LUNACHRÓME [1/2]

lunachrome

scripwriter : chioneexo | main cast(s) : Baekhyun [EXO] , Hwanhee [UP10TION] | supporting cast(s) : Yoojin [CLC], and another OCs | duration : twoshoots/5555w | genre : fantasy, sci-fi, brothership, adventure | rating  : PG-15

.

I’ll grant you every wishBaekhyun.

 

.

 

L U N A C H R Ó M E

[1/2]

 

Hwanhee baru sadar bahwa langit di Lunachróme bukan lagi bercorak biru teal, hal itu dikarenakan sebagian penduduk provinsi Fiorest membakar hutan sulfur mereka demi mendapat lahan baru. Oh, ayolah, Lunachróme bukan lagi planet luas yang bisa kau gunakan untuk berlarian di Musim Gelap yang penuh peri-peri Silbermond. Bocah lelaki itu menengadah, menunggu datangnya Yoojin satu jam setelah ia menyuruh Silbermond putih tersebut menjenguk Baekhyun.

 

“Hwanhee! Hwanhee!” Suara melengking datang dari pucuk pohon Platierra perak, buahnya berjuntai seperti sebongkah batu. “Hwanhee, Baekhyun ternyata baik-baik saja, dia hanya lecet di beberapa bagian tapi tidak parah. Dia menunggumu di perbatasan Fiorest besok!” Yoojin melompat-lompat di kepala Hwanhee.

 

“Nah, peri cebol, kau mulai kurang ajar padaku.” Hwanhee memindahkan Yoojin ke telapaknya, berusaha tidak menghancurkan sayap rapuh Silbermond yang berkilau tertimpa cahaya Neptunus. “Lalu bagaimana dengan Fiorest?”

 

“Seperti kabar yang beredar, tempat itu penuh kabut kuning, baunya busuk sampai-sampai aku mau pingsan.”

 

“Apa menurutmu provinsi Zwartester akan membantu? Maksudku, kita ini sama-sama penduduk Lunachróme, masa begitu saja tidak mau membantu?” Dalam sekelebat Hwanhee bisa melihat orang-orang berlalu-lalang di jalan berkawah sambil menggotong berbarel-barel anggur Platierra, berniat memerasnya untuk persediaan pesta Musim Cerah. “Hei, bagaimana menurutmu?”

 

“Ehm, aku rasa tidak. Zwartester masih bersikeras bahwa mereka adalah provinsi yang kontra dengan Fiorest.” Yoojin menghindari tatapan burung Gatorian merah, ia merapat dan memasukkan kepalanya ke lubang pohon Platierra.

 

Well, aku masih tidak menyangka orang-orang Fiorest berani membakar hutan sulfur, mereka tidak berpikir panjang rupanya.”

 

“Jika ayahmu memberikan sebagian lahan Sternglanz, aku rasa mereka juga tidak akan sedegil itu! Sudahlah, Hwanhee, jangan sok menyuruh Zwartester membantu Fiorest kalau provinsi ini juga turut bersalah! Coba lihat Baekhyun! Lalu ada Bobby, Hyuk, Seokjin, dan kawanmu lainnya yang menderita sesak napas!”

 

Hwanhee terdiam, ia membenarkan ucapan Yoojin. Burung-burung Gatorian yang tadinya bersikukuh ingin menyantap Silbermond milik Hwanhee kini menyerah, memutuskan untuk terbang menuju puncak menara Prata, mencari angin untuk membawa mereka jauh ke barat.

 

Apa yang bisa kulakukan?

 

“Apa kau sudah dengar para pemimpin provinsi sepakat untuk memindahkan sebagian penduduk Lunachróme ke Nereid?” Yoojin sekarang bisa bebas berjalan di atas hamparan tanah berkawah tanpa takut dimangsa Gatorian, ia menunggu reaksi Hwanhee yang tetap memaksakan ekspresi datar.

 

Hell-ooo, aku baru saja memberimu informasi penting.” Yoojin terbang berputar-putar di hadapan Hwanhee, bermaksud membuatnya pusing.

 

“Apa bedanya? Aku akan tetap di Lunachróme.”

 

“Tidak, tidak, tidak. Penduduk Lunachróme yang akan memutuskan mereka ingin pergi atau tinggal. Ayahmu mungkin akan pergi, tapi dia tidak akan tega karena ibumu mencintai Lunachróme mati-matian. Dan jika kau yang diutus pergi, lalu bagaimana dengan Baekhyun? Dia leath-mu, ingat?” Ceramah dari Yoojin membuat Hwanhee bangun dari kenyataan, ia tidak bisa memaksa orang tuanya pergi dari planet ini.

 

“Jika aku akan berpisah dengan leath-ku, lantas bagaimana dengan orang lain? Bagaimana mereka bisa hidup tanpa leath mereka juga?”

 

“Mereka bukan putra mahkota, mereka bisa membawa leath mereka turut serta ke Nereid. Tapi kau berbeda, Hwanhee. Baekhyun bisa jadi tak mau ikut, karena hati kecilmu berkata kau tak mau ikut.”

 

Begitulah cara kerja leath—separuh dirimu yang merupakan hasil dari pembagian nyawa—mereka akan menampilkan apa yang tersimpan jauh dalam lubuk hati seseorang. Hwanhee tidak ingin pergi dari Lunachróme, jika ia terpaksa pergi, maka Baekhyun tidak bisa ikut karena hati kecil Hwanhee berkata dia tidak ingin pergi. Intinya, leath dan manusia asli harus selaras dalam berbagai hal.

 

“Yoojin, apa ada leath yang mati di Fiorest?”

 

“Ada. Banyak.” Jawab Silbermond itu yang sekarang menjadikan buah Platierra sebagai sandarannya. “Dan manusia-manusia yang kehilangan leath mendadak jadi putus asa.”

 

Kehilangan leath bukan berarti kau akan mati, meski pada kenyataannya separuh nyawamu sudah pergi. Kau hanya akan terlihat kosong tanpa adanya leath. Hal itu menyedihkan memang, tapi waktu kematian leath dan manusia tak pernah sama. Jika manusia yang mati duluan, beberapa minggu kemudian leath akan lumpuh total, yang tersisa dari mereka hanya tubuh dingin dan rekaman memori yang bisa diserap oleh mesin.

 

“Bisakah kita ke Fiorest sekarang juga? Aku takut dia kenapa-napa.”

 

“Hwanhee, kau cari mati ya? Ayahmu menempatkan lusinan prajurit di perbatasan sekarang, kau tak akan diizinkan lewat.”

 

“Kau lupa siapa aku?”

 

“Aku tahu, kau putra mahkota, tapi lihat dulu kondisinya!”

 

“Kalau mereka tak mengizinkanku lewat, akan kubunuh leath mereka.”

 

“HWANHEE!”

 

“Apa? Leathku sendiri dalam masalah dan aku tak seharusnya bercengkerama dengan Silbermond cebol sepertimu!” Hwanhee berdiri, tak mempedulikan daun pohon Platierra yang menyapu ujung rambutnya, ia terlalu gundah untuk memikirkan dirinya sendiri sementara Baekhyun mungkin sedang sekarat.

 

Dia tak apa-apa, aku bisa merasakannya. Tapi aku harus kesana, aku butuh kepastian akan keadaan Baekhyun.

 

Sementara Hwanhee semakin jauh menuruni bukit, Yoojin hanya bisa menatap punggung pria itu sambil mengepakkan sayapnya dengan gelisah, berharap tak terjadi apa-apa pada pria yang dari kecil telah dilihatnya tumbuh dari bingkai jendela kastil Sternglanz.

 

__

Semua yang tadinya biru sekarang berubah total jadi kuning. Mata Hwanhee berair dan tak bisa menatap apa yang ada sepuluh meter di depan, ia terlalu sibuk melihat mata kaki sampai-sampai tak sadar bahwa pagar pembatas telah membentang di hadapannya. Barisan penjaga berdiri tiap satu meter di sepanjang dua sisi perbatasan, dan Hwanhee sama sekali tak merasa harus meminta izin.

 

“Putra Mahkota, Anda tidak diizinkan pergi.” Ucap salah seorang prajurit Sternglanz, ia menatap dari balik topeng besi yang melindunginya dari kabut sulfur.

 

“Dan mempertaruhkan leathku? Dia ada di jantung provinsi Fiorest, kuharap kalian bisa mengerti itu.” Hwanhee mencoba cara halus terlebih dahulu, ia tak benar-benar serius ingin membunuh leath prajurit yang menghalangi langkahnya. Di luar dugaan, mereka tak protes lagi, para prajurit dari Fiorest pun membukakan jalan langsung menuju Pondok Pesakitan—sebutan untuk tempat orang-orang sakit—dan mengawal Hwanhee dari empat sisi mata angin.

 

“Boleh aku tahu nama leath Anda, Pangeran?” Ucap seorang prajurit Fiorest ketika mereka tiba di depan Pondok Pesakitan. Kabut sulfur bahkan lebih buruk daripada di perbatasan, langit biru tealnya sudah raib, diganti dengan warna kekuningan layaknya ingus. Hwanhee bisa bernapas lega tatkala sosok mungil Baekhyun terbaring di bangsal tengah, ia sedang dalam perawatan dokter.

 

“Tak perlu kau carikan, aku tahu dia ada dimana.” Prajurit itu langsung pamit undur diri begitu Hwanhee selesai bicara. Seperti Pondok Pesakitan pada umumnya, seluruh ruangan ditempeli kristal rubi untuk menetralisir hawa dingin Musim Gelap, setiap bangsal dipisahkan hanya dengan selembar kain sintetis, ada banyak Silbermond terbang untuk membantu perawat.

 

“Sudah kuduga kau akan datang lebih cepat. Apa ayahmu tidak marah?” Baekhyun berkata tanpa melihat ke arah Hwanhee, ia kelihatan lemah namun baik-baik saja.

 

“Pertanyaanmu tidak penting, Baek.”

 

“Aku hanya memastikan kau tidak dipukuli olehnya lagi. Omong-omong, sudah dengar tentang Nereid belum?”

 

“Sudah, dan aku tak dapat memutuskan apa-apa sebelum ayahku berucap sesuatu.” Hwanhee memberi isyarat pada para perawat dan dokter untuk pergi setelah selesai mengobati Baekhyun. Semua manusia dan leath yang ada di ruangan itu terlihat payah serta letih, mereka ditempatkan berdua—jika itu adalah sepasang manusia-leath—dan sendirian jika mereka terpisah satu sama lainnya.

 

“Kau jangan pergi ya, Hwanhee.” Baekhyun menyuguhkan tatap memohon pada Hwanhee, namun seorang putra mahkota hanya akan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan segala aspek, bukan pada leathnya.

 

“Aku…tidak tahu.”

 

Baekhyun memejamkan mata, ia merasakan kegelisahan yang sama dengan Hwanhee. Lunachróme memang bukan tempat yang aman, namun di tanah inilah mereka tumbuh besar, apa dengan pindah ke Nereid semuanya akan bertambah baik? Bagaimana jika Nereid bukan planet yang mereka idamkan selama ini?

 

Silbermond berambut merah muda datang, ia memberikan Baekhyun setangkai buah Yop segar. “Terima kasih, Nara.”

 

“Lunachróme akan kejatuhan meteor cepat atau lambat, itulah alasan sebenarnya para tetua sepakat memindahkan kita ke Nereid.”

 

Apa?” Hwanhee terperanjat, ia mengira kepindahan mereka ke Nereid karena populasi di Lunachróme sudah tak terkendali, ditambah permusuhan antara Zwartester dan Fiorest yang tak kunjung reda, serta semakin sempitnya lahan pemukiman. “Yoojin tidak bilang soal meteor.”

 

“Mana dia tahu? Dia hanya Silbermond lain.” Baekhyun melahap buah Yop, mengerut masam saat tahu buah itu belum matang.

 

“Kalau Lunachróme memang akan diterjang meteor, mengapa kau menyuruhku tetap tinggal? Ini bisa membahayakan kita, tahu!” Bisik Hwanhee, ia menyertakan nada kesal pada kalimatnya barusan. Namun lebih daripada itu, Hwanhee meminta penjelasan lewat tatap matanya.

 

“Aku ini leath-mu, aku tahu kau ingin tetap tinggal meski planet ini terbalik.”

 

Tadinya, sekarang setelah kau bilang begitu, mana mungkin aku tak mau pindah?!”

 

“Jangan teriak-teriak, Hwanhee. Kau menganggu mereka, tuh.”

 

“Oke, jadi apa alasannya? Kalau aku sudah mau pindah, mengapa kau tidak? Ini kesempatan kita untuk tetap hidup!”

 

“Atau mati setelah setahun tinggal di sana.”

 

Hwanhee tidak mengerti, apa salahnya tinggal di Nereid? Kaum  mereka sudah setuju menerima warga Lunachróme, lantas apa yang perlu dipermasalahkan?

 

“Dengan beredarnya kabar bahwa meteor akan menabrak Lunachróme, penghuni Nereid melihat sebuah kesempatan. Kau tahu bahwa mereka sedang membuat pesawat untuk menyerang Mars?”

 

“Ya, lalu apa hubungannya?”

 

“Para tetua sudah merundingkan segala kemungkinan, mereka terlalu buta untuk melihat masa depan pemuda-pemudi Lunachróme. Semua, termasuk ayahmu, sudah setuju untuk tinggal dan mati di tempat ini dengan harapan bisa melihatmu tumbuh besar di Nereid, berdampingan dengan penduduk aslinya. Tapi yang kulihat, mereka akan memanfaatkan absennya para tetua untuk memperbudak pemuda Lunachróme bekerja pada mereka, sekadar menambah prajurit, lalu kalian akan mati entah di Nereid atau Mars. Kau mau itu terjadi?”

 

Hwanhee berpikir sejenak, selama ini ia selalu percaya pada Baekhyun lebih dari ia percaya pada orang tuanya sendiri. Sembari menatap gelisah ke arah tumbukan daun-daun herbal berwarna pink metallic, Hwanhee merasakan dadanya bergemuruh, ia punya firasat akan prediksi Baekhyun barusan. Kalau memang benar warga Nereid bermaksud begitu, lalu bagaimana jadinya? Sebagai putra mahkota, apakah ia harus mengajak serta pemuda lain? Atau menyimpan informasi ini seorang diri?

 

“Soal meteor ini, apa hanya para tetua yang tahu?”

 

“Ya, ditambah kau dan aku.”

 

“Apa yang harus kulakukan dengan informasi itu?”

 

“Diam saja.”

 

“Sementara pemuda lain terpaksa mati di Nereid? Oh, tidak, itu bukan styleku sama sekali.”

 

“Kau takkan menang melawan para tetua. Pilihanmu hanya ikut ke Nereid atau kabur ke provinsi Blanc bersamaku. Kudengar area itu yang paling aman dari meteor karena koordinatnya jauh dari tempat yang sudah diramalkan. Provinsi yang hancur lebur adalah Zwartester dan Sternglanz, serta sebagian kecil Fiorest.”

 

Leath dari bangsal sebelah melempar pandang curiga pada Hwanhee dan Baekhyun, ia seperti hendak mengutil atau mengeruk informasi. Pondok Pesakitan dalam waktu singkat sudah dipenuhi lautan manusia, sebagian besar dari mereka menderita sesak napas dan mata merah, lalu sebagian lagi pingsan. Dari balik jendela Pondok Pesakitan, semua penghuni dapat melihat sekilas kilauan cahaya yang melintang di langit Lunachróme.

 

“Itu…bisa jadi meteor pertama.”

 

“Atau asteroid lain! Come on, memangnya prediksi tentang meteor ini sudah ada sejak kapan? Mengapa tenggat waktunya pendek sekali?” Hwanhee menggendong belakang Baekhyun, memutuskan melanjutkan percakapan di luar ruangan. Jamur Cahaya berpendar layaknya permukaan Uranus, Hwanhee tak sengaja menginjak salah satunya, membuat jamur itu menggeliat kasar dan beringsut pergi. “Oi, Baek, sejak kapan ramalan tentang meteor ini?”

 

“Jauh sebelum Fiorest dan Zwartester bersengketa, meteor yang satu ini bisa jadi membelah Lunachróme, kejadian itu ada Kitab Ramalan, kita semua percaya pada kitab itu lebih dari siapapun, bukan?” Baekhyun membenamkan kepalanya ke pundak Hwanhee, berusaha untuk tidak menghirup asap sulfur, lalu kaki jenjang Hwanhee cepat-cepat membawa Baekhyun ke perbatasan, melintasi barisan penjaga yang berbaris sepanjang pagar.

 

“Semoga kau dan leathmu selalu dilingkupi keberkahan! Silahkan lewat, Pangeran.”

 

“Terima kasih, Helios.” Baekhyun dan Hwanhee berkata serempak, lalu mereka menghilang secepat kilat menuju bukit kastil Sternglanz yang tak begitu terkena dampak asap sulfur. Meski Hwanhee membawa Baekhyun ke tempat dimana ia berbincang dengan Yoojin, namun Silbermond kecil itu sudah raib entah kemana, mungkin peri kecil itu sedang mempersiapkan sayap baru untuk Musim Cerah.

 

Well, udara di bukit terasa lebih baik.” Baekhyun menempatkan kepalanya di atas pangkuan Hwanhee, tubuh kecilnya bagaikan papirus tua yang mudah terbang; ringan serta rapuh. “Katakan padaku keputusanmu tentang Nereid dan meteor.” Baekhyun mendesak, ia tak memberi celah pada Hwanhee untuk menolak.

 

“Mana bisa bilang sekarang?”

 

“Aku mau sekarang.”

 

Tentu saja aku mau mengikutimu, Baek! Tapi aku juga ingin hidup lebih lama dari ini.

 

Baekhyun diam, ia meraba telapak Hwanhee, mencari-cari kebenaran dari detak nadi Sang Putra Mahkota. Dedaunan Platierra jatuh tanpa permisi, menimpa wajah Baekhyun dalam sekali gugur. “Kau takut mati.”

 

“Hanya karena aku belum cukup menikmati dunia ini. Meteor yang kau bilang itu cukup untuk membuat bulu romaku berdiri.” Hwanhee memindahkan rontokan daun Platierra ke tanah, membiarkan semut-semut transparan memakannya. “Mati itu menyeramkan,” tambahnya.

 

“Bahkan jika itu artinya kita mati bersama-sama?”

 

“Bahkan jika kita mati bersama-sama! Mereka bilang kehidupan setelah mati itu mudah. Tapi, siapa tahu?”

 

“Uhm…Hwanhee?”

 

“Apa? Jangan suruh aku memutuskan sesuatu, aku masih belum bisa.”

 

“Bukan itu! Kau ingat bahwa setiap leath punya kemampuan unik masing-masing?”

 

“Ya, itu ada di pelajaran sekolah dasar. Mengapa kau tanyakan itu?”

 

“Di samping dua kekuatan yang seharusnya dimiliki leath, aku punya satu kekuatan yang tak pernah kau tahu selama ini.”

 

Hwanhee mendelik, ia tak menyangka Baekhyun masih menyimpan rahasia darinya. “Katakan.”

 

“Tebak saja sendiri.”

 

“Cepat katakan! Katakan atau kusuruh meteor itu jatuh sekarang dan menimpa kepalamu yang besar itu!”

 

“Oh, meteornya masih lumayan lama, mereka takkan datang secepat yang kau kira. Coba ingat-ingat dong!”

 

“TIDAK INGAT!!”

 

“Baiklah, Hwanhee, sekarang gantian letakkan kepalamu di pangkuanku dan dengarkan ceritaku. Dengar baik-baik ya, supaya kelak, kau bisa tahu apa artinya diriku bagimu dan sebaliknya.”

 

“Uhu. Aku mendengarkanmu.”

 

            Enam belas tahun silam, seorang anak lelaki dari provinsi Sternglanz telah lahir dengan selamat dalam balutan cahaya Musim Cerah, burung-burung Gatorian baru selesai menetas dan mencari santapan di pesisir timur. Ibu-ibu lain yang tinggal di sekitar istana penasaran bagaimana wujud Sang Pangeran beserta leathnya.

 

            “Ratu Alkanet, anak ini akan diberi nama Hwanhee!” Suster yang dikirim dari Pondok Pesakitan berkata dengan suka cita, ia mendekap si bayi yang matanya berwarna putih susu dengan lingkaran kuning di sekeliling iris hitamnya. Kemudian tak berapa lama, leath Hwanhee lahir dalam wujud sebongkah batu heliodor yang sama kuning dengan lingkaran mata Hwanhee. Suster lain menerima leath itu dengan penuh rasa takjub, kemudian cepat-cepat memasukannya ke Kantung Jiwa supaya bisa jadi satu dengan darah dan rambut Sang Pangeran.

 

            “Kita butuh rambut dan setetes darah pengeran, ini penting supaya—“

 

            “Lakukan saja Antoniette, aku pun sudah mengetahui prosedurnya sejak dulu.” Ratu Alkanet menyeka keringat di pelipisnya, kemudian membiarkan Antoniette menusukkan jarum ke telapak kaki Hwanhee, serta menggunting rambutnya yang hitam kebiruan.

 

            Dengan bercampurnya darah dan rambut Hwanhee, maka leath itu nantinya akan berwujud manusia dengan sendirinya, dialah yang akan melengkapi Sang Pangeran dan mewujudkan apa yang tak bisa dilakukan Hwanhee, apa yang menjadi keinginan Hwanhee adalah tugas leath untuk mewujudkannya. Dan keinginan itu masih akan muncul sampai mereka berdua tumbuh menjadi anak-anak.

 

            “Siapa nama leathnya?” Antoniette menutup Kantung Jiwa supaya bongkahan heliodor itu bisa bertransformasi.

 

            “Baekhyun si Bersinar. Dia akan jadi sinar kehidupan Hwanhee dimanapun putraku berada. Dan kau, Antoniette, kutunjuk dirimu sebagai ibu leathnya, rawat dia sebagaimana anakmu sendiri.”

 

            “Dengan senang hati, Yang Mulia.”

 

“Hanya sampai situ? Aku juga sudah tahu kalau Bibi Antoniette itu ibu angkatmu.” Hwanhee meracau kesal, ia ingin Baekhyun langsung pada intinya. Sebuah pesawat ulang-alik melintas tatkala Baekhyun sudah mau melanjutkan.

 

“Ini masih permulaan, kau mungkin tidak ingat yang satu ini.”

 

            Lalu Sang Pangeran dan Baekhyun si Bersinar hidup berdampingan layaknya bocah lelaki lain; mereka bermain, tertawa, bertengkar, dan belajar bersama. Tanpa semua orang sadari, Hwanhee mengidap sebuah penyakit yang tak mengizinkan tubuhnya menerima cahaya matahari. Meski Musim Cerah hanya berjalan selama dua bulan—dan sisanya adalah Musim Gelap—namun orang tua Hwanhee selalu membuat banyak alasan supaya Hwanhee tetap di dalam kastil selama Musim Cerah.

 

            “Baekhyun yang manis, kau bisa menjaga Hwanhee? Jangan biarkan dia main di luar, ya? Nanti dia bisa pingsan seperti kemarin.” Ratu Alkanet rupanya telah mempercayakan putranya pada Baekhyun bahkan ketika mereka masih seumur jagung.

 

            “Aku mengerti, Yang Mulia.”

 

            “Kau mirip seperti Antoniette kalau bilang begitu.” Secercah senyum terukir di wajah Ratu Alkanet, lalu ia pergi setelah menutup semua sumber cahaya yang dapat merembes masuk ke kamar Hwanhee.

 

            “Hwanhee! Hwanhee! Kita belum menyelesaikan rakitan pesawat! Pergi ke laboratorium, yuk?”

 

            “Aku mau berburu Silbermond di luar!” Pangeran kecil itu menangis setelah ia mengetahui jawabannya melalui mimik wajah Baekhyun. Ia tahu ia takkan diizinkan keluar. “Baekhyun, kau sama seperti ibuku dan Bibi Antoniette, sama-sama tidak memperbolehkanku pergi ke luar!”

 

            “Tapi kau pingsan setelah mencabut buah Yop di taman. Bukankah itu artinya kau memang tidak boleh keluar?” Baekhyun berusaha untuk tidak menyingung soal penyakit Hwanhee, ia berusaha membuat kesan bahwa semua ini hanya kebetulan belaka.

 

            “Mengapa aku tidak boleh keluar, Baek? Kau boleh keluar, Bobby dan Seokjin juga boleh. Lalu mengapa aku tidak?” Hwanhee terududuk di karpet sintetis yang melapisi lantai kamarnya, ia menekuk lutut, lantas terisak hebat karena sedih bercampur kesal.

 

            “Karena…karena kau tidak bersahabat dengan matahari. Kau menyukai bintang dan planet Uranus bukan? Lantas mengapa kau harus bersusah-susah kepanasan di bawah terik matahari? Lagipula ini hanya dua bulan, dan setelah itu kita bisa keluar lagi dan main peluru gas serta berburu Silbermond.”

 

            Hwanhee mengangguk, ia mengekor di belakang Baekhyun yang menuntunnya ke arah laboratorium, berusaha mengenyahkan fakta bahwa jauh dalam lubuk hatinya, Hwanhee tahu bukan itu alasan sebenarnya ia tak boleh keluar.

 

“Nah! Kau bohong waktu bilang aku tidak bersahabat dengan matahari! Ternyata aku sakit, uh.” Hwanhee menarik dagu Baekhyun, lalu tersenyum masam. Sejak ia tahu bahwa ia tak bisa kena sinar matahari, selama Musim Cerah Hwanhee selalu mengurung diri di kamar.

 

“Itu karena kau masih kecil untuk mengerti hal tersebut.”

 

“Persetan dengan alasanmu, kita seumuran waktu itu. Oke, lanjutkan. ”

 

 

Tak lama selang, Upacara Leath dilaksanakan di Balairung Emas dengan melibatkan banyak tetua dan tamu undangan dari berbagai provinsi, Fiorest salah satunya. Hwanhee mengenal Bobby dan Seokjin yang merupakan sepasang manusia-leath dari provinsi tersebut, mereka berbaris di belakang Hwanhee dan Baekhyun dengan wajah gugup.

 

            “Hari ini peresmian kita sebagai manusia dan leath.” Hwanhee meremas tangan mungil Baekhyun, ia juga demam panggung rupanya.

 

            “Tak usah khawatir, kita sudah melatih sumpah setia dengan ibuku dan Ratu Alkanet, bukan? Kalau kau lupa, aku bisa mengingatkanmu nanti.” Berkebalikan dengan Hwanhee, Baekhyun terlihat santai, ia baik-baik saja meski ada banyak orang yang menatapnya kagum; mereka bilang sih Baekhyun itu imut dan polos.

 

            “Mengapa kau yang jadi pusat perhatian?”

 

            “Karena aku leath seorang pangeran.”

 

            “Dan mereka melupakan pangeran yang asli. Bagus!”

 

            “Oh, sudahlah, tidak penting.”

 

            Selang beberapa momen, tetua dari provinsi Sternglanz meniupkan terompet tanda acara telah dimulai, ia berpidato panjang dan kemudian disusul pembukaan acara oleh Raja Ulrich, semua orang bertepuk tangan manakala tiga ketukan palu telah usai dibunyikan. Pandangan mata tertuju pada sepasang manusia-leath pertama yang akan di-sumpah setia hari ini.

 

            “Kau siap, Pangeran?”

 

            “Aku memang harus siap.” Hwanhee membalas kesal, ia masih saja demam panggung.

 

            “Putra-putri Dewi Andromeda, pada momen yang khidmat ini akan kupasangkan dua jiwa yang satu dalam sumpah setia mereka. Padanya dipersilahkan Pangeran Hwanhee, putra dari Raja Ulrich dan Ratu Alkanet, beserta Baekhyun si Bersinar, leath yang menyertai kelahirannya dengan ibundanya Nyonya Antoniette.”

 

            “Kami menghadapmu, Pendeta Agung.” Ujar Hwanhee dan Baekhyun serempak, mereka mengulurkan tangan dan menyentuh miniatur Lunachróme lalu mulai mengucapkan sumpah setia bersama-sama, disusul sumpah setia manusia dan sumpah setia leath yang diucapkan masing-masing pihak.

 

            “Aku, Hwanhee, manusia yang akan menghormati leathku dalam keadaan apapun, menjaganya sepenuh hati, menyelaraskan batin dan logika kami hingga segalanya berjalan baik. Lukanya adalah lukaku, senyumnya adalah senyumku.” Hwanhee menarik napas lega sesudah kalimat tersebut meluncur mulus dari bibirnya.

 

            “Aku, Baekhyun si Bersinar, leath yang akan mengungkapkan isi hatimu, wahai manusia. Sumpahku adalah untuk meluruskan perilakumu, memberimu kekuatan, dan menjagamu dari keburukan, akulah separuhmu dan karenanya akan kulindungimu.”

 

Lalu keduanya dihadiahi kalung batu heliodor kuning, persis seperti rupa Baekhyun saat baru terlahir bersama Hwanhee waktu itu. Upacaranya belum selesai, masih ada pemberkatan kekuatan leath Baekhyun.

 

            “Baekhyun, sebagai leath kau berhak mendapat kekuatanmu. Ingat, kekuatan ini hanya bisa dilakukan leath kepada manusia-nya.” Pendeta Agung membimbing Baekhyun ke barisan bola kaca berukuran sedang, lalu menyuruh Baekhyun meletakkan telapak tangannya di atas masing-masing bola. Bola mana yang berpendar, itulah kekuatan Baekhyun.

 

            Bola menyala pertama datang dari Bola Cahaya, kekuatan itu dapat memancarkan cahaya kapanpun pemiliknya mau. Berangkat dari penyakit Hwanhee yang tidak bisa tersentuh matahari, mungkin sudah takdir kalau Baekhyun-lah yang akan memberikan cahaya itu pada Hwanhee sendiri, meski hanya semu.

 

            Kemudian, setelah diberikan kekuatan fisik berupa cahaya, Baekhyun digilir ke kotak kaca berukuran serupa, kotak-kotak itu melambangkan kekuatan mental. Kotak menyala pertama datang dari Kotak Pembaca Isi Hati. Baekhyun tersenyum mengetahuinya, ia pasti senang mengetahui isi hati Hwanhee.

 

            “Hei, anak muda.” Pendeta Agung berbisik lirih.

 

            “Ya?”

 

            “Kekuatan seorang leath pada aturan formal memang hanya boleh dua, tapi aku lihat kau anak yang spesial. Pilihlah satu lagi kotak kaca, akan kupastikan mereka tidak melihat.”

 

            Baekhyun menunggu, berusaha mencerna kalimat Pendeta Agung barusan, namun ia tahu bahwa prosesi ini tidak boleh berlangsung terlalu lama, masih ada Bobby-Seokjin dan barisan manusia-leath lainnya di belakang. Jadi, Baekhyun mengitari kotak-kotak itu sekali lagi, berharap akan ada satu yang menyala untuknya. Di ujung barisan, sebuah kotak berpendar putih, Baekhyun penasaran kotak apa itu.

 

            “Kotak Penukar Jiwa! Diberkatilah kau, nak! Jarang sekali yang mendapatkan kotak itu!”

 

            Baekhyun melongo, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Kekuatan macam apa itu?”

 

            “Jika ada saatnya kau harus melindungi Pangeran Hwanhee dengan nyawamu, maka jiwa kalian akan tertukar. Taruh kata kau meninggal saat melindungi pangeran, maka tubuh yang mati adalah tubuh pangeran dengan isinya adalah jiwamu. Lalu, Pangeran Hwanhee sendiri yang akan hidup dalam tubuhmu, ia akan memiliki kekuatanmu dan semua keahlianmu.”

 

            Sekali lagi, Baekhyun melongo, ia bersumpah ingin berteriak ‘yippie’ kalau ini bukan upacara formal. “Itu…sungguhan kan?”

 

            “Ya. Tapi aku hanya akan mengumumkan dua kekuatan pertamamu, yaitu Cahaya dan Pembaca Isi Hati.”

 

            “Mengapa?”

 

            “Karena formalnya begitu. Sudah, sekarang kembalilah ke sisi pangeran.”

 

Rupanya, Baekhyun memotong bagian Pendeta Agung yang menceramahinya tentang cara kerja Kotak Penukar Jiwa. Hal itu membuat Hwanhee jumpalitan sendiri, kesal karena tidak diberitahu selengkapnya.

 

“Beritahu aku apa fungsinya!”

 

“Nanti saja, tunggu meteornya datang.” Baekhyun melempar nada bercanda pada Hwanhee.

 

“Aku akan tanya pada ibu dan ayah.”

 

“Jangan! Nanti mereka tahu kalau aku punya kekuatan itu!”

 

“Apa masalahnya? Mereka berhak tahu, kok.”

 

“Tidak berhak sama sekali! Pokoknya jangan! Jangan katakan atau aku akan membiarkanmu mengurusi segala tentang Nereid sendirian, aku takkan mau memberikan pendapat dan saran.”

 

Itu baru namanya ancaman, Hwanhee harus mengakui bahwa ia tak bisa bertindak tanpa arahan dari Baekhyun. “Baiklah, aku akan tetap diam sampai saatnya tiba. Tapi kau akan menjelaskan kekuatan itu padaku suatu hari nanti, bukan?”

 

“Tentu saja.”

 

“Omong-omong, apa kita benar-benar akan pergi ke provinsi Blanc? Butuh dua jam perjalan dengan pesawat ulang-alik dari sini.”

 

“Tidak masalah, kita bisa pergi ke terminal penerbangan dan naik pesawat jurusan itu. Kalau kau mau, kita bisa bersiap besok tanpa orang tuamu tahu.”

 

“Mereka bisa murka, Baek. Tunggu saat pemindahan penduduk Lunachróme ke Nereid, aku akan berpura-pura ikut padahal sebenarnya kita hanya melakukan perjalan lain ke Blanc. Aku bisa kabur dari pesawat yang mengantar ke Nereid. Bagaimana?”

 

“Ide bagus. Kupegang janjimu kalau begitu.”

 

Tak lama setelah keduanya menikmati waktu dengan mengenang masa lalu, seorang pelayan wanita datang membawa perintah dari Raja Ulrich, bilang bahwa ia perlu bertemu dengan putranya. Entah mengapa, Hwanhee sudah tahu topik apa yang akan ayahnya usung kali ini.

 

“Bersiaplah untuk menjawab ‘baiklah, ayah, aku akan ikut ke Nereid’ lalu mulai susun sebuah rencana. Aku akan menemuimu di ruang makan setelah ini.”

 

“Oke. Jangan lupa ajak Yoojin sekalian, aku ingin dia terlibat dalam rencana kita.”

 

“Kau yakin, Hwanhee?”

 

“Uhu. Dia bukan biang gosip seperti Silbermond lain.”

 

__

Balairung Emas penuh sesak dengan para tetua dari berbagai provinsi, mereka bukan petinggi provinsi dan bukan pula orang-orang yang punya dendam pribadi pada masing-masing provinsi. Mereka ada di sini murni untuk membicarakan kepindahan penghuni Lunachróme ke Nereid. Sternglanz saat itu diwakili oleh Pendeta Agung.

 

“Apa Putra Mahkota Hwanhee sudah memutuskan untuk ikut?” tanya pejabat asal provinsi Cyra, ia mengenakan hiasan rambut berbingkai alumunium yang berhiaskan batu zamrud.

 

“Yang Mulia Ulrich sedang berbicara dengannya sekarang, saya harap Anda sekalian juga sudah membujuk putri, pangeran, dan putra mahkota dari masing-masing provinsi. Kita telah melakukan hal benar dengan mengorbankan nyawa masing-masing. Bukankah kita sudah hidup terlalu lama?” Pendeta Agung tertawa sedih, disusul gumaman setuju dari yang lain. Leath para tetua itu duduk di pinggiran Balairung Emas, sedang mengamati pergeseran bintang dengan teleskop, penampilan mereka pun tak kalah kisutnya dengan yang sedang berdiskusi di tengah balairung.

 

“Kapan tepatnya kita akan menyebarkan berita ini? Provinsiku sudah membuat mesin pengganda pesan untuk menyalurkan beritanya secara global ke seluruh Lunachróme.” Ungkap petinggi dari Blanc, kulitnya terlihat lebih putih dari yang lain, ia mempunyai urat nadi berwarna ungu cerah dan warna rambut tembaga.

 

“Secepatnya.” Jawab beberapa tetua secara bersamaan.

 

“Besok?” Pria Blanc itu bertanya lagi.

 

“Kalau begitu, lebih baik kita keluarkan pesawat-pesawat terbaik kita untuk membawa mereka, segera setelah pengumuman itu tersebar, kita akan langsung menerbangkan semuanya ke Nereid.” Pendeta Agung telah membuat keputusan, itu artinya kepindahan penduduk Lunachróme tinggal sebentar lagi.

 

“Mungkin bisa memakan waktu lebih dari sehari, mengingat, yah, tidak semuanya mau pindah ke Nereid, bukan?” Tetua dari Cyra angkat bicara, ia menyibakkan rambut panjangnya yang berwarna hijau tua, kalung dari batuan Pluto tergantung elok di lehernya yang kurus.

 

“Kau benar, Tuan. Para pemuda-pemudi di planet ini sebagian ada yang keras kepala, akan sangat sulit membujuk mereka bahkan kalau kita bilang Nereid adalah planet yang lebih baik dari Lunachróme.” Pendeta Agung menyerahkan sebuah chip kepada tetua Blanc, menyuruhnya mengkopi data itu ke mesin pengganda pesan.

 

“Apa pesannya sudah benar? Maksudku, apa kau sudah menyampaikan semua informasi yang kita butuhkan pada video dalam chip itu?”

 

“Mulai dari hari keberangkatan, terminal pesawat, jadwal terbang, perbekalan, dan sekilas pemandangan Nereid yang indah telah terekam di dalam sini. Tolong jangan ragukan kami, Tuan Goffer.” Ujar Pendeta Agung pada pria Blanc tersebut.

 

“Oh, tidak, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya memastikan.”

 

Tak berapa lama, seorang kurir pembawa pesan memberikan message reader—berupa persegi transparan yang dilengkapi dengan layar scroll yang bisa digunakan untuk menulis, serta lubang untuk menyisipkan chip rekaman suara—ia datang membawa sebuah pesan dari Hwanhee yang menyatakan bahwa ia setuju ikut ke Nereid.  Pendeta Agung menyalakan pengeras suara supaya seisi Balairung Emas dapat mengetahui isi pesannya, tak lama selang setelah pesan itu berakhir, para tetua tersenyum lega.

 

“Syukurlah Putra Mahkota Hwanhee mau ikut.” Tetua yang bernama Goffer tadi ikut tersenyum, ia seolah teringat akan putranya sendiri yang sekarang pasti sedang ada di provinsi Blanc.

 

“Oh, putra mahkota kami memang selalu menuruti apa kata Yang Mulia Ulrich, tak perlau merisaukan dia.” Pendeta Agung menambah-nambahi, “kalau begitu, sepertinya kita harus mengakhiri rapat ini sampai di sini. Video ini akan aku titipkan pada leath Anda sekalian segera setelah makan malam usai. Sekarang, kami harap Anda mau ikut bersantap di ruang makan.”

 

Para tetua sibuk bangkit dari kursi mereka masing-masing sementara leath mereka digiring untuk mendapatkan rekaman yang telah dibuat oleh Pendeta Agung. Seorang pelayan datang lagi, kali ini bukan untuk membawakan pesan atau sejenisnya, melainkan menuntun langkah para tetua yang rupanya sudah tertatih.

 

Sementara para tetua baru memasuki ruang makan, Baekhyun sudah terlihat disana dengan mengenakan setelan putih dan abu-abu metallic, keningnya berhiaskan batu heliodor yang hampir tidak kelihatan di atas kulitnya yang pucat. Yoojin bertengger di bahunya, menyesap sepotong kecil buah Yop.

 

“Coba lihat para tetua itu, mereka memang benar-benar tua ya? I mean, aku benci melihat orang keriput.”

 

“Semua orang dan leath nanti juga begitu, Yoojin.”

 

“Tapi kau dan Hwanhee akan tampan selamanya.” Yoojin menggerogoti buah Yop sampai habis, Baekhyun mengernyit tak suka mengingat buah yang tadi diberi oleh Nara tak begitu matang. “Omong-omong, dimana Hwanhee?”

 

“Sedang berdiskusi dengan Raja Ulrich soal Nereid. Kuharap dia tidak seceroboh itu dengan menyinggung masalah meteor.” Baekhyun harap-harap cemas akan kemunculan Hwanhee, mengapa pria itu belum juga datang padahal lainnya sudah siap? Ratu Alkanet bahkan sudah terlihat mondar-mandir seperti Silbermond di Pondok Pesakitan.

 

“Kalian mencariku, ya?” Hwanhee muncul tiba-tiba dari belakang Baekhyun dan Yoojin.

 

“Apa pantas seorang putra mahkota datang terlambat?! Mana Yang Mulia Ulrich?!” Yoojin berteriak-teriak marah, sayapnya berpendar merah saat emosinya keluar. Hwanhee tidak menjawab, ia malah menyeret Baekhyun menuju kursi yang paling dekat dengan kursinya, mengindikasikan bahwa akan ada perbincangan serius antara Baekhyun dan Hwanhee sepanjang jam makan malam.

 

“Apa kau sudah memberitahu Yoojin tentang rencana kita?” Hwanhee bertanya penasaran ketika mereka sudah duduk, Silbermond tersebut langsung menatap liar pada menu masakan yang tersedia.

 

“Sudah. Awalnya Silbermond cebol itu tidak setuju, tapi aku sudah meyakinkannya.”

 

Hell, kalian mengataiku cebol seolah aku tidak ada di sini untuk mendengarkan.” Protes Yoojin, sekarang sudah ada daging anak Gatorian mendarat di mulutnya.

 

“Oh, maaf, aku jadi ikut-ikutan Hwanhee mengataimu cebol.” Baekhyun berbalik untuk mengelus rambut Yoojin yang berkilauan di bawah lampu kristal ruang makan. Tiga sekawan itu diam sejenak ketika Raja Ulrich dan Ratu Alkanet datang bersama jajaran pemimpin provinsi, mereka mengeluarkan serentetan kalimat basa-basi yang membuat Hwanhee bertopang dagu.

 

Seriously, mengapa ayahku jadi bicara panjang lebar tak tentu arah? Aku keburu lapar nih.” Hwanhee hendak mengulurkan tangan untuk meraih daging lembu Huligo, namun dielak oleh Baekhyun.

 

“Tidak sopan, Hwanhee!” Baekhyun mendelik, mata kuningnya seperti hampir lepas dari rongganya.

 

“Mereka sibuk melihat ayahku, tak masalah kalau aku sedikit mendahului, kan?”

 

“Tapi aku melihatmu, masa kau tidak malu tepergok olehku?” Baekhyun menutup kembali tudung saji yang menghidangkan daging lembu Huligo, mendesah kesal saat tahu raut wajah Hwanhee mendadak kisut. “Kau tidak makan sejak kapan?”

 

“Sejak tadi, makanya kau harus mengizinkanku makan terlebih dahulu!” Hwanhee hampir membuka tudung saji itu lagi, namun Baekhyun segera mengambil alih.

 

“Biar aku saja yang terkesan memalukan di depan umum, kalau kau yang ambil, mau taruh mana wajah ayahmu, huh? Anak harus menjaga kehormatan orang tuanya.”

 

Hwanhee tersenyum, kagum sekaligus merasa bersyukur memiliki leath yang rela berkorban apa saja demi membuat dirinya tetap terhormat. Raja Ulrich—dengan ajaib—masih betah berpidato sementara perut para tamunya sudah mengeluarkan nyanyian kelaparan.

 

“Ayahmu kenapa, Hwanhee? Tumben pidatonya sepanjang jarak Merkurius ke Jupiter?” Baekhyun pun merasa heran, tidak biasanya Raja Ulrich berbuat demikian, mungkin ia merasa bahwa ini akan menjadi pertemuan para tetua untuk yang terakhir kali sebelum meteor datang, makanya dia sengaja berlama-lama.

 

“Dia tidak begitu saat menceramahiku soal Nereid tadi.”

 

“Mungkin dia terkena demam panggung dadakan. Coba lihat cara bicaranya, gagap dan berbelit-belit, makanya pidatonya jadi panjang.” Baekhyun mengambil kesimpulan sendiri, tangan langsing leath tersebut masih sibuk memotong daging lembu Huligo untuk dimakan oleh Hwanhee. “Bicara soal Yang Mulia, apa sampai sekarang penghuni istana lain masih belum tahu kalau Pendeta Agung itu leath ayahmu?”

 

“Jangan bicarakan itu di sini, Baek.”

 

“Ini waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.”

 

“Tapi tidak pada suasana santai seperti ini, tunggulah pada rapat formal yang berikutnya.” Hwanhee melempar pandang ke para tamu yang kini mulai bergerak-gerak gelisah, ingin segera makan. “Kau tahu? Lebih baik aku menginterupsi pidato ayah sebelum para tetua jadi predator kelaparan.”

 

Hwanhee serius mengatakannya, ia berdiri dan membungkuk dengan hormat sambil mengutarakan maksudnya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Raja Ulrich. Namun di luar dugaan, reaksi raja itu hanya, “Oh, baiklah, sepertinya aku memang kebanyakan bicara. Selamat makan, tamu-tamuku!”

 

Hwanhee duduk kembali, lalu bertutur, “nah, begini kan lebih baik.”

 

Well, sepertinya para tetua mengirimkan ucapan terima kasih padamu secara tak kasatmata, mereka tersenyum tuh.”

 

“Seperti itu mengubah kenyataan bahwa mereka semua telah membohongiku.”

 

“Dan pemuda-pemudi Lunachróme lain,” imbuh Baekhyun.

 

__

 

Seusai makan malam, Hwanhee beranjak ke kamarnya sendiri dengan menyembunyikan Yoojin di saku sabuknya, Silbermond itu tidak protes karena Hwanhee menyelundupkan banyak Yop ke saku tersebut. Di sisi lain, Baekhyun mendaratkan kepalanya di bantalan yang biasa ia gunakan untuk tidur.

 

“Apa kau sudah punya rencana, Hwanhee?”

 

“Sudah. Dan kuharap kau tidak banyak protes mengenai rencana ini. Dengarkan dan patuhi aku, mengerti?”

 

“Hm.”

 

“Aku akan membuat hologram dirimu.”

 

Baekhyun terbangun, hampir memaki pada Hwanhee, “kau gila?!”

 

“Apanya yang gila?”

 

“Itu kan perbuatan terlarang! Kau bisa masuk penjara antariksa kalau ketahuan!”

 

Kalau ketahuan. Diamlah, kau bahkan belum tahu tujuanku melakukannya.”

 

“Jelaskan tujuanmu kalau begitu.”

 

“Pertama-tama, hologram-mu dan aku akan masuk ke pesawat yang mengantar ke Nereid, lalu dirimu yang asli akan membawa satu pesawat ulang-alik pribadi milik Sternglanz ke tempat yang aman. Kemudian, Si Cebol Yoojin akan membuka selot pintu belakang pesawat Nereid tersebut dan aku bisa kabur tanpa mereka tahu.”

 

“Dan hologramku? Tidak lucu jika ada dua Baekhyun.”

 

“Dia akan lenyap ketika Yoojin menekan tombol off.”

 

“Kesimpulannya, kita tidak jadi naik ulang-alik dari terminal penerbangan melainkan pesawat pribadi. Tindakan yang cerdik, Pangeran, tapi sangat berisiko!” Baekhyun berjalan ke arah jendela berbentuk segitiga raksasa, berusaha mengenyahkan fakta bahwa ada satu lagi kilatan cahaya yang melintang di langit, ia menoleh sejenak pada Hwanhee yang entah sejak kapan sudah bersanding dengannya, “kau lihat itu? Satu atau dua minggu lagi mereka pasti sudah menyentuh Lunachróme.”

 

“Menyentuh beberapa provinsi di Lunachróme,” koreksi Hwanhee.

 

“Tak menutup kemungkinan semua provinsi bisa kena.” Baekhyun duduk pada kursi alumunium yang ukurannya cukup besar untuk ditempati bersama Hwanhee, mereka suka duduk di atasnya sambil menerawang langit Lunachróme; menatap kagum pada bayang-bayang Uranus dan Neptunus secara bersamaan.

 

“Kau tahu, Baek? Kadang-kadang aku suka berbohong padamu, bilang bahwa ingin pergi ke Nereid padahal sebenarnya tidak juga. Aku suka di sini, aku suka Lunachróme.” Hwanhee menyandarkan kepalanya ke bahu Baekhyun, kelereng mata keduanya memantulkan gemintang di luar sana. Sekonyong-konyong Hwanhee merasakan desir aneh dalam tubuh ketika Baekhyun menyentuh telapak tangannya; hendak mencari nadi tempat dimana ia biasa membaca pikiran Hwanhee.

 

Well, apa yang kau baca dalam pikiranku?” Hwanhee berujar pelan, ia tak menatap balik Baekhyun yang sekarang sedang mengamati dirinya.

 

“Kau merasa ketakutan. Takut yang kubicarakan di sini tak hanya satu, melainkan mencakup banyak hal. Kau takut orang tuamu meninggal, kau takut akan binasanya Lunachróme, dan terlebih lagi, kau takut kehilangan aku.” Baekhyun menarik napas panjang, sadar bahwa ketakutan Hwanhee bukan tak mempunyai alasan. “Kau cinta mati pada Lunachróme, tapi kau takut mati. Pindah ke Nereid juga takkan memberi jaminan pada hidupmu.”

 

“Aku akan hidup, Baek. Kita akan hidup.” Mata Hwanhee memanas. Namun, dengan membiarkan Baekhyun terus menyentuh nadinya, Hwanhee tak perlu berkata apa-apa melainkan diam dan membiarkan Sang Leath menjejaki hati kalutnya.

 

Sementara Hwanhee menangis dalam diam, Baekhyun berharap bisa mengabulkan keinginan tuannya untuk tetap hidup meski dia sendiri harus musnah.

 

end of part 1

 

a/n : well, banyak yang bilang kalau wajah Hwanhee sama Baekhyun itu mirip, jadi aku coba-coba bikin fic tentang mereka. Kalau masih ada yang bingung tentang gimana sih spesifiknya Lunachróme, dia ini semacam planet berukuran sedang yang berada di tepi luar Uranus dan Neptunus, termasuk dalam planet ‘nyasar’ yang kejerat sama gravitasi matahari. Awalnya planet ini berpotensi untuk menunjang kehidupan manusia, tapi karena keadaannya semakin buruk, jadilah mereka pindah ke Nereid [ini bulannya Neptunus]. Masa revolusi Lunachróme aku buat sedemikian rupa hingga memungkinkan lebih banyak malam daripada siang. Untuk selebihnya [Musim Gelap, Musim Cerah, Burung Gatorian, Lembu Huligo, Silbermond, dkk] adalah nama-nama fiktif yang aku buat sendiri, maaf kalau agak aneh dibaca :3

 

mind to review?

 

4 thoughts on “LUNACHRÓME [1/2]”

  1. baca cerita ini jd keingetan film golden compas n kartun digimon yg punya “separuh jiwa” tp serunya disini separuh jiwanya berbentuk manusia juga jd ky anak kembar aja…

    penjelasan planetnya lumayan bisa dipahami apalg setelah baca note di akhir cerita. konfliknya ga macem2, mirip2lah sama yg terjadi di bumi ini….

    dan pas baca baek punya kekuatan ke 3 penukar jiwa cm berharap di part 2 akhirnya bahagia.. kalopun engga msh ga kebayang jiwa siapa yg mati n tubuh siapa yg mati

    aduh maafkan dgn komen ga bermutu ini.. ditunggu part 2nyaa

    Suka

  2. doushite?
    kenapa astina jago banget bikin dystopia begini walaupun hanya semi-dystopia (krn lunachromenya blm bener2 hancur) *pundung di pojokan* dan mengapa pula komentersnya sedikit banget padahal keren TT
    mungkin yg membuat fic ini panjang adalah penjelasan AU-nya ya… tapi gapapa, krn plot devicenya kan adalah istilah2 yg kamu ciptakan di sini.
    pertama, aku suka kepekaanmu yg bawa2 isu kabut asap ke sini. kedua, aku suka plotnya, ttg ancaman perbudakan di nereid dan sebagainya, tapi yg aku herankan; kalo misalnya nereid punya rencana sejahat itu, masa ga ada satupun tetua yg tau? *ya bisa aja ini kan ceritanya astina kamu mau apa li *gomen. ketiga, walaupun istilah AUnya agak pusing, aku suka peran leath di sini, kyknya sweet hubungannya sama manusianya ^^ dan kekuatannya baek… oh plis cerita begini emang sering dibikin sad ending tapi plis jangan baek yg dikorbankan nanti dia dicari taeng *apa. keempat, aku suka penokohannya dan makhluk2 fantasinya. yoojin kyknya lucu ^^
    btw astina, aku sampe cari si hwanhee ini di google hahaha, penasaran ama mukanya
    duh sorry ya ga sempet ngasih perbaikan, kamu udah baik kalo menurutku sih hahaha, keep writing!

    Suka

  3. ini cerita fiksi keren abis..🙂
    aku nggak tau harus ngomong apa lagi, aku masih gg kepikiran nama” itu ternyata buatan sendiri plus itu bikin ceritanya jdi tambah kyk di planet lain.. hihihi😀
    fighting selalu ya..
    ditunggu part 2.a..

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s