[Vignette] Of Japanese Superstition, Rain, and His Attitude

wonwoo lagi

A vignette-movie by namtaegenic

Starring Jeon Wonwoo [Seventeen], Hoshi – Kwon Soonyoung [Seventeen], slightly mentioning Hyuk [VIXX], and  Konno Amaya [OC] Genre School life, fluff Rating PG-15 Duration Vignette Disclaimer I own the plot and Konno Amaya

Read also for intro: Superstition

PS: please notify me if the picture of two schoolmates above is a fanedit, and please tell me the picture source so I could write the credit here, thank you.

.

© 2015 namtaegenic

.

Ada mitos dari Jepang, bahwa jika  kucing meraup wajahnya dengan satu kaki depan, tandanya beberapa waktu lagi hujan akan turun.

.

Sebelumnya, Wonwoo tak pernah peduli perihal siapa yang masuk lebih dulu ke dalam kelas, acap kali tepat bersisian dengan teman seperjuangan, kebetulan maupun tidak. Tentu dirinyalah yang akan masuk lebih dulu, masa bodoh mereka akan bertabrakan bahu, atau saling menginjak dan menyerempet kaki.

Biasanya, siapa pun yang menginjak kaki siapa pun, Wonwoo-lah yang akan mendelik, mengerutkan dahi tanda tak suka, dan si teman sekelas pun hanya mampu mengangkat bahu—mempersilakan pemuda itu masuk lebih dulu.

Namun, kali ini Wonwoo merasa harus lebih waspada.

Ia sudah berusaha melangkah lebih cepat agar tiba duluan di ambang pintu kelas sebelum Konno Amaya. Tak disangka-sangka, gadis itu adalah seorang pejalan kilat dan dalam hitungan detik saja mereka berdua sudah berdiri bersisian di depan pintu.

Wonwoo memandang Amaya.

Amaya memandang Wonwoo.

Lalu Amaya tersenyum.

Ohayou1, Jeon Wonwoo-san2.

Kedua kelopak Jeon Wonwoo menyipit curiga. Sejak insiden kodok di toilet laki-laki waktu itu, Wonwoo senantiasa memberi tatapan menuduh pada si gadis, dan semua anak di kelas tahu penyebabnya. Wonwoo membenci anak itu.

“Jangan ohayou-ohayou padaku,” lantas Wonwoo memberi isyarat ke dalam kelas dengan dagunya. “Sana masuk duluan!”

Mata Amaya berbinar, “oh, terima kasih!”

Wonwoo mengamati gadis yang lantas melangkah ringan ke dalam kelas, siapa tahu ia akan menemukan sesuatu yang ganjil seperti kakinya yang mengambang di atas ubin, atau ada ekor bercabang-cabang yang muncul di balik roknya.

Tiba-tiba wajah Wonwoo merona. Buat apa ia memaku pandang dan mengkhayalkan sesuatu di balik rok anak perempuan? Konno Amaya lagi, ih menjijikkan.

Seraya menggumamkan ‘idih’ beberapa kali, Wonwoo mengambil langkah panjang-panjang, mengusir semua pikiran buruknya, dan menempati bangkunya yang berada di dekat jendela. Pemuda itu lantas menggeser jendela lebar-lebar, menikmati langit mendung. Mungkin sebentar lagi presipitasi turun membasahi sekolah. Udara akan terasa sejuk dan beraroma tanah basah.

Terlepas dari semua tingkah lakunya yang mendominasi, Wonwoo menyukai hujan, sekalipun ia terjebak di tengah-tengah keadaan darurat—hujan masuk daftar teratas dalam hal-hal yang paling disukainya. Aroma udara selagi atau setelah hujan dan tanah basah membuat pikirannya rileks dan memperbaiki perasaannya.

“Wonwoo-san, sudah bikin PR fisika?”

Si empunya nama menoleh ke sumber suara, dan begitu dilihatnya Soonyoung tengah memainkan alis padanya, Wonwoo mengernyitkan dahi.

“Virus Momokohoshi sudah menyebar rupanya,” cibirnya membuat Soonyoung tergelak.

“Jangan salah sebut nama desanya Konno Amaya, lho, Jeon Wonwoo. Nanti kamu kena sial!”

“Yang waktu itu kebetulan. Kodok itu milik Sanghyuk, dan aku hanya lupa menaikkan resletingku lagi. Lupa. Jadi tidak ada kutukan dari Momokohoshi dan sebagainya.”

“Iya, deh!” Soonyoung menggeser bangkunya ke dekat meja Wonwoo. “Jadi, kamu sudah bikin PR fisika?”

Koloni air yang tiba-tiba mengetuk-ngetuk atap sekolah kontan membuat Wonwoo tak lagi memedulikan kehadiran Soonyoung. Pemuda itu berdiri dekat bingkai jendela, dan menghirup aroma hujan dalam-dalam seraya memejamkan mata.

Lantas ia tersenyum. Wonwoo tak pernah bercanda soal hujan yang memperbaiki perasaannya.

Di koordinat lain, Amaya mengamati Wonwoo dengan heran. Nyaris satu minggu ia bersekolah di sini, belum pernah dilihatnya pemuda itu tersenyum barang satu kali saja—kecuali kalau senyum asimetris tanda perang dan senyum mencemooh dapat dihitung sebagai senyum.

Anoo3, Heejin-san. Kenapa…” belum selesai Amaya mengemukakan keheranannya, Heejin sudah menimpali.

“Kami sudah biasa dengan perubahan mendadaknya tiap kali hujan turun. Jeon Wonwoo adalah sejatinya pluviofil. Dia jadi lebih menyenangkan ketika tempatnya berada sedang disiram hujan.”

Sou ka4,” Amaya menggumam. Lantas, tanpa mengacuhkan Heejin yang bertanya apa artinya ‘sou ka’, Amaya menyusuri koridor deret bangku satu dan dua, lantas mempercepat langkahnya ke baris bangku terakhir, hingga akhirnya ia bisa menjangkau bingkai jendela di mana Wonwoo berdiri.

Benar, Konno Amaya sedang mencoba peruntungan.

Dan sebelum gadis itu sempat mengucapkan atau melakukan sesuatu, Wonwoo sudah melemparkan senyuman ramah padanya—yang mana adalah kejutan besar.

“Amaya suka hujan juga?”

Sejenak Amaya terpaku di tempatnya. Matanya tak lepas memandang senyuman Wonwoo. Pemuda itu memanggilnya dengan nama kecil alih-alih nama keluarga. Sambil tersenyum pula. Ternyata benar, hujan mempengaruhi pergolakan jiwa Jeon Wonwoo. Entah yang mana dirinya yang asli, tapi Amaya menyukai Wonwoo-Versi-Hujan.

“Dulu kalau hari hujan, biasanya aku dan teman-teman di—“

“Teng tong! Mikagehoshi, benar ‘kan?”

Amaya menganga, “be-benar. Di-di Mikagehoshi, kalau hari hujan, aku dan teman-temanku biasanya, biasanya, biasanya pergi ke luar kelas, la-lalu…” Amaya tak lagi bisa berkonsentrasi dengan kisah Mikagehoshi-nya, karena Wonwoo sekarang sudah menatapnya lekat-lekat dengan tangan bertumpu di bingkai jendela—siap mendengarkan ceritanya. Gadis itu tiba-tiba merasa mati kutu. Ia tidak siap dengan segala perubahan penuh kejutan dari pemuda di hadapannya ini.

“Ehe, J-Jeon Wonwoo-san, akan lebih baik kalau tidak terus-terusan me-melihatku,”

Wonwoo tersentak lalu tergelak.

“Maaf, maaf! Habisnya aku tidak sabar,” pemuda itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela—yah, tak lantas membuat Amaya jadi merasa lebih baik, karena figur wajah pemuda itu makin menarik jika dilihat dari samping.

Amaya menarik napas, meredakan ledakan-ledakan kecil di seluruh persendiannya.

“Ada mitos dari Jepang, bahwa jika kucing meraup wajahnya dengan satu kaki depan, tandanya beberapa waktu lagi hujan akan turun.”

Wonwoo kembali menatap Amaya dengan mata terbelalak. “Yang benar?”

Dengan gugup, gadis itu mengangguk. “Tidak ada alasan ilmiahnya, sih. Tapi aku dan teman-temanku di Okinawa langsung melompat-lompat apabila tidak sengaja menemukan kucing sedang meraup wajahnya.”

Kisah Mikagehoshi dan mitos mengenai hujan terus mengalir, dan berakhir ketika bel tanda mulai pelajaran berdering. Semua murid kembali ke tempat duduk masing-masing ketika Guru Park masuk dan menempati singgasananya. Dua jam mempelajari lempengan bumi mengiringi redanya hujan, sehingga kini suara Guru Park semakin terdengar jelas, tanpa tenggelam oleh rintik.

Menghabiskan dua jam pelajaran geografi, dan dilanjutkan dengan dua jam memahami reaksi redoks dengan Guru Kim, membuat bel istirahat terdengar lebih merdu dari lonceng pengantin.

Sementara para murid lain bubar, Amaya diam-diam melirik ke arah deret meja ujung, ke bangku Wonwoo, dan ke jendelanya. Langit sudah lebih terang, dan ekspresi Wonwoo—ironisnya—kembali berubah normal. Sinis, kecut, dan seasam cuka. Mereka kembali bersisian di depan pintu kelas, dan Wonwoo memandang gadis itu dengan memicing.

“Dengar, ya. Apa pun yang keluar dari mulutku padamu tadi pagi, adalah pengaruh psikologis karena—kamu tahu—aku suka hujan, dan situasinya memengaruhiku.” Wonwoo menaikkan alis dengan pongah, “tak lantas kita jadi teman.”

Tak seperti tadi, kini Amaya sudah siap dengan semua klarifikasi Wonwoo soal hujan. Gadis itu tersenyum, dan mengangkat bahunya.

“Berarti, sekarang mitos kucing meraup wajahnya tak hanya berarti hari akan hujan,” Amaya melangkah lebih dulu ke luar kelas, dan memandang Wonwoo untuk terakhir kalinya menit itu. “Itu berarti juga bahwa kamu akan bersikap baik seperti tadi.”

Wonwoo menganga, yakin sekali bahwa telinganya menangkap gumaman Amaya yang melenggang pergi.

.

“Kucing yang meraup wajahnya kini akan terlihat berkali-kali lipat lebih menyenangkan.”

 

| fin.

Ket:

  1. Ohayou = selamat pagi
  2. –san = panggilan untuk orang yang baru dikenal dan dihormati.
  3. Anoo = kata untuk mengawali pembicaraan dengan orang lain.
  4. Sou ka = “begitu, ya.”

 

 

5 thoughts on “[Vignette] Of Japanese Superstition, Rain, and His Attitude”

  1. Ihiw ihiw kak aku mampir yaa aku mampir~~
    Betewe kak ku baru tahu ada legenda Jepang yang bilang kalo kucing meraup muka pertanda hujan, soalnya aku tahunya kalo masang teru-teru bozu kebalik itu yang bisa manggil hujan *oke ini ga nyambung Rin*

    As always kak fic kakCi pasti menarik :3
    Keep write yaa kakCi ^^

    Suka

  2. Omo!! Kukira kisah amaya sama wonwoo kali ini bakal lawak lagi, tapi ternyata malah sweet parah 😘

    Wonwoo yg judes kaya gitu bisa transformasi gegara hujan doang… Bener kata amaya, klo gitu mending ujan terus biar wonwoo gak judes lagi xD Aku juga seneng hujan sih, apalagi kalo sore, rasanya tuh kek damai gituu..

    Dan teteep aku suka gimana kak eci ngegamabarin seting dan segala macemnya tuh pas, gak bikin bosen :3

    Suka

  3. ini wonu semacam bipolar yah yg kepribadiannya bisa berubah tergantung iklim xd. Lucu aja bayangin wajah dia yg sangar trus lsg senyum gitu cuma hanya mandangin ujan doang. oiya aku reader baru dsini. Ari 91 line. salam kenal (*^_^*)

    Suka

  4. awwwwwww, wonwoo nggemesin aja <//////3 yuk wonwoo biar tinggal di bogor. biar dia jadi suka senyum gitu😀 #prt
    penuh filosofi ya fict ini. wkwkwk. aku suka sama adanya mitos jepang dan segala jejepangan dalam fict ini, fresh banget lah😀
    dan eyaaa, amaya, aku padamu😀 nambah lagi deh fav oc di ifk ini😀 hihi.
    keep writing kak eci ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s