[4 of 4] Things Between Us: Friends Don’t Do This

tbu-4

a movie series by tsukiyamarisa

starring [SEVENTEEN] Joshua and [OC] Mia duration Vignette-series genre Friendship, Fluff, Romance rating 15

.

previous part(s)

part 4 of 4

 FRIENDS DON’T DO THIS

Friends don’t do that too, Mia.

You know, right?

.

.

.

“Hujan. Aku jadi tidak bisa pulang.”

Pernyataan itu singkat; menyambut kemunculan Mia di ruang depan rumahnya. Memaksa alis untuk berjungkit naik, selagi dirinya meletakkan nampan berisi pai apel dan jus jeruk ke atas meja. Sedikit bingung, gadis itu langsung menoleh ke arah Joshua. Mengamati sang lelaki yang tengah memandang ke luar jendela, ekspresi datar yang terpampang sukses membuatnya makin bertanya-tanya.

“Josh?”

Tidak ada jawaban.

Joshua masih setia mengarahkan irisnya ke luar sana, mengikuti pergerakan rintik hujan yang menderas. Ia tidak berkata apa-apa, tidak ketika Mia bahkan sudah mendudukkan diri di sampingnya dan membiarkan jemari mereka yang berada di atas sofa sedikit bersentuhan. Seolah-olah ketenangan yang terbentuk akibat hujan telah menyusup masuk, mendorong keduanya untuk menikmati bunyi ‘tik-tik-tik’ yang ada tanpa interupsi.

Namun, Mia tidak membiarkan keheningan itu berlalu lama.

“Ada sesuatu yang perlu kamu kerjakan, ya?”

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu, lantas menoleh sekilas untuk menatap Mia. Terlihat ragu sejenak, tetapi akhirnya bergumam, “Tidak juga.”

“Lalu?”

“Entahlah, aku hanya—“

“Kamu sendiri yang minta diajak kemari kalau ibuku membuat pai apel,” potong Mia, sedikit memasang ekspresi cemberut. Memaksa Joshua untuk mengulas sedikit senyum, lalu beranjak untuk meraih sepiring pai dari atas nampan. Dengan perlahan memotong dan menyuapkannya ke dalam mulut, sementara Mia masih setia mengamatinya.

“Bagaimana?”

“Enak. Soalnya, bukan kamu yang membuat.”

Dalam keadaan biasa, Mia tahu bahwa ucapan itu dilontarkan sebagai canda. Joshua memang suka sekali menggoda kemampuan memasaknya—yang menurut Mia sendiri, tidak buruk-buruk amat. Setidaknya ia masih bisa membuat mie, nasi goreng, atau telur, kok. Itu sudah cukup baginya, dan alasan itu pulalah yang nanti akan digunakan Mia untuk melanjutkan perdebatan.

Tapi, hari ini, ia tidak bisa melakukannya.

Masalahnya, candaan tadi tidak terdengar seperti candaan. Tak ada nada usil di sana, pun dengan kekeh tawa yang mengikuti. Joshua bahkan sudah kembali memandang hujan yang turun di luar sana, mimik wajahnya seolah berharap agar titik-titik air itu bisa cepat lenyap dan ia bisa lekas pulang. Ini aneh, dan bohong kalau Mia berkata bahwa ia tidak cemas.

Kurang lebih dua bulan sudah berlalu sejak peristiwa itu, hari ketika Joshua berkata bahwa mereka bisa menjadi apa saja yang mereka mau. Dan sejak saat itu juga, mereka tak pernah repot-repot membahas atau meributkan apa sebenarnya status di antara mereka. Toh, semuanya berjalan baik-baik saja. Keduanya masih melewati rutinitas yang tersaji seperti biasa; walau tentunya, ada saat di mana Mia tak bisa memandang lelaki itu sebagai sekadar sahabat.

Lagi pula, mana bisa ia tetap bersikap biasa-biasa saja setelah mengetahui isi hati Joshua?

Pernyataan waktu itu sukses membuat sang gadis menyita waktu Hoseok—si kakak—semalaman penuh. Bercerita panjang lebar, yang lalu berujung pada sebuah tanya singkat nan telak.

“Kamu sendiri, suka dengannya atau tidak?”

Hoseok hanya melontarkan kalimat itu sebagai penutup, memasang cengiran sebelum beralih masuk ke kamarnya dan terlelap. Meninggalkan Mia termangu seorang diri, tak bisa menjawab sampai beberapa hari lamanya.

Mia pikir, ia mulai menyadari hadirnya perasaan itu kala Joshua merangkul pundaknya di tengah acara jalan-jalan mereka. Suatu kebiasaan, namun tak lagi terasa bagai sesuatu yang normal lantaran Mia tak bisa berhenti melirik lelaki itu. Ia sudah tahu alasan di balik semua perlakuan Joshua ini, jadi wajar ‘kan, kalau ia merasakan sedikit debaran aneh?

Hal yang sama terjadi ketika tangan mereka bertautan, pandang bertemu, atau di saat keduanya bertukar pesan hingga larut malam. Ada sesuatu yang berbeda di sana, tak biasa namun juga tak menganggu. Alih-alih, Mia menyadari hadirnya rasa senang itu. Nyaman, tapi tak membosankan lantaran Mia tahu bahwa dirinya mulai memandang Joshua sebagai seorang lelaki.

Jadi, jawaban atas pertanyaan Hoseok itu agaknya terlampau jelas, bukan?

Mia menyukainya, tetapi ia tak punya cukup keberanian untuk menyatakan hal itu secara langsung—kalau ia tidak lagi menganggap Joshua sebagai teman. Kata ‘kekasih’ masih terasa berat dan canggung untuk diucapkan, terlebih karena Mia juga masih teringat dengan kata-kata Joshua soal zona nyaman itu. Sang gadis sama sekali tidak tahu apa isi pikiran lelaki di sampingnya. Ia tidak bisa menebak apa mau Joshua, sehingga—

“Aku tidak marah padamu, omong-omong.”

“Apa?”

Meletakkan piring dan garpunya ke atas meja, Joshua beringsut lebih dekat dan mengulurkan tangannya untuk menyelipkan seberkas rambut Mia ke balik telinga. Tersenyum kecil, lalu kembali berucap, “Aku tidak marah. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu, itu saja.”

Pandang mereka bertemu beberapa jenak lamanya, detik-detik waktu yang membuat Mia merasa bahwa Joshua bisa membaca seluk beluk pikirannya. Bahkan, seolah menegaskan, Joshua membiarkan ibu jarinya menyapu pipi kanan Mia sebelum ia menarik diri. Bermaksud untuk kembali ke dalam keheningan seperti tadi, tetapi Mia buru-buru menggagalkan niat tersebut.

“Boleh aku tahu?”

Hm?”

“Apa yang sedang kamu pikirkan,” tambah Mia, menelengkan kepalanya sedikit. “Mau berbagi denganku?”

Joshua hanya mengangkat sudut bibirnya sebagai jawaban.

“Itu artinya ‘iya’?”

“Itu artinya aku sedang mempertimbangkan jawabanku,” ralat Joshua, tangan terangkat untuk mengusap tengkuk. “Ini… ini konyol, Mia. Apa yang sedang kupikirkan itu konyol. Kamu pasti akan menertawakanku.”

Mendengarnya, Mia tak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening. Jawaban itu bukan hanya membuat ia makin penasaran, melainkan juga heran lantaran ekspresi Joshua tadi jauh dari kata konyol atau menggelikan. Sikapnya yang terlihat ingin menjaga jarak pun tak membantu, karena sekarang ia sudah membiarkan jemari mereka bertautan.

Mia bingung.

Apa kiranya yang terjadi, yang membuat sikap Joshua bisa berubah-ubah dalam kurun waktu sesingkat ini?

“Kalau begitu, aku bertanya dan kamu menjawab.”

Memutuskan untuk berhenti berbasa-basi, Mia menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan memandang Joshua tanpa berkedip. Berpikir sebentar, selagi Joshua mengembuskan napas panjang tetapi tak menolak usul itu.

“Pertanyaan pertama. Apa ini ada hubungannya denganku?”

Mia tak butuh waktu sampai lima menit untuk menyusun daftar pertanyaannya, melontarkan hal pertama yang ingin ia ketahui dengan nada seserius mungkin. Jelas sedang berusaha untuk menutupi debaran di hatinya yang makin cepat, terlebih ketika Joshua menarik lengan Mia yang tengah bersedekap dan menggagalkan usaha gadis itu untuk terlihat mengintimidasi.

“Sudah kubilang aku tidak marah padamu,” gumamnya, lamat-lamat mengisi ruang di sela-sela jemari Mia. “Bukan kamu penyebabnya—“

“—tapi ada sangkut pautnya denganku, ‘kan?”

Satu anggukan, dan genggaman itu sedikit mengerat. “Yeah.”

“Baik. Kalau begitu, apa penyebab sebenarnya?”

“Haruskah aku—”

Yes,” sahut Mia tanpa ragu, berpura-pura hendak melepaskan tautan jari mereka seraya menambahkan, “Josh, tolong jangan buat obrolan ini berputar-putar atau aku akan menjejalimu dengan pai apel.”

“Tapi, ini konyol.”

“Aku akan mendengarnya lebih dulu, baru memutuskan apakah itu konyol atau tidak.”

“Mia….”

“Hong Jisoo.” Mia membalas, menekankan tiap suku kata yang ia ucapkan sementara Joshua hanya bisa pasrah. Gadis itu hanya akan menggunakan nama Korea sang lelaki ketika ia benar-benar tak ingin berkompromi, pertanda bahwa rasa penasarannya sudah tak bisa ditahan lagi. Mia yang ia kenal memang bukan gadis egois, tetapi gadis itu tidak akan berhenti sampai semua tanyanya mendapat jawaban.

Dan sebagai seorang lelaki, tentu saja Joshua tidak mau mengecewakan Mia. Tidak setelah sikap diamnya membuat Mia salah sangka, padahal—seperti yang sudah ia bilang tadi—penyebab dari semua ini hanyalah hal kecil dan kekanak-kanakan.

“Mau menjawab tidak?”

“Aku—“ Joshua terdiam, sibuk berkontemplasi. Ia ingin jujur, tapi kata-kata itu terdengar menggelikan—bahkan di dalam pikirannya sendiri. Terlebih, perkara yang tengah berkecamuk di dalam otaknya ini hanya akan membuat dirinya dicap sebagai lelaki posesif. Joshua tidak ingin Mia berpikir seperti itu, tidak karena—

“Sekonyol apa sih, memang?”

Joshua mendongak. “It’s really ridiculous.”

“Why?”

It’s just—“ Joshua menggeleng-gelengkan kepalanya, melepas genggaman tangan mereka demi menyambar gelas jus di atas meja. Meneguknya cepat-cepat hingga tandas, lalu berujar, “Imjealouskay.”

“Hah? Apa?”

Seeing you with that person,” jelas Joshua lagi, kali ini setelah menarik napas dalam dan berusaha menyembunyikan ekspresi malunya. “I don’t like it, okay?”

“That person?” Mia mengulang, bingung. “Siapa yang kamu maksud, Josh?”

Mia benar-benar tidak tahu, sehingga ia menanyakan hal itu tanpa ada maksud untuk meledek atau membuat lelaki di sampingnya merasa frustasi. Namun, mana ia tahu kalau Joshua sudah menahan isi hatinya itu sejak seminggu lalu? Mana ia tahu kalau Joshua diam-diam merasa kesal, lantaran lelaki itu juga sudah tidak menganggapnya sebagai sahabat semata?

“Teman kuliahmu.” Akhirnya Joshua berkata, mengempaskan diri ke sandaran sofa dan melirik reaksi Mia dari sudut mata. “Caranya mendekatimu, itu mengingatkanku akan mantan kekasihmu. Seolah ia tidak serius, dan itu membuatku kesal. Kamu tahu ‘kan, aku benci jika ada seseorang yang sengaja menyakitimu atau mempermainkanmu. Makanya, aku tidak ingin—“

“Kamu cemburu?”

Kesimpulan itu singkat, diucapkan Mia sambil menahan kikik tawa. Reaksi yang sukses membuat Joshua bungkam, sedikit cemberut lantaran tidak dianggap serius. Apakah Mia tidak tahu kalau ia sudah memendam hal ini selama berhari-hari? Apakah ia tidak bisa memahami rasa khawatirnya, kecemasan jikalau kejadian semasa SMA kembali terulang?

“Kubilang juga apa.” Satu tarikan napas, dan Joshua sibuk menekan-nekan pelipisnya dengan sebelah tangan. “Ini konyol dan kamu—“

“Aku tidak menganggapnya konyol.”

“Kamu tertawa.”

“Aku tertawa karena aku tidak menyangka seorang Joshua bisa cemburu,” jelas Mia, menggantikan kikikannya dengan senyuman. “Dan tidak, itu tidak konyol. Menurutku itu… well, it’s kind of sweet?

Sweet, huh?

Joshua tidak langsung menanggapi. Ia hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menyadari bahwa di sampingnya, Mia juga sudah ikut membungkam mulut. Pipi gadis itu sedikit merona, sudut-sudut bibirnya belum lelah untuk menunjukkan rasa senang yang ada. Pengakuan Joshua barusan sepertinya membawa perubahan, dan dalam kondisi diam seperti ini pun, agaknya mereka tengah memikirkan hal yang serupa. Firasat Joshua-lah yang mengatakan itu, dan—

“Tapi, Josh, sahabat itu tidak seharusnya merasa cemburu, bukan?”

—dia benar.

Ya, sahabat itu tidak seharusnya cemburu. Joshua tahu itu; ia juga tahu bahwa seorang sahabat seharusnya tidak melakukan hal yang tengah Joshua lakukan saat ini. Sahabat tidak akan membiarkan jarak yang berada di antara keduanya hilang hingga nyaris tak terlihat, pun membiarkan bibir mereka saling bertemu. Sesingkat apa pun kecupan yang Joshua berikan, intinya tetap sama, bukan? Sahabat itu tidak seperti ini…

“Josh…”

…dan Joshua sama sekali tak punya niatan untuk menjadi sahabat Mia lagi.

Friends don’t do that too, Mia. You know, right?

Mia mengangguk, membenarkan. Membiarkan sorot mata bertemu selama beberapa saat, mengizinkan panas itu menyebar di seluruh permukaan wajahnya. Hujan di luar sana memang belum berhenti, tetapi Mia merasa hangat. Kehadiran Joshua memang selalu bisa membuatnya merasa nyaman, namun hari ini berbeda. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar kenyamanan, yang membuat jantungnya berdegup abnormal selagi dirinya berkemam:

Are we still friends?”

Joshua menjawabnya dengan sebelah alis terangkat, menggoda. “Setelah semua yang terjadi, kamu masih mau kusebut sebagai sahabat?”

Lekas, Mia menggeleng. Jawaban yang sudah jelas, sama jelasnya dengan perasaan yang ada di antara mereka. Maka, merasa tak perlu berceloteh macam-macam lagi, Mia pun tak menolak lengan Joshua yang terulur untuk merangkulnya mendekat. Bergeming dalam posisi itu, dua pasang manik memandangi derai air hujan yang masih tersaji di luar sana.

“Mia?”

Mmm?

“So, you’re my lover, now?”

Mia tidak langsung menjawabnya. Tidak dengan kata-kata, karena gadis itu baru saja menyandarkan kepalanya ke pundak Joshua dan membalas rangkulan sang lelaki. Seperempat menit berlalu, dan baru pada saat itulah Mia mengutarakan satu kata tersebut dengan penuh keyakinan.

.

.

.

Sure.”

.

fin.

ALL DONE!!

akhirnya setelah lika-liku panjang/? Mia-Joshua jadian juga :’) Buat yang kemarin ngira Mia php, atau Joshua php, atau bagaimanapun itu, sebenarnya mereka cuma sama-sama bingung, kok. Sejak part 3 itu mereka juga udah tahu kalau saling suka, cuma nggak mau mengubah status aja. Nah, berubahnya baru deh sekarang ^^

Terima kasih buat semua yang udah baca, dan juga buat yang repot-repot meninggalkan komentar atau like. Sampai jumpa di cerita Mia-Joshua berikutnya!!

regards,

tsukiyamarisa (@tsuki016)

7 thoughts on “[4 of 4] Things Between Us: Friends Don’t Do This”

  1. Mer…. bentar ya aku mati dulu habis baca ini *ga Rin*

    Sumpah ya aku nungguin ini dan ternyata bener akhirnya… akhirnya… akhirnya….

    KYAAA AMEER KYAAAA MIA-JOSH JADIAN AKU BAHAGIAAA HUHUHU
    LANGGENG YA DEK JOSH MA MIA ❤❤❤
    I LOVE YOU JOSH EH I LOVE YOU AMER *Amer muntah bacanya*

    Suka

  2. DITUNGGUIN TIAP HARI DAN FINALLY UPDATE JUGA😄 I’M SO IN LOVE WITH DIS PAIRING AAAAKKK .staph.

    agak kurang….semeledak ekspektasiku ketika Josh nembak Mia. but still, I love this fanfict :’>
    butuh sekuel pas udah pacaran. dengan bumbu flashback ttg kejadian childhood dan smanya dulu #banyakmaulo
    thanks for this beautiful fanfict xD

    Suka

  3. akhirnyaaa jadian juga yay! tau ga sih pas bagian josh bilang ‘imjelaouskay’ itu aku beneran ngucapinnya cepet-cepet buat tahu bunyinya kayak apa hahaha. anyway this is kinda supersweet pedekate bikoz my english teacher once said that she doesn’t believe a friendship between boys and girls.
    nice vignette-series, amer ^^

    Suka

  4. tembok mana tembok duh gregetnya minta digaruk ;””””)
    sebenernya kalo sahabat jadi cinta tuh kadang malah bikin sedh tauk, tapi kalo mia sama josh begini mah yaampun aku senyum senyum kek orang gila baca kisah mereka yang manisnya geli gimana gituuu dilobi kampus pula yampun mer, makasih loh mer!
    chukkae ya buat josh sama mia yampun!

    Suka

  5. Aaaaa baperr kak baperr kapan friend like joshua dateng ke hidupku kak huweee😭 sweet sweet and sweet kak omaigat aku baca sambil senyum2 sendiri untung gak dikira edan/? /gggg😂 suka bgt pas part si josh bilang “so you’re my lover now?” Argh itu part make me ughh:”) sukses terus buat kak amer jjang /clap👍👏 ditunggu yg manis2 berikutnya ya kak😂

    Suka

  6. setelah nunggu-nunggu kapan jadiannya,akhirnya waktunya datang juga :”D
    telat pula bacanya T^T suka banget sama joshua-mia ah
    authornim,bikinin ff joshua-mia lagi dong,yang banyak/? soalnya i’m in love with joshua-mia /?

    Suka

  7. Oh my god.. Idk what to say.. but kyaaaaa this is really sweeeeet.. aduh.. aq ga tau yaa.. kisah ini tuh dari awal.. hiks.. aq merasa tersindir.. jujur ajaa.. tp no no no.. I wish I’m not falling in love with my bestie.. really.. gaaah.. nice!!!! really really nice..

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s