To Hear You

image

WINNER Song Mino and OC Val

on

To Hear You

by

21browniepoints

Romance

Vignette

G

sequel to To See You

Finger ghostly tracing words.

Perempuan itu biasanya selalu mengetuk, tapi kali ini ia langsung menekan enam digit kode pas dan membuka pintu unit apartemen milik Mino.

Ada bunyi bip pelan, dan Mino yang baru keluar dari kamar buru-buru memasukkan lengannya ke lubang kaus, tapi meleset.

“Val? Danah?” perempuan yang baru masuk itu terkekeh geli, tapi kekehan itu disusul oleh hujan batuk yang mengguncangkan tubuhnya. Ia sampai harus berpegangan pada dinding.

“Katanya sakit, tapi kenapa keluar rumah?” Dari dua nama yang ia duga menyusup ke unit apartemennya, salah satunya benar. Ia tidak mungkin salah menerka, semalam mereka baru saja menghabiskan waktu untuk bicara lewat telepon dan petunjuk bahwa Val bakal segera sakit bermunculan sejelas dering microwavenya.

Val bergeser, bunyi gesekan halus antara sandal rumah dan lantai berlapis vinyl mengisyaratkan gerakan perempuan itu. Ujung-ujung jemari Val yang dingin bersentuhan dengan kulit Mino, merapikan apa yang sejak tadi ia coba lakukan dengan kesulitan.

“Val? Kok kau tidak jawab?” Ia bertanya keheranan. Bagi Mino, salah satu cara untuk mengidentifikasi keberadaan Val hanya dengan suara, dan Val yang tidak bicara sama sekali membuatnya kebingungan.

Mino lalu merasakan tangan memegang bahunya agar lurus, lalu sesuatu menyentuh punggungnya, pelan dan membuatnya merinding.

“Apa sih yang kau lakukan?”

“Sssst!”

Ia mencoba memusatkan perhatian pada cara benda di punggungnya bergerak. Mino akan mengasumsikan itu adalah jari telunjuk Val, menulis pesannya, apa yang ingin ia bicarakan. ‘Ayo ke kafe.’

“Huh? Suaramu habis ya?”

‘Ya.’

“Ke kafe untuk apa?”

‘Aku bosan.’ Respon khas dari Val, ia bisa membayangkan gadis itu bicara sambil menyeret vokal ‘a’, menandaskan kalimatnya.

“Tapi kau sakit dan bukannya bakal lebih baik kalau kau pulang dan istirahat—“

‘Aku tidur 18 jam hari ini.’ jemari di punggung Mino bergerak lagi. ‘Ayolah…’

“Kau sudah minum obat belum? Kayaknya kau demam?”

Sepasang bola mata itu menatap Mino tajam, tapi tak menyampaikan pesan yang diinginkan. Mino malah menoleh ke belakang dengan alis terangkat tinggi, bertanya-tanya.

‘Sudah.’

“Kau yakin mau jalan-jalan?”

Val mencoba membuat suara tanpa tenggorokannya yang sedang radang, hanya keluar gumaman. Ia memutuskan untuk menulis lagi di punggung Mino. ‘Sebentar saja, kita beli kopi dan kue setelah itu aku pulang.’

“Okelah. Asal kau tidak pingsan saja di tengah jalan—“ Val memotongnya dengan melemparkan telapak tangannya ke tulang belikat Mino, menyebabkan suara keras beresonansi di ruangan itu. Mino terkekeh, Val sakit tenggorokan atau tidak, tetaplah Val yang galak.

Mereka bersiap-siap, Mino memastikan Val memakai syal di lehernya, dan Val memastikan Mino mengikat tali sepatunya dengan benar dan tidak bakal mencelakakannya nanti. Mereka berdua keluar dari unit apartemen itu sambil bergandengan tangan.

Tinggal di kompleks apartemen ternama artinya adalah, apa yang kau butuhkan tersedia dekat situ. Jalan menuju kafe kecil serba mahal dan mewah itu tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit dari lobi. Val memegang lengan Mino, seolah kehidupannya tergantung di situ.

Mino tahu, bukan itu alasannya. Untuk menggantikan keberadaan Val yang selalu dideteksi lewat suara, ia memberikan kepastian bahwa ia ada di samping Mino dengan sentuhan. Dan Mino secara pribadi tidak merasa terganggu. Val selalu seperti ini, salah satu pakta tak tertulis yang mereka sepakati bersama sejak dulu.

Begitu mereka memasuki kafe, udara hangat dan aroma kopi serta makanan manis menghantam indera penciuman mereka berdua. Mereka segera berbaris antri di depan konter.

‘Masih ada 5 lagi di depan.’

“Oh, oke. Kau mau pesan apa?”

Val menulis, ‘Chocolate Lava Cake, dan Blueberry Smoothies.’

“Jangan minum es dong, ini mau musim dingin, dan kau sakit tenggorokan.”

Val mengerucutkan bibirnya dan andai Mino menangkap pemandangan itu, mungkin ia sudah iseng menjewer bibir Val hingga terlihat seperti bebek.

Antrian lamat-lamat maju, dan kini mereka berdua berada di depan konter.

“Mau pesan apa?” Suara melodik dari kasir mengisi pendengaran mereka berdua.

Chocolate Lava Cake dan Iced Americano. Val, kau mau minum apa?” Mino setengah menyodok rusuk Val.

Smoothies.’

“Yang lain asal jangan  mengandung es.”

Nampaknya kasir itu terkaget, karena Val sama sekali tidak bersuara tapi Mino menyanggah permintaannya. Val buru-buru mengisyaratkan bahwa lehernya sedang sakit, agar kasir di hadapannya tidak salah paham. Kasir itu mengangguk dan menginput pesanan mereka. “Ada lagi?”

Val menunjuk sebuah nama di menu, tapi lama bersama Val membuat Mino tidak gampang dikelabui. Kasir itu baru akan memasukkan Iced Lemon Tea ke dalam daftar pesanan ketika Mino bersuara, “Kalau dia pesan es tolong jangan dimasukkan.”

Seakan menkhianatinya, batuk muncul dan badan Val sekali lagi berguncang dalam gelombang batuk yang menyiksa. Mino menepuk punggung Val pelan, dan wajahnya seakan bicara, ‘Tuh, kan!’

Val mencubit pinggang Mino hingga ia mengaduh, sang kasir kebingungan akan permintaan keduanya yang bertolak belakang. Akhirnya Val mengganti minumannya dengan Hot Chocolate.

“Makan di sini atau dibawa pulang?” kasir itu bertanya lagi.

‘Makan di sini.’

“Dibawa pulang saja.”

Sekali lagi Val melempar pandangan membunuh ke arah Mino, yang mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang plastik itu pada sang kasir. Val memindahkan tangan Mino ke arah mesin gesek dan setelah menekan pin, mereka baru boleh duduk untuk menunggu pesanan mereka.

Kali ini proses komunikasi mereka berganti. Karena sudah berada di meja, Val menggenggam jari telunjuk Mino dan mulai menggerakkannya sesuai dengan keinginan.

‘Kenapa jadi dibawa pulang?’

Butuh beberapa saat untuk Mino mencerna kalimat itu. “Kau sedang sakit, dan aku mendengar bunyi guntur dari jauh. Sebentar lagi akan hujan, kita tidak mau terperangkap di sini.”

Val terdiam, tapi kini hemari Mino bermain dengan jemari milik Val. Tidak beberapa lama, nama Mino dipanggil. Val menarik jaket Mino pelan, mengandung ajakan, ‘Ayo.’

Sepanjang perjalanan mereka mengonsumsi diam. Tapi apa yang dibilang Mino benar, beberapa kali terdengar bunyi guntur di kejauhan. Hujan tidak lama lagi bakal mengguyur.

Mereka masuk ke dalam unit apartemen milik Mino, Val merapikan meja di ruang tengah dan meletakkan kue serta minuman itu di atas meja. Sementara Mino masuk ke kamarnya, menyimpan jaket dan syal.

Setelah keduanya duduk berdampingan di sofa panjang, barulah Val mulai menyuap potongan kuenya. Ia juga menyeruput coklat panas yang tidak begitu panas lagi. Val melirik gelas plastik penuh embun dan air yang mengambang di dalamnya.

‘Kenapa suka Iced Americano sih?’ Val menulis, kali ini di telapak tangan Mino. Suara televisi terputar dalam volume rendah.

“Hmmm, karena aku suka. Memang kau tidak suka?”

‘Nggak. Esnya nanti mencair, nikmat kopinya jadi hilang.’

“Aku rasa kita tidak bisa setuju akan hal ini.” Mino menyeruput kopinya. “Well, kurasa kau agak benar.”

Kali ini Val akan tertawa tapi tubuhnya langsung bereaksi begitu batuk kembali menyerangnya. Mino menatapnya khawatir.

“Kau habiskan makananmu, sebentar biar aku carikan obat batuk dan demam. Setelah ini, kau minum ya?”

Val tidak menjawab, pria itu bangkit dari sebelahnya. Tiba-tiba Val merasa begah, padahal kue coklatnya masih tersisa setengah. Ia menenggak coklat panas itu dalam sekali teguk, sakarin terasa mencakar tenggorokannya.

Val sedang mengambil minum ke dapur ketika Mino kembali dan tidak mendapati Val berada di sofa.

“Val?”

Perempuan itu segera menghampiri. Kali ini ia tidak mengambil tempat untuk duduk, melainkan merebahkan kepalanya di paha Mino.

“Kau minum dulu ini.”

‘Ini apa?’

“Tenang saja, kotak obatku sudah dilabeli, tidak bakal salah. Ini obat demam dan obat batuk.”

Val menenggaknya dalam sekali telan, ia merasakan sakit kepala mulai bangkit dan menyiksa. Mino mulai menyisir rambut yang bertebaran di pangkuannya. “Kau sih, datang pas sedang sakit, tambah parah ‘kan?”
Perempuan itu tidak menjawab. Setelah beberapa lama, ia bangkit dari pangkuan Mino. Ia buru-buru menulis di punggung pria itu. ‘Aku pulang saja deh, adikku sebentar lagi bakal pulang.’

“Tidak usah.” Ujar Mino santai. Tak lama kemudian suara bel berbunyi, dan interkom menggema. “Hyung? Val Nuna masih di sana?”

Mino bangkit dan membukakan pintu, ia mengenali suara itu. “Masih, untung kau segera datang.”

Val dengan malas mengenakan sepatunya. Matanya mengisyaratkan Jungkook, ‘Dari mana kau tahu kalau aku di sini?’

Jungkook terkekeh, “Mino hyung sms, bilang kau ada di sini. Ayo cepat! Dasar memang Nuna haus kasih sayang.”

Val memelototi Jungkook dan menendang tulang keringnya, sayang tidak kena.

“Val?”

Bahkan sebelum Mino meminta Val memeluknya, perempuan itu bangkit dari duduknya, dan membungkus Mino dalam pelukan.

“Cepat sembuh ya?”

‘Ya.’ Val menulis di punggungnya.

“Cih, kalian. Kayak tidak bakal ketemu lagi saja. padahal besok Nuna mungkin sudah sembuh dan main kemari lagi.”

Mino tersenyum malu, sementara Val melepas pelukannya dan meninju Jungkook, mengakibatkan bunyi ‘buk’ keras. Val mengisyaratkan dengan tangannya, ‘Ayo pulang!’

6 thoughts on “To Hear You”

  1. EEEEEEEEEEEEHHHHHH WOIIIIIIIIIIIII ini manis banget. gitu lo ya kakay sekarang, nulisnya beginian. beneran diabetes deh gue lama-lama. AH LUCU POKOKNYA. cinta banget sama minoval, edisi val lagi mogok ngomong nggemesin banget loh xD ngebayanginnya cengar cengir tp kasian jugaa wkwkwkwk

    ada saran dari w yang mau diutarakan lewat line aja yah. NAIS KAK! Keep writing and paiting<3<3<3

    xx

    Suka

  2. ASTAGA HUBBY!!!
    Walaupun masi sebel karena Mino mati lampu tapi tetep aja… INI SWEET BANGET INI FLUFF BANGET!! HUHU MANA PELUKAN?! MANA?! /nyari sesuatu buat dipeluk/
    terus val disini keliatan cute banget, dan mino jadi orang sabar banget…. mana val anaknya ya….. /gak jadi/
    Huhu sedih sih tetepan tapi aku suka banget! Sering2 nulis minoval ya hubby! Favorite couple until the end! Hahaha

    Makasiiih!!
    all.want.candy

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s