[2/3] Reclaimable

Reclaimable

a fan fiction by Jung Sangneul

// RECLAIMABLE //

Starring : Suho of EXO featuring Lyn [OC]

Genre : Romance, a bit fluff

Duration/Length : Triple-shot!

Rating : PG – 13

Setahun yang lalu kita berpisah. Tak ada yang tahu jika tahun ini kita ditakdirkan bertemu lagi.

.

.

Previous: Lyn: Miss Liar

Suho: Mr. Faker

 

            Seharusnya, Minggu pagi begitu menyenangkan untuk menguap panjang dan menarik selimut kembali, kemudian melanjutkan tidur yang tertunda. Apalagi, Suho baru saja menjalankan lembur selama tiga hari berturut-turut sebelumnya, menyebabkan tulang-tulangnya seperti baru dilolosi saking pegalnya.

Tapi, ia tahu, teriakan—salah, itu lebih mirip lolongan—yang baru saja didengarnya adalah pertanda buruk. Ia lekas-lekas memejamkan mata erat-erat, kalau perlu menulikan gendang telinga.

OPPA! TEMANI AKU KE PESTA PERNIKAHAN SAHABATKU, YA! NANTI KUTRAKTIR SUP ABALONE KESUKAANMU!”

BRAK!

Suho merasa tenaga gadis yang berteriak itu sudah seperti gajah. Dia bahkan sepertinya menendang pintu kamar Suho supaya menjeblak terbuka. Suho meringkuk di dalam selimut, berdoa semoga gadis ini menyerah membangunkannya.

OPPA! AYAM SAJA SUDAH BERKOKOK, AYO BANGUN DAN MANDI! KAUHARUS TAMPIL YANG RAPI DAN TAMPAN! OPPAAAAA!”

Suho bergeming ketika suara itu sudah bergetar sampai ke selaput pelangi telinganya, tidak peduli setelah ini ia harus mengunjungi klinik THT. Ia hanya tidak ingin dipaksa mendatangi pesta di hari Minggu yang cerah ini.

AHJUMMA, SUHO OPPA TIDAK MAU BANGUUUN!”

Oh, baiklah, Suho kalah kali ini. Satu yang pasti: ia tidak akan bisa melanggar titah Nyonya rumah ini.

.

.

.

Pernikahan itu cukup meriah, meski Suho ingin pamer kalau ia juga bisa menyelenggarakan pesta yang lebih mewah dibandingkan ini. Jabatannya sekarang sebagai direktur perusahaan terkenal cukup untuk menggelar pesta besar-besaran. Sayangnya, ia belum tertarik bicara soal pernikahan.

Selagi menunggu Alice yang masih sibuk berbicara dengan sepasang pengantin itu, ia menepi, berniat mengambil wine ketika sosok seorang gadis yang berdiri di sana mengganggu irisnya.

Ia seperti mengenal gadis yang meneguk wine pelan-pelan itu, seakan begitu menikmati tiap tetes yang membasahi kerongkongannya. Ia mendekat, mendekat, dan … benarlah, ia memang begitu mengenal gadis ini.

“Hai, lama tidak bertemu,” sapanya setelah beberapa menit kehadirannya tidak disadari.

Hei, sudah berapa bulan kita berpisah?

Suho menampik pikirannya yang bodoh, meski tidak menolak kalau Lyn—gadis di hadapannya—adalah mantan kekasih terakhirnya sebelum menjalani status single yang … cukup menyedihkan.

“H-hai,” jawab gadis itu, gagap dan terkesan ragu.

Apa aku semengejutkan itu?

“Hmm, kau … kelihatan sehat,” ucap Suho lagi, berusaha menetralisir atmosfer canggung. Karena demi apa pun, gadis di hadapannya sama sekali tidak berubah.

Ia tidak mengenakan dress bahkan untuk datang ke pesta pernikahan. Justru baju berbahan katun yang jatuh dengan celana jeans menempel di tubuhnya. Pandangannya tidak fokus, dan jarinya bahkan bergetar saat meletakkan gelas wine kembali di meja.

Tapi, Suho masih menangkap binar bahagia, meski begitu samar di kedua bola matanya. Rambutnya terlihat masih selembut dulu, memanjang hingga melewati batas bahunya. Tiba-tiba, Suho merasa ingin mengusapnya barang sekali, dan kenaifan itu terhapus ketika Lyn menyahut.

Eum … kau juga. Pasti ada yang memilihkan makanan sehat untukmu.”

Suho hampir saja tertawa, karena demi apa pun yang ada di dunia, gadis itu kelihatan sedih dengan hanya mengucapkannya. Yah, Suho pikir, hanya ibunya yang sampai sekarang masih peduli akan kesehatan lelaki dewasa yang tak kunjung menikah ini.

Baru saja ia hendak menyahut, sesuatu yang begitu cepat menabrak bahunya, hampir melimbungkan dirinya seketika itu juga. Ia mendengus, sudah menduga itu Alice yang hiperaktif.

Oppa, kucari kemana-mana!” teriaknya sumbang, membuat Suho ingin mengumpat saja.

Kalau saja ia tidak ingat Lyn ada di situ, melihati mereka berdua. Dan, dengan ide idiot entah dari mana datangnya, ia mengusap kepala Alice sayang, namun matanya memelototi gadis itu agar diam saja.

Lumayan, biar tidak disangka jomblo sejati.

Apalagi, di beberapa waktu, Suho berpikir, alasan ia tidak menjalin hubungan bukan karena wanita-wanita yang mendekat tidak menarik. Kadang, ia malah merasa belum sepenuhnya melupakan Lyn. Lyn yang hangat memeluknya, Lyn yang bisa melukis sketsa wajahnya, Lyn yang senyumnya menawan ….

Suho mendengus.

Setelah mendapat pelototan balasan dari Alice, ia buru-buru menoleh dan mengenalkan mereka berdua.

“Hei, kenalkan, dia Lyn. Dan Lyn, ini Alice.”

Oh, ini memuakkan, sungguh. Bahkan, ekspresi Lyn yang tadi sudah agak tenang kembali terlihat amat canggung. Mungkin, keki juga berdiri di depan mantan kekasih yang membawa gadis lain dalam suatu acara.

“Hai, senang bertemu denganmu,” sahut Lyn.

Suho menukikkan alis, berpikir apakah semenyenangkan itu bertemu nenek lampir macam si Alice?

“Hai, aku Alice,” sahut Alice tak kalah riang.

Suho bisa meriang hanya dengan melihat tatapan Lyn menunjukkan ekspresi terluka. Mungkinkah … gadis itu juga belum bisa melupakan kisah mereka? Tapi, itu mustahil, sudah berlalu sekitar satu tahun sejak mereka berpisah.

Tapi, bukankah tidak ada yang tidak mungkin?

“Kalian … serasi.”

Alice terlihat muak, sementara Suho hanya menelan ludah gugup. Apakah Lyn serius mengucapkannya? Ia tidak salah dengar, ‘kan?

Tapi ….

Tidak. Lyn tidak serius.

Karena bahu itu melorot, dan wajahnya ia tundukkan beberapa saat.

Ia masih ingat gestur-gestur Lyn, dan ini termasuk cerminan kekecewaannya. Oh, entah mengapa, sisi lain dalam diri Suho berjingkrak gembira.

Sebelum Alice merusak kebahagiaannya dengan menarik bahunya turun, berbisik di telinganya, “Dasar laki-laki bodoh! Dia sudah jelas mencintaimu, kenapa kau malah diam saja?!” desisnya kesal.

Suho hanya menghela napas berat. Ia tidak yakin, pertemuan semacam ini bisa disebut jodoh. Jadi, ia memutuskan menarik Alice untuk pulang saja, daripada ia membuat ulah yang konyol untuk menyatukannya dengan Lyn—mungkin.

“Baiklah, Lyn, sepertinya Alice sudah minta pulang,” ujarnya kemudian, tersenyum tipis.

Tangannya segera menarik lengan Alice yang masih mengerucutkan bibir tak suka, diam di tempatnya berdiri, bahkan setelah Lyn mempersilakan mereka pergi.

Menyebalkan sekali gadis ini.

.

.

.

Seharusnya, Suho tahu, keberadaan Alice sedikit membawa keberuntungan.

Karena gadis itu dengan beraninya menjabat tangan Lyn lagi, kemudian menegaskan, “Aku lupa bilang, aku adik sepupu Suho Oppa.”

Dan Suho bersumpah, ia bahagia melihat binar kelegaan menghiasi mata Lyn, menyegarkan wajahnya, dan seakan membangkitkan sesuatu yang telah lama hilang dalam diri lelaki itu.

Mungkinkah itu … cinta?

“A-aku tidak menanyakannya, Alice,” ujar Lyn setelahnya, tapi Suho tidak lagi menghiraukannya.

Lyn memang pandai berbohong, tapi Suho lebih pandai membaca dirinya.

Ish, Oppa! Dia benar-benar menyukaimu! Dia mantan pacarmu yang dulu itu, kan?!’

Suho tidak lagi menggubris cerewetnya nenek sihir Alice di sebelahnya, karena perlahan, ia merasa dadanya dipenuhi kelegaan.

Sudah setahun, tapi bisakah kita kembali seperti dulu?

 

fin.

6 thoughts on “[2/3] Reclaimable”

  1. keren keren kereeeeeeeeeeeeeeeeeennnn … kyaaa cast nya holangkaya😀 hehe akhirnya ada ff yang pake biasku… sumpah aku suka sama jalan ceritanya yang simple … terus feelnya dapet banget lah … tapi btw aku salah baca nih😀 aku kira oneshoot… aku jadi baca part 2 duluan. .. aku izin mundur ke part 1 ya … keep writing !!!! kereeen!!!!!!!

    Disukai oleh 1 orang

  2. uh balikan cepetaaaaan ><
    ini gak fin kan? baru part dua kan? aku nunggu banget part 3nya, maksudku hyaaa masuho di chap 1 keliatan ga peduli tapi di sini kelihatan manis banget, masih ngarep huehue
    tapi aku lupa, alasan lyn putus sama masuho itu kenapa ya hehe. apa disebutkan di chap 1, atau nggak?
    keep writing niswa!

    Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s