2015

2015

2015

a ficlet by gyeeopta

< The sequel of 2010. >

starring.

Junhwe Goo & Jisoo Kim

genre.

hurt, sad, romance

So, do right people with wrong timing ever get a second try?

Junhwe tidak lagi mengharapkan kekuatan untuk menghentikan waktu. Sekarang, hatinya terus mengerang untuk menghentikan perasaan.

Disangkanya, pertemuan keduanya dua tahun yang lalu adalah yang terakhir. Namun, semua itu salah. Kini, Junhwe dan Jisoo tengah duduk bersisian di atas semen kotor. Angin musim gugur bertiup pelan menerpa kulit – yang Junhwe ingat – lembut milik Jisoo. Tak ada lagi jemari yang bertautan  atau derai tawa milik si gadis yang selalu Junhwe suka. Yang ada hanyalah kecanggungan yang menggantung di udara.

Benar, keduanya telah mengakhiri hubungan semenjak 4 November 2013.

Alasan Jisoo sungguh tak dapat diterima akal. Ingat benar Junhwe dengan kristal bening yang menetes dari pelupuk Jisoo. Tak hentinya gadis itu mengucap kata maaf dengan gemetar. Katanya, Jisoo hendak melanjutkan studinya di luar negeri. Faktanya, Jisoo mencintai pria lain yang kini sudah resmi menjadi tunangannya.

Ironisnya, Junhwe masih mencintai Jisoo  meski luka yang sudah ditoreh tak lagi terhitung.

Kebetulan yang sangat mengiris, memang. Junhwe hari itu pergi ke atap sekolah lamanya karena merindukan Jisoo. Sedangkan Jisoo pergi untuk menonton langit senja sambil menunggu tunangannya pulang kantor yang berada di sekitar sana.

“Jisoo,” panggil sang adam, tetapi arah pandangnya masih terpaku pada langit kelabu. Raut kecewa Jisoo tergambar jelas dalam benak Junhwe mengingat mentari sama sekali tak terlihat sore itu. “Kau.. Apa kau tidak pernah mengingatku ketika berada di sini?”

Satu,

Dua,

Tiga.

Jisoo bungkam.

Junhwe juga tidak menuntut banyak. Pertanyaan tadi memang terdengar aneh. Tidak mungkin Jisoo akan menjawab apa yang Junhwe harapkan, mengingat kini baik fisik dan mental mereka seolah terpisah dengan tembok bata menjulang tinggi.

“Junhwe.”

Suara lembut itu membelah fokusnya, membuat Junhwe dengan cepat menoleh ke arah suara. Sungguh, Jisoo masih sama cantiknya. Tidak banyak yang berubah. Tubuh mungil itu, wangi vanilla, serta setiap fitur wajahnya yang menurut Junhwe sempura. Semua persis sama.

“Kau masih bisa berdansa?”

Pertanyaan yang lolos dari kedua belah bibir Jisoo benar-benar menggelitik, membuat Junhwe tak dapat menahan senyumnya. Namun, senyum yang terlukis lebih terlihat menyedihkan ketimbang senyum tulus.

“Tidak. Pertama dan terakhir kali aku berdansa adalah lima tahun yang lalu.” Kilasan memori itu kembali hadir, membuat hatinya berdenyut. Pria itu jelas terlihat tengah menahan tetes air matanya agar tidak merembes. “Apa yang kau harapkan dari pengalamanku yang minim tersebut?”

Jisoo terkekeh kecil, meski terkesan sangat memaksa.

Junhwe bangkit dari duduknya. Kepalanya mengadah, masih menatap langit kelabu. Dulu, keduanya berdansa di bawah mentari sore. Sekarang, langit seolah dapat merasakan kepahitan Junhwe.

Sang adam menoleh ke arah Jisoo. Ia mencoba menarik kedua sudut bibirnya, berusaha sangat keras agar senyum yang dipamerkan tampak tulus. Diulurkan tangan besar miliknya, berharap Jisoo akan menerima ajakannya.

Sayang, Jisoo hanya memandang pria itu aneh, sama seperti sikap Junhwe lima tahun yang lalu. Junhwe masih menunggu, tetapi Jisoo tak kunjung menerima uluran tangannya. Tatapan Jisoo seolah menabur garam di atas luka Junhwe yang masih belum kering. Benar-benar perih. Bahkan, tanpa sadar, Junhwe menitikan air matanya.

“Dansa?” Pria itu tak sanggup lagi membuat kalimat lengkap. Hanya satu kata itu yang terlontar, tetapi Jisoo masih tetap diam.

“Maaf..” Gumam kecil dapat ditangkap telinga Junhwe, membuat tungkai atas pria itu refleks kembali ke sisi tubuh. Jisoo lantas bangkit dari posisinya, lalu berjalan ke luar dari atap sekolah.

Junhwe masih membeku dalam posisinya selama beberapa menit. Seakan mengerti bagaimana perihnya hati Junhwe, langit sedikit demi sedikit mulai menangis menemaninya. Tetapi, Junhwe tidak ada niat barang sedikit pun untuk berlindung. Ia hanya diam di sana, menangisi dirinya sendiri dan lukanya yang tak kunjung sembuh.

“So do the right people with wrong timing ever get a second try?”

“No. You can’t expect someone who broke you to fix you. It’s just giving them another chance to break it all over again.”

fin.

<A/N>

Comment is needed!

3 thoughts on “2015”

  1. Ini apaan ko jadi sad begini padahal yang 2010 manis banget. 😭😭
    Sebal bacanya, Jisoo ko tega sama Junwhe. Btw jadi inget pengalaman pribadi, hfft. I feel you, June. :” *peluk june erat erat*

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s