In Pieces

in pieces

Kuingin bawa serta senyumanmu dalam kotak favoritku

Nam Taehyun

• Vignette • AU!Crime and slight Thriller •

PG Rating! (I warn you, this ff is kinda smoking area)

moilody

*

Kuembuskan lagi gulungan asap dari lubang hidung. Kali ini lebih halus ketimbang dua batang rokok pertama. Batang ketujuh ini lumayan nikmat, lantaran aku tak lagi tersedak.

Aku bukan pemula, perlu kutegaskan.

Sebungkus rokok bisa kusikat dalam sekali duduk. Itu dulu. Tentu sebelum Grey menggusariku panjang-pendek sampai kupikir mulutnya bakal berbusa. Tapi nyatanya, ia baik-baik saja. Gadis itu juga pernah menjejaliku separuh bungkus batang tembakau dan menyulutnya bersamaan. Ouch, aku ingin muntah ketika mengingatnya. Ia memang menyebalkan.

Penakut? Tentu saja itu bukan aku.

Grey bukan pemegang kendali atas hidupku hingga aku harus menaruh harga diriku di kakinya. Gadis keranjingan itu tak lebih dari alarm kuno yang memekakkan ketika aku masih dibelai mimpi pagi hari. Tak jarang, seperti radio rusak yang terus saja mengoceh tentang hal-hal konyol yang disebutnya masa depan.

Meski begitu, Grey pernah menjadi beberapa alasan dalam hidupku. Dulu dan saat ini.

Aroma tembakau yang bergulung-gulung di depan hidungku membawa setumpuk memori tentang Grey. Ah, Grey. Aku merindukannya lagi.

Senyuman Grey menari-nari di antara kepulan asap yang menipis. Jenis senyuman yang bahkan tak bisa dikategorikan manis, sama sekali. Ada yang berbeda dari cara Grey menarik ujung bibirnya sampai melengkung tinggi. Dan aku masih belum mengetahuinya. Mungkin tidak akan pernah tahu.

Bayangan Grey perlahan mulai terberai ketika seorang pemuda mengibaskan sebelah tangannya mengusir asap rokokku. Garis-garis keberatan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Persis seperti pasangan tua di meja belakangku, kulirik dari sejam lalu terus saja mencibir pelan-pelan.

Masa bodoh. Selama pemilik kafe murahan ini tak menyeretku keluar, aku tak ambil pusing.

Pemuda tadi mendengus, setelah memutar kepalanya menyisiri seluruh kafe, dan menemukan tidak ada meja kosong. Jeda semenit sampai akhirnya pemuda tadi memutuskan untuk bergabung dengan mejaku. Sekilas kutilik mungkin seumuran denganku. Potongan rambutnya rapi, berkelir pekat dan mengilat. Kakinya jenjang dan kecil terlihat lemah dari balik mantel panjang yang tak dikancingkan.

Pemuda ini menggeser kursinya, memandangku datar seolah meminta izin tetapi tidak jadi. Tatapannya tertuju lebih lama pada batang tembakau baru yang sedetik lalu kunyalakan dengan pemantik.

Oh baiklah, mungkin ini waktuku untuk memungkasi aksi membakar gulungan tembakau bercampur kenangan Grey. Piring sarapanku bahkan sudah lama disingkirkan seorang pelayan tua. Dan menawariku secangkir kopi, lagi.

“Perjalanan bisnis?”

Pemuda ini memandang kopor besar di sebelah kursiku, lantas menaruh fokus pada mataku sedikit lebih lama ketimbang sebelumnya. Aku balik memandangnya, dan menarik ujung bibirku guna membalas rasa ingin tahunya.

Rampung memesan secangkir kopi tanpa gula, pemuda ini membentangkan lipatan korannya. Belum mencapai satu detik, dengusan kasar terdengar dari mulut pemuda ini yang tak terlihat. “Ada apa dengan orang-orang belakangan ini?”

Tidak berusaha menimpali, aku hanya memerhatikannya melipat ulang lembaran koran.

“Kriminalitas rasanya sedang naik daun, dan jadwal lembur sudah menunggu di depan mata seminggu kedepan.”

“Seorang polisi?” tanyaku padanya, sesedikit mungkin menunjukkan ketertarikan. Aku tidak ingin ia salah paham, hanya mencoba menghadirkan aksi dua arah yang baik tidak ada salahnya.

“Oh bukan, aku hanya tenaga pembantu.” Ia menyesap minumannya tenang, seolah kopi itu air tanpa rasa.

Kita tidak terlibat percakapan setelahnya. Aku ingin menyulut batang tembakau lagi, namun mata pemuda ini menahanku. Fokusnya masih sesekali mencuri sebungkus rokok di meja, seolah-olah benda itu sumber kuman yang menjijikkan dan harus segera disingkirkan.

“Mulai merokok dari kapan?” ujarnya antusias sambil melipat dan memangku tangannya di atas lutut. Ia berlagak bahwa kita ini adalah teman lama yang kebetulan bertemu saat sarapan. Sungguh memuakkan, sikap sok pedulinya.

Sambil memunguti pemantik dan sebungkus rokok yang tinggal dua batang, aku menjawab pertanyaannya cuai. “Aku lupa.”

Jaket yang tersampir di punggung kursi segera kutarik. Lekas memakainya dan pergi dari tempat ini adalah pilihan tepat. Pemuda ini sedikit menyebalkan. Pengajuan pertanyaan-pertanyaan tentang hidupku adalah hal yang tidak pernah kusukai. Dan pemuda ini berusaha melakukannya.

“Kopormu unik.”

Mau tak mau, aku ikut menengok kopor di dekat kaki kursiku. Ratusan plester luka dari macam-macam karakter anime berhamburan di sana. Menutupi warna asli hitam yang hanya tertinggal beberapa inchi.

“Rasanya tidak asing, tapi aku lupa di mana pernah melihatnya.” Ada kurioritas ketika pemuda ini memungkasi pernyataannya. Tetapi sial, omongannya kali ini berhasil merebut atensiku secara utuh. Aku batal meninggalkan kursiku, setidaknya sekarang bukan waktu yang tepat untuk pergi.

Ia tahu aku menunggunya. Tahu ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, pemuda ini menipiskan bibirnya dramatis. Jelas ia senang bahwa aku masih tinggal.

“Seorang gadis meneleponku dua hari yang lalu. Dia menyebutkan sebuah alamat dan aku buru-buru mendatanginya. Tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Sayang sekali.”

Punggung pemuda itu menegak, tangannya terjalin di atas meja. Lagi-lagi, ia melirik koporku. Raut wajahnya tetap tenang, tetapi aku melihat bayang-bayang waspada yang bercampur dengan kegugupan. Ia berhasil mengatur romannya dengan baik.

“Memang tidak ada siapa-siapa di rumah itu ketika aku tiba. Rumah itu terlihat tidak dihuni dalam waktu yang lama, tapi. Hal yang paling kuingat dari rumah itu adalah kopormu.” Jemari runcing pemuda ini menuding koporku tanpa ragu. Tatapannya kurang dari satu detik berubah, menatapku meminta pertanggung-jawaban.

Aku mengamati jam tanganku sekilas, buru-buru mengancingkan jaket sebelum keluar kafe. “Aku menunggu tiga menit hanya untuk mendengarkan omong kosongmu, Bung. Buang-buang waktuku saja.”

Dering panggilan telepon teredam dalam koporku, ketika aku berniat menariknya. Kutelengkan kepala ke belakang di mana pemuda ini tersenyum sangat lebar.

“Pasti kau tidak asing dengan nada dering itu, kan?”

Tubuhku mematung seketika. Otakku mengalami gagal fungsi dalam sepersekian detik. Itu adalah nada dering kesukaanku yang sengaja dipilih Grey. Pemuda ini—

“Nomorku ada dalam daftar panggilan terakhir ponsel dalam kopormu. Mungkin, dan beruntung kau tidak sejeli itu untuk memeriksanya. Langsung saja, di mana pemilik ponsel itu?”

Aku masih menata napas ketika pemuda ini menggeser tungkainya mendekatiku. “Kenapa tidak kau cari sendiri?” Aku terkekeh, alih-alih kesal dan takjub karena sudah kecolongan. Pemuda ini yang kepalang jenius atau memang aku yang tolol, entah.

Tanpa izin, pemuda ini menarik pegangan kopor dari genggamanku. Aku tidak mungkin menahannya. Kafe ini kelewat ramai, salah ambil tindakan maka semua mata di sini akan menghakimiku. Bisa-bisa puluhan tinju akan bersarang di wajahku tanpa ampun. Pemuda ini dengan luwes langsung berjongkok di dekat kakiku. “Kode?”

“Tidak ada kode.”

Mata pemuda ini melebar samar. Ia agaknya keberatan pada ocehanku. Tetapi, sejurus ulasan senyum menyebalkan memenuhi wajahnya. “Sayang sekali, kau memang tidak teliti. 000 adalah deret angka paling mudah untuk ditebak. ” Ia mendongak, manik cokelatnya kelihatan kelam dan tak seramah tadi ketika ia menanyakan ketertarikanku pada rokok.

Detik kedua setelah ia menggertakku dengan sorot superior tak terkalahkan, pemuda ini terduduk lemas.

Kemarin malam, aku mengepak barang bawaanku hati-hati. Memasukannya ke dalam kantong plastik gelap agar tak menakuti jika ada yang melihatnya secara tidak sengaja. Aku sudah menyemprotkan banyak parfum agar wangi, padahal sebelumnya sudah mencucinya dengan cairan anti busuk. Aku juga sudah melapisi bahan kedap air di dalam koporku. Berjaga-jaga saja jika ada genangan atau tetesan dari barang bawaanku nantinya. Aku tidak mau merepotkan siapa pun.

“Kau sungguh sakit jiwa!” ia memekik, tangannya gemetaran menutup rapat-rapat koporku lagi. Pemuda ini kelihatannya sangat kaget, takut, dan khawatir jika ada pengunjung lain yang melihat barang bawaanku. Aku tidak peduli sebenarnya, hanya saja. Melihat senyum Grey dalam koporku menjadi tontonan banyak orang membuatku muak.

Yang bisa menikmati senyum Grey hanya aku, meski itu artinya aku harus memotong-motongnya agar bisa kubawa ke mana saja.

.fin

 

 

 

Hai fams! penyakit kepengen posting-ku lagi kambuh. Jadi, maaf ya bawa ff bulan Agustus yang udah basi di wp pribadi, bukannya ff panas yang idenya ngucur kayak air talang. Dan maaf kalau bawa-bawa cast yang sama tiap kali posting, abisnya udah terlanjur jadi muse huhuhu. Pokoknya selamat baca deh :))))

Iklan

3 pemikiran pada “In Pieces

  1. Aduh ga ngerti lagi deh. Antara cover sama isi beda banget bikin aku kaget. Kirain bakal nemu cerita sedih atau gimana gitu ya. Salahku juga ga baca genre wkwk xD

    Tapi pembawaan klasik yang diatur dari awal… menjurus ke kedetektifan setelah si pengunjung lain datang bikin aku ngga terlalu terkejut dengan ending-nya hehe.

    Anyway aku ga ngerti ini kak siapa (lebih tepatnya lupa) jadiii salam kenal lagi aja deh aku niswa 😉
    Keep writing and learning~

    Suka

  2. Its midnight and i read something…

    Ahh… Taehyun will come to my dream. Killing me and pack me in a backpack.

    KAMOI KAMOI KAMOI PLOTNYA NGE TWIST BANGET SUNGGUH KUTAK KUAT MENAHAN MULES BAYANGIN CAIRAN /read : darah/ NETES DARI KOPER TAEHYUN. PLUS BAYANGIN POTONGAN TUBUH GREY YANG MASIH SEMPET TERSENYUM. Subhanallah~~ x_x

    Its totally genius crime.

    Seperti biasalah kamoi mah jagonya ngolah kata. Diksinya kaya banget, penataan katanya rapih serapi Taehyun nge-pack mayat grey. Sampe dikasih parfum lah dikasih pelapis kedap air lah. Tak sekalian kasih formalin biar awet.

    Kiasan sana sini tapi tak membuat reader bingung. Ahh something bangett dahh!!

    Miss you Kamoi! ♥

    xoxo

    Your fans

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s