonwoo ngeliat kodok di kamar mandi aku tuh udh mikir, ini orang pasti lupa sesuatu dan pasti soal resleting #prt 😀
    ada satu typo sih ka, orisinil jadi onirisil; tapi itu ga mengurangi keseruan fict unyu ini 😀
    anw, tetap semangat menulisnya kak eci! fighting

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s