[Vignette] Run To You

tumblr_nyl564gf7k1syavxbo3_540

Tittle : Run To You | Scriptwriter : fireyn | Main Cast : [GOT7] Kim Yoogyeom, [15&] Baek Yerin | Genre : Romance, Fluff | Duration : Vignette(1400wrds) | Rating : Teen

Soundtrack : Whitney Houston [Baek Yerin vers.] – Run To You  

.

‘Aku membawakan Tuan Baik Hati untukmu!’

 

.

 

‘Kau mengingatnya?’

.

Eksekusi hari Sabtu-nya ternyata sama saja. Sebenarnya, Yerin sudah berharap ada sesuatu yang berbeda untuk Sabtu-nya kali ini. Sesuatu selain ia berakhir duduk di ayunan karatan ini sambil membaca novel-novel roman remaja yang klise. Tapi tetap saja, memang apa yang akan terjadi pada seorang Baek Yerin? Asap kendaraan pun tak mau menyergapnya, entah takut atau Yerin punya sihir tersendiri untuk menghalau apapun.

Walaupun ia terus meracau tentang Sabtunya, Yerin suka seperti ini. Hari Sabtu yang bebas dari semua belenggu ini-itu dan tenggelam dalam novel cheesy yang sebenarnya sangat meringankan pikirannya. Apalagi dengan cola dingin dengan sensasi menggelitik disetiap sesapan, mendengarkan suara burung gereja yang sering bertengger di dekat rumahnya, dan suara klakson yang tiba-tiba datang.

Tunggu? Suara klakson?

Di depan rumahnya?

Oh, tidak. Tak tepat di depan rumahnya.

Satu pengganggu lagi di hari Sabtu-nya yang biasa sudah cukup menghancurkan semuanya. Ia menutup bukunya dan sekilas melirik Hummer yang terparkir di tepi jalan. Sebuah Hummer? Memang menyebalkan, bahkan suara klaksonnya benar-benar seperti palu yang meretakkan Sabtu-nya. Sabtu-nya memang, mau apa lagi? Hari ini harusnya milik Yerin seorang.

“Hei, Baek Yerin!” Belum juga Yerin menapaki undakan kedua menuju pintu rumahnya, prahara lain telah datang. Siapa sih, yang bertandang di Sabtu-nya?

Sudah berapa kali ia mengatakan’Sabtu-nya’?

Yerin berbalik. Menemukan seorang pemuda yang sejengkal lebih tinggi darinya. Yerin tak merespon dan lebih memilih diam dalam ketidak acuhannya.

Sialnya lagi, pemuda itu sedang nyengir lebar seperti tak tau saja ia baru menghancurkan Sabtu Yerin yang indah. Pasalnya, memang ia tak tahu. “Kau tak ingat, ya? Bukakan dulu pagarnya!”

Dengan enggan Yerin berjalan menyeberangi pagar dan membukakan pagar untuk pemuda-tak-dikenal ini. “Ah, lama tak berjumpa!” Secepat gerakan kung-fu Bruce Lee, kecepatan pelukan itu masih melampauinya.

Yerin ada dalam pelukan pemuda yang titelnya bertambah menjadi pemuda-tak-dikenal-yang-suka-peluk-sembarangan tepat ketika pintu pagar telah terbuka. Pemuda ini memeluknya tepat di depan rumah Yerin, bayangkan saja betapa malunya ia. Tapi siapa yang bisa memungkiri kalau seluruh kupu-kupu dalam perutnya sedang menggila, terbang kesana kemari tak tentu arah dan bertabrakan yang membuat sensasi ‘dunia terasa berputar’ dalam pelukan si pemuda?

Dasar, kau pemuda tampan kurang ajar!

Oops, apa Yerin bilang ia tampan?

Ditambah lagi, pemuda ini memeluknya terlampau kuat. Yerin bisa mencium bau apa saja yang menempel pada pemuda ini mulai dari bau cologne yang ia pakai, bau keringat dan… bau kerbau? Yerin juga bisa mendengar irama detak jantungnya. Menghitung dengan perlahan sampai waktu ini berlalu.

Setelah tiga menit berlalu ia melepaskannya. Andai ini tertahan untuk beberapa saat lagi. Tapi pemuda ini kurang ajar.

Detak jantungnya merdu sekali.

Dasar kau otak bodoh, memangnya jantung menyanyi?

Kalian yang harusnya diam. Kali ini versi Baek Yerin dengan kesadaran penuh yang mengambil alih. “Kau siapa?”

“Masa kau tak ingat aku? Apa aku harus memberimu satu lagi pelukan hangat agar kau mengingatku?” Ia menelengkan wajahnya. Menyetarakan matanya sejajar dengan wajah Yerin sehingga tak bisa tidak Yerin mempelajari wajahnya.

“Memangnya kau siapa? Anak presiden-kah sehingga aku harus mengingatmu?”

“Ah, jangan begitu. Aku tak tahu kenapa kau memilih presiden, tapi yang jelas aku anak seorang dewa.”

“Dewa?”

“Iya Dewa Ketampanan dan Kesempurnaan. Kau pandanglah diriku sebelum memandangiku terlalu lama itu dosa.”

“Dasar bodoh.” Yerin bergumam sendiri. Tak banyak kata yang perlu ia keluarkan dan ia berbalik untuk kembali ke dalam rumah. Tapi lagi-lagi ia kalah cepat. Sudah ada lima jari yang mengunci pergelangan tangannya.

“Kalau aku bodoh, aku pasti tak tahu kalau pipimu yang memerah setelah aku memelukmu itu karena hormon adrenalin yang membuat vasodilatasi di otot pipimu.” Pemuda itu tersenyum.

Tapi terlambat. Tanpa sadar Yerin sudah mengekor dibelakangnya, berlari dengan arah yang pasti mengikuti si pemuda. Jemari si pemuda yang menggenggam erat leher tangannya itu terasa hangat. Dan rasanya seperti keringat. Ia masih mengekor di belakangnya.

“Kau belum mengingatku?” Dalam sela-sela napasnya yang tersengal ia berkata demikian.

“Aku tak akan mencoba.”

Langkah pemuda itu berhenti. “Kalau kau begini, bagaimana aku berani berlari kepadamu?” Jemarinya kemudian terlepas dan kemudian ia tersenyum. “Apa aku berlari terlalu cepat? Atau kau yang terus berjalan menjauh?”

“Aku tak mengerti. Kalau kau mau berlari, berlari saja sendiri. Aku lelah.”

Sekelebat tergambar jelas sekali di wajahnya ada keputusasaan. “Kalau ice cream? Mungkin Tuan Baik Hati bisa memberitahuku apa yang harus aku lakukan?”

Tuan Baik Hati….

Baik Hati….

“Yeriiin…” Dari arah pagar terdengar suara yang memanggilnya. Ia yang sedang bermain bersama boneka-bonekanya di ayunan menoleh. Anak itu sebaya dengan Yerin, lebih gembul, lebih sipit dan kacamata bertengger di hidungnya. Melambaikan dua cone ice cream. “Aku membawakan Tuan Baik Hati untukmu!!”

 

Yerin kecil  itupun membukakan gerbang untuk sang anak. “Siapa itu Tuan Baik Hati?” tanyanya.

Anak yang ditanyai kemudian tersenyum manis dan menyodorkan cone itu pada Yerin, “Ini!”

“Kenapa Tuan Baik Hati? Kau bodoh ya? Ini kan ice cream!”

Anak itu mengangguk antusias sekali lagi, “Saat aku menangis, aku pasti membutuhkan ini agar tak menangis lagi. Saat marah puh begitu. Inilah si Tuan Baik Hati. Aku juga ingin memberimu Tuan Baik Hati.”

 Ingat ya, saat kau menangis, akan kucari sekuat tenaga si Tuan Baik Hati ini. Ingat ya! Tapi… kalau kau marah aku akan memberikan sesuatu yang lain. Nanti Tuan Baik Hati bisa meleleh karena api marahmu.”

Yerin mengernyit. “Aku bukan Zuko yang bisa mengendalikan api, bagaimana ice cream ini bisa leleh?”

“Kau pernah bilang kau tak akan pernah memberi Tuan Baik Hati jika aku sedang marah, kan?”

“Kau mengingatnya?”

“Sedikit.”

Kim Yoogyeom tersenyum. Ya, Yerin ingat siapa pemuda-tak-dikenal-yang-suka-peluk-sembarangan ini. Dulu ia yang gembul dan hanya menyisakan pipi yang tembam sekarang, dulu ia yang pendek sekarang tumbuh menjadi pemuda 17 tahun yang tinggi, dan dulu ia yang seperti bola basket telah menjadi pemuda tampan. Apa Yerin bilang tampan lagi?

“Kau masih dingin seperti dulu, ya?”

“Lalu kenapa kau bilang aku bisa melelehkan ice cream?”

“Mmmm… Sudahlah, lupakan percakapan bodoh ini dan betapa bodohnya aku dulu. Kau mau ice cream atau taman?”

“Tidak keduanya.”

“Aku justru akan memberimu keduanya.”

.

“Yerin cepat! Nanti direbut! Biar aku yang mendorongnya!” Kaki-kaki kecil Yerin berlari menghampiri ayunan dengan Yoogyeom yang sudah siap di belakangnya. Yoogyeom si gembul pun tahu kalau laki-laki harus mengalah. Kata papanya, wanita harus didahulukan, tak peduli harga dirinya, seorang lelaki harus berkorban. Walaupun ia tak tahu berapa harga dirinya jika dijual-yang sepertinya mahal karena ia berat sekali-, ia tetap mengalah untuk Yerin.

Yerin memainkan kakinya diudara. “Yoogyeom, lebih keras. Aku mau yang lebih tinggi!” Adalah ayunan permainan favorit Yerin. Apalagi kalau yang mendorongnya adalah Yoogyeom. “Kau kan gemuk, lebih tinggi lagi!” tuntutnya.

 “Aku akan mendorongnya lebih tinggi kalau kau mau berjanji menikah denganku saat dewasa nanti, bagaimana?”

 Dengan kakinya yang belum sepenuhnya menjejak tanah, ia mengerem ayunan yang melaju. “Dasar bodoh.” Kemudian Yerin melenggang pergi, meninggalkan Yoogyeom dengan cengirannya.

“Kau ingat bagaimana aku melamarmu disini?” Tanya Yoogyeom. Ia kini sedang duduk bersandar di sebuah bangku tangan. Ice cream di tangannya perlahan-lahan mencair.

Yerin di sebelahnya hanya menatap jauh, tak mengacuhkan Yoogyeom dan hanya sesekali menikmati ice cream­nya. “Memang itu penting?”

Yoogyeom terdiam. Memilih tak menjawab pertanyaan Yerin. “Kau tahu, aku ingin berlari menjauh darimu dan bukan sebaliknya dari dulu. Kukira aku berhasil menjauh saat aku ikut papa dan ibu tiriku untuk pindah ke luar kota. Tapi tetap saja aku merindukanmu.”

Yerin tetap tak memberinya respon.

Mata Yoogyeom terpaku pada pemandangan gadis di sebelahnya ini. Teman kecilnya. Cinta pertamanya. Bahkan, orang pertama yang menolak lamarannya. Tentang hal itu, meskipun mereka masih kecil, Yoogyeom tetap menghitungnya.

“Kau cinta pertamaku, kau tahu? Apa kurang gamblang?”

Yerin masih bisu. Bukan tak mau menjawab, ia menunggu.

“Kalau aku berlari padamu sekarang, kau membuka pintu itu?”

“Kau belum menemukan kuncinya,” jawab Yerin. Pada akhirnya.

“Apakah menurutmu, di London aku bisa menemukan kunci itu?”

Tiba-tiba saja angin berhembus lebih kencang. Daun-daun kering dibawah kakinya bergemeresak tak nyaman. Suara logam karatan yang beradu semakin jelas. “London?”

“Apa tempatku mencari terlampau dekat?”

Gadis itu membisu. Yoogyeom akan pergi lagi?

“Kau tak bertanya kenapa London? Kenapa aku tiba-tiba kembali setelah 7 tahun?”

“Apa aku perlu bertanya?”

Yoogyeom menghela napasnya berat. “Sepertinya aku berlari dan kau pun menjauhiku. Yah, penolakan darimu untuk yang kedua kali. Mau bagaimana lagi?”

Bukan itu yang ingin Yerin lontarkan. Ada sederet kata-kata lain yang bertarung untuk mendapat tempat dan justru ‘apa aku perlu bertanya?’-lah pemenangnya.

Bukan itu.

Bagaimana memperbaikinya?

“Sayang aku bukan anak Dewa Cinta. Aku tak bisa membuatmu menyukaiku.”

Salah. Bukan. Bukannya aku tak menyukaimu, aku ingin bilang akan memberimu kesempatan. Tapi tak bisa mengatakannya. Bagaimana ini?

“Tunggu, tapi aku tak mau jadi anak seorang dewa gembul dan sayap kecil yang kesana-kemari memakai popok. That’s not my style!

Apa aku harus memberinya kesempatan kalau ia terus bertingkah bodoh seperti itu?

Tapi aku tak mau cerita ini berjalan terlampau cepat. Cerita di Sabtu-ku yang datang dengan seorang teman lama.

Eind.

 

((Maafkan humor receh))

((Maafkan suka pairing delusional))

((Maafkan mutu yang abal-abal))

5 thoughts on “[Vignette] Run To You”

  1. “Kau mau ice cream atau taman?”

    “Tidak keduanya.”

    “Aku justru akan memberimu keduanya.”

    Ini udah dialog paling degdegser wkwk, ngebayangin ada yang bilang gitu ke nabil waah jantungan kali. Btw, fiksinya bagus! Ringan dan ngga bikin bosen. Suka🙂

    Suka

  2. heyy yugiiee klau yerin eonni gx mau sma drimu… sini dehh sma dirikuu.. kita kan seumuran… #huuuaaaa #kidding aq mah ttp jaheeeoppa #youngjae!! …kereeeeennnnnn pairing n crita.a

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s