[Vignette] Good Bye

Good Bye cover.png

GOOD Bye

..

Cha Hak Yeon/N (VIXX), Yook Na Na (OC), and Others || Romance, Sad || Vignette || PG-15

..

“Maaf…”

..

..

Na Na, aku mendapat tawaran untuk pergi ke Eropa demi training selama 2 bulan dan mungkin setelahnya aku akan pergi keliling dunia untuk pementasan,’

‘Dan itu artinya aku tidak akan bisa menemuimu dalam waktu yang lama.’

‘Tapi aku tidak mau meninggalkanmu.’

Bibirku bergerak menyebutkan sesuatu, hingga wajahnya menjadi sumringah.

‘Benarkah? Tapi–!’

Aku membantahnya, menambahkan sebuah senyum.

‘Kau yakin, Na Na-ya?’

‘Kita akan baik-baik saja bukan, Na Na-ya?’

Aku mengangguk, membiarkan diriku direngkuh dalam pelukan hangatnya.

‘Terima kasih Na Na-ya! Terima kasih!’

D-5

[03:24]

Sepasang mata Na Na terbuka lebar, beberapa bulir peluh membasahi keningnya, rambutnya pun terasa tak nyaman. Sinar matahari belum berkoar di luar, namun Na Na tak lagi mampu terlelap , dua hari yang lalu berita buruk datang dan menghantuinya hingga hari ini.

Oh, ia benci dengan perpisahan.

..

D-4

[20:09]

“Jadi kau benar-benar akan pergi mengambil kesempatan itu?”

Hak Yeon mengangguk penuh semangat, senyuman terpatut di garis bibirnya—tentu saja begitu, siapa yang tak bahagia bisa mewujudkan mimpi yang selama ini tampak seperti angan imajinasi.

“Setelah sekian lama, akhirnya terwujud juga!” Melihat bagaimana bahagianya sang sahabat, Min Hyuk ikut tersenyum, walaupun ada juga perasaan sedih saat dirinya tahu akan berpisah dengan salah satu sahabatnya.

“Apa itu artinya anggota gang kita akan berkurang?” Pertanyaan Min Hyuk mendapat perhatian khusus dari Hak Yeon. Pemuda bersurai coklat tua menggeleng tak setuju.

Oh ayolah, aku hanya akan pergi selama kurang lebih 3 sampai 4 bulan, kita masih bisa berbincang lewat SNS kan?” Eun Kwang yang juga ada disana mengangguk setuju, percaya bahwa semua akan berjalan baik dan pertemanan mereka tak akan hilang hanya karena jarak.

“Lalu bagaimana dengan Na Na-sshi? Apa ia menerima keputusanmu?”

Sore itu Hak Yeon mendapatkan pertanyaan lain yang mengganjal dalam hatinya, sejak awal ia tahu pertanyaan itu akan ada disana tapi ia tak menggubrisnya, membuang keganjilan dan menggantinya dengan rasa optimis sebelum mantap menjawab,

“Ya, kami pasti akan baik-baik saja!”

..

D-1

[16:45]

“Na!”

“Na Na.”

“Na Na-ya!!”

Terbangun dari lamunan akibat panggilan keras Seol Hyun memaksa tubuh mungil Na Na terlonjak, beberapa pasang mata menatapnya dan Na Na tahu mereka dalam lingkupan tanda tanya pertanyaan.

“Maaf, aku kurang tidur,” nada maafnya terdengar terlalu datar, bahkan seperti tak peduli—khas Yook Na Na yang sedang bad mood—dan mereka semua yang ada disana tahu benar hal itu.

“Kau kenapa? Ada masalah?” Pertanyaan dari Rin memaksa tiga teman baiknya yang lain memandangnya khawatir, sayangnya Na Na terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Aku tidak apa-apa kok,” ia berbohong, namun rasa pertemanan memaksanya memberi fakta dalam dusta, “Aku hanya kurang tidur akhir-akhir ini.”

“Kau sibuk sekali ya?” Entah itu ejekan atau memang benar-benar menunjukkan rasa simpati dari Seol Hyun, Na Na bahkan tidak peduli—hanya ada satu yang ia pedulikan.

Dan ia tak menyukai hal yang ia pedulikan.

“Dia itu sibuk memikirkan Hak Yeon Oppa,” goda Nam Joo dengan tawa genit yang sontak memancing tawa dari sahabat-sahabatnya.

Sayangnya mereka yang ada di sana tak tahu, jika senyum yang Na Na pasang pada bibirnya punya maksud yang berbeda. Yook Na Na memang memikirkannya tapi bukan dalam lingkup positif.

Mungkin ia hanya mencari waktu yang cocok untuk mengungkapkannya.

Mungkin.

..

D-day

[12:15]

“Aku sudah ada di bandara.”

Lalu sambungan telepon terputus dan sesosok pemuda yang menghantui pikiran Na Na muncul menghampirinya—dengan senyum sumringah.

Hak Yeon sangat tampan—kali ini Na Na benar-benar berpikir begitu. Kaus putih dengan jas navy dan celana jeans panjang tampak cocok untuk Hak Yeon, terutama saat musim panas. Na Na juga begitu, tak ingin terlihat biasa-biasa saja, walaupun hanya sebuah dress hijau tua dengan aksen merah muda dan sepasang sepatu hak hitam pemberian lelaki yang kini memeluknya sayang.

“Kau pakai sepatu dariku?”

Na Na mengulum senyumnya sebelum mengangguk, “cocok tidak?”

“Kau manis sekali Na Na-ya!” Pujian Hak Yeon memberi semburat merah muda pada apel pipi Na Na, “Terima kasih sudah datang untuk mengantarku.”

Gelengan perlahan dari Na Na lalu ia melempar senyum tulus pada Hak Yeon.

“Kukenalkan pada temanku, oke?”

Hari itu Na Na kembali mengangguk, mungkin untuk yang terakhir kali.

Sebelum ia menyesalinya nanti.

..

D-day

[12:35]

“Hak Yeon! Segera masuk ke ruang tunggu ya!!”

Mendengarnya Hak Yeon membalas paham, lalu berbalik menatap Na Na, “Sudah ingat apa saja pesan ku? Aku akan meneleponmu setiap hari, aku janji.”

Na Na tahu ini sudah waktunya, ia tak terlalu banyak tersenyum, hanya garis tipis samar, itu juga setengah dipaksakan. Telinganya terasa berdengung, tak dapat mendengar tiap kalimat yang keluar dari bibir Hak Yeon, ataupun tiap nasihat yang pemuda itu beri padanya.

Ini sudah saatnya.

Mengucapkan selamat tinggal.

“Oppa!”

Hak Yeon berhenti bicara, setengah terkejut karena Na Na memanggilnya dengan nada keras. Ia menatap Na Na yang menunduk, belum sempat membuka mulut untuk bertanya, kalimat lirih Na Na memaksanya diam.

Oppa, kita… putus saja ya?”

Diam, hanya itu yang bisa Hak Yeon lakukan, tiap-tiap sudut otaknya bekerja maksimal mencerna apapun kalimat yang baru saja Na Na lontarkan padanya. Sebuah rasa tak nyaman menyebar cepat ke seluruh tubuhnya, dan rasa itu pula yang memaksanya membuka mulut dengan getar tak menyenangkan.

“A-Apa?”

Na Na tak sedikitpun berani menatap mata milik Hak Yeon, memilih menunduk sebelum memejamkan mata lalu menarik napas panjang agar ia mampu membunuh hati dan realitas, “Kita putus ya, Oppa?”

Dua pasang netra mereka bertemu, yang satu terbelalak tak percaya dan yang lain bahkan tak sedikitpun gemetar—tak ada emosi disana—atau mungkin sengaja ditutupinya.

“Apa maksudmu, Na Na?!” Nada bicara Hak Yeon naik drastis, rasa tak percaya dan rasa marah menguasai semua logikanya—lebih tepatnya tak ada logika, hanya pertanyaan demi pertanyaan, kemudian emosi dan amarah.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan tanpa Oppa,” lagi-lagi ia mengalihkan pandangannya, “Aku juga ingin Oppa bisa fokus dengan apa yang selama ini Oppa inginkan.”

“Tapi—!!”

“Aku tidak ingin keberadaanku hanya akan menjadi beban dalam pikiran Oppa.”

Kalimat itu berakhir dengan sebuah kecupan kecil di ujung bibir Hak Yeon. Hari itu ada sebuah alasan mengapa Na Na memakai sepatu hak pemberian si pemuda, ia hanya ingin meninggalkan sedikit jejak dalam memori Hak Yeon setelah mengatakan apa yang hatinya ingin ungkapkan.

Hari itu Yook Na Na memilih membohongi hati dan realita kemudian jatuh kembali ke dalam lubang kesedihan yang dibuatnya sendiri. Lubang yang sama dengan yang ia gali bertahun-tahun lampau, lalu ia tinggalkan setelah bertemu Cha Hak Yeon.

Hari ini ia mengucapkan salam perjumpaan sekali lagi.

“Maaf

Terpaku dengan segala tanda tanya dan rasa nyeri, Hak Yeon membeku. Punggung mungil Na Na berbalik menjauh tak mampu digapainya, sepasang kaki yang berpijak pada tanah ditahan sebuah pertanyaan yang sama, mimpi yang akan jadi realita atau cinta yang tak mau memandang realita?

Itu dilema dalam relung kalbunya.

“Na…. NA NA!!”

Panggilan dalam nada putus asa tanpa derap kaki yang mengejar, Cha Hak Yeon dibendung dilema, sebuah kekecewaan yang sama besarnya dengan harapan—untuk mengejar realitanya.

“YOOK NA NA!!!”

..

D-day

[13:01]

Dua netra kelabu milik Na Na memandang sebuah pesawat yang telah lepas landas, entah menuju kemana. Hatinya terasa begitu berat, namun ia seakan lumpuh saat berusaha meringankan bebannya. Orang yang selama ini selalu meringankan bebannya telah pergi mengejar harapan, dan ia di sana berdiri seperti pecundang yang tak mau memahami realita.

Yook Na Na juga tak paham mengapa ia memilih untuk kembali ke lubang pelariannya. Dua minggu yang lalu ia masih merasakan nyamannya ada dalam genggaman Hak Yeon, ia masih bisa menghirup aroma parfum hadiahnya untuk sang mantan kekasih, dan ia masih dengan canggung duduk berhadapan dengannya. Na Na tak tahu mengapa Hak Yeon tak memberi tahu semuanya lebih cepat, ia tak paham mengapa Hak Yeon berpikir dua kali untuk mengejar mimpinya, ia tak mengerti kenapa Hak Yeon lebih memilih dirinya ketimbang mimpinya.

Na Na tak sedikitpun tahu isi hati milik Cha Hak Yeon.

Hingga tujuh hari yang lalu, di hari yang sama saat Hak Yeon bertanya padanya, ia disadarkan seseorang.

Gadis itu cantik, lebih tua darinya dengan rambutnya hitam panjang, dan ketertarikan yang sama dengan Hak Yeon. Ia gadis yang sopan, mempersilahkan Na Na menunggu Hak Yeon di lobi studio tari. Gadis itu memperkenalkan diri sebagai seorang teman baik Hak Yeon, ia juga yang memberi tahu rasa ragu yang ada dalam diri mantan kekasihnya—dan gadis itu juga yang memberinya mimpi buruk.

“Hak Yeon kelihatannya akan membuang mimpinya demimu,”

“Ke-Kenapa?!”

“Tampaknya dia lebih memilihmu ketimbang mimpinya untuk menjadi dancer professional,”

“Dia terlampau sayang padamu, atau jangan-jangan kau memang tidak bisa pisah ya darinya?”

“Sayang sekali mimpinya harus terpendam karenamu, Na Na-ya,”

“E-Eh?”

“Na Na benar-benar beruntung.”

Sungguh gadis dengan lidah yang pandai membunuh—tapi Na Na juga tak merasa ada yang salah kecuali dirinya. Jika ia seorang aktris dalam drama mungkin perannya adalah seorang gadis muda dengan ego segudang dan cinta yang meluap-luap—yang bahkan mampu menghancurkan mimpi kekasihnya.

Ia tahu dirinya egois—ia membenci perpisahan.

Ia takut akan perpisahan.

Ia takut akan rasa sakit yang ditimbulkan kekasihnya.

Ia takut dikhianati.

Pikiran itu yang terus membayanginya, menyerangnya tiap malam. Di saat mimpi buruk orang lain akan berakhir ketika terbangun, mimpi buruknya justru dimulai. Yook Na Na tak mau menjadi antagonis, tapi ia tak mau terluka, ia tak mau terperosok dalam kesedihan menyakitkan.

Berbalik untuk pergi, air matanya jatuh ditemani puluhan kawan yang lain, tak ada emosi dalam raut wajah. Rasa bersalah yang dikalahkan ego dan rasa lega yang salah, kali ini ia yang mengucapkan salam perpisahan dan kata maaf.

Good bye, Hak Yeon Oppa.”

..

END.

A/N: HAI!!! SAYA BALIK!! /gak ada yang nyariin/ jadi karya ini adalah kelanjutan dari Rain, Sofa, & You yang punya timeline udah lama sekali, cuma karena saya malas jadi baru bisa post setelah dirombak berkali-kali, mungkin bahasa dan diksinya terasa dangkal karena wabah-wabah WB yang masih melanda jadi mohon maaf sekali. Selain itu saya juga mau minta maaf karena ini sangat-sangat Nana!centric, atas perhatian dan waktu yang diluangkan untuk membaca saya ucapkan terima kasih!

P/S: Terima kasih juga untuk Rin yang dengan baik hati mau membeta karya rongsokan ini…. Makasih cantik!! ❤

All.Want.Candy © 2015

7 thoughts on “[Vignette] Good Bye”

  1. Yah… jadi Nana ama Hakyeon… udahan? udahan gitu? putus?
    Yah..
    Yah… jangan dong… tapi mereka balikan apa gimana?
    Huwaaaaa sungjaeeee /?/ lah /?/
    Maapkan komenku yang isinya mewek-mewek ini yak, but aku menunggu nana-hakyeon ni sekali dan tau2 pas buka post ini, lha kok putus huhuhu /lah mewek lagi?/
    Diksimu oke kok na oke.. tidak ada masyalah.. yang bermasalah adalah sungjae /lah ini apalagi kok?/😄

    maap yak ini komen nyampah beut😄

    Suka

  2. nana disebut banyak banget emang sampe bawah nananananana terus wkwk /yateruskenapa
    duh kok diputusin sih, pdhal omongan si cewek itu ga kebukti, hakyeon bukan milih kamu doang, na, dia milih duaduanya! ntar juga kalo dia jadi world tour kan kamu bakal diajak, lumayan kan /nah
    duh, galau mu non-sense banget na, sayang banget gitu /sebenernyasihakuygpatahhati soalnya kasiyan hakyeon pasti makin kepikiran disana aaaaa :”
    wk, baru ngikutin ini N-nana-nya dan udah diambang putus, nasib emang.
    Riseuki disini, 94L. salam kenal ya!

    Suka

    1. IYA MAAF!! soalnya emang namanya nana sih…
      maaf Nana emang baperan jadi gitu, yah boleh lah diajarin biar nggak baperan /eee
      Salam kenal juga kak Riseuki! Dea 95Lines!
      Makasih udah mampir Kak!❤

      Suka

  3. mellow-nya nd hok banget…kok putus sih…/tisu mana tisu/padahal Hak Yeon x Nana salah satu copel kaporit saia lho..setelah lama nunggu copel ini sekali dateng ujung2 putus dooooohhhh/mewek dipojokan/abaikan/

    diksinya keren kok gk belibet mudah dicerna…
    /maapkan komen gk jelas ini/rusuh/

    Suka

  4. mellow-nya nohok banget…kok putus sih…/tisu mana tisu/padahal Hak Yeon x Nana salah satu copel kaporit saia lho..setelah lama nunggu copel ini sekali dateng ujung2 putus dooooohhhh/mewek dipojokan/abaikan/

    diksinya keren kok gk belibet mudah dicerna…
    /maapkan komen gk jelas ini/rusuh/

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s