[Vignette] Mony’s Choice

Mony's Choice

Mony’s Choice

.

GOT7’s Bambam, UP10TION’s Wooshin, and OC’s Mony | family, friendship, slight!fluff | vignette 1K+ words | G

.

Apa pilihan Mony, ya?

.

.

Gadis lima belas tahun itu menghabiskan seminggu lamanya berlibur di kampung halaman bersama sang kakak—Wooshin. Membantu Kakek memandikan kerbau, makan siang bersama di gubuk di tengah sawah, dan tak lupa menyantap semangka segar hasil panen beberapa bulan lalu. Malam kedua di desa, Nenek membuat samgyetang[1] terenak yang pernah Mony santap. Hingga potongan terakhir ayam itu menjadi rebutannya dengan Wooshin. Dan perkelahian itu dimenangkan oleh Pi—anjing tetangga yang langsung menyambar paha ayam yang terlempar dari genggaman tangan Mony.

Seminggu itu pula Mony melupakan belahan jiwanya—pohon mangga yang ada di halaman rumah Bambam. Biasanya, gadis itu selalu menyempatkan waktu ke sana. Sekadar menyapa—memeluk pohon itu erat-erat juga terkadang menciumnya—atau memanjat dan bertengger di dahan yang paling besar, sembari mengusili sahabatnya yang sedang belajar.

Bambam tak pernah marah atau mengusir gadis itu. Alih-alih, dia malah terhibur. Meski lelucon Mony sangat payah, tapi ekspresi dan cara bicara gadis itu cukup lucu. Satu hal lagi yang membuat Bambam betah berlama-lama bersama sang gadis, yaitu mendengarnya bernyanyi. Apa saja dinyanyikan. Bahkan Mony menciptakan lagu sendiri untuk buah mangga kesayangannya itu. Berisik, cempreng, suka merengek; namun suara Mony sangat merdu. Pasti kalian tidak percaya? Well, Bambam saja heran. Tapi kenyataannya memang begitu.

“Kangen juga sama Bamy,” gumam Mony selagi maniknya menerawang keluar jendela bus. Melihat bocah lelaki dan perempuan yang berjalan bergandengan tangan di trotoar, mengingatkannya akan kenangan di masa kecilnya bersama sang sahabat.

“Tumben kamu kangen sama Bambam. Biasanya juga kangen sama pohon mangganya.” Duduk di sebelahnya, Wooshin bersedekap. Memiringkan tubuh dan menatap Mony lekat-lekat. Curiga kalau-kalau adiknya me—

“Dia janji mau traktir aku dua mangkuk es krim, Kak.”

“Jadi, gara-gara itu kamu kangen Bambam?”

Mm!”

Oh, agaknya kecurigaan Wooshin harus dibuang jauh-jauh. Mony sudah besar memang, tapi rasa suka di hatinya belum tertuju untuk lelaki mana pun. Kecuali dirinya.

“Mony.”

Hm?”

“Pilih Kakak atau Bambam?”

“Kak Wooshin, dong.”

Wah, Kim Wooshin sumringah mendengarnya.

.

.

Nanti aku mau main.”

“Oke.”

Sambungan terputus. Bambam bergegas turun dari tempat tidur. Mandi super kilat tapi tetap hati-hati agar air tidak mengenai rambutnya. Bambam mau memberikan kejutan untuk Mony. Jadi, dia harus tampil sempurna saat gadis itu datang nanti.

Cuaca masih panas, maka Bambam memutuskan untuk mengenakan kaus biru muda polos di balik kemeja bergarisnya, dipadukan dengan celana pendek krem, dan tak lupa menata rambutnya sekeren mungkin. Mony pasti akan terkejut, begitu pikir Bambam saat melihat pantulan dirinya di cermin. Melirik ke atas meja belajarnya, ada sebuah pot berbentuk mug putih kecil. Bambam menanam biji mangga di sana sejak beberapa minggu lalu. Tanamannya sudah tumbuh kira-kira setinggi sepuluh sentimeter. Mony pasti senang.

Hai, Pacarku.”

Samar-samar suara gadis itu terdengar. Bambam melangkah mendekati jendelanya yang terbuka. Ada Mony di bawah sana, sedang memeluk pohon mangga. Tak lupa beri satu kecupan yang membuat Bambam mengernyitkan hidungnya. Eew, jorok sekali.

“Mony… Mony. Sudah besar ulahnya masih seperti bocah lima tahun.” Bambam bersedekap, geleng-geleng kepala.

“Bamy!”

Gadis bersurai auburn itu mendongak dan melambaikan tangannya sembari melompat kegirangan. Manik bulatnya membola kala menangkap sesuatu yang janggal dari sahabat lelakinya itu. Tanpa pikir panjang lagi, cepat-cepat Mony memanjat pohon mangga. Menyusup di sela daunnya yang masih cukup lebat. Bambam sampai melongo dibuatnya. Masalahnya, Mony sedang memakai jumpsuit yang pendek celananya. Apa lagi gadis itu memanjat secara brutal. Mengabaikan permukaan pohon mangga yang kasar menggesek kulit kakinya saat pijakannya meleset di pertengahan.

“Hati-hati, Kim Mony.”

Panjatan terakhir dan Mony berhasil selamat duduk manis di dahan kokoh yang tepat menghadap ke arah jendela Bambam. Kaki beralaskan sepatu putihnya dibiarkan menggantung selagi gadis pencinta mangga itu menggeser bokong mencari posisi nyaman dan aman.

“Kenapa harus memanjat, sih? Aku, ‘kan bisa—”

“Rambutmu….” Telunjuk Mony terangkat. Mengarah tepat ke surai si lelaki yang berwarna tak seperti biasanya. “Kok merah?”

Bambam cengar-cengir menggaruk pipi kanannya dengan telunjuk. “Bagus, tidak?”

“Mau pegang.”

Mengulurkan tangan, Mony berusaha menggapai kepala Bambam yang memang sedikit terjulur keluar jendela. Tapi tentu saja tidak akan sampai. Bisa-bisa Mony jatuh mencium tanah dan patah tulang. Oh, Bambam tidak mau sahabatnya harus dirawat di rumah sakit.

“Tunggu di situ, oke? Aku akan ke sana. Jangan ke mana-mana. Mengerti?”

“Aku mau turun.”

“Oke. Kita ketemu di bawah.”

Bambam melesat keluar kamar. Setelah menyempatkan diri memeriksa penampilannya dan menyambar mug putih tadi. Dan Mony sudah mendarat di tanah ketika Bambam tiba di halaman rumahnya. Mendapat pelukan singkat dari gadis itu dan mengacak-acak rambut baru Bambam sambil tertawa lepas.

“Gemas, deh. Kamu juga jadi kelihatan lebih tampan. Dan lucu.”

Mendapat cubitan di kedua pipinya, Bambam hanya bisa pasrah.

Yah, sia-sia usaha Bambam menata rambutnya tadi kalau akhirnya berantakan seperti sekarang hanya dalam waktu lima detik. Tak apa, pikirnya. Mendengar tawa Mony dan pujian darinya, sudah lebih dari cukup.

Masih dengan rona di pipinya, Bambam mengulurkan mug putih tadi, sembari berkata, “Buatmu.”

“Ini apa?”

“Pohon mangga mini. Kalau sudah besar nanti kamu bisa pindahkan ke halaman rumahmu.”

“Wah… serius? Buatku?”

Yap! Khusus buat sahabat terbaikku yang tampil cantik hari ini.”

Well, Bambam bisa menggombal sekarang. Mony sering kena ulahnya. Tapi, saat ini gadis itu memang cantik. Rambut panjangnya dikucir satu. Helai rambut di sisi kanan-kirinya melambai tertiup angin. Wangi lembut dan manis dari losion bayi beraroma chamomile-nya seketika menguar. Bambam suka aromanya. Khas Kim Mony sedari kecil sampai sekarang.

Tapi, saat-saat menyenangkan begini hanya dijumpai setelah Mony selesai mandi. Masih rapi dan wangi dan cantik.

“Ulang tahunku, ‘kan masih lama.” Mony menelengkan kepala—bingung, tetapi tangannya tetap mengambil alih mug itu dari tangan Bambam. “Tapi, nanti kamu harus kasih hadiah lagi, ya. Harus!”

Mau tak mau Bambam mengangguk. Bahaya kalau dia tidak memberi Mony hadiah saat ulang tahunnya. Bambam ingat kejadian tiga tahun lalu. Lima belas Desember, musim dingin. Bambam lupa membeli kado dan berakhir dengan aksi Mony yang mendiamkannya terus-terusan. Sialnya lagi, pohon mangganya sedang tidak berbuah. Puding mangga kesukaannya pun tidak menyurutkan amarah gadis itu. Sampai Bambam rela ke pasar di Minggu pagi, menghindari jalan licin, diterpa salju juga angin kencang; hanya untuk memborong selusin buah mangga. Setelahnya, Mony baru mau tersenyum, mengoceh sampai dia mengantuk, dan tertidur memeluk sekantung mangga.

“Bamy.”

“Ya?”

“Terima kasih hadiahnya. Aku suka,” katanya. Diiringi seulas senyum tulus sebelum Mony kembali memeluk sahabat lelakinya itu. Dan berikan sebuah cubitan kecil di pipi yang dibalas ringisan pelan dari Bambam.

Selagi mereka bertukar senyum, di kejauhan tampak seorang lelaki tengah berkacak pinggang. Mendengus kesal lalu berteriak lantang, “Kim Mony! Ada sepuluh mangga di rumah. Cepat pulang.”

Dan Kim Wooshin sukses menarik perhatian adiknya yang langsung berbalik, berjalan cepat meninggalkan Bambam sendirian mematung di halaman rumahnya. Meski samar, Bambam bisa melihat kakak Mony itu menyeringai puas.

Oh, dikira dia menang kali ini? Hah! Tak akan, Wooshin Hyung.

“Hei, Mony.”

Langkah gadis itu terhenti. Menoleh ke arah Bambam yang baru saja berseru memanggilnya. Embusan angin sore menarikan helai rambutnya lagi. Mony masih terlihat cantik dan menggemaskan. Siapa sangka, bocah perempuan tukang pamer plester, masih mengompol sampai kelas dua SD, jorok dan malas mandi—sampai sekarang juga masih, sih—bisa tumbuh dewasa menjadi gadis yang harus Bambam akui, cantik dan manis. Eh, tapi mereka hanya sahabat, lho.

Sayang, Wooshin merusak waktu dua sahabat itu melepas rindu. Tentu saja Bambam tidak terima. Dan dia harus balas dendam. Ada satu cara. Ampuh sekali. Bisa membuat Wooshin—lelaki yang juga bersurai merah itu bersungut-sungut kesal dan Bambam yang melepas tawa teramat kencang sampai berguling-guling di tanah.

.

.

Kim Mony, kamu pilih Kak Wooshin atau mangga?

.

Menurutmu? Tentu saja mangga.”

.

Well, mangga masih menempati peringkat pertama di hati Mony, ‘kan?

.

.

fin.


Nyoba keluar dari zona nyamannya/? mereka yang biasanya childhood, MonBam dan Kak Wooshin sekarang sudah besar~😀

.

snqlxoals818

2 thoughts on “[Vignette] Mony’s Choice”

  1. TUHKAN KAAAAKKK MONY TETEP APA UDAH GEDHE MASIH TIMPUK-ABLE UHUHUHUHU GEMAASSSHHH KAK CLAIRE GEMAASSSHHH /cubit wooshin/ wkwkwkwwk😄
    KAKYEENIIIIII JEBAL INI APAA MONY FIX NAKSIR POHON MANGGA! /nggelinding/

    …….udah peluk peluk, cium cium juga astaga masih dipanggil pacarku juga omo omo KIM MONYYYY!!!! *claire masih gelindingan*

    Eh aku pikir bakal ada adegan yang kaya kita bicarain di line pas waktu bamy ganti warna rambut wkwkwk. Ternyata engga ahahahahaha. IH KAK UCIN GAMAU KEHILANGAN MONY IHIY *uyel uyel* aduuh ini komenku absurd banget kaak. Wkwkwj

    Lanjutannya tar kurusuhin di LINE ya kaaak! Bubaaay ♡♡♡

    Suka

  2. Nyium poon mangga??? *mikirkeras
    MONY, MENDING CIPOK BAMBAM DAH KETIMBANG POON MANNGA *tepokjidat
    Yeniiiiiiiiiii kecup dulu sini 😚😚😚😚 lope lope diudara untukmuh 😚😚😚😚
    /tinggalin Mony-biar pelukan ma poon mangga-langsung narik wusin+bambam/

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s