[3 of 4] Things Between Us: Comfort Zone

tbu-3

a movie series by tsukiyamarisa

starring [SEVENTEEN] Joshua and [OC] Mia duration Vignette-series genre Friendship, Fluff, slight!Romance rating 15

.

previous part(s)

part 3 of 4

 COMFORT ZONE

“Kamu tahu sendiri apa maksudku, ‘kan?

Aku mengenalmu selama tujuh tahun.“

.

.

.

“Mia?”

Yeah?

“Awas ada pintu.”

Satu kerjapan, dan Mia bisa merasakan rasa malu merambatinya tatkala ia menghentikan langkah tepat beberapa inci saja dari pintu kaca gedung bioskop. Fokusnya yang tadi sempat melayang seketika kembali, telinganya menangkap kekeh tawa Joshua yang berada di sampingnya. Harus Mia akui, ia memang sempat melamun saat berjalan keluar dari studio tempat mereka menonton film tadi.

“Ah—“

“Kamu memikirkan apa, sih? Kedinginan sampai-sampai tidak memperhatikan jalan?” Joshua berdecak pelan, tahu-tahu saja melepas jaket yang ia kenakan dan bergerak untuk menyampirkan benda itu ke pundak Mia dari belakang. Sukses membuat Mia bergeming, hingga Joshua harus menggenggam pergelangan tangan gadis itu. Menjauhkannya dari kemungkinan menabrak pintu lagi, selagi keduanya lamat-lamat melangkah keluar.

“Tidak, kok.” Mia buru-buru menggeleng, memaksa dirinya untuk bertingkah normal tetapi tidak menolak jaket Joshua—ia memang sedikit tidak tahan dengan pendingin ruangan di bioskop. “Aku tidak memikirkan apa-apa.”

“Yang benar?”

“Iya.” Satu anggukan, selagi Mia melepaskan dirinya dari genggaman tangan Joshua dan menolehkan kepala ke kanan dan kiri. “Kamu lapar tidak? Mau cari makan apa?”

Usaha sang gadis untuk mengalihkan pembicaraan agaknya sukses, lantaran Joshua tak lagi mengungkit-ungkit topik tadi dan mulai membicarakan menu makan siang mereka. Membiarkan sahabatnya itu memilih, Mia hanya menanggapi dengan seulas senyum sementara pikirannya sibuk berkelana. Dalam diam mengingat niatnya untuk meminta penjelasan pada Joshua, tetapi lidahnya terus-menerus terkunci sepanjang tiga jam terakhir ini.

Tadi, ketika Joshua datang menjemputnya, Mia berpikir untuk menunda konversasi serius itu lantaran ia tak ingin merusak acara menonton mereka dengan aura canggung atau perasaan aneh yang meletup-letup. Lantas, ketika mereka sudah selesai menonton pun, Mia tetap tidak sanggup mengutarakan tanya itu. Penyebabnya sederhana. Joshua sudah berhasil mengacaukan jalan pikirnya dan—

“Kamu melamun lagi, Mia.”

—lagi-lagi, ia sukses melakukannya.

Menundukkan kepala, Mia mendapati tangan Joshua yang sudah memegang sikunya. Menahan langkah gadis itu, membuat napasnya terkesiap tatkala ia menyadari bahwa Joshua tengah memandanginya lekat dengan ekspresi cemas. Manik mereka bertemu sepersekian sekon kemudian, dan Mia bisa merasakan kegugupannya makin menjadi-jadi.

Sama seperti halnya saat mereka menonton film tadi.

Entah karena apa, Mia mau-mau saja diajak menonton film horor. Well, sebenarnya ia sendiri memang bukan seorang penakut, sih. Ia tidak seperti Hoseok, kakaknya, yang akan mengeluarkan reaksi berlebihan saat sosok-sosok seram muncul di layar. Satu-satunya masalah Mia adalah ia benci dikejutkan, dan tadi, dirinya sempat mengeluarkan satu pekikan kecil kala salah satu hantu berambut panjang tahu-tahu memenuhi layar lebar.

Oh, ia memang bukan satu-satunya orang yang menyuarakan keterkejutannya. Namun, jeritannya itu cukup untuk membuat Joshua menoleh. Tahu-tahu saja membisikkan sebaris ejekan, tetapi lengannya yang tersampir di sandaran kursi Mia bergerak turun untuk menepuk-nepuk pundak gadis itu.

Dan detik itu juga, Mia merasa film yang ditontonnya tak lagi menarik atensi. Alih-alih, ia jadi sibuk bertanya-tanya dalam benak, ingin tahu apakah Joshua pernah merasa gugup seperti dirinya saat ini. Atau mungkin, lelaki itu menganggap semua ini sebagai sesuatu yang biasa, buah dari tujuh tahun persahabatan mereka? Mia ingin tahu, namun sialnya, hingga detik ini pun ia masih bungkam.

Sampai Joshua menariknya masuk ke dalam sebuah rumah makan, memesan pizza, kemudian menopangkan dagunya pada sebelah tangan dan menatap Mia lekat-lekat.

“Kamu sedang merahasiakan sesuatu dariku, ya?”

Pertanyaan itu meluncur tanpa nada menuduh, tetapi sukses memaksa Mia untuk langsung mengangkat kepalanya dan mengerutkan kening. Sungguh berkebalikan dengan maksud hatinya yang ingin cepat-cepat mengungkapkan segalanya, lantaran alih-alih menjelaskan, bibirnya malah balik bergumam, “Rahasia apa?”

“Jung Mia.” Joshua menyebutkan nama itu lamat-lamat sebelum melanjutkan, “Kamu tahu sendiri apa maksudku, ‘kan? Aku mengenalmu selama tujuh tahun—“

“Hampir.”

Yeah, hampir tujuh tahun. Tapi, bukan itu maksudku.”

Mia memilih bungkam—untuk saat ini.

“Kamu…” Joshua kembali angkat bicara, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. “…apa kamu sedang menjauhiku? Apa aku berbuat sesuatu yang salah? Atau—”

“Hah? Salah apa?”

“Itu yang aku tanyakan,” ulang Joshua, matanya kini disipitkan ke arah sang sahabat. Mengamatinya seolah sedang menilai sesuatu, membiarkan detik demi detik berlalu. Lalu, satu deham kecil pun menyeruak keluar diikuti dengan ucapan, “Kamu tahu, Mia, seharian ini kamu bersikap seolah-olah kamu tidak nyaman berada di sampingku. Aku tidak tahu apakah dugaanku ini salah atau tidak, namun kamu bersikap seperti—“

Kelanjutan kalimat itu terpotong oleh suara gelas membentur meja, mengalihkan perhatian keduanya pada dua iced lemon tea yang baru saja datang. Menunggu hingga pelayan yang mengantarkan minuman itu berada di luar jarak pendengaran, Mia pun memutuskan untuk menyedot minumannya lebih dulu. Niatnya hendak menenangkan detak jantung yang berdebar-debar, tapi lekas gagal ketika Joshua tahu-tahu kembali berbicara.

“Kamu bersikap seperti seorang gadis yang gugup saat berada di dekat lelaki yang ia sukai, Mia.”

Uhuk!”

Nyaris tersedak lemon tea yang sedang diminumnya, Mia hanya bisa terbatuk-batuk tatkala mendengar pernyataan Joshua itu. Secara tak langsung mengakui bahwa sebagian dari kata-kata sahabatnya memang benar, kendati dirinya pun masih separuh tak yakin apakah ia menyukai Joshua dalam artian seperti itu. Yang jelas, ia tak lagi bisa mempertahankan ekspresi datarnya, dengan panik memalingkan wajah ke arah lain sembari bertanya, “Apa yang… uh, kenapa kamu berpikir begitu?”

“Novel yang sedang kubaca berkata demikian,” jawab Joshua sambil mengedikkan bahu, seakan itu bukan masalah besar. Spontan membuat lawan bicaranya menolehkan kepala, tak percaya. Joshua kini sedang tergelak, kembali menopangkan dagunya pada telapak tangan dan berujar, “Tapi, kamu jelas menyembunyikan sesuatu. Mind to share with me, Mia?”

Sang gadis tak langsung menjawab. Ia hanya memandangi Joshua yang masih tersenyum kepadanya, tahu bahwa cepat atau lambat ia harus menceritakan segalanya. Namun, mengingat sudut matanya baru saja menangkap si pelayan restoran yang berjalan ke meja mereka, Mia pikir sedikit penundaan tak akan menjadi masalah.

Okay, then. After lunch?”

“Promise?”

Mia mengangguk mantap. “Promise.

.

-o-

.

“So?”

Merapatkan jaket Joshua yang masih ia kenakan, Mia melirik lelaki itu. Keduanya kini tengah duduk berdampingan di halte bus depan mall, menunggu transportasi mereka datang sementara hujan rintik-rintik mulai mengguyur. Memberi Mia alasan untuk tidak mengembalikan jaket itu, dalam diam menghidu aroma parfum yang sudah amat ia kenali.

“Pertama, jangan tertawakan aku,” kata Mia, mengacungkan satu telunjuknya dan memasang tampang serius. “Kalau kamu sampai menganggap ini konyol, aku—“

“Oke, aku tidak akan tertawa. Lanjutkan.”

“Kedua, aku bukannya kelewat percaya diri atau apa—“

Seriously, Mia? Sejak dulu, bukankah kamu selalu beranggapan bahwa dirimu susah untuk merasa percaya diri? Kamu selalu butuh orang-orang di sekitarmu untuk meyakinkan dirimu sebelum kamu mengambil keputusan. Katakan saja, aku tidak akan tertawa atau menilaimu macam-macam, kok.”

Mia menggigit bibir bawahnya sejenak. Melempar satu lagi pandang keraguan, lantas tahu-tahu berucap, “Aku… aku menemukan wishlist-mu.”

Wishlist?”

“Yang kita buat sewaktu SMP. Yang berisi hal-hal konyol seperti kamu ingin mengalahkan nilaiku saat ujian akhir. Juga yang berisi keinginanmu mengenai kencan pertama—ah.

Menutup mulutnya, Mia sadar bahwa rasa gugup dan canggung telah membuat dirinya tiba-tiba mengoceh tanpa rem. Membongkar segalanya, selagi Joshua hanya bisa mengerjap dan mengangkat sebelah alis. Agaknya sedang berpikir, sementara Mia sibuk memukuli kepalanya sendiri dan merutuk macam-macam.

“Mia?”

“Kamu tidak ingat, ‘kan? Katakan kalau kamu tidak ingat dengan pasti detail—”

“Sayangnya, aku ingat.” Joshua memotong, mengembuskan napas perlahan seraya mengulurkan tangan untuk menggapai pergelangan tangan sang gadis. Menghentikannya dari aksi menghukum diri sendiri, membuat Mia makin panik lantaran ia tiba-tiba menambahkan, “Aku masih ingat, kalau aku ingin mengajak gadis yang kusukai kencan di pantai. Ini ‘kan, yang kamu maksud? Jadi, ini yang menganggu pikiranmu?”

Tahu bahwa percakapan ini tak akan mungkin kembali ke titik nol, Mia pun mengangguk. Membenarkan pertanyaan dari Joshua tadi, mengizinkan manik mereka bertemu sementara derai hujan terdengar menderas. Bus mereka masihlah belum tampak, dan keduanya sama-sama tahu bahwa obrolan ini belum akan menyentuh garis akhir.

“Josh, aku hanya—“ Mia menarik tangannya, melepaskan diri dari genggaman lelaki itu. Suaranya seperti akan hilang, namun gadis itu tahu kalau ia harus melakukan ini. Tak peduli apa pun hasilnya, Mia tetap membuka mulutnya untuk bertanya, “—pernahkah kamu menyukaiku?”

Nah, ia sudah mengucapkannya.

Dan tanpa Mia duga, jawaban itu datang lebih cepat dari bus yang tengah mereka tunggu.

Honestly? Yes.”

Satu kata ‘iya’, dan manik Mia sontak membulat. Suaranya kini benar-benar lenyap, dan sebelum gadis itu sempat menemukannya lagi, Joshua sudah tersenyum kecil dan melanjutkan pengakuannya.

“Aku tahu kalau kamu tidak akan mau mendengar jawaban klise. Kata-kata seperti ‘tentu saja suka, aku ‘kan, sahabatmu’ atau semacam itu. Benar?”

Uh—

Being honest won’t hurt, I guess,” ucap Joshua, irisnya beralih untuk mengamati jalanan yang diguyur hujan di depan sana. Barangkali sengaja berhenti memandangi Mia, mengurangi rasa berdebar-debar yang ada lantaran kalimat yang terdengar berikutnya adalah, “Aku tidak tahu sejak kapan, tidak tahu sampai kapan juga. Aku hanya tahu kalau aku tidak ingin melihatmu sedih atau susah. Jadi, kupikir, tidak diucapkan pun tidak apa-apa. Aku masih menghargai persahabatan kita, kebersamaan kita.”

“Aku—“

Joshua mengangkat sebelah tangannya, meminta Mia untuk menunggu sementara ia kembali berujar, “Kupikir itu wajar, tahu. Falling for you, since I know everything about you. Bahkan ketika kamu punya pacar dulu, aku tak tahu apakah aku cemburu atau tidak. Aku hanya ingin kamu tersenyum, itu saja. Lalu, aku sadar. Mungkin, inilah caraku menyukaimu.”

“Josh, aku minta maaf, aku….”

“Jangan berpikir ini salahmu, Mia,” potong Joshua, lekas-lekas menggelengkan kepala dan mengembalikan fokus pupilnya ke gadis itu. Menepuk pundak Mia sekilas, tetapi membiarkan telapak tangan itu bertahan di sana. “It’s complicated, you know. Aku tidak ingin mengungkapkannya, aku merasa nyaman seperti ini. Tapi, berhubung kamu bertanya….”

Akhir dari kalimat itu tidak lagi terdengar. Menurunkan tangannya dari bahu sang gadis, Joshua beralih untuk menggenggam tangan Mia yang berada di atas kursi tunggu halte. Secara otomatis mengaitkan jemari, membiarkan hening menyelimuti sampai akhirnya kuriositas kembali hadir di benak Mia.

“Kalau begitu… kita ini apa, Josh? Are we still friends, or….

“Apa pun.”

Hanya itu jawaban Joshua, selagi matanya disipitkan ke arah kanan. Memandang bus yang mulai tampak di kejauhan, mengajak Mia untuk bangkit berdiri tanpa melepas genggaman tangan mereka. Waktu berlalu, dan tepat saat bus itu berhenti di hadapan keduanya dengan bunyi berdecit ban yang menggesek aspal, Joshua menolehkan kepalanya ke arah Mia untuk menegaskan, “We can be anything, Mia. Apa saja, asal kita bisa tetap merasa nyaman. Tidak apa-apa, ‘kan?”

Mia tak langsung menjawab, tidak ketika pintu bus sudah terbuka dan Joshua mengajaknya naik. Ia tak sempat mengiakan, tidak lantaran Joshua langsung merangkulnya mendekat dan mengusap kepala gadis itu yang sedikit dibasahi air hujan dengan sapu tangannya. Ia tidak mampu berkata apa-apa sepanjang perjalanan pulang, tetapi ia tahu bahwa Joshua mungkin juga tidak butuh jawaban.

Toh, Joshua sudah tahu kalau Mia selalu merasa nyaman bersamanya.

.

.

.

Jadi, tanpa kata-kata pun, tidak apa-apa, ‘kan?

.

.

.

a/n:

one part left, see ya (hopefully) soon!😀

don’t forget to drop some comments!❤

tsukiyamarisa (@tsuki016)

10 thoughts on “[3 of 4] Things Between Us: Comfort Zone”

  1. HAH AMER YHA YA TUHANKUUUUUU KAMU SELALU BIKIN AKU MABUK SAMA FICMU MEEERRRR :””””

    Ini tuh manis bangedh baydeway kan mana ada “sahabat” macem gini tuh “uhuk” (?) sekali Merrr~~~

    ditunggu yaa nextnyaaa >_<

    Suka

  2. Kak Mer, ini friend zone parah. Please… si Josh jujurnya keterlaluan >,<. Rasanya pengen jedotin kepalanya Mia, biar dia sadar. Jangan friend zone terus. Lalu apa ini? Comfort zone? Ini menyakitkan, Kak. Menyakitkan! Bukan zona nyaman lagi!
    Ok, Kak Mer fighting ya!

    Suka

  3. Suka banget sama joshua-mia 😭 so swit sekali ah mereka.suka banget ff bikinan kak tsukiyamarisa apalagi kalo ff joshmia nya😆fighting thor!di tunggu part terakhirnya harus greget ya(?)

    Suka

  4. Astagaaa… hanya perasaan saya ajaa.. sejak awal baca ff ini saya terus merasa tersindir.. huh.. mengapa nasib saya sama kayak mia.. huaaaa..

    Hai ameerrr #sokkenal lama nian tak baca karya fanfiksi author di mari.. hahaha.. Ini ceritanya.. hmm meski menyindir bagus yaa.. saya sukaa banget.. penggambaran joshua di sini sumpah mirip banget sama sohib q juga.. n entah kenapa aq tau gimana perasaan mia di cerita ini T.T.. at least.. aq bakal baca lanjutan nya.. hahaha

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s