[Vignette] Chaplin Imparfaite

rhweu

by jojujinjin (@laissalsa on Twitter)

.

starring Seventeen’s Wonwoo & You

Vignette // T // Angst, PantomimeActor!AU, Hurt/Comfort, Slice of Life, Romance, Sad

.

Dan karena kisah seorang Wonwoo bukan salah satu definisi dari ketidakadilan hidup

.

.

.

Langit gelap melaung. Tiap suara yang tercipta olehnya diawali dengan garis-garis binar membentur muka bumi. Ditemani jutaan butir air yang menghantam tanah secara brutal. Kanopi gerai tak berpenghuni mulai dipadati pejalan kaki; aku salah satunya, mendekap tas jinjing erat seraya menangkap satu percakapan yang tengah berlangsung di hadapanku. Pelakunya dua orang remaja perempuan tanggung, mengeluhkan cuaca hari itu.

Aku secara tidak sengaja menyimak. Sesekali melepas pegal di kaki dengan menggerakannya sedikit, atau membiarkan bagian belakang seragam putihku mencium tirai aluminium toko yang berdebu. Sepasang netra kadang kala meraup gelap, tanda lelah mulai menyapa. Tapi telingaku tetap setia mendengarkan obrolan dua gadis tersebut yang entah sejak kapan mulai serius.

Lalu telepon genggamku bergetar di saku rok, sontak membuatku kembali sadar seutuhnya. Melenguh sedikit, kuraih benda tersebut. Layarnya menampangkan seutas nama yang dengan bodohnya kulupakan. Mataku melebar kaget.

Jeon Wonwoo.

“Oh, crap!” desisku.

Lekas aku keluar dari naungan kanopi. Tak mempedulikan langit yang masih menitis, juga dua orang yang kulintasi seenak jidat. Semoga saja aku bisa meminta maaf pada mereka lain waktu.

Saat seperti ini, aku mendadak kesal pada sifat pelupa yang melekat pada diriku.

Tungkai-tungkaiku yang payah dalam berlari kupaksa keluar dari zona nyamannya. Memijak kubangan air yang sudah banyak terbentuk, kulirik arloji yang menunjukkan pukul empat lewat lima puluh tiga menit; memutar bola mata menyadari sisa tujuh menit menuju tepat jam lima sore. Berdiri di tepi zebra cross, fokusku beralih ke lampu lalu lintas yang masih menyala hijau. Dan hujan yang justru bertambah deras seolah menambah buruk keadaan; nanti malam pasti aku demam. Atau setidaknya, aku pasti terkena flu. Setelah warna merah menyambar indra pengelihatanku, aku segera menyebrang. Tak acuh pada tatapan aneh orang di sekelilingku yang menggenggam payung di tangan—tentu saja. Kalau mereka akan memberikan payungnya padaku jika kuladeni sorotan mata mereka untukku, sih, tak apa. Ini, ‘kan tidak.

Lalu tiba-tiba saja gedung teater Truilion sudah berada di hadapanku. Aku menghela napas lega. Segera saja kulangkahkan kaki ke dalam, disambut oleh kehangatan Truilion yang di panggung megahnya akan berlangsung sebuah pantomim rutin sebulan sekali—dan sekali lagi tatapan aneh massa dalam antrean memasuki venue Truilion.

Menatap kosong jam tangan yang menunjukkan pukul lima lewat delapan menit, aku melangkah awas melewati pintu utama pangung Truilion. Menuju ke belakang panggung berbekal sebuah kartu staf di saku. Tanganku saling bergesekan meski efeknya tak seberapa; aku tetap kedinginan dan langkahku pun sempoyongan.

Jemari bergerak menyibak sedikit tirai hitam yang menjadi destinasi lorong, kucondongkan kepalaku ke dalam. Dan netraku menemukan pemandangan sibuk orang-orang yang berlalu lalang dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah memakai nametag hasil pemberian Wonwoo, aku memberanikan diri melangkah ke dalam. Pun meski kali itu bukan pertama kalinya, aku masih sering canggung berdiri di tengah keramaian kerabat Wonwoo tersebut. Yang tengah menyiapkan pentas untuknya, untuk Wonwoo.

“Astaga, Noona!”

Celingak-celinguk sejemang, kutemukan tangan yang melambai serta cengiran seorang pria berpostur tinggi yang menatapku dari kejauhan.

Aku tersenyum sumringah.

“Mingyu!” balasku, terpogoh-pogoh ke arahnya.

“Mencari Wonwoo, hmm?”

Aku nyengir juga, mengangguk  kelewat senang.

“Dia sudah mau naik ke atas panggung, lho. Kau nonton langsung saja, Noona. Sebuah kursi di deret C sudah dipesannya untukmu.”

“Benarkah?” melembarkan senyuman, aku berterima kasih pada Mingyu—kru properti yang sudah kukenal sejak pertama kali Wonwoo menjadi aktor pantonim di Truilion tujuh bulan lalu.

Terbirit aku menuju deretan kursi Truilion lewat pintu timur. Lincah melewati kerumunan yang sebentar lagi cukup duduk manis di atas kursi, berharap-harap cemas pentas hari itu akan berlangsung sempurna. Lagi-lagi kuselipkan kepala lewat tirai hitam yang menjadi batas antara venue utama dengan backstage; khalayak sudah memenuhi kursi empuk Truilion, tinggal beberapa row balkon saja yang masih tersisa beberapa dan sebuah bangku di baris ketiga dari depan. Tepat di tengah.

Lalu aku duduk di sana. Menghabiskan empat puluh lima menit kedepannya menonton pertunjukan pantomim yang dibintangi Jeon Wonwoo. Membanggakan akting hebatnya.

Tapi untuk yang terakhir … sebetulnya tidak juga.

.

.

.

Sandiwara tanpa suara yang sudah biasa dilakukan Wonwoo toh tak pernah membuatku menganga sebegitunya. Memang tiap gestur ala Chaplin-nya terlihat begitu alami dan Wonwoo sesungguhnya tak pernah benar-benar berusaha; selalu tampil apa adanya, dengan sedikit saja pembekalan. Maka jadilah ia seorang artis kialan termahsyur di seluruh penjuru kota. Digemari para khalayak penggemar drama mau pun pertunjukan teater pantomim.

Karena aku bukan mereka yang melihat Wonwoo dalam dandanan hitam putih serta sorot benderang pijar panggung, aku melihat Wonwoo dengan setelan piyamanya yang payah serta punggung ringkihnya yang tengah memasak ramen instan di dapur kondominiumnya. Tapi orang-orang tidak akan pernah tahu; karena punggung itu selalu terlihat gagah di atas stan berlantai kayu ulin.

Dan aku tak mampu melakukan apa pun untuk itu selain ikut mengapresiasi peluh yang membanjiri tubuhnya dengan tepukan tangan, gelak tawa, pun sorak sorai penonton di Truilion manakala badannya membungkuk tanda pentas sudah selesai.

Kadang aku sedih.

Aku benci.

Entah aku menyatakannya dengan tetap menempelkan bokong di kursi bahkan saat semua orang memberikan standing applause untuknya. Atau pergi lima menit setelah pentas dimulai. Namun malamnya selalu berakhir sama, dengan aku berada di bagian belakang motornya. Kepala menyandar ke tulang belakang yang menonjol dari jaket kulit yang ia kenakan.

Mungkin aku kekanakan, tapi—

Ctakk!

Sebuah jentikan keras tepat di depan muka sukses membangunkanku dari alam bawah sadarku. Aku mengusap muka, lantas mendapati Wonwoo melipat sepasang lengannya di dada. Beberapa meter jauhnya dari tempat aku mendudukkan diri. Bibir bergincu hitamnya mengerucut menggemaskan, diikuti titik fokus yang tidak mengerumuniku. Melainkan ke arah lain, namun sesekali berlabuh di seulas senyum yang kulukis juga.

Ngambek?” tanyaku, yang dibalasnya dengan putaran bola mata darinya.

Venue Truilion sudah lengang. Aku sempat merebahkan punggung pada sandaran kursi sejenak sebelum bangkit berdiri menghadap Wonwoo.

Ingin kusegera lari ke arahnya, menghamburkan diri ke tangannya yang biasa terentang lebar ketika ada aku di hadapannya. Namun kali itu Wonwoo melangkah duluan—meski terhenti setelah semeter tersisa. Lekas ia berlagak seperti ada tembok yang menghalangi jalannya. Air mukanya berubah kebingungan.

Aku tertawa.

Memang, aku tertawa.

Tapi Wonwoo tak sadar mataku mulai berair dan tanganku bergetar menahan amarah.

Aku rindu, namun Wonwoo tak bertanya.

.

.

.

“Wonwoo, tadi aku berteduh di dekat kedai kopi yang biasa aku kunjungi.”

“Wonwoo, kemarin aku jatuh tergelincir di toilet sekolah, tahu.”

“Aku tidak lapar.”

Huh? Tidak usah.”

Adalah suaraku yang memenuhi kamar kecil Wonwoo tatkala waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Badan saling mengait satu sama lain, kurasakan jemari Wonwoo menyusuri rambut panjangku. Kami berdua bersembunyi di balik selimut tebal, menghalau dingin dengan saling merapatkan diri. Menyatukan kelima jari di atas permukaan gebar.

Ainku menatap kosong tautan jemari kami.

“Wonwoo,” ujarku, volume makin mengecil. “Aku menyayangimu.”

Lalu ketika tangan kirinya berhenti menyisir suraiku, tangisku pecah. Ia melepas kaitan tangannya denganku dan menarikku ke rengkuhannya. Rasanya hangat. Menyenangkan. Memabukkan.

Lalu kusebut dua kata itu lagi di tengah sesunggukan. “Aku menyayangimu, Wonwoo.” Pelukan itu mengerat.

Lalu kurasakan rambutku dijatuhi tetes air. Mendongakkan kepala, Wonwoo ternyata tengah memejamkan mata. Sebutir tirta menggantung di ujung hidungnya yang segera kukecup. Aktor pantomim kesayanganku yang hebat tengah menangis, mungkin sekali lagi menyadari kalau ia tak akan pernah bisa membalas segala frasa yang kutujukan padanya langsung lewat bibir. Mungkin sekali lagi tahu kalau aku ingin namaku terbentuk dari getaran pita suaranya.

Orang-orang menertawakan kebisuannya, sementara aku tiga ratus enam puluh derajat berkebalikan karena Wonwoo terlalu hebat dalam memainkan perannya sebagai Charlie Chaplin yang lain. Bukan main; tidak hanya di bawah gemerlap lampu panggung, namun seharian. Sebulan. Setahun. Seumur hidupnya.

Tapi aku bisa apa, kalau mereka mengacungi jempol atas segala diam Wonwoo, sedang aku sering kali hampir putus asa karenanya? Karena aku bukan mereka yang mendengar gelak tawa orang di sekitarnya ketika Wonwoo sedang berkiprah di atas panggung, aku selalu mendengar diamnya. Dan karena kisah seorang Wonwoo bukan salah satu definisi dari ketidakadilan hidup; toh khalayak ramai mengaguminya sebagai aktor azmat di dunia panggung pantomim yang senyap.

.

.

.

Iya, tadi siang aku rindu, namun Wonwoo tak bertanya.

Tak mampu menanyakannya.

Meet Wonwoo; my imperfect Chaplin.

Fin.

.

.

.

A/N: lais akhirnya bikin vignette setelah sekian lama, yuk tumpengan dulu….. tapi ini 1) unedited ver. 2) saya susah payah mencoba mengais kepingan gaya nulis saya dulu 3) saya ngerasa ga puas sama endingnya masa 4) udah…

semoga hari kalian menyenangkan. feedback would be nice! xx

9 thoughts on “[Vignette] Chaplin Imparfaite”

  1. sori ka aku salpok bayangin wonwu ala chaplin gitu😂 kukira mas wonwu tu ya cuek gitu eh ternyata endingnyaaa😭 aku gakuna sama yang gini😭

    hai ka💕 syalam kenal, pira 01liner💕

    Suka

  2. Itu wonwoo ternyata bisu yah kukira cuma dipanggung aja wonu begitu ga twunya..tapi ini manis bgt lah (╥ω╥`) apalagi pas adegan diranjang itu (?) Owh ga kukulah bayanginnya. Btw aku reader baru dsini. Ari 91 line. Salam kenal

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s