Of Table Tennis and Late Night Latte

OTTALNL copy

A debut-movie by Joonisa

Of Table Tennis and Late Night Latte

starring [BAP] Yoo Youngjae and [OC] Son Finnie / slight of [BAP] Moon Jongup duration Ficlet (+800 words) genre School-life, Friendship, Fluff rating T

.

Youngjae benci kekalahan.

.

Seoul, 03.00 PM

Jongup berlari terlalu kencang, bahkan ia hampir menabrak beberapa murid yang tengah melintasi lapangan olahraga di jam istirahat siang itu. Senyum langsung mengembang di wajahnya tatkala menemukan Youngjae yang sedang duduk di bawah pohon dekat kantin.

“Ada murid baru, perempuan, pindahan dari Toronto!”

“Hubungannya denganku?” Tanya Youngjae sambil mengunyah honey butter chips nya, acuh tak acuh pada berita yang dibawa Jongup. Sesekali ia menggoyang bungkus cemilannya itu untuk mencari kepingan yang lebih besar dari yang lain. Jongup menggosok tangannya, bersiap mengatakan sesuatu yang ia yakin seratus persen bakal membuat Youngjae berjengit atau bahkan melompat ke arahnya.

“Dia atlit tenis meja di sekolahnya dulu. Selalu menang, tidak pernah kalah barang satu kali pun.”

Benar saja, Youngjae langsung menoleh seraya melebarkan irisnya pada Jongup. Naluri kompetisi dan benci akan kekalahan milik Youngjae berhasil disulut oleh teman baiknya sejak SD itu. Namun detik berikutnya, Youngjae tergelak dan kembali melahap cemilannya.

“Kau tidak bermaksud membandingkan kemampuanku dengan kemampuan anak perempuan itu ‘kan?”

Jongup mencebik, ”kalau kulihat dari penampilannya, kurasa dia tidak seremeh yang kau pikirkan.”

“Tapi tetap saja dia itu perempuan dan tolong camkan di otakmu kalau Yoo Youngjae adalah Raja Tenis Meja di sekolah ini! Sudah ah, aku mau latihan dulu!”

Youngjae menyerahkan sisa cemilannya pada Jongup dan melenggang pergi menuju gedung olahraga sekolah, membuat Jongup dongkol setengah hidup.

“Raja Tenis Meja kepalamu!”

.

.

Youngjae masuk gedung olahraga dan mendapati seorang anak perempuan sedang berlatih menggunakan peralatan tenis meja yang biasa ia gunakan. Memiliki rambut brunette pendek sebahu, tinggi sekitar 160 cm, berkulit putih pucat, dan mengenakan hoodie biru di atas seragam sekolah. Dari apa yang berhasil ditangkap oleh mata Youngjae, bukan wajah gadis itu yang menarik perhatiannya, melainkan cara bermain tenis mejanya. Semua gerakan yang ditunjukkan gadis itu tanpa ia sadari telah membuatnya berdecak kagum.

“Kau mau latihan juga?”

Suara gadis itu membawa Youngjae kembali ke alam nyata.

“Eh – uhm, ya begitulah.”

“Ini, aku sudah selesai.”

Gadis itu menyerahkan bet yang ada di tangannya pada Youngjae. Namun bukannya menyambut bet itu, ia justru mengambil bet lain yang berada di salah satu rak penyimpanan gedung olahraga tersebut. Setelah melihat cara gadis itu berlatih, ia rasa apa yang dikatakan Jongup ada benarnya dan saat ini Youngjae butuh sebuah pembuktian.

“Kau anak baru pindahan dari Toronto, benar begitu?”

Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. Ia menyodorkan tangannya pada Youngjae.

“Son Finnie, just call me Finnie.”

“Yoo Youngjae,” Youngjae balas menyalami, “Raja Tenis Meja di sekolah ini.”

“Hah?”

Belum habis keterkejutan Finnie, Youngjae sudah melakukan servis pertamanya. Refleks, Finnie membalas servis itu dengan kemampuan yang ia miliki.

“Tiga set. Kalau aku menang, traktir aku lima bungkus honey butter chips.”

Sembari melakukan forehand, Finnie memikirkan apa yang harus ia minta kalau ia menang dari Youngjae. Ia sudah ingin membuka mulut ingin berucap sesuatu, namun melihat Youngjae yang begitu bersemangat memukul bola membuatnya lekas mengganti permintaannya.

“Kalau aku menang, traktir aku Latte di café yang ada di Gangnam.”

Deal!”

Youngjae melancarkan forehand cukup keras tapi Finnie memiliki teknik yang tepat untuk membalasnya.

Ace!! Satu angka untukku, Yoo Yongjae!”

Bola masuk dan tidak dapat dijangkau oleh Youngjae. Api mulai merambat ke hati Youngjae, namun ia menarik nafas dan berusaha untuk tetap tenang.

“Ini baru permulaan, Finnie. Silakan bersenang-senang menikmatinya karena kau akan kalah!”

.

.

.

Delapan jam kemudian

Finnie melempar betnya lalu merebahkan diri ke lantai. Peluh membanjiri tubuhnya, nafasnya pun terasa sulit untuk ditarik.

“Youngjae, kurasa ini sudah cukup. Tanganku sakit.”

“Aku tidak akan berhenti sebelum aku menang, Finnie! Ayo main lagi!”

“Tapi ini sudah set ke-22 dan aku menang dua puluh set. Ayolah, terima saja kekalahanmu.”

Mendengar kata ‘kalah’ membuat Youngjae berang. Ia meletakkan betnya ke atas meja, lalu bertolak pinggang di sebelah Finnie yang terbaring hampir sekarat.

“Aku? Kalah? Dengar ya anak baru, tenis meja adalah spesialisasiku. Aku ahli di bidang itu dan aku menguasai segalanya tentang – “

Ucapan Youngjae terpotong saat Finnie mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Gadis itu menggapai tangan Youngjae dan menggunakannya sebagai alat bantu untuk berdiri. Ada desiran halus yang menyambangi dada Finnie saat skinship itu terjadi, namun ia mengabaikannya lantaran tubuhnya sudah terlalu lelah.

“Aku tahu kalau aku sudah merusak egomu, jadi tolong maafkan aku. Soal Latte, lupakan saja.”

Finnie lantas pergi meninggalkan Youngjae dengan langkah tertatih. Ternyata bukan hanya tangannya yang sakit, kakinya juga. Hal itu membuat Youngjae bertanya-tanya sekaligus merasa bersalah. Bertanya-tanya karena bagaimana bisa gadis itu menahan sakit sementara ia memenangkan dua puluh set pertandingan dan merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu berakhir dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Bagaimana kalau dia sampai pingsan di jalan? Bagaimana kalau besok dia sakit lalu tidak masuk sekolah? Bagaimana kalau dia cedera?

“Finnie!” Youngjae mencegat lengannya, kemudian berlutut di samping gadis itu, ”naiklah!”

“Hah?”

“Kuantar pulang.”

“Tidak usah. Aku bisa naik bus.”

Baru saja Finnie akan meneruskan langkahnya, Youngjae sudah keburu menarik lengannya lalu menaikkan Finnie dengan paksa ke punggungnya.

“Anggap saja sebagai ganti Latte dan dilarang protes!”

Karena sudah terlanjur dan Finnie sudah kelewat lelah, ia pun membiarkan Youngjae menggendongnya di sepanjang jalan pulang. Finnie pun akhirnya tahu desiran halus apa yang menghampirinya beberapa saat yang lalu.

Finnie suka pada Youngjae.

.

.

.

“Finnie.”

“Ya?”

“Selalu ada kata lain kali untuk Latte itu ‘kan? Aku tidak enak berhutang janji padamu. Bagaimana kalau minggu besok?”

.

.

.

Bukankah itu terdengar seperti ajakan kencan?

.

FIN

 

a/n:

Happy Debut Son Finnie-ssi 😄

Semoga betah bersama yongje😄

 

13 thoughts on “Of Table Tennis and Late Night Latte”

  1. Buset nis itu seriusan mereka maen sampe 8 jam??? O.O wah gila bener dah yongje ini > <
    Kalah mah kalah aja dek, kesian itu cewek anak baru pula berasa diospek maen tenis meja. Ckckckck *pukpuk finnie*
    Ya tapi akhirnya ngajak kencan ya bolehlah yongje bisaan😄 and happy debut son finnie~ ^^)/
    Nice fic nis ^^)bb

    Suka

    1. Seriusan Yen.. boleh tanya sama mas Jongup #eh😄
      Iya kasian bener dikerjain sama sunbaenya wkwkwk tapi itu sebenernya accidentally ngajak kencan sih hahahaha😄
      makasih banyak juga Yeniiii udah mau direcoki masalah OC ini hihihi😀

      Disukai oleh 1 orang

  2. UWOOO SPORTFICNYA NISJOO KECEEE AKU SUKA BANGET ADA NYENGGOL-NYENGGOL ISTILAH-ISTILAH OLAHRAGA (soalnya aku ga paham jadi istilah-istilah demikian sangat menghibur dan membantu).
    Ih asik banget ya aku juga mau di-piggyback sama youngjae ehe ehe ehe nice fic nisjoo ^^

    Suka

  3. raja tenis meja kepalamu wkwkwkwk terus bayanginnya jongup sambil masukin cemilan sisa dari youngjae kok ngakak banget wkwkwkwk
    protes pertama adalah : ITU COVER KEMAREN AKU LIAT MUKANYA JIN TAPI TERNYATA MUKANYA JAE YAMPUN AKU SLIWER
    halo fin! baik baik ya sama jae, dia kesayangan aku soalnyah (salah satu sih) wk!
    cuma dalam DELAPAN JAM loh dari ngeremehin jadi ngajak kencan, si fini dari menangin dua puluh set skinsip langsung suka, yampun remaja jaman sekarang cepet banget reaksinya :p
    see you in other sroy fin!

    Suka

    1. wkwkwkwk Jongup nerima2 aja sihi makanan sisa😄 JONGUP MIANE
      Hahahaha emang mirip ya Jin sama Jae😄
      Iya mereka bakal baik-baik kok ihihihi😄
      Kan ada pepatah, satu detik bisa untuk menyukai orang lain, apalagi delapan jam ((INI PEPATAH SIAPA HAHAHA))
      Sebenernya itu bukan ajakan kencan sih, cuma mirip aja hahaha

      see ya too😀

      Suka

  4. Son Finnie -marganya sama kayak Wendy, asalnya dari Canada (bener gak sih? Koreksi kalo salah) eh tapi kampret, yongje ego-nya kurang ajar, anak orang baru pindah pula, udah diajak main -delapan jam lagi (main apa hayooo??)

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s