f(4) #10: When I’m Alone

tumblr_nwqci7kjmU1qbgdrko1_500

a tracklist fic of f(x) 4th album ‘4 WALLS’ by Liana D. S.

#10. When I’m Alone

starring

f(x) Amber and actress Sulli (Choi Jinri)

genre Friendship, slight!Supranatural, failed!Mystery duration Ficlet (500+ words) rating Teen

.

.

Banyak orang percaya bahwa Amber hanya bayangan, semu, noneksisten, tetapi Jinri dapat merasakan presensinya dan itu menyenangkan. Setelah pertemuan pertama, mereka segera menjadi teman akrab.

“Orang-orang itu kenapa, sih? Padahal badanku kelihatan jelas begini. Bagaimana bisa mereka menganggap aku tidak ada?” keluh Amber suatu hari. Jinri tertawa ringan menanggapinya. “Tidak usah mengomel, Hyeong, laki-laki sepertimu tidak pantas cerewet. Macam ibu-ibu saja.”

Amber memicing jengkel, memperingatkan gadis jangkung di sampingnya untuk berhati-hati bicara. “Aku perempuan biarpun tidak seseksi kamu, Jinri-ah, jadi jangan panggil Hyeong. Dan siapa yang kau bilang mirip ibu-ibu?!”

“Siapa lagi kalau bukan tukang menggerutu di sebelahku ini?”

Ya, Choi Jinri!!!”

“Kyaaaa!!!”

Dua gadis berpenampilan kontras itu—satu super girly dan yang lain tomboy abis—berakhir dalam adu gulat impromptu di atas atap sekolah. Lengan kokoh Amber yang sudah bertahun-tahun digunakan latihan bela diri melingkari leher Jinri, memitingnya tanpa ampun, sedangkan korbannya memohon ampun seraya terkekeh lepas. Cara bercanda mereka memang agak kasar dibanding gadis-gadis lain, tetapi masing-masing orang toh punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa sayang mereka. Kalau Amber dan Jinri, misalnya, bertingkah ‘cantik’ dengan cium-pipi-kanan-pipi-kiri seperti kebanyakan kaum Hawa jika bertemu sesamanya, suasana di antara mereka pasti akan canggung.

“Apa keluargamu juga dianggap tidak ada, Hyeong? Barangkali ‘penyakit tidak terlihatmu’ itu turunan.” celetuk Jinri asal. Amber mengangguk. “Aslinya mereka baik, tetapi susah mencari kawan. Habis, setiap mereka lewat dekat seseorang, mereka cuma dianggap angin lalu saja.”

“Kasihan betul. Berarti hanya kau yang punya teman di keluargamu?”

“Kira-kira begitulah.”

“Antar aku ke keluargamu, bagaimana? Aku ingin kenalan sama mereka!”

Permintaan antusias Jinri nyaris membuat Amber tersedak jus. Susah-payah gadis tomboy itu menelan minumannya, mengatur napasnya, kemudian menyembur Jinri habis-habisan dengan api neraka.

“Kau gila, ya?! Kau sudah tidak sayang nyawamu, ha? Kau tahu ‘kan kalau sekali berkunjung ke rumahku, kau tidak akan bisa kembali? Bagaimana kalau ayah-ibumu mencari?! Kakakmu juga akan—”

“Kalau mereka sedikit peduli padaku, sedikit saja, aku pasti tidak akan mau pergi ke tempatmu, Hyeong.”

Amber tercenung.

Berbincang dengan Jinri kadang bagai memasuki labirin pikiran yang penuh tikungan, gelap, dan tak terbaca. Sedetik lalu, Jinri masih begitu ceria menanggapi lelucon Amber, bahkan sampai terbahak-bahak saat main gulat dadakan tadi, dan lihat sekarang: dalam manik hitam jernih itu tidak tampak apapun selain kebencian. Pada keluarga yang mengabaikannya. Pada teman-teman yang menyakitinya lantaran iri pada kecantikannya. Pada dunia. Bukan sekali-dua kali Jinri meminta untuk bertemu keluarga Amber, yang menurut cerita si tomboy penuh orang setengah waras tapi seru—setidaknya ikatan dalam keluarga Amber lebih hangat dari lingkaran keluarga Jinri sendiri.

Dan Amber selalu ditempatkan dalam dilema. Sebelumnya, Amber pasti mampu meyakinkan Jinri untuk tetap pulang ke rumahnya sendiri, tetapi petang ini, keraguan Amber malah berujung pada keputusan yang kelak akan ia sesali.

“Kau benar-benar… mau bertemu keluargaku?”

Jinri mengangguk mantap. “Kumohon. Aku sudah tidak tahan dikelilingi orang-orang yang bisanya melukaiku. Amber-hyeong, cuma kau yang kuanggap temanku. Termasuk keluargamu, kuyakin, dapat menjadi temanku juga.”

Amber diam.

Jinri diam.

Setengah menit kemudian, Amber meraih tangan Jinri.

“Jangan minta pulang setelah sampai di sana, soalnya dari sana tidak ada bus menuju rumahmu.”

Wajah Jinri seketika cerah. Ia ikuti langkah Amber pulang—menuju rumah barunya.

***

Pagi-pagi buta, hari berikut, penjaga sekolah menemukan tubuh pucat seorang gadis semampai terbaring kaku di atap sekolah. Sendirian.

TAMAT

.

.

.

4 walls series: kkeut!😄 thanks for everyone following this series!

3 thoughts on “f(4) #10: When I’m Alone”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s