[BEHIND THE SCENE] #7: Our Feeling [2]

BTS; our feeling[2]

a fan fiction by Jung Sangneul

Behind The Scene

EXO : Unbreakable Group

Genre : Friendship, Sad, Tragedy

Length : multichapter

Rating : PG – 15

Disclaimer : Fanfiction ini dibuat dari perspektif saya sebagai pengamat, bukan sebagai fangirl. Mohon maaf apabila saya menyinggung perasaan sebagian pembaca. Cerita di dalam serial ini hanya opini saya, bukan berarti faktanya begitu. Tidak berniat menjelekkan nama baik siapa pun, hanya mencoba mengemukakan pendapat perihal keadaan saat ini.

Summary :

Kita memiliki kisah sendiri-sendiri. Sekeping memori tersembunyi yang diam-diam menyatukan kita lagi. Memberi arti dari kisah persahabatan yang murni.

***

Previous: #1: Betrayer | #2: Song was Pray | #3: After | #4: Before | #5: We’ll Be Alright | #6: Our Feeling [1]

Our Feeling [2]

 

Meng Lian memang tidak terlalu suka dengan dunia hiburan, baik itu yang asli Cina maupun yang dari luar negeri. Ia tidak seperti teman-temannya yang menangis sedih karena Zayn Malik keluar dari One Direction, atau mereka yang menyambut film ‘Somewhere Only We Know’ yang dibintangi Wu Yi Fan dengan histeris.

Tapi, ia kenal dengan Lu Han. Ia tahu lelaki itu tidak bermarga Xi, nama aslinya hanya mengandung dua huruf pinyin, yang jika dibaca menjadi Lu Han. Ketika SMA, lelaki itu sudah memiliki fans club dengan nama ‘Milu’, dan ia gila sepak bola. Ketika SMA juga, ia begitu cemerlang layaknya bintang; nilai yang bagus, dipuji guru, jago main rubik, menjadi bintang lapangan bola, menjadi ulzzang favorit semua gadis, bahkan mengikuti pertukaran pelajar ke Korea Selatan—impian semua murid pada masa itu.

Lian juga ingat, itulah awal mula berubahnya takdir.

Lu Han bukan lagi hanya siswa yang bisa diandalkan. Semua teman-teman SMA-nya di Cina selalu membanggakan diri dengan bilang, “Aku temannya Luhan dulu.”

Bahkan beberapa gadis mencemooh satu sama lain, berebut mengatakan, “Aku mantan pacarnya!”

Dibanding mereka semua, Meng Lian memang bukan siapa-siapa. Dia hanya tetangga Luhan. Rumah mereka berjarak sekitar enam blok, Luhan hanya melewatinya ketika akan berangkat ke lapangan sepak bola atau ke sekolahan. Luhan juga hanya tersenyum tipis ketika melihat dirinya, sama sekali tidak menyapa, hingga Lian kira lelaki itu tidak tahu siapa namanya. Luhan satu sekolah dengannya, tapi mereka tidak satu tingkat, satu kelas, atau pun satu tempat les.

Tapi, dunia itu berputar.

Dari yang bukan siapa-siapa, Lian berubah jadi siapa-siapa. Karena ia yang kali pertama melihat ketika Luhan kembali menempati rumah itu. Karena ia yang melihat Luhan kembali ke lapangan sepak bola, ia lihat lelaki itu menendang-nendang bola sendirian. Ia juga yang tahu kalau wartawan memadati rumah itu dari pagi hingga sore, lalu menyerah ketika malam tiba.

Ia juga yang tahu, kalau setidaknya … Luhan berubah.

***

“Aku kembali.”

Singkat dan tidak bernada. Begitu yang diucapkan Luhan ketika baru tiba di rumahnya. Ayahnya yang tadi menjemput di bandara melepas jaket kulit yang ia kenakan, meletakkannya di sandaran sofa. Sementara, ibunya dari arah dapur tergopoh-gopoh mendekat dan segera memeluk Luhan.

“Ya Tuhan, anakku, kau baik-baik saja, ‘kan? Kau tidak terluka? Tidak sakit?” wanita berumur pertengahan lima puluh itu mengusap pipi Luhan, air matanya berjatuhan.

Luhan tersenyum tipis, demi menenangkan gundah ibunya. Ia kemudian mengangguk satu kali. Tidak menjawab dengan lisannya.

“Kau kurus sekali. Kau harus makan yang banyak, Lu! Ibu akan masak makanan kesukaanmu, ya? Ya Tuhan, berapa lama kau tidak mencicipi masakan ibu, hm?”

Ibu selalu berisik, tapi Luhan merasa hatinya yang tadi sudah tenang kembali terasa ditusuk-tusuk. Ia tenggelam pada helaian rambut ibunya yang masih wangi meski sebagian telah memutih, menghirup aromanya lekat-lekat. Dengan begitu, ia tahu kalau ia masih didukung dan disayangi. Bahwa ia memang sudah seharusnya berada di sini, dekat dengan orang tuanya.

“Ibu,” bisiknya.

Ibunya berhenti bicara, sehingga ia melanjutkan, “Aku sungguh merindukanmu.”

Dan saat itu juga, air mata Luhan tumpah. Ada banyak hal yang bergejolak dalam batinnya yang ia paksa tetap lapang, semua rasa bingung itu bertumpuk jadi satu di sana.

Ibunya mengusap lembut kepalanya, kemudian menjawab, “Kalau begitu, tinggallah di sisi Ibu. Kita hadapi semuanya sama-sama.”

***

“Media masih belum mau menyerah mengejar berita,” ujar ayahnya ketika Luhan baru memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya, “Jangan keluar ke mana-mana dulu sebelum kau mendapat manajer baru.”

Luhan mengangguk mengerti. “Kalau sudah larut, mereka akan bubar sendiri. Aku sudah terbiasa.”

“Ibu kira kaupulang untuk menjadi pengusaha, atau manajer perkantoran, tapi ternyata …,” ucapan ibunya menggantung begitu saja.

Luhan beralih tersenyum pada ibunya, menggenggam tangannya.

“Aku tidak jauh, Bu. Aku di dekat Ibu, aku akan selalu datang kapan pun Ibu panggil, tidak seperti dulu lagi. Ya?” sahutnya menenangkan.

Ibunya menggeleng. “Bukan masalah ibu, Lu. Ini tentang dirimu. Apa kau … tidak kelelahan?”

Pertanyaan itu singkat, namun bisa menghentikan kunyahan Luhan pada makanannya meski hanya sesaat. Ia mengatur napasnya, membiarkan dadanya yang sempit terlegakan kembali, dan memaksakan senyum pada sang Ibu.

 

“Aku bahagia, Bu.”

Meski hatinya menampik. Ia tidak suka dengan keputusan agensi, ia tidak suka dipaksa meninggalkan teman-temannya, dan ia terluka hingga berdarah-darah di dalam sana. Tapi, ia juga sadar, ia mencintai ayah dan ibunya di sini. Jika ia tetap bertahan di sini, ia bisa menjaga mereka sepenuh jiwa.

Luhan menghela napas kembali, menguatkan nuraninya, bahwa setiap keputusan selalu memiliki sisi positif dan negatifnya sendiri-sendiri.

***

Seandainya, Lian tidak ditugasi ibunya untuk mengirim kue yang mereka masak hari itu ke tetangga-tetangga mereka, tentu ia tidak akan secara langsung menatap wajah Luhan. Namun, apa boleh buat. Malam telah merayap, dan ibunya tidak mungkin membagikan sendirian. Sehingga terpaksalah ia keluar rumah untuk mengetuk pintu, menebar salam, menyerahkan kotak kue, kemudian pamit pulang.

Rumah keluarga Lu adalah tujuan terakhirnya, ketika waktu tepat menunjukkan pukul tujuh malam. Ia cukup menekan bel, dan pintu rumah dengan segera terbuka.

Ni hao ma,” sapanya kemudian, membungkukkan tubuh.

Ketika telah tegak kembali, ia agak terkejut melihat wajah yang dulu sering muncul di bagian tabloid ibunya berada di depan mukanya.

“A-aku mau … memberikan kue. Kebetulan, ibuku hari ini masak banyak,” ujar Lian, sesaat setelah membetulkan letak kacamatanya.

Luhan tersenyum lebar sekali, hingga Lian takut bibirnya akan sobek.

Xie xie,” sahut Luhan ketika menerima bingkisan itu dari tangan Lian, “ngomong-ngomong, apa kabarmu?”

Lian menaikkan alis. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dulu, di SMA, ia bukanlah murid populer. Memang, Luhan mengenalnya, tapi untuk bertukar cakap mereka amat sangat jarang. Mungkin, bisa dihitung dengan jari tangan.

“Aku?”

Luhan tertawa, dan Lian tercenung mendengarnya.

“Memangnya ada siapa lagi sekarang?”

 

“Luhan! Siapa yang bertamu? Kenapa tidak mengajaknya masuk? Nanti wartawan bisa melihat kalian!”

 

Seruan ibunya dari dalam seperti kalajengking yang menggigit kaki Luhan. Dia agaknya tersadar akan ulahnya. Sambil melongok kanan-kiri dan berharap tidak ada blitz kamera yang coba-coba berperang dengannya, ia mempersilakan Lian masuk.

“Err … tapi, aku—”

“Sudah, masuk saja. Jangan manfaatkan aku untuk muncul di headline tabloid Beijing.”

Lagi-lagi, Lian mengerutkan kening.

***

Setelah pertemuan pertama dengan Luhan, Lian jadi tahu dia orang yang benar-benar ramah. Ia bukan merupakan jajaran murid-murid populer, tapi Luhan bahkan tahu siapa gadis berkacamata norak ini. Dia juga banyak bertanya tentang teman-teman SMA mereka, yang beberapa di antaranya tidak Lian kenal sama sekali.

Tapi, Luhan hanya tersenyum dan berkata “tidak apa-apa” ketika ia bilang tidak kenal. Lian jadi lebih percaya tentang embusan kabar bahwa Luhan murid yang supel dan punya banyak penggemar di sekolahannya dulu.

Pertanyaan yang terakhir: “Sekarang kau kuliah?”

Dan, Lian cukup mengangguk sebelum pamit pulang. Ia merasa seperti semut di hadapan seekor rusa. Diinjak saja dia bisa mati. Berbicara dengan Luhan terasa begitu kaku, karena … yah, ini Luhan yang artis, dan dia hanya gadis cupu yang tidak percaya diri.

 

Pertemuan kedua adalah ketika siang begitu terik, Lian membeli es krim, kemudian duduk di pinggir lapangan bola. Tidak mungkin ada anak-anak yang main di jam siang seperti ini. Lian saja baru pulang dari kuliah dengan kepala menguap karena baru saja melumat tiga buku berbahasa asing sejak semalam.

Tapi, entah buat apa, Luhan main bola sendirian di sana. Lian hanya diam melihatnya. Ketika Luhan takkunjung menyelesaikan permainannya, ia pun beranjak meninggalkan tempat itu.

Luhan yang supel, bisa juga sendirian. Lian menoleh sekali lagi, mendapati Luhan baru menendang bolanya ke gawang.

***

Rumah Luhan tidak akan bisa terlihat lewat balkon kamar Lian. Mau ia menatap lurus, atau mungkin menoleh kanan-kiri, tidak akan ia temukan balkon kamar Luhan.

Memang mau apa kalau bisa lihat balkonnya?

Pikiran Lian jadi berontak sendiri. Tidak tenang lagi dengan buku bacaan di tangannya.

“Lian! Lian!”

Mendengar suara seseorang memanggil namanya, Lian pun menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Bulu kuduknya berdiri sendiri.

“Di bawah, Lian!”

Ia menunduk, melihat bawah balkon. Tersenyum lega ketika melihat laki-laki itu ada di bawah. Bibirnya tersenyum, tangannya melambai.

 

Demi keamanan Luhan yang masih dikejar-kejar wartawan, Lian mengendap-endap untuk membukakan pintu rumahnya.

Klik.

            “Sshht, pelan-pelan,” bisiknya.

Luhan nyengir, sedikit merasa bersalah sekaligus geli dengan sikap Lian. Ini masih pukul delapan, kok. Jam-jam yang wajar kalau ada yang mau main. Memangnya ibunya sudah tidur?

“Ibumu ke mana?” tanya Luhan, masih memelankan langkah demi menghargai Lian.

“Sshtt, bicaranya nanti saja di atas, Lu.”

 

Lu?

Oh, tidak banyak orang yang memanggil marganya seperti itu.

 

Lian kehilangan fokusnya ketika Luhan sudah duduk tenang di balkon kamarnya. Mereka berbincang sejenak tentang ibu Lian yang ada di luar kota bersama ayahnya, dan pembantu yang tukang mengadu soal kebiasaan buruk Lian. Luhan bilang pembantu itu cuma cari perhatian, tapi buat Lian, itu berbahaya. Karena ibunya sangat percaya omongan pembantu yang telah lama bekerja di rumahnya. Ia juga menyempatkan bertanya alasan Luhan mau berteman dengannya, dan Luhan bilang ia bisa dekat dengan semua orang yang membuatnya nyaman.

Tidak mau kejauhan menafsirkan jawaban Luhan, Lian menenggelamkan pandangannya pada deretan kata. Membaca semuanya meski beberapa informasi menguap. Sehingga ia perlu membaca satu paragraf lebih dari sekali.

Luhan tersenyum melihat ketekunan gadis itu. Sebelum ponselnya berbunyi, dan ia menggeser layar untuk menjawab permintaan video call itu.

 

Huang Zitao.

 

Wajahnya terpapar jelas di layar ponsel Luhan, memaksanya menghela napas panjang.

“Halo, Hyung. Apa kabar?”

 

“Baik. Aku bisa menghabiskan liburan natal dengan indah di sini,” jawab Luhan asal. Ia tahu belum waktunya natal, tapi hatinya sedingin salju di bulan natal. Wajah Tao campuran antara kesal dan marah, ia tidak peduli.

 

“Indah? Ya, wajahmu kelihatan bahagia.”

Sekali lagi, Luhan dipaksa mengembuskan napas sebelum menyahuti kata-kata bernada sarkasme itu.

“Ada perlu apa, Tao?”

 

Hyung bisa membohongi satu dunia dengan alasan-alasan tidak masuk akal itu, dan Hyung juga bisa bilang bahagia. Tapi, kebahagiaan itu relatif, dan aku tidak percaya Hyung sedang bahagia.”

 

“Apa maksudmu, Tao?”

 

            “Maksudku sudah jelas.”

 

“Aku tidak pernah terluka, Tao, kenapa kau yakin sekali dengan pradugamu?”

 

            “Aku tidak bilang kau terluka.”

 

“Lantas apa?”

 

            “Kau kesepian. Kautahu rasa kesepian? Itu jauh lebih menyakitkan dibanding terluka.”

 

Luhan diam beberapa detik. Sebelum ia merasa dadanya meringis ngilu, dan wajah Tao terasa memuakkan. Ia memutuskan mengakhiri panggilan itu begitu saja.

Lian benar-benar kehilangan konsentrasinya. Ia belum pernah melihat wajah semenderita itu dari Luhan. Gestur itu menyentaknya, kalau percakapan tadi melukai Luhan lebih parah daripada yang seharusnya.

“Lu?” panggilnya hati-hati.

Luhan mengangkat kepalanya, memaksakan seulas senyum pada Lian.

“Besok sidang pertamaku. Aku tidak peduli kalah atau menang melawan mereka.”

Lian beranjak, mendekat pada Luhan dan menggenggam tangannya. Dia tahu apa yang lawan bicara Luhan ucapkan tadi juga akan menusuk jantungnya. Karena ia selalu sendirian. Ia tidak cinta kesendirian, ia ingin punya banyak teman. Maka, terkadang, ia juga kesepian.

Tapi, kesepian yang diakibatkan sendirian tidaklah sebanding dengan rasa sepi di tengah kerumunan orang. Jauh lebih sakit merasakan kesepian di tengah lautan manusia yang tertawa bahagia.

“Apakah sesulit itu?” tanyanya, pelan.

Luhan menggeleng kecil.

“Doakan saja aku menang.” Senyum cerianya timbul lagi ketika merogoh kantung saku dan menyerahkan gantungan kunci pada Lian. “Simpanlah. Aku tidak tahu kapan kita bisa ngobrol banyak lagi seperti hari ini.”

 

Lian menatap gantungan kunci berbentuk rusa itu. Tidak bertanya banyak mengapa Luhan harus keluar dari grupnya, menggantungkan nasib pada putusan pengadilan, dan mengais rezeki di Cina padahal negaranya padat penduduk.

Lian hanya berbisik dalam doa, mudah-mudahan dia tidak kesepian.

Mudah-mudahan aku tidak mengharapkannya datang saat kesepian.

***

Belakangan, Lian tahu. Gantungan kunci rusa itu dari partner Luhan di grup, namanya Sehun. Barang yang berharga untuknya. Lian tidak menggunakannya, justru memajangnya di atas meja belajar demi menjaga eksistensinya.

Sehingga, tiap dia mau belajar, dia ingat Luhan juga pasti sedang belajar. Belajar menguasai materi dance-nya, melatih vokalnya, dan meningkatkan kualitas aktingnya. Luhan tdiak lagi terjangkau keberadaannya, tapi Lian tahu dia bisa menengoknya cukup dengan menatap rusa kecil itu.

Dan, Lian bahagia cukup dengan melihat Luhan muncul di channel televisinya. Ia bisa menghabiskan popcorn persediaannya untuk melihat film yang dibintanginya. Ia bisa tidak berhenti tersenyum melihat binar mata kesepian Luhan hilang ketika muncul di acara interview.

 

Baginya, tak perlu ada sosok nyata untuk mengikis kesendirian.

 

“Lian!”

“Gantungan kuncinya mana?”

“Kauhilangkan, ya?”

“Ganti rugi!”

“Kembalikan!”

 

Karena Luhan ada, kok, sebagai te…man? Sebagai bintang yang masih merunduk rendah hati, tersenyum dan melambaikan tangan jika bertemu. Berubah jadi cerewet ketika ada kesempatan bicara, dan berubah jadi omnivora ketika diundang makan bersama.

Cukup begitu saja, cukup seperti itu saja. Lian sudah merasa cukup.

 

fin.

Ini bukan seri terakhir! Bukan, kok. Masih ada serial future-nya. Tapi, genre canon untuk Behind The Scene saya habiskan sampai di sini. Saya tidak peduli kalau ada anggota yang keluar lagi, itu bukan urusan saya. Tapi, saya doakan dengan berakhirnya genre canon di fiksi ini, dan saya ganti benar-benar AU, bukan setengah canon setengah AU, anggota EXO tetap utuh 9 orang. Aamiin.

Saya posting lanjutannya secepatnya, ya. Setelah itu, saya lanjutkan juga Reclaimable dan lanjut posting playlist fic jika ada waktu. Sekian, terima kasih atensinya. See ya soon~

11 thoughts on “[BEHIND THE SCENE] #7: Our Feeling [2]”

  1. Halo kaa, aku sebenernya ngikutin behind the scene ini dari series pertamaa, tapi baru berani komen sekaraang. Maafkaan
    Aku suka ceritanyaa, tapi bingung harus komen gimana lagi huhu *payah
    Ditunggu lanjutan nya ya kaa, semangat ka!^^

    Disukai oleh 1 orang

  2. Uyeee Luhan 😆
    Jujur aku rindu ot12 😢 entah kenapa mls denger lagu EXO, lagu Tao, lagu Luhan & lagu Kris 😢
    I don’t know why 😢
    Aku cuma msh ngikutin berita Tao dr salah satu fansite, tapi entah kenapa ndak pengen denger lagunya dia padahal kesimpen di pomsel 😢
    I feel so sad 😢
    “EXO semakin semu meski bersinar di saat yg bersamaan” itu salah satu kutipan yang aku dpt dr coment di ff ini tapi ch 6 😂
    Maaf aku curhat Kak 😂😂😂
    Aku tunggu next chapnya yea,,

    Suka

    1. Woah, sayang sekali nggak suka lagu mereka. Soalnya suaranya luhan itu lebih keasah di cina sekarang. Kalo dulu cuma muncul dikit-dikit dan suaranya kering, skrg kan dia nyanyi sendiri dan high note pun dia keluarin ♥

      Wokee makasih udah komen yaa. Curhat dibolehin kok🙂

      Suka

  3. Halo kak! akhirny sekian lama ngga baca serial BTS ini akhirnya baca juga hehe. jadwal di sekolah padat banget sih *sejenak curcol*
    jujur ya kak, sekarang aku udah rada ga sreg lagi sama EXO semenjak mereka ot9. Tapi ya mau gimana ya, kadang rada miris juga kalo mau pindah fandom. Jadi, aku tetep dan masih exo-l🙂 aku juga kadang nangis sendiri gitu pas nonton showtime mereka yang emang ku download semua episode nya. soalnya hanya di showtime nya lah aku bisa ngeliat mereka lengkap dan utuh :’) duh malah curcol maap *bow*
    ditunggu next chap nya ya! semangat terus semoga ide nya ngalir terus biar serial BTS ini kelar wkwk :))

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hellooo (aku lupa kita udah kenalan nama apa belom tp inget id-mu) hehehe iyaa aku sendiri juga padat banget kok belakangan. Jadi seri BTS ini juga dikerjain dengan tertatih-tatih (?)

      Ehm, sama dong. Malah aku uda ngga ngaku sebagai exo-l padahal baekhyun tambah cakeup sekarang😦 gimana lagi, prince Lu-nya pergi T_T jadi aku pindah menjadi fansnya aja xD

      Dan btw aku kangen bgt sama semua pembaca BTS, belom pada balik sih. Panggilin dong tolong xD oke makasih komen dan support-nya yah ♥

      Suka

  4. Akhirnya ketemu juga FF yang aku tunggu dari dua bulan yang lalu.
    Jadi ini adalah canon terakhirnya BTS ya nis?
    baiklah saya amini dengan sepenuh hati.
    sudah cukup EXO-L punya 3 ‘mantan’, tolonglah pak sooman, jangan nambah lagi.

    Lulu, kamu yang sabar ya. Kesepian memang menyakitkan.
    bayangin aja, Luhan yang suka main sama siapa aja, dulu punya 11 teman, tiba-tiba harus solo karier, promo sendiri, interview sendiri, showcase sendiri, nyanyi sendiri /ya iya lah/

    Memang ya, terkadang kesepian atau kesendirian membuat kita lebih menghargai orang2 yang ada di sekitar kita. orang yang dulunya mungkin kita abaikan atau tidak menjadi prioritas utama untuk dijadikan teman, maka saat kesendirian datang, kita seperti dipaksa untuk melihatnya lebih dekat, menyentuhnya, dan membawa dia ke dalam lingkaran kehidupan kita sebagai teman yang datang di saat sepi.
    /Yue nulis apa sih ini/ hahahaha,
    Ini gara2 nonton showcase nya EXO, Sing For You, Yue jadi mellow gini.😀

    Btw, itu gantungan kuncinya sangat menginspirasi sekali ya.😄
    hahahaha /abaikan/

    Oh ya, terakhir, kalimat favorit Yue adalah, ” tak perlu ada sosok nyata untuk mengikis kesendirian.”
    Kalimat ini benar2 mewakili suara hati para Fangirls di seluruh dunia.🙂

    Suka

    1. Aaa kak yueeee /alaylagi/ hihi maaf maaf aku baru tau kakak baru comeback hehehe padahal aku tunggu2 sejak pertama BTS rilis xD

      Iya ini canon yg terakhir. Udah selanjutnya AU aja (dan kayanya chapter selanjutnya emg yg terakhir sih…. siap2 say goodbye ya) :”””

      Ahhh kakak bikin baper aja sihh kata-katanya:(( iya emang bener sesuju banget kak. Hehehehe karena itu adalah isi hatiku untuk luhan /ditabok/

      Oke makasih udah mampir ya kak. Semangat buat real-life-nya ^^

      Suka

      1. Oke nis, sama2, kamu juga semangat belajar ya.🙂

        OMO? Good Bye stage nih cerita nya?😦
        ya udah gak pa2 lah. Daripada kelamaan baper bersama BTS, cus bikin serial baru aja nis, hehehe.
        Tapi kalo diganti AU , apa judulnya masih tetep BTS?

        hahahaha, kalo gak baper berarti bukan fansnya EXO atau mantan member EXO,😀

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s