[Vignette] Journey To The Past

JTTP

JOURNEY TO THE PAST

Jung Taekwoon’s Special Birthday Movie

.

Starring

VIXX Jung Taekwoon, [OC] Re

Special Appearance by BTS Jung Hoseok

.

Vignette | PG – 13 | Tragedy, friendship, family, a pich of romance

.

Kenapa setiap hari ulang tahunku, aku selalu terbangun di tempat itu?

.

Angin berembus cukup kencang pagi itu. Butiran debu pun sampai ikut terbawa, beberapa mendarat di wajah lelaki muda itu, bahkan sebagian dari mereka dengan lancang menelusup di sela-sela bulu matanya. Lelaki itu mengerjap tidak kurang dari sepuluh kali setelah merasa matanya gatal, membuat ia terbangun dari tidurnya. Sejenak pikirannya kosong, namun dua sekon berikutnya ia mengalami turbulensi hebat. Ia bangun setengah melompat, lalu melihat sekelilingnya yang sejauh mata memandang hanya ada hamparan tanah merah kecoklatan.

Tempat yang sama, tanggal yang sama, namun dengan pakaian yang berbeda – untuk tahun ini.

Lelaki itu memeluk lengannya, berusaha menghilangkan getaran hebat tubuhnya sendiri. Ia bergidik ngeri saat mencoba menerka-nerka bagaimana ia selalu bisa sampai di tempat ini, padahal malam itu ia ingat betul kalau ia tidur di atas tempat tidur yang ada di dalam kamarnya sendiri.

“Taekwoon!”

Lelaki itu terkejut saat  panggilan itu menghampiri telinganya. Bukan, bukan karena namanya dipanggil lantas ia terkejut, melainkan pemandangan yang tersaji di depannya. Langit tiba-tiba diselimuti awan tebal berwarna hitam, lalu awan itu berbondong-bondong turun seperti cereal yang dituangkan dari kemasan.

“Taekwoon! Aku pinjam PR-mu, dong!”

Suara itu menimbulkan vibra aneh yang membuat telinga Taekwoon sakit. Bukan hanya telinganya, tanah tempat ia berpijak pun ikut bergetar hebat. Gumpalan awan hitam menimbulkan getaran itu semakin menjadi, mereka semakin dekat dengan Taekwoon. Kepalanya sakit, telinganya sakit, seluruh tubuhnya sakit. Ia limbung saat gumpalan awan hitam itu mengimpit, menarik, mendorong, sampai akhirnya Taekwoon terjebak di dalamnya tanpa sanggup melakukan perlawanan. Dunia seketika menjadi gelap, tak ada pilihan lain untuknya selain memejamkan mata dan membiarkan rasa sakit itu menjalari tubuh dan pikirannya, namun Taekwoon masih bisa mendengar sayup-sayup suara cempreng yang sejak tadi memanggilnya.

“Taekwoon! Bangun! Taekwoon, pinjamkan PR-mu padaku, cepat!”

Taekwoon merasa tubuhnya berguncang hebat, perutnya pun mendadak mual saat aroma amis menyengat indera penciumannya yang sensitif. Ia terpaksa harus berupaya lebih keras agar matanya terbuka lagi demi menjauhkan bau yang menurut Taekwoon lebih dari sekadar kimchi basi.

“AARGH!!!”

Taekwoon membuka mata dan alangkah terkejutnya ia saat menyadari ia terbangun di tempat yang berbeda dari yang tadi. Meja belajar persegi panjang di sudut kamar, dua langkah ke kiri ada lemari pakaian dua pintu berwarna cokelat tua, persis di sebelahnya ada cermin setinggi tubuhnya. Jelas sekali, Taekwoon terbangun di kamarnya sendiri. Di sebelahnya ada Hoseok yang tengah duduk sambil mengayunkan kaus kaki butut dengan wajah melongo sempurna.

“Taekwoon, kau mimpi buruk?”

Alih-alih menjawab, Taekwoon malah mendorong Hoseok ke arah meja belajar, lalu menunjuk sebuah buku yang menyembul dari tas sekolah.

“Itu PR-ku. Kembalikan sebelum aku sampai di sekolah.”

“Asik!”

Hoseok melompat kegirangan seraya mengambil buku PR milik Taekwoon lalu pergi begitu saja. Ia melupakan kaus kaki yang dipegangnya tadi, bahkan ia tidak sadar kalau benda bau itu mendarat tanpa dosa di atas selimut milik Taekwoon.

Dan saat aroma kimchi basi itu menguar, Taekwoon yakin kalau ia sepenuhnya sudah berada di alam nyata.

.

.

.

“Aku ada urusan. Pulang duluan saja.”

“Ya sudah kalau begitu. Aku akan bilang pada ibu kalau kau pergi ke klub, lalu mengisap ganja, lalu ke hotel, lalu – “

“Tidak ada pinjam-meminjam PR untuk tukang fitnah!”

Hoseok mendengus keras, kemudian menggas mobilnya habis-habisan. Taekwoon mengabaikan ajakan pulang naik mobil bersama saudaranya dan lebih memilih untuk menunggu bis di tengah udara dingin di penghujung musim gugur. Sambil menunggu bus datang, Taekwoon melihat ke sekelilingnya. Sejak melangkah keluar dari gerbang sekolah, ia merasa seperti ada seseorang yang diam-diam mengikutinya.

Ia memerhatikan satu persatu orang-orang yang ada di dekatnya. Tiga anak perempuan berseragam sekolah seperti dirinya, dua anak laki-laki adik kelasnya, sepasang mahasiswa yang (tampaknya) sedang pacaran, dan seorang perempuan berpakaian kasual yang menyandarkan keningnya di jendela etalase toko buku dengan kaki terbuka selebar bahu seperti anak laki-laki yang sedang buang air sembarangan.

Pasti dia, batin Taekwoon.

Firasat aneh menuntun Taekwoon untuk menghampiri perempuan itu, namun tinggal beberapa langkah lagi Taekwoon sampai di tempatnya, perempuan itu malah mengambil langkah seribu. Tanpa pikir panjang, Taekwoon mengejar perempuan itu dengan kemampuan larinya yang bisa dibilang hampir sama dengan Usain Bolt. Tak perlu waktu lama, Taekwoon berhasil menangkap lengan perempuan itu. Namun reaksi yang diperlihatkan perempuan itu di luar dugaan Taekwoon. Ia justru tertawa saat Taekwoon menangkap dan memojokkannya di sebuah gang kecil.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Taekwoon, sedikit terganggu dengan tawa perempuan itu.

“Ternyata memang benar kau orangnya. Kau tidak banyak berubah dan sialnya, kau bertambah tinggi dan tampan!”

Kerut di alis Taekwoon justru bertambah. Ia tidak tahu kalau ia memiliki teman perempuan yang seperti ini, atau lebih tepatnya tidak ingat. Masih dengan posisi mengintimidasi, Taekwoon kembali bertanya,

“Kau siapa? Apa aku mengenalmu?”

Perempuan itu mengangguk, “Tentu saja kau mengenalku, tapi itu dulu.”

Jawaban perempuan itu bagaikan angin segar untuk Taekwoon. Perempuan itu mengenalnya di masa lalu namun Taekwoon tidak ingat, itu artinya perempuan itu mungkin saja mengetahui sesuatu mengenai kebiasaan aneh Taekwoon yang selalu terbangun di tanah lapang yang sama di hari ulang tahunnya.

“Siapa namamu?”

“Re. Ingat?”

Taekwoon terdiam sejenak, berusaha untuk membongkar lemari ingatannya, namun hasilnya adalah pencarian untuk nama Re dinyatakan nol. Ia memberikan dua gelengan untuk Re, membuat si penerima gelengan menatap iba pada Taekwoon.

“Maaf kalau aku tidak ingat apa-apa, tapi maukah kau ikut denganku ke suatu tempat? Siapa tahu aku bisa mengingatmu?”

.

.

.

Taekwoon dan Re sampai di pinggir lapangan bertanah merah. Taekwoon lalu menunjuk sebuah tempat di pinggir dataran itu, tepat di daerah yang tidak ditumbuhi rumput.

“Kenapa setiap hari ulang tahunku, aku selalu terbangun di tempat itu?”

Bukannya menjawab, Re justru mendatangi tempat yang dimaksud Taekwoon. Tanpa ada pilihan lain, Taekwoon mengekor di belakang Re dengan isi kepala penuh tanda tanya. Sesampainya di sana, Re berjongkok, lalu mengusap tanah itu. Ia tidak dapat menahan air mata yang seharusnya tidak ia perlihatkan pada Taekwoon, namun Taekwoon yang diliputi rasa penasaran membalik tubuh Re cepat bahkan bisa dibilang sedikit kasar.

“Ada apa? Kenapa kau menangis? Ada apa dengan tempat ini? Jawab aku, Re!”

Re menggigit bibir. Ia ingin menjelaskan pada Taekwoon, tapi hatinya sendiri tak sanggup bertahan dari rasa sakit saat melihat kenyataan kalau yang tersisa di ingatan Taekwoon hanyalah tempat ini.

“Tiga hari lagi ulang tahunku, Re. Aku tidak mau lagi terbangun di tempat ini, jadi tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!”

.

.

.

Taekwoon menyeret kakinya dengan susah payah. Sekitar sepuluh meter lagi ia sampai di rumah, namun kepalanya yang terasa pusing membuat jarak itu terasa beberapa kali lipat lebih jauh. Kenyataan yang menghantam alam sadarnya, ditambah lagi perutnya yang kosong sejak siang, membuat pandangan mata Taekwoon semakin mengabur. Ia berhenti sejenak, meletakkan kardus berisi kerangka milik kedua orang tuanga yang sejak tadi ia bawa, lalu menyandarkan punggung di tembok pagar tetangga. Kejadian tadi sore masih berputar cepat di kepalanya.

“Malam itu, aku dan kedua orang tuamu berencana menyiapkan pesta kejutan untukmu. Kami menyiapkan kembang api, kue, dan beberapa kado. Namun sesampainya di sana, ada beberapa orang bertubuh besar yang menghadang kami. Ayah dan ibumu menyuruhku untuk lari sejauh mungkin, namun yang kulakukan adalah bersembunyi di balik pohon.”

Taekwoon memegangi kepalanya yang semakin berdenyut tidak karuan, namun bukannya menghilang, kejadian itu justru berputar terus dan terus.

“Aku tidak tahu apa yang orang-orang dewasa itu bicarakan pada orang tuamu. Mereka berteriak-teriak sambil memukuli ayah dan ibumu. Lalu kau tiba-tiba muncul entah dari mana. Kau berteriak pada sekumpulan orang-orang dewasa itu dan salah satu dari mereka memukulmu sampai jatuh pingsan. Aku terlalu ketakutan untuk melakukan apa pun saat itu, Taekwoon. Namun, aku melihat semuanya.”

Dengan semua tenaga yang susah payah dikumpulkannya, Taekwoon bangkit seraya mengangkat kardus yang ada di sebelahnya. Berjalan tertatih dengan sorot mata penuh kebencian dan menuntut penjelasan.

“Aku bahkan melihat mereka mengubur kedua orang tuamu, tepat di mana kau terbangun setiap tahunnya. Setelah itu semuanya terasa gelap dan tahu-tahu aku terbangun di rumah sakit. Orang tuamu dilaporkan hilang dan kau diadopsi oleh keluarga Jung.”

Taekwoon sudah ingin membanting pintu depan rumah guna memperlihatkan amarahnya pada keluarga Jung, namun potongan pembicaraan yang ia dengar membuatnya mengurungkan niat tersebut.

“Apa Taekwoon juga akan dapat warisan?”

Itu suara Hoseok, Taekwoon yakin.

“Tentu saja, tapi tidak usah kuatir, bagianmu tetap lebih besar,” jawab seorang wanita yang Taekwoon yakini selama ini adalah ibunya, padahal sebenarnya ibu tiri.

“Kenapa sih justru Taekwoon yang mewarisi otak ayah dan ibu? Kenapa bukan aku saja yang jelas-jelas anak kandung kalian?”

“Kenapa kau tidak bisa hidup tenang dan berterima kasih pada Taekwoon yang tidak pelit mengajarimu selama ini sampai kau bisa bersekolah di sekolah elit bersamanya?”

Tangan Taekwoon meremas ujung kardus. Ternyata selama hampir sebelas tahun, hanya dia satu-satunya yang tidak mengetahui asal-usul kenapa ia selalu terbangun di tanah lapang itu. Hanya dia satu-satunya yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hampir sebelas tahun ia berjalan di kehidupan, dituntun oleh keluarga Jung yang selama ini hidup bersamanya tanpa ia tahu kalau sebenarnya mereka adalah orang asing yang berbaik hati merawat dan membesarkannya.

Meskipun keluarga Jung lebih sering tidak peduli pada Taekwoon, namun bagaimanapun ia harus berterima kasih.

.

.

.

Tiga hari kemudian

Taekwoon membungkuk tiga kali seusai memanjatkan doa. Ia menatap abu ayah dan ibunya yang sekarang sudah tersimpan rapi di balik lemari kaca, berharap mereka berdua tenang di alam sana. Kedatangan Re yang terpantul lewat kaca membuat Taekwoon sedikit terkejut. Re membawa dua buket bunga, satu ia letakkan di depan lemari kaca dan yang satu lagi ia berikan untuk Taekwoon.

“Selamat ulang tahun, Jung Taekwoon.”

Taekwoon menatap canggung buket bunga itu karena sebelumnya ia tidak pernah menerima hadiah apa pun di hari lahirnya itu. Namun setelah melihat senyum di wajah Re, ia akhirnya menerima bunga itu.

“Terima kasih, Re.”

“Jadi, hari ini kau terbangun di mana?”

“Di rumah. Mungkin karena aku sudah tahu penyebabnya, jadi aku tidak mengalami hal itu lagi.”

“Syukurlah.”

Selama beberapa saat, tidak ada percakapan di antara mereka berdua saat mereka meninggalkan tempat penyimpanan abu. Sebelum suasana menjadi lebih canggung, Taekwoon akhirnya menanyakan sesuatu yang sedikit mengusik pikirannya setelah ia bertemu dengan Re tempo hari.

“Re.”

“Ya?”

“Seberapa dekat hubungan kita dulu?”

“Hmmm…” Re memikirkan jawaban yang pas, “tetangga sekaligus teman bermain. Mungkin kau tidak ingat, tapi dulu kau mengikrarkan di depan teman-teman sekelas kalau aku ini pacarmu.”

“Hah?”

Re memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah yang tidak bisa ia kendalikan dari tatapan mata Taekwoon. Ia berkali-kali merutuki dirinya sendiri kenapa ia harus mengingatkan Taekwoon yang hilang ingatan tentang hal itu, hal yang sebenarnya memalukan dan tidak perlu diceritakan.

“Lupakan saja. Itu tidak penting. Aku pulang dulu!”

Sebelum Taekwoon sempat mencegahnya, Re sudah terlanjur berlari dengan kecepatan yang membuat tercengang siapapun yang melihatnya.

Meninggalkan Taekwoon dengan senyum lebar dan semburat merah yang sama dengan Re terpatri di wajahnya.

“Terima kasih sudah membawaku ke masa lalu, Re.”

FIN

a/n:

HBD MAS BABANG TAEKWOON❤

7 thoughts on “[Vignette] Journey To The Past”

  1. Brb keinget tiser CMB nya chanyeol yg bangun bangun eh udah dirumput lapang wk (but leyo bangun ditanah merah) (gimana sih)
    Pantesan aku pikir lha gimana bisa gimme-gimme-hope ini sodaraan sama mas tekwun eee ternyata….. gpp lah pokoknya keren aja gitu kaknis ada fantasy fantasy nya ini. Lumayan lah ngajak (secara paksa) otakku untuk berkhayal pukul setengah enam pagi wkwkkw
    Eniwei udahan deh aku gatau komen apa lagi pokoknya hepibesdey deh mas leyo!!

    P.s: hot enough ka ditunggu😆😆

    Suka

    1. Cuma tiser doang dia begitu… di MVnya tetep di kotak………… (lah OOT)
      Jauh banget ya jehop ama Leo hahahaha SENGAJA😄
      sebenernya bukan fantasy sih.. itu ceritanya mimpi gitu… trus leo bangun di tanah merah itu karena dia sleepwalking…… tapi apa masuk fantasi juga? *kok jadi bingung sendiri XD*

      hot enough??
      ………

      apakah aku sanggup mengerjakannya😄

      Suka

      1. Iya mah kecewa nih ekso-l (nunjuk diri sendiri) (gak)
        Iya mah agak gak realistis/? gitu siblingnya. Coba jungsis feat leyo wah duh itu sibling terkeceh 2015 kak lol
        PASTI SANGGUP KAK PASTI! Bertapa dulu gih sana kak biar sanggup ngerjainnya😄 wkwkwk

        Suka

  2. ASTAGA SAMPE LUPA KEMAREN GARA GARA TUGAS MAAPKAN T T
    TERUS INI TUH ASJHDAJHDAJSDHA SAMPE BACA BERULANG ULANG KAKAK ADUH KATANYA KEMAREN MAU CRACK KOK JADINYA CUMA CRACK DI AWAL SEDIH DI AKHIR SIH

    idenya kanisa kece abis > < suka banget sama semi surealnya terus re jadi agak iseng di sini tapi tetep aja……..

    TETEP AJA ITU BAGIAN PAS KECIL SERING DIANGGEP PACAR APA YA MAKSUDNYA JUNG LEO SINI KAMU (((jadi ganas)))

    maapkan daku yang baru berkunjung lagi dan komenannya ga penting gini ya kak huhuhu anyway me like this❤❤

    see ya kanisa! :*

    Suka

    1. Ga papa mer nyante aja kaya di pantai XDXD
      CRACK nya di awal aja lah, ga tega ampe akhir juga huhu XDXD kasian babang dianiaya XDXD
      JADI CERITANYA LEO SERING NGAKU2 PACARNYA RE WAKTU KECIL GITU HAHAHA
      DUH AMER JANGAN GANAS DONG XDXD

      Ga papa Mer, di sini komen rusuh is penting😄

      see ya too , Mer❤

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s