[Vignette] 10th of November

10-nov

a birthday-movie by tsukiyamarisa

[VIXX] Leo (Jung Taekwoon) and [OC] Re

with [VIXX] N (Cha Hakyeon) and Ken (Lee Jaehwan) duration Vignette genre Romance, Hurt/Comfort, slight!Friendship rating G

.

“Ini sudah sepuluh tahun, Taekwoon-a.”

.

.

.

Taekwoon tahu kalau Re tidak akan mengerjainya.

Ia tahu itu, lantaran menurutnya, gadis itu bukanlah tipe orang yang akan mendiamkan seseorang hanya demi kejutan ulang tahun. Ia juga tahu kalau Re tidak seperti Jaehwan atau Hakyeon, yang beberapa hari belakangan bersikap baik namun agaknya sedang bersiap untuk membongkar aib Taekwoon. Sang lelaki begitu yakin kalau Re tak akan memberinya kejutan yang macam-macam, sehingga wajar kalau seluruh tindakan gadis itu selama seharian ini sukses membuatnya bingung.

“Kamu baik-baik saja?”

Tidak ada jawaban. Gadis berambut sepunggung itu hanya mengaduk-aduk sup di dalam mangkuknya, memberi anggukan kecil tanpa memandang Taekwoon. Cukup untuk membuat lelaki itu cemas, terlebih karena Re sudah memasang tampang muram itu sejak Taekwoon menjemputnya di kampus tadi.

“Re….”

Ini aneh, lantaran biasanya, Taekwoon bukanlah orang yang akan membuka konversasi. Semua itu adalah kebiasaan Re: menanyakan keseharian Taekwoon, mengajaknya pergi makan siang berdua, atau mencari tahu apakah ada hal-hal istimewa yang terjadi. Tetapi, mengingat gadisnya itu sedang diam seribu bahasa, apa lagi yang bisa Taekwoon lakukan?

“Ada masalah dengan kelompok teatermu?”

Mmm, tidak.”

“Ada tugas yang membuatmu stres?”

Re menggeleng.

“Lalu—”

“Aku ke kamar mandi sebentar, ya.”

Memotong usaha Taekwoon untuk melakukan percakapan, Re bergegas bangkit dan melangkah pergi. Meninggalkan lelaki itu sendiri, maniknya menerawang ke kaca jendela rumah makan yang berada di sampingnya. Ia bingung, ia tak tahu apakah ia telah melakukan sesuatu yang salah. Seingat Taekwoon, kemarin semuanya masih baik-baik saja. Re bahkan memberinya ucapan selamat ulang tahun tepat pada pukul dua belas malam, dan Taekwoon bersumpah saat itu nada suara sang gadis sama sekali tak terdengar sedih.

Menopangkan dagunya pada sebelah tangan, ia pun mengalihkan pandang ke arah pintu yang menuju kamar mandi. Menunggu detik demi detik berlalu, sampai akhirnya papan kayu itu berayun membuka. Re melangkah keluar dari sana, sebelah tangan terangkat untuk mengusap kedua matanya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu dan berjalan kembali ke arah Taekwoon dengan senyum kecil di wajah.

“Maaf,” ucapnya lirih, sembari mendudukkan diri di hadapan Taekwoon dan meraih sendoknya kembali. “Tadi, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

Taekwoon tak langsung membalas. Ia hanya mengamati Re lekat-lekat, melihat bagaimana gadisnya kembali melengkungkan bibir seraya menyendok makanan yang belum disentuhnya sejak setengah jam lalu. Dari luar, ekspresinya memang terlihat lebih baik dibandingkan tadi. Namun, Taekwoon tahu kalau itu semua tidak benar.

Tidak ketika senyum gadis itu barusan terasa begitu dipaksakan.

.

-o-

.

“Ada yang bisa kubantu?”

Taekwoon menoleh sekilas, mendapati Re yang tak lagi asyik mengobrol dengan teman-temannya. Gadis itu berdiri tepat di samping Taekwoon, mengamati panci berisi pasta yang sedang direbus. Tanganya otomatis bergerak meraih garpu, mengaduk-aduk isi panci itu tanpa diminta.

“Aku bisa melakukannya sendiri, Re,” gumam Taekwoon, kontras dengan rasa enggan yang ia rasakan saat mendapati sosok Hakyeon dan Jaehwan di ambang pintu apartemennya tadi. Kedua kawannya itu menuntut untuk mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan, dan sebagai imbasnya, Taekwoon jadi harus menambah porsi masakan untuk malam ini.

Tapi, itu bukan berarti ia meminta Re untuk membantunya.

Sang lelaki tahu kalau pikiran gadis itu pasti sedang disesaki oleh suatu perkara. Senyum dan tawanya sejak tadi siang belumlah berubah, masih terdengar terpaksa dan menutup-nutupi sesuatu. Maka, ia pun sengaja membiarkan Re mengobrol dengan Hakyeon dan Jaehwan. Berharap agar suasana sedikit membaik, selagi ia berkonsentrasi untuk menyajikan sesuatu yang enak bagi gadisnya. Taekwoon masih berharap agar pesta kecil-kecilan ini berakhir menyenangkan, namun….

“Mereka berisik.”

…sepertinya Taekwoon salah lagi.

“Memang.” Taekwoon buru-buru menyetujui, perhatiannya teralih dari potongan paprika di atas talenan. Kedua maniknya mengamati ekspresi wajah Re tanpa berkedip, selagi bibirnya mengimbuhkan, “Apa aku perlu mengusir mereka?”

“Mereka datang untukmu, ‘kan?” Re balik bertanya, kepalanya dikedikkan ke arah Hakyeon dan Jaehwan yang sedang menertawakan lelucon entah apa. “Mungkin, aku saja yang sedang tidak ingin tertawa.”

“Re, aku bisa—”

“Ayo kita selesaikan ini, Taekwoon-a,” ujar Re cepat, menyunggingkan senyum sekilas dan membiarkan atensinya kembali ke atas kompor. “Maaf kalau aku bersikap aneh hari ini. Tapi, aku tidak akan membiarkan pesta ulang tahunmu—“

Penjelasan Re itu terpotong karena Taekwoon tiba-tiba saja mematikan kompor dan meraih garpu di tangan sang gadis. Meletakkannya di atas konter, lantas bergerak untuk memosisikan dirinya tepat di hadapan Re. Kedua lengannya terangkat tanpa banyak kata, merengkuh tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan.

“T-Taekwoon-a….”

“Jangan begini, Re,” gumam Taekwoon pelan, dagunya disandarkan di puncak kepala gadis itu. “Jangan meminta maaf, jangan berpura-pura senang hanya karena ini ulang tahunku.”

“Tapi—“

“Jangan mengkhawatirkanku,” lanjut Taekwoon lagi, kali ini sambil menarik diri. “Kalau ada yang menganggu pikiranmu, kamu bisa cerita padaku, ‘kan?”

Re tak langsung menjawab.

Alih-alih, sang gadis malah memandangi Taekwoon. Membiarkan hening menelusup, jarum jam berdetik, dan napas terembus. Terus seperti itu, sampai akhirnya sebutir air mengalir turun dari sudut kelopak matanya tanpa bisa dicegah. Spontan membuat Taekwoon tercengang, sementara Re beralih menundukkan kepala sembari berkemam, “Ini sudah sepuluh tahun, Taekwoon-a.”

Taekwoon bergeming.

“Aku baru menyadarinya kemarin,” lanjut Re, masih dengan wajah yang tersembunyi kendati sang lelaki yakin kalau air matanya pasti sudah menderas. “A-aku… selama ini aku berusaha untuk tidak menangis. Aku tahu kalau ia pasti benci melihatku menangis, ditambah lagi hari kepergiannya bertepatan dengan ulang tahunmu. Namun, untuk hari ini saja….”

“Re….”

“Untuk hari ini, aku mendadak teringat padanya. Aku… aku merindukannya Taekwoon-a. Aku rindu kakakku, aku terus-menerus membayangkan apa yang mungkin dia lakukan seandainya ia masih….”

Curahan hati Re itu terpotong oleh pelukan hangat dari Taekwoon, bersamaan dengan air mata yang membasahi bagian depan sweter abu-abu sang lelaki. Taekwoon membiarkannya, tentu. Yang ia lakukan hanyalah terus menepuk-nepuk punggung gadisnya, berusaha memberi Re jeda waktu untuk menenangkan diri.

Segalanya kini menjadi masuk akal.

Dua tahun setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Re pernah memberitahu Taekwoon bahwa hari ulang tahun sang lelaki bertepatan dengan hari kematian kakak lelaki gadis itu. Sebuah fakta yang mengejutkan, namun pada saat itu, Re mengucapkannya dengan senyum tulus serta optimisme yang melekat kuat. Gadis itu senantiasa berkata kalau ia tak mau bersedih di hari kematian sang kakak, memutuskan bahwa merayakan ulang tahun Taekwoon adalah cara untuk menunjukkan pada mendiang kakaknya di atas sana bahwa ia bahagia dan baik-baik saja.

Namun, hari ini, bertepatan dengan sepuluh tahun upacara kematiannya, rasa rindu itu menerobos masuk begitu saja. Baik Taekwoon maupun Re bukan lagi anak sekolah, mereka sudah dewasa dan hal itulah yang membuat sang gadis mendadak merindukan kakaknya. Rindu akan masa lalu, berduka saat menyadari bahwa kakaknya tidak akan pernah tumbuh dewasa atau menua seperti dirinya. Semua hal itu telah menganggu pikirannya sejak kemarin, menghadirkan diri lewat mimpi-mimpi bahagia yang semu.

“M-maafkan aku, Taekwoon-a…” bisik Re setelah tangisnya sedikit mereda. “Harusnya aku tidak lagi begini, tapi—“

“Tidak apa-apa, Re,” timpal Taekwoon, jemarinya bergerak untuk mengelus puncak kepala sang gadis selagi dekapannya mengerat. “Sungguh, seharusnya kamu bilang padaku. Ini wajar, ini….”

“Aku bodoh, ya?” Re masih bergumam, dan Taekwoon buru-buru menggeleng kendati gadisnya tak dapat melihatnya. “Padahal sudah lama sekali….”

“Dia kakakmu, Re. Tidak apa jika sesekali kamu merindukannya.”

Pernyataan Taekwoon itu tampaknya berhasil menutup perdebatan, sebuah kebenaran yang tidak bisa disangkal oleh Re. Mengangguk lemah, gadis itu mengizinkan Taekwoon untuk memeluknya selama beberapa detik lagi sebelum memisahkan diri. Menghapus bekas-bekas air mata yang menodai dua belah pipinya, kemudian dengan rasa bersalah menatap sweter Taekwoon yang basah akibat tangisannya.

Uh, maaf—“

“Aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu minta maaf, bukan?” sahut Taekwoon sambil menelengkan kepala, sebelah tangan terulur untuk menangkup pipi Re. “Tersenyum saja untukku. Itu cukup.”

Satu anggukan persetujuan, dan Re pun mengembangkan senyum manisnya. Mereka bertukar pandang sebentar; Taekwoon membiarkan lengannya menarik gadis itu mendekat, Re menyandarkan kepalanya pada bahu Taekwoon dengan nyaman. Presensi sang lelaki sukses menghadirkan rasa tenang pada dirinya, sekaligus lega lantaran ia tak lagi perlu menutup-nutupi perasaannya.

“Re?”

“Ya?”

“Jangan bersedih lagi, oke?” Taekwoon menarik napas dalam, mendaratkan kecupan singkat pada dahi gadisnya. “Aku akan selalu ada di sini. Bukan hanya sebagai seorang lelaki, tetapi juga sebagai keluarga bagimu. Boleh, ‘kan?”

Re sedikit mendongak. Iris keduanya bertemu, saling mengunci selagi bahagia itu merambat di dalam dada. Sang gadis bermaksud untuk mengiakan, serta tak lupa balik memberikan kecupan di pipi Taekwoon. Namun, tampaknya, niat itu harus ditunda lebih dahulu karena….

.

.

.

“Pantas saja makanannya tidak jadi-jadi. Taekwoon-a, apa yang tadi itu sebuah lamaran?”

.

.

.

YA! CHA HAKYEON! LEE JAEHWAN!!”

.

.

.

fin.

Yeaaaay, selamat ulang tahun mas Taekwoon!!❤

5 thoughts on “[Vignette] 10th of November”

  1. Jaehwan ama Hakyeon, sini tak iket dulu, tak pakein choker dulu sini ah ganggu aje lu pade apaan si -_-

    KYAAAAA AMEEER
    KYAAAAA HBD MAS TEKWUUUUUNNN WUATB KEEP BEING U YG BIKIN JATUH HATI KAYA GINI😄

    Huft amer bikin deg2an aja, kirain udah sepuluh tahun apaan gitu… etaunya syedi T.T
    Nice Mer, aku sukses ikut sedih skaligus seneng soalnya pas sedih ada mas tekwun yg minjemin bahunya deuh bahagia banget ya jadi Re.. Re tukeran yuk *halah*😄

    Naiseu Mer.. tunggu, aku juga mau ngeluarin bday fic buat babang leo kesayangan kita😄

    Suka

  2. VIXXXXXX LEO ITUH SUAMI IDAMAN PAKE BANGET GA BISA DITAWAR LAGI
    duh mer, gentle banget demi apaa dan as always ceritanya ngalir kek keran niceee banget.
    di ending aku udah nunggu nunggu kapan duo rusuh itu ngerusuh, dan dadaaaam lumayan sih pasti N deh yang ngomong gitu wkwkwkwk
    sukasukaaaaa
    HBD ABANG TAEKKWOOON, semoga kita bisa ketemu dan hidup berbahagia yaaa hahaha

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s